Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 8 Part 3

      Mikuri menyebut ibu dan ayah terlihat menyenangkan sekali mencintai seperti itu. Ibu bilang itu tidak mudah, lho!. Mereka saling berusaha. Mikuri tidak mengerti apa maksudnya ibu.

     Ibu menjelaskan kalau ayah dan ibu hanyalah dua orang asing sebelumnya, mendedikasikan diri untuk cinta yang tak berbalas itu sulit. Makanya kedua pihak harus saling berusaha mencintai. Orang-orang bilang sepasang kekasih itu jodoh atau semacamnya, namun ibu tidak percaya dengan hal semacam itu. Jodoh itu harus diusahakan. (jodoh ada di tangan Tuhan, kalau gak diambil ya selamanya akan di tangan Tuhan… gitu kan maksudnya? 😀 )

“Tak bisa melanjutkan karena tak ada ketetapan hati itu… menurutku sama saja di pekerjaan dan di rumah tangga.” Kata ibu.

     Yuri dan Kazami dalam perjalanan mengantarkan Tsuzaki. Kazami bilang berkat Tsuzaki-san dia teringat cerita di masa lalu. Yuri tanya apa cerita yang menyenangkan?. Kazami menjawab, sebenarnya cerita yang agak sedih. Yuri kalau begitu menolak mendengar ceritanya Kazami.

Namun Kazami tetap cerita. Waktu SMP dirinya populer, pacar pertamanya adalah seorang gadis yang disebut dengan biasa. Kazami sangat menyukai gadis tersebut.

Gadis tersebut menolak bersama dengan Kazami, karena dia keren dan jago olah raga serta disukai banyak gadis. Gadis itu merendah, dirinya ini tidaklah menarik dan manis dan orang-orang pasti akan bertanya-tanya kenapa mereka bersama?

       Kazami menyuruh gadis itu tidak usah memikirkan omong orang.

“Kazami-san tidak akan pernah mengerti!!. Kazami-san dan aku benar-benar berbeda.” bentaknya.

Saat itu Kazami terpekur tidak bisa melakukan apapun. Meski masalah tidak adanya kepercayaan diri di gadis itu merupakan masalah gadis itu sendiri. Kazami menyesali sikapnya saat itu yang malah diam saja, harusnya dia mengatakan ini

“Tak peduli seberapa banyak orang yang tak suka padamu… aku tetap menyukaimu.”

Bagi gadis itu yang selalu memperhatikan Kazami, tidak memperdulikan perasaan Kazami. Kazami tidak tahu apa yang seharusnya dia katakan saat itu. Tsuzaki di belakang juga mendengarkan ceritanya Kazami. Sama persis seperti keadaannya Tsuzaki Hiramasa dengan Mikuri sekarang ini.

     Sesampainya di rumah, Hiramasa meminum segelas air dari keran. Setelah merasa lega dia mengambili semua makanan yang ditinggalkan Mikuri. Berbagai macam menu dan pesan-pesan ceria di setiap kotaknya. Hiramasa memanaskan semuanya di microwace dan mulai memakannya.

Ia bertanya-tanya dalam hati bagaimana perasaannya Mikuri ketika membuat semua masakan ini. Apa yang Mikuri rasakan ketika meninggalkan rumah ini. Waktu itu saat mereka berpelukan…  Mikuri-san apa yang dipikirkannya saat itu?.

Hiramasa menyadari dirinya terlalu memikirkan perasaannya sendiri, egois sampai-sampai tidak mau menyentuh semua masakannya Mikuri.

      Mikuri di malam yang sama keluar rumah untuk memandangi bulan purnama di langit Tateyama. “Terus mencintai seseorang dengan tulus… mungkin adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Kau tak bisa mengubah perasaan seseorang, tetapi… kau yang memegang kendali hidupmu”

Yuri mengantarkan Kazami pulang. Kazami heran Yuri mengambil rute perjalanan yang jauh. Yuri bilang dia hanya sedang ingin kelihatan melankolis.

“Menyenangkan, ‘kan? Lewat jalan ini.”

“Ya.” Jawab Kazami.

Yuri berkata anak muda jaman sekarang jarang yang punya mobil. Kazami bilang dirinya tidak masalah tidak punya mobil.

“Kau akhirnya bilang juga.”

“Kita bisa pergi ke hampir semua tempat dengan kereta api atau bus.”

“Itu benar. Namun, kau tahu… kau bisa pergi jauh, lebih jauh dari yang kaukira.”

Kazami tersenyum setelah mendengarkan kata-kata Yuri tersebut.

     Mikuri membantu ayah menjemur. Ibu terdengar agak kecewa karena semua orang akhirnya pulang juga. Mikuri tidak mengerti dengan ibu, padahal sebelumnya mengeluh kenapa orang-orang kemari.

“Mikuri,” panggil ibu ketika Mikuri berjalan ke dalam rumah.

“Tidak apa-apa jika kau ingin di sini selamanya,”

“Terimakasih,” jawab Mikuri dengan terenyuh.

     Hiramasa menelfon Mikuri. Mikuri tidak langsung mengangkatnya.

“Moshi-moshi”

“Ini Hiramasa-san.”

“Iya,”

“Maafkan aku.”

“Begini… Aku sudah cukup menerima permintaan maaf.”

“Maaf. Ah, bukan… maafkan aku. Ah, bukan…” Hiramasa terus salah bicara. Hiramasa ada yang ingin dikatakan pada Mikuri. Mikuri memotongnya, ia ingin bicara duluan. Apapun kesimpulan yang dibuat Hiramasa-san… Mikuri yakin dengan perasaannya Mikuri.

“Aku… mencoba menguraikan perasaanku. Jika aku menghilangkan hal-hal yang tak perlu, apa yang tersisa?”

Hiramasa menduga pasti dengan faktorisasi prima, ‘kan?. Mikuri membenarkannya. Untuk pekerjaan dan juga gaji, apa yang kuinginkan dan apa cita-citaku… aku memikirkan berbagai macam hal, dan juga…

Lalu kata-kata Mikuti disela Hiramasa. Kalau dipikirkan lagi, Hiramasa lah yang menelfon duluan, jadi ia berhak berbicara pada Mikuri lebih dahulu.

“Aku yakin dengan perasaanku..” desak Mikuri.

“Aku yang menelepon,” tegas Hiramasa. Mikuri mengalah. Hiramasa mulai membuat pengakuan.

“Aku… tak punya pengalaman dengan perempuan. Meski begitu, aku hidup tanpa berpikir itu sesuatu yang buruk. Akan tetapi, malam itu… hal pertama yang kupikirkan adalah… bagaimana kalau aku gagal.”

Dan yang lebih menyedihkan lagi Hiramasa tidak pikir dibimbing oleh seseorang yang 10 tahun lebih muda. Bagaimana perasaannya Mikuri ketika ditolak Hiramasa sama sekali tak terpikirkan oleh Hiramasa. Hiramasa meminta maaf untuk itu.

    Hiramasa sesungguhnya juga takut Mikuri tahu dirinya yang tak berpengalaman ini. Mikuri menanggapi dirinya sudah mengetahui itu semenjak mengobrol dengan ibunya Hiramasa-san. Mikuri menggabungkan kepingannya dan menyambungkannya, kesimpulannya Hiramasa tidak berpengalaman terhadap perempuan. Hiramasa tercenung sesaat karena mengetahui Mikuri tahu dirinya yang tidak berpengalaman.

Mikuri menambahkan, baginya tidak masalah dengan fakta tersebut. Akan tetapi penolakan itu benar-benar membuat Mikuri terkejut.  Mikuri berpikir bisa menjadi dewan kota Tateyama. Tsuzaki bingung mendengarnya. Mikuri menjelaskan dirinya bertemu dengan dewan kota Tateyama yang seumuran dengan Mikuri, memikirkan kemungkinan menjadi dewan kota dan menjalani hidup seperti itu membuat Mikuri merasa lega.

     Hiramasa langsung menoleh ke poster yang Maksud.

“Ada jalan lain. Tak apa-apa gagal di jalan yang sedang dijalani. Sekarang… aku berpikir untuk kembali ke apartemen 303. Itu adalah jawaban yang kudapat saat semuanya kuhilangkan. Mungkin ini akan mengganggumu, tetapi… aku tak ingin mengakhirinya seperti ini. Aku ingin bertemu lagi dengan Anda dan berbicara serius…”

“Kita bisa bertemu!” Sela Hiramasa.

“Hah?”

“Aku sekarang di sini, sangat dekat. Bertemu… lalu berpelukan hari Selasa!”

“Baik!”

Hiramasa berlari kencang menuju rumah keluarga Moriyama. Mikuri juga mulai bergerak. Hiramasa sudah sampai di depan rumah Mikuri. Ayah Tochio mengurusi jemuran, terkejut menantunya datang.

     Mikuri menelfon Hiramasa menanyakan di mana sekarang. Hiramasa bilang ada di Tateyama, Mikuri ada di mana?.

“Aku sekarang di depan rumah kita!”

Hiramasa syok. Ayah Tochio langsung memeluk menantunya dan mengayunkannya “Akhirnya kau datang juga!”

“Hiramasa-san, pelukannya?” tanya Mikuri. Hiramasa tampak pasrah dipeluk ayah mertua. (ahahahaha… tampangnya asli lucu banget! XD. Gak perlu dipeluk Mikuri~ kan sudah dipeluk Tuan Moriyama… kkkkk)

“Saat ini aku sedang dipeluk… oleh ayahmu”

“Apa?!” Mikuri kesal. Mikuri masuk ke rumah, dilihatnya semua wadah makanan sudah dicuci, itu artinya Hiramasa memakan masakan Mikuri. Mikuri tersenyum mengetahuinya.

Hiramasa sendiri sedang diajak makan ayah dan ibunya Mikuri. Hiramasa mencoba menolak diberi minum karena harus pulang hari ini juga. Ibu dan ayah bilang tidak apa-apa, ‘kan? Besok Tsuzaki libur. Di rumah ini juga ada banyak kasur!.

Ayah dan ibu menawarkan Tsuzaki melihat albumnya Mikuri dan video olah raganya Mikuri yang dirangkum menjadi 5 jam!. Dirangkum selama 5 jam?!, Hiramasa syok mendengarnya, itu artinya dia memang tidak boleh pulang malam ini *kkkkk

Hiramasa mengirimkan pesan ke Mikuri, meminta maaf karena tidak bisa pulang. Mikuri balas menjawab, maaf orangtuaku terlalu memaksa. Ayah menyuruh Hiramasa melihat Mikuri, ibu bilang itu mungkin hanya bintik kecil.. Mikuri mungkin tidak kelihatan, ya?. Ayah ngeyel bisa lihat kok!.

“Ah, imut sekali!” seru ibu.

Hiramasa mengirimkan pesan lagi, janji besok akan pulang. Mikuri antusias, enaknya besok memasak apa ya?, mengobrolkan apa ya?. Lalu ia membalas pesan Hiramasa ‘Aku akan menunggu’.

Hiramasa tersenyum melihat jawabannya Mikuri. Mikuri senang sekali seperti anak kecil. Hiramasa membalas ‘Tolong tunggu aku.”

Mikuri dengan senang hati sabar menunggu datangnya esok hari.

Komentar:

      Aku suka kata-kata Yuri soal analogi tentang mobil dan perjalanan jauh yang tak terkira, nasehat lembut yang coba mengatakan kalau hidup dipegang kendalinya oleh manusianya sendiri.

Hiramasa dan Mikuri tidak pernah mengecewakan, selalu bikin ngakak. Kamu di sana… aku di sini… kita kapan ketemuannya??? Ahahahahaha… Mikuri pulang eh.. Hiramasa malah ke Tateyama. XD

      10 tahun lebih muda ya? Katanya dalam ilmu Psikologi jarak segitu keren banget dalam berhubungan. Karena pria secara psikologis mentalnya lebih muda 4 tahun dari umur aslinya dan wanita 4 tahun lebih tua usia mentalnya. Umur 27 tahunnya pria berarti 23 tahunnya wanita, jadi kalau pria+wanitanya seumuran katanya sih justru banyak cek coknya karena pria akan dianggap si wanita terlalu kekanakan dan pria menganggap si wanita terlalu menggurui dan menyebalkan karena terlalu dewasa.

Readers pernah dengar, ‘kan? Istilah tak perduli berapa pun umur pria mereka tetaplah seorang bocah laki-laki.

Akan tetapi itu penelitian masih relevan tidaknya di tahun-tahun ini aku tidak begitu tahu, yang jelas kalau menurutku pribadi umur itu tidak menjadi masalah, benar-benar tergantung pada orangnya seperti apa, entah yang lebih tua si pria atau si wanitanya semuanya tidak masalah.

Untukku sendiri sih lebih suka berpasangan dengan yang seumuran saja, lebih tua beberapa bulan/1 tahun lebih tua. Kalau pendapat Readers bagaimana?we-married-as-job

Jangan lupa Like FPnya untuk tahu updatenya dan memberikan semangat! >>>>> FANPAGE

 

Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 8 Part 2

     Tsuzaki Hiramasa ada di luar, dia menikmati makanannya sendirian. Ibu mengiriminya pesan, sebuah fotonya dengan cucu dari tetangga mereka, ibu penasaran kapan memiliki cucu sendiri (#ngodeMintaCucu >_<).

Hiramasa dalam hati meminta maaf pada ibunya, ia tidak dalam posisi bisa memberikan cucu… mulai saja belum. Hanya berhasil sampai di pelukan dan ciuman saja.  Hirasama pikir ia tidak bisa mengimbangi Mikuri yang 10 tahun lebih muda.

Dalam hati terdalam Tsuzaki ia ingin sekali hubungannya dengan Mikuri berjalan damai-damai saja seperti sebelumnya. Tanpa perlu mengkhawatirkan angan-angan Mikuri. Hiramasa tidak bisa berimajinasi seperti itu.

     Mikuri mendekati seekor kucing dengan hati-hati dan mengelusnya. Di sini tenang sekali pikirnya. Sayangnya tidak ada pekerjaan di sini. Lalu dia mulai berkhayal lagi, Mikuri yang menjadi seorang pengangguran.

Santai-santai di kamar. Entah sudah berapa lama dia tidak keluar, setengah tahun?. Dia bahagia, makan tiga kali sehari, tidur siang, dan main game sepuasnya. Tiap hari merasa puas. (kkkkk)

Mikuri ngeri sendiri membayangkannya. Pokoknya harus bekerja! Harus cari pekerjaan!.

     Mikuri saat berjalan tanpa sengaja melihat poster bertajuk ‘Impian wanita 26 tahun! Anggota dewan Kota Tateyama. Ceramah Noguchi Mayu’

Lalu Noguchi Mayu keluar dari bangunan di depan Mikuri. Mikuri memanggilnya “Noguchi Mayu-san!”

Noguchi Mayu’ bigung sendiri tapi tetap menerima salaman Mikuri.

“Halo”

“Senang bertemu dengan anda” kata Mikuri antusias.

     Yasue datang ke rumah keluarga Moriyama mengantarkan pesanan sayuran. Ibu Sakura tanya di mana Hirari-chan. Yasue bilang Hirari dirawat neneknya. Aoi mengambil akar teratai yang berkualitas baik, ibu Sakura jadi ngidam pengen makan chikuzenni (semur ayam dengan talas, wortel, dan lain-lain)

Ayah Tochio terkejut, Chikuzenni? Apa tidak bisa sesuatu yang lebih mudah?. Ibu Sakura menyilangkan kedua tangannya, menolak!.

     Mikuri pulang ke rumah. Tidak menyangka Yassan benar datang kemari. Yassan bilang kemari ingin diajarkan membuat selai sayuran oleh Mikuri. Mikuri lalu menarik Yasue, membisikinya jangan sampai bilang-bilang soal pernikahan kontrak Mikuri dan Tsuzaki. Yasue janji akan merahasiakannya.

