​[C-Movie] 20 Once Again – Part 5

“Benar. Kita berhenti saja. Lagipula kesempatan ini hanyalah hadiah pemberian Tuan Tan. Bukanlah masalah besar. Jika kita tidak bersaing, maka tidak akan kalah. Jika kita tidak kalah maka kita takkan melukai kebanggan kita.”

Lijun marah. Ia ambili barang-barangnya dan hendak pergi. Ia telah banyak melihat anak-anak seperti mereka.. tidak berharga.

Qianjin menahannya “Tunggu! Aku tidak ingin menyesal. Mari kita mencoba lagi.”

Lijun tersenyum. Sebenarnya ia mengatakan kata-kata jahat tadi hanya untuk menggertak anak-anak, supaya mereka bangkit dan lebih bersemangat lagi. 

Lijun meminta maaf terlebih dahulu atas perubahan jadwal. Tan Ziming sudah terlihat tak banyak berharap pada band “Maju”. Ia melepaskan jasnya lalu dia berikan ke Cindy. Cindy menyesalkan keputusan bosnya, mereka seharusnya tak banyak membuat pengecualian bagi band tersebut.

Lijun mengatakan ia akan menyanyikan sebuah lagu, lagu kesayangannya yang memberikannya kekuatan untuk berdiri di panggung. 

Lijun menyanyikannya sepenuh hati. Nyanyiannya menggetarkan hati siapapun yang mendengarkan saat itu.

Terkenanglah masa mudanya, memori yang sulit ia lupakan. Dimana ia menjalani kehidupan demi Guobin anaknya. Tak pernah benar ia nikmati untuk dirinya sendiri. Ia membiarkan waktu berlalu begitu saja.

Hamil muda, ia harus ditinggalkan suaminya pergi bekerja jauh. Meski sulit ia berusaha tegar.

Ia bekerja keras pula selama mengandung. Bahkan beristirahat sebentar saja pun disela-sela pekerjaan sudah lebih dari cukup.

Guobin lahir dan tumbuh, seseorang datang membawakan surat dan bawaan suaminya. Betapa tak kuasanya ia menahan isakan tangisnya.. mengetahui kenyataan bahwa suaminya telah pergi untuk selamanya.

Ia merawat Guobin seorang diri, melakoni pekerjaan apa saja demi kelangsungan hidup mereka. 

Guobin sekeluarga juga menonton acara tv-nya. 

Li Dahai sudah bercucuran air mata sejak tadi. 

Li Dahai mengomentari rok Lijun terlalu pendek. Lijun rasa ketika ia muda juga sering berpenampilan begini. Li Dahai bilang tak pernah mengizinkan Mengjun memakai pakaian seperti itu.

Seorang pria menggoda Lijun, berbasa-basi mengajaknya menari. Li Dahai mendorong dan memarahinya, Lijun itu berasal dari generasi nenekmu!

Tan Ziming dan yang lain datang. Tan Ziming mengatakan ia baru saja dapat penawaran bagus, band mereka akan naik pentas di Festival musik besar. 

Cindy muak mendengarnya, tawaran apanya? Ialah yang berusaha melakukan ini itu agar band mereka bisa tampil.

Mereka kemudian bersulang. Si drummer mengajak semuanya melantai. Lijun bingung, dua pria menawarkan tangan mereka untuk mengajak berdansa.

Lijun pun meletakkan tangan Qianjin ke tangan Tuan Tan, ia akan di sini saja menemani Kakek Li.

Kakek Li merasa tidak enak membuat Lijun harus diam di sini dengannya. Ia mengajaknya menari saja dengan yang lain. Lijun mengejeknya, bahkan suara musiknya jauh lebih cepat ketimbang detak jantung Li Dahai.

Kemudian mereka melantai. Kakek Li menari dengan semangat, namun tanpa sengaja lengannya mengenai wajah pria yang menggoda Lijun sebelumnya. 

Pria itu sengaja menjatuhkan  botol minumannya, menfitnah Kakek Li adalah orangtua cabul.

Ketika yang lain hendak tak menghiraukan pria aneh tersebut, Lijun justru memarahinya.

