[Sinopsis] K-Movie: Cheese In The Trap – Part 1

Hasil cetakan Soul sudah keluar, tak sengaja seseorang menyenggolnya hingga kertasnya berjatuhan.
“Maaf”

Ucap pemuda itu tanpa rasa bersalah sambil lalu.
Soul sedikit kesal, ia berusaha mengambilinya. Terlihat kaki Yoo Jung tak jauh dari kertas Soul
“Makanya.., kau harus lebih berhati-hati.” Ucap Yoo Jung dengan dinginnya.

Soul tampak kelelahan, ia memejamkan matanya. Tak lama kemudian Yoo Jung datang membawakan secangkir kopi, Soul merasa agak sungkan.. Sunbae tak perlu repot-repot.
Yoo Jung meminta Soul untuk pulang, berkat Soul yang sudah memilah datanya dengan baik.. Yoo Jung yakin sisanya akan dia selesaikan cepat.

Dalam hati Soul heran, senyuman Sunbae, nada bicaranya, keramahannya, semua orang memperhatikan Yoo Jung Sunbae kemanapun ia pergi. Soul merasa tidak nyaman.

Yoo Jung mengantarkan Soul pulang. Meskipun ia diperlakukan dengan baik, Yoo Jung pasti memiliki sisi lain yang tidak diketahui oleh banyak orang.. Soul yakin akan itu.

Soul menceritakan keanehan Yoo Jung pada Bora, semester lalu Sunbae tidak sebaik ini padanya, Bora menyuruh Soul berpikiran yang positif.. barangkali Sunbae ingin menjalin hubungan baik dengan Soul.. atau jangan-jangan Sunbae naksir Soul?
Bora terkejut dengan pemikirannya sendiri.

Eun Taek merasa Yoo Jung Sunbae tidak mungkin naksir Soul. Bora tidak setuju, memangnya ada yang salah d

ngan Soul? Dia cantik, pintar, juga baik hati.
Eun Taek balas mengatakan kalau Yoo Jung Sunbae itu rumornya hanya pacaran dengan artis.
Bora tidak mau kalah, baginya Soul itu juga mirip artis. Soul kesal, Bora terlalu membual.
**
Yoo Jung datang, ia menyapa semuanya. Ia mengajak Soul ketemuan setelah selesai kuliah. Soul kebingungan, maaf?
Yoo Jung bilang untuk menyelesaikan tugas yang kemarin, tinggal dicetak.
Meski masih bingung ia pun mengiyakan. Soul tetap merasa aneh dengan perubahan sikap Sunbae yang jauh berbeda dengan tahun lalu.
♡Chapter 1: Senior yang Mencurigakan♡

Setahun lalu,
Bora bertanya apakah Hong akan mengajukan tinggal ke asrama?. Soul bilang ia akan melakukannya tahun depan.

Uang hasil kerja sambilannya sudah digunakan oleh keluarganya.
Bora menyayangkan jarak rumah Soul dengan kampus cukup jauh, memakan waktu 4 jam perjalanan.
Soul tak memusingkannya, ia mengajak Eun Taek dan Bora makan saja, jangan dipikirkan.

Sang Cheol seeorang senior bersuara keras memanggil Soul. Senang Soul kembali kuliah setelah cuti.
Setelah kepergiannya Bora kesal, apa-apaan suaranya itu? Kalau orang hamil dengar suaranya tadi pasti langsung keguguran karena kaget.

Kebetulan Yoo Jung yang cuti juga sudah kembali kuliah. Hong diperkenalkan, belum menyapa dengan benar tapi Yoo Jung langsung mengatakan “Iya”
Membuat Soul sedikit kesal.

Seorang junior genit mengajak Yoo Jung minum. Tapi Yoo Jung beralasan ia sedang berbicar dengan Sang Cheol. Gadis itu terus memaksa, Yoo Jung tanpa sengaja menjatuhkan gelas minum air mineralnya. Yoo Jung menyuruh gadis itu bersih-bersih.

Soul yang memperhatikan sejak tadi pun merasa aneh karena Yoo Jung mengelap air di meja dengan handuk orang lain, sedangkan mengelap tangannya sendiri dengan handuk sendiri. Yoo Jung menyadari dirinya diamati Soul, ia hanya menatapnya dingin.

