[Cerbung] Light Up the Sky – Part 5

Aside

  Sabina sejak meninggalkan Amar terus berpikir. Apakah mungkin Amar menduakannya? Mereka baru menikah berapa lama? Kenapa tega sekali? Ia bukannya impoten, ia hanya keguguran karena terpeleset sisa-sisa air hujan. Apa iya ayah dan ibunya Amar tidak sabaran menantikan cucu sampai menyuruh anak sulungnya menikah lagi? Masuk akal di bagian mananya?. Di perjalanan ia melamun melihat jalanan. Ia tak mau tahu apa yang Amar rasakan saat ini. Kalau Amar mencintainya pasti akan mencari keberadaannya. Itu yang Sabina yakini.

Sampailah dia di kawasan apartemen. Salah satu gedung di sana adalah milik Arip, Arip jarang menghuninya. Sabina kemari tanpa sepengetahuan sepupunya. 

Ia membayar ongkos taksi segera, menuju lobi yang lumayan ramai tersebut dan disapa satpam di sana. Pak Joko sudah mengenal Sabina berkat Arip adalah pemilik gedung tempatnya bekerja.

“Mbak Sabina tumben kemari? Pak Arip ada di tempat biasa.”

“Kangen Kang Arip Pak, selama beberapa waktu saya akan tinggal di sini. Kalya sehat Pak? Sudah berapa tahun sekarang? SD kelas 3 ‘ya?”

“Iya Mbak, kapan-kapan saya ajak kemari buat ketemu sama Mbak.”

“Saya ke atas dulu ‘ya Pak. Permisi..”

Sabina menuju ke lift. Kosong, terdengar langkah kaki cepat menahan lift. Menyusul Sabina, Ibram tersenyum kaget melihat Sabina di dalam. Sabina menyapanya sopan. Ibram hendak ke lantai 6 sedangkan Sabina 8.

“Mas Ibram tinggal di sini?”

“Cuma sementara, lebih mudah menemui Arip di sini. Kamu janjian dengan Arip hari ini?”

“Ya, begitulah..”

“Kahfi juga di sini, saya sering lihat dia beberapa kali saat jogging atau di kafetaria. Kapan-kapan kita kumpul bertiga, saya traktir.”

“Kahfi? Kog saya tidak tahu ‘ya?”

Kemudian ponsel Ibram berbunyi. Ia meminta maaf dan mengangkatnya. Pembicaraan bisnis Ibram. Sabina hanya memandangi bayangannya sendiri yang terpantul di lift. Kalau Amar tahu ini pasti ia akan kesal. 

Sesampainya di lantai 6 berbunyi. Sabina dan Ibram berpisah.

“Sampai jumpa Sab..”

“Iya Mas.”

Sabina segera mengetikkan pesan ke Kahfi. Kahfi membalas ia ada di lantai 7, apartemennya nomor 704. Sedang menulis bab selanjutnya.

   Sabina memenceti bel apartemen Kahfi dengan kesal. Kahfi membukakan pintu dengan malas-malasan, dengan kaos gombrong dan kacamata khususnya untuk menulis, celana pendek sedengkul, dan sandal jepit. Kahfi mempersilakannya masuk.

Kahfi kemudian kembali duduk di kursinya, meja dengan berserakan banyak kertas serta dua laptop, di belakang pria nyentrik itu terdapat jendela kaca besar menunjukkan hiruk pikuk kendaraan petang ini. Di sisi kiri lengan Kahfi terdapat foto-foto suatu daerah dan 3 gelas cangkir kopi yang sudah kosong. Sabina menatapinya jijik. Kahfi pasti belum mandi selama berhari-hari. Sabina meletakkan tasnya ke sofa, melepaskan sepatunya. Lalu bersila duduk dan menghela napasnya berat. Kahfi menoleh, ruangan itu hanya terisi mereka berdua, Kahfi tidak menyetel musik lagi. Ia topangkan dagunya menatap sobatnya itu. Belum bertanya Sabina sudah bicara duluan.

“Menurutmu kalau orang sejenis Mas Amar selingkuh, masuk akal tidak?”

“Kenapa? Amar selingkuh?”

Sabina beranjak dari duduknya dan menuju meja Kahfi. Mengamati lalu lalang kendaraan petang ini. Kahfi memutar kursinya mengamati Sabina.

“Bukan.., jangan bikin konklusi seenaknya gitu! Pengandaian.”

Kahfi renggangkan bahunya. Menulis berjam-jam baru terasa lelahnya sekarang.

“Premis satu, Amar orangnya serba lurus. Premis dua, memperistri kamu saja susah Sab.., kesimpulannya, lantas kenapa harus selingkuh? Bego’ itu namanya.”