Apa pernah pria itu bertugas di militer? Pernah mengemudikan tank? Aku pikir kau bahkan tak bisa memegang senjata. 

Lijun sebutkan jabatan Kakek Li dulu di militer. 

Menjatuhkan botol dan memulai perkelahian. Jika kau memang sehebat itu mengapa tak melayani negara saja?!

Tan Mizing dan yang lain bertepuk tangan setelah sekelompok anak muda tersebut gagal menjawab dan kalah.

Tan Mizing melihat kaki Lijun tergores oleh pecahan botol. Ia menyuruh Cindy membawakan plester. Namun Lijun pikir ini bukan masalah, pamit pergi dengan Kakek Li.

Di rumah mereka coba obati sendiri. Li Dahai mengambil jarum yang besar sekali dan diumpati Nenek Shen. Lijun ambilkan jarum yang sedikit kecilan. 

Kakek Li menusukkannya, karena kaget akhirnya Lijun malah menendang hidung Li Dahai. 

Anehnya setelah diobati kulit di bagian yang terluka tadi jadi keriput. Li Dahai pikir ada jalan untuk membuat Mengjun seperti semula. Sayangnya Li Dahai rasa Mengjun tidak menginginkan dirinya kembali menjadi nenek-nenek untuk sekarang.

Anaknya Li Dahai mendatangi kamar tersebut. Tengah malam begini ada apa ribut-ribut?. Ia terkejut sekali melihat ayahnya satu kamar dengan si penyewa. Syok.. membuatnya berpikiran yang macam-macam. (Dokter-dokteran? Hahahaha.. 😂)

Lijun langsung diusir saat itu juga. Meski Kakek Li sudah berusaha untuk menahannya jangan pergi.

Lijun tidak ada tempat tujuan lain. Kembali ke rumahnya sendiri tentu tidak mungkin. Kebetulan Tan Ziming menghubunginya, memastikan apakah Lijun pulang dengan aman.

Lijun lalu menginap di kediaman Tan Ziming, ia beralasan kelupaan kunci kamarnya. Lagipula kerabat pemilik rumah menginap malam ini.

Lijun menyiapkan tempat tidurnya di sofa. Tuan Tan lalu berbaring di sana, meminta Lijun tidur di kamarnya saja.

Lijun tak bisa langsung tidur. Ia turun lagi untuk mematikan lampu, hemat listrik. Tuan Tan justru terlonjak kaget lampu dimatikan. Lijun menduga Tuan Tan takut gelap. Tuan Tan tak mengakuinya, ia sok mematikan lampunya dan pura-pura tidur.

Lijun kembali naik. Setelah merasa aman, Tuan Tan hendak menghidupkan lampu kembali. Lijun memergokinya hendak menghidupkan lampu lagi.

Tan Ziming beralasan ia mau ke kamar mandi.

Lijun geli, ia lalu menggamitnya menuju sofa. Lijun bilang si “Kancing kecil” keluarga kami juga anak yang takut pada gelap. Menyuruhnya berbaring.

“Siapa itu kancing kecil?”

“Seorang anak kerabat..”

 Ia menyelimutinya. Menutup mata Tan dengan telapak tangannya, menghitung sampai lima lalu buka matamu kembali. 

Maka terlintaslah wajah indah Lijun yang tersenyum tulus padanya, seolah-olah membuat ketakutannya akan gelap tak berarti lagi.
“Yang perlu kita lakukan hanyalah menyesuaikan diri dengan gelap.” Lijun yakin mulai sekarang Tuan Tan tak perlu takut pada gelap lagi.

“Tidurlah..” Lijun menepuk-nepuknya lalu pergi. 

Sepeninggalnya Lijun, ia masih terpana saja. Menghirup aroma selimut Lijun sambil tersenyum. Genap sudah ia jatuh cinta padanya. Melebihi sebelumnya.

Yangqin terbangun tengah malam. Ia mengira ibu mertuanya sudah pulang. Ternyata itu Xinran yang sedang menyiapkan makanan.

Xinran memintanya tidur kembali. Ibunya bilang sudah terlalu lama tidur.

“Xinran. Kau harus lebih baik pada calon ibu mertuamu.”

“Aku tahu. Baik pada ibu mertua.”

