[K-Movie] Daddy You, Daughter Me – Part 3

Do Yeon merekam pembicaraan tidak senonohnya Gwon Sajang tadi. Semuanya terkejut dengan itu. Do Yeon mengunggahnya ke SNS, Do Yeon mengatakan harusnya tidak ada masalah apapun karena Gwon Sajang tadi bilang ia hanya melakukan salah satu bentuk komunikasi. Bukanlah bentuk pelecehan seksual, semuanya mohon di-like ya! Gwon Sajang juga..

Do Yeon pulang naik bus. Ia heran barus beraktivitas sedikit kenapa sudah lelah sekali?. Do Yeon melihat seorang ayah yang disambut anak dan istrinya di halte bus, terlihat bahagia sekali.

Lalu bus kembali melaju, Do Yeon memperhatikan tas ayahnya yang sudah begitu lusuh dan wajahnya mulai banyak keriputnya, Do Yeon menyadari ayahnya sudah menua.

Sang Tae bertanya pada Do Yeon kenapa pulangnya telat sekali?. Do Yeon mengatakan ada makan malam bersama. Keduanya lalu saling mengecek ponsel masing-masing.

Do Yeon terkejut melihat pesan Jin Young soal audisinya hari ini keren sekali dan membuat kagum Ji Oh Sunbae. Sang Tae sendiri juga terkejut melihat sebenarnya tarian apa yang Do Yeon lakukan tadi saat makan bersama?. Namun keduanya saling puji dan berterima kasih, demi kelangsungan hidup masing-masing.. jangan bertengkar, akur-akurlah.. *kkkk

Sang Tae menariki rok Do Yeon yang kelewat pendek. Ia lalu ke toko pakaian membeli celana. Siswa lain memperhatikan Do Yeon dengan aneh, Ji Oh juga melihat kelakuan anehnya Do Yeon. Makin tertariklah dia pada Do Yeon *hahahaha

Do Yeon sendiri masuk ke kantor dengan membawa barang-barang belanjaan. Saat masuk dan berputar belanjaannya menghantam kepala Jo Daeri. Jo Daeri memperingatkan Kwajangnimnya kalau hari ini masuknya terlambat. Dia ini pimpinan, seharusnya tidak begini.

Do Yeon dimarahi atasannya karena melakukan tindakan ancaman pada Gwon Sajang. Do Yeon mengatakan ia tidak mau berhubungan dengan psikopat begitu. Atasannya ingin Sang Tae menghapus videonya dan meminta maaf pada Gwon Sajang. Inilah kenapa Sang tae tidak segera naik jabatannya.. ia selalu bertindak lurus begini.

Sang Tae mengkhawatirkan keadaan kantornya. Kyung Mi menyuruh Do Yeon untuk setidaknya berpura-puralah belajar, besok akan diadakan simulasi ujian. Guru datang mengajarkan matematika. Sang Tae melihat ke sekeliling, anak-anak lain kebanyakan tidak memperhatikan guru dan bermain. Sang Tae pikir ia harus mengajak Kyung Mi belajar di rumahnya agar nilainya Do Yeon bagus.

Sang Tae menuliskan pesan dan menggesernya ke Kyung Mi, ia juga memberikannya uang namun Kyung Mi menggesernya lagi. Sang Tae mengangkat jarinya meminta Kyung Mi bermurah hati.

Guru mendekati Sang Tae dan melakukan hal yang sama, mengacungkan jarinya dan memohon Sang Tae untuk belajarnya sekali walau ini sekali dalam seumur hidup. Memukul bahu Do Yeon dengan kesal.

Sang Tae kesal. Kyung Mi mengatakan permintaannya “Doenjang jiggae plus gyeran mari.” Sang Tae setuju.

Na Daeri mengajak Do Yeon ke sebuah tempat untuk membalas budinya kemarin, mereka minum jus. Do Yeon iri melihat kuku Na Daeri yang dicat cantik. Na Daeri bilang ia melakukannya sendiri dengan referensi di internet.