     Chigaya pulang. Dia mengeluh tidakkah terlalu banyak orang di sini? Mikuri kenapa pula pulang?. Mikuri menjawab, memangnya kenapa?. Lalu Chigaya disapa Yasue.

“Ah… namamu itu… Yassan si Yankee” (Pffft…. Yankee: Orang amerika? *lol)

Mikuri membenarkan, Yassan dari Yasue. Chigaya tidak perduli.. lagipula sama saja. Chigaya mendekati ibu untuk menanyakan keadaan kakinya apa sudah baikan?.

Yasue kesal kenapa Abangnya Mikuri masih belum berubah sifatnya. Mikuri menanggapi, kali ini Yassan boleh menjepit Chigaya ke tembok.

    Menjepitnya ke tembok?. Aoi tidak mengerti dengan pembicaraan itu. Mikuri menjelaskan bukan menjepit dalam artian romantis. Yasue lalu mempraktekkannya. “Seperti ini. BANG!” (wkwkwk Yasue kan mantan preman.)

Aoi juga ikut menirukan meski bingung.

Ayah Tochio mengusulkan untuk telfon Tsuzaki-kun sekalian karena besok libur. Mikuri menegaskan Hiramasa-san besok ada sesuatu yang harus dikerjakan.

“Kalau dia “wuuus” naik kereta dia akan “wuuus” pergi!” Kata Ayah sambil menengok berkali-kali jauh ke belakang untuk mendemonstrasikan kecepatannya.

“Meski menggunakan efek suara, jaraknya tak sedekat itu!” Kata Mikuri.

     Ibu tanya kalau telfon gratis kan?. Mikuri melarangnya, pokoknya tidak boleh bertelfon berlebihan! Itu akan menambah-nambahi tagiahan telefon!. Chigaya jadi curiga, aaaa…. Chigaya mengerti sekarang, Mikuri dan suaminya pasti sedang bertengkar. Dengan sok bijaknya Chigaya menasehati adiknya, harusnya Mikuri memperlakukan suami yang lelah bekerja dengan baik.

Chigaya menepuk pundak Mikuri menasehati.

“Mikuri.” Kata Yasue

“Tolong bantuannya,” Mohon Mikuri.

Yasue lalu hendak mendekati Chigaya dan menjepitnya ke tembok seperti izin Mikuri tadi. Akan tetapi Yasue kedahuluan oleh istrinya Chigaya, Aoi beraksi!. Dia menjepit suaminya yang menyebalkan ke tembok.

      “Tolong… berlakulah yang pantas!” Bentak Aoi dengan menggelegar, membuat Chigaya ketakutan.

Semuanya yang ada di ruangan terkejut.

 (the power of wife!, istri marah rumah akan jadi neraka. Akakakakaka…)

     Chigaya dan Ayah Tochio akhrinya memasak bersama. Chigaya sambil memegangi kertas resep heran kenapa juga harus melakukan yang beginian?.

“Kenapa kau jadi begini, ya.” Kata ayah sambil mengirisi sayuran.

“Eh? Aku bahagia, lho.”

“Akan lebih baik kalau orang-orang di sekitarmu bahagia.” Wejangan dari ayah Tochio.

“Kalau kau sendiri tak bahagia, kau tak bisa membuat orang lain bahagia.” Ayah dan Chigaya beda pemikiran.

“Kau… mengatakan sesuatu yang bagus ya.”

Chigaya menyebut itulah kenapa dia ini anaknya ayah!. Lalu mereka bersalaman. Mikuri sebal menyaksikan kakak dan ayahnya yang tertawa. Menjijikkan.

     “Jadi untuk membuat selai, kau melumurinya dengan garam, ya?.” Yasue sambil mencatat.

“Ya, kau juga harus mengukus labu dengan biji di dalamnya. Setelah itu akan menjadi selai yang enak, lho.”

“Oh, ya?”

Mikuri memberikan peralatan ke kakak iparnya.Kemudian duduk, ayah dan abangnya saling memuji dan itu menurut Mikuri mengerikan. Keduanya memiliki pendirian yang teguh. Ibu Sakura mengingatkan waktu kecil Mikuri juga seperti itu. Mikuri mejawab bagian dirinya yang itu sudah terkikis oleh sekolah dan pergaulan.

“Bukankah itu normal?. Chigaya-san secara ajaib bisa melewatinya tanpa kurang sesuatu.” Kata Aoi.

Mikuri bilang itu suatu kebahagiaan. Dan Yasue pun tidak mau terluka parah tapi Yasue juga ingin Hirari sedikit tergores. Ibu Sakura setuju, untuk pengalaman mungkin lebih baik pernah merasakannya (rasa sakit, kegagalan/penolakan dan semacamnya yang membuat seseorang down)

Aoi ikut berkomentar, berarti tergantung kadarnya.

Dalam hati Mikuri menyimpulkan sendiri. Luka kecil akibat tergores, meski demikian.. kalau seseorang mengalaminya berkali-kali… itu akan menjadi luka yang serius. Mikuri sudah lelah.

Ia teringat saat Hiramasa menolak mendengarkan cerita Mikuri tentang Kazami. Berat rasanya mencintai orang yang memiliki rasa kepercayaan diri yang rendah seperti Hiramasa Tsuzaki. Mikuri mencoba tersenyum meski habis ditolak, berpura-pura semuanya baik-baik saja.

“Makanya, menurutku… menjadi kandidat anggota dewan kota juga bisa menjadi pilihan.” Kata Mikuri. Yasue, Aoi dan ibu terkejut. Ibu berkomentar “Bukankah itu bagus?”

Aoi penasaran sebelum kata “Makanya” yang Mikuri ucapkan itu apa?. (wkwkwk sebelum ‘Makanya’ adalah ratapan seorang istri yang tak dianggap XD )

Mikuri menyebutkan nama Noguchi Mayu-san yang merupakan anggota dewan kota yang seumuran dengan Mikuri. Yasue tanya memangnya jadi dewan kota gampang?. Dengan entengnya Mikuri bilang dia pernah membayangkan berpidato untuk pemilihan sebelumnya (pas ngajakin Hiramasa pacaran itu? Yakin optimis hanya dengan itu? XD )

“Kau kelihatannya sudah paham benar.”  Kata Ibu.

“Bukankah hebat jika kau dibayar untuk memajukan dunia dan orang di dalamnya?”

Lalu Aoi mengujinya dengan pertanyaan. “Mau tanya. Aku punya pertanyaan untuk kandidat anggota parlemen, Mikuri. Apa pendapatmu tentang wanita pekerja yang membesarkan anak?”

Mikuri lalu mengajak bagaimana kalau debat langsung?. Ibu juga siap, dia akan berakting menjadi Tahara si moderator debat terkenal. Ibu bahkan mengubah gaya rambutnya agar terlihat mirip.

>>>>>>Siaran Langsung Menuju Akhir yang Pahit!

“Diskusi panas! Tentang wanita pekerja yang membesarkan anak”

Ibu Sakura sebagai moderator membuka acara, kemudian langsung dibuka dengan pernyataan Aoi Moriyama perwakilan dari Keluarga Berpendapatan Ganda.

Aoi: “Tuntutan masyarakat saat ini berlebihan. Bekerja, melahirkan, membesarkan anak. Mereka menyuruh kami hidup anggun sebagai wanita, tetapi berapa pun tubuh yang kami miliki tak akan cukup.”

Ibu Sakura: “Akan tetapi, jika wanita tidak melahirkan, angka penurunan kelahiran akan semakin parah. Di sisi lain, sebagian kaum wanita ingin bekerja.

Moriyama Mikuri sebagai Kandidat anggota parlemen menanggapi.

Mikuri: “Kalau begitu, bagaimana kalau semua orang\Nmelahirkan saat SMA?”

Tanaka Yasue sebagai perwakilan dari ibu tunggal, perwakilan dari mantan IRT terkejut dengan ide anehnya Mikuri itu, “Apa?”

Mikuri: “Dibandingkan membesarkan anak saat bekerja, kupikir lebih mudah membesarkan anak saat masih sekolah. Kita bisa membuat penitipan bayi di kelas kosong dan meninggalkan anak-anak di sana waktu sekolah. Lalu, menyusui saat istirahat. Meski mengambil cuti melahirkan, jika mengikuti kelas tambahan di libur musim panas… kau bisa mengejar pelajaran di kelas.”
Ibu Sakura: “Kau bisa membuat baju atau makanan bayi di kelas Ekonomi Rumah Tangga, ‘kan?”

Mikuri: “Ya. Dengan begitu, seluruh sekolah membesarkan anak…”

“Mikuri-chan,” panggil Aoi. “Iya,” debat selesai. Menurut Aoi idenya Mikuri itu menarik, tapi jika Mikuri mencalonkan diri dengan ide semacam itu… Aoi yakin Mikuri tidak akan dipilih. Yasue juga sependapat, setidaknya orang-orang ingin menikmati masa muda di SMA.

Mikuri bingung, kalau begitu kapan sebaiknya waktu yang tepat untuk melahirkan?. Apakah memang sulit membagi waktu menjadi anggota masyarakat sambil membesarkan anak?.

Menurut ibu pilihan satu-satunya adalah kerja sama dari pasangan, masyarakat atau orang-orang di sekitar si ibu.

“Itu tidak terlalu efektif, sih” Sambung Aoi.

“Kalau laki-laki… bisa melahirkan juga, mungkin bisa lebih nyaman.”

Mikuri terkejut, Ibu setuju jika istri dan suami berganti-gantian melahirkan anak. Aoi sependapat dengan ide gila itu, jika suami maupun istri bisa memilih siapa yang akan melahirkan.. antara mereka berdua bisa saling merawat.

“Ah, sial… harusnya aku jadi peneliti saja.” Keluh Mikuri.

       Chigaya dan Tuan Tochio sejak tadi mendengarkan pembicaraan aneh para wanita.

“Mereka membicarakan hal menjijikkan itu…” Kata Chigaya.

“Aku juga ingin melahirkan.”

~Married as Job~

     Trio kwek kwek 😀 lagi minum-minum bersama. Numata tidak menyentuh minumannya, Hino menyuruhnya ikut minum. Tapi Numata justru mengatakan dia bahkan dengan minum tidak akan mengatakan apapun sekalipun minum. Kazami curiga, jadi ada sesuatu yang ingin Numata katakan?

Numata agak terkejut. (hhh! Kazami orangnya curiga’an)

“Apa, apa? Apa yang ingin kau pesan? Ah… ini! Aku mau makan tulang muda goreng!. Aku mau makanan renyah. Kriuk, kriuk, kriuk, kriuk…” Hino heboh sendiri.

“Hino-kun!.”

“Ya?”

“Tenangkan dirimu sebentar. Ini hanya kedai minum.”

Hino heboh sendiri karena ni sangat menyenangkan, selama ini kalau ada acara minum-minum Hino tidak bisa ikut karena anaknya sakit. Hino kemudian menelfon Tsuzaki, tidak diangkat dan Hino meninggalkan pesan di kotak suara. Tsuzaki-san! Cepat selesaikan pekerjaanmu dan kemari!

“Di mana istri dan anak-anakmu?” Tanya Kazami ke Numata. Numata menjawab mereka ada di rumah orangtua istrinya. Rupanya ada acara pengisi suara di dekat sana, itu adalah kegemaran istrinya Numata.

     Tsuzaki sudah menerima pesannya Hino, Hino memaksanya ikut biar lebih dekat dan akrab lagi, berbagi karakter langka. Tsuzaki berpikir keras sebelum memutuskan, dengan kondisinya sekarang Tsuzaki yakin jika dia minum sake mungkin saja bisa kelepasan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dia katakan. Akan tetapi dia berhutang dengan Hino.

Tsuzaki beranjak dari tempatnya duduk, kemudian duduk lagi. Akan tetapi kondisinya sekarang tidak bagus. “Akan tetapi, Hino-san..” dia berdiri lagi, duduk lagi. Tapi Hino bilang tadi berbagi karakter langka… Tsuzaki berdiri lagi, lalu duduk lagi.

Merenungi dirinya yang tidak bisa mengambil keputusan dan mulai menyalahkan diri sendiri “Seorang laki-laki yang tidak bisa mengambil keputusan. Wajar saja Mikuri bosan denganku.”

(dia bukannya bosan -_- dia menunggu dan mencoba untuk memahamimu sampai capek sendiri dan memilih pergi. Om Hiramasa gak perlu berpikir terlalu keras… cukup terima saja perasaannya Mikuri, pengen gw jitak om om satu ini biar sadar -_- youw readers~ jitak bareng-bareng yuk!, Kzl!!!)

~We Married as Job~

       Tsuzaki akhirnya datang. Ia dipesankan Numata lap basah dan segelas bir. Hino masih antusias, dia menyuruh Tsuzaki mengimbangi mereka yang sudah minum-minum sejak tadi. Numata bilang juga mengundang Yuri-chan.

“Yuri-chan?” Tanya Tsuzaki.

Numata bilang dirinya dan Yuri saling memanggil Yuri-chan dan Numa-chan. “Sejak kapan kalian…” kata Tsuzaki sambil minum. Numata bilang Yuri-chan tidak bisa minum karena menyetir. Kazami agak terkejut ternyata Yuri menyetir sendirian. Hino iri sekali, ia ingin bertemu dengan Yuri-chan dan Mikuri-chan.

Dengar nama Mikuri disebut membuat Tsuzaki terkekeh getir. Ia tidak tahu menau bisa tidaknya Hino bertemu Yuri-san, akan tetapi Hino takkan bisa bertemu dengan Mikuri-san lagi. Pasti. Tsuzaki yakin dengan perkataannya barusan.

“Pertemukan kami, dong…” Pinta Hino. Numata dan Kazami bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi tapi mereka hanya memandang Tsuzaki yang terlihat sedih.

    Chikuzenni sudah dihidangkan. Ibu memberikan nilai 1 bintang untuk masakan ayah dan Chigaya. Chigaya lumayan kesal kenapa diberi nilai sekejam itu. Ayah meminta maaf, bagaimana pun juga tidak mungkin bisa menandingi chikuzenni buatan ibu, kan?.

“Chigaya-san, buat lagi di rumah ya?”

“Apa?” Chigaya terkejut dengan permintaan Aoi. Yasue lalu menggoda Chigaya akan dijepit ke tembok lagi oleh Aoi kalau protes (wkwkwkwk). Aoi lalu memasang kedua tinjunya, Chigaya takut dan menyalahkan ini semua gara-gara Yassan. Ibu mengajak semuanya makan, mereka lalu makan.

    Kazami, Hino, Numata, dan Tsuzaki masih bersama (trio kwek kwek dan Manajernya :v). Hino tiba-tiba bertanya soal pekerja rumah tangga yang Kazami bicarakan sebelumnya, bukankah Kazami naksir wanita itu?. Kazami bilang wanita tersebut meminta cuti seminggu.

“Akan tetapi, dia mengambil hari cuti, kan?” Kata Numata.

Akan tetapi Kazami pikir tidak sesederhana itu. Wanita tersebut adalah tipe orang yang bertanggung jawab atas ucapan dan tindakannya. Kazami yakin pasti ada sesuatu yang tidak tertahankan sehingga membuatnya minta cuti.

Kazami mengatakannya sambil memandang Tsuzaki sekilas, Tsuzaki hanya menunduk pasrah karena pikir ini semua salahnya.

     Hino tanya ke Kazami misalnya apa?. Kazami menjawab tidak tahu sampai sejauh itu sih. Tsuzaki yang sedari tadi diam dan menenggak minumannya langsung angkat bicara, kalau Kazami tidak tahu maka tidak perlu berkomentar apapun. Kazami menanggapi, dia mungkin tidak tahu… tapi Kazami tahu dirinya ini lebih mengenal Mikuri ketimbang Tsuzaki.

