Magenta Lilac – Part 1

​ Lilackarissacom

   Dia sudah terbangun dari tidur panjangnya, bukan sepenuhnya koma karena setelah dokter periksa 3 bulan lalu sebenarnya Sabina sudah sadar, entah mengapa ia tak kunjung bangun dan tak ada penjelasan medisnya. Para tetangga usil hanya menyebut perempuan itu diguna-guna, diteluh oleh musuh musuh keluarga mereka dan sejenisnya. 

  Setelah dibawa ke berbagai kota dan menemui puluhan dokter semuanya hanya sia-sia. Tak ada yang bisa menjelaskan penyakit perempuan itu, ia hanya memejamkan mata lama sekali dengan ekspresi damai di wajahnya tiap terlelap, aku di pojokan ruangan menatapinya getir, ia kini tengah kebingungan dengan kehadiran seorang pria yang memegangi tangan kanannya dan satu menit lalu pria itu mengaku suaminya. Perempuan itu melepaskan genggaman tangan besar dan kokoh itu dengan gusar, hanya menatapinya linglung. Tidak percaya. Suami apanya?

   Sesungguhnya aku tahu apa yang terjadi namun tak bisa menjelaskan padanya. Aku tahu, dia baru 27 tahun lima hari yang lalu setelah tertidur selama 6 bulan lamanya bagai mayat. Aku juga tahu siapa pria itu namun sekali lagi aku tak hendak menjelaskan. Bukan hakku untuk bercerita pada keduanya. Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Siapa aku dan kenapa begitu sok tau? Nanti kalian juga akan mengenalku, tapi sekarang kalian konsentrasi saja pada ceritaku tentang kedua orang di depanku ini.

   Pria itu menatapnya dengan penuh kasih, ada kerinduan di sana, cemas, sayang, dan takut wanitanya terluka. Meski aku lihat ia ingin sekali memeluk kekasihnya dan mengucapkan selamat datang, membelai puncak kepalanya dan mencium keningnya. Tapi pria itu mati-matian menahan diri, bukan ia tak mau.. ia hanya tidak bisa. Wanitanya tak mengenalinya sama sekali. Tapi aku heran kenapa pria itu tak kunjung menekan tombol merah di sebelahnya untuk memanggil dokter?

     “Sabina?” 

Panggilnya lembut. Yang dipanggil masih heran dan tak menjawab. Ia hanya masih menatapnya bingung.
    “Kamu siapa? Aku belum menikah. Aku sama sekali tidak mengenalmu.”
   “Kamu tidak ingat aku? Sabina kamu tidak sedang bercanda kan?”
Sabina menggeleng lemah, sama sekali tak ada ide, tapi lambat laun air matanya jatuh dan hatinya terasa ditumbuk setelah lama menatap pria ini. Ia seperti kehilangan kemampuan untuk bernapas, ia pukul-pukul pelan dadanya yang sesak. Ia terisak pedih. Sakit yang tak bisa dijelaskan. Siapapun yang melihatnya sekarang pasti akan ikut larut dalam dukanya.

   Pria itu buru-buru memanggil dokter dan tak berapa lama kemudian dokter beserta petugas medis lainnya datang. Petugas medis mendorong pria itu untuk keluar ruangan.
Aku mengikutinya keluar bertemu dengan semua keluarga yang hadir hari itu. Beberapa menit ia sibuk menjelaskan apa yang terjadi pada Sabina mereka.
     “Nak Amar istirahatlah dulu. Mungkin Sabina sedang penyesuaian diri. Bagaimanapun juga ia baru bangun. Pasti ada yang tidak beres dengan otaknya setelah kecelakaan itu.” 