**
Di luar Yoo Jung entah menelfon siapa, Soul pikir Yoo Jung bertengkar dengan pacarnya. Yang lebih anehnya Soul mendengar Yoo Jung mengatakan bahwa semua mahasiswa yang cuti hadir dan membuatnya kesal.

Terbatuk-batuk Soul mencoba menutupinya, ia lihat Yoo Jung sudah tidak ada di gang gelap. Lalu Soul menemukan sebatang rokok baru, akan ia berikan ke Bora.

Ketika berbalik ia melihat Yoo Jung. Membuatnya kaget, Yoo Jung tidak mengatakan apa-apa.. hanya menatap puntung rokok dengan sinis. Soul mencoba menjelaskan bukan dia yang merokok. Namun Yoo Jung mengabaikannya.

**
Bora heran kenapa Soul harus merasa tidak nyaman dengan Yoo Jung Sunbae. Soul tetap merasa tidak nyaman, Sunbae aneh menurutnya. Sang Cheol Sunbae yanf mendengarnya langsung berteriak-teriak
“Jeong! Apa kau pernah cari gara-gara dengan Hong Hubae? Dia bilang tidak nyaman denganmu”

Sang Cheol tidak mengerti kenapa Soul seperti itu. Yoo Jung yang melintas dan mendengarnya pun terlihat kesal. Ia mengabaikan Soul.

Soul merasa tertekan karena Yoo Jung sekarang tahu bahwa dirinya merasa tidak nyaman. Cetakannya sudah selesai, namun ia disenggol seorang mahasiswa lain dan akhirnya kertasnya jatuh berantakan. Disaat Soul hendak memungutinya ia lihat kaki seseorang

Itu adalah seniornya, Yoo Jung Sunbae. Bukannya menolong justru menyuruh Soul lebih berhati-hati.

Itu kejadian setahun lalu. Namun sekarang Sunbae terlihat berbeda dari sebelumnya. Seperti sekarang, setelah selesai dengan tugasnya ia mengajak Soul makan bersama. Semula Soul bingung dan kaget

Yoo Jung bertanya apa tidak apa-apa makan ini saja?. Soul bilang ia tak apa-apa. Yoo Jung kesulitan membuka bungkusan Samgak kimbabnya karena ini pertama kalinya ia memakan ini. Soul bahkan tersedak ketika Sunbae bertanya apakah Soul merasa tidak nyaman dengannya?. Bukannya tidak nyaman, cuma.. karena belum akrab..

Padahal dalam hati Soul merasa situasinya semakin tidak nyaman. Soul berterima kasih atas traktirannya.

.

.

Yoo Jung lain kali akan membelikan Soul makanan yang enak. Dengar kata lain kali membuat Soul terkejut.
Terlebih ketika Yoo Jung terus mendekatinya dan mengamati wajahnya. “Sampai jumpa besok..”

Di rumah, Yoo Jung berlatih membuka samgak kimbab sembari menonton video tutorialnya.
Setelahnya ia memakan makan malamnya di ruang lain.
**

Di sebuah ruangan temaram foto Soul keluar dari mesin cetakan.

Kemudian terlihat tangan seseorang yang menempelkan foto tadi ke dinding. Yang rupanya banyak foto lainnya di sana.
**

Baek In Ho sudah ditahan-tahan temannya. Kapan pulang kemari? Mau ke mana?
Baek In Ho dengan santainya berkata, ia akan kembali jika merindukan temannya, jangan menangis.. pria tulen tidak perlu lebay begitu. Tujuannya adalah Seoul.
Kapal menepi dan Baek In Ho berjalan pergi tanpa menoleh lagi

● Chapter 2: Tamu Tak Diundang ●

In Ha di rumanya sedang santai-santai.

Mendengar bel berbunyi berkali-kali membuatnya kesal.