Tsuzaki tidak sependapat, mereka melihatnya dengan cara yang berbeda. Kazami adalah orang yang percaya dirinya tinggi sedangkan Tsuzaki sebaliknya. Menurut Tsuzaki, cara ia dan Kazami hidup serta cara pandang mereka semuanya berbeda. Kita pada dasarnya… tidak sama.

Hino dan Numata berkomentar semua orang berbeda dan semuanya baik, ayo minum minum minum!. Hino dan Numata lalu membicarakan belut goreng yang murah.

     Tsuzaki tepar di mobil Yuri. Yuri memarahi para pria sebenarnya ngapain sih di umur mereka yang segini?.

“Misi’!” kata Numata mabuk,

“Terima kasih banyak!” sambung Hino yang juga setengah mabuk. Kazami entah mengapa merasa bertanggung jawab, ia akan ikut dengan Yuri untuk mengantar Tsuzaki.

     Mikuri mempersiapkan tempat tidur untuk ibu. Mikuri tanya apa Ibu tidak terlalu kejam dengan ayah?. Ibu menjelaskan saat dia menjalani pemeriksaan reguler dokter menyarankan untuk periksa kesehatan secara menyeluruh.

Mikuri harap-harap cemas dengan jawabannya ibu. Ibu bilang dia tidak apa-apa, sebelum hasil tesnya keluar ibu sudah berpikiran macam-macam, bagaimana kalau ibu pergi duluan dari ayah?. Jadi Ibu pikir ini adalah kesempatan bagus untuk melatih kemandirian ayah melakukan tugas rumah tangga, mempertimbangkan kemungkinan jika ibu pergi terlebih dahulu.

Mikuri protes kenapa tidak bilang saja ke ayah?. Ibu tidak memberitahu ayah karena takut ayah akan khawatir dengan kemungkinan semacam itu.

Komentar:

       Do you miss me? Haha! Me too… :)) ❤

aku suka sekali saat Aoi menjepit Chigaya di tembok, Chigaya memang cerewet dan ngeselin, wajar kalau Aoi jengkel dengan suaminya itu *wkwkwkwkwkwe-married-as-job

Jangan lupa Like FPnya untuk tahu updatenya dan memberikan semangat! >>>>> FANPAGE

Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 8 Part 1

       Tidak seperti biasanya, hari ini Tsuzaki makan siang dengan nasi kepal yang biasa dijual di mini mart. Hino datang dan bertanya kenapa bekalnya Tsuzaki-san tidak seperti biasanya, Kazami juga ada di tempat yang sama dan sama bingungnya. Numata lalu ikut nimbrung.

     Dengan sok tahunya Numata menjelaskan, Hino ini tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi sebenarnya. Tsuzaki-san sebenarnya membuat bekalnya sendiri selama ini, Numata dengan ke-sok tahuannya lagi mengibaratkan seperti orang yang membeli coklat untuk dirinya sendiri ketika valentine dan menaruhnya di lokernya sendiri.

“Aku tidak akan melakukannya” kata Hino.

“Aku juga,” Sambung Tsuzaki.

Numata menebak lagi, Mikuri-san itu hanya orang sewaan!, sengaja Tsuzaki sewa saat Kazami dan Numata berkunjung tempo hari lalu. Tsuzaki, Kazami dan Hino heran mendengarnya.

 Kazami berkomentar sebenarnya Mikuri dan Tsuzaki begini saja sudah mesra (Ho’oh~ terlepas dari semua scene konyolnya tanpa kusadari aku selalu ngiri melihat mereka pelukan XD )

Tapi Numata tidak percaya. Hino hanya berpikir kalau Tsuzaki dan istrinya hanya sedang bertengkar kecil seperti pasangan lainnya.

    Sebenarnya yang terjadi adalah, setelah malam mereka berciuman dan berpelukan dan berpotensi besar melakukan hal yang lebih lagi…

Mikuri bersikap seperti biasa saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Hari-hari mereka berjalan seperti biasanya, tapi suatu hari ketika Hiramasa pulang ke rumah, dia melihat memo dari Mikuri. Mikuri pergi dari rumahnya Hiramasa.

    Kazami dan Yuri bertemu di sebuah bar, mereka membicarakan soal Mikuri. Mikuri datang ke tempat Kazami di hari Senin, melakukan tugas bersih-bersihnya tanpa mengatakan apa-apa. Dan Yuri terakhir kali bertemu Mikuri di hari yang sama dan mengembalikan anggur esnya.

Yuri tidak mengerti kenapa Mikuri mengembalikannya, apa tidak enak?. Anggurnya mahal dan masih banyak tapi Mikuri tidak tega membuangnya, dia memilih mengembalikannya saja ke Yuri. Rasanya Mikuri ingin mati melihat anggur tersebut. (maluuuuuu…. Banget!, siapa sih yg gak malu? Mikuri terang2ngan memberikan lampu hijau pada Hiramasa dan malahan ditolak mentah2 *nyesekkk!!)

     Yuri dan Kazami yakin ada yang tidak beres dalam hubungan Mikuri dan Tsuzaki. Kazami bilang kalau saja ia yang jadi pasangannya, ia pikir ini bisa lancar seperti bisnis. Yuri tidak ngeh apa maksud Kazami. Kazami menerangkan ini hanya persoalan sederhana, tentang mengungkapkan perasaan.

Yuri agak kesal dengan pemikirannya Kazami, bisa tidak sih.. Kazami jangan mengulang kata-kata seperti itu?. Kazami menyuruh Yuri-san menelfon Mikuri saja kalau begitu.

    Mikuri menelfon Yuri. Yuri bertanya kapan Mikuri kembali?. Mikuri bilang bukan saat ini yang pasti, karena akan ada kemungkinan bercerai. Yuri syok! Cerai? Tidak menyangka sudah separah itu hubungan mereka.

Lalu terdengar teriakan ibu Sakura. Ibu Sakura memarahi ayah Tochio karena salah mencuci baju, kenapa ayah mencuci pakaian yang mudah luntur dengan yang tidak?!, kan sudah tertulis di pakaiannya ‘perhatikan saat mencuci’.

Ayah beralasan kalau mengecek satu-satu nanti waktunya habis. Tapi Ibu marah sekali, makanya ayah harus mengecek satu persatu karena tidak tahu, sekarang pakaian kesayangannya ibu yang mahal jadi rusak!, sepuluh tahun ini ibu mengganti kancingnya dan merawat bajunya dengan baik!.

    Yuri memanggil-manggil Mikuri yang tidak menanggapi. Mikuri sedari tadi memperhatikan ayah dan ibunya yang sedang berdebat. Mikuri meminta maaf ke Yuri, ia akan menghubungi Yuri nanti lagi.

Mikuri mengingatkan ibunya tidak perlu berteriak seperti itu. Ibu berteriak karena jengkel pada ayah, sudah dua hari ini mencucinya tidak ada yang beres!. Ayah mengadu ke Mikuri, “Aku lupa.”

“Tak ada alasan!” kata ibu sambil melemparkan pakaian kesayangannya yang sudah rusak ke ayah. Lalu menatap ayah dengan penuh amarah.

     Ayah melamun di beranda, Mikuri ikut duduk di samping ayah. Meminta ayah jangan khawatir karena ibu hanya sedang sedikit kesal. Sedikit? Ayah pikir tidak sedikit. Mikuri lalu mengoreksi kata-katanya, yah lumayan kesal. Mikuri rasa ibu kesal sendiri karena ibu sebelumnya selalu sehat dan tidak pernah cedera kakinya.

Ibu ada di kamar, kesulitan memindahkan kakinya ke dalam selimut. Mendesah sebal, sepertinya tidak suka kalau sakit.

     Ayah bilang dirinya senang Mikuri kemari. Mikuri sebenarnya juga terbantu karena kemari, sebenarnya setelah kejadian malam anggur itu Mikuri berusaha keras melanjutkan hidup seperti tidak pernah terjadi apapun di malam itu.

Mikuri berusaha keras melupakannya tetapi tidak bisa. Ia menjemur pakaian dan teringat kembali lalu stres sendiri, membersihkan rumah dan melihat sofa jadi teringat kembali,

mencuci piring dan melihat botol anggur membuatnya frustasi, berusaha tidur pun rasanya ingin mati karena terlalu memalukan.

    Mikuri mulai berkhayal lagi, ia kali ini menjadi atlet bidang olah raga “Percintaan kelas 47 kg”. Mikuri diwawancarai oleh berbagai media. Mikuri menyesali aksinya, kalau saja Mikuri tidak mengatakan hal itu mungkin hari akan berakhir dengan menyenangkan.

    Mikuri saat itu menjadi tamak dan berpikir mungkin akan diterima. “Aku wanita yang tersakiti…” katanya sambil menahan tangis.

“Bertahanlah! Bertahanlah!” Seru para suporter yang datang.

Mikuri meminta maaf. Lalu reporter bertanya bagaimana perasaannya Mikuri terhadap TSuzaki saat itu?.

    Mikuri menjawab, Tsuzaki adalah orang yang hebat dan Mikuri sangat menghormatinya. Mulai sekarang Mikuri akan bekerja keras dan teliti. Para suporter menyoraki Mikuri “Ya, begitu!”

“Kau pasti bisa! Kau pasti bisa!”

Mikuri berterimakasih atas dukungannya. Selesai! Khayalan itu berakhir dan Mikuri optimis akan melakukan pekerjaannya dengan baik dan teliti!!. Mikuri berpindah posisi tidurya

    Mikuri mencoba menganggap malam itu hanyalah seperti acara lawak dan mengirimkannya ke dalam angannya, Mikuri yakin pasti bisa melupakannya.

     Meski begitu tetap saja sulit. Saat hari Selasa waktunya membuang sampah daur ulang, ia yang sebelumnya bahagia tiap hari tersebut kini menjadi gila. Mikuri berjongkok frustasi setelah membuang sampah. Di rumah ketika mengantarkan Tsuzaki sampai ke pintu ia berakting normal seperti biasanya, selepas Hiramasa pergi Mikuri kembali merasa gila. Rasanya ingin minggat saja, ke mana saja boleh, asal yang jauh. Jauh dari Tsuzaki Hiramasa.

     Chigaya menelfon Mikuri memberitahukan kalau ibu mereka jatuh dari tangga dan kakinya patah tulang. Mikuri khawatir, bagaimana dengan pekerjaan rumah tangganya?. Chigaya bilang ayah yang melakukannya, selain patah tulang ibu mereka tidak apa-apa, jadi Mikuri tidak perlu ke sana.

Mata Mikuri berbinar cerah, ada secercah harapan untuk kabur dari Hiramasa.

    Mikuri mengolah semua bahan makanan dan membuatkan persediaan untuk Hiramasa. Mikuri mengipasinya dulu sebelum ia simpan ke lemari pendingin. Saat bekerja, di sekolah, maupun di klub sekolah Mikuri tidak pernah membolos sekalipun, dan itu merupakan satu-satunya yang bisa Mikuri banggakan.

Dan saat ini adalah pertama kalinya dalam hidup Mikuri mengabaikan pekerjaan, jadi paling tidak Mikuri harus mempersiapkannya dengan sempurna. Mikuri menyeterika baju, ia terkejut melihat waktu menunjukkan pukul 18:00 waktunya Hiramasa Tsuzaki pulang dari kantor.

    Mikuri menuliskan memo ke Hiramasa, Isinya Mikuri diminta ke Tateyama oleh ibunya karena kaki ibu patah tulang, Mikuri telah menyiapkan makanan di lemari es.

     Mikuri pergi, mengunci pintu rumah tapi saat hendak pergi tali tasnya malah terjepit dengan pintu. Membuat Mikuri kesulitan. Apapun yang terjadi asal Mikuri bisa kabur dan melarikan diri dari hari Selasa.

Ketika Hiramasa keluar dari bus, Mikuri justru baru memasuki bus. Untungnya mereka tidak sempat saling melihat dan menyadari.

      Mikuri tidak ingin melihat dirinya dalam situasi yang menyedihkan, dan mungkin saja dia tidak akan pernah kembali ke tempatnya Hiramasa. Hiramasa di rumah, dia melihat tumpukan makanan di kulkas dan tampak terluka karena kepergiannya Mikuri.

     Dalam bus Mikuri merenungkan situasinya, sisi lain dirinya mengatakan bahwa ini juga bagian dari hidup.

      Ibu memandangi potongan buah apelnya yang aneh. Ini hasil potongan Tochio-san dan ibu tidak menyangka kemampuan suaminya hanya segini. Mikuri berkomentar apa ayah tidak pernah memasak dan berkemah?.

Ibu bilang, kalau dipikir-pikir ibulah yang memotong sayuran dan membuat kari. Mikuri tahu ayah hanya membuat apinya saja.

“Aku tertipu” keluh Ibu.

Ayah Tochio datang membawakan minuman, ia bilang tidak menipu Sakura-san. Sakura-san sendirilah yang salah paham. Ibu kesal, seharusnya lebih banyak menyuruh Tochio-san mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

“Ayah juga bantu sedikit kan?” tanya Mikuri.

“Aku membuang sampah.”

Mikuri dan Ibu saling pandang, mereka tidak merasa membuang sampah itu termasuk pekerjaan rumah tangga. Ayah juga ikut membersihkan kamar mandi juga, sebulan dua kali. Ibu dan Mikuri pikir itu tidak masuk hitungan.

Di luar sana Aoi istrinya Chigaya berkomentar “Lihat betapa sombongnya  dia karena kadang-kadang membersihkan kamar mandi, ya.” Kata Aoi sambil menggendong Kozue. Ayah, ibu, dan Mikuri melihat Aoi. Ayah langsung mengajak Kozue main bersama.

Aoi tadi bilang begitu karena teringat pada Chigaya yang juga seperti ayah mertuanya. Mikuri mendesah, oh jadi kakaknya tidak pernah melakukan apapun. Aoi membela Chigaya bukannya begitu, sampai rumah Chigaya akan mengeluh lelah dan minta dipijit.

Ibu pikir para ibulah yang justru perlu dipijit. Aoi bilang tidak masalah sih, tapi bulan depan dia harus kembali bekerja, mengasuh Aoi dan bekerja… dan bahkan mengasuh Chigaya. Aoi bertanya-tanya sanggupkan Aoi melakukannya bersamaan.

     Ibu Sakura meminta maaf karena tidak membesarkan Chigaya dengan baik. Aoi bilang bukan begitu, ia jadi tidak enak sendiri dengan mertuanya *kkkkk. Ibu Sakura mengakui dia merasa kalau pekerjaan rumah tangga sudah seperti hobi saja baginya dan melakukannya secara berlebihan.

Mikuri bilang dia juga mengerjakan semuanya. Ibu menanggapi, itu karena Mikuri yang bilang “Biar kubantu, Bu!”

“Begitu, ya?”

“Iya”

    Lalu bunyi mesin cuci pertanda cucian sudah selesai mengejutkan semuanya. Ibu menoleh dan mengingatkan ayah Tochio. Mikuri dan Aoi hendak membantu namun dilarang ibu, tidak boleh! Biar ayahmu saja yang melakukannya!.

“Aku akan melakukannya!” Kata ayah.

Ayah menjemur cuciannya dengan tetap diawasi ibu. Ayah tidak mengibaskannya, ibu menyuruh ayah mengibaskannya dulu pakkk! Paaakk! Dan ayah menuruti instruksi ibu dengan patuh.

     Aoi menanyakan ke Mikuri bagaimana Hiramasa-san dengan pekerjaan rumah tangga? Apa dia ikut membantu?. Mikuri menjawab Hiramasa banyak membantunya. Aoi jadi iri mendengarnya, beruntungnya…

Mikuri tentu saja bohong. Dia kan digaji untuk melakukan pekerjaan rumah tangga… ia tidak bisa mengatakan kebenarannya kepada orang-orang yang melakukan tugas rumah tangga tanpa dibayar.