Kyung Mi, Jin Young, dan Sang Tae sebelum belajar makan bersama terlebih dahulu. Jin Young bukannya belajar malah mengelabang rambut Do Yeon dan menceritakan gaya berpacarannya, pacarnya yang agresif dan nyosor-nyosor di tempat umum padahal sudah sepakat pergi ke motel.

Sang Tae dalam hati berusaha keras untuk tidak mau ikut campur dan terus belajar. Jin Young mulai bosan, ia izin mau membuka branya. Sang Tae menahannya, jangan! Pokoknya jangan!

Jin Young merasa ada yang aneh dengan Do Yeon, apa salah minum obat?.

Jin Young menerima pesan dari ayahnya. Ia kesal dimonitoring ayahnya dan selalu mengeceknya. Sang Tae menasehatinya dengan gaya kebapakan, memangnya apa salahnya? Sebagai orangtua mengkhawatirkan anak adalah hal yang sangat wajar. Betapa menakutnya kondisi masyarakat kita zaman sekarang ini.

“Heh, Won Do Yeon… menurutku kau yang sekarang terlihat lebih menakutkan. Kenapa kau ini?”

“Orang-tuaku mungkin tidak sadar jika aku tidak pulang.” Kata Kyung Mi

“Itu ‘kan karena selama ini kau selalu menunjukkan perilaku yang baik. Anak yang begitu rajin sepertimu, kalau itu aku sudah pasti aku juga tidak akan khawatir.” Bela Sang Tae

“Bukannya tidak khawatir. Lebih tepatnya tidak peduli. Dengan memperlihatkan betapa rajinnya aku, barulah mereka akan memperhatikanku. Bagaimanapun juga, aku juga anak perempuan.” Jelas Kyung Mi yang sebenarnya.

Membuat Sang Tae merasa iba.

-DADDY YOU, DAUGHTER ME-

Ibu kesal karena ayah membeli barang-barang. Do Yeon beralasan ialah yang bekerja kenapa tidak boleh menggunakannya?.

Sang Tae dan yang lain turun. Do Yeon langsung melambai-lambaikan tangannya semangat pada ayahnya. *wkwkwk. Sang Tae malas melihatnya, Jin Young membalas lambaiannya. Anak-anak naik lagi ke atas.

Sang Tae menarik anaknya ke kamar. Kenapa belajar begitu banyak. Do Yeon sendiri protes kenapa ayahnya mengajak teman-teman ke rumah?

Sang Tae mengatakan ini demi belajar, besok ada simulasi tes. Mereka akan belajar sampai begadang. Do Yeon mempertanyakan apa faedahnya? Memangnya ada bedenya jika belajar sampai begadang?

Sang Tae mengatakan tentu saja ada bedanya, dulu ia semasa sekolah memiliki prestasi yang lumayan. Menurutnya belajar adalah hal yang termudah, dan mulai mengocehi Do yeon yang harusnya belajar dengan benar karena ayah sudah bekerja dengan keras.

Do Yeon muak mendengarnya, baiklah.. buktikan saja.

Sang Tae sudah percaya diri di awal. Ia tidak mengerti sama sekali, ia celingak-celinguk. Sang Tae makin frustasi di maple selanjutnya. Di soal listening tentang perkawinan anjing, Sang Tae asal menjawab “Tergantung mood anjing itu” *hhhhhhhhhhh

Do Yeon di kantor, kangen sekali pada Ji Oh sunbae *hhhhhh. Jo Daeri mengajaknya naik ke atap gedung.

Jo Daeri menunggu dengan kerennya seperti hendak bertarung/berduel, Do Yeon panik bertanya “Ada apa? Ada apa? MAU APA?” *HHHHH

“Aku juga punya banyak yang ingin kukatakan. Selama ini kutahan-tahan terus. Katakan!”

“Kemarin, kau dan Na Daeri melakukan apa dan di mana?”