Sabina tak merespon. Kahfi menguap, mengucek matanya sekalian mengelap embun di lensa kacamatanya dengan tisu.

“Kecuali kalau Amar dijebak atau sejenisnya. Betewe aku mau kasih nama tokoh pendukung di bab 6 yang misterius itu, gimana kalau namanya Serafina?”

Sabina sedikit menoleh terkejut.

“Yang belum kamu kasih nama itu? Tapi.. apa’an sih? Kayak nama kucing? Dijebak bagaimana?”

Dengan berapi-api Kahfi menjelaskan.

“Suatu malam. Amar di gang kantornya, diseret beberapa pria asing, digebuki, dihajar, dikarungi lalu buang di kali lalu diseret lagi ke daratan. Kemudian dibius, diminumi obat penenang sejenisnya atau sesuatu yang membuat kesadarannya hilang. Lalu begitulah..”

Sabina mengernyit dibuatnya.

“Ngarang! Tega tau gak khayalanmu Kaf..”

“Namanya juga penulis, kalau tidak tega pada tokoh utamanya, dijamin semua novelku tidak akan laku di pasaran. Ceritanya tidak akan seru. Kadang-kadang kita lambungkan dia dengan segala situasi menyenangkan, lalu jatuhkan ke dasar-dasar jurang paling gelap dan dalam. Setidaknya itu peganganku ketika menulis Bu Editor!”

“Aku bingung Kaf..”

Sabina kembali menatap langit sore dengan mata mulai berair.

Kahfi hanya bisa menggaruk dahinya melihat Sabina seperti ini. Tak ingin bertanya lebih jauh apa yang sedang terjadi. Ia yakin Sabina bisa mengatasinya sendiri.

“Tapi Bi, Kang Arip jarang di apartemen ini ternyata ‘ya? Jarang lihat batang hidungnya meski aku keliling tiap hari.”

Sabina mengusap kedua matanya lalu melihat Kahfi dengan heran.

“Kamu kenapa di sini? Selain karena gedung ini bagus serta letaknya strategis. Jangan bilang mau menguntit Kang Arip? Shafa masih single, sebelum janur kuning melengkung siapa saja berhak memperjuangkannya.”

Kahfi mengerucutkan bibirnya.

“Enak saja! Aku ini fair orangnya. Si tokoh Wafi ‘kan ceritanya tinggal di apartemen elit begini. Jadi aku observasi di sini. Sekali mendayung 4 sampai 10 pulang terlampaui. Ha haha!”

“Kamu sudah nonton film abg yang lagi booming itu? Menurutmu gimana? Norak ‘ya? Ngajarin anak-anak buat rayu-rayuan begitu pas pacaran.”

“Oh, yang banyak gombalannya itu? Ah sudahlah. Aku sih biasa saja, bukan selera Kahfi juga. Tidak begitu tertarik. Lebih suka romance thriller seperti yang kugarap sekarang.”

“Trilogi novel sejenis itu hanya cocok untuk anak ABG. Semua rayuan di dalamnya tidak akan pernah cocok untukku. Aku sih masih fans nomor satu kamu Kaf..”

Kahfi tersanjung, senyumnya mengembang sempurna, menyodorkan tinjunya ke Sabina dan dibalas Sabina dengan tinjunya juga. Kebiasaan keduanya kalau bertemu sejak dulu.

“Aku ke Kang Arip dulu ‘ya?”

Sabina kenakan kembali sepatunya dan menuju lantai 8. 

Jika di setiap lantai terdapat kediaman 4 penghuni berbeda. Khusus lantai 8 adalah rumah Arip seorang, dengan interior yang luar biasa menawan berkat tangan dingin Makki, angka favorit Arip delapan. Menurutnya angka delapan sempurna karena tidak pernah putus. Sudah lama Sabina tak kemari, Arip jarang tinggal lama di sini. Siapa tahu Arip sedang pergi, maka Sabina tak perlu menjelaskan apa masalahnya pada Arip.

Sabina mengetahui kode sandinya, ia masukkan dengan mudahnya. Tanpa dia duga Arip sudah melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatapnya tajam. Sabina hanya meringis menatap Kakak sepupunya tersebut. Sudah menduga bahwa Sabina bertengkar lagi dengan Amar.

“Tolong, jangan beritahu Mas Amar.”

“Tidak janji sih..”

Sabina memelas. Arip tak bisa mengatakan tidak pada adik sepupunya ini.

“Sebesar apa pertengkaran kalian sampai kamu tidak mau pulang ke rumah? Aku mau ke luar kota seminggu Neng.. kalau begitu jaga rumahku.”

Arip menepuk bahunya sekilas dan pergi sambil melambaikan tangannya.

Sabina lega, ia sendirian sekarang. Ruang tamu yang luas, dapur di ujung kiri sana. Ada 3 ruang kamar di sini. Sabina menuju ruangan yang selalu jadi kamarnya jika kemari. 