     Horiuchi dan Umehara merasa tidak senang karena ada yang cuti melahirkan dan itu artinya tugas mereka akan bertambah. Yuri bilang dirinya tidak merasa terbebani, dia justru merasa berterimakasih karena ada yang mewakilkannya melahirkan (LMFAO XD). Umehara dan Horiuchi heran dengan Yuri, apa Yuri tidak iri?. Yuri menanggapi, jika Horiuchi dan Umehara ada di usianya Yuri sekarang… tidak ada lagi yang namanya rasa iri.

“Berkata ini dan itu karena kita semua lahir dari perempuan.” Kata Horiuchi.

“Kau tidak perlu mempedulikannya. Karena, untuk bagian itu, kau bisa bekerja. Kau bisa bayar pajak!. Jadi, kalian jangan menggerutu. Saat ini, perusahaan yang memahami cuti melahirkan itu bagus. Selain itu, memiliki program kesejahteraan berarti kalian masih aman.”

    Numata menyidang Pak Direktur, Nabe dan Takenaka. Pak! Apa perusahaan kita ini sebenarnya baik-baik saja?.

Direktur heran kenapa Numata bisa tahu?. Nabe meminta maaf, ini pasti karena gerak-geriknya yang mencurigakan. Takenaka pun juga tidak bisa membantah Numata. Pak Direktur mereka kesal setengah mati pada Numata, dasar insinyur infrastruktur!

Numata bilang kelangsungan perusahaan tergantung dengan Numata. Lalu Nabe menyinggung Numata yang pernah menjadi penanggungjawab infrastruktur keamanan nasional. Numata mengingat-ingat masa itu, itu pekerjaan yang berat dan saat gaji naik dua kali lipat itu artinya stresnya lima kali lipat.

“Pasti saat itu sulit, ya.” Kata Direktur.

“Bukannya sampai sekarang masih? Ada apa?” tanya Numata curiga.

“Itu… klien kita, Company M, kemungkinan dibeli sahamnya.” Kata pimpinan penuh harap ke Numata. Nabe khawatir kalau itu terjadi dan perjanjian bisnisnya dengan perusahaan kita dibatalkan…

Takenaka menambahkan, berarti 40% dari penjualan perusahaan kita akan hilang.

“Ah. Benar juga” Kata Pak Direktur dengan santai.

Numata geram, merememehkan sekali!

“Jika memburuk, kupikir memecat beberapa orang akan membantu.”

“Beberapa? Akan kuhancurkan peladennya sekarang, Pak Direktur!”

“Hal itu belum pasti, akan tidak baik jika membuat semua orang khawatir. Rahasiakan ini”

Numata masih setengah kesal. Pak Direktur mengancam Numata, kalau sampai dia tertangkap tangan menjadi informan apa bisa Numata bertanggungjawab?. Kunci mulutmu! Ini perintah Direktur!

Numata langsung mengunci mulutnya seperti resleting. Numata makan siang dengan Hino, Kazami ada di sekitaran mesin makanan. Numata tidak segera memakan panininya dan membuat Hino heran. Numata bukannya menanggapi tapi malah pindah ke sisi lain.

“Numata-san!” Panggil Hino ke Numata yang lagi jaga jarak. Karena tidak ditanggapi Hino lalu memanggil nama depannya “Yoritsuna!”

Tidak ada tanggapan lagi, Hino tak habis ide ia lalu memanggil Numata seperti memanggil ayam “Ckckckck!” (huwaahahahaaha!… aku jadi inget episode pas Numata teriak kaget dan teriakannya seperti ayam dicekek lehernya XD )

Numata ngambek, “Bisakah kau menjauh dariku?”

Kazami bertanya di mana Tsuzaki-san?.dance

Trivia:

      Baru bisa segini saja. Maaf ya…, part 2 dan 3 coming soon. Do’a kan saja jangan sampai sakit karena akhir-akhir ini kurang fit T_T #pancaroba #butuhDipelukGongYoo #DayDreaming

Gong Yoo – Goblin

Saat ini aku lagi naksir berat dengan Gong Yoo  ^^ #berbunga-bunga

Like FPnya untuk dapatkan update-annya>>>>> FANPAGE

Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 7 Part 3

      Dan sekarang yang menempati 10 besar dalam hatinya Mikuri adalah Hiramasa Tsuzaki!. Namun Mikuri mulai khawatir, apa tidak apa-apa memiliki perasaan suka sedalam ini di dalam hatinya?.

Mikuri agak ragu kalau perasaannya ini akan berpangaruh alam pekerjaannya. Tidak! Mikuri langsung menyangkalnya sendiri, yang terpenting berbahagialah dengan tulus,

pokoknya selamat telah merenggut peringkat pertama dihatinya Mikuri!, selamat! Selamat! Selamat!.

 Dan semjenak saat itu hari Selasa menjadi hari yang istimewa bagi Mikuri dan Hiramasa. Mikuri pagi-pagi membuang sampah dan menunjuk stiker hari Selasa pukul 8 pagi sampah daur ulang akan diangkut. Selasa!, dan Hiramasa sendiri melihat ponselnya dan mengucapkan “Selasa!” dengan optimis.

     Mikuri mengantarkan Hiramasa sampai ke pintu, Hiramasa bilang hari ini akan pulang tepat waktu dan Mikuri menjawab akan menunggunya, keduanya saling pandang tahu apa yang dipikirkan masing-masing. Hiramasa meminta Mikuri menunggunya (meminta nunggu untuk hug? Sweet! Menyimpan saat2 indah di akhir :)) )

    Setelah keluar dari rumah, Hiramasa langsung menjatuhkan dirinya ke lantai. Dia sangat gemas pada Mikuri yang manis sekali. Hiramasa sambil berjalan, dalam hati ia mengatakan kalau selama ini dia pikir memang imut sejak lama, namun akhir-akhir ini dia berpikir Mikuri benar-benar imut. (ini orang nyebelin ya? Kalau imut kenapa gak nikahin beneran aja? Ayo kawan-kawan!, bikin petisi supaya mereka nikah beneran!)

   Hiramasa tidak bisa menyangkal perasaannya lagi, ia telah benar-benar jatuh hati pada Mikuri. Mikuri melambaikan tangannya dari atas ke Hiramasa, meski ragu akhirnya Hiramasa membalas lambaian tangan Mikuri sambil tersenyum.

    Sebuah mobil pick up melaju ke arah Hiramasa, karena terkejut… Hiramasa diam di tempat tak berkutik. Syukurlah sang sopir mengerem sebelum menabrak Hiramasa, nyaris saja nyawanya Hiramasa melayang. Si sopir memarahi Hiramasa, Hiramasa meminta maaf. Mikuri yang melihat kejadian itu pun juga cemas tapi Hiramasa mengkode dirinya baik-baik saja.

Hiramasa kembali melanjutkan perjalanannya ke kantor. Langkah kakinya gontai, ia masih sedikit syok dan dalam hati bertekad tidak boleh mati sekarang, harus tetap hidup sampai pulang ke rumah nanti.

    Malam harinya ketika Hiramasa pulang ke rumah, ia tidak langsung pulang. Justru memandangi rumahnya, ia memikirkan dirinya yang memegang teguh pemikirannya tentang jomblo profesional yang tidak mengambil langkah selanjutnya, akan tetapi ia mulai menyadari kalau tempat itu sangat hangat. (Mikuri dan rumah)

    Mikuri berpelukan dengan Hiramasa, setelah saling melepaskan mereka langsung sama-sama canggung. “Selamat malam” kata Hiramasa

“Selamat malam”

Hiramasa lalu kembali ke kamar.

    Mikuri dalam hati bertanya-tanya “Apa mungkin.. tidak ada ciuman kedua?”.

Di kamar, Hiramasa sedang browsing dengan keyword ‘Waktu berciuman’ dia syok sendiri melihat sebuah web yang menuliskan ‘Waktu Ciuman: 20 Hal untuk Diperhatikan’,

”Ada dua puluh?!”

~We Married as Job~

      Di kantor saat jam makan siang Hiramasa banyak menguap. Kazami menduga Tsuzaki kurang tidur. Tsuzaki bilang dia kurang tidur karena mempelajari sesuatu semalam, makin lama ia pelajari makin lama yang perlu diperhatikan mana yang fakta dan mana yang benar?.

Kazami tanya apa yang Tsuzaki pelajari itu masalah sosial atau apa?. Tsuzaki berbohong, dia bilang ya… semacam itulah. Hino datang memperingatkan Kazami dan Tsuzaki yang mengobrol begitu akrab dan membuat Numata salah mengira keduanya ada hubungan. Tsuzaki tersenyum, dia tidak menyangka Numata-san bisa berpikir Tsuzaki dan Kazami saling tertarik dan menjalin hubungan.

Kazami tersenyum geli, NUmata lucu ya?. Tsuzaki membela Numata, ia pikir Numata adalah orang yang tajam dan memiliki cara pandang laki-laki dan perempuan.

“Tentu saja bukan begitu.” Sanggah Kazami.

“Hah?” Tsuzaki bingung.

Kazami bilang menjadi gay bukan berarti apa-apa, Numata hanyalah Numata. Hino juga sependapat dengan Kazami “Dia hanya makhluk hidup bernama Numata Yoshitsuna”

Namun Tsuzaki masih berpikir Numata orangnya tajam, Kazami dan Hino beda pendapat. Ketiganya sedari tadi mengomentari Numata, Tsuzaki penasaran di mana Numata sekarang?

    Numata membuntuti Nabe. Nabe merasa diikuti seseorang tapi tidak melihat siapapun. Nabe menemui Takenaka di bawah tangga, ia tanya apa maksudnya Takenaka?.

Takenaka membisiki telinga Nabe. “Membeli semua saham?” pekik Nabe kaget.

Numata juga menguping mereka.

     Umehara memuji kukunya Yuri hari ini cantik. Yuri lumayan terganggu, ia menyuruh Umehara jangan mengatakan hal-hal seperti itu seenaknya sendiri. Masalah pelecehan seksual sudah tuntas dan Yuri dinyatakan tidak bersalah. Tapi rumornya tetap menyebar kemana-mana. Pada dasarnya orang-orang memang terlalu banyak waktu luang.

Horiuchi kesal dan menyuruh pada karyawan yang menatap Yuri dan Umehara dengan risih untuk kerja saja kalau punya waktu luang daripada menggosipkan orang lain. Umehara dan Yuri khawatir pada Horiuchi karena kata-katanya tadi sudah membuat Horiuchi mendapatkan banyak musuh sekarang. Horiuchi bilang dia hanya mengatakan kebenarannya, Horiuchi balas mengatakan justru itulah yang membuatnya benci Jepang akan tetapi dia juga benci Amerika. Umehara dan Yuri heran dengan pernyataannya Horiuchi.

    Yuri mengobrol dengan Mikuri, mengatakan Horiuchi itu adalah migran yang kembali. Mikuri terkejut,

 Yuri menceritakan saat Horiuchi mengatakan tentang dirinya sendiri. Horiuchi sering menerima perlakuan tidak menyenangkan jika orang-orang tahu dirinya ini migran yang kembali, jadi dia tidak ingin yang lainnya tahu. Orang-orang menyebut Horiuchi migran yang kembali jadi Horiuchi itu aneh, tapi jika ia memprotesnya maka orang-orang menyuruhnya kembali ke Amerika, namun di Amerika ia dikata-katai orang Jepang harusnya di Jepang. Umehara mengerti ternyata Horiuchi di manapun dia berada selalu menjadi minoritas, dia bisa dua bahasa tapi bahasa inggrisnya beraksen selatan dan ia tidak cakap menulis artikel dalam bahasa Jepang.

     Yuri menyayangkan kenapa tidak diberitahu sebelumnya, Yuri pikir sebelumnya Horiuchi hanyalah anak muda yang kurang termotivasi.

Horiuchi sengaja tidak memberitahu Yuri karena Horiuchi tidak ingin menggunakannya sebagai alasan, ada banyak migran yang kembali, bisa membaca dan menulis dengan sempurna.

   Umehara memuji Horiuchi yang hebat, ia meminta maaf karena berpikir Horiuchi itu bodoh, Umehara mulai sekarang akan mendukungnya.

    Yuri menyadari kalau dua anak itu ternyata baik. Lalu Yuri dan Mikuri keduanya membicarakan esensi dari pekerjaan, menghubungkan satu orang dengan orang lainnya, uang adalah sumber penghidupan tetapi alih-alih demi uang… bekerja hanya berorientasi uang tanpa membangun hubungan baik dan niat baik, keduanya sepakat yang terpenting adalah membangun hubungan baik, tercipta rasa terimakasih dan hormat pada orang lain.

     “Terima kasih dan hormat. Hiramasa selalu menunjukkan rasa terima kasih dan hormat padaku. Apa karena ini… hanya hubungan kerja? Kalau kami melewatinya… apa yang akan terjadi?”

Mikuri pulang ke rumah, sebelum pulang ia memandangi rumah sambil memikirkan hubungannya dengan Hiramasa. Mikuri pulang, Hiramasa menyambutnya. Ketika Hiramasa membuka kulkas, Mikuri mengajaknya minum anggur dari Yuri. Anggur yang beku alami di daerah dingin. Kandungan gulanya naik karena proses kondensasi.

    Mikuri lalu izin mau mengucapkan sesuatu, ia berterimakasih pada Hiramasa mempekerjakan Mikuri dan Mikuri bisa menikmati pekerjaannya tiap hari. “Terima kasih banyak.”

“Sama-sama”

“Lalu, …bukan itu saja.”

Hiramasa menantikan Mikuri melanjutkan kalimatnya. Mikuri hendak mengatakan ‘Aku tetap paling menyukaimu, Hiramasa-san’ kata-kata yang pernah ia ucapkan di kuil sebagai seorang pegawai ke bosnya. Entah mengapa dia tidak bisa mengatakannya sekarang. Mikuri lalu bersandar ke pundakk Hiramasa.

Membuat Hiramasa kaget. Tangan Hiramasa bergerak-gerak tidak tentu ingin menyentuh gelasnya, tapi tidak tega membuat Mikuri bangun. Ia berhasil mengambil gelasnya dengan penuh perjuangan.

    Lalu Hiramasa dan Mikuri bertatapan lama, Hiramasa meski ragu akhirnya ia menyentuh tangan Mikuri. Mikuri balas menyentuhnya. Mereka lalu berciuman, namun Hiramasa berusaha keras untuk menahan diri. Mikuri lalu memeluknya,

Mikuri bilang tidak apa-apa baginya jika itu Hiramasa, Mikuri mengizinkannya lebih dari pelukan ataupun ciuman.

Hiramasa segera melepaskan pelukannya secara paksa, ia meminta maaf ke Mikuri… dia bukan berniat seperti itu, dan itu tidak mungkin baginya.

Mikuri berdiri dan mengambil gelasnya, ia meminta maaf, meminta Hiramasa melupakan yang tadi tidak pernah terjadi. Mikuri pergi karena malu, ia ke dapur dan meletakkan gelasnya ke wastafel,

“Hal ini membuatku ingin masuk ke dalam lubang, jika ada. Aku benar-benar berharap aku bisa pergi ke sisi lain dunia.”

Lalu kita melihat Mikuri pergi dengan bus.

“Di malam dengan bulan yang samar, aku… melarikan diri dari apartemen 303.”