Li Dahai bersikeras bahwa Lijun adalah Mengjun. Guobin memberhentikan kelasnya, menyuruh beberapa mahasiswa yang hadir bisa pulang sekarang.

Li Dahai menunjukkan foto masa muda Shen Mengjun. Yang ada malah membuat Guobin mengiranya sakit alzheimer, ia akan mengenalkan Paman Li ke temannya.

Li Dahai geram disebut sakit. Ia ambil fotonya, masa’ anak sendiri tidak bisa mengenali ibunya?.

Barulah ia cek, rupanya foto Mengjun kelunturan air tepat di bagian wajahnya. 

Paket kiriman datang ke rumah Tan Ziming. Cindy datang juga meminta tanda tangan, ia terkejut melihat Lijun ada di rumah tersebut. Langsung ia tinggalkan berkasnya dengan kasar.

Tan Ziming tak suka dengan lagu yang Lijun nyanyikan. Ia menyuruh Cindy mencarikan komposer untuk band ini. Cindy tak menggubrisnya.

Qianjin tersinggung. Ia telah menulis banyak lagu, apa tidak ada yang memenuhi seleranya Tuan Tan? Setidaknya berikan umpan balik. 

Tan Ziming tegas mengatakan semua lagunya Qianjin sama saja, terkesan salinan dari lagu lain. 

Qianjin naik pitam, ia pikir yang Tuan Tan pentingkan hanyalah Lijun disini. Qianjin dan Cindy keluar ruangan. Sama-sama tak betah berada di ruangan yang sama dengan Tan Ziming ataupun Lijun.

K O M E N T A R:

   Saya tidak sepenuhnya memihak posisi mertua atau menantu disini sih. Meski iya.. saya sudah lama ketakutan dengan image “Mertua itu galak”..  Hahaha, terdoktrin dari cerita para mamah muda yang telah berumahtangga. Kalau di part 1 saya seperti memihak sekali pada menantu.. ya memang~ ‘kan ada alasannya, buktinya juga banyak. 

Saya cuma berpikir, kalau punya suami nanti maka akan menganggap ibu mertua sebagai ibu sendiri. Titik, tidak bisa diganggu gugat. Bukan karena cari muka/terpaksa, murni terpikirkan karena menikah bukan urusan perorangan.. sayangi juga keluarganya.

Karena saya seperti dipukul telak dengar cerita seseorang, datang padaku dengan tangisan.. betapa teganya para mantu membiarkan mertua sakit hanya dirawat pihak anak kandung yang perempuan. Saya terkadang geram dengan konsep “kandung2” karena apa? Ternyata sulit ‘ya.. menemukan orang yang berpikiran bahwa; kita itu di dunia ini semua serba titipan, baik yang kandung2 tadi atau apapun siapapun itulah.. jadi kalau mau berdarma/berbaik-ria kenapa harus tanggung-tanggung?. Kenapa harus pilih kasih pada yang serba sedarah  baru ikhlas bantu? Mungkin beliau bukan melahirkanmu Teh.. tapi beliau yang melahirkan suamimu, didik, nyemangatin masa-masa sedihnya. Itu saja sudah sakral kedengerannya.

Inget aja deh, apapun yang kita lakukan entah plus/minus pasti balik lagi ke diri kita sendiri. Mungkin tidak balik langsung, tapi ‘ya pasti balik lagi ke kita diwaktu yang tak terduga.

   Jadi saya lebih ke lihatnya. Bukan Yangqin yang salah, bukan sepenuhnya Shen Mengjun yang salah juga disini. Mereka cukup saling terbuka enaknya gimana nih.. Nenek Shen ingin Yangqin ini itu, Yangqin berusaha.. kalau pun belum sesuai harapan? Coba lagi.. lagi, seatap ‘kan? Masa’ saling menggerutu dibelakang? Tidak enak didenger ayam 😅, karena hubungan keluarga bukanlah seperti “Ketawa karir” semua pasti beres. Ketika bos ngajakin kita ngobrol tapi pas kita lagi bad mood/dan ceritanya gak menarik sama sekali tapi dia ketawa sendiri.. kan ga enak kita natapin doang. Dengan “Ketawa karir” pasti beres. Setelahnya bisa melipir menjauh, ngaso cari minuman adem, kan hubungan keluarga tidak sesederhana itu.. hahahaha.