Sudah lama tak ia kunjungi, namun ruangannya rutin dibersihkan oleh petugas. Lemarinya juga penuh dengan pakaiannya.

Sabina langsung merebahkan dirinya di kasur. Banyak dirundung masalah hari ini membuat emosinya meluap-luap. Harusnya ia bisa bertanya baik-baik pada Amar tadi. Sayangnya Amar menginterupsi dirinya yang sedang berpikir, otomatis membuat Sabina naik darah.
**

   Amar dan Sabina duduk berdua di kafetaria apartemen ini. Amar terlihat putus asa, Sabina malas menatapinya. Setelah menunjukkan foto, Sabina berharap Amar mengatakan itu bukan dirinya, itu hanya bohongan atau sejenisnya. Namun yang ada Amar justru tertunduk lesu sebentar baru mengutarakan isi dalam pikirannya.

“Jika ini yang kamu inginkan aku bersedia melepaskan kamu Sabina. Jika ini yang terbaik untuk kamu..”

Dalam hati Sabina tak ingin mendengarkan kata-kata itu. Berharap Amar meyakinkannya kembali, sangat wajar hubungan mereka belum sekuat itu. Mereka baru menikah beberapa bulan jika terhitung koma dan amnesianya tidak dianggap.

“Baik.”

Namun entah mengapa Sabina mengiyakan saja.

“Tapi yang perlu kamu ingat. Aku akan tetap menyayangi kamu sampai kapanpun. Aku tidak akan pernah menikah lagi jika bukan dengan kamu sayang.”

Amar terdengar sungguh-sungguh. Dalam hati Sabina memohon, tolong jangan katakan itu?! Aku tidak bisa membayangkan kedepannya akan seperti apa jika bukan kamu.

    Namun entah mengapa tak bisa ia katakan. 

“Sebelum aku talak 3 sekaligus. Izinkan aku memeluk kamu Bi, sekali saja sudah cukup. Sampai bertemu di pengadilan.”

   Sabina merasa sebelas bulan berlalu begitu cepat. Ia berjumpa dengan Ibram di salah satu kawasan perumahan. Mereka sedang berjalan-jalan di sekitar sana. Entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya, Sabina tak ingat.

“Maaf kalau saya kurangajar Sab, kamu sudah lewat masa iddah ‘kan? Boleh saya mempersunting kamu?”

Sabina membelalakkan kedua matanya mendengar itu. 

“Saya sudah pernah jadi istri orang. Saya bukanlah Sabina yang sama seperti yang Mas Ibram lihat dulu.”

“Tidak masalah. Sekali Sabina tetap Sabina, kamu tidak berkurang satu hal apapun.”

Waktu berjalan begitu cepat, mereka menikah. Sabina keluar dari pekerjaannya sebagai editor dan selalu menemani Ibram pergi bekerja baik di luar kota maupun luar negeri. Orang-orang saling berbisik pada keduanya, mereka pasangan yang serasi. 

   Lalu entah mengapa Sabina kini berada di bandara internasional negeri ini. Ia tak ingat pasti kenapa bisa kemari, rasanya ada seseorang yang memanggil-manggilnya keras sekali diantara ribuan lalu lalang manusia ini. Ia kenal suaranya, Mas Amar? Ia-kah?

Ditengah hiruk pikuk manusia yang datang serta pergi tanpa banyak menghiraukan satu sama lain, Sabina berusaha mencari Amar dimana keberadaannya. Tak ada terlihat sama sekali.

Setelah pencarian lama tersebut, sosoknya terlihat dari jarak 10 meter, detik itu juga matanya bersitatap dengan mata Amar. Amar merentangkan kedua tangannya menyambut Sabina, Sabina tanpa ragu berlari menujunya. 

Sayangnya itu hanya bunga tidur. Mimpinya terhenti begitu saja bahkan belum sampai ia merasakan dekat dengan Amar, Sabina kebingungan dengan mimpinya barusan. Amar menceraikannya lalu Ibram menikahinya, mimpi absurd macam apa itu? Memikirkannya saja ia tak ingin.
   Sabina membuka matanya, entah pukul berapa sekarang, dini hari pikir Sabina. Hawa dingin masih menyeruak menyelimuti ruangan tersebut. Pemandangan pertama yang ia lihat di sisi kirinya adalah wajah Amar yang tersenyum simpul padanya. Sepasang mata hangat yang ia rindukan. Ia pejamkan matanya sekali lagi untuk mengenyahkannya, masih berpikir ini adalah bagian dari mimpi gilanya tadi. Ini hanya halusinasinya, sudah cukup! Namun kedua kalinya ia kerjapkan mata Amar masih di sana. Ini bukan halusinasinya. Pasti Kang Arip yang memberikan kode password apartemennya. 