Saran ayah Sabina pada Amar. Amar hanya tersenyum seadanya, beberapa saudaranya juga menepuk bahunya untuk tetap kuat. Pria berambut lebat itu berusaha menerima,
     “Yang sabar ya Amar…” dukung Makki kakak perempuannya Sabina yang terkenal keras dan macho jalannya meski tampilannya ukhti uhkti pengajian. Sekali lagi Amar mencoba tegar, mukanya kuyu sekali dan terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Meski ia sudah terbiasa tidak tidur normal seperti orang kebanyakan, kali ini berbeda, separuh jiwanya pergi sementara waktu. 6 bulan berlalu, tak sedetikpun ia lepaskan penjagaannya dari Sabina. Tiap pulang kerja ia langsung menuju ke bangsal itu. Tak tega berbahagia bersama kolega sementara yang Sabina ia cinta diambang entah hidup atau mati. Sampai beberapa dokter dan suster akrab dengan Amar, sosoknya yang mudah membaur dan memancarkan aura positif membuat semua orang menyenanginya. Mereka tahu dibalik keramahan dan kehangatan Amar, pria itu merana sedih sekali karena kekasihnya tergolek tak berdaya berbulan-bulan.

   Aku mengintip ke dalam sana, setelah keadaannya cukup tenang dokter dan beberapa petugas keluar mengajak Amar berbicara di ruangannya. Ayah dan Ibu Sabina masuk ke ruangan Sabina, setelah berbagi pelukan akhirnya Sabina angkat suara disela tangisnya. Matanya sudah merah dan bengkak, memperparah pucat wajahnya.
   “Pah, Mah… siapa orang tadi? Aku enggak kenal sama sekali. Aneh, aku belum menikah. Kenapa hatiku sakit sekali melihatnya?”
Aku juga ikut masuk ke ruangan, duduk sembarangan. Ayah dan ibunya hanya saling pandang heran. Sebelum ada seorangpun yang menjelaskan pada Sabina, Amar terlebih dulu datang mengajak ayah dan ibu Sabina keluar dan berbicara perihal kondisi Sabina. Sekarang tinggal kakak perempuannya Sabina, Makki di ruangan. Makki memeluknya dan menepuk nepuk pundaknya.
   “Sab, ini enggak lucu sama sekali . Jangan bercanda. Kamu bahkan membicarakan Amar hampir setiap hari padaku selama bertahun-tahun. Dan sekarang kamu enggak ingat? Ayolah… ini tidak lucu! Amar itu orang yang kamu suka sampai jadi sinting. Aku bosan tiap kali bicara denganmu selalu ada pembahasan soal Amar. Persis seperti kaset rusak tau gak?”
Sabina memejamkan matanya sekali, lalu mengerjap kesal. Ia melepaskan pelukannya.
  “Kak! Kakak yang bercanda, kalau memang aku sebegitu sukanya sama dia. Kenapa aku enggak tahu siapa dia?. Dan lagi, tadi dia bilang dia suamiku? Dalam 10 tahun ini aku tidak ada rencana menikah!.”
Makki membelalakkan matanya heran. Ia pikir Sabina yang suka bercanda sejak tadi hanya berakting, untuk membuat kejutan. Tapi ia mengenali tabiat adiknya yang berambut panjang ini kalau marah. Alisnya menyambung seperti sekarang, dahinya mengkerut dan wajahnya makin simetris karena menggertakkan rahang.
  “Sab… kamu kenapa? Untuk fakta terakhir kami minta maaf. Kamu sekarang 27 tahun dan Amar menikah dengan kamu saat kamu koma. Ayah dan ibu yang memutuskannya. Kami pikir itu keputusan yang terbaik untuk kalian.”

Sabina jelas makin mengkal. Teganya ayah dan ibunya menikahkahnya tanpa sepengetahuannya. Aku tahu reaksi Sabina selanjutnya adalah membantingi semua barang yang ada. Aku memilih keluar ruangan bersama Amar dan kedua orangtua Sabina. Vas bunga, jam, bantal, apapun yang terjamah tangannya maka ia lemparkan sekenanya teecerai berai. Seketika ruangan menjadi kapal pecah.
Kulirik Amar yang terlihat makin sayu matanya, belum pernah aku lihat Amar semenyedihkan ini… Amar yang aku kenal selalu ceria, sinar diwajahnya selama ini yang banyak dikagumi orang entah mengapa redup. Ia tahu kenapa Amar begitu, meski samar ia dengar Makki menyinggung soal pernikahan mereka tadi. Ibu dan ayahnya Sabina belum reda dengan perkataan dokter yang disampaikan Amar, sekarang mereka masuk ke ruangan dan mencoba menghentikan Sabina yang menangis dan berteriak-teriak.

