Aside

¤Snow Is On The Sea¤

Meski sedikit kesal, Seon Mi tersenyum samar atas perhatiannya Sang Woo.

Sang Woo mengatakan kemarin ia sudah diberitahu dokter tentang penyakitnya Seon Mi, ia pikir dokter hanya menakut-nakutinya saja. Kemarin ia juga sudah memikirkannya baik-baik.

“Kemarin hari apa?” Seon Mi penasaran. Sang Woo memegangi tangan Seon Mi.

“Kita… jalani saja sesuai dengan perasaan. Ke mana pun jalan itu membawa kita. Walaupun aku tidak tahu seberapa menakutkannya penyakitmu, tapi aku tidak akan mengizinkan itu menjadi alasan yang memisahkan kita berdua.”

Sang Woo kemudian mencium kening Seon Mi,

Seon Mi: Aku sangat merindukanmu… amat sangat. Jauh lebih dibandingkan pada saat aku terbaring sakit.

Seon Mi mengunjungi Sang Woo berlatih. Sang Woo bertanya apa Seon Mi pulang kerja lebih awal?. Seon Mi memberikan handuk pada Sang Woo,

“Kau teruskan saja latihannya. Menontonmu juga cukup seru kok!”

“Setengah jam lagi selesai kok! Kau tunggu saja di dalam ruang pelatih.”

Saat Sang Woo akan kembali berlatih Seon Mi menjahilinya dengan memukul pantatnya, membuat Sang Woo terkejut. Tapi Seon Mi dengan ceria menyemangatinya “Atlet Lee, semangat!”

Atlet yang lain yang kebetulan melihat keduanya langsung tersenyum-senyum tidak jelas.

“Ayo cepat masuk, jika tidak kau bisa terciprat air.” Ujar Sang Woo seraya melompat ke air.

“Semangat!”

Seon Mi memberikan minuman, ia mencoba ramah dengan memulai pembicaraan.

“Katanya kau dan Lee Sang Woo sudah berteman baik semenjak SMP.”

“Sang Woo yang cerita? Kunyuk satu itu mabuk kepayang olehmu, semuanya diceritakan padamu.”

Seon Mi tersenyum, ia tertarik pada foto di meja coach. Ternyata sudah menikah dan itu istrinya.

“Dia adalah adiknya Sang Woo.” Seon Mi nampak tidak mengerti

“Ah, dia tidak cerita tentang Hyeon Ji padamu? Setahun setelah kami menikah, ia jatuh sakit. Sudah tiga tahun. Minggu lalu adalah peringatan hari wafatnya.”

“Aku sama sekali tidak tahu hal ini. Sungguh maaf.”

“Hari itu Sang Woo mengatakan hal-hal yang aneh. Setelah kupikir-pikir…”

“Maaf?”

Pelatih Nam menceritakan tentang Sang Woo yang bertanya apakah pernah menyesal mengenal Hyeon Ji?. Sang Woo pasti menderita karena kematiannya Hyeon Ji. Keduanya dulu sepakat tidak meninyinggung masalah ini lagi.

Seon Mi nampak terpukul mengetahui fakta tersebut. Ia pulang dengan sedih, Sang Woo menanyakan apakah Seon Mi baik-baik saja?

“Itu… Aku… tidak akan jatuh sakit. Selama-lamanya tidak akan jatuh sakit. Aku akan sehat senantiasa. Aku berjanji.” Seon Mi mengajak Sang Woo berjanji kelingking.

*SNOW IS ON THE SEA*

Di akuarium Seon Mi sendirian, ia menerima pesan dari Sang Woo untuk lihat ke samping. Sebuah kerang meluncur jatuh dari atas menembus air tepat di hadapan Seon Mi. Sang Woo tak lama kemudian datang, ia menyuruh Seon Mi melihat ponselnya.

Sang Woo: Bersediakan kau menikah denganku?

Tertera di layar ponselnya Seon Mi.

Seon Mi syok, Sang Woo mengambil kerang tadi dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin. Sang Woo bertingkah jenaka dengan tidak sabar mendengar jawabannya Seon Mi. Seon Mi mengangguk dengan senang.