Dipikirnya kurir, setelah ia buka pintu rupanya adik kembarnya yang datang, Baek In Ho.
*

In Ho mengomentari tempat In Ha yang lumayan juga, ada kursi pijatnya. Sayangnya terlalu berantakan. In Ho tergelak melihat buku finance komputer. In Ha menjelaskan dia diminta Hoejang-nim untuk kursus supaya bisa masuk ke perusahaannya.In Ho pikir itu cuma akal-akalannya Hoejangnim untuk mendepak In Ha.In Ho memperingatkan Baek In Ha untuk jangan berpikir Hoejangnim menganggap mereka sebagai anaknya sendiri. In Ho menyuruh In Ha mencari jalan hidup sendiri, jangan bergantung pada keluarganya Yoo Jung terus.In Ha kesal dibuatnya, ia membentak In Ho dan melemparkan pisaunya. Mereka berkelahi.

Seperti sewaktu kecil, In Ha dipukuli seorang wanita karena tidak menurut. Sementara itu In Ho duduk ketakutan menyaksikannya. In Ha terus membantah.

Sampai ayahnya Yoo Jung datang, In Ha kecil mengadukan perlakuan yang ia terima. Ia juga menunjukkan lebam-lebam bekas pukulan di badannya.

Setelah memohon-mohon seperti itu akhirnya Hoejangnim membawa keduanya.Teringat masa silam. In Ho melepaskan In Ha, ia meninggalkan nomor hapenya dan meminta In Ha menghubunginya jika ada apa-apa.
**

Hong Soul menjalani rutinitasnya, kerja paruh waktu dan sebagainya. Melihat sepasang sepatu di etalase toko membuatnya berhenti lama menatapinya.

Di kelas ia kepikiran dengan harga sepatu tersebut. 200 ribu won, ia mengurungkan niatnya.
Dilihatnya Yoo Jung tidak ada di kelas, ia dipikitnya Yoo Jung bukan tipe orang yang suka bolos. Padahal Soul ingin meminta data yang berhasil Sunbae kumpulkan.
Tak berapa lama Sunbae mengiriminya pesan, ia akan memberikan datanya ke Soul.

In Ho bertanya dimana fakultas bisnis. Gadis yang berhadapannya dengannya tidak fokus, ia terbengong-bengong kenapa ada pria seganteng ini.

Bukannya memberitahu tapi gadis itu sudah grogi dan kabur, karena saking gantengnya.

In Ho terkejut melihat Yoo Jung bersama Soul.

Terlebih senyuman Yoo Jung yang tidak biasa itu benar-benar membuat In Ho tidak percaya apa yang dilihatnya ini nyata.Soul menunggu keretanya. In Ho mengejutkannya. Bertanya apa hubungan Soul dengan Yoo Jung, ia ini adalah temannya Yoo Jung.
**
Soul dengan kesal menjawab ia tak ada hubungan apapun dengan Yoo Jung!.
Karena mereka tarik-tarikan, akhirnya Soul memukul In Ho hingga hidungnya berdarah.

Sebagai gantinya Soul mentraktir In Ho makan. In Ho mengomentari rambut Soul yang seperti bulu anjing.
Soul tidak kaya dan In Ho yakin pasti bukan pacarnya Yoo Jung.

Soul terkejut melihat kedua tangan In Ho bisa digunakan. In Ho menjelaskan aslinya ia ini kidal, namun berkat perbuatannya Yoo Jung ia jadi harus menggunakan tangan kanannya. Setelah yang kiri sembuh ia jadi bisa menggunakan kedua tangannya.

Advertisements

[K-Movie] Snow Is On The Sea – Part 5 End

¤Snow Is On The Sea¤

Akita, Jepang — Sebulan Kemudian

Sang Woo menawari Seon Mi apakah mau minum sesuatu yang hangat?. Seon Mi bilang tidak usah. Sang Woo mengatakan sebentar lagi orang yang mereka tunggu akan tiba.

Ini adalah Kepala Bagian Bun Hyang Grup divisi Jepang, Kim Gwang Seok. Meminta maaf telat karena harus menjemput puterinya dari TK. Sang Woo memperkenalkan keduanya.

Kim Gwang Seok adalah rekanan bisnis ayahnya Sang Woo. Melihat lautan membentang sepanjang perjalanan membuat Seon Mi meminta mobil dihentikan sebentar.

