Aside

¤Snow Is On The Sea¤

Seon Mi perlahan-lahan mulai menangis sesenggukan.

Anak-anak melihat ikan betta yang tidak bergerak, mereka mengiranya mati.

Sang Woo sesampainya di rumah tidak menemukan keberadaan Seon Mi. Sang Woo mencoba menghubungi nomornya namun ponselnya ditinggal di rumah. Digeletakkan di atas meja beserta cincin kawin mereka.

Sang Woo salah menerobos masuk ke ruangan, bertanya di mana Seon Mi sekarang. Pakaian dan barang-barangnya tidak ada di rumah. Ia ini walinya Seon Mi dan berhak tahu di mana Seon Mi sekarang. Dokter menyelanya, seorang wali tapi tidak tahu menahu akan kondisi kesehatan istrinya sendiri.

“Kondisi kesehatan? Seon Mi kenapa?” Sang Woo linglung

“Pada saat seperti ini, keinginan pasien adalah prioritas utama. Karena sakit, ia meninggalkan kehidupan berumah tangganya. Apapun alasannya, ia menolak untuk tetap berada di sisimu. Tolong hargai keputusannya. Akan lebih baik baginya.” Jelas dokter.

Seon Mi berada di ruangan, ia menjumpai Woo Ho yang sudah tidak bisa beraktivitas seperti biasa lagi. Seon Mi bertanya apakah Woo Ho baik-baik saja?. Woo Ho mengangguk, Seon Mi bertanya Woo Ho tidak akan menyerah bukan?

Sang Woo menjalani kesehariannya tanpa semangat, bekerja di akuarium. Ia pergi ke gereja, rumahnya terasa sepi. Sang Woo juga berusaha tidur di sofa.

Seon Mi: Aku ingin bisa tetap hidup. Sang Woo… Supaya tetap bisa mencintaimu… aku ingin bisa bertahan hidup seperti hari itu. Aku sungguh merindukanmu, Sang Woo.

Seon Mi memeluk dan menciumi jaketnya Sang Woo.

Nam Kochi melatih para atlet, ia ditemui oleh Gomo-nya Seon Mi. Kemudian Nam Kochi menemui Sang Woo yang berada di akurium. Memberitahu Sang Woo soal Seon Mi yang sekarang berada di rumah sakit tempatnya dirawat saat kecil. Sang Woo hendak menyusulnya, Nam Kochi mengatakan kalau kejadiannya sudah sejauh ini mungkin akan semakin menambah masalah, sudah berbulan-bulan berlalu Seon Mi pasti sudah berubah. Sang Woo berterima kasih sebelum pergi.

Teman Seon Mi sudah meninggal, Seon Mi menghadiri pemakamannya. Sang Woo mendatanginya, bertanya apa yang Seon Mi lakukan di sini?.

“Aku tidak ingin main petak umpet denganmu lagi. Cukup sampai di sini.”

“Sang Woo, aku…”

“Ayo cepat bubuhkan stempel di sini!”

“Jangan begitu. Aku tidak bisa begitu. Bodoh ya kau? Tidakkah kau lihat? Cepat lambat aku akan mati seperti Woo Ho.”

Sang Woo memecahkan botol beling di sana dan membuat kaget beberapa pelayat. Sang Woo melukai tangannya sendiri, Seon Mi tercekat melihatnya. Kemudian Sang Woo membubuhkan jarinya dengan tinta darah tersebut ke dokumen yang dibawanya.

“Kau sudah lupa apa yang pernah kau katakana saat berada di bus? Kau bilang tidak akan pernah jatuh sakit. Kau berjanji untuk tetap sehat. Kau bilang seumur hidup akan memegang teguh janji ini dan tidak akan ingkar. Cap di sini dan ingat baik-baik! Begitu kau bubuhkan cap di sini, selamanya kita akan bersama hingga akhir. Selama-lamanya.”

Sang Woo juga membuat Seon Mi memberikan cap jarinya ke dokumen tersebut dengan darahnya. Sang Woo memeluk Seon Mi.

Mulai saat itu Sang Woo menjagai Seon Mi, membelikannya obat tradisional. Mengawasi Seon Mi makan, Seon Mi tidak nafsu makan, Sang Woo memberikan obat tradisionalnya. Sang Woo juga mulai membaca buku yang berhubungan dengan penyakit Seon Mi.