Seon Mi di luar menunggu Sang Woo. Sang Woo datang mengkhawatirkannya dan mengajaknya pergi ke tempat yang lebih hangat. Seon Mi memaksa ingin bertemu orangtuanya Sang Woo, Sang Woo melarangnya jangan sekarang. Seon Mi berusaha untuk bersikap sopan. Ia menyapa mereka dan memperkenalkan dirinya.

Ibunya Sang Woo langsung menolak rencana pernikahan tanpa mempersilakannya duduk. Ia tidak ingin Sang Woo menderita lagi, ia tidak mau memiliki menantu yang penyakitan. Sang Woo sudah cukup terpukul karena meninggalnya adik tersayangnya.

Sang Woo datang membela Seon Mi.

“Sungguh hebat kalian berdua. Tidakkah kalian lihat sekujur tubuhnya menggigil karena kedinginan? Jika itu aku, setidaknya aku akan menawarkan segelas air hangat untuknya. Ayo! Pernikahan ini kita atur sendiri saja.”

“Anak brengsek! Beraninya kau berkata demikian terhadap kedua orang tuamu?” Ayahnya Sang Woo murka, beranjak dari tempatnya duduk.

“Nam Kochi… karena dia menjaga Hyeon Ji di saat paling rapuh, apa yang Ayah katakan padanya, masih ingat? Ayah berterima kasih padanya. Terima kasih karena Nam Kochi telah memberikan harapan pada Hyeon Ji untuk tetap bertahan hidup. Tidak terkecuali orang ini dan aku berharap untuk… memiliki harapan untuk tetap hidup. Jika Ayah berterima kasih kepada Nam Kochi dikarenakan posisimu adalah seorang ayah, Ayah tidak layak untuk bertemu dengannya lagi. Ayo kita pergi!”

Seon Mi di gereja, saat sedang memandangi foto ayahnya Sang Woo memanggilnya apakah sudah siap?. Seon Mi bertanya apakah ia cantik? Sang Woo berkomentar Seon Mi cantik.. saking cantiknya membuat kaki Sang Woo terasa lemas.

“Bohong!”

Kemudian Sang Woo berjongkok meraih foto Seon Mi dan ayahnya.

Maaf. Kondisi kesehatan putriku tidak seperti orang-orang normal pada umumnya. Jika ayah hadir di sini, mungkin beliau akan berucap seperti itu.”

Seon Mi akan sembuh. Aku akan menjaganya seumur hidup. Jika Aboeji hadir di sini, aku akan berkata seperti ini pada beliau.”

Pernikahan keduanya hanya dihadiri Nam Kochi dan dokternya Seon Mi.

      Seon Mi dan Sang Woo makan malam. Keduanya membicarakan liburannya Seon Mi sebentar lagi akan habis sedangkan pertandingan renangnya Sang Woo adalah minggu depan. Seon Mi meminta saran apakah liburnya ia perpanjang saja?. Sang Woo menyuruhnya masuk kerja saja. Seon Mi mengeluh ia lelah sekali belakangan ini, ia pikir dengan keadaan fisiknya ini sepertinya lebih cocok menjadi ibu rumah tangga saja. Ia ingin sekali terus bisa menjaga Atlet Lee dari belakang.

“Atlet apaan? Sampai di rumah, aku hanyalah seorang suami.” Sang Woo menggerutu. Seon Mi tiba-tiba terbatuk-batuk dan Sang Woo mengira apakah itu flu?. Seon Mi mengelak ini hanya karena tenggorokannya sedikit gatal. Sang Woo tidak percaya, gatal apaan? Dari kemarin kau batuk-batuk terus.

Seon Mi mengatakan ia tidak apa-apa, berkat Sang Woo rumahnya menjadi hangat. Bahkan es di kutub bisa dicairkan oleh kehangatannya Lee Sang Woo. Seon Mi tentu hanya berpura-pura,

Malam harinya ia menyelinap keluar dari kamar, mengecek suhu tubuhnya. Ia meyakinkan dirinya sendiri ini bukanlah apa-apa, ini hanya flu saja.

Seon Mi menjalani perawatan. Ia bertanya berapa lama prosedurnya? Karena hari ini suaminya ada pertandingan dan ia ingin melihatnya untuk memberikan dukungan.