“Anginnya kencang, kau tidak dingin?” Sang Woo memeluk Seon Mi

“Kebersamaan ini menghangatkan dan memberi perasaan nyaman. Kapan terakhir kalinya turun salju di sini?” Seon Mi bertanya ke Kim Gwang Seok. Ia mengatakan ia bahkan malas mendengar salju, hari-hari sedang cerah sekali. Namun ia ingin Seon Mi jangan khawatir karena segera akan turun salju yang lebat.

“Masih ada sedikit waktu sebelum pertemuan dengan orang-orang kantor. Kau mau jalan-jalan?” Tanya Sang Woo

“Benarkah? Boleh?”

“Tentu saja. Di Akita, istriku adalah bos. Asal jangan bilang kau tidak bersedia melakukan transplantasi.”

( Aw! Manisnya, >_<)

Kemudian Seon Mi mengajak Se Mi berjalan-jalan.

Malam harinya mereka melihat kembang api. Makan di rumah-rumahan salju, dan kembali.

Sang Woo bertemu seorang wanita, Sang Woo meminta Pak Kim menyampaikan rasa terima kasihnya dan bertanya apakah dia sudah menikah?. Pak Kim mengetakan pertanyaan seperti itu tidak pantas diajukan pada seorang gadis.

Sang Woo kemudian mengeluarkan tanaman sebagai hadiah dari pasien. Ini adalah bunga Daphne Odora. Ditanam sendiri oleh pasien. Dengan harapan bisa mengungkapkan rasa terima kasihnya.

“Sungguh indah sekali. Terima kasih banyak.” Katanya dalam bahasanya sendiri, Pak Kim menerjemahkannya.

Dalam perjalanan ban mobil depan pecah. Pak Kim memperbaikinya, Sang Woo melihat-lihat sekitar. Sang Woo melihat toko kayu, dengan bantuan Pak Kim Sang Woo ingin kotak musiknya Seon Mi diperbaiki. Pak tua mengatakan bahwa kotak musiknya sudah rongsokan dan harus diganti semuanya. Sang Woo meminta disampaikan diperbaiki karena ini adalah barang peninggalan berharga dari ayahnya Seon Mi. Pak Tua tersebut menyanggupi dalam beberapa hari akan ia selesaikan.

      Seon Mi ingin memberikan hadiah pada Sang Woo. Di dalam tasnya terdapat sebuah parfum racikan Seon Mi. Sang Woo heran kapan Seon Mi membuat ini?. Seon Mi mengatakan sebenarnya ia membuatnya sudah lama, setiap pagi ia bersembunyi di ruang ganti perawat dan membuatnya diam-diam.

“Parfum ini memiliki nama?” Tanya Sang Woo

“Lautan bersalju”

Seon Mi menyuruhnya mengocok parfum tersebut, seketiak gelembung-gelembung kecil terbentuk. Cantik sekali, Sang Woo berterima kasih atas hadiahnya. Seon Mi merajuk hadiahnya, tapi Sang Woo mengatakan hadiahnya akan ia berikan nanti setelah Seon Mi melakukan transplatasi.

“Sungguh? Kok rasanya seperti senjata rahasia?”

“Nantikan saja.”

“Persiapannya sudah selesai?” Tanya dokter.  Sang Woo meminta waktu sebentar lagi, ia memegangi tangan Seon Mi.

Bertanya apakah Seon Mi yakin bisa melewatinya? Seon Mi mengitakannya.

Sang Woo menunggu di luar. Operasinya berjalan dengan lancar. Sang Woo menjenguk Seon Mi yang terbaring tak sadar. Ia terharu.

 Pak Kim datang ikut senang, ia dengar operasinya lancar. Sang Woo tidak begitu yakin, bisa jadi nanti ada perubahan namun ia tetap mencoba percaya.

Sang Woo meminjam mobilnya Pak Kim untuk mengambil hadiahnya Seon Mi. Pak Kim menawarkan diri ia saja yang ambilkan kotak musiknya sementara Sang Woo menjaga Seon Mi. Sang Woo tidak mau, ia tetap akan mengambilnya sendiri. Pendonornya Seon Mi sudah terbangun, ia tersenyum melihat tanaman hadiahnya.