Teman-teman Seon Mi mengunjunginya, mereka bertanya apakah Sang Woo juga menginap di sini? Seon Mi mengiyakan kalau Sang Woo tidur di matras bawah setiap malam terkecuali jika Gomo-nya Seon Mi datang. Mereka juga membawakan barang permintaannya Seon Mi, Sang Woo datang menawari mereka makan. Mereka menolak karena sebentar juga mau langsung pergi, Sang Woo kikuk menyuruh mereka kembali melanjutkan obrolan.

Sang Woo akan keluar. Seon Mi menyuruhnya mencari udara segar, ia baru bisa keluar sebulan sekali dan jangan minum-minum terlalu banyak.

Sang Woo minum dengan Nam Kochi. Nam Kochi bertanya pasti melelahkan bagi Sang Woo menjagai Seon Mi. Sudah coba obat tradisional apa saja?. Sang Woo masih terus mencoba dan akan lihat hasilnya nanti. Pelatih Nam mengingatikan Sang Woo tentang kompetesi renang nasional nanti. Sang Woo bilang ia tidak ada waktu untuk mengikuti kompetisi karena prioritas utamanya adalah Seon Mi.

Sang Woo kembali namun Seon Mi tidak ada di ruangannya. Sang Woo mulai cemas, ia mencari Seon Mi. Seon Mi tidur di kursi, Sang Woo meletakkan bawaannya dan memandangi Seon Mi. Seon Mi tersenyum, ia mencium bau alkohol dari Sang Woo. Sang Woo tanya kenapa di sini? Seon Mi bilang ia menunggu Sang Woo. Sang Woo memarahinya, andai tadi Sang Woo tidak segera pulang apa Seon Mi akan di sini sampai pagi?

Sang Woo memegangi kedua pipi Seon Mi dengan gemas. “Kau benar-benar bandel!” lalu mengecup Seon Mi sekali dan duduk di bangku sebelahnya. (Ugh! Hae-jin aaaah…. Manisnya dirimu sampai menusuk ke ulu hati XD )

“Aku rindu padamu. Bagaimana dong? Saat kau tidak di sini, aku merasa tidak tenang dan takut. Aku ingin melihat salju.  Musim dingin sudah lewat. Sepertinya tahun ini tidak bisa melihat salju. Salju itu memiliki aroma, tahukah kau?”

“Salju juga memiliki aroma?”

“Iya, ada aromanya. Aroma salju. Aroma gang kecil sehabis hujan dan aroma air laut di musim dingin. Seperti kedua aroma ini yang dicampur aduk.”

“Ayo! “

“Ke mana?”

“Melihat salju!”

Mereka ke akuarium, airnya di dalam akuarium bergerak naik seolah terlihat seperti salju. Seon Mi berterima kasih, seumur hidup ia takkan bisa melupakannya.

Sang Woo di luar mendengar suara jeritan dari arah kamar mandi, ia kemudian mendekati Seon Mi yang terjatuh dan dikerubungi banyak orang. Sang Woo berusaha membangunkannya.

Seon Mi dibawa kembali, dokter mengatakan leukositnya tinggi sekali dan semuanya bersifat ganas. Memburuknya kondisi Seon Mi jauh lebih cepat dibandingkan dengan Woo Ho.

“Ada solusi apa?”

“Hanya dengan transplantasi sumsum, transplantasi. Jika tidak segera transfer ke rumah sakit lain, dia bisa mati.”

“Harus transfer rumah sakit? Kenapa begitu mendadak?” Tanya Seon Mi.

“Dokter Cho ada di sini. Karena tidak sempat pamit pada semua orang, jadinya kau merasa sedih? Nanti setelah kondisimu membaik, baru kita mampir mencari mereka.”

Sang Woo meminta Seon Mi makan lebih banyak karena sudah dua hari ini Seon Mi tidak makan apa-apa. Seon Mi bilang tidak mau makan. Sang Woo menyendokkan makanannya dan meminta Seon Mi makan meski hanya 3 suap. Seon Mi mendorong suapan Sang Woo. Sang Woo membawa makanannya pergi, terdengar suara wadah makanan yang dilemparkan keras-keras.

