[Cerbung] Nightfall, Light Up the Sky – Part 3

Pukul 15.56, Sabina masih di kantornya. Ia mendekati meja Sena, mengetukkan jarinya membangunkan Sena dari keasyikannya menyortir gambar. Sena langsung mendongak tersenyum memperlihatkan behel pelanginya.

   “Sen, bisa minta kontaknya anak yang kemarin tulisannya disemprot Attar? Kamu mengatakan apa saja ke dia? Tidak mengcopy paste mentah perkataannya Attar ‘kan?”

   “Tentu tidaklah.. mana tega aku? Kenapa Mba’? Mau Mba’ Sab ajukan naskahnya?. Aku baca sekilas sebenarnya idenya menarik Mba’. Tapi tahulah, Pak Attar seperti apa.. seleranya ketinggian.”

Sena melepaskan kaca matanya dan menggosok bagian berembunnya dengan tisu. Sebenarnya perempuan berambut tebal ini minusnya hanya sedikit, namun ia mengakui wajahnya terlalu polos jika tanpa kacamata.

   “Bukan begitu, aku takut dia jadi lemah dan membenci dunia kita, lalu menyerah. Tulisannya tidak buruk sih, cuman memang bukan seleranya Attar dan kebetulan Attar sedang marah padaku. Aku ingin ketemu anak itu atau kirimi dia e-mail. Akan kuberi pengertian dan menyemangatinya.”

    “Siap Mba’ Sab..,”

Sena mengetikkan sesuatu kemudian ponsel Sabina berbunyi. Pertanda e-mailnya masuk.

    “Sudah. Ayo pulang Mba’… Pak Attar akhir-akhir ini auranya mencekam… Aku takut!”

    “Oke..”

Mereka turun ke lobi tak berapa lama kemudian. Sabina terlihat celingukan mencari sesuatu, Sena tentu menyadarinya.

    “Mba’ Sab nunggu siapa? Mas Amar?”

    “Nunggu supir..” Jawabnya asal.

    “Mba’ Sab! Ngaco’ deh! Mana ada supir seganteng Mas Amar?” Tebak Sena.

    “Supirku Sen..” menunjuk Amar yang sudah tinggal dua langkah di dekatnya.

    “Eternal supir, dibayarnya pakai cinta.”

Sena tertawa kecil mendengar candaan Amar.

    “Kami duluan ‘ya?”

    “Yuk Sen..”

    “Iya, hati-hati…”

Sena kemudian mendapatkan taksinya tak berapa lama kemudian.

***

    Dalam perjalanan tersebut Sabina mendapati undangan bercorak ungu, pink, merah, diagonal garis-garis dengan latar belakang gedung sekolah. Ia tahu Amar pasti akan membawanya bersama ke event tersebut.

       “Reunian? Tapi aku tidak kenal dengan teman-teman kamu. Aku akan jadi obat nyamuk diantara mereka. Canggung…”

   “Sayang, tidak mungkin ‘kan aku datang sendirian..”

Amar menoleh sebentar kemudian fokus kedepan lagi.

   “Tapi tolong jaga aku, aku tidak akan mungkin bisa humble dengan orang-orang baru. Kamu kenal aku bahkan lebih dari diriku sendiri.”

   “Jangan khawatir…”

Tangan kiri Amar mengambil tangan kanan Sabina dan mengecupnya sekilas untuk menenangkan.

    “Temanku tidak banyak di Indonesia. Sebagian besar kamu sudah kenal semua Mas, sepertinya kamu cukup populer ketika sekolah, si atlet judo sekolah?. Apa tidak ada kisah kasih di sekolah versi Amar? Aku penasaran..”

Amar bisa mendengar ada nada antusias dan was was dari caranya berbicara. Sabina penasaran tapi disaat yang sama takut terluka.

    “Kisah kasih di sekolah versiku? Populer apanya? Biasa saja. Mungkin ada beberapa, tapi aku yakin kamu tidak akan mau dengar, perempuan biasanya akan lumayan cemburu dengan masa lalu pasangannya. Jangan sok kuat mau mendengarkan hatiku kemana saja sebelum berlabuh ke kamu Sab.. aku saja tidak akan kuat jika dengar cerita kamu dan masa lalu kamu, aku tidak ingin kamu sakit hati. Cuma naksir naksir anak kecil, suka sebentar lalu lupa dan berpindah ke lainnya.”

Amar ingin mendorong atmosfer ketidaknyamanan diantara mereka yang mulai terbentuk.

    “Baiklah.., bisa dibilang aku tidak pernah merasakan sekolah seperti anak kebanyakan. Ceritalah masa-masa putih abu-abu kamu..”

Kali ini Amar tersenyum tipis, Sabina ingin tahu sejarah hidupnya.

    “Aku STM TITL Sab.. kebanyakan temanku laki-laki, masa pendidikan yang kujalani saat itu 4 tahun. 3 tahun untuk pematerian seperti pada umumnya dan 1 tahun fokus praktek kerjanya. Sebelum lulus kami sudah dibooking oleh perusahaan untuk direkrut menjadi karyawan.”

    “Siswinya ada ‘kan? dan kamu belum kenal aku..”

Ada frasa cemburu di sana, meski bahagia sekali.. tetapi Amar hanya ingin bersorak dalam hati. Menjagai mood Sabina agar tetap tenang sekarang menjadi prioritas utamanya. Dan ia masih berusaha mempelajarinya.

    “Ada, juga lumayan banyak meski jadi minoritas di berbagai kelas. Aku baru tahu kamu saat tahun terakhirku, aku sering di kafe kukisnya Tante Ellen, karena kamu terkadang jadi kasir atau pelayannya. “

    “Aku home schooling, kalau kamu bilang tahun terakhirmu berarti aku kira-kira saat itu setara kelas 2 SMA lah. Aku di kafenya Tante Ellen cuma iseng, mengisi waktu luang. Jam belajarku ‘kan terserah aku. Lalu?”

    “Dari semua perusahaan yang ingin merekrutku, aku memilih perusahaanku yang sekaranglah untuk memulai bekerja. Aku benar-benar mulai dari bawah Sab, jadi anak baru yang banyak menerima rutukan verbal dan kekerasan fisik oleh para senior dan atasan..”

    “Kenapa tidak lapor?”

    “Harusnya begitu Sab, tapi aku akan dikucilkan dan mati secara sosial jika bertindak seperti itu. SOP memang ada, tetapi fakta lapangan terkadang lebih punya kehendak ketimbang tulisan plakat di dinding.”

    “Jadi kalau ketahuan bonyok atau babak belur kamu bagaimana? Orangtua kamu?”

    “Kudu pinter-pinter mengakali, bilang jatuhlah.. kesandung, dan segala macamnya. Tahun pertama yang berat. Badanku rasanya remuk semua. Namun tak lama semuanya berjalan dengan baik.”

Di luar mulai mendung dan sebentar lagi gerimis. Beberapa pengguna kendaraan beroda dua menepi untuk mengenakan jas hujan. Sabina masih sambil sesekali memperhatikan sekeliling selama Amar bercerita.

    “Lalu setelah dua tahun bekerja aku memutuskan sambil kuliah. Aku ambil kelas karyawan yang sabtu dan minggu, kadang aku juga mengikuti kelas malam di hari-hari aktif jam kerja. Singkat cerita setelah lama berselang aku mengajukan diri menjadi HRD, disambi menyelesaikan master. Dan sekarang inilah masih betah diposisi yang sama dengan tingkatan yang berbeda.”

    “Pasti lelah sekali ‘ya?”

Sabina lihat Amar pandangannya menerawang, nampaknya masa itu cukup berkesan bagi Amar.

    “Tentu tidak mudah, namun asal ikhlas menjalaninya dan niatnya baik aku menikmati prosesnya.”

Sabina manggut-manggut kagum.

    “Keren, aku jadi merasa seperti anak manja setelah mengetahui cerita kamu Mas… aku termasuk orang yang tidak suka belajar, apalagi terkekang oleh sistem pendidikan, terlebih negeri ini yang menurut riset termasuk terbelakang. Untungnya Tante Ellen mengenali tabiatku ini sedini mungkin, jadi tidak disekolahkan sekolah umum, aku bersyukur sekali.”