Komentar:

     Kayaknya kamu gak bisa tidur karena terlalu banyak terpapar sinar layar smartphone/pc deh…, itu satu… duanya karena terlalu banyak pikiran (mikirin aku? Kapan gak update2 blognya? Gitu? Kapan We Married as jobnya up? kkkkk),

     Kalau dipikir-pikir 168 cm di Indonesia sudah cukup tinggi lah… lumayan~  dan Hoshino Gen dibuang ke Indonesia pun orang-orang masih bisa bilang cakep kok~. Palingan dikira koko koko tukang jual hp di tanah abang/glodok. Dan Gakky imut sekali… dia ini orang Jepang tapi gak jepang2 banget karena ada khasnya sendiri, kecantikannya setara dengan seleb korea yang standar atas cantiknya. Aku yakin orang yang gak tahu siapa itu Yui Aragaki waktu lihat foto dia yang baru-baru ini pasti akan komentar “dia seleb korea ya?”  But I’m not sure that is compliment or abusing XD, masyarakat dari kedua Negara tsb kayaknya gak seakur itu untuk urusan looks dan industri hiburan.we-married-as-job

#Komentar lagi ya…, ada beberapa hal yang bisa ditiru dari rumah tangga bohong-bohongan mereka:

  • Suami dibuatkan bekal, yah… apakah di Indonesia bisa berhasil se-cute itu? Suami sudikah membawa bekal buatan istri?, kyknya gak deh… para bapak mikirnya malah diperlakukan seperti anak TK.
  • Suami pergi diantarkan sampai ke pintu. Hmm… ibu2? Kyknya gak mungkin seaneh di Jepang deh, aku pergi ma! Salam lalu cium tangan suami+suami cium kening, itu baru bisa masuk akal di Indonesia.
  • Suami pulang disambut “Selamat datang!”, kalau tetiba mempraktekkannya… yg ada suami malah ngecek dahi istri “Mamah sehat?” *lol, lebih masuk akal kalau menyambut suami dengan senyuman, cium tangan lagi dan menanyakan apa yang terjadi hari ini. lalu ngobrol seru berdua.
  • Dll, silahkan isi di komentar apa-apa saja yah? Mari bandingkan dan tertawakan bersama! ^^

Like FP nya untuk tahu update-an terbarunya>>>>>FANPAGE

 

Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 7 Part 2

      “Itu semua bohong!” Kazami, Hiramasa dan Hino terkejut darimana datangnya suara itu?. Tiba-tiba Numata nongol dan mengagetkan semuanya.

Numata menuduh Kazami, itu bohong kan?, jadi Kazami-san dan Tsuzaki-kun dekat sebagai “Itu” kan? (itu: pasangan kekasih #anjiiiiir).

“Itu?” tanya Kazami tidak percaya.

“Tunggu tunggu tunggu…” Numata berusaha mencerna sesuatu, bukannya Kazami dan Tsuzaki itu saling tertarik ya?. Tunggu… tunggu tunggu… Numata bingung sendiri.

      Mikuri mengunjungi Yasue. Mikuri menanyakan pada Yasue apakah pernikahan akan berjalan lancar jika tanpa ada cinta?. Yasue menanggapi, jadi Mikuri menganggap suami sebagai ATM saja? Kalau bisa sesederhana itu dalam pernikahan.. Yasue pikir tentu dia tidak akan bercerai dengan suaminya sekarang. Juga tidak perlu bekerja di toko seperti ini!

 “Oi!,” Teriak nenek, membuat Mikuri dan Yasue menoleh ke belakang.

 jangan menyebut toko seperti ini jika kau sendiri yang kembali ke sini” Kata nenek kesal pada Yasue. Hirari ada di dekat nenek sedang bermain.

Yasue dengan pelan mengatakan, pendengaran nenek hanya berfungsi dengan bagus untuk hal semacam ini saja. (diomongin yang jelek-jeleknya *kkkk nenek yang peka).

“Kau akan mewarisi toko ini?” kata Mikuri. Yasue bilang dia tidak menginginkannya juga. Mikuri lalu berdiri dan berkomentar bagaimana kalau memperbaharui toko ini?. Yasue menjawab dia tidak punya uang untuk itu. Mikuri menambahkan, bukan yang seperti itu.. misalnya membuat selai buah, memberitahu resep masakan yang menggunakan sayur-sayuran. Atau sesuatu untuk menarik pelanggan ibu rumah tangga.

    Yasue menanggapi Mikuri yang selalu begitu, selalu menyuruh orang lain begini dan begitu. Kalau Mikuri melakukannya sendiri itu adalah masalahnya Mikuri sendiri, tetapi kalau disuruh orang lain jadi menyebalkan. Mikuri lalu merasa sakit karena dipukul telak oleh kata-katanya Yasue barusan.

“Benarkah?” tanya Yasue kaget sendiri.

“Ada banyak hal tidak berjalan lancar…” kata Mikuri sambil menerawang sedih.

“dengan pacarmu?”

Mikuri mengaku sebenarnya dia bukanlah pacarnya. Otomatis Yasue kaget. Mikuri dengan sedih bercerita, Mikuri menikah dengan pria itu tapi tidak terdaftar di kartu keluarganya. Dan lebih parahnya lagi Mikuri dicium pria tersebut. Hanya sekali (emangnya situ mau berapa kali? *cling, nikah siri versi modern maybe~)

Yassan terperangah mengetahui fakta tersebut. Hirari tampaknya juga mendengarkan (e-eh… apa’an sih?, Karissa mulai gila nih -_-)

“Ini imajinasimu?” tanya Yasue untuk memastikan.

“Mungkin juga…” jawab Mikuri.

     Hiramasa bersembunyi, ia menunggu Yuri-san. Ketika Yuri keluar dari gedung… Hiramasa membuntutinya. Ia berjalan mengendap-endap dan pura-pura kebetulan melihat Yuri, Hiramasa menyapanya dan Yuri balik menyapa. Hiramasa berterimakasih atas hadiah bulan madunya, dan Yuri balik berterimakasih atas oleh-olehnya.

    Hiramasa dengan hati-hati bertanya, omong-omong bulan kemarin Mikuri ulang tahun, apa Yuri-san memberikannya  kado?. Yuri tentu saja memberinya kado, apa Hiramasa belum dengar? Sebuah Bamix. Hiramasa mengernyit bingung mendengar kata Bamix.

Yuri menjelaskan bamik itu mikser tangan. Memangnya kenapa Hiramasa bertanya?. Hiramasa bilang tidak ada alasan khusus. Yuri berhenti berjalan dan geli sendiri, ah! Jangan bilang Hiramasa tidak melakukan apapun di ulang tahunnya Mikuri?.

   Hiramasa hanya menatap Yuri tanpa menanggapi. Yuri pikir tidak mungkin, Mikuri dan Hiramasa kan bukan pasangan paruh baya, mereka pengantin baru dan masih seperti berpacaran. Yuri memukul bahu Hiramasa lalu pergi.

Hiramasa di dapur, ia memegangi teh hadiahnya Kazami dengan putus asa. Dalam hati berkata, apa hanya dirinya seorang saja yang tidak menyadari fakta yang ada di depan  mata?. Sesaat Hiramasa tenggelam dalam kegetirannya.

Namun tak berlangsung lama, Mikuri melihatnya. Hiramasa segera melepaskan tehnya dan berlalu pergi sambil mengucapkan selamat malam. Mikuri meski bingung ia balik mengucapkan selamat malam, saat Hiramasa sudah masuk kamar.. Mikuri menatap teh pemberiannya Kazami, ia bingung dengan tingkah Hiramasa tadi.

     Hiramasa-san mulai beraksi. Dia menuju ke pusat perbelanjaan/mall, melihat-lihat peralatan dapur, rangkaian bunga yang cantik, tas-tas bermerek, perhiasan menawan.

Pakaian wanita, belum ada yang disinggahinya. Ia masih berkeliling bingung, syal? Kotak musik? Mainan kayu?, benar-benar tidak bisa memutuskannya dengan mudah. Ia terus melihat-lihat sampai memegangi kepalanya sendiri, sepertinya pusing karena terlalu banyak pilihan *kkkkkk

     Hiramasa memutuskan untuk menelfon tuan dan nyonya Moriyama, menanyakan apa yang disukai Mikuri-san. Ayah Tochio menjawab pero, ibu Sakura mengatakan Mikuri menangis saat pero mati dan ayah menambahkan Mikuri pernah bilang ‘Aku mau masuk kandang juga’. Ayah dan ibu terharu mengingat kenangan tersebut,

Tsuzaki menjelaskan ia bukannya mau bertanya tentang kenangan anjing peliharaannya Mikuri. Tapi benda apa yang Mikuri-san inginkan?. Ayah malah menjawab Mikuri pernah mengatakan tidak akan pernah menginginkan anjing lainnya. Iya, ibu juga sama dengan ayah.. Mikuri bilang kenangan dengan pero sudah lebih dari cukup.

Hiramasa tampaknya sudah mulai stres sendiri dengan pembicaraan anjing ini. “Aku mengerti pembicaraan tentang anjing itu…”

“Pero selalu paling menurut pada Mikuri” kata Ibu

“Dia melatihnya begitu keras…” tambah ayah.

“Cukup tentang anjingnya…”

Ibu lalu ingat Pero tidak pernah patuh pada ayah, ayah juga ingat Pero pernah merobek sepatunya. Hahahaha! Keduanya tertawa tanpa menghiraukan menantunya yang tadi tanya apa jawabnya apa?

 (kalo aku punya kucing di rumah, paling nurut denganku lho… Tsuzaki-san?, eniwei kyknya Tsuzaki bakalan tambah jengkel kalau aku kasih tahu itu *pfffttt)

“Terimakasih. Permisi.” Hiramasa menyerah, ia tidak jadi bertanya dan leboh memilih memutus panggilannya.

      Hiramasa lalu mendatangi seorang pelayan, pelayan bertanya dengan ramah ada yang bisa dibantu?. Hiramasa menjawab dia ingin mencari hadiah untuk seorang . Pelayan bertanya, apa untuk istri? Tsuzaki bilang bukan. Saudara perempuan? Tsuzaki bilang tidak lagi. Apa untuk pacar anda? Lagi-lagi Tsuzaki menjawab bukan.

     Mikuri di rumah menunggu Hiramasa pulang dengan cemas, jam di dinding hampir pukul 9 malam. Hiramasa pulang, Mikuri lalu pura-pura fokus menonton TV.

“Aku pulang,”

“Selamat datang,”

Hiramasa ada yang mau dibicarakan dengan Mikuri. Ia bia menunggu Mikuri sampai selesai menonton TV. Mikuri tidak apa-apa, dia tadi hanya menonton saja.

(Wuaaah!, Hiramasa baik sekali ya?, nunggu selesai nonton TV?, ibaratnya seperti pasanganmu mau ngomong penting dan kebetulan kamu lagi nonton drama, dia bilang bisa nunggu sampai selesai… dan dia gak tahu aja kalo kamu nontonnya 1 judul drama yg 16 eps baru bisa dibilang selesai 😀 *anjiiir #ngaco’)

Hiramasa lalu duduk, Hiramasa mengatakan belum lama ini ada sesuatu yang terjadi. Mikuri mengiyakannya.

Awal September Mikuri ulang tahun kan?. Mikuri lalu mengoreksi kata-kata Hiramasa tadi, itu bukannya ‘belum lama’ tapi memang sudah lama. Hiramasa membungkuk meminta maaf, tapi Mikuri tidak mempermasalahkannya. Hiramasa berdiri dan mengluarkan amplop dari jaketnya.

     Mikuri menerimanya dengan bingung. Hiramasa bilang inilah yang terbaik setelah ia lama mempertimbangkannya. Mikuri membukanya, isinya tiga lembar uang 10.000 yen. Hiramasa mengutarakan ini bukanlah hadiah, melainkan ini bonus. Menurut Hiramasa tidak terlalu baik sebagai bos secara pribadi memberikan hadiah pada pekerjanya. Akan tetapi Hiramasa ingin rasa terimakasihnya berwujud.

“Jadi dalam bentuk bonus…” Kata Mikuri merasa janggal. Hiramasa bilang Mikuri tidak perlu membalasnya. “Itu saja, selamat ulang tahun”

Hiramasa membungkuk, Mikuri balas membungkuk dan berterima kasih. Setelahnya Hiramasa kembali ke kamar.

(ini adalah tanjoubi omedeto teraneh yg pernah kulihat *kkkk)

     Mikuri tidak mengerti, ulang tahunnya kan sudah lebih dari sebulan yang lalu. Ah! Apa mungkin ini kompensasi dari ciuman Hiramasa?. Mikuri lalu berjalan mendekati pintu kamar Hiramasa, hendak mengetuknya untuk bertanya tapi tidak jadi.

Mikuri akhirnya mengirimkan pesan ke Hiramasa. Hiramasa cukup kaget kenapa Mikuri mengiriminya pesan, hati-hati ia membuka pesannya [Terimakasih atas bonusnya] syukurlah pesan Mikuri berbunyi seperti itu, Hiramasa lega di bagian ucapan terimakasih. [Apa boleh aku bertanya? Kenapa anda menciumku?]

Seketika ponsel itu berubah menjadi bara api, Hiramasa syok berat membacanya sampai melemparkan ponselnya sendiri.

Mikuri menunggu dengan sabar kapan pesannya dibalas. Hiramasa duduk di kursinya, sedang berpikir keras bagaimana menjawab pertanyaannya Mikuri. Pukul 21:45 belum dibalas juga. Mikuri masih menunggu sambil duduk di sofa, sampai pukul 22:30 dan belum ada balasan dari Hiramasa.

Hiramasa kebingungan hendak menjawab apa. Dia mondar-mandir, kesana kemari frustasi. Pukul 24 lebih beberapa menit Mikuri masih menunggunya. Tak kunjung dibalas, Mikuri memutuskan untuk tidur. Lampu ia matikan, memejamkan mata bersiap tidur. Tak disangka pesan masuk.

[Maaf, itu tindakan tidak pantas dari seorang bos] Mikuri geram membaca pesan itu, ia merasa itu hanya alasan. Itu bukan jawaban yang sebenarnya!.

 Hiramasa di dalam kamarnya sedang cemas, ia tidak bisa mengatakan alasannya yang sebenarnya ke Mikuri kenapa menciumnya dulu. Hiramasa dalam hati mengakui saat itu dia terbawa suasana dan mencium Mikuri.

Setelah memikirkannya lama, Hiramasa lalu hendak mengirimkan pesan ke Mikuri… meminta Mikuri melupakannya kejadian itu dan menganggapnya tidak pernah terjadi. Baru saja mau menekan tombol kirim tapi pesan dari Mikuri sudah masuk.

Mikuri: [Anda tidak perlu meminta maaf] balas Mikuri, Hiramasa terkejut “Tak apa-apa… jika aku tidak meminta maaf?”

Hiramasa: [Tetap saja, tindakan sepihakku tak bisa dimaafkan. Aku benar-benar menyesal]

Mikuri yang menerima pesan itu menjadi jengkel, maka dari itu.. kenapa Hiramasa-san menyesalinya?

Mikuri: [Jika melihatnya sebagai liburan kantor, itu termasuk pelecehan seksual dan tidak pantas. Akan tetapi liburan kemarin juga bula madu, dan secara teknis kita berdua adalah kekasih, jadi bukankah bisa diterima skinship lanjutan?]

Hiramasa kembali syok, kenapa skinship itu bisa diterima?.

Hiramasa: [Terimakasih. Mulai sekarang tolong tetap membantuku]

Tetap membantu dalam hal apa?, Mikuri pusing memikirkannya dan tidak mengerti apa maksudnya. Mikuri tidak tahu bagaimana menanggapi pesan ini. Sembari berbaring, ia lihat kata-kata mulai sekarang tolong tetap membantuku. Lalu Mikuri lalu mengetikkan pesannya sambil duduk.

[Sama-sama  mohon bimbingannya. Aku menantikan yang kedua] Mikuri tidak langsung mengirimnya, ia stres sendiri. Mungkin baru sadar kalau pesannya terlalu vulgar.

Lalu ia menghapus pesan yang bagian ‘Aku menantikan yang kedua’.

Hiramasa menerima pesan Mikuri [Sama-sama mohon bimbingannya. Selamanya] yang Tsuzaki soroti terutama kata selamanya, itu membuatnya tersenyum lebar. Lalu ia menjatuhkan diri ke kasur, memperhatikan bulan purnama. Mikuri di luar sana juga sedang memperhatikan bulan,

    Mikuri membuang sampah, ia melihat stiker di tempat sampah tersebut, hari ini hari Selasa. Mikuri dan Hiramasa makan sarapan mereka seperti biasanya.