Sang Woo sudah habis kesabarannya, ia memarahi Seon Mi. “Memangnya kau anak umur 3 tahun? Mau merajuk juga harus pada waktu yang tepat. Di sini ada dokter Cho, juga lebih mudah mendapatkan donor.”

“Merajuk? Kapan aku merajuk? Suruh aku periksa, aku periksa. Suruh aku makan obat, aku makan obat. Seumur hidupku ini aku selalu taat bagaikan seorang budak. Orang seperti aku ini punya hak apa untuk merajuk? Aku lelah… harus melihat raut muka orang yang takut jika aku mati. Aku merasa seperti seorang penjahat. Lebih baik mati saja.”

Ayah dan ibunya Sang Woo datang berkunjung. Ayahnya Sang Woo mengobrol dengan Sang Woo di luar. Ayah dengar dari menantu Nam bahwa Sang Woo sedang berusaha mencari donor sumsum tulang belakang. Ayah memberikan catatan alamat yayasan penyedia donor. Sang Woo berterima kasih.

Sementara itu Nyonya Lee bersama Seon Mi, beliau ingin melihat tangan Seon Mi. Seon Mi canggung mengelapkan tangannya ke pakaian sebelum mengulurkannya. Beliau memuji tangan Seon Mi indah sekali, ia mengerti pasti Seon Mi sangat kecewa karena ia tidak datang di hari pernikahan mereka. Seon Mi mengiyakan bahwa ia sangat ingin bertemu Eomoni hari itu.

“Aku masih belum memberi restu pada kalian berdua. Aku juga tidak berencana untuk membantumu. Karena itu, mau hidup atau mati kalian tanggung sendiri. Nanti setelah kesehatanmu membaik, kita bertemu lagi sambil tersenyum. Hanya ini yang kupinta. “

“Eomoni…”

“Aku permisi dulu.”

Seon Mi mencegat ibu mertuanya, ia meminta izin memeluknya sekali saja. Nyonya Lee mengizinkannya, mereka berpelukan. Nyonya Lee menepuk-nepuk punggungnya dan menyemangati Seon Mi harus tabah dan pantang menyerah.

Aside

¤Snow Is On The Sea¤

Meski sedikit kesal, Seon Mi tersenyum samar atas perhatiannya Sang Woo.

Sang Woo mengatakan kemarin ia sudah diberitahu dokter tentang penyakitnya Seon Mi, ia pikir dokter hanya menakut-nakutinya saja. Kemarin ia juga sudah memikirkannya baik-baik.

“Kemarin hari apa?” Seon Mi penasaran. Sang Woo memegangi tangan Seon Mi.

“Kita… jalani saja sesuai dengan perasaan. Ke mana pun jalan itu membawa kita. Walaupun aku tidak tahu seberapa menakutkannya penyakitmu, tapi aku tidak akan mengizinkan itu menjadi alasan yang memisahkan kita berdua.”

Sang Woo kemudian mencium kening Seon Mi,

Seon Mi: Aku sangat merindukanmu… amat sangat. Jauh lebih dibandingkan pada saat aku terbaring sakit.

Seon Mi mengunjungi Sang Woo berlatih. Sang Woo bertanya apa Seon Mi pulang kerja lebih awal?. Seon Mi memberikan handuk pada Sang Woo,

“Kau teruskan saja latihannya. Menontonmu juga cukup seru kok!”

“Setengah jam lagi selesai kok! Kau tunggu saja di dalam ruang pelatih.”

Saat Sang Woo akan kembali berlatih Seon Mi menjahilinya dengan memukul pantatnya, membuat Sang Woo terkejut. Tapi Seon Mi dengan ceria menyemangatinya “Atlet Lee, semangat!”

Atlet yang lain yang kebetulan melihat keduanya langsung tersenyum-senyum tidak jelas.

“Ayo cepat masuk, jika tidak kau bisa terciprat air.” Ujar Sang Woo seraya melompat ke air.

“Semangat!”

Seon Mi memberikan minuman, ia mencoba ramah dengan memulai pembicaraan.

“Katanya kau dan Lee Sang Woo sudah berteman baik semenjak SMP.”