Amar mengangkat alisnya, nyaris sebuah kendaraan menyerempet mobilnya karena ugal-ugalan. Terlebih di cuaca sekarang ini.

    “Masa’ kamu tidak suka belajar? Kamu kelihatan seperti orang yang sudah membaca puluhan ribu buku dalam hidupnya. Kupikir pemikiran kamu 1000 langkah lebih maju dariku sab, kamu mempelajari ilmu dari sistem yang berbeda dan kaya akan sudut pandang. Jadi tolong maklumi aku kalau kalau terkadang pemikiranku kolot. Dan aku kadang juga takjub dengan ide-ide dan pemikiran kamu yang kelewat bebas. Agak sinting..”

Sabina terkikik kecil dengar dirinya disebut sinting oleh Amar.

    “Semisal?”

    “Pemikiran tentang tidak masalah hidup melajang seumur hidup, menyuruhku melakukan bayi tabung dan cari ibu pengganti, menyuruhku poligami, selingkuh. Kurasa tak banyak perempuan yang berani memikirkan hal semacam itu.”

Sabina berusaha memilah-milah apa yang menjadi pemikirannya tentang laki-laki dan duniawi ego mereka.

    “Laki-laki kebanyakan seperti itu Mas. Mereka selalu mengeluh jenuh dan tidak cinta lagi setelah lama menjalin hubungan, menuntut istrinya selalu cantik tapi tidak mau memberinya modal, ingin punya anak banyak tapi tidak mau tanggung jawab,”

Amar sabar mendengarkan, bagaimanapun juga yang istrinya utarakan ada benarnya juga. Sabina bahkan berapi-api menjelaskannya. Amar kadang menoleh sesaat melihat wajah Sabina.

   “Harusnya mereka berusaha untuk merawat apa yang mereka miliki, mencari sisi lainnya untuk dicintai, memperbaharui perasaannya, bukannya bosan lalu ganti dan seterusnya. Kalau pria memiliki mindsite tidak baik seperti itu.. yang jelas ia takkan pernah puas dan selalu mencari yang baru baru baru dan baru. Hidupnya tidak akan pernah tenang.”

Bukan kesal mendengarnya, justru Amar makin bangga.

   “Berhenti Sab.., kamu tak habis-habisnya membuatku kagum Sab. Seandainya saja aku tidak memiliki perasan cinta padamu, aku akan sangat mengagumi dan menghargai kamu sebagai manusia Sab.., seperti fans yang menganggumi idolanya.”

   “Oh, iya?”

   “Boleh aku sungkem padamu?”

Canda Amar. Sabina memukul ringan bahu Amar. Keduanya diliputi tawa.

   “Sungkem dulu dengan ibumu Mas. Aku jadi ingin punya anak laki-laki, bagaimana dia nanti jika ayahnya sudah seperti ini.. aku akan jadi ibu paling bahagia di dunia.”

Amar mengendikkan bahunya ringan. Sabina tersenyum lembut melihatnya.

   “Ibuku sudah sepenuhnya ikhlas menyerahkan aku padamu Sab, beliau sudah sangat tenang hidupnya, aku telah amat sangat membahagiakan beliau dan sekarang waktunya membahagiakan diriku sendiri.”

    “Membahagiakan diri sendiri?”

    “Caranya dengan membuatmu bahagia. Karena melihatmu bahagia membuatku berlipat-lipat bahagia, orang-orang yang tidak sedang jatuh cinta atau tak pernah dapat perasaan tulus ini akan berpikir aku sedang menggombal. Tapi pada kenyataannya, memberi kamu kebahagiaan dapat memenuhi kebahagiaanku sendiri Sab.. seperti siklus yang terus berputar.”

    “Seperti nyanyian surgawi, sweet liar..”

Sabina menggodanya, mau segaring apapun perkataan Amar tentu tak jadi masalah selama masih tulus dan tidak terlalu memaksakan kehendak.

    “Aku inginnya anak perempuan dulu, aku ingin lihat kloningan Sabina kecil seperti apa.. pasti manis dan imut anaknya.”

Utas Amar jujur, ia ingin sekali melihat Sabina versi kecil. Foto kanak-kanak istrinya benar-benar menggemaskan dan bagaikan malaikat kecil. Sayangnya Sabina tak sependapat.

    “Kog gitu? Percayalah, aku itu sangat membosankan sewaktu kecil.., jangan terlalu banyak berharap.”

Amar tertawa mendengarnya.

    “Kamu tidak tahu rasanya serumah laki-laki semua sih.. smack down-nan setiap hari, pulang-pulang ketiganya penuh lumpur sehabis main bola di lapangan becek, atau sampai sore tak ada di rumah kalau tidak dicari, kasihan Ibu’ iri pada ibu-ibu lainnya karena tidak ada yang bisa didandani. Kadang ayah memarahi ibu’ karena kami bertiga dijadikan kelinci percobaan dan didandani seperti anak perempuan.”

tahu fakta ini membuat senyum Sabina mengembang jahil. Ibunya pernah mendandani Amar seperti anak perempuan? Sepertinya akan seru jika Sabina bertukar cerita dengan ibunya Amar suatu saat nanti.

    “Aku ingin lihat fotonya!”

    “Huf, aku ingin membakarnya..”

    “Mas Amar… plis.. pasti cantik iya ‘kan?”

    “Tidak boleh..”

***

    Di halaman rumah mereka terdapat mobil hitam. Amar dan Sabina sama tak tahu siapa tamu mereka sepetang itu. Di halaman terlihat Tomo duduk di undagan tangga melambaikan tangan ketika Sabina dan Amar keluar dari mobil. Sabina menoleh ke Amar seolah bertanya mereka sedang berhadapan dengan adik mereka yang mana? Amar tentu sudah faham bagaimana perbedaan keduanya meski mereka kembar identik. Namun Sabina masih seperti teka teki jika mencari perbedaan mereka.

    “Kalau mau datang kenapa tidak bilang Tom?” Sapa Amar, seketika Sabina mengetahui bahwa ini Tomo yang sedang memakai kaca mata.

    “Tiba-tiba ingin mampir Mas, tadi mau ketemuan dengan Faizal di studionya. Tapi itu anak entah ada dimana, mau ajak dia ngisi di salah satu event, Faizal kan fans fanatiknya banyak. Dia ngajak ketemu di rumah Mas.”

    Tomo sedang merintis E.O nya, sementara ia baru mengurusi pesta ultah anak-anak, acara perpisahan, dan kegiatan berskala kecil lainnya. Kadang ia banyak belajar dari Ikrom yang sudah profesional dan tinggi jam terbangnya bagaimana menghadapi kemauan klien yang aneh-aneh.

    “Fans? Kebanyakan ABG labil Tom.. sejak kecil adikku itu dia seperti lampu yang dikerubungi laron.”

Ketiganya tertawa.

    “Ya sudah, magrib dulu yuk..”

Ajak Amar masuk ke dalam.

***

    Faizal berada di taman salah satu taman masjid setempat dekat studionya, ia berusaha memberikan pengertian pada Tiur yang salah paham padanya.

    “Yang di kode-in siapa.. yang kegeeran siapa.. aduh!”

Faizal meremas rambutnya sendiri, kesal.

    “Aku itu ngode in temen kamu! Bukan kamu.. eh busyet! Jangan bilang aku ini php ‘ya? Kamu yang kegeeran Tiur.. Aku sukanya sama si Farah.”

Faizal bicara ceplas ceplos pada perempuan berambut pendek gaya bob itu.

    “Tapi kog pas banget rasa-rasanya sih Zal, aku kan jadi merasa.. merasa kamu suka aku..”

    “Soalnya kamu dekat dengan Farah. Otomatis jika Farah aku flirting-in… alias main mata ke dia, kamu pun ngerasa, atau ketika aku perhatian sedikit saja kebetulan kamu juga ada didekatnya. Atau ketika aku caper ke Farah aku memanfaatkan keberadaan kamu juga supaya Farah tertarik padaku.”