  Amar ingin sekali ke sana. Ikut menenangkannya, tapi ia tahu justru Sabina akan marah padanya. Bagi Sabina ia sekarang hanyalah orang asing. Ia memilih pergi ke lorong lain meninggalkan mereka.
Berjalan tanpa arah dengan gamang. Aku mengikutinya, mencoba memanggil-manggilnya namun tak ia dengar. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
    “Amar! Amar… Amar jangan sedih. Kamu harus bersabar. Kamu tidak boleh menyerah! Ya!?”

   Tanpa sadar ia sampai di parkiran basement. Ia langsung memutuskan untuk pulang dan membiarkan Sabina sendirian sekarang. Aku menyelinap masuk ke kursi penumpang di depan. Masih berusaha membesarkan hatinya meski tak digubris.
Amar mengemudi sambil memikirkan perkataan dokter. Ia terkejut karena menurut dokter, Sabina mengalami hilang ingatan seperti yang dokter duga setelah melakukan MRI di hari pertama Sabina sampai di rumah sakit. Namun tak separah taksiran dokter, meski komanya hanya 3 bulanan tapi seterusnya Sabina cuma tertidur, otak Sabina secara aneh menyembunyikan ingatan segala sesuatu yang berhubungan dengan Amar. Amar syok dan bertanya kenapa bisa begitu?

    Dokter menjelaskan tak jarang ini terjadi karena Amar adalah sumber bahagia terbesar dan kesedihan bagi Sabina. Secara berkala manusia memang melupakan kenangan dan pengalaman buruk mereka, tapi kejadian semacam ini bukan berarti tak ada penjelasan medisnya, ini tergolong wajar dan bisa pulih atau terlupa sama sekali jika alam bawah sadarnya menolak mengingat siapa Amar. Setelahnya Amar tak begitu mendengarkan penjelasan medis dari dokter, ia tercenung lama. Sabina melupakannya, sedari dulu melihat gadis itu tertawa-tawa dan bersama laki-laki lain saja hatinya sudah panas. Apalagi dilupakan? Tidak tahu bagaimana menalangi hatinya jika itu benar terjadi dan selamanya?

Kulihat kami sampai di lampu merah kedua dalam perjalanan menuju apartemen Amar. Amar menghembuskan napasnya dengan berat.
    “Setidaknya Sabina bangun. Dia sehat dan sadar itu sudah cukup. Kalau memang dia tidak mau mengingatku… aku akan tetap mencintainya.”
Aku tersenyum getir melihat Amar di balik stir. Oh, Amar.. Pantas saja Sabina menyukai dirimu.
                                   ***
   Kembali ke rumah sakit. Semua keluarga sudah pergi. Sejak tadi ibu, ayah, dan Makki menjelaskan sampai berbusa pada Sabina tentang siapa Amar. Makki tak jarang mengeraskan suara karena Sabina masa bodoh. Ia masih marah, kenapa ibu dan ayahnya menikahkan seseorang yang sedang koma? Bahkan Sabina tidak mengenal pria itu siapa. Makki naik darah, Sabina yang suka Amar pasti akan berterima kasih pada mereka, tapi Sabina yang keras kepalanya kumat ini sungguh menjengkelkan walau sedang sakit.