​[C-Movie] 20 Once Again – Part 4


   Lijun tidak percaya. Mana ada orang jahat mengaku?. Tan Ziming mengatakan ia bekerja di studio rekaman. Ketika Lijun hendak pergi ia mencoba menahannya justru membuat kancing paling atas kemeja Lijun lepas.


Lijun langsung pura-pura menangis. “Tolong! Pelecehan!”

Tan Ziming langsung dikerubungi banyak orang.

“Orang mesum di siang bolong! Tangkap dia!”

Lijun melenggang pergi dengan santai. Ia bahkan melambaikan tangannya pada Tan Ziming.


   Bel rumah berbunyi. Qianjin berlari menuruni tangga dengan antusias, ia bahkan merapikan rambutnya lagi di cermin.. baru ia bukakan pintunya. Xiang Xinran heran siapa sebenarnya tamu pentingnya Qianjin sampai sebegitunya cerianya?

Pintu dibukakan. Dia adalah Lijun, membawakan semangka untuk Qianjin.

“Bagaimana kau tahu aku suka semangka?” (Karena dia nenekmu.. hahahaha)


“Bu, temanku datang ke rumah..”

Yangqin langsung tersenyum menyapanya. Lijun langsung heran, bergumam menantunya tidak sakit. Sehat-sehat saja.

“Hah?” Menantunya bingung. 

“Tante. Maksudku kau terlihat bercahaya”

“Terimakasih. Siapa sangka Qianjin memiliki teman secantikmu”

Xinran sebal. Siapa dokter bedah plastikmu?. Qianjin langsung memberikan semangka ke Xinran. 

Qianjin meminta Lijun jangan memasukkannya ke dalam hati. Xinran begitu meniru neneknya, Yangqin juga membenarnya Xinran mirip neneknya.


Qianjin mengajak Lijun ke lantai dua, kamarnya Qianjin di lantai 3. Lijun beralasan ia agak haus dan minta dibawakan minuman.

Qianjin lalu turun mengambilkan. Sementara Qianjin pergi ia pun langsung mengambili barang-barang di kamarnya.


Qianjin datang tepat disaat neneknya sudah selesai mengambili barang-barangnya. Qianjin mengajak Lijun ke kamarnya.

“Tidak! Ke ruang tamu saja.”

Xinran mengomentari Qianjin. Seusianya mengajak seorang gadis ke kamar? Hahahaha. Xinran tertawa sendiri karenanya. 


“Jangan makan kebanyakan!” Ujar Lijun ketus. Qianjin juga ikut-ikutan

“Jangan makan kebanyakan!”

Keduanya turun. 


Ketika makan malam. Jelas sekali terlihat Lijun tidak menyukai semua masakan menantunyan, ia juga mencoba sup dan langsung melepehkannya. Yangqin mengamatinya sejak tadi, 

Lijun langsung berkomentar masakannya enak.

“Enak apanya? Beraktinglah lebih baik lagi!” Xinran kesal

“Xiang Xinran! Dimana sopan santunmu?” bentak Qianjin.


“Kau ingin berakting juga?” Xinran tak mau kalah. Yangqin menyikut puterinya untuk diam.

“Apa masalahnya? Apa tidak sesuai seleramu?” Tanya Yangqin. Lijun mengaduk-aduk supnya, persis ia katakan sebelumnya dalam wujud nenek Shen Mengjun. Kata neneknya Lijun.. Jenis ikan ini harus digoreng dulu sebelum disup, maka kuahnya akan jernih dan rasanya lebih meresap. 

“Iya. Benar..” kata Yangqin 

“Lihat Bu, Lijun sangat berpengetahuan.” Qianjin bangga.


Yang paling aneh adalah ketika Lijun menanyakan dimana ayah anak-anak? Jam segini belum pulang.

Xinran kesal, temannya Qianjin ini banyak mengeluh. Kalau terus berlanjut.. lama-lama Qianjin akan pulang membawa cucu.

Guobin pulang. Lijun antusias menyambutnya, lupa bahwa sekarang wujudnya adalah Mengjun muda. Keempatnya syok melihat reaksi Lijun. 