    “Iih..!! Faizal rese’!”

Tiur menghentakkan kakinya kesal.

    “Kamu yang salah sangka Tiur.. terserah kamu mau menyebutku apa. Tapi yang jelas kamu salah paham..”

    “Maaf ‘ya Tiur, aku sukanya sama Farah. Bukan kamu, jangan baperan dan salah paham lagi.. oke?! Peka dan kegeeran terkadang beda tipis. Saranku, jangan mudah baperan!”

Kejadiannya selalu seperti ini. Faizal menyukai seseorang dan berusaha mendekatinya. Selalu berulang kembali, orang yang Faizal suka biasanya dekat dengan seorang kawannya dan sering kemana-mana bersama. Tiap Faizal mencari perhatian gadis pujaannya, justru teman gebetannya yang berlebihan menanggapinya. Sial besar disalah pahami seperti ini lebih dari sekali. Meski ia bilang jatuh cinta pada seorang tuna rungu. Namun rasanya mustahil bagi Faizal untuk tidak menggandeng perempuan dalam waktu dekat.

    “Huh! Gara-gara Tiur aku harus cancel ketemu dengan Tomo.”

Faizal bergegas mengenakan helmnya menuju rumah Amar.

***

     Tomo sedang ke kamar mandi, seharian ia banyak berkeliling sampai bau keringat, ia akan membersihkan dirinya. Ia dipinjami baju Amar.

Amar di ruang keluarga memencet-menceti remot tv entah apa yang dia cari.

Sabina mendatanginya, Amar merasa tenang sekali melihat Sabina mengenakan kerudung warna abu-abu. Amar melarangnya melepas kerudung jika ada Tomo dan Tama, sedangkan Faizal adalah adik kandung Sabina, Kang Arip itu sepupu yang tak doyan wanita. Ketika Sabina bertanya apa alasan logisnya, Amar menjawab selain karena alasan syari’at, ia pikir T Two akan memandangi Sabina-nya tanpa berkedip dan itu justru membuat Amar kesal. Tidak boleh!

    “Mas Amar…”

Sabina mengambil duduk di samping kirinya.

    “Apa?”

    “Aku ingin sekali memotong kuku di ibu jarimu. Itu sangat mengganggu mataku, apalagi kalau kamu sudah mencubit pipiku rasanya sakit, tahu tidak?!”

    “Aku akan hati-hati mulai sekarang, permintaannya diganti saja bisa tidak?”

    “Tidak mau, ini kuku rese’ banget menurutku. Aku saja perempuan tidak pernah memanjangkan kuku..”

    “Kamu tahu ‘kan, ponselku layar sentuh dan tombolnya sebiji-biji. Jariku kadang salah pencet jika menulis pesan, aku butuh kuku kuku ini sayang…”

    “Alasan. Layarnya dirotasi..”

    “Ribet..”

    “Pokoknya aku ingin memotongnya. Lihat pergelangan tanganku jadi merah karena kuku kamu!”

 Sabina tunjukkan jari jemarinya dan menunjuk pergelangan tangannya pada Amar, membuat Amar ingin menggenggamnya tapi tahu diri kalau situasinya tidak tepat, Sabina sedang merajuk padanya.

Sabina sudah menyiapkan gunting kuku sejak tadi. Ini rasanya seperti ngidam, ingin sekali menghilangkan kuku panjang di kedua ibu jari Amar. Entah tujuannya apa dibiarkan tumbuh begitu saja hanya di bagian ibu jari. Yang jelas Sabina menjadi korban kuku kuku tersebut, sudah lama ia ingin mengutarakan niatnya namun terlupa terus. Penderitaan ini harus diakhiri sekarang juga! Potong kukunya! Potong! Potong! Terngiang-ngiang dalam kepala Sabina seperti jargon sebuah partai yang sedang kampanye saja.

    “Sab… kumohon, minta yang lain saja? Aku baru gajian bulan ini. Masih tanggal muda lihat..”

Tunjuknya ke kalender di dinding. Sabina mengenggeleng kesal, tidak akan!

    “Tidak bisa. Tepati perkataan kamu sendiri, aku menagihnya sekarang!”

Dengan amat sangat terpaksa Amar menyerahkan kuku kukunya yang ia rawat untuk Sabina bunuhi. Alasan Amar memanjangkan di bagian ibu jari tidak penting sebenarnya, hanya suka saja melihat tangannya sendiri seperti itu sejak dulu. Kalau ia katakan alasannya pada Sabina, terlebih tidak penting lagi!, Amar bisa merasakan pasti sudah dicekik sejak tadi.

Sabina senang sekali melihat kepasrahan kedua ibu jari Amar, ia tersenyum puas melihatnya. Ia menghilangkan sumber malapetaka tersebut sesegera mungkin. Amar suka melihat Sabina ceria seperti ini, namun teringat kuku kuku kesayangannya akan dipangkas rasanya campur aduk. Sudah menjadi kebiasaannya semenjak remaja, terlebih ia suka memandangi ibu jarinya yang sebelah kiri. Kemudian Sabina membuka telapak tangan kanan Amar dan meletakkan kedua potongan kuku tersebut ke tangan Amar seperti hadiah.

    “Kamu sadis..” gumam Amar.

Amar memandangi telapak tangannya dengan sedih.

    “Kamu menyebalkan ‘ya? Sampai kuku diperhatikan juga. Sepertinya alisku rontok dua helai pasti kamu juga akan menyadarinya..”

    “Aku ke dapur dulu.., bye…”

Sabina meninggalkan Amar yang masih nelangsa melihat tangannya sendiri.

    “Ajaib, bisa-bisanya kuku tanganku dia urusi sebegitunya..”

***

    Sementara Sabina berkutat di dapur menyiapkan makanan malam, Tomo curhat ke Masnya tentang ia yang tak berani mengatakan isi hatinya ke gadis pujaannya. Serba salah Tomo menerima pertanyaan, aku ini bagimu apa? Lantas aku.. kamu anggap apa Tom?.

    “Jangankan kamu Tom, kalau Sabina bertanya seperti itu 3 atau 4 tahun lalu dijamin Mas tidak akan berani menjawab.”

Jelas Amar dengan geli. Tomo bukan seperti Amar yang memilih jalannya lurus seperti itu, ia masih memandang segala sesuatunya dengan normal saja.

    “Bagaimana kalau aku tanya itu sekarang?”

Sabina datang membawa mie kuah buatan sendiri, ia giling adonan terigu dan simpan di kulkas pagi tadi untuk dimasak sore ini. Untung saja cukup untuk Faizal dan Tomo juga. Tomo sudah tersenyum melihat asap kuah yang mengepul halus.

    “Silakan..”

Senyum Amar terulas malu-malu.

    “Mas Amar, bagimu aku ini apa?”

Sabina bertanya, Tomo sangat menikmati aura kebahagiaan ini. Sebelum mengatakannya Amar menarik napasnya cukup dalam, entah mengapa dilanda gugup sekejab.

    “Bagiku kamu adalah separuh nyawaku Sab, setiap tarikan serta hembusan nafas ini, setiap sel-sel darah di tubuhku, alam bawah sadar maupun nyataku hanya menginginkan kamu seorang.”

Pipi Sabina sedikit memerah mendengarnya, menoleh ke Tomo untuk mengatasi rasa canggungnya.

    “Tom… Mas kamu pernah ngomong seperti ini ke orang lain?”

Tomo tersenyum jahil, menggoyangkan tangannya.. seolah mempertegas pernyataan tidak pernah!

    “Tidak pernah Mba’. Kalau sudah pernah pasti aku gantung sejak tadi Mba’.. hahah! Bukan Mas Amar sekali.. bulu kudukku berdiri semua mendengarnya.”

Tomo melihat lengannya, memperhatikan bulu-buli halus di tangannya benar-benar berdiri.

    “Aku tidak mengerti kenapa ‘ya Tom, tak jarang tiap Mas kamu menceriterakan isi hatinya malah terdengar mengerikan di telingaku.”

    “Loh kog bisa Mba’?”