    “Amar ini.. Kamu suka dia 10 tahun lebih Sab!. Kamu kecelakaan karena melihat Amar makan berdua dengan seorang wanita di salah satu restoran, mobilmu terguling nyaris terlindas kereta. Amar yang bawa kamu ke rumah sakit!” Berbusa Makki menjelaskan. Bahkan ada bukti otentik surat nikah, banyak Makki jelaskan bagaimana Sabina sering curhat padanya.
      “Kalian bisa keluar sebentar? Aku mau sendirian.” Ujar Sabina menyerah. Kepalanya terlalu pusing mencerna fakta tersebut.
Akhirnya mereka semua memilih keluar. Ibu meminta Sabina memanggilnya jika membutuhkan sesuatu.
Sabina membiarkan aku tetap di dalam. Sudah 6 bulan tanpa aktifitas fisik, wajahnya pucat sekali dan berat badannya turun banyak, terlalu lemah bahkan jika itu untuk berjalan. Setelah mengamuk tadi tubuhnya seperti baru sadar bahwa syaraf-syarafnya melemah karena tak pernah dipakai selama 6 bulan dan ia terjatuh di pinggir ranjang rumah sakit. Dokter memeriksa dan meresepkan obatnya, Sabina akan latihna berjalan selama beberapa waktu untuk kembali normal beraktifitas.
  Sekarang ia hanya berbaring lesu memperhatikan buku nikahnya, tepatnya pada foto Amar, laki-laki yang memiliki tatapan meneduhkan bagi siapapun yang memandang. Ia seperti dijebak dalam hubungan yang dipaksakan ini. Ia merasa tidak asing dengan Amar tapi hatinya ngilu sekali jika melihat wajah pria itu. Entahlah, barangkali ia sedang tidak bisa berpikir jernih sekarang.
      “Amar bisa menunggu. Kamu fokus saja dulu pada penyembuhanmu Sab..” ujarku lirih entah Sabina dengar atau tidak.
Tok tok tok!
Makki masuk ke ruangan lagi dengan raut muka tidak enak karena mengganggu. Kakaknya yang wanita macho ini membawa ponsel Sabina yang dia bawa selama Sabina tidak sadar.
    “Sab, maafin kakak tadi kelewat emosi. Coba kamu ingat-ingat lagi. Ini ponsel kamu, Amar itu separuh hidupmu dan kalian sudah seperti magnet yang saling tarik menarik. Bisa jadi kamu akan ingat siapa Amar kalau buka ponselmu. Coba pikirkan baik-baik setelah pikiranmu sudah lurus, kami tidak akan pernah mengambil keputusan tanpa melibatkanmu Dek.. kamu pernah bilang gini ke Kakak, Amar adalah keseimbangan kamu.. dalam hidup ini kamu gak butuh yang sempurna… tapi buat apa jika mudah jatuh ketika kamu bersadar padanya. Kamu menemukan keseimbangan dalam diri Amar. Bukan kesempurnaan yang kamu cari, tapi keseimbangan. dan Amar buat kamu merasa seimbang.”

    Sabina tidak menjawab. Ia tidak pernah merasa mengucapkan kata-kata semacam itu. Kakaknya yang berhijab lebar dan jalannya macho ini juga bukan tipe orang yang romantis dan suka membaca novel sastra. Jikalau mulai sok romantis begini pastilah diracuni Sabina. Meski tak pernah menulis buku sendiri Sabina adakah editor yang memastikan tak melewatkan satu bab pun dalam novel yang ditanganinya.
     “Kakak tinggal di meja ya? Kakak keluar dulu..”
Makki meninggalkannya sendirian lagi. Tak mau memaksa adiknya bicara.
 Ragu-ragu Sabina menghidupkan ponselnya. Ia tidak tahu siapa Amar, yang ia tahu ia kecelakaan menghindari bus yang rem blong dan membanting stir dengan reflek ke sembarangan arah, malah tertabrak mobil lain dari arah berbeda dan terguling melewati rel kereta yang dalam hitungan detik lokomotifnya berjalan konstan nyaris menyambar mobilnya. Hanya itu yang ia ingat, ia tak ingat sama sekali bahwa alasannya mengemudi dengan pikiran kosong adalah Amar. Apakah Makki sudah pandai menulis cerita sekarang? Mengarang-ngarang yang tak pernah ada.
     Sabina membuka ponselnya, ia pelajari semuanya. Akankah ada Amar di sana?
Aku hanya mendengus melihat Sabina berulang kali tercekat sendiri dan mengernyitkan dahinya.
  “Sebenarnya apa yang Sabina dulu rasakan pada Amar sampai ini semua bisa terjadi?” Tanya Sabina pada dirinya sendiri. Aku tersenyum tipis mendengarnya.
   Kamu tidak boleh menyembunyikan Amar dalam kotak kenangan di otakmu Sab, berusahalah untuk mengingat… demi aku. Percayalah, kamu butuh Amar dan sebaliknya.