“Curhat”

“Biasanya, Na Daeri selalu menjelek-jelekkan Gwajang-nim di belakang. Tapi belakangan ini sepertinya pandangannya terhadap Gwajang-nim jadi berubah drastis.”

“Kenapa? Na Daeri menjelek-jelekkanku?”

“Tidak hanya menjelek-jelekkanmu. Bahkan meludah di dalam cangkir kopi yang kau minum setiap pagi.” ( That’s fact!, kalau atasannya ngeselin semua orang akan selalu melakukan itu XD, sesabar apapun saya.. saya juga pernah ada pemikiran semacam ini pada orang-orang rese *HHHHHHH)

Do Yeon langsung merenggangkan rahangnya merasa risih.

“Gwajang-nim… Kenapa bisa hubunganmu dengan Na Daeri belakangan ini jadi sangat dekat? Tolong beritahukan rahasianya padaku.”

Jo Daeri sampai membungkuk minta resep tokcernya apa?!.

“Gara-gara Na Daeri aku hampir jadi gila. Cium bau Na Daeri saja…. maksudku… Mencium bau parfum Na Daeri saja jantungku serasa berpacu dengan cepat. Harus bagaimana ini? Sampai buku teknik berpacaran pun sudah kubaca berkali-kali. Kau bukannya tidak tahu aku. Selama tahu masalahnya di mana, aku pasti bisa menemukan solusinya.”

Do Yeon lalu mengajarinya cara pedekate yang baik dan benar versi Do Yeon. Ia mengecek ponselnya Jo Daeri. Mencemoohnya kenapa yang dibahas selalu cuaca melulu? Memangnya Jo Daeri ini tukang ramal cuaca atau apa?

Jo Daeri bilang ia bahkan menghabiskan 30 menit untuk menulis itu. *hhhh!.

“Saat angin bertiup kencang, emosi yang mengambang membuatku teringat akan Na Daeri. Apaan ini? Om Om banget!” (*HHHHHHHHHHHHH!, hey Do Yeon… bukannya Jo Daeri udah om-om?)

Jo Daeri putus asa, ia minta sarannya Kwajangnim. Do Yeon lalu mengetik cepat sekali, Jo Daeri kagum bagaimana bisa?. Do Yeon beralasan ia diajari oleh anaknya.

Do Yeon mengirimkan pesan beruntun dengan banyak emotikon pada Na Daeri. (HHHHHHH, ini mah gaya pedekatenya anak baru masuk SMP, untuk seusianya Na Daeri ini akan sangat menjijikkan, risih XD kami butuh kartu kredit dan makan malam bersama dengan obrolan hangat ^_^ )

Bukannya senang, tentu membuat Na Daeri bingung.

Sang Tae melihat pesan di ponselnya Do Yeon. Ji Oh mengiriminya pesan

[Ketemuan besok jam 5 ya? Aku mau pergi denganmu ke suatu tempat. — Ji Oh Seonbae.]

“Apa-apaan kunyuk satu ini? Bagaimana kalau kuhapus saja ini?”

Do Yeon pulang. Do Yeon bertanya tentang ujiannya apakah berjalan dengan lancar, Sang Tae bilang lancar. Do Yeon bilang lagipula nanti akan ketahuan setelah raportnya keluar.

Mereka lalu bertukar ponsel. Jo Daeri mengucapkan terima kasih atas bantuannya Do Yeon.

[Joo Daeri – Hari ini sungguh terima kasih padamu, Gwajang-nim.  Gwajang-nim paling topcer deh! ]

“Apa yang kau lakukan hari ini sampai si pelit satu ini bisa bilang kau paling topcer?”

“Ah, Joo Daeri Ajussi ya? Aku bantu dia melewati kendala percintaannya yang paling rumit.”

Do Yeon melihat pesan di ponselnya, kegirangan karena Ji Oh mengajaknya kencan 5 sore besok. Do Yeon lalu ngacir pergi. Ayahnya kesal, harusnya tadi ia hapus saja pesannya.