    “Kamu tahulah! Aku merasa dipuja-puja seperti berhala, seolah tidak punya cacat Tom. Itu menakutkan… aku ini bukannya bidadari yang tidak punya dosa.”

Amar hanya tertawa kecil melihat kelakuan adik dan istrinya ini.

    “Benar juga sih Mba’. Rasanya seperti, Sabina terima cintaku atau kau akan mati! Kalau kau menolak, aku akan membunuhmu lalu akan bunuh diri.”

    “Kamu tidak akan mengerti Tom, karena kamu belum menemukan seseorang yang demi dia kamu akan rela melakukan apa saja.”

Jelas Amar sekenanya.

    “Iya deh Mas… Kalau Faizal di sini dia bakal nyanyi apa ‘ya?”

yang dibicarakan langsung datang. Faizal memang tak pernah mengetuk pintu atau memencet bel jika datang. Ia sudah menganggapnya rumah sendiri.

    “Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang… memanggil rinduku padamu owuowooo~.. kau seperti udara yang kuhela.. uhuk uhuk! Uhuk! Efek manggung di kelab semalam.”

Semuanya menoleh ke arah Faizal, endingnya suara Faizal agak serak, terbatuk-batuk keras seperti orang TBC. Faizal sendiri asal mencomot gelas siapa saja dan meminumnya cepat.

    “Kalian lagi ngobrolin aku? Tes vokal sebentar.. lihat Mas Amar bawa’annya aku kepengen nyanyi Dealova. Lagunya rada’ freak bagiku. Mas Amar jadi freak kalau sudah dengan kakakku, untung kakak tidak disekap 24 jam sehari 7 hari dalam seminggu dalam rumahnya. Hahaha!”

Faizal tanpa ditawari segera memakan mie kuah bagiannya.

   “Faizal akan menyanyikan itu Tom..” Kata Sabina memperhatikan adiknya.

   “Pas banget..” timpal Tomo.

Amar balik bertanya.

   “Lalu bagimu aku ini apa Sab?”

   “Segalanya. Dulu aku sering bertanya-tanya dan gamang sendiri, perasaanmu seperti sebuah PR Mas.. aku tahu jawabannya namun aku ingin tahu koreksinya langsung dari gurunya. Aku ingin dengar langsung pengakuanmu..”

   “Dan sudah aku koreksi, nilai kamu 100..”

Sabina mengerjapkan matanya geli, ada-ada saja pembicaraan mereka kali ini.

Cepat sekali Faizal menghabiskan makanannya. Tomo jadi tidak nafsu makan melihatnya. Faizal dan si kembar lahir di tahun yang sama, namun Faizal lahir Desember sehingga ia termuda. Namun Faizal tak sudi memanggil T Two dengan Mas atau Kak.

   “Ayo Tom, kita obrolkan bisnis kita lebih serius.”

   “Mau kemana? Enggak di sini aja?”

Faizal sudah hendak menyeret Tomo sejak tadi.

   “Peka dong.. biarkan mereka berdua’an. Mas Amar, kita pinjam ruang belajar di lantai dua ya?”

    “Kalau sudah selesai dibersihkan.., kamu biasanya corat-coret kertas banyak berserakan di meja!”

    “Sip Mas!”

Keduanya meninggalkan Amar dan Sabina di bawah.

***

     Bel rumah mereka berbunyi, siapa yang bertamu kali ini?. Sabina dan Amar mengeceknya.

     “Endri?” Gumam Amar.

Sabina dan Amar memperhatikan dua orang di depan pintu rumah mereka melalui interkom. Endri CEO nya Amar bersama seorang wanita berambut lurus hasil catokan.

     “Kamu kenal?”

Tanya Sabina heran. Amar nampak terkejut.

     “Katanya memang ada tetangga baru, tinggal di rumah tepat sebelah rumah kita. Itu pasti mereka?”

Jelas Sabina, beberapa waktu lalu Istri Ketua RT di lingkungan tempat tinggal mereka mengatakannya ketika Sabina datang menemui beberapa ibu-ibu lainnya di rumah Ketua RT.

Amar dengan sopan membukakan pintu rumahnya dan tersenyum ramah pada kedua bakal calon tetangganya. Sabina juga melakukan hal yang serupa.

     “Amar! Kita akhirnya bertetangga juga, oh iya.. ini istriku Jeni.”

Mereka bersalaman, Endri sekelas tadi mengedipkan sebelah matanya pada Amar untuk tutup mulut. Karena Amar mengetahui istrinya Endri bukan Jeni. Pasti Jeni istri keduanya Endri.

    “Jeni..”

    “Amar..”

    “Jeni, mba’ ini ada sedikit buah tangan.”

    “Sabina. Oh ya? Terima kasih..”

Sabina menerima bungkusan yang entah apa itu di dalamnya.

    “Sudah dulu ‘ya Amar, mau menyapa tetangga yang lainnya.”

Pintu ditutup. Amar tercengang sendiri, sementara Sabina membuka isi bungkusan makanan tersebut. Berusaha melihat apa isinya.

    “Itu tadi Endri yang suka pamer ‘ya? Yang sering kamu ceritakan.”

    “Aku tidak pernah menyebut dia tukang pamer Sab…”

Keduanya menuju dapur, Amar duduk bangku tinggi dekat mini bar, Sabina menuju bagian dalam dapur dan mengabil piring datar dari laci, mengeluarkan pemberian Jeni tadi. Ia sedang flu dan indera penciumannya tak sekuat ketika sehat.

    “Tapi dari cerita kamu, seolah menggiringku untuk berpikir Endri itu tukang pamer. Alamat apes tidak ‘ya punya tetangga model begitu? Istrinya cakep, mirip model..”

Amar heran dengan Sabina, mudah saja memuji cantik pada siapa saja. Bahkan ke laki-laki juga dipuji cantik. Semuanya ia puji cantik.

   “Sab…, jangan negatif mikirnya, setahuku istrinya Endri bukan yang tadi. Pasti Endri menipu gadis polos lagi.”

   “Nah ini! Perasaanku sudah tidak enak dari tadi.”

 Ia sedikit melemparkannya ke atas piring.

   “Apa? Kenapa?”

Amar lihat apa yang membuat Sabina terkejut.

   “Durian.. “

Mata Amar berbinar-binar mendengar durian disebut. Sementara Sabina menatapi risih pada bungkusan sterofoam berisi penuh durian yang sudah dilepaskan dari kulitnya.

    “Aku lupa bilang ‘ya Sab, aku suka sekali durian..”

Kali ini mata Sabina melebar syok melihat Amar. Amar suka dengan benda tidak sedap ini? Benda menjijikkan yang baunya seperti gas bocor ini? Yang benar saja? Sabina akan memusuhi keberadaan Amar sementara waktu.

   “Jangan dekat-dekat denganku setelah memakan ini ‘ya?! Tidak 5 cm pun, tidak boleh! Jangan tidur denganku malam ini. Permisi.. kita nggak usah kenal dulu selama beberapa waktu.”

Sabina kemudian berjalan pergi meninggalkan bungkusan itu begitu saja. Amar menyeringai geli melihatnya.

   “KDRT itu namanya! Aku tidak akan memakannya sekarang. Sudah berapa kali kamu mengusirku dari kamar sendiri?”

    “Terserah!”

[Cerbung] Nightfall, Light Up the Sky – Part 2

    Hening sesaat tatkala Faizal mengatakan bahwa ia sedang jatuh cinta pada seorang perempuan tuna rungu. Amar dan Sabina tak berani banyak berkomentar. Seorang Faizal yang suka gonta-ganti perempuan kini jatuh cinta sungguhan dengan hati terdalamnya. Namun Faizal tak hendak membahas lebih jauh lagi, ia baru mengenal perempuan itu ketika beberapa saat lalu sering antar jemput Sabina ke tempatnya Shafa.

Pembicaraan sengaja Faizal setir ke kehidupan Amar dan Sabina kembali. Faizal cukup penasaran dengan kisah cinta kakaknya, bagaimana pun juga ia baru mengetahui bahwa kakaknya menyukai Amar sejak lama. Sabina cukup tertutup perihal masalah hatinya.