.

.

.

🔜Tbc part selanjutnya… ➡➡➡

Magenta Lilac – click here 🔜Part 2

Advertisements

[Review] Stairway To Heaven – Drama Lawas, Unforgottable Drama.

Jung Suh & Song Joo – Choi Ji Woo & Kwon Sang Woo
  • Title: 천국의 계단 / Cheon-kuk-ui Gye-dan
  • Also known as: Stairway to Heaven / Stairs To Heaven / Steps in Paradise
  • Genre: Romance, Drama
  • Episodes: 20
  • Broadcast network: SBS
  • Broadcast period: 2003-Dec-03 to 2004-Feb-05
  • Viewership ratings: 38.8% avg, 45.3% final
  • Original Soundtrack: Stairway to Heaven OST
Park Shin Hye & Baek Sung Hyun

Tumben nulis review? Karena menurutku drama ini cukup berkesan bagiku. Sayang sekali jika kids jaman now tidak tahu awal mula kebangkitan drama korea, kisaran 2004 – an *hahahaha, sedangkan readers yang sudah tahu lama, mungkin kita bisa nostalgia bareng lagi. Ayo nangis bareng … drama ini bikin nangis sesenggukan gak ketulungan.

    Shinhye dan Sunghyun manis banget! Waktu kecil imut-imut sekali, dulu sewaktu tivi ikan terbang /tivi semut/tranz masih aktif menyiarkan drama, drama ini salah satu yang diputar. Sudah lama sekali, saya gak begitu ingat kapan ini tayang.. yang jelas seingetku ada dua drama jaman baheula yang susah kulupakan, karena keduanya ada masa kanak-kanak tokoh utamanya yang cukup menarik, yang pertama drama ini (Shinhye + Sunghyun) dan yang kedua adalah dramanya Song Hye Kyo dan Song Seung Hoon (Moon Geun Young). 2006/2007? Apa jamannya serial mandarin yang hosyang hosyang atau apalah itu ya? Saya juga penonton serial hosyang-hosyang, suka banget dengan Meteor Garden F4 versi Taiwan (Tao Ming Se & Barbie Hzu), juga penikmat film india sebelum banyak nonton drama korea. Kaset indiaku banyak lhoo, sekarang masih ada rapih, cuman … masih bisa diputer atau kagak saya juga tidak tahu *wkwkwk.

     Untuk drama korea pertamaku … gak begitu inget apa, yang jelas sejak kecil memang sudah suka nonton drama. Sudah terkontaminasi drama sejak kecil. Jadi saya cenderung tidak peduli ada yang mengejek hobi ini, ini bukan fanatisme.. namun seperti keluarga. Meski kadang bosan dan benci saya merasa harus bersama drama. Ini bukan bentuk dari pemujaan atau kegilaan tapi suatu kenyamanan yang memaksa untuk tinggal.

.

.

.