Sang Tae menolak, itu kencannya Do Yeon kenapa harus ia yang datang?. Do Yeon bilang daripada menyebutnya kencan.. lebih baik samakan dengan menghadiri aktivitas club di sepulang sekolah. Sang Tae mengatakan ia tidak suka dengan orang yang namanya Ji Oh itu. Do Yeon rasa tidak peduli apa ayahnya suka atau tidak, Ji Oh sunbae itu.. adalah takdirku..

“Buset! Hei, Won Do Yeon kau tuh sudah hilang kewarasanmu.” Ayahnya menyela Do Yeon,

“Buset? Appa, kau kira kau itu murid SMA sungguhan?” Karena gaya bicara ayahnya sudah gaul.

Di kantor Jo Daeri masih nyampah emotikon ke ponselnya Na Daeri. Na Daeri tersenyum membalasnya, (Senyuman terselubung XD)

Jo Daeri salah paham, ia mengirimkan hati (ibu jari dan telunjuk yang dikuncupkan) pada Na Daeri. Na Daeri membalasnya sama lalu Jo Daeri makin bertingkah aneh dengan membentuk hati dengan kertas. Na Daeri membalasnya sama lalu berubah menjadi jari tengah.

“Joo Daeri-nim, jangan bercanda lagi.”

Na Daeri meninggalkan kursinya dengan kesal.

Lanjut Part 4 seterusnya. Ciao!

[K-Movie] Daddy You, Daughter Me – Part 2

[ Do Yeon, kau akan ikut audisi ‘kan? Senin jam 4 sore di ruang latihan. Harus datang ya? — Ji Oh Seonbae. ]

Do Yeon senang sekali Ji Oh mengiriminya pesan. Ibunya Do Yeon masuk ke kamar, mematikan lampu dan mengeluh pusing karena ia tadi kebanyakan minum. Do Yeon menanyakan kenapa tadi tidak minum obat flu saja?. Ibunya balas, minum obat flu apaan?. Kemudian tangan ibunya mulai menggerayangi Do Yeon.

Do Yeon mulai panik, hal seperti itu tidak boleh terjadi. Sebelum terjadi yang tidak-tidak ibunya Do Yeon sudah tertidur duluan.

Dalam hati Do Yeon berdo’a pada Tuhan, kelak jika ia sudah normal kembali ia berjanji akan hidup dengan benar seumur hidupnya. Aku tidak akan berbohong mengatakan aku butuh uang untuk beli buku latihan tapi kupakai buat beli kosmetik. Aku juga tidak akan bersikap judes dan nyinyir terhadap teman-temanku. Jadi kumohon kembalikan ragaku padaku.

Do Yeon berselanjar di dunia maya mencari dengan kata kunci “Cara menukar kembali raga yang tertukar.”

Sang Tae juga banyak membaca buku, diantaranya.. Getaran gelombang otak, Cerita jasmani, Pengamat ilmu otak.

Do Yeon tidak mengerti, ia harus masuk sekolah dan jika ini berlangsung seumur hidup ia akan menyalahkan ayahnya. Ayahnya yakin pasti ada solusinya, dan kenapa tiap ada masalah ayah yang harus bertanggung-jawab?.

Sang Tae heran apakah ini karena makanan di rumah ayah mertuanya?. Do Yeon pikir juga ada kaitannya dengan pohon Ginkgo yang diceritakan kakeknya. Mereka lalu menghubungi kakek Do Yeon.

Sambil main kartu kakek Do Yeon mengatakan 7 hari dari permintaan dikabulkan semuanya akan kembali normal, mereka tidak boleh bertengkar selama pindah raga.. seumur hidup akan kelelahan. Sang Tae menyarankan mereka memerankan peran masing-masing, tidak boleh sampai dipecat dan dikeluarkan dari sekolah dan menyusahkan ibu.