Wajah pria itu tampak lusuh kurang tidur, matanya tak berbinar seperti biasanya, tampak lelah amat sangat. Ada banyak kekhawatiran tak terucap disana. Sabina usap pelipis Amar dengan telapak tangan kirinya, turun ke pipi hingga dagunya. Terasa kasar, suaminya belum cukuran sepagi ini.

“Bi, kamu takkan pernah tahu betapa cantiknya kamu ketika tidur. Terlihat damai dan tenang sekali.”

“Mas Amar tidak tidur?”

Amar menautkan jari jemarinya ke tangan kiri istrinya. Ia genggam lembut lalu hirup aroma Sabina.

“Kenapa aku harus memejamkan mataku ketika impianku sudah di depan mata. Aku hanya berusaha mempertahankan realitas ini sayang..”

“Tidurlah, realitas kita akan tetap aman. Aku tidak mau kamu sakit.”

“Sampai detik ini rasanya masih seperti mimpi Bi.., aku takut jika memejamkan mata kamu akan lenyap. Seperti yang sudah-sudah.”

Mereka terdiam cukup lama, hanya saling memandang selama beberapa menit, saling bicara dengan keheningan. Banyak yang ingin Amar tanyakan pada istrinya, namun ia urungkan. Tak melihat Sabina di rumah rasanya sudah seperti tak melihatnya bertahun-tahun, rindunya bagai menusuk-nusuk dan menghujam jantungnya. Entah mengapa sakit sekali, terasa sesak didada hingga bernapas sangat membebani.

“Masih marah?” Tanya Amar memecah kekosongan.

“Mas, tadi sore ada orang ke kantor mengaku istri sirri kamu, hamil. Ada fotonya juga.”

Sabina ambilkan foto di bawah bantal Amar. Amar memegangi foto itu tertegun. 

“Aku tidak tahu ini apa Bi. Demi Allah ini bukan aku.”

“Aku bukannya tidak percaya kamu, aku butuh bukti konkret Mas.”

“Jahat.”

“Mas Amar-ku sayang..”

Amar mendengus mendengarnya dirayu Sabina dengan suara semanja ini.

“Aku kalah kalau kamu sudah pakai acara sayang-sayangan begini. Baiklah, kasih aku waktu beberapa hari maka aku bawakan bukti. Tapi jika terbukti aku tidak salah, kamu harus memanggilku Aa’ paling tidak sebulan!”

“Apa sih? Kog malah ngelunjak? Aa’? Ih jijik.., oke! Cuma satu bulan.”

Sabina bangun dan menarik lengan Amar supaya bangun juga. Amar tersenyum geli dibuatnya. Ia tahu Sabina akan mengajaknya sholat malam. Bukan dua atau empat raka’at saja, biasanya juga sampai batas maksimal raka’atnya. Bagaimana bisa ia menduakannya jika Amar merasa kebaikan begitu dekat dengannya setiap harinya?.

“Mau kemana Bi?”

“Katanya mau ngajakin ke surga. Aku sih ayo aja, tapi kamu tahu jalannya enggak?”

“Oh, nantangin ceritanya?.”

“Itu tahu..”

**

“Aku pinjam baju kamu yang terakhir kali kamu pakai buat umrah Fa..”

“Yang hitam itu? Burkaknya juga? Sabina kamu sehat?”

Shafa menghentikan aktivitas menulisnya, pulpennya sampai terdengar keras membentur meja, mengingat-ingat ia taruh dimana dulu. Sabina menatapinya gemas. Shafa was-was entah apa yang kawannya ini rencanakan.

“Fa, plis.. aku ingin lihat Mas Amar tanpa dia tahu aku dimana.”

“Maksudnya?”

“Kang Ikrom dan Kak Makki hendak ketemuan dengan dia di rumah makan biasa. Pura-puranya aku jadi pelanggan dari arab, dubai kali atau apa kek..”

“Sabina kamu aneh, rumah makan punyamu itu?”

“Sssttt.., punyanya Pak Fikri. Memang punyaku tapi atas namanya Pak Fikri.”

Sabina celingukan ke kanan kiri semoga tak ada yang mendengar.

“Wah, bos besar yang satu ini. Kamu nggak bilang Mas Amar soal kebiasaanmu yang suka buka bisnis tapi pakai nama orang?”

Shafa menuju ke ruangan pribadinya di lantai dua ruangan ini. Keduanya menaiki tangga, Sabina terus bercerita betapa ia tak betah ternyata tidak menjumpai Amar sehari saja. Biasanya pagi ia akan menyiapkan sarapan untuknya, diantarkan ke kantor, saat jam makan siang mereka akan melakukan video-call atau saling mengirim pesan. Pulangnya Sabina dijemput Amar meski perusahaan Amar cukup jauh dari kantornya Sabina. Ia sudah sangat terbiasa dengan keberadaannya Amar, jadi jika pisah diluar rutinitas keseharian mereka tentu ada yang kurang bagi Sabina.