 

Berawal dari kejenuhan…

      Semenjak mudah sekali menemukan drama di internet, ada keinginan untuk mencari drama-drama lawas yang sempat kutonton tapi terpotong-potong. Tapi gagal dan terlupalah berkat drama baru-baru. Nah.. karena sekarang sedang tidak banyak nonton drama yang makin kesini plotnya membosankan menurutku.. akhirnya saya cari yang lama-lama lagi. Tahun 2016 an baru kesampaian Secret Garden dan kisaran 2013 an Sungkyunkwan Scandal.. itu masih gak lengkap karena Indowebster gak ada lagi filenya, beberapa drama juga sulit sekali dicari.. sepertinya do’aku baru terjawab sekarang, ketemulah site yang lumayan lengkap drama lawasnya. Aw! Seneng banget!! [ dramakoreanindo.com ]

     Stairway To Heaven. Tahun 2003 – 2004 segitu editingnya masih terbilang seadanya, sinematografinya juga biasa aja, sound efeknya juga sederhana … cenderung lebay malahan. Penampilan para tokohnya cenderung seperti pemain telenovela yang bangun tidur atau mau tidur wajahnya terpulas make up lumayan tebel, gak kayak drama tahun 2012 – 2017 yang kekinian. Namun ada satu yang tak terlupakan, plotnya jago banget menguras air mata. INI KENAPA???. Melodrama banget! Cinderella harus sungkem ke mereka karena kalah mengharukan.. Hahahaha… pokoknya jahat banget, sadisnya gak kira-kira. Apa ini yang membuatku ikut-ikutan galau semingguan ini??

Kamu gak tahu drama ini atau gak inget? Berarti kamu masih angkatan muda dan baru suka drama? Kalian tidak pernah merasakan serunya nungguin drama tayang di tivi dan rebutan remot tivi karena tayangnya biasanya menjelang magrib *hahaha, jaman segitu internet tak semenjamur dan semudah sekarang, ada namun cukup menguras kantong.

Sunghyun sewaktu kecil ganteng banget ya?? Shinhye imut banget. Cocok ih.. jangan bilang sewaktu syuting Stairway To Heaven mereka saling suka? Cinta monyet gitu, ceritanya tokoh yang Sunghyun peranin.

KENALAN DULU DENGAN TOKOH-TOKOHNYA..

  • Kwon Sang Woo – Cha Song Joo
  • Choi Ji Woo – Han Jung Suh/Kim Ji Soo
  • Kim Tae Hee – Han Yoo Ri
  • Shin Hyun Joon – Han Tae Hwa/Han Chul Soo

Pemeran anak-anak/Tokoh utama versi muda.

  • Baek Sung Hyun – Cha Song Joo
  • Park Shin Hye – Han Jung Suh
  • Park Ji Mi – Han Yoo Ri
  • Lee Wan – Han Tae Hwa

 

Ibu tirinya Jung Suh ( Tae Mi Ra )

PLOT – STORY

      Han Jung Suh dan Cha Song Joo semenjak kecil selalu bersama. Mereka tinggal di sekitar pantai, setiap hari bermain lumpur dan mencari kerang bersama. Han Jung Suh selalu ada disisinya Song Joo ketika ayah Song Joo meninggal, begitu pun sebaliknya ketika ibunya Jung Suh meninggal.

Perasaan kakak adik pertemanan masa kecil mereka mulai berubah menjadi cinta. Suatu hari ayahnya Jung Suh menikah lagi dengan aktris terkenal, Tae Mi Ra. Prof. Han dan Tae Mi Ra nampak bahagia, maka dari itu Jung Suh tidak keberatan memiliki ibu baru.. ia senang melihat ayahnya bahagia.

Rupanya Tae Mi Ra memiliki anak-anak sebelum terkenal. Yoo Ri dan Tae Hwa. Suami pertamanya bebas dari penjara dan memarahi Tae Mi Ra yang menelantarkan anak-anak mereka. Lalu Yoo Ri dan Tae Hwa akhirnya ikut tinggal bersama keluarganya Prof. Han. Jung Suh menerima kedatangan mereka dengan baik.