400m gaya bebas pria, lajur ke-2 Lee Sang Woo. Sang Woo dan atlet yang lainnya melakukan pemanasan namun Sang Woo tidak kunjung melompat ke air karena menunggu Seon Mi, membuat pelatihnya geram. Sang Woo menjadi cepat setelah Seon Mi datang, ia meraih juara pertama.

Kasep euy! KASEP! >_<!

Seon Mi turut bahagia atas pencapaiannya Sang Woo. Pulangnya Sang Woo menggendong Seon Mi.

“Sebelum pertandingan aku mencarimu ke mana-mana tapi tidak ketemu.”

“Aku menonton sambil bersembunyi. Aku tidak ingin membuatmu terbebani. Hari Ini Atlet Lee yang paling keren satu stadion.”

“Tapi apa kata dokter tentang hasil pemeriksaan?”

“Beliau cuma bilang flu biasa dan kasih obat.”

Sang Woo tidak percaya, mana ada flu biasa yang lamanya sebulan?.

“Besok ikut aku ke rumah sakit sekali lagi. Aku akan telepon dokter Cho.” Namun Seon Mi tidak mau, ia berdalih karena ini badannya sendiri tentunya Seon Mi sendirilah yang paling mengetahuinya.

Sang Woo agak kesal, Seon Mi mengecup pipinya untuk menenangkan. Sang Woo tersenyum karenanya.

“Tahun ini sudah 37 tahun lamanya aku jadi dokter. Bagiku, lebih banyak hari-hari yang menyedihkan dibandingkan dengan hari-hari yang menggembirakan. Hari di mana aku merasa paling bahagia adalah hari di mana aku menghadiri pernikahan pasien yang paling kukasihi dan melihatnya mengenakan gaun pengantin. Kita semua berharap di dalam hidup hanya terjadi hal-hal yang menggembirakan.”

“Apa hasilnya?”

“Sungguh disesalkan. Kondisi penyakitmu telah memburuk menjadi leukemia myeloid akut.”

Petangnya Seon Mi melamun di pinggir sungai. Hidupnya tak lama lagi.

 

Aside

¤Snow Is On The Sea¤

Sang Woo mengantarkan Seon Mi pulang. Sebelum pergi Seon Mi meminta izin melihat tangannya Sang Woo, ia memeganginya dan berkomentar bahwa tangan Sang Woo besar dan kokoh seperti milik ayah Seon Mi. Sang Woo heran dengan komentar tersebut, Seon Mi tidak membahasnya lebih lanjut.

Seon Mi mengunjungi tempat Nenek yang dulu sering ia datangi bersama temannya. Keduanya dulu sering mencuri di sana tapi si Nenek tidak menghukum mereka terlalu keras.

Seon Mi membangunkan Nenek, Nenek langsung menawarkannya makan. Baru bebera langkah Nenek langsung teringat Seon Mi, rupanya sudah besar sekarang! Seon Mi tumbuh menjadi cantik. Keduanya kemudian berpelukan.

      Seon Mi mendatangi ruangan Kim Woo Ho teman masa kecilnya. Ruangannya kosong, Woo Ho muncul dari belakangnya. Woo Ho memuji Seon Mi cantik sekali sekarang. Seon Mi tersenyum mengangkat bawaannya untuk Woo Ho.

Seon Mi dan Woo Ho duduk berdua mengenang masa kanak-kanak mereka, Seon Mi membawakan Woo Ho foto masa kecil mereka atas permintaan Woo Ho. Seon Mi bertanya bagaimana keadaannya Woo Ho. Woo Ho mengutarakan bahwa penyakitnya selanjutnya akan berkembang menjadi leukemia, kondisinya tidak nyaman, tidak tahu berapa lama batas usianya.

Seon Mi dan Woo Ho sama-sama mengidap Metaplasia Myeloid, Woo Ho pikir ia dan Seon Mi berjodoh dengan nasib ini.

Seon Mi dipinjami mobil rekan kerjanya. Ia diberi izin berkendara karena selama ini Seon Mi ingin sekali menyetir sendiri. Seon Mi menemui Sang Woo. Sang Woo sedang berlatih, seseorang menginformasikannya bahwa ada yang ingin menemuinya.