Sabina dan Shafa sampai, Shafa membuka-buka lemarinya. Mencari baju yang Sabina maksudkan.

“Low profile Fa, apalah arti sebuah panggung jikalau pemilik sebenarnya ada si Sabina, aku belum bilang. Pelan-pelan pasti dikasih tahu, siapa yang mengira kejadian nikah sirri ini muncul?”

Shafa menemukan baju yang dimaksud. Ia tempelkan di badan Sabina, tinggi mereka sama jadi Shafa pikir bajunya akan pas tak kepanjangan atau kekecilan untuk Sabina. Sabina pergi ke kamar ganti sebelah, beberapa waktu kemudian ia sudah ganti bajunya. Hanya terlihat matanya saja karena ia mengenakan burkak.

“Sudah. Kira-kira Mas Amar kenal aku tidak kalau seperti ini?”

Shafa menimbang-nimbang. Manggut-manggut sembari tersenyum.

“Hmm, asal kamu jangan bicara sepatah katapun dan jangan menatap mata Mas Amar lebih dari 3 detik.”

Mata? Tentu saja. Amar pasti akan langsung mengenalinya. Sabina lihat wajahnya di cermin.

“Sunglasess kamu mana Fa?”

“Sabina..”

“Duh, jangan cerewet! Kemarikan sekarang!”

“Oke oke. Tapi Sab, masa iya sih Mas Amar nikah lagi? Tidak mungkin, kamu tidak bisa lihat bagaimana perjuangannya dulu?”

Shafa ambilkan di rak kedua di kirinya. Sabina segera memakainya dan bercermin kembali.

“Jujur aku tidak percaya. Tapi siapa yang tahu? Laki-laki tetap laki-laki.., harimau di kebun binatang yang jinak sekalipun hari ini manja dengan keepernya tapi hari lain kalau kelaparan pasti buas.”

“Mas Amar itu manusia.”

Sabina berputar-putar dan merentang rentangkan tangannya.

“Pantes?”

“Iya, persis dementor.”

Advertisements

Magenta Lilac – Part 1

Aside

​ Lilackarissacom

   Dia sudah terbangun dari tidur panjangnya, bukan sepenuhnya koma karena setelah dokter periksa 3 bulan lalu sebenarnya Sabina sudah sadar, entah mengapa ia tak kunjung bangun dan tak ada penjelasan medisnya. Para tetangga usil hanya menyebut perempuan itu diguna-guna, diteluh oleh musuh musuh keluarga mereka dan sejenisnya. 

  Setelah dibawa ke berbagai kota dan menemui puluhan dokter semuanya hanya sia-sia. Tak ada yang bisa menjelaskan penyakit perempuan itu, ia hanya memejamkan mata lama sekali dengan ekspresi damai di wajahnya tiap terlelap, aku di pojokan ruangan menatapinya getir, ia kini tengah kebingungan dengan kehadiran seorang pria yang memegangi tangan kanannya dan satu menit lalu pria itu mengaku suaminya. Perempuan itu melepaskan genggaman tangan besar dan kokoh itu dengan gusar, hanya menatapinya linglung. Tidak percaya. Suami apanya?

   Sesungguhnya aku tahu apa yang terjadi namun tak bisa menjelaskan padanya. Aku tahu, dia baru 27 tahun lima hari yang lalu setelah tertidur selama 6 bulan lamanya bagai mayat. Aku juga tahu siapa pria itu namun sekali lagi aku tak hendak menjelaskan. Bukan hakku untuk bercerita pada keduanya. Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Siapa aku dan kenapa begitu sok tau? Nanti kalian juga akan mengenalku, tapi sekarang kalian konsentrasi saja pada ceritaku tentang kedua orang di depanku ini.

   Pria itu menatapnya dengan penuh kasih, ada kerinduan di sana, cemas, sayang, dan takut wanitanya terluka. Meski aku lihat ia ingin sekali memeluk kekasihnya dan mengucapkan selamat datang, membelai puncak kepalanya dan mencium keningnya. Tapi pria itu mati-matian menahan diri, bukan ia tak mau.. ia hanya tidak bisa. Wanitanya tak mengenalinya sama sekali. Tapi aku heran kenapa pria itu tak kunjung menekan tombol merah di sebelahnya untuk memanggil dokter?

     “Sabina?” 