Faizal benar-benar geli dengan kakaknya yang menurutnya kelewat bodoh, Amar menceritakan bagaimana stresnya dia ketika Sabina hilang ingatan. Ia ratusan kali bertanya pada Sabina apa yang dia mau agar diizinkan memasuki kehidupannya. Terlalu kacaunya Amar sampai menawarkan kartu kredit dan ATM beserta pinnya. Sabina mengelak ia merasa dibeli kalau menerima semua uang Amar. Murahan dan menjijikkan. Faizal tercengang mengetahuinya.

    “Serius kalian ini bukan anak SMP? Kakak itu yang norak, laki-laki itu.. kalau sudah suka seseorang biasanya ada keinginan untuk memberi. Berupa barang atau uang, juga perhatian, biasanya aku juga begitu.. perasaannya disalurkan segala sesuatu yang berwujud dan bisa dilihat. Itu namanya ego lelaki, alias kebanggaan diri.. ada rasa bangga tersendiri melakukannya. “

    “Pantesan mantan kamu matre semua ‘ya? Royalnya adekku ini..”

Sabina memuji Faizal seolah bangga, padahal sedang menyindir.

    “Itu namanya cinta.. Kakak.. ya ampun, makanya jangan heran kalau dulu Mas Amar begitu. Karena normalnya seperti itu..”

    “Tapi ‘kan aneh Zal, untung dia ketemunya aku. Coba setipe mantan kamu bagaimana? Abis itu duitnya.”

    “Ya itu Kakak yang o’on, tinggal minta kartu kredit sama pin ATM malah gak mau? Kakak ini gak main otaknya. Ckckck, coba aku jadi kakak ya? Akan ku daya gunakan semua kekayaan Mas Amar dengan bijak.”

    “Mas Amar tidak seperti kamu ‘ya.. gak suka buang-buang uang buat yang gak penting.”

Sabina ikut duduk di bawah menjewer kuping adiknya. Faizal mengernyit kesakitan meminta tolong pada Amar. Amar hanya mengangkat bahunya asyik menonton obrolan kakak beradik ini.

    “Aduh!…aduh aduh! Ya karena Mas Amar sudah di titik bingung plus bosan mau ngapain sama duitnya Kak, karena saking banyaknya. Lagi apes aja dia sukanya sama Kakak…”

    “Faizal… kakak punya uang sendiri, jangan minta yang macam-macam dari Mas Amar tanpa sepengetahuan kakak ‘ya?!.”

Sabina melepaskan tangannya dari kuping Faizal. Faizal mengusap-usap kupingnya kesakitan.

    “Apa?! Makanya Mas Amar, bagi modal buat aku memproduseri band kami. Atau bantu mewujudkan mimpiku membuat label indie sendiri, RCM Label.”

Amar mengerutkan alisnya.

    “RCM? Seperti pernah dengar..”

Amar tertawa mendengarnya.

    “Republik Cantrang Manajemen! Aku akan ajak para nelayan bikin lagu demo melaut. Hahaha!” Tukas Faizal asal.

    “Jangan Mas, jangan nuruti anak rese’ ini.”

    “Boleh, kalau dia bisa melipatkan modalnya 3 kali lipat paling tidak. Aku setuju..”

    “Mas Amar… i love you!!”

Sabina malas menanggapi keduanya.

***

    Amar membolak-balik salah satu majalah anak yang dibawa khusus Sabina untuk anak-anak pengajiannya Shafa. Sabina sedang memperhatikan sobatnya tersebut bercerita.

   “Aku lebih suka Shafa ketimbang ISK. Ukhti dalam artian yang sebenarnya.. pikir deh Mas, dia gak punya akun pribadi media sosial, ada instagram dakwahnya tapi itu cuma ada contact person komunitas serta foto kegiatan anak-anak. Alami sekali dan sholehah orangnya..”

   “ISK siapa? Artis itu? Sholehah tau’ kelihatannya.. patut ditiru remaja sekarang.”

Amar menanggapi tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah.

   “Kamu ngerti gak maksudku? Harusnya para muslimah yang suka pamer foto dan kegiatan pengajiannya malu sama Shafa.”

   “Lhoh, maksudnya? Itu bukan pamer sayang.. tapi menggalakkan dan menyebarkan kebaikan.”

   “Jadi muslimah sejati, tidak perlu menunjukkan kesalehannya biar dicap saleh dan baik.. cukup Tuhan saja yang tahu.. dan aku belum bisa seperti dia,”

Amar menutup majalahnya dan menatap dalam-dalam mata istrinya.

   “Kamu tahu jalannya, tinggal dilaksanakan saja pelan-pelan. Berproses denganku juga.. kamu itu idaman sekali Sab bagi laki-laki muslim yang beres otaknya… dan lagi, kata Kak Makki kamu adalah orang yang sangat mungkin bisa sebulan tidak pegang ponsel dan tetap bahagia. Kog bisa?”

Sabina memutar matanya, lagi lagi Kak Makki menceritakan hal yang tidak-tidak.

   “Karena dunia ini sudah tak begitu menarik bagiku mungkin? Penilaian dimata manusia sudah tak begitu ku perlukan..”

   “Cuek itu namanya. Kita harus jaga silaturahmi dan silaturahim sayang.. meski nanti di hari perhitungan amal sekalipun aku tidak bisa disisimu atau menggantikan perhitungan amal kamu.. dari merekalah kita mendulang amal selama di dunia.. makanya jangan dijahatin.”

Sabina menyipitkan matanya. Semenjak jadi istrinya Amar pembicaraan mereka bisa mengalir kemana-mana, akan terdengar aneh bagi orang lain tapi mereka selalu mengobrol begitu. Meski tak berdebat dan bertengkar tidak jelas seperti ketika Sabina lupa ingatan, mereka selalu adu argumen.

    “Aku melakukannya Mas.. tapi dengan ketemu langsung, aku tidak terima ya.. kamu sebut cuek!. Jadi biasa aja kalau semisal aku berada disituasi gak pegang ponsel selama sebulan, orang ada laptop dan komputer juga.”

   “Kita ngomongin apa sih tadi?”

Amar gemas melihat Sabina wajahnya sudah agak masam.

   “Definisi wanita sholehah yang sejatinya. Shafa adalah buktinya.”

   “Bagiku kamu sudah sholehah, dan akan selalu sholehah dimataku. Tidak ada definisi secara pakem harus seperti apa. Inti dari semuanya adalah dia.. Shafa tidak congkak atas apa yang dia kerjakan, miliki, serta perjuangkan. Kamu juga mempunyainya Sab.. “

   “Dasar tukang rayu..”

Amar menggeleng melihat senyum Sabina sudah mengembang dan pipinya bersemu kemerahan.

   “Serius, aku tidak suka menggombali kamu… percuma juga, bukannya dibales jawab so sweet tapi malah di-skak balik, untuk ngeromantisin kamu agak susah.. kamu itu beda dari yang lain, agak ngeselin sedikit Sab.. tapi ngangenin. Kapan kelarnya nih? Tiba-tiba sudah jam empat sore aja, ayo pulang..”

   “Sabar..”

Amar memandang Sabina sebal.

Sabina hanya meliriknya dan kembali mendengarkan Shafa. Shafa masih sibuk mengajari anak-anak itu. Beberapa menit kemudian datang beberapa wanita lainnya menggantikan Shafa. Shafa kemudian mengajak Sabina dan Amar ke gazebo belakang mengobrol.

    Sore itu angin semilir menerpa dedaunan tanaman hijau di sana. Kota mereka memang jarang terlihat matahari sejak pagi sampai siang.

Shafa menyiapkan minuman dan makanan ringan.

   “Silakan diminum Sab.. Mas Amar..”

   “Iya. Shafa, aku tanya sekali lagi. Kenapa kamu tidak pilih Kahfi saja? Aku bukannya tidak suka kamu dengan Kang Arip, tapi ini rumit Shafa..”

Shafa menggeleng ringan. Tiap kali Sabina bertanya hal tersebut ia selalu mengatakan tidak.

    “Kamu sudah tahu jawabanku Sab..”