Seon Mi terlibat insiden kecil, ia menyenggol jatuh ikan-ikan dari ember. Juniornya Sang Woo terus menggerutu marah sementara Seon Mi meminta maaf. Sang Woo menyarankannya bersihkan saja kembali, juniornya itu tidak mau karena makan banyak waktu. Kemudian Sang Woo membersihkan ikan-ikannya mengajak Seon Mi membantunya.

“Aslinya ketrampilan pisaumu sehebat ini?” Tanya Seon Mi kagum

“Aslinya kau orangnya begitu sembrono? Kalau mau datang, telepon dulu!. Bawa ikannya ke sini!”

Seon Mi membawakan ikan-ikannya.

“Kecuali mainan waktu kecil, aku sama sekali tidak pernah menyentuh pisau. Sudah setahun aku kerja di bidang ini. Mau tidak mau otomatis juga jadi pintar.”

“Ternyata bau amis di tanganmu asalnya dari ini.”

Sang Woo membantah kalau ia rajin mencuci tangannya dengan sabun. Seon Mi bercerita bahwa ayahnya dulu punya bau tangan seperti itu, saat Seon Mi sedang tidur ayahnya biasanya memancing dan membawa banyak tangkapan. Tangan Sang Woo dan almarhum ayahnya Seon Mi punya bau yang mirip.

“Ayahmu… sudah meninggal?”

“Mungkin karena terlalu mengkhawatirkanku. Beliau meninggal di saat aku berusia 11 tahun. Ibuku meninggal karena komplikasi pada saat melahirkanku. Kotak musik yang Sang Woo kembalikan padaku hari itu, adalah peninggalan almarhum ayahku. Hadiah terakhir yang diberikan oleh ayahku untukku.”

Sang Wo bertanya kenapa barang sepenting itu tidak diperbaiki?. Seon Mi bercerita kalau ia sudah mencari kesana-kemari untuk memperbaikinya namun semuanya menyarankan diganti mesinnya. Menurut Seon Mi jika diganti mesinnya artinya yang tertinggal hanyalah sebuah kota kosong.

Karena pekerjaan membersihkan ikannya sudah selesai, Seon Mi ingin ikut member makan para penguin.

Seon Mi hampir tersorok jatuh gara-gara member makan penguin yang ada di air. Sang Woo memeganginya, ia bertanya pada Seon Mi apa Seon Mi mau mendorongnya ke air lagi. Seon Mi bilang tidak tapi kenapa Sang Woo mengungkitnya? Dalam sedetik kemudian Sang Woo malah menciumnya. (Baru kenal berapa hari? Biarinlah.. bukan urusanku XD )

Sang Woo dan Seon Mi kemudian menjalin hubungan, mereka sering berbalas pesan ditengah-tengah waktu senggang.

-SNOW IS ON THE SEA-

Mereka pergi ke taman hiburan dan bermain seharian.

Pulangnya mereka ke rumahnya Seon Mi. Sang Woo kikuk masuk ke kediamannya Seon Mi karena bertamu tidak membawa apa-apa. Haruskah ia beli buah, minuman, atau sejenisnya dulu?

Seon Mi lantas menyindir Sang Woo ternyata orangnya lebih polos dari dugaannya selama ini.

“Bukan polos, tapi orang-orang pada bilang aku sangat tulus orangnya.” Bantah Sang Woo

“Sudah ah! Terserah kau mau masuk atau tidak.” Seon Mi tidak peduli, ia meninggalkan Sang Woo.

Sang Woo melihat-lihat rumah Seon Mi, ia terkejut melihat Seon Mi memelihara ikan betta. Sejak kapan Seon Mi memelihara ini?. Seon Mi kemudian mendekat Sang Woo sama-sama memperhatikan ikan betta.

“Cantik sekali, kan? Lumayan, ada sekitar 3 tahun. Kenapa? Tidak cocok denganku?”

“Agak.“

“Masa sih? Kan mirip? Selalu seorang diri, terus suka berantem juga. Kau duduk dulu sebentar. Aku mau ganti baju dulu.”

Seon Mi meninggalkan Sang Woo. Sang Woo kembali ke meja, ia lihat pemanas di meja rusak, ia juga menemukan kartu Seon Mi yang bertuliskan penyakitnya. Sindroma metaplasia myeloid.