 Mikuri memberikan bekal Tsuzaki, Tsuzaki menginfokan sepertinya dia nanti akan pulang malam dan makan malam di kantor tapi Mikuri tidak perlu khawatir. Mikuri yang mengikutinya sampai ke pintu mengiyakan, Tsuzaki berhenti sejenak dan mengatakan hari ini Selasa.

Tsuzaki lalu mendekati Mikuri dan memeluknya. Mikuri lumayan terkejut karena biasanya Hiramasa perlu diingatkan baru akan memeluknya. Meski kaget… Mikuri tetap menikmatinya. Lalu keduanya melepaskan pelukan.

“Hari ini pastikan… kau tidur lebih dulu.”

“Iya,” jawab Mikuri dengan canggung. Tsuzaki lalu pamit pergi, Mikuri mengucapkan semoga harimu menyenangkan. Setelah Tsuzaki pergi Mikuri langsung terduduk di lantai, kemudian berbaring.

     “Gelombang cinta ini… Angin puyuh Hiramasa-san di dalamku sudah… “ Tampaknya Mikuri mulai luluh oleh perlakuannya Tsuzaki Hiramasa padanya.

Lalu kita para penonton tiba-tiba nonton acara 10 lagu terbaik dan naratornya adalah Mikuri *kyknyasiih, khayalannya Mikuri. Dari mesin yang berputar, kata-kata ‘Hari ini pastikan kau tidur lebih dulu’ dari Tsuzaki Hiramasa: 9.999 poin!.

Bulan lalu, berbagai lagu mendapat tempat hingga peringkat keempat dalam kategori “suka”. Tapi sayangnya tidak ada yang berhasil menempati tiga terbaik. Saat ini peringkat mengalami perubahan besar, Hiramasa-san menempati peringkat ketiga dan kedua…

(fiuuh… sekilas aku berhenti mengetik dan mengernyitkan dahiku, bingung… ini gw nonton apa’aan sih?, drama? Apa acara lawak? Wkwkwwkwkwk)

Komentar:

       I called Hoshino Gen  “Om Hiramasa” too much!. But didn’t care about age or blablabla when my eyes catch up this Ahjussi! Gong Yoo!, Neomu Jalngsaenggyoseo~ ❤ (37)

quotes from Ahn YoNa (Kill Me Heal Me) “If you’re handsome, you’re my oppa!” *kkkkkkkk

lanjut part 3 ya… yg sabar, I’m not robot and I have something else to do…, so please cheer me up! ^^,

ucapkan terimakasih atas sinopsis yang barusan kamu baca dengan cara “Like” FP blog ini>>>>>>FANPAGE

 

Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 7 Part 1

     Pagi hari, Mikuri dan Hiramasa sarapan bersama. Mikuri mengatakan pada Hiramasa kalau hari ini dua emprit jepang datang ke balkon. Hiramasa menanyakan keadaan emprit jepang yang warna putih apa sehat?. Mikuri  menjawab yang putih sehat.

“Baguslah baik-baik saja” Hiramasa mengucap syukur.

“Iya,”

(Boleh aku ketawa? 😀 , mereka kayak ngomongin anak. Mamah… apa si adek sehat? Yang kakak sudah ngerjain pr atau belum? #abaikan)

     Mikuri mulai berkhayal lagi, kali ini sebuah bus mini kuning bertuliskan bus emprit jepang berhenti di dekat makanan Tsuzaki. Mikuri mini keluar dari dalamnya dengan seragam. Mikuri mini menunjuk Hiramasa Tsuzaki yang tengah makan.

“Perkenalkan, ini adalah bosku. Tsuzaki Hiramasa.” Mikuri mini menceritakan pada pemirsa tentang ciuman tiba-tiba dari bosnya itu.

      Mikuri mini heran sekali, Hiramasa tiba-tiba menciumnya lalu melepaskan genggaman tangannya. Hiramasa kaget sendiri, seketika menjadi amnesia.

“Maaf” katanya masih setengah sadar. Kemudian terburu-buru keluar dari kereta sambil membawa barang-barangnya, meninggalkan Mikuri yang butuh penjelasan. Mikuri ikut keluar dan memanggilnya tapi tidak digubris oleh Hiramasa.

     Di dalam bus perjalanan pulang pun Hiramasa tidak berbicara apapun, malah tidur seperti balok kayu. Yang pasti Mikuri tahu itu hanya pura-pura. Sesampainya di rumah Mikuri hendak bertanya soal tadi “Anu, Hiramasa-san… yang tadi itu?”

“Akh!” Pekiknya tiba-tiba, berusaha menghindari objek. “Aku lupa bersiap untuk pekerjaan hari Senin.” Katanya tanpa berani menatap mata Mikuri. Mikuri mengatakan, tapi ini kan masih hari Sabtu?. Hiramasa kembali mencari-cari alasan, alasannya karena butuh butuh waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Lalu Mikuri bertanya perlukan dia memasak makan malam?. Hiramasa menolak dengan halus, dia bilang ini hari liburnya Mikuri… jadi Hiramasa makan dengan mie cup saja sudah cukup, Mikuri tidak perlu mengkhawatirkannya. Hiramasa masuk ke kamar, melarikan diri.

     Mikuri mini kesal, sejak saat itu Hiramasa-san benar-benar mengabaikan kejadian itu. Tidak ada sentuhan, tidak ada reaksi setelahnya. Mini Mikuri bertanya-tanya, sebenarnya apa yang salah dengan orang ini?. Katanya sambil memandang bosnya dengan jengkel.

     Mini Mikuri meringis, kembali ke bus dan memundurkan busnya. Bus langsung menghilang entah kemana.

     Mikuri menanyakan rasa sup miso hari ini ke Hiramasa. Hiramasa menjawab diplomatis, enak seperti biasanya.

“Syukurlah” kata Mikuri. Dalam hati Mikuri mengatakan, karena masakan di penginapan enak sekali… dia terinspirasi membuat dashi otentik. Dashi merupakan kaldu masak khas Jepang. Pagi ini ia bangun awal dan membuat kaldu dari ikan bonito kering.

Ini adalah sup miso spesial. Mikuri rasa itu bukan masalah, yang menjadi masalah bagi Mikuri adalah.. apa sebenarnya maksud Hiramasa-san?. Mikuri pagi tadi menyamakan keadaannya seperti ikan yang dipanggang. Hiramasa menyalakan api dan meninggalkannya begitu saja, bagaimana kalau apinya menyebar?

Ikan di depan mata Mikuri terbakar. Seperti keadaannya sekarang, Hiramasa-san telah memberikan harapan pada Mikuri, tidak begitu jelas maksudnya Hiramasa-san.. akan tetapi bisa membuat hati Mikuri bergejolak tidak menentu.

“Apakah kau ini seorang pembakar?”

Mikuri sekarang menanyakan bagaimana ikannya?. “Ini enak. Kau belum pernah memasak ikan ini sebelumnya, kan ya?” jawab Hiramasa.

“Iya. Ini kisu bakar”

      Dengar kata kisu bakar membuat Hiramasa tersedak. Padahal Mikuri maksud adalah jenis ikan ini kisu, bukannya kissue kiss (kkkkk)

Mikuri dengan damai memandangi Hiramasa yang terganggu dengan kata kisu. Hiramasa terbatuk sekali dua kali. “Oh iya, ini enak..” katanya Hiramasa dengan canggung. Mikuri hanya mengangguk saja mengiyakan.

     Mikuri melakukan tugasnya bersih-bersih seperti biasanya. Jika Hiramasa-san mengabaikannya sampai sejauh ini… Mikuri pikir ini… apakah ini hanya ilusinya semata?. Mikuri membayangkan dirinya sebagai tunawisma dan duduk di pinggiran rumah orang pada malam bersalju.

Mikuri menggesekkan batang korek apinya ke tanah untuk menghidupkannya. Tiap satu nyala maka akan menimbulkan kenangannya bersama Hiramasa-san. Pertama-tama saat mereka dalam perjalanan melamar Mikuri, pertemuan dua keluarga, kebersamaan yang telah mereka lalui bersama.

Lelah mencari pekerjaan…, seorang wanita sedih, tak dibutuhkan oleh siapa pun, dan tak punya tempat tujuan… melihat sebuah ilusi di ambang kematian. Bulan madu palsu yang juga liburan kantor, juga ciuman di kereta, semuanya. Semuanya, semuanya.. hanya ilusiku”

Tiap nyala api mati, Mikuri mengulangi lagi lagi dan lagi menggesekkan batang koreknya ke tanah. Dan tiap kali apinya menyala, semua kenangannya bersama Hiramasa-san datang dan itu membut tunawisma Mikuri senang.

Tunawisma Mikuri menghabiskan banyak sekali korek api, ia berbaring di bawah dengan lesu, bulir-bulir salju mengotori pakaiannya. Pada akhirnya tunawisma Mikuri menyadari kalau ini hanyalah ilusinya.

Mikuri sedih dan memegangi bibirnya sendiri, meskipun semuanya itu membahagiakan.

*~We Married as Job || Nigeru Wa Haji da ga Yaku Ni Tatsu~*

     Hiramasa mendekati Hino, ia menyodorkan sesuatu ke Hino. Hino tidak tahu apa itu, Hiramasa membisikkannya sesuatu.

“Oh, minuman pit viper?” katanya keras-keras, membuat pegawai lainnya menoleh curiga.

“Kau tidak perlu mengatakannya!”

Hino bertanya apa Tsuzaki tidak meminumnya?. Tsuzaki meletakkan obat kuat ekstrak kobra itu ke meja dengan jijik. Tsuzaki meminta maaf, dia tidak akan pernah meminumnya. Hino menyesal, padahal dia sudah memberikannya ke Tsuzaki, seharusnya Tsuzaki meminumnya!.

“Itu adalah sesuatu yang takkan pernah kubutuhkan selama hidupku. Aku hanya akan menerima niat baikmu. Terima kasih.”

Ucapan Tsuzaki yang ambigu otomatis membuat Hino melirik ke bawah, syok sendiri. Ketika Tsuzaki pergi dia bergumam takjub “Tsuzaki-san ternyata hebat, ya.” Dipikirnya Tsuzaki sudah hebat tanpa perlu minum yang begituan. (ahahahahahahahaha XD )

     Hiramasa kembali ke meja kerjanya. Ia merasa ada yang aneh dengan dirinya ini, ia ini adalah jomblo profesional yang tidak mudah jatuh cinta, tidak mengambil langkah selanjutnya dan atau lebih tepatnya ia tidaklah perlu untuk melanjutkannya (perasaannya). Dengan begitu maka ia akan merasakan ketenteraman.

Tiba-tiba jari Tsuzaki berhenti mengetik. Pada saat itu di kereta, ia tidak bisa menahannya lagi, ia pikir ia dan Mikuri memikirkan hal yang sama.

“…Sangat manis,”

Tsuzaki mencium Mikuri, mengikuti nalurinya. (makanya dia syok dan langsung amnesia setelah menciumnya *dasarpria!. Tapi menurutku self controlnya Tsuzaki Hiramasa keren sekali lhoo selama ini..)

     “Aaaaaaaaa….!!!” Teriak seseorang dari salah satu bilik toilet.

Nabe yang kebetulan juga ada di toilet pun menoleh terkejut. Nabe tanya ke Tsuzaki yang baru keluar dari bilik, apa barusan Tsuzaki teriak?. Tsuzaki dengan santai bilang tidak. Nabe lalu pergi.

Tsuzaki mencuci tangannya sambil masih melamun. Ia merasa ada yang sangat aneh dengan dirinya, tapi apa itu dirinya sendiri pun tidak mengerti. Kenapa Hiramasa mencium Mikuri waktu itu. Kenapa ia bisa terbuai oleh bulan madu palsu (Karissa tahu!, ehem!~ keponakanmu ini tahu om… om lagi jatuh cinta. #mintaDijewer XD)

      Tsuzaki pergi membeli buku teka-teki Sudoku, sepertinya sedang berusaha keras untuk mengalihkan fokus pikirannya ke hal yang lain. Gara-gara terbuai bulan madu palsu. Dalam hati Tsuzaki bersikeras, ia hanya sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia dan Mikuri memikirkan hal yang sama.

Tsuzaki pergi ke kasir untuk membayar bukunya.

     Tidak tunggu waktu lama Hiramasa pun langsung mengerjakan sudokunya, sambil mengerjakan dia sambil memikirkan Mikuri. Hiramasa tahu Mikuri meski tidak bicara secara langsung soal kejadian kissue itu, ia yakin Mikuri sangat kesal. Jika dia mulai membenci Hiramasa dan mengundurkan diri… lantas apa yang tersisa untuk Hiramasa?

Dari luaran Hiramasa terlihat sangat fokus mengerjakan kotak demi kotaknya, terus membalik lembarannya, sepertinya es di mejanya tidak banyak disentuh. Padahal pikirannya sedang melayang-layang di hal yang lainnya.

   Lalu ia berhenti mengisi angkanya, menatap kamera dan mulai curhat “Begitu, ya… Untuk orang seusiaku ini, tentu saja, paling tidak… sudah pernah mencium seseorang.”  Katanya ramah pada penonton, pada kita *kkkkkk

Yap, Hiramasa mensyukurinya daripada terus menerus menjadikan beban pikirannya. Paling tidak 35 tahun dia sudah pernah mencium seseorang,

 (please jangan kaget, dia kan jomblo profesional~ 35 tahun aja belum pernah pacaran.. XD )

Tapi dia juga kesal pada dirinya sendiri, sekarang dia bisa mengatakan hal seperti itu dengan bangga padahal dulu ia tutup-tutupi dengan bangga jangan sampai pernah ada yang tahu. Hiramasa menutup buku sudokunya, menghembuskan nafas dengan berat dan frustasi. Heran sendiri kenapa bisa bersyukur gara-gara insiden mencium Mikuri sebelumnya.

Hiramasa menghabiskan banyak waktu di tempat ini, ia sampai sudah memesan kopi setelah es tadi.

    Hiramasa sengaja pulang larut agar tidak melihat Mikuri. Ia berjalan mengendap-endap di rumah sendiri. Siapa sangka ketika membuka pintu kamar dengan hati-hati Mikuri malah bangun dan menghidupkan lampunya. Mikuri menyambutnya, kemudian berjalan mendekati Tsuzaki.

Tsuzaki tadi sudah memberitahu Mikuri kalau akan pulang telat dan menyuruhnya tidur duluan. Mikuri menajwab dia sudah membaca pesan Hiramasa, akan tetapi hari ini adalah selasa. Hiramasa terkejut, dia menunjuk jam dinding yang sudah lewat tengah malam, artinya sekarang sudah hari Rabu.

     Mikuri tidak menghiraukannya, ia menatap memelas pada Hiramasa dan membuka lengannya minta dipeluk. Hiramasa tidak ada pilihan lain selain memeluk Mikuri, ia permisi dulu sebelum memeluknya. Lalu mengucapkan selamat malam dan kembali ke kamar.

     Mikuri menyadari ini tidak adil, rasanya seperti Hiramasa memeluknya karena terpaksa tadi. Mikuri pikir Hiramasa mungkin menyesali ciuman waktu itu.

     Hiramasa di kamarnya, ia khawatir… apa tidak apa-apa menganggap tidak pernah terjadi apapun diantaranya dengan Mikuri dan menjalani hari-hari seperti biasanya?.

Mikuri sendiri pun juga tidak bisa langsung tidur, ia merenung menatap bulan purnama. Ia rasa tidak bisa bersikap berpura-pura tidak terjadi apapun.

Hiramasa mencoba memejamkan matanya untuk tidur, ia sangat berharap semuanya seperti biasanya kembali walau hanya sehari (tanpa cinta, hanya hubungan bos dan pegawai).

     Di hari lainnya. Mikuri bekerja di rumah Kazami, Kazami menanyakan bulan madunya Mikuri dan Tsuzaki kemarin, akhirnya Mikuri dan Tsuzaki melewati batas juga. Mikuri menyela bukan seperti itu, ia dan Tsuzaki bukannya melewati batas… malah salah jalan.