    “Kalau boleh tahu sejak kapan kamu suka Kang Arip? Sabina sempat cerita kalau dia kaget betul mendengar permintaan kamu Shafa.”

Shafa tersenyum mendengar pertanyaan Amar, matanya memandang jari jemarinya yang saling meremas dan bertaut karena gugup. Memikirkan Arip dan permulaan ia bisa jatuh cinta padanya.

    “Sejak Sabina mengajaknya kemari. Mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu. Semula suka saja melihatnya.. lama-lama keterusan jadi suka semua hal tentangnya.”

Sabina heran bagaimana menanggapinya. Shafa dan Arip belum bertemu karena Arip terus menolak permintaan Sabina. Namun Sabina akan membuat keduanya bertemu minggu depan.

    “Minggu depan kamu tolong luangkan waktumu sebentar ‘ya Shafa.., kita ngobrol lebih serius lagi.”

   “Aku usahakan Sab, maaf tidak bisa mengobrol lama. Aku masih ada urusan.”

Ketiganya beranjak hendak pergi. Sebelum Shafa pergi Sabina mengajukan pertanyaan.

    “Ngomong-ngomong ada tidak perempuan seumuran Faizal yang tuna rungu disini Shafa?”

Shafa tampak berpikir.

    “Ada sih, tapi jarang-jarang kemarinya. Zidna namanya, dia tinggal di sekitar daerah sini juga kalau tidak salah. Ada apa ‘ya Sab?”

Sabina menggeleng. Sedangkan Amar menahan senyumnya, perihal Faizal yang playboy katanya sedang naksir Zidna.

    “Nanti aku jelaskan. Kami pulang dulu ‘ya..”

***

  Malam harinya Sabina dan Amar menonton tv di ruang keluarga. Tama menghubungi Amar mengatakan temannya Tama ditahan polisi atas penyalahgunaan senjata berapi, Amar hendak menyusul ke kantor polisi dan menjadi penjaminnya. Sabina melarangnya, sudah hampir tengah malam dan di luar hujan deras sekali. Jarak pandang Amar akan kabur ditengah hujan, ia bisa kecelakaan kalau tidak hati-hati. Amar meyakinkannya tidak akan terjadi apapun, Sabina tak perlu khawatir.

  “Kamu merasa bertanggung jawab atas segala sesuatunya. Mengurusi masalah semua orang! Itu salah menurutku. Berhentilah bersikap seperti itu! Biarkan mereka menyelesaikannya masing-masing!”

Amar menatap Sabina lembut.

   “Jika dimata orang-orang aku seperti itu, toh bukan salahku ‘kan Sab? Kekuranganku selama ini tertutupi begitu saja tanpa aku bermaksud menjadi sempurna. Tapi ‘kan kamu istriku, mengertilah posisiku, aku bersikap begini karena aku tidak sampai hati membiarkan mereka kesulitan…”

   “Justru karena aku istrimu, makanya aku ingin mengerem sikap sok heroik kamu itu. Jangan bilang kalau kamu ketemu orang gila di jalan pasti kamu kasih uang atau makanan?”

Amar menggaruk tengkuknya dan matanya berkedip tak fokus. Heran betul kenapa Sabina bisa menebaknya semudah itu? Apa memang ia semudah itu untuk ditebak orang-orang? Atau hanya Sabina?. Tidak menjawab, bagi Sabina itu artinya iya.

    “Iya ‘kan? Aduh, sudah kuduga… Mas Amar, kamu benar-benar membuatku jengkel..”

Dan tanpa diminta ia memeluk Amar, bersandar di dada kirinya mendengarkan detak jantung Amar. Gemas dengan kelakuan Amar tak jauh beda dari ekspektasinya. Konyol.

    “Kalau jengkel kenapa dipeluk?”

Amar menahan senyumnya, terkesiap. Padahal ia sudah menyiapkan mental untuk ditampar dan sejenisnya.

    “Jengkel kenapa kita tidak nikah dari dulu saja?”

    “Hei… Aku tidak mau kamu berada disisiku ketika aku sedang berada di titik terbawah hidupku. Simpel, kepengen kamu senang terus meski tidak tahu kamu maunya apa saja? Setidaknya aku ingin membuat kamu bangga karena sudah dipersunting olehku.”

Amar mengendikkan bahunya. Sabina tak pernah ambil pusing soal materi yang acap kali Amar bahas. Kini pun ia tahu dari mana saja pundi-pundi Amar berasal, selain pekerjaannya sekarang Amar memiliki beberapa usaha dipelbagai bidang, Amar pernah menjelaskannya secara rinci dan gamblang. Kata Amar seluruh uangnya adalah milik Sabina, uang Sabina adalah miliknya sendiri. Dia takkan membuat surat pemisahan harta seperti yang orang kebanyakan lakukan, mereka juga tak membuat surat perjanjian pranikah, namun ada janji-janji tersendiri yang mereka buat ketika sama-sama saling mengutarakan isi hati untuk pertama kali beberapa saat lalu. Sabina mempercayai Amar dan sebaliknya. Amar mempercayakan Sabina yang mengatur semuanya. Sabina tak pernah mengerti dengan gengsi lelaki ini.. soal uang, kendaraan, rumah, tabungan. Sabina bukan perempuan matre, ia punya uang sendiri bahkan lebih banyak dari Amar tapi ia tak ingin Amar mengetahuinya dulu.

   “Kita nikah sudah berapa lama? Kenapa jantung kamu detaknya masih tidak karuan?.”

Sabina mengernyitkan kedua alisnya mendengarkan dentum jantung Amar. Terdengar seperti habis lari maraton.

   “Mungkin karena terlalu bahagia?. Tahu tidak? Lihat kamu senyum sampai tersipu-sipu itu tidak baik bagi kesehatan jantungku. Nyaris aku terkena serangan jantung.”

Sabina tertawa mendengarnya. Tapi detak jantung Amar benar-benar bertalu dengan ritme acak saat ini.

   “Kalau begitu aku akan senyum terus biar kamu cepat mati!”

   “Astagfirullah..”

   “Bercanda.. “

   “Kalau aku tidak kamu bolehin keluar, aku takkan pergi.”

   “Pinter..”

Sabina mencubit hidung Amar lalu keduanya tertawa. Sabina beranjak meninggalkan Amar untuk naik ke kamarnya sendiri.

   “Mau kemana?” Tanya Amar bingung.

   “Tidur! Besok aku ada meeting penting pagi-pagi sekali. Kita LDR an malam ini.”

Amar antara rela tak rela membiarkannya. Tapi ia tidak mau egois. Sabina sudah menaiki banyak anak tangga. Terpaksa Amar melambaikan tangannya seperti mau pisah jauh saja.

   “Kamu gila ‘ya?” Sabina menanggapinya dengan geli, balas melambaikan tangannya juga. Amar jadi agak sinting setelah menikah dengannya.

   “Sab, kiss bye!”

   “Ogah!”

   “Selamat malam sayang, mimpi yang indah indah ya..”

   “Malam, sampai ketemu besok pagi..”

Ia berlari cepat menuju kamarnya sendiri. Amar lanjut menonton tv, ia akan begadang menonton siaran bola tim favoritnya. Kebetulan ia berlangganan tv kabel siaran resminya.

***

   Pertemuan hari itu berjalan dengan baik meski suasana hati Attar tidak baik. Semua orang keluar dari ruangan setelah rapat usai, tinggal Sabina dan Attar. Mood Attar sedang sangat buruk, ia yang biasanya mudah menerima ide dari bawahannya berubah menjadi ketus dan serba tidak puas.

Seperti halnya saat membalik-balik sebuah naskah print-print an yang dibendel ini.

   “Bodoh! Ini lebih seperti kata-kata mutiara terpisah-pisah yang ditempel-tempel paksa dalam satu wadah oleh penulisnya dan dia merasa puas serta bangga setelah melakukannya. Dia pikir itu keren, tapi sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia literasi.. kita menilai ini bodoh sekali, jelek! Dia enggak punya sense of sastra.. jadi penulis fiksi itu susah, tapi pria ini sok keren.. bungkus! Mendingan ini orang jadi joki skripsi aja deh.. jangan jadi novelis!”