“Seon Mi, kalau sudah selesai ganti baju cepat keluar!” Sang Woo masih memandangi kartu tersebut. Sang Woo bertanya kartu apa ini, Seon Mi keluar dengan darah keluar dari hidungnya.

“Sang Woo. Aku lelah..”

Sang Woo memanggilkannya ambulance. Sang Woo panik bukan main melihat Seon Mi.

Di rumah sakit Sang Woo bertanya pada dokternya Seon Mi tentang keadaannya Seon Mi. Dokter mengatakan kondisi pasien tidak bisa diberitahukan pada sembarangan orang. Sang Woo tidak menyerah, ia menyatakan ke dokter bahwa ia adalah orang yang sangat menyukai Seon Mi. Tolong beritahu padaku.

Dokter justru tertawa geli

“Lucu sekali kau. Jadi menurutmu… semua orang berhak tahu kondisi pasien? Apa yang pasien rasakan, bagaimana keadaannya… Masuk akal tidak ini? Kenapa bengong di situ? Ikut aku!” Sang Woo diajak ke mobil untuk membicarakannya lebih pribadi.

Dokter menjelaskan rinciannya pada Sang Woo. Sindroma metaplasia myeloid. Istilah sederhananya adalah gejala awal leukemia. Sebagian besar ditemukan pada orang yang sudah berusia. Seon Mi pada usia 10 tahun sudah didiagnosa menderita penyakit ini. Ayahnya juga dikarenakan penyakit yang serupa, meninggal dunia.

“Tunggu sebentar, ada yang tidak kumengerti. Penderita penyakit ini bisa menjalankan hidup dengan normal?”

“Kelihatannya normal. Lagipula belum memasuki tahap penyakit leukemia. Pasien yang seusia dengannya  yang kebetulan adalah temannya, beberapa waktu yang lalu telah terserang penyakit leukemia akut. Jika tidak segera menerima transplantasi sumsum tulang, harusnya tidak akan bisa melewati tahun ini. Cepat atau lambat Seon Mi juga akan berhadapan dengan hari itu.”

Sang Woo melampiaskan emosinya dengan berenang. Sang Woo dan temannya pergi ke rumah abu, Lee Hyeon Ji adalah adiknya Sang Woo dan merupakan almarhum istri rekannya. Itulah mengapa temannya ini perhatian pada Sang Woo bukan sekadar pada teman biasa, ia juga tidak bisa menikah lagi barangkali masih belum bisa melepaskan kepergian Lee Hyeon Ji, Sang Woo juga.

Sang Woo mengajaknya minum kopi.

“Kau pernah menyesal kenal Hyeon Ji?”

“Buset, minum kopi saja kau bisa mabuk? Kenapa bertanya seperti ini?”

“Kalau tidak suka, ya anggap saja aku tidak pernah tanya.”

“Tidak ada perasaan seperti itu. Hanya saja kata-kata seperti ini terdengar aneh keluar dari mulutmu. Apa yang terjadi?”

“Tidak ada. Aku hanya tiba-tiba merasa penasaran saja.”

Seon Mi pulang. Ia disambut oleh Sang Woo. Sang Woo memperbaiki meja pemanas yang rusak, ia juga memperbaiki pintu rumah Seon Mi yang menurutnya membahayakan bagi wanita yang tinggal sendirian. Maling bisa masuk kapan saja kalau dibiarkan, jadi Sang Woo menggantikannya dengan kode-kode yang rumit.

Seon Mi kebingungan, sejak kapan Sang Woo ke rumahnya dan mengatur-atur begini?. Sang Woo mengalihkan topiknya, suhu udaranya dingin sekali.. ayo cepat masuk!

Seon Mi setengah kesal melewati Sang Woo.

Sang Woo sibuk memperbaiki meja pemanasnya. Seon Mi masih belum reda amarahnya.

“Oh iya, kodenya adalah 0707, hari ulang tahunku” (HHHHHHHHHHHHHHHHHHHH kurang ajar!) Sang Woo bilang kalau Seon Mi mau menggantinya silakan saja. Seon Mi masuk ke kamar tanpa menanggapinya.