Do Yeon mengeluh nanti audisinya bagaimana? Sang Tae juga mengeluh Hari Jum’at masih harus ke Shangpree lagi.

Pagi harinya Do Yeon dan Sang Tae minum minuman mereka yang biasanya. Ibu memprotes mereka kenapa minum minumannya kebalik?. Alhasil mau tidak mau mereka harus tukaran, Do Yeon dan Sang Tae sama-sama eneg dengan minuman masing-masing.

Sang Tae menaiki tangga dengan asal, karena biasanya Do Yeon akan menurunkan tasnya untuk menutupi rok belakangnya saat naik tangga. Do Yeon menutupi bagian belakang Sang Tae yang di tubuh Do Yeon. Do Yeon memarahi ayahnya karena celana dalamnya bisa kelihatan.

Sang Tae menyalahkan Do Yeon, lantas mengapa keluar rumah dengan rok sependek ini kalau takut diintip?. Do Yeon balas, Appa suka jika putrimu kakinya terlihat pendek?.

“Celana dalammu sampai kelihatan. Apa-apaan ini? Dasar anak-anak zaman sekarang.”

“Appa, nanti kalau bicara sama anak-anak kosa katanya yang pendek dan terpisah. Kalau ingin menegaskan sesuatu, depannya tambahkan kata “super” atau “luar biasa”.Super keren, luar biasa smembosankan,super imut. Oke?” Jelas Do Yeon

“Harus bicara yang jujur dan yang positif. Anak-anak zaman sekarang kalau ngomong suka pakai singkatan. Menghancurkan bahasa adalah sebuah permasalahan yang serius.

(Permasalahan di negara manapun, anak-anak mudanya suka buat kosakata baru. Apa-apaan dengan tercyduk, terkejeot, alay, ababil.. dan semuanya itu menambah kazanah bahasa tiap generasinya >_<, )

“Mau gila rasanya. Appa kalau seperti ini bisa dikucilkan. Dan pada saat tidak ngerti pembicaraan anak-anak, amati dan pelajari ekspresi orang lain. Kalau ketawa ikut ketawa. Kalau marah ikut marah. Ngerti, ‘kan? Oh ya, Appa… Tahu teman akrabku si Jin Yeong, ‘kan? Jika dia menyuruhmu ikut audisi hari ini. Jangan ke sana! Jangan! Mengerti?”

“Kau juga, nanti setelah tiba di kantor tidak boleh berperilaku sesuai dengan keinginanmu. Sebelum bicara, dipikir dulu. Atau sebaiknya jangan. Jangan bicara sama sekali.”

“Mingkem saja?”

“Mingkem? Jangan menggunakan kata-kata aneh seperti ini. Jika ditanya oleh staf, bilang saja “lumayan bagus.” Jika ditanya atasan, bilang “Baik, aku akan berusaha semampuku.” Ingat ya! Ada satu lagi hal yang penting. Di kantor jangan sekali-kali kau bilang “aku akan bertanggung-jawab.” Cukup bilang “aku akan berusaha sebaik mungkin”, mengerti?

Sang Tae mangajak Do Yeon tukaran hape. Do Yeon tidak mau. Sang Tae menjelaskan agar tidak ada yang mencurigai mereka. Di kantor nanti Sang Tae akan dianggap psikopat karena berubah drastis begini seleranya. Dengan berat hati Do Yeon memberikannya, ia tidak mau ayahnya membaca pesan-pesannya, setelah 10 detik akan ketahuan. Ayah juga tidak boleh kirim pesan aneh-aneh pada Ji Oh Sunbae.

Ayahnya mengalah mengiyakan saja. Ia pergi dan bergumam “Dasar, anak perempuan tidak berguna.”

     Setibanya di gerbang sekolahnya Do Yeon, Sang Tae pikir ia kan pernah menjalani masa SMA, jadi menjadi Do Yeon sebentar harusnya tidak masalah sama sekali. Semangat!