“Sang Woo yang cerita? Kunyuk satu itu mabuk kepayang olehmu, semuanya diceritakan padamu.”

Seon Mi tersenyum, ia tertarik pada foto di meja coach. Ternyata sudah menikah dan itu istrinya.

“Dia adalah adiknya Sang Woo.” Seon Mi nampak tidak mengerti

“Ah, dia tidak cerita tentang Hyeon Ji padamu? Setahun setelah kami menikah, ia jatuh sakit. Sudah tiga tahun. Minggu lalu adalah peringatan hari wafatnya.”

“Aku sama sekali tidak tahu hal ini. Sungguh maaf.”

“Hari itu Sang Woo mengatakan hal-hal yang aneh. Setelah kupikir-pikir…”

“Maaf?”

Pelatih Nam menceritakan tentang Sang Woo yang bertanya apakah pernah menyesal mengenal Hyeon Ji?. Sang Woo pasti menderita karena kematiannya Hyeon Ji. Keduanya dulu sepakat tidak meninyinggung masalah ini lagi.

Seon Mi nampak terpukul mengetahui fakta tersebut. Ia pulang dengan sedih, Sang Woo menanyakan apakah Seon Mi baik-baik saja?

“Itu… Aku… tidak akan jatuh sakit. Selama-lamanya tidak akan jatuh sakit. Aku akan sehat senantiasa. Aku berjanji.” Seon Mi mengajak Sang Woo berjanji kelingking.

*SNOW IS ON THE SEA*

Di akuarium Seon Mi sendirian, ia menerima pesan dari Sang Woo untuk lihat ke samping. Sebuah kerang meluncur jatuh dari atas menembus air tepat di hadapan Seon Mi. Sang Woo tak lama kemudian datang, ia menyuruh Seon Mi melihat ponselnya.

Sang Woo: Bersediakan kau menikah denganku?

Tertera di layar ponselnya Seon Mi.

Seon Mi syok, Sang Woo mengambil kerang tadi dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin. Sang Woo bertingkah jenaka dengan tidak sabar mendengar jawabannya Seon Mi. Seon Mi mengangguk dengan senang.

Seon Mi di luar menunggu Sang Woo. Sang Woo datang mengkhawatirkannya dan mengajaknya pergi ke tempat yang lebih hangat. Seon Mi memaksa ingin bertemu orangtuanya Sang Woo, Sang Woo melarangnya jangan sekarang. Seon Mi berusaha untuk bersikap sopan. Ia menyapa mereka dan memperkenalkan dirinya.

Ibunya Sang Woo langsung menolak rencana pernikahan tanpa mempersilakannya duduk. Ia tidak ingin Sang Woo menderita lagi, ia tidak mau memiliki menantu yang penyakitan. Sang Woo sudah cukup terpukul karena meninggalnya adik tersayangnya.

Sang Woo datang membela Seon Mi.

“Sungguh hebat kalian berdua. Tidakkah kalian lihat sekujur tubuhnya menggigil karena kedinginan? Jika itu aku, setidaknya aku akan menawarkan segelas air hangat untuknya. Ayo! Pernikahan ini kita atur sendiri saja.”

“Anak brengsek! Beraninya kau berkata demikian terhadap kedua orang tuamu?” Ayahnya Sang Woo murka, beranjak dari tempatnya duduk.

“Nam Kochi… karena dia menjaga Hyeon Ji di saat paling rapuh, apa yang Ayah katakan padanya, masih ingat? Ayah berterima kasih padanya. Terima kasih karena Nam Kochi telah memberikan harapan pada Hyeon Ji untuk tetap bertahan hidup. Tidak terkecuali orang ini dan aku berharap untuk… memiliki harapan untuk tetap hidup. Jika Ayah berterima kasih kepada Nam Kochi dikarenakan posisimu adalah seorang ayah, Ayah tidak layak untuk bertemu dengannya lagi. Ayo kita pergi!”

Seon Mi di gereja, saat sedang memandangi foto ayahnya Sang Woo memanggilnya apakah sudah siap?. Seon Mi bertanya apakah ia cantik? Sang Woo berkomentar Seon Mi cantik.. saking cantiknya membuat kaki Sang Woo terasa lemas.

“Bohong!”