Panggilnya lembut. Yang dipanggil masih heran dan tak menjawab. Ia hanya masih menatapnya bingung.
    “Kamu siapa? Aku belum menikah. Aku sama sekali tidak mengenalmu.”
   “Kamu tidak ingat aku? Sabina kamu tidak sedang bercanda kan?”
Sabina menggeleng lemah, sama sekali tak ada ide, tapi lambat laun air matanya jatuh dan hatinya terasa ditumbuk setelah lama menatap pria ini. Ia seperti kehilangan kemampuan untuk bernapas, ia pukul-pukul pelan dadanya yang sesak. Ia terisak pedih. Sakit yang tak bisa dijelaskan. Siapapun yang melihatnya sekarang pasti akan ikut larut dalam dukanya.

   Pria itu buru-buru memanggil dokter dan tak berapa lama kemudian dokter beserta petugas medis lainnya datang. Petugas medis mendorong pria itu untuk keluar ruangan.
Aku mengikutinya keluar bertemu dengan semua keluarga yang hadir hari itu. Beberapa menit ia sibuk menjelaskan apa yang terjadi pada Sabina mereka.
     “Nak Amar istirahatlah dulu. Mungkin Sabina sedang penyesuaian diri. Bagaimanapun juga ia baru bangun. Pasti ada yang tidak beres dengan otaknya setelah kecelakaan itu.” 

Saran ayah Sabina pada Amar. Amar hanya tersenyum seadanya, beberapa saudaranya juga menepuk bahunya untuk tetap kuat. Pria berambut lebat itu berusaha menerima,
     “Yang sabar ya Amar…” dukung Makki kakak perempuannya Sabina yang terkenal keras dan macho jalannya meski tampilannya ukhti uhkti pengajian. Sekali lagi Amar mencoba tegar, mukanya kuyu sekali dan terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Meski ia sudah terbiasa tidak tidur normal seperti orang kebanyakan, kali ini berbeda, separuh jiwanya pergi sementara waktu. 6 bulan berlalu, tak sedetikpun ia lepaskan penjagaannya dari Sabina. Tiap pulang kerja ia langsung menuju ke bangsal itu. Tak tega berbahagia bersama kolega sementara yang Sabina ia cinta diambang entah hidup atau mati. Sampai beberapa dokter dan suster akrab dengan Amar, sosoknya yang mudah membaur dan memancarkan aura positif membuat semua orang menyenanginya. Mereka tahu dibalik keramahan dan kehangatan Amar, pria itu merana sedih sekali karena kekasihnya tergolek tak berdaya berbulan-bulan.

   Aku mengintip ke dalam sana, setelah keadaannya cukup tenang dokter dan beberapa petugas keluar mengajak Amar berbicara di ruangannya. Ayah dan Ibu Sabina masuk ke ruangan Sabina, setelah berbagi pelukan akhirnya Sabina angkat suara disela tangisnya. Matanya sudah merah dan bengkak, memperparah pucat wajahnya.
   “Pah, Mah… siapa orang tadi? Aku enggak kenal sama sekali. Aneh, aku belum menikah. Kenapa hatiku sakit sekali melihatnya?”
Aku juga ikut masuk ke ruangan, duduk sembarangan. Ayah dan ibunya hanya saling pandang heran. Sebelum ada seorangpun yang menjelaskan pada Sabina, Amar terlebih dulu datang mengajak ayah dan ibu Sabina keluar dan berbicara perihal kondisi Sabina. Sekarang tinggal kakak perempuannya Sabina, Makki di ruangan. Makki memeluknya dan menepuk nepuk pundaknya.
   “Sab, ini enggak lucu sama sekali . Jangan bercanda. Kamu bahkan membicarakan Amar hampir setiap hari padaku selama bertahun-tahun. Dan sekarang kamu enggak ingat? Ayolah… ini tidak lucu! Amar itu orang yang kamu suka sampai jadi sinting. Aku bosan tiap kali bicara denganmu selalu ada pembahasan soal Amar. Persis seperti kaset rusak tau gak?”
Sabina memejamkan matanya sekali, lalu mengerjap kesal. Ia melepaskan pelukannya.
  “Kak! Kakak yang bercanda, kalau memang aku sebegitu sukanya sama dia. Kenapa aku enggak tahu siapa dia?. Dan lagi, tadi dia bilang dia suamiku? Dalam 10 tahun ini aku tidak ada rencana menikah!.”
Makki membelalakkan matanya heran. Ia pikir Sabina yang suka bercanda sejak tadi hanya berakting, untuk membuat kejutan. Tapi ia mengenali tabiat adiknya yang berambut panjang ini kalau marah. Alisnya menyambung seperti sekarang, dahinya mengkerut dan wajahnya makin simetris karena menggertakkan rahang.
  “Sab… kamu kenapa? Untuk fakta terakhir kami minta maaf. Kamu sekarang 27 tahun dan Amar menikah dengan kamu saat kamu koma. Ayah dan ibu yang memutuskannya. Kami pikir itu keputusan yang terbaik untuk kalian.”