Tae Hwa hanya suka melukis dan membenci ibunya, Yoo Ri jahat pada Jung Suh dan mulai menginginkan semua yang Jung Suh miliki. Baju-baju dan barangnya. Jung Suh tidak keberatan, ia mengizinkannya, dia juga ingin akrab dengannya sebelum lanjut sekolah ke luar negeri setelah lulus.

Suatu hari, Jung Suh dijemput Song Joo pulang dari sekolah. Yoo Ri mulai iri, ia berusaha merebut Song Joo darinya. Pertama-tama ia menjajal pakaian hadiahnya Song Joo yang untuk Jung Suh tanpa izin. Jung Suh awalnya marah, tapi ia memaklumi setelah Yoo Ri berasalan ia tidak pernah mendapatkan apa yang Jung Suh miliki sejak lahir.

Tapi Yoo Ri merusaknya. Lalu pembagian nilai, Yoo Ri ranking 2 sedangkan Jung Suh 1. Semenjak saat itulah Tae Mi Ra memprovokasi Yoo Ri untuk mengungkuli Jung Suh dalam hal apapun, termasuk mendapatkan Song Joo yang dia sukai.

Jung Suh tidak bisa bertemu Song Joo, Jung Suh juga tidak jadi ke luar negeri dengan Song Joo. Saat-saat itulah yang paling menderita bagi Jung Suh, dia mencoba tegar dengan pertimbangan ayahnya bahagia.. tidak apa-apa ia ditindas ibu tiri dan saudara tirinya. Lagipula Jung Suh punya kepribadian yang tidak suka mengatakan bahwa ia sedang sakit hati atau kesulitan, jika ada saatnya ia mengatakan sakit maka berarti itu sangat berat baginya.. hanya Song Joo yang mengerti hal tersebut sejak lama.

Song Joo dan Jung Suh bertemu di taman bermainnya Song Joo, Jung Suh suka sekali naik komidi putar dan Song Joo menungguinya dari pinggir sambil melambaikan tangannya. Song Joo janji akan mencari Jung Suh nanti apapun yang terjadi.

Saat yang paling mengharukan adalah ketika Jung Suh dikurung ibu tirinya tidak bisa menemui Song Joo sebelum meninggalkan Korea, saat itu Jung Suh memegangi rekorder yang berisi pernyataan cintanya Song Joo padanya. Berkat Tae Hwa yang tidak sengaja membukakan ruangan properti, Jung Suh berhasil ke bandara bertemu Song Joo untuk terakhir kalinya.. ia akan menjawab perasaannya Song Joo. Song Joo memberikannya kalung, mereka saling memasangkan kalungnya. Jung Suh merekamkan kaset bahwa ia juga mencintai Song Joo, meminta Song Joo membawa kaset besertanya.

Jung Suh tidak bisa berkomunikasi dengan Song Joo, surat dari Song Joo selalu diambil Yoo Ri. Tae Hwa salah paham menganggap Jung Suh ada perasaan padanya hanya karena kebaikan hati Jung Suh yang melingkarkan syal dan membuatkannya sup rumput laut sebagai hadiah hari ulang tahunnya Tae Hwa. Mereka selalu bersama sampai dewasa.

Sampai saatnya tiba Jung Suh harus pergi ke LN bersama Song Joo. Song Joo pulang, mereka hendak bertemu tapi Yoo Ri menabrak Jung Suh saat hendak menyeberang. Yoo Ri meminta ayahnya untuk menyembunyikan Jung Suh. Jung Suh diketahui mengalami amnesia. *mulai alay hahaha*

Sementara itu Yoo Ri memalsukan identitas mayat hancur dengan Jung Suh. Semua orang menjadi mengira Jung Suh sudah meninggal,

Tae Hwa

Tae Hwa memutuskan untuk tinggal dengan Jung Suh dan ayahnya. Selama 5 tahun Song Joo masih belum bisa melupakan Jung Suh. Yoo Ri terus menerus mendekatinya, mereka juga hendak ditunangkan.