Kemudian Sang Woo berjongkok meraih foto Seon Mi dan ayahnya.

Maaf. Kondisi kesehatan putriku tidak seperti orang-orang normal pada umumnya. Jika ayah hadir di sini, mungkin beliau akan berucap seperti itu.”

Seon Mi akan sembuh. Aku akan menjaganya seumur hidup. Jika Aboeji hadir di sini, aku akan berkata seperti ini pada beliau.”

Pernikahan keduanya hanya dihadiri Nam Kochi dan dokternya Seon Mi.

      Seon Mi dan Sang Woo makan malam. Keduanya membicarakan liburannya Seon Mi sebentar lagi akan habis sedangkan pertandingan renangnya Sang Woo adalah minggu depan. Seon Mi meminta saran apakah liburnya ia perpanjang saja?. Sang Woo menyuruhnya masuk kerja saja. Seon Mi mengeluh ia lelah sekali belakangan ini, ia pikir dengan keadaan fisiknya ini sepertinya lebih cocok menjadi ibu rumah tangga saja. Ia ingin sekali terus bisa menjaga Atlet Lee dari belakang.

“Atlet apaan? Sampai di rumah, aku hanyalah seorang suami.” Sang Woo menggerutu. Seon Mi tiba-tiba terbatuk-batuk dan Sang Woo mengira apakah itu flu?. Seon Mi mengelak ini hanya karena tenggorokannya sedikit gatal. Sang Woo tidak percaya, gatal apaan? Dari kemarin kau batuk-batuk terus.

Seon Mi mengatakan ia tidak apa-apa, berkat Sang Woo rumahnya menjadi hangat. Bahkan es di kutub bisa dicairkan oleh kehangatannya Lee Sang Woo. Seon Mi tentu hanya berpura-pura,

Malam harinya ia menyelinap keluar dari kamar, mengecek suhu tubuhnya. Ia meyakinkan dirinya sendiri ini bukanlah apa-apa, ini hanya flu saja.

Seon Mi menjalani perawatan. Ia bertanya berapa lama prosedurnya? Karena hari ini suaminya ada pertandingan dan ia ingin melihatnya untuk memberikan dukungan.

400m gaya bebas pria, lajur ke-2 Lee Sang Woo. Sang Woo dan atlet yang lainnya melakukan pemanasan namun Sang Woo tidak kunjung melompat ke air karena menunggu Seon Mi, membuat pelatihnya geram. Sang Woo menjadi cepat setelah Seon Mi datang, ia meraih juara pertama.

Kasep euy! KASEP! >_<!

Seon Mi turut bahagia atas pencapaiannya Sang Woo. Pulangnya Sang Woo menggendong Seon Mi.

“Sebelum pertandingan aku mencarimu ke mana-mana tapi tidak ketemu.”

“Aku menonton sambil bersembunyi. Aku tidak ingin membuatmu terbebani. Hari Ini Atlet Lee yang paling keren satu stadion.”

“Tapi apa kata dokter tentang hasil pemeriksaan?”

“Beliau cuma bilang flu biasa dan kasih obat.”

Sang Woo tidak percaya, mana ada flu biasa yang lamanya sebulan?.

“Besok ikut aku ke rumah sakit sekali lagi. Aku akan telepon dokter Cho.” Namun Seon Mi tidak mau, ia berdalih karena ini badannya sendiri tentunya Seon Mi sendirilah yang paling mengetahuinya.

Sang Woo agak kesal, Seon Mi mengecup pipinya untuk menenangkan. Sang Woo tersenyum karenanya.

“Tahun ini sudah 37 tahun lamanya aku jadi dokter. Bagiku, lebih banyak hari-hari yang menyedihkan dibandingkan dengan hari-hari yang menggembirakan. Hari di mana aku merasa paling bahagia adalah hari di mana aku menghadiri pernikahan pasien yang paling kukasihi dan melihatnya mengenakan gaun pengantin. Kita semua berharap di dalam hidup hanya terjadi hal-hal yang menggembirakan.”

“Apa hasilnya?”

“Sungguh disesalkan. Kondisi penyakitmu telah memburuk menjadi leukemia myeloid akut.”

Petangnya Seon Mi melamun di pinggir sungai. Hidupnya tak lama lagi.