Di kantor Do Yeon salah mengira ayahnya adalah orang yang punya jabatan tinggi dan disegani banyak orang. Ternyata di belakangnya Do Yeon ada atasannya, jadinya para karyawan mengangguk menyapanya.

Sang Tae masuk ke kelas, isinya hanya murid perempuan sebaya semuanya. Sang Tae memilih duduk di dekatnya Ahn Kyung Mi, kelihatannya dia seperti juara kelas. Sang Tae menyapa Kyung Mi namun tidak ditanggapi. Jin Young mendekati Sang Tae, heran kenapa Do Yeon duduk di sini, apa mau belajar? Menakutkan sekali menurut Jin Young.

Jin Young naik ke meja, membuat Kyung Mi geram. Jin Young membisiki Sang Tae bahwa ia akhir pekan ini mau ke B&B (Bed & Breakfast) dengan pacarnya.. namun ia bilang ke ibunya ia akan ke sana bersama Do Yeon. Jin Young minta bantuannya nanti kalau ibunya menelepon jawab saja ia memang pergi dengan Do Yeon.

Nanti kalau Do Yeon dan Ji Oh Sunbae jadian.. Jin Young akan membalas budi dengan melakukan hal yang sama jika mereka ingin jalan-jalan berdua. Sang Tae kesal, beranjak dari duduknya berteriak pada Jin Young. Jin Young tidak jadi minta bantuannya,

Dalam hati Sang Tae kesal sekali, jadi orang yang Do Yeon taksir namanya Ji Oh.. jadi penasaran seperti apa tampang kunyuk satu ini.

Do Yeon masuk ke Tim Inventoris Shangpree, menurut Do Yeon aneh sekali suasananya. Seperti di gudang. Do Yeon melihat ponsel ayahnya. Jo Jang Won salah satu bawahan ayahnya mendekat, membuat Do Yeon terkejut.

“Curiga kami bermalas-malasan jadi kami dimonitor? Jadi orang tidak boleh begitu. Jujur saja, kerjaan biasanya juga aku yang kerjakan semuanya. Benar ‘kan?”

Do Yeon kebingungan. Jo Daeri duduk di kursinya ingin melihat laporan keuangan Choi Hee Jin. Choi Hee Jin bilang belum selesai baru ia kerjakan. Jo Daeri jadi linglung mau mengerjakan apa.

Do Yeon membaca notes ayahnya. [ Jo Jang Won adalah: Daeri – asisten manajer. peraih bea-siswa. Walaupun selalu sial tapi sangat bertanggung-jawab.]

Sial seperti sekarang, ia tidak ada kerjaan dan memainkan tetikus di mejanya dengan kesal *hhhh.

Do Yeon memperhatikan semua orang yang ada di sana. Ia takjub dengan bodi-nya Na Yoon Mi yang aduhai seksi seperi Joon Ji Hyun, [ Asst. Mgr. Na Yoon Mi, Tangguh dan ramah. Dan juga tampangnya mirip Jeon Ji Hyeon ]

Tampaknya Appa lupa menuliskan tampangnya mirip Jun Ji Hyun dibelah 90 kali *hahahaha.

Saat Na Yoon Mi berbalik, Do Yeon sampai kaget karena diluar harapannya.

Waktunya makan siang, semua orang keluar dan lampu dimatikan. Do Yeon masih tinggal di kantor, merasa dikucilkan.

**DADDY ME, DAUGHTER YOU**

Saatnya audisi, kebanyakan siswi kemari karena ngefans dengan Ji Oh Sunbae (which gw pas jaman SMA gak suka cowok yang kebanyakan ditaksir orang beginian, banyak fansnya, secara langsung maupun enggak mereka pasti ada perasaan congkak, iyaaa kan Ji Oh Sunbaenim??? )

Jin Young menggodai Sang Tae apa tidak grogi? Biasanya Do Yeon suka mencuri pandang pada Ji Oh Sunbae dan sekarang harus bernyanyi di hadapannya. Sang Tae kaget, Do Yeon begitu?