Song Joo punya prinsip, sama halnya dengan bumerang yang sering ia mainkan sejak kecil dengan Jung Suh. Tak peduli dilemparkan sejauh apapun, “Cinta pasti akan kembali” seperti bumerang

Sayangnya Song Joo bisa melihat Jung Suh sekali lagi. Jung Suh namanya sekarang adalah Kim Ji Soo, mulai kesini mulai menarik.. Song Joo selalu berusaha mendekati Jung Suh yang amnesia dan menjahilinya.

Kwon Sang Woo – Cha Song Joo

    Meski nanti Song Joo akan berhasil membawa kembali Jung Suh ke sisinya.. Jung Suh nantinya mengalami kanker mata seperti penyebab kematian ibunya dulu. Tentu Song Joo akan berusaha menyelamatkannya dengan segenap tenaga. Jung Suh mendapatkan donor, pendonornya adalah Tae Hwa yang selalu mencintai dan menyayangi meski tahu hatinya Jung Suh hanya untuk Song Joo. Jung Suh dengan mata masih diperban diajak Song Joo melawat pendonornya,  Jung Suh berterima kasih tanpa tahu siapa orangnya. Posisi saat itu mereka sudah suami istri.

Disaat terakhirnya Jung Suh meminta Song Joo melihat laut bersama, laut yang sama yang sering mereka jadikan tempat bermain saat kecil dulu. Meski operasi berhasil, sayangnya karena kematian memang sebuah kepastian yang tidak bisa dihindari.. Jung Suh memejamkan matanya untuk selamanya dalam pelukan Song Joo. Disaat terakhir Song Joo meminta Jung Suh menunggunya sebelum Jung Suh memasuki pintu surga, ia ingin Jung Suh masuk ke surga bersamanya. Sedalam itulah Song Joo mencintai Jung Suh.

Sad ending… saya tidak terlalu mengerti perasaan seseorang yang sangat ingin bersama orang lainnya bahkan dikehidupan sekarang dan kehidupan kekal kelak, cinta seperti apakah itu? Sebesar apakah itu? Tidakkah itu menakutkan? Seolah kamu bersedia memberikan jiwa dan ragamu padanya seorang. Perasaan semacam itu membuatku merinding. Entahlah, semoga saya dan readers yang belum mengerti, akan mengerti rasanya kelak.. nanti.. entah kapan. Kalau pun pada akhirnya tetep gak ngerti, ya sudahlah …


Ost. Original Soundtrack Stairway To Heaven

Kim Tae Hee umur 20 an.

     Lagu yang khas dari Stairway To Heaven adalah I Miss You yang dinyanyikan Kim Bum Soo, kepengen dengar? Di laman Stairway To Heaven dan otomatis terbuka jika readers buka blog ini via komputer/laptop. Banyak yang mengkovernya, sekelas Eunkwang BTOB, Chen EXO, bahkan Taeyeon.. bagiku versinya Kim Bum Soo tetaplah juara.

Komentar – komentar Yuks!

  • Kim Tae Hee 2004 berarti umurnya 20 tahunan, sumpah… cantik banget! Saat itu operasi plastik kurasa belum secanggih sekarang, kalau sudah ada pasti permintaan tertinggi salah satunya pasti kepengen dimiripin Kim Tae Hee. Wajahnya muda banget dan cantiknya jutek, cocok jadi antagonis.
  • Choi Ji Woo sewaktu itu diakhiran 20-an, 27 an kira-kira. Sekarang dia 41 tahunan, dari dulu tidak pernah berubah. Makan apa sih? Formalin? Bukannya tambah tua tapi malah tambah awet muda makin keren dan cantik.
  • Kwon Sang Woo keren! Sudah.. bingung mau komentar apa.. ajussi yang satu ini perfect jaman segitu.
  • Shin Hyun Joon, kurang tahu sekarang bagaimana karirnya. Yang jelas cocok memerankan seniman saat itu.

  Tak terasa sudah 12 tahun lebih saya suka drama … ckckck. Yaampuun …   buktinya tau drama sejadul ini. Stairway To Heaven.