Sabina jelas makin mengkal. Teganya ayah dan ibunya menikahkahnya tanpa sepengetahuannya. Aku tahu reaksi Sabina selanjutnya adalah membantingi semua barang yang ada. Aku memilih keluar ruangan bersama Amar dan kedua orangtua Sabina. Vas bunga, jam, bantal, apapun yang terjamah tangannya maka ia lemparkan sekenanya teecerai berai. Seketika ruangan menjadi kapal pecah.
Kulirik Amar yang terlihat makin sayu matanya, belum pernah aku lihat Amar semenyedihkan ini… Amar yang aku kenal selalu ceria, sinar diwajahnya selama ini yang banyak dikagumi orang entah mengapa redup. Ia tahu kenapa Amar begitu, meski samar ia dengar Makki menyinggung soal pernikahan mereka tadi. Ibu dan ayahnya Sabina belum reda dengan perkataan dokter yang disampaikan Amar, sekarang mereka masuk ke ruangan dan mencoba menghentikan Sabina yang menangis dan berteriak-teriak.

  Amar ingin sekali ke sana. Ikut menenangkannya, tapi ia tahu justru Sabina akan marah padanya. Bagi Sabina ia sekarang hanyalah orang asing. Ia memilih pergi ke lorong lain meninggalkan mereka.
Berjalan tanpa arah dengan gamang. Aku mengikutinya, mencoba memanggil-manggilnya namun tak ia dengar. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
    “Amar! Amar… Amar jangan sedih. Kamu harus bersabar. Kamu tidak boleh menyerah! Ya!?”

   Tanpa sadar ia sampai di parkiran basement. Ia langsung memutuskan untuk pulang dan membiarkan Sabina sendirian sekarang. Aku menyelinap masuk ke kursi penumpang di depan. Masih berusaha membesarkan hatinya meski tak digubris.
Amar mengemudi sambil memikirkan perkataan dokter. Ia terkejut karena menurut dokter, Sabina mengalami hilang ingatan seperti yang dokter duga setelah melakukan MRI di hari pertama Sabina sampai di rumah sakit. Namun tak separah taksiran dokter, meski komanya hanya 3 bulanan tapi seterusnya Sabina cuma tertidur, otak Sabina secara aneh menyembunyikan ingatan segala sesuatu yang berhubungan dengan Amar. Amar syok dan bertanya kenapa bisa begitu?

    Dokter menjelaskan tak jarang ini terjadi karena Amar adalah sumber bahagia terbesar dan kesedihan bagi Sabina. Secara berkala manusia memang melupakan kenangan dan pengalaman buruk mereka, tapi kejadian semacam ini bukan berarti tak ada penjelasan medisnya, ini tergolong wajar dan bisa pulih atau terlupa sama sekali jika alam bawah sadarnya menolak mengingat siapa Amar. Setelahnya Amar tak begitu mendengarkan penjelasan medis dari dokter, ia tercenung lama. Sabina melupakannya, sedari dulu melihat gadis itu tertawa-tawa dan bersama laki-laki lain saja hatinya sudah panas. Apalagi dilupakan? Tidak tahu bagaimana menalangi hatinya jika itu benar terjadi dan selamanya?

Kulihat kami sampai di lampu merah kedua dalam perjalanan menuju apartemen Amar. Amar menghembuskan napasnya dengan berat.
    “Setidaknya Sabina bangun. Dia sehat dan sadar itu sudah cukup. Kalau memang dia tidak mau mengingatku… aku akan tetap mencintainya.”
Aku tersenyum getir melihat Amar di balik stir. Oh, Amar.. Pantas saja Sabina menyukai dirimu.
                                   ***
   Kembali ke rumah sakit. Semua keluarga sudah pergi. Sejak tadi ibu, ayah, dan Makki menjelaskan sampai berbusa pada Sabina tentang siapa Amar. Makki tak jarang mengeraskan suara karena Sabina masa bodoh. Ia masih marah, kenapa ibu dan ayahnya menikahkan seseorang yang sedang koma? Bahkan Sabina tidak mengenal pria itu siapa. Makki naik darah, Sabina yang suka Amar pasti akan berterima kasih pada mereka, tapi Sabina yang keras kepalanya kumat ini sungguh menjengkelkan walau sedang sakit.