Dalam hati Sang Tae percaya diri. Aku ini jebolan kumpulan penyanyi Jeongyong Taejosan, kampret.

Sang Tae bernyanyi dengan memainkan gitar. Ji Oh sudah terpukau sejak tadi, setelah selesai Do Yeon dipuji pintar menyanyi rupanya dan lagu ini Ji Oh juga suka sekali.

Setelah sendirian di kelas, Sang Tae memikirkan komentarnya Ji Oh tadi. Pintar juga si Ji Oh tahu musik jenis ini.

Timnya Sang Tae rapat. Do Yeon tidak terlalu memperhatikan, Jo Daeri mengingatkannya untuk konsentrasi, meski tim ini dipimpin Won Kwajang.. namun kalau bukan karena kerja kerasnya Jo Daeri mereka tidak akan bisa bertahan di gudang ini.

 Model yang dipilih menurut Do Yeon tidak cocok. Jo Daeri mengatakan model ini Won Kwajang pilih karena punya hubungan baik dengan Ketua. Do Yeon terhenyak. Na Yoon Mi bilang ia sebenarnya juga tidak setuju.

Namun Do Yeon mengatakan lanjutkan ide awal saja.

Do Yeon tidak  bisa minum. Gwon Sajang jadi kesal dan menyuruhnya menyanyi. Jo Daeri mengingatkan jangan merusak suasana. Gwon Sajang janji nanti kalau nilai karaokenya 95 ia akan menandatangani kontrak kerjasama. Do Yeon percaya diri, ia rasa ini mudah.

Do Yeon di tubuh ayahnya menyanyikan lagunya Sistar yang jogetnya seksinya gak ketulungan itu lho.. yang dancenya main kaki kaki, agak lupa judulnya.. lagu jadul sih. Tapi jadi menjijikkan kalau ditarikan pria XD. Nilainya 97, Gwon Sajang diminta membubuhkan tanda tangan. Diberi hati minta empela, begitulah istilahnya.. Gwon Sajang minta Na Daeri duduk didekatnya dan menuangkan minumannya sebelum memberikan tanda tangan kesepakatan kerja.

Ia memuji bodi Na Daeri yang aduhai. Na Daeri mulai tidak nyaman (Memuji seksi dan cantik sesama wanita gak akan jadi masalah karena maksudnya memang enak dilihat mata dan kami menghargainya secara tulus, tapi kejadiannya akan jadi pelecehan secara verbal kalau yang ngomong laki-laki, karena kita tahu pikirannya sudah kemana dulu.. dikalangan mereka juga seringkali menjadikan konteks seksual sebagai bahan candaan vulgar, menjijikan men! -_- apa tidak ada obrolan yang lebih sopan dan cerdas?)

“Perempuan zaman sekarang terlalu arogan. Aku bercanda, dia tersinggung. Katanya itu  pelecehan seksual atau entah apalah itu. Sampai aku jadi takut dan tidak berani bicara. Dasar! Aku bernah bicara dengan karyawanku. Dadamu begitu bombastis, bahumu tidak terasa pegal? Gara-gara begini jadi gaduh! Gaduh! Anu, aku sebagai atasan bertanya jika bahunya tidak pegal karena benar-benar khawatir.”

Na Daeri terus menggeser duduknya, Gwon Sajang juga terus menggeser duduknya.

“Jika begitu saja sampai gaduh, aku harus bicara bagaimana? Ya ‘kan? Ya ‘kan?”

 Na Daeri mengiyakannya dengan enggan. Ia bertanya ke Na Daeri apa bahunya Na Daeri tidak apa-apa?. Na Daeri menatap Gwon Sajang dengan amarah. Gwon Sajang tiba-tiba tertawa dan memukul-mukul lutut Na Daeri. Jo Daeri menyingkirkannya, ia rasa Gwon Sajang sudah kebanyakan minum.