Lijun lalu beralasan menanyakan dimana kamar mandi. Qianjin menunjukkannya. 

“Siapa dia?” Tanya Guobin

“Vokalis baru band kami.”

Yangqin bertanya ada masalah apa?. Guobin bilang tidak ada. Yangqin menyuruhnya makan, sudah ia masakkan. Guobin hendak ganti baju dulu, ketika mencopoti sepatunya ia melihat foto keluarganya. Terlihat merindukan ibunya.

Sementara itu ibunya mengintip melihat Guobin. Juga merindukan anaknya.


   Kakek Li beserta Guobin ke kantor polisi. Dari cctv yang ada, mereka menyimpulkan kemungkinan penculikan, penculiknya pasti berpengalaman. Menutupi cctv dengan payung. Apa nenek shen memperlakukan orang lain dengan buruk? Bisa jadi penculiknya adalah orang terdekat. 

Guobin pikir ibunya memperlakukan semua orang dengan sangat baik.


Lijun berangkat audisi. Kakek Li sudah curiga dengan payung yang sering Lijun gunakan. Sementara Lijun pergi ia pun menggeledah kamar penyewanya itu.


Lijun dan bandnya tampil. Namun Lijun seketika kaget melihat Tan Ziming masuk ke ruangan. Ia segera berbalik, Qianji meski tak tahu apa maksudnya.. ikut-ikutan berbalik.

“Berhenti. Berhenti!”

Tan Ziming mendekati Lijun. Qianjin tak merasa asing.


Lijun meminta maaf atas kejadian sebelumnya. Kau tidak apa-apa ‘kan?

“Aku baik-baik saja.”

Qianjin tak menyangka keduanya sudah mengenal satu sama lain. Tan Ziming menjelaskan minggu depan ada festival musik, live house dan band mereka diajak tampil di pembukaan. Akan disiarkan langsung di tv serta web. 

“Aku bertanya apa kalian bersedia bergabung?”

“Tentu saja kami mau.”

Cindy kesal, ia sudah mengirimkan daftar bandnya. Tan Ziming tak mau tau, Cindy harus mengaturnya.


Setelah Cindy dan Tan Ziming pergi. Lijun menyarankan kontraknya dibaca terlebih dahulu sebelum ditandatangani. Qianjin pikir setelah ini mereka bisa merilis album baru.

Lijun girang, ia bertepuk tangan dan mencium pipi Qianjin sebagai nenek. 

Namun dimata ketiganya tentu itu bukan ciuman seorang nenek ke cucunya. (Hahahaha)

Si drummer menyodorkan pipinya ingin dicium juga. 


Lijun pulang. Lampunya mati, dibiarkan gelap gulita. Lijun heran mengapa sepatu bututnya ada di bawah.. rupanya Kakek Li sudah memegang stik golf untuk menyerang Lijun sejak tadi.


Lantas justru Kakek Li yang diikat oleh Lijun. Ia marahi. Kakek Li beranggapan Mengjun diculik oleh Lijun.

Lijun asal menyeletuk, ia bunuh Mengjun lalu buang ke sungai, jadi makanan ikan.

Lijun keluar. Kakek Li meraung-raung, ia tidak bisa hidup tanpa Mengjun. Bunuh saja dirinya sekalian! Ia ingin bersama Mengjun.


Lijun kembali lagi bertanya, memangnya apa bagusnya nenek nenek satu itu?.

Kakeki membelanya, Mengjun itu baik orangnya. Ketika muda ia sangat cantik dan manis, Li Dahai saat remaja sempat bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga Mengjun. Meski ia pelayan.. Mengjun tak pernah sekalipun merendahkannya. Mau sesulit apapun Li Dahai menjalani kehidupan, selama mengingati Mengjun ia mampu bertahan menjalaninya.

Jika saja bukan karena pendaftaran militer, Li Dahai yakin bisa bersama Mengjun.

Mengjun lalu duduk di sebelahnya. Jika memang Li Dahai sangat mencintainya, mengapa tidak bisa mengenali Lijun?. Kakek Li heran apa maksudnya. Lijun berusaha manis. Tapi Li Dahai lebih memilih dibunuh saja.