Attar naik darah, moodnya sedang buruk sekali. Kali ini ia memarahi Sena karena membawakan draft seorang novelis muda yang memaksa-maksa ingin dipertontonkan karyanya ke Direktur langsung sebelum menyerah pergi. Sena yang tidak tegaan pun menginterupsi rapatnya Sabina dan Attar membahas perkembangan mereka sebulan ini.

Sabina mengernyit heran melihat Attar, sebenarnya ia ingin tertawa keras mendengar ketika Attar mengatakan bungkus! Tapi Sabina tahan, terserah Attar mau bilang apa.. sepuas-puasnya Attar saja. Sekalipun apapun yang keluar dari mulut Attar semrawut.

    “Tapi Pak Attar, orangnya tidak mau pergi sebelum dengar pendapat langsung dari Pak Attar..”

    “Sena, keluar sekarang!”

Attar membentaknya. Sabina menatap iba pada Sena meminta Sena memaklumi suasana hati Attar. Sena mengambil draft tadi takut-takut dan permisi keluar dari ruangan.

    “I-iya Pak..”

Sabina menatapi Attar geram dengan tindakannya kali ini. Attar tengah uring-uringan karena rencana Sabina beberapa waktu lalu untuk menjodohkan Arip dengan Shafa. Attar menentangnya keras. Attar sempat tidak menegur Sabina selama seminggu.

   “Attar, kamu dan Kang Arip itu tidak bisa ditakdirkan bersama. Kang Arip punya Tante Ellen yang ingin melihat anaknya menuju pelaminan dengan seorang wanita.”

   “Sabina, sudah aku bilang berapa kali? Hati tidak bisa dipaksa..”

   “Tapi kamu dan Kang Arip tidak akan bisa bersama. Aku akan melakukan apapun agar Kang Arip kembali. Oh iya, aku mau resign.”

Attar menatapi surat pengunduran diri Sabina.

   “Kenapa kamu keluar? Dilarang Amar kerja?”

Sabina menggeleng santai.

   “Bukan, Mas Amar tidak pernah mengekang apapun yang kulakukan selama masih baik.”

Attar menyobeknya langsung di depan mata Sabina.  Sabina heran bercampur kaget.

   “Attar!”

   “Kamu masih harus mengurusi Kahfi Sab… kamu bekerja pun tidak akan menganggu penghasilan lain kamu. Apa? Aku salah? Tidak ‘kan.. kuharap Amar tidak merasa kecil setelah mengetahui berapa uang kamu.”

Sabina memicingkan matanya geram. Amar tahu pun bukan menjadi masalah.

    “Dasar ‘ya.. aku bohong. Itu bukan surat pengunduran diri. Makanya amplopnya dibuka dulu! Itu surat dari Kang Arip.”

Attar langsung kelabakan bingung, ia berusaha menyusun sobekan kertas tadi. Sabina meninggalkannya di ruangan sendirian.

Di luar Sena menunggu, ia langsung bertos ria. Sabina menggandeng Sena ke kantin. Keduanya tertawa puas melihat ekspresi Attar tadi.

   “Mba’ Sab ngapain Pak bos?”

   “Ada deh..”

   “Mukanya Mba’… lucu banget! Panik gitu.. ha ha ha!”

   “Mau makan apa? Aku traktir Sen..”

Sena langsung bersemangat lagi.

***

Malam harinya, pukul 19.47. Amar heran dengan Sabina yang terlihat seperti anak kecil mau mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya. Terlihat muda sekali, siapa sangka istrinya sempat hamil 3 minggu.

         “Sab, kamu mau kencan atau jogging? Atau kamu mau futsal?”

Komentar Amar melihat Sabina mengenakan jins, kaos putih, jaket, dan sepatu kets serta kerudung dengan warna serupa. Tidak ada anggun anggunnya sama sekali. Terlihat seperti anak SMA yang hendak karyawisata. Orang-orang tidak akan menyangka umurnya sudah hampir 30 dengan penampilan dan wajah awet mudanya tersebut. Adakalanya Faizal, Tomo, dan Tama mengejek Amar kelihatan seperti jalan dengan keponakannya daripada istrinya. Karena terlalu mudanya wajah Sabina dibandingkan umur aslinya.

Amar menjumpai Sabina di halaman depan rumah makan tempat mereka ketemuan. Amar tidak pulang ke rumah, sore tadi tiba-tiba mengajak Sabina keluar selepas Isa’.

    “Bilang kalau mau kencan dong..”

Sabina kesal karena Amar seenaknya sendiri. Ia mengerti barangkali Amar ingin memberikannya kejutan, tapi kalau pada akhirnya malah seperti ini justru gagal total acara kencan mereka.

    “Kamu yang tidak peka..”

Gantian Amar tidak mau kalah.

    “Udah deh, jangan protes!. Mas, kamu tadi tidak bilang mau kencan. Jadi, aku mengajak Kang Arip dan Kak Makki sekalian. Maaf…”

Amar syok. Ia memegangi pelipisnya frustasi tapi masih berusaha untuk tenang. Makki dan Arip datang bersama.

    “Amar! Sweetheart! Amar… sudah lama tidak ketemu ya? Sehat ‘kan?”

Arip memiting Amar dengan kesal. Tempo hari lalu Amar memutus pembicaraannya dengan Sabina via telepon.

    “Alhamdulillah sehat Kang..”

    “Bagus…, karena Akang akan membuat kamu tidak sehat!”

    “Angsanya mana Kang? Katanya aku mau disosorin soang?”

    “Kapan-kapan. Sekarang aku sosor aja gimana?”

Canda Arip. Ia dekatkan bibirnya ke pipi Amar dan Amar menjauh sebisanya.

Makki dan Sabina hanya mengulum senyum melihat keduanya.

    “Sudah, sudah.. ayo masuk ke dalam.”

Mereka berempat masuk ke dalam rumah makan tersebut.

Amar duduk di sebelah Sabina berhadapan dengan Makki dan Arip. Hari ini Makki mengajak Arip menemaninya membeli keperluan bayi yang ingin Makki beli. Arip dengan senang hati mengantarkannya, dari hasil USG terlihat anak Makki perempuan. 1 atau 2 bulan lagi Makki akan melahirkan.

Mereka memesan makanan dan mengobrolkan apa saja. Sampai Arip menjelaskan bahwa Sabina bisa saja hidup sejahtera tanpa menikah.

    “Perempuan akan merasa cemas jika belum menikah dan laki-laki justru banyak cemas setelah menikah. Hmm.. normalnya seperti itu. Tapi kurasa ini tidak berlaku untuk Sabina dan Amar, cemasnya karena dia stres tidak tahu Amar suka tidak padanya tapi bukan karena belum menikahnya itu yang membuatnya cemas.. lebih ke galau dengan perasaannya sendiri. Dan Amar malah makin bahagia dan berseri-seri setelah menikah. Itu artinya Amar tidak cemas.”

Semuanya mendengarkan teorinya Arip. Sabina berulangkali mengangguk menyetujuinya. Amar heran apa maksud Arip sebelumnya tentang Sabina bisa saja tidak menikah dan tetap bahagia.

   “Aku masih heran dengan teori Kang Arip, Sabina berpotensi besar tetap bahagia tanpa menikah?”

Sabina lalu menjelaskan pada Amar dan semuanya. Makki tak begitu terkejut mengetahuinya, namun ia sekarang penasaran dengan reaksi Amar. Adiknya itu memang tidak seperti perempuan kebanyakan yang sehari saja bisa senewen kalau tidak ada pria didekatnya, bukan tipe orang yang butuh diberi perhatian lawan jenis lebih dari biasanya, Sabina selalu punya cara-cara tidak lazim untuk membuat dirinya sendiri tertawa dan terhibur. Namun memang benar bahwa keteraturan yang Sabina bangun bisa koyak karena tidak tahu pasti bagaimana menanggapi perasaannya sendiri pada Amar.