“Salah jalan yang seperti apa?”

Pertanyaan Kazami enggan Mikuri jawab, ia mencoba mengalikan topiknya dengan bertanya apa Kazami tidak berangkat kerja?. Kazami bilang sabtu sudah berangkat kerja, jadinya sekarang dia libur.

“Kazami-san! Minggir!” Mikuri mengusirnya dari tempat duduk untuk dibersihkan. Kazami agak terkejut ternyata Mikuri bisa emosional juga orangnya. Mikuri masih sambil menyapu, ia menggerutu dia aslinya memang begini… sebelumnya dia hanya berpura-pura tenang saja, bahkan domba pun akan menunjukkan sikap aslinya jika tidak tenang.

Kazami menduga Mikuri sedang tidak tenang sekarang. Mikuri berhenti menyapu dan menatapnya tajam. Menyuruh Kazami jangan mengatakan hal seperti itu dengan begitu bahagia.

Menurut Kazami sisi Mikuri yang emosional menarik juga. Mikuri lalu berandai-andai jika saja Kazami adalah pasangannya, Mikuri bisa dengan jelas mengerti kalau Kazami mungkin sedang melakukan trik, strategi untuk menggetarkan hatinya Mikuri. Menggodanya dan semacamnya. Namun, jika orang yang berbeda… Mikuri sama sekali tidak mengerti harus berpikir apa. (Tsuzaki Hiramasa yang lain dari yang lain XD )

       Tanpa peringatan Kazami langsung menarik Mikuri ke dalam pelukannya. Bertanya apa sekarang Mikuri berdebar-debar karena dipeluk Kazami?. Mikuri tersenyum geli  dan menyingkirkan tangan Kazami “Tolong jangan bercanda!”. Kazami mundur dengan tangan terangkat. Mikuri kembali bersih-bersih.

     Kazami makan dengan Yuri. Kazami mengatakan kalau orang sepertinya memang sulit dipercaya dan dianggap hanya main-main, berbeda sekali dengan Tsuzaki-san dan itu membuat Kazami iri.

“Ada yang bilang begitu?” tanya Yuri

“Aku mencium Mikuri-san”

“Hah?!” Yuri kaget.

Kazami segera menjernihkan kalau bukan begitu maksud sebenarnya. Yuri tenang kembali setelah mendengarnya, kata-kata Kazami itu tidak baik untuk kesehatan jantung Yuri.

“Tampang dan kepribadian Tsuzaki sama-sama tulus, jadi dia bisa menemukan cinta sejati.” Kata Kazami.

“Aku tidak… tak memahami perasaanmu. ‘Tidak mungkin Tsuchiya menerimaku sebagai pasangannya.’ “

Kazami jadi berpikir Yuri Tsuchiya pasti populer saat muda. Yuri agak malu mengiyakannya, Yuri merasa mungkin Yuri bukan populer dalam artian yang sebenarnya.

“Itu menyakitkan” kata Kazami, mungkin Kazami mengeluhkan kepopulerannya sebagai pria tampan sangat menyakitkan. Yuri harus pergi, ia hendak membayarkan makan siang mereka tetapi Kazami mencegahnya  mengambil dompet

“Ini aku yang bayar” kata Kazami sambil menyerahkan dompet Yuri.

Yuri mengendus ada yang tidak beres, apa Kazami dengan kata lain nanti harus menurut jika Kazami minta ditraktir?. Kazami menjawab dia hanya melakukannya karena kelihatannya Yuri-san tidak suka ditraktir orang lain.

“Jadi kau sudah tahu, kan?” kalau sudah tahu kenapa mentraktirnya?, Yuri lumayan kesal.

“Makanya aku yang bayar”

“kau mengangguku?”

“Apa kau kesal?”

Yuri menjawab tidak juga, itu karena Yuri sudah mengubah pandangannya tentang pria ganteng menyebalkan pada Kazami. Kazami tidak seperti yang Yuri pikirkan sebelumnya.

“Aku bukan pria ganteng yang menyebalkan lagi.”

“Sekarang kau ponakan bermuka tebal” Sahut Yuri ketika mengambil dompetnya. Yuri lalu pergi dan Kazami mengikutinya, ia menggoda Yuri bagaimana kalau panggil Yuri dengan sebutan Tante karena tadi katanya Kazami kan ponakannya? *kkkkk. Yuri mendorongnya menjauh, Kazami hanya tertawa.

*~We Married as Job || Nigeru Wa Haji da ga Yaku Ni Tatsu~*

      Makan siang di kantor. Tsuzaki dan Hino mengobrolkan ulang tahun istri, Hino bilang dia sudah kehabisan ide untuk memberikan hadiah karena sudah 10 tahun pernikahan. Lalu bagaimana dengan Tsuzaki-san?

Tsuzaki menjawab dengan santai kalau ulang tahun istrinya belum lewat…

Terbersit tanggal lahir Moriyama Mikuri di dokumen pernikahan mereka, 9 September 1990. Tsuzaki buru-buru mengecek tanggal berapa sekarang di ponsel, sekarang tanggal 7 Oktober.

“Ada apa?” tanya Hino

“aku lupa ulang tahunnya.”

“Hah? Istrimu?” Hino kaget. Kebetulan Kazami tak jauh dari sana, ia juga dengar perkataan mereka barusan.

“Sudah hampir sebulan lalu.” Tsuzaki menyesal.

“Kau bercanda, ‘kan? Kau tak memberinya apa-apa?”

“Tidak.”

Hino bertanya, bagaimana dengan ucapan selamat ulang tahun?, apa Tsuzaki mengatakannya ke sang istri?. Tsuzaki menjawab tidak.

“Wah!”Hino tidak percaya Tsuzaki setega itu.

“Akan tetapi, kami adalah pasangan menikah yang tak melakukan apa pun.”

“Tidak bisa begitu.”

“Kalau tak menghargai hal-hal kecil, kalian akan bercerai di masa tua.”

“Dalam kasus kami, malah aneh jika aku melakukan sesuatu.”

Hino menjelaskan itu tidaklah aneh, yang salah adalah karena Tsuzaki menganggap itu aneh maka jadi aneh. Tsuzaki tetap teguh dengan kata-katanya, dalam kasusnya itu akan menjadi aneh. Hino pun juga sama percayanya dengan pemikirannya sendiri

“Bukankah bukan hal yang aneh bahwa hal ini tidak tak aneh?” kata Hino sambil mengunyah (lol wkwkwk)

“Bukan hal yang aneh bahwa hal ini tidak tak aneh, tidak aneh, tak… aneh atau tidak aneh?” Tsuzaki bingung sendiri dengan terlalu banyak kata aneh, (aku mau bentak dua orang ini boleh?, kalian tuh yang aneh!! -_- *kkkkk)

      Kazami ikut dalam pembicaraan, menurutnya tidak perlu terlalu memikirkan soal itu (perhatian ke istri pas ultah). Kazami menceritakan saat ini ada wanita yang dia pekerjakan di rumahnya untuk bersih-bersih seminggu dua kali.

“Oh, seperti Tsuzaki-san sebelum menikah.” Kata Hino.

“Dengar-dengar ulang tahunnya di awal bulan September.”

Tsuzaki dan Hino melongo. Hino terkejut, hah? Sama dengan istrinya Tsuzaki-san!. Sedangkan itu Tsuzaki menatap Kazami tanpa ekspresi (dia cemburu kah?. Atau jengkel kenapa Kazami tahu ultahnya Mikuri?)

“Aku dengan santai… memberinya hadiah.” (ahahahahaha… oooh Kazami mau pamer ceritanya nih?)

“Kau memberinya hadiah?” tanya Tsuzaki

“Iya,”

Tsuzaki lalu bertanya apa yang Kazami berikan ke wanita itu? (Mikuri). Kazami menjawab ia memberikannya teh Sri Lanka yang lumayan enak.

Tsuzaki ingat saat ngeteh malam-malam dengan Mikuri, rupanya itu hadiah dari Kazami ?. Tsuzaki syok, Hino memuji Kazami hebat sekali bisa memberikan hadiah sesantai itu. Tsuzaki terlihat menderita dengan fakta itu.

“Hah? Apa kau tertekan, Tsuzaki-san?” tanya Hino saat melihat Tsuzaki ekspresinya tidak karuan. Seperti mau mati di tempat saja.

(ahahahahahahaa…. XD )

Tsuzaki bilang tidak, bukan begitu. Kazami semakin menekan Tsuzaki dengan mengatakan pekerja yang dia rekrut itu mendekati tipe idealnya Kazami. Seketika mendengar itu, Tsuzaki langsung menatapnya tajam.

Kazami menyayangkan, kalau wanita itu bukan orang yang terus terang. Benar ‘kan, Tsuzaki-san?

“Kenapa Tsuzaki-san?” Hino heran kenapa Kazami bilang begitu. Kazami menambahkan kalau Tsuzaki juga kenal wanita yang Kazami maksudkan.

“Kami sering membahasnya.”

Hino jadi mengerti kenapa Kazami dan Tsuzaki terlihat dekat belakangan ini.

Komentar:

      Duuh… episode 7 T_T. Sebentar lagi tamat dong~ ~ ~ ~

Lucky seven!. Semoga yang lagi baca seneng dengan tulisanku, dan semoga yang lagi gak bisa tidur bisa nyenyak tidurnya, kalau gak bisa tidur selama 8 jam… at least 6 jam/kurang dari itu, tapi tidurnya semoga berkualitas dan segar waktu bangunnya. Yang belum 25 tahun jangan kebanyakan begadang gak perlu ya… gak bisa tinggi loh nanti! Selagi masih bisa tumbuh, mari jaga pola hidup! *ciao! #ngelantur_modeOnwe-married-as-job

Eiiitsss… jangan langsung kabur setelah baca 😉 , tunjukkan rasa sopan santunmu dan berterimakasihlah atas sinopsis yang baru saja kalian baca, hargai kerja keras dan dukung authornya terus berkarya dengan like FP baru blog ini>>>>>> FANPAGE

Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 6 Part 3

       Tsuzaki agak kelelahan, dia berbaring dan Mikuri mengipasinya. Setelah kondisinya agak mendingan Tsuzaki bangun, mempersilahkan Mikuri jika ingin berendam. “Baik,” kata Mikuri.

      Mikuri berendam di bawah langit berbintang sambil memikirkan Hiramasa-san, “Apakah akan baik-baik saja? Tempat di dalam Hiramasa-san. Apakah aku bisa memasukinya?”

Ketika selesai berendam, Mikuri lihat Hiramasa sudah berbaring di kasur. Mikuri menjemur kain putih dulu sebelum ikut berbaring. Kemudian ia kembali ke kamar dan masuk ke selimutnya. Hiramasa merasakan kasurnya beregetar, itu artinya Mikuri sudah bersiap untuk tidur.

      Mikuri mematikan lampunya, melirik ke arah Hiramasa-san sekilas lalu memejamkan matanya mencoba tidur. Hiramasa sangat khawatir jika ia melakukan kesalahan tanpa dia sengaja.

“Tanganku mati rasa. Tapi kalau aku bergerak, akan jadi salah paham dan itu buruk. Ini adalah perjalanan kerja, kalau aku salah pergerakan akan jadi pelecehan seksual. Ini bencana. Bagaimana cara pria di dunia ini agar bisa tidur setempat tidur dengan seorang wanita?. Seharusnya aku mencarinya di google lebih dulu. Situasi seperti ini bukankah sangat tidak normal?”

Berusaha keras untuk tidak melakukan kesalahan. Mikuri di sampingnya hendak menyentuh Hiramasa, ia mengulurkan tangannya dengan hati-hati, dalam jarak beberapa cm saja Mikuri hampir bisa menyentuh punggungnya, akan tetapi diwaktu yang sama Hiramasa bergerak. Mikuri pura-pura tidur, memejamkan matanya.

    Hiramasa tidak bisa tidur, dia menoleh ke kiri melihat Mikuri yang terpejam. Mikuri yang pura-pura tidur sepertinya mengharapkan sesuatu, tapi nyatanya Hiramasa malah pindah tidur di bawah.

Menyumpal telinganya dan menutup matanya, berbaring di lantai. Mikuri mengamatinya, lalu berbaring lagi dengan kecewa.

     Pagi harinya, Tsuzaki Hiramasa senang sekali karena tindakannya menutup mata dan telinga berhasil membuatnya tidak menyadari kehadiran Mikuri. Hiramasa semalam tidur dengan nyenyak. Aku berhasil menjadi jomblo profesional!.

      Mikuri di dalam kamar mandi, dia amat sangat kecewa pada dirinya sendiri. Ia menuliskan uneg-unegnya ke cermin yang berembun [Pakaian dalam baru, tidak ada gunanya, sebuah pagi di musim gugur.]. ”Apa yang sudah diriku sendiri lakukan?

Kalau dipikirkan kembali selama ini hanya Mikuri yang berinisiatif, ayo menikah! Mari berpacaran! Mari pelukan!. Semua itu adalah inisiatifnya Mikuri sendiri, ia pikir Hiramasa-san tidak menolak karena Hiramasa-san adalah orang yang baik. Mikuri sudah lelah seperti ini.

Dengan kasar ia menghapus tulisan di cermin.

     Mikuri dan Hiramasa sarapan. Kalau biasanya Mikuri yang mengajak bicara duluan, kali ini Hiramasa yang mulai duluan. “Sarapannya enak, ya?”

“Lumayan lah.” Kata Mikuri ketus.

“Lumayan? Jadi begitu ya?” Hiramasa bingung dengan jawaban Mikuri.

      Tiba-tiba seseorang memanggil Mikuri “Moriyama?” ketika Kaoru sudah yakin ia langsung sok akrab “Moriyama-chan!” Tsuzaki agak terkejut dan Mikuri malas bertemu Kaoru disaat suasana hatinya sedang jelek seperti ini.

Kaoru langsung mendekati Mikuri dan mencoleknya, kenapa Moriyama-chan  bisa ada di sini?, Kaoru terkejut melihat Hiramasa dan segera memberinya salam. Mikuri dengan tidak nyaman memperkenalkan Kaoru adalah teman sekelasnya di SMA.

Dengan pedenya Kaoru malah bilang “Aku mantan pacarnya Moriyama!”

Mikuri sebal dengarnya, apa perlu Kaoru mengatakan hal semacam itu?. Kaoru juga membeberkan informasi tanpa diminta “Menurutku dia sangat menyebalkan. Dia cerewet sekali. Yah, tapi dia bukan orang jahat sih. Mikuri memandang Hiramasa, ia harap Hiramasa menyelamatkannya dalam situasi tidak menyenangkan ini.

Kaoru mulai berceloteh tentang kenangan mereka, dulu saat pergi ke kafe Shibuya, di depan toko Mikuri menceramahi Kaoru.

    Mikuri tidak tahan, dia berdiri “Itu karena kau tak seharusnya bicara hal yang tidak penting. Kenapa di tempat seperti itu..”

Tidak sesuai harapan Mikuri, Hiramasa justru izin pergi dan mempersilahkan Mikuri mengobrol dengan Kaoru.

    Hiramasa-san pergi, Kaoru dan yang lain memperhatikan kepergiannya. Pasangannya Kaoru pikir apa pasangannya Mikuri marah?, Kaoru menduga seleranya Mikuri terhadap pria sudah berubah sekarang. Mikuri dengan lemah mengatakan bahwa seleranya terhadap pria tidak berubah.

“Apa?” Kaoru tidak mengerti.

“Aku baru menyadarinya.” Mikuri terduduk lemas,

Hiramasa-san pergi menjauh.

     Yuri berangkat kerja, ia mendekati Kazami yang berjalan lebih cepat.”Selamat pagi!” sapa Yuri

“Selamat pagi!”