Sang Woo mengecek kotak musiknya, ia berterima kasih sekali. Sang Woo gembiara dalam perjalanan pulang,( ini adalah scene awal yang kita lihat di part 1), ia tersenyum-senyum bahka menyapa ibu dan anak dari mobil lain. Kendaraan konstruksi terlihat oleng dan mobil putih menepi menghindar. Sang Woo tidak melihat adanya mobil lain di hadapannya.

Mobil Sang Woo terpental jauh.

Seon Mi terbangun, ia senang memandangi salju berjatuhan dari jendela. Pak Kim datang dengan raut muka sedih.

Seon Mi mendatangi ruangan jenazah. Ia buka kainnya, tak percaya Sang Woo sudah terbujur kaku berlumur darah. Seon Mi mulai terisak, ia tidak percaya bagaimana ini bisa terjadi.

“Kenapa jantungmu begitu dingin? Kenapa jantungnya begitu dingin? Beritahu aku!”

Tangis Seon Mi makin menjadi-jadi, ia teringatkan kembali bagaimana saat kecil dulu ditinggalkan ayahnya.

Nam Kochi dan orangtuanya Sang Woo sudah mendapat kabar meninggalnya Sang Woo.

Di luar hujan namun Seon Mi mengatakan ke nenek bahwa di luar turun salju.

Setahun kemudian,

Seon Mi kembali ke Akita, ia memandangi lautan, mengeluarkan kotak musiknya terdapat surat dari Sang Woo yang tak pernah ia duga ada.

Sang Woo dulu menulis surat itu di mobil, kenangan kebersamaan mereka selama ini menyeruak ke dalam benak mereka meski di waktu yang berbeda.

Sang Woo: Beberapa hari yang lalu aku bermimpi sebuah mimpi yang aneh. Kau dan aku berjalan di sebuah jalanan bersalju di gunung. Saat hampir tiba di tujuan, dengan suara yang lembut kau berkata padaku…”Saatnya bagi kita untuk berpisah telah tiba. Jalan yang akan kita tempuh berbeda. Marilah kita menempuh jalan kita masing-masing.”

Jika mimpi itu adalah sebuah kenyataan, tidak akan pernah aku melepaskan tanganmu. Membayangkannya saja aku tidak sudi. Tapi aku yang berada di dalam mimpi sungguh berbeda. Sambil tersenyum aku berkata padamu…

“Hati-hati di jalan!” Bersamaan dengan saat aku menulis surat ini… Hatiku terasa sakit bagaikan dalam mimpi. Seon Mi, istriku yang paling kukasihi… Janganlah kita sampai terpisah lagi. Sehari, bahkan sedetik pun tidak boleh berpisah. Sekalipun kelak itu hanyalah sebuah perpisahan yang sementara…

“Kita pasti akan bertemu lagi, kan?” Tanya Seon Mi dulu sebelum masuk ke rumahnya diawal perkenalan mereka saat Sang Woo mengembalikan kotak musiknya.

“Iya.” Jawab Sang Woo.

Sekarang Seon Mi menangis tak tertahankan, salju pun turun di laut. Berkat Sang Woo tahun ini ia bisa menikmati pemandangan salju pertama jatuh di laut.

KOMENTAR:

      Nonton ini gara-gara Hae-jin, bodo amat mau jelek apa bagus ceritanya *hahahaha, ternyata lumayan bagus. Namun saya nontonnya dulu tidak lengkap, baru sepotong-sepotong, ragu-ragu melanjutkan bagian surat. Beberapa film maupun novel melow begini biasanya banjir air mata di bagian surat-suratan, tokoh utamanya mati dan meninggalkan surat yang menyanyat hati. Betapa baiknya Sang Woo yang rela melakukan apa saja demi kesembuhan Seon Mi, sabar sekali pada Seon Mi, sepertinya saya dulu masuk forum apa gitu dan membahas film ini dan rata-rata berkomentar kalau suami baik dan ganteng begini gak mungkin ada di dunia nyata *hahaha setuju!.

Hae-jin poninya ganteng banget! XD Kasep euy, kasep! Akhir pekan begini pantengin Hae-jin *hahaha.

Sampai jumpa postingan selanjutnya! Selamat berakhir pekan! Grazie ^-^V