   “Aku tidak masalah tidak pernah menikah. Lihat dong aku bisa mencukupi diriku sendiri sampai 70 tahun kedepan, menikah itu sunnah.. tidak wajib dan dosa kalau ditinggalkan jika orangnya mampu hidup sendiri, ada juga kan orang-orang jaman dulu yang tidak menikah dan fokus menuntut ilmu atau fokus berkarya serta berkontribusi pada sesama.. lihat tuh ada banyak beberapa ulama dan sufi, filsuf.. kalau kamu mau tahu detailnya lihat aja sejarah. Lagian aku tipe orang yang let it flow aja sama hidup. Santai.. bagiku cinta ke manusia bukanlah segalanya.”

   “Kamu tidak mau punya anak? Dicintai dan mencintai?” Tanya Amar.

   “Adopsi bayi banyak. Cinta? Cinta itu hanya perasaan Mas.. pasti ada ujungnya juga. Manusia lahir membawa dirinya sendiri, ia mati dikubur sendiri. Mempertanggung jawabkan amal perbuatannya pun juga sendiri. Kenapa tidak?”

Amar mengerjapkan matanya berkali-kali, kerasukan jin mana lagi ini istrinya? Istrinya ini memang sudah aneh pemikirannya, tapi Amar baru menyadarinya betul sekarang. Ia memang pernah dengar di sejarah ada orang-orang yang hidup melajang karena alasan besar mulia lainnya, meninggalkan hasrat kemanusiawiannya untuk mencintai hal lainnya. Tapi bagaimana bisa Sabina berpikiran semacam ini?

    “Terkadang aku ingin membedah otak kamu Sab. Entah isinya apa saja sampai kamu bisa mengatakan segala pemikiran aneh itu.. serius. Tidak manusiawi sekali.”

Sabina hanya mengendikkan bahunya acuh tak acuh.

   “Aku sekarang menyadari aku sama sekali tidak takut jika kamu ingin menceraikan aku atau terpikirkan untuk selingkuh. Meski aku yakin kamu tak mungkin melakukannya, kamu orang beragama dan taat pada nilai serta norma sosial.”

   “Aku tidak akan seperti itu. Karena bagiku setiap hari kamu selalu berbeda Sab, sejauh ini saja aku masih merasa asing dengan kamu.”

   “Oke, kalau kamu mendua pun.. itu sudah menjadi bukti Mas.. bahwa kamu tidak pantas untukku. Dan tidak layak untuk dicintai olehku. Jika aku stres atau depresi karena kamu, aku akan minta tolong Kak Makki atau Kang Arip untuk mengembalikan semangat hidupku.”

   “Justru aku yang ketakutan dengan kamu yang terkesan tidak membutuhkan aku Sab. Bukannya aku bermaksud congkak, kebanyakan perempuan didekatku menatap penuh harap meminta dinikahi semua.. sedangkan kamu bahkan terkadang dingin sekali padaku. Kadang aku bingung sebenarnya apa cuma aku yang cinta kamu?”

   “Aku cuma beropini Mas, aku tidak suka lihat anak-anak itu yang belomba-lomba naik ke pelaminan dan atau yang diburu-buru menikah tanpa tahu hakekat hidup itu apa.. aneh tahu tidak? Kita bisa kog hidup aman sentausa sejahtera tanpa menikah kalau mau berpikir diluar normal dan mampu tentunya, mampu secara psikis dan materi. “

    “Sabina.. kamu hari ini perlu di ruqyah deh..  kamu tidak normal Sab..”

Timpal Makki. Sementara Arip malah memanfaatkan ini sebagai tempat rekreasi.. memancing keributan.

    “Tentu saja, aset dan properti Sabina ada dimana-mana. Barangkali penghasilan Sabina dalam sebulan 2 kali lipat dari yang Amar punyai jika sudah termasuk bisnisnya. Belum lagi yang Sabina sembunyikan.”

Amar tersenyum lembut menatapi Sabina, pantas saja istrinya tak pernah minta apapun darinya dalam bentuk materi. Semua keinginan Sabina sejauh ini hanyalah hal-hal konyol. Tapi sudah menjadi kewajiban Amar memberinya nafkah, meski tak sebanyak yang Sabina entah berapapun miliki sekarang.

    “Kang Arip, stop!” Sela Makki, ia tak mau menjatuhkan harga diri Amar.

    “Sabina sayang, hentikan semua pembicaraan ini. Aku tidak tahan mendengarnya..”

Sabina terdiam mendengarnya, ia memutar matanya geli dan menahan tawanya. Lalu tersenyum manis sekali sampai gusinya terlihat semua. Ia tenglengkan kepalanya menggoda Amar yang tampak kalut.

    “Takut ‘ya? Ayolah, aku tidak ingin kamu mencintaiku lebih dari Pencipta kita. Maka dari itu ikhlaskan semuanya,”

    “Aku mencintai-Nya melalui kamu juga Sab.. bersyukur serta merasa damai disetiap harinya. Itulah kenapa aku takut kamu meninggalkan aku.”

Sabina memeluknya, menepuk-nepuk bahu Amar dan menahan tawanya.

    “Mas Amar, santai saja. Dari semua yang ku utarakan tadi, aku hanya coba mengatakan bahwa aku mungkin bisa hidup sendiri tanpa kekurangan apapun secara materi. Pernikahan itu bukan puncak bahagianya hidup. Tapi hidupku akan sangat merasa kurang dan hampa jika tanpa ada cintanya Mas Amar.”

    “Kamu menyebalkan Sab..”

    “Terima kasih, sayang..”

Amar melepaskan pelukannya dan menatap Sabina takjub. Pertama kalinya Sabina memanggilnya sayang, Sabina hanya memanggilnya Mas Amar sejauh ini, kalau kumat kurang ajarnya dia akan memanggil namanya langsung. Ini perlu dirayakan.

    “Apa? Coba ulangi lagi?”

    “Tidak mau.”

    “Ulangi lagi coba..”

    “Enggak mau…”

    “Sab… kamu tadi bilang apa?”

Amar mencubit kanan dan kiri pipi Sabina gemas. Sabina hanya mengangkat kedua alisnya dan menggeleng ringan. Makki dan Arip tersipu-sipu melihat keduanya lucu sekali.

    “Kalian berdua bisa tidak… sehari saja tanpa berantem? Atau membicarakan hal-hal tidak wajar?”

    “Tanya Sabina Kak, dia yang mulai duluan..”

Amar masih mencubiti gemas pipi Sabina.

    “Tak ada asap tanpa api, Mas Amar yang memicunya.”

    “Sudah sudah, kasihan anakku nanti.. punya om dan tante gak beres seperti kalian.”

Dengar om dan tante membuat Arip terpikirkan ide lucu.

    “Ngomong-ngomong nanti dia panggil aku Om apa tante ya Ki? Aku pengen dipanggil auntie.. manis, enak didengar telinga.”

Arip sudah tersenyum-senyum senang membayangkan ada anak kecil berlari-larian memanggilnya auntie.

    “Kang, jangan aneh-aneh.. sssttt. Malu ini..”

Makki jijik membayangkan anaknya memanggil Arip Auntie.

    “Bodo amat…”

Arip sewot. Makki kembali pada Amar dan Sabina yang kini suap-suapan makanan.

    “Aku mengerti sekarang kenapa kalian belum dikasih anak juga, sebagai orang luar Kakak merasa seru lhoh.. lihat kalian berantem beda pendapat dan suka mengkompromikan segala sesuatu. Sabina yang tidak mau mengalah, Amar yang pengertian.. kalian ini lucu dan manis. Mungkin Tuhan ingin kalian lebih saling mengenal dulu, bagaimanapun juga nanti kasih sayang kalian akan otomatis berpindah ke anak kalian kalau sudah punya anak.”

Arip menyesap minumannya dan tertawa hambar.

    “Sayangnya aku tidak bisa hamil yaa..”

Ketiganya kaget mendengar celetukan Arip.

   “Kang Arip…” seru tertahan ketiganya.

   “Apa?”

Arip kembali masa bodoh. Menyendok supnya dengan santai. Beruntungnya tak terdengar oleh para pengunjung lainnya.