    “Amar ini.. Kamu suka dia 10 tahun lebih Sab!. Kamu kecelakaan karena melihat Amar makan berdua dengan seorang wanita di salah satu restoran, mobilmu terguling nyaris terlindas kereta. Amar yang bawa kamu ke rumah sakit!” Berbusa Makki menjelaskan. Bahkan ada bukti otentik surat nikah, banyak Makki jelaskan bagaimana Sabina sering curhat padanya.
      “Kalian bisa keluar sebentar? Aku mau sendirian.” Ujar Sabina menyerah. Kepalanya terlalu pusing mencerna fakta tersebut.
Akhirnya mereka semua memilih keluar. Ibu meminta Sabina memanggilnya jika membutuhkan sesuatu.
Sabina membiarkan aku tetap di dalam. Sudah 6 bulan tanpa aktifitas fisik, wajahnya pucat sekali dan berat badannya turun banyak, terlalu lemah bahkan jika itu untuk berjalan. Setelah mengamuk tadi tubuhnya seperti baru sadar bahwa syaraf-syarafnya melemah karena tak pernah dipakai selama 6 bulan dan ia terjatuh di pinggir ranjang rumah sakit. Dokter memeriksa dan meresepkan obatnya, Sabina akan latihna berjalan selama beberapa waktu untuk kembali normal beraktifitas.
  Sekarang ia hanya berbaring lesu memperhatikan buku nikahnya, tepatnya pada foto Amar, laki-laki yang memiliki tatapan meneduhkan bagi siapapun yang memandang. Ia seperti dijebak dalam hubungan yang dipaksakan ini. Ia merasa tidak asing dengan Amar tapi hatinya ngilu sekali jika melihat wajah pria itu. Entahlah, barangkali ia sedang tidak bisa berpikir jernih sekarang.
      “Amar bisa menunggu. Kamu fokus saja dulu pada penyembuhanmu Sab..” ujarku lirih entah Sabina dengar atau tidak.
Tok tok tok!
Makki masuk ke ruangan lagi dengan raut muka tidak enak karena mengganggu. Kakaknya yang wanita macho ini membawa ponsel Sabina yang dia bawa selama Sabina tidak sadar.
    “Sab, maafin kakak tadi kelewat emosi. Coba kamu ingat-ingat lagi. Ini ponsel kamu, Amar itu separuh hidupmu dan kalian sudah seperti magnet yang saling tarik menarik. Bisa jadi kamu akan ingat siapa Amar kalau buka ponselmu. Coba pikirkan baik-baik setelah pikiranmu sudah lurus, kami tidak akan pernah mengambil keputusan tanpa melibatkanmu Dek.. kamu pernah bilang gini ke Kakak, Amar adalah keseimbangan kamu.. dalam hidup ini kamu gak butuh yang sempurna… tapi buat apa jika mudah jatuh ketika kamu bersadar padanya. Kamu menemukan keseimbangan dalam diri Amar. Bukan kesempurnaan yang kamu cari, tapi keseimbangan. dan Amar buat kamu merasa seimbang.”

    Sabina tidak menjawab. Ia tidak pernah merasa mengucapkan kata-kata semacam itu. Kakaknya yang berhijab lebar dan jalannya macho ini juga bukan tipe orang yang romantis dan suka membaca novel sastra. Jikalau mulai sok romantis begini pastilah diracuni Sabina. Meski tak pernah menulis buku sendiri Sabina adakah editor yang memastikan tak melewatkan satu bab pun dalam novel yang ditanganinya.
     “Kakak tinggal di meja ya? Kakak keluar dulu..”
Makki meninggalkannya sendirian lagi. Tak mau memaksa adiknya bicara.
 Ragu-ragu Sabina menghidupkan ponselnya. Ia tidak tahu siapa Amar, yang ia tahu ia kecelakaan menghindari bus yang rem blong dan membanting stir dengan reflek ke sembarangan arah, malah tertabrak mobil lain dari arah berbeda dan terguling melewati rel kereta yang dalam hitungan detik lokomotifnya berjalan konstan nyaris menyambar mobilnya. Hanya itu yang ia ingat, ia tak ingat sama sekali bahwa alasannya mengemudi dengan pikiran kosong adalah Amar. Apakah Makki sudah pandai menulis cerita sekarang? Mengarang-ngarang yang tak pernah ada.
     Sabina membuka ponselnya, ia pelajari semuanya. Akankah ada Amar di sana?
Aku hanya mendengus melihat Sabina berulang kali tercekat sendiri dan mengernyitkan dahinya.
  “Sebenarnya apa yang Sabina dulu rasakan pada Amar sampai ini semua bisa terjadi?” Tanya Sabina pada dirinya sendiri. Aku tersenyum tipis mendengarnya.
   Kamu tidak boleh menyembunyikan Amar dalam kotak kenangan di otakmu Sab, berusahalah untuk mengingat… demi aku. Percayalah, kamu butuh Amar dan sebaliknya.

.

.

.

🔜Tbc part selanjutnya… ➡➡➡

Magenta Lilac – click here 🔜Part 2