Lijun kesal. Lalu ia mencoba lagi, dia pegangi dua rambutnya seperti dikuncir. Barulah Li Dahai ingat.


Lijun jadi muda secara ajaib. Li Dahai jadi iri dibuatnya. Lijun bercerita kalau minggu depan tampil di tv, karena Qianjin terus memohon untuk ikut. Li Dahai pikir dengan keadaan Mengjun yang sekarang seharusnya tak perlu mengkhawatirkan Qianjin cucunya.

Lijun bilang sebenarnya ia bernyanyi bukan hanya demi Qianjin. Ini merupakan cita-cita masa mudanya dulu yang tak pernah kesampaian karena keadaan. Sekarang ia memanfaatkan ini demi dirinya juga.

Li Dahai pikir Lijun bisa saja seterkenal Teresa Teng dulu. Li Dahai menyentuh pipi Lijun dengan jarinya. Lijun kesal, jangan pegang-pegang! 

Foto Mengjun muda terkena air dan basah. 

“Orangnya ada di sini.. apa gunanya foto?”

Lijun menyuapinya kuaci. Li Dahai senang bukan main.


Nenek Chen terkejut melihat kemesraan keduanya dari jauh.


Li Dahai bingung bagaimana menjelaskan keberadaan Mengjun ke Guobin dan Yangqin. Guobin tidak sabar, ini mengenai ibunya.

“Ibumu itu seperti angin. Kadang-kadang disini, sebentar pergi.”

Sebelumnya Lijun sudah mendikte Li Dahai, Nenek Shen ingin merasakan gaya hidup yang berbeda. Di masa lalu ia menjalani kehidupan demi orang lain.


Mengjun berpesan agar Guobin menghilangkan pembekuan kartu kreditnya. Anaknya Kakek Li melihat Lijun sedang menguping, ia heran. 


Li Dahai permintaannya makin melunjak. Ia menyerahkan sesuatu ke Guobin, soal Guobin yang ingin mengirim ibunya ke panti jompo. Tak perlu, Li Dahai dan Shen Mengjun bisa hidup bersama secara sah dimata hukum. Di rumah ini

Lijun segera berlari mencegatinya. Anaknya Li Dahai juga sama. Guobin syok, kau ingin menikahi ibuku?.

Anaknya Li Dahai tidak terima, Mengjun apalagi. Ini keinginan sepihak, tidak boleh!.

Karena semuanya bertengkar, Lijun kalah ketika ditanya memangnya kau siapa ikut campur?

“Aku… penyewa.” Lijun pergi begitu saja.


Nenek Chen mengambilkan puding yang sudah diberi label ke anaknya Li Dahai. Nenek Chen rasa sudah memusingkan menghadapi Shen Mengjun, sekarang ditambahi Lijun. 

Ia pikir Lijun sengaja mendekati Li Dahai. Anaknya tak habis pikir, masuk akal dimananya ayahnya yang sudah tua itu dengan Lijun?. Nenek Chen pikir Lijun itu hendak mengambil rumahnya. Harganya pasti jutaan.


Pemilik pudingnya kesal, siapa yang memakan pudingnya?. Keduanya pura-pura tidak paham.


Lijun hendak pergi. Li Dahai menawarinya tumpangan. 

“Li Dahai. Kau sudah gila?! Berapa usiamu?”

“Untukmu” Lijun diberi bunga. Mereka lalu berkendara.


Anaknya syok berat melihat keduanya seperti hendak kencan. Hahhahaha


Laju motornya bahkan tak lebih cepat dari kayuhan sepeda segerombolan nenek-nenek yang merumpikan sayuran. Hahahaha


Lijun menyanyikan lagu ciptaan Qianjin cucunya. Para juri menilai lagunya parah. Bertanya siapa yang merekomendasikannya? Cindy menunjuk Bos Tan. 

Tan Ziming sendiri juga tampak tak puas.


Qianjin mulai putus asa. Bagaimana kalau berhenti saja. Ia tak mau bermusik hanya demi uang seperti band di luaran sana. 

Basisnya mengingatkan Qianjin. Melakukan ini itu juga memerlukan uang.