Yuri mengungkit semalam, ia rasa dirinya telah bersikap buruk pada Kazami. “Akulah yang jahat padamu, maafkan aku.” Sesal Yuri.

“Apa yang membawamu ke sini?”

“Aku tidak mengira ekskpresi wajahmu akan jadi seperti itu.”

*flash back

“Aku jadi cemburu karena melihat mereka sedang dimabuk asmara sekarang. Menurutku kau tidak bertanggungjawab, Karena sudah mendekati Mikuri.”

Saat itu ekspresi Kazami amat sangat terluka melihat Tsuzaki dan Mikuri di dalam foto itu tersenyum ceria.

*flash back end

Yuri meminta maaf sekali lagi. “Aku ini angkuh, ya?. Bahkan di usiaku sekarang ini, aku masih tidak tahui perasaan orang lain.”

“Aku juga tidak tahu perasaanku sendiri. Kalau aku terlihat terkejut, mungkin karena aku tidak tahu perasaanku. Bahkan di usiaku yang sekarang, tapi aku masih tak tahu perasaanku sendiri.”

Keduanya sependapat kalau hal seperti itu memang sulit. Mereka lalu menantikan pintu lift terbuka.

*****We Married as Job*****

     Kereta sudah berajalan. Mikuri dan Hiramasa selesai berbulan madu. Disepanjang perjalanan Mikuri dirinya ini kenapa? Apa yang sebenarnya dia harapkan?. Mikuri sedih.

“Aku.. Sebenarnya apa yang aku harapkan?”

Saat Kaoru mengganggu acara sarapan mereka. Sebenarnya Mikuri harap Hiramasa mengatakan sesuatu dan menyelamatkannya. Tapi sayangnya Hiramasa justru pergi.

Dan kalau sekarang Mikuri menggenggam tangan Hiramasa-san,

dalam benak Mikuri yakin Hiramasa marah dan akan menolak dengan sopan. Tetapi jika Mikuri tetap bertahan ingin berpegangan tangan dengan beralasan ini demi pekerjaan dan pura-pura bulan madu pasti wajah Hiramasa akan berubah menyebalkan karena merasa tidak nyaman.

Hiramasa akan menyetujuinya tanpa bisa menolak, Mikuri berhasil mengganggam tangan Hiramasa tetapi itu rasanya tidak akan nyaman bagi Mikuri maupun Hiramasa.

 Bukan sikap kepasrahan seperti itu yang Mikuri harapkan. “Tapi, apa yang ku mau, bukanlah ketidakberdayaannya. Aku.. Apa yang ku harapkan dari Hiramasa-san?”

Mikuri sedih memikirkannya.

     “Walaupun melelahkan. Tapi sangat menyenangkan.”

Hiramasa-san juga sedang memikirkan kejadian bertemu Kaoru mantan pacarnya Mikuri.

“Dia tidak menepati perkataannya. Karena yang aku tahu hanya Mikuri-san seorang. Itulah yang ku tahu. Senyumnya yang lembut, kehangatannya, dan kebaikan hatinya.” Hiramasa mengingat-ingat kembali semua kenangannya bersama Mikuri. Ia bahagia sekali memikirkannya. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

“Kalau saja sekarang aku menggenggam tangannya, akan seperti apa ekspresi wajah Mikuri-san?. Jika perjalanan ini selesai, hubungan atasan dan pegawai ini. Hanyalah hubungan berpelukan seminggu sekali. Seperti sebelumnya.” Meski pikirannya mengatakan hal tersebut, akan tetapi hati dan pikirannya tidak sejalan, Hiramasa cemas memikirkannya.

Mikuri pun sama, baginya setelah perjalanan ini berakhir, hubungan mereka akan masih sama seperti sebelumnya.

Seperti sebelumnya baik-baik saja. Aku sudah menyerah. Aku sudah lelah. Aku tak akan melakukan apapun. Aku tidak mengharapkan apapun.” Mikuri sampai menitikkan air matanya, lalu ia menghapusya dengan cepat.

“Setelah perjalanan ini selesai, kembali ke keseharian yang tenang” 

    Dalam hati Mikuri dan Hiramasa sama-sama menghitung, tinggal satu stasiun lagi. Mereka seolah satu-satunya harapan dan kesempatan tidak akan datang kembali pada mereka, rasanya enggan meninggalkan kereta ini,

Selamanya, seharusnya kita tidak datang ke sana.”

    Kereta berhenti. Mikuri dan Hiramasa terdiam di tempat duduk mereka.

“Anda telah sampai di Mishima, Stasiun Mishima.” Pengumuman dari pengeras suara menginformasikan kepada para penumpang. Pintu sudah terbuka, beberapa penumpang lain keluar dari gerbong. “Anda sudah sampai tujuan, terimakasih.”

     Meski berat Mikuri mencoba untuk kuat, dia mengajak Hiramasa turun. Ia menoleh dan tersenyum ceria seolah tidak terjadi apa-apa “Bisakah kita turun?” Katanya ke Hiramasa.

Mikuri hendak mengambil barang-barangnya, akan tetapi Hiramasa menahan Mikuri, ia menggenggam tangannya. Mikuri tercengang sesaat dan balik menatap Hiramasa. Tanpa Mikuri duga Hiramasa-san mengecup bibirnya.

Mikuri terkejut dibuatnya.

Komentar:

      Kyaaaa….!!!, sensor!. Apakah readers gak puas lihatnya? Don’t worry, itu kayak tabrakan doang kok…, aku yakin readers bisa membayangkannya sendiri.

Yang sudah nonton pasti sudah tahu seperti apa, lucu kan??, unyu dan membuatmu tidak harus menutup mata/memalingkan muka karena baper atau risih?, rasanya seperti akhirnya Hiramasa mengakui perasaannya dan ada inisiatif!, finally yeah!. Di sini yang versi sensor KPI saja (“K”arissa “P”ause bagian “I”ntinya) *apaansih??. Kan sudah kubilang… aku tidak mau yang terlalu gimana-gimana~, yang lain boleh saja berani menampilkan kissue dalam drama apapun di blog, tapi khusus blogku tidak ^^, aku menjaga sopan santun ke-Indonesiaan+Negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia ini dengan tidak melampirkannya ke dalam postingan. Gomenasai’! 😀mikurihiramasa

Sampaikan rasa terimakasih mu setelah membaca sinopsis ini dengan cara Like FP barunya>>>>FANPAGE

 

Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 6 Part 2

     Tsuzaki Hiramasa meminta Mikuri dan dirinya menjadikan ini sebagai pengalaman. Karena salah memesan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Mikuri mengiyakannya. Keduanya kemudian mencobanya, “Ini pahit~” kata keduanya bersamaan.

Meskipun itu hanya khayalan Mikuri, itu sangat menenangkan baginya.

Khayalan Mikuri buyar setelah dipanggil oleh Hiramasa-san. Hiramasa mengajak Mikuri kembali ke kamar. Namun ketika mereka berjalan, Mikuri mendengar suara yang tidak asing, baru benar yakin tidak asing saat tahu ternyata itu memang Kaoru mantan pacarnya. Kaoru bersama pasangannya mengkomplain sesuatu, pasangan Kaoru meminta Kaoru jangan terlalu mempermasalahkan dan sedangkan Kaoru nampaknya tidak perduli, menurut Kaoru kepiting lebih baik daripada ikan. Tapi pasangan Kaoru bilang tidak suka dengan keduanya.

     Mikuri bersembunyi setelah tahu itu memang Kaoru. Si petugas penginapan mengatakan kalau makan malam hanya bisa disiapkan setelah tamu memesannya terlebih dahulu. Kaoru memohon, tidak bisakah makanan disediakan untuk dua porsi saja khusus untuk Kaoru dan pasangannya?. Pasangan Kaoru merajuk, tapi kan ia tidak suka dua jenis hidangan itu!

Mikuri mengamati mereka. Tsuzaki membisiki Mikuri “yang seperti itu pasti klaimer, kan?” orang yang suka komplain tanpa alasan.  “Maaf,” tiba-tiba Mikuri meminta maaf dan membuat Tsuzaki bingung.

Kaoru dan pasangannya masih ribut sendiri, “Hokkaido? Ternyata dari Hokkaido.”

Mikuri mengajak Tsuzaki kembali ke kamar. Setelah agak jauh Tsuzaki mengutarakan pemikirannya, ia tidak mengerti pada pria tadi yang bersikap seperti itu padahal sedang bersama pasangannya. Tsuzaki meragukan rasa kemanusiaan pria tadi.

Dengan canggung Mikuri hanya membenarkan pemikiran Tsuzaki. Dan dalam hati Mikuri bertanya-tanya kenapa dulu bisa berpacaran dengan Kaoru?.

      Sebelum festival sekolah, di sekeliling Mikuri banyak sekali yang menjadi pasangan dan itu tak terjadi satu dua pasangan saja. Pada saat itu Kaoru ingin menjadi pacar Mikuri, Kaoru keren dan bukanlah orang yang jahat. Jadi Mikuri pikir saat itu tidak apa-apa.

Baru beberapa detik Mikuri menerima perasaan Kaoru, Kaoru sudah heboh sendiri, berteriak mustahil!!!, melompat-lombat kesetanan seperti orang gila. Tapi berjalannya waktu pun Mikuri menemukan banyak sekali ketidakcocokan diantara ia dan Kaoru.

      Kejadian di kafe yang salah pesan, Kaoru merubah gaya rambutnya dan Mikuri tidak menyukainya. Ketika Kaoru menabrak orang saat berjalan ia pun tidak minta maaf, Mikuri marah padanya dan menyuruhnya meminta maaf karena sudah menabrak duluan.

Jawaban Kaoru justru membuat Mikuri kesal, katanya bahkan bersama Mikuri ia tidak merasa menyenangkan. Begitulah Mikuri dicampakkan.

     Mikuri memikirkan masa-masanya bersama Kaoru dulu. Sementara itu Tsuzaki dirinya mulai menyesali ucapannya saat berjalan dengan Mikuri tadi tentang keraguannya terhadap pria asing di lobi, Tsuzaki pikir ucapannya tadi hanyalah bentuk kecemburuan dari seorang pria yang tidak laku sepertinya ini.

Tsuzaki resah karena salah bicara, ia lalu menggeledah tasnya. Menurut Tsuzaki.. siapapun pasangan yang dipilih itu merupakan hak masing-masing orang,

Hiramasa mengambil bungkusan dari Hino. Emoticon senyum ada di baliknya. Mikuri memanggilnya dan membuat Hiramasa belum sempat membuka bungkusannya. Mikuri mengajak Hiramasa-san untuk berfoto bersama mengenakan yukata, mengirimkan foto kemesraan tersebut ke Yuri-chan.

Ketika Hiramasa membuka bungkusannya, ia terkejut sendiri. Sebelum Mikuri melihatnya, Hirasama buru-buru memasukkannya kembali ke dalam tas. Mikuri melihat gelagat aneh dari Hiramasa, apa yang ada di dalam tas?.

“Tidak, bukan apa-apa.” Jawab Hiramasa mencoba memang tidak ada apa-apa.

“Apa kau membawa kucing peliharaanmu?”

“Aku tidak punya kucing, kan?”

Mikuri tersenyum, dia tadi cuman bercanda. Kamar ini mulai panas, Mikuri akan membeli sesuatu yang dingin. Mikuri pergi, Hiramasa kini leluasa melihat barang pemberiannya Hino.

OBAT KUAT: EKSTRAK KOBRA (ahahahahahahaha….. bgm dan zoom in-nya ke wajah kobra sukses membuatku ketawa XD , cling! tuing! Tuing! Sssshh! Sssshh!  Sssshhh…!!!)

     Hiramasa menelfon Hino untuk mempertanyakan kenapa dikasih obat kuat?. Hino mengatakan dirinya memberikan itu karena Tsuzaki sebelumnya bilang khawatir soal malam harinya. Hiramasa membenarkannya memang khawatir, tapi khawatir untuk hal semacam itu!. Hiramasa pikir Hino akan memberinya perlengkapan tidur atau sesuatu yang memiliki efek relaksasi.

Hino tidak ambil pusing suara cemasnya Tsuzaki, “Karena barang itu sangat mahal, jangan disia-siakan ya.. Ciao!”

“Ciao?” Hiramasa masih belum kelar bicara tapi Hino main putus-putus saja.

Kembali lagi dilema, Hiramasa kesal karena Hino bahkan memberikannya 3 obat kuat!. Mikuri nampaknya sudah sampai, bayangannya terlihat dari kamar. Hiramasa kebingungan menyembunyikan obat kuat pemberiannya Hino. Pilihannya jatuh ke bawah kasur, ketika Mikuri masuk ia hanya melihat Hiramasa yang sedang merapikan kasur.

     Mikuri mendekatinya Tsuzaki dan menawarkan mau air putih atau ocha? (ocha: teh). Dan karena masih terkena efeknya Hino yang ciao ciao tadi… ia reflek mengatakan “Chaoo!” (ahahahhaa… cling! Ssshhh… ssshhh! ssssSSSHH! Desisan ular)

“Aku mau ocha!”

Mikuri memberikan tehnya ke Hiramasa.  Karena akhirnya mereka dapet double bedroom… Mikuri meminta Hiramasa untuk menganggap jika tidur bersama nanti seperti tidur beramai-ramai. Mikuri pikir tidak masalah, ia menyamakannya seperti duduk bersama di sofa.

Mikuri coba duduk di kasur, pernya bagus. Mikuri rasa kalau ada gerakan tidak sengaja mereka, keduanya tidak akan begitu terganggu.

    Mikuri berbaring di kasur. Itu membuat Tsuzaki syok setengah mati, jangan sampai ketahuan~. Mikuri rasa ada yang mengganjal di bawah kasur, ia hendak melihat apa itu. Tsuzaki bilang jangan!, ada ular di situ.. eh.. ada serangga di situ. Mikuri otomatis mundur “Serangganya besar?”

Tsuzaki bilang karena serangganya cukup besar lebih baik Mikuri tidak usah melihatnya. Mikuri berinisiatif memanggil Nakai-san, petugas yang mengantarkan mereka tadi untuk mengecek serangganya.

     Tapi Tsuzaki berusaha mencegah Mikuri, itu bukanlah masalah besar kok!. Tapi Mikuri ngeyel, itu kan serangga. Tsuzaki kehabisan alasan “Yah.. itu serangga.”

Mikuri kekeuh kalau itu adalah keluhan yang sah, bukan keluhan yang mengada-ada. Jadi ia berhak komplain. Mikuri mulai menelfon, Tsuzaki Hiramasa mengambil kesempatan untuk mengambil ularnya eh… obat kuatnya Hino dan menaruhnya ke tempat lain.

Dengan sigapnya ia meluncur dan melemparkan obat kuat ekstrak kobra itu ke bawah meja. Lalu berjalan santai kembali ke tempat berdiri semula. Oh! Jangan lupa rapikan kasurnya kembali. (kkkkkk)

Tsuzaki berakting serangganya sudah pergi. Mikuri bertanya di mana sekarang?. Tsuzaki menunjuk kaki Mikuri, itu ada di kakimu, Mikuri-san.

Mikuri yang takut langsung mundur dan oleng jatuh. Tsuzaki langsung berlari dan menopang Mikuri jangan sampai langsung membentur bawah, sayangnya Hiramasa justru terpeleset sendiri. “Aduh!”

    (dan ta-da~ just see it by yourself. How can I explaine this moment?, awkward moment? Or cutest one? Haha!)

Setelah bertatapan lama Hiramasa segera menghindar dan panik, “Aku tidak sengaja!”

“Aku mengerti, tidak apa-apa.”

“Ini pelecehan seksual!”

“Tidak apa-apa, ini kecelakaan. Semuanya aman” SAFE!

Dalam hati Hiramasa pikir ini berbahaya, padahal belum sampi 2 jam waktu berlalu sejak mereka ada di sini. Tujuannya kemari hanyalah menjalankan misi perjanan kerja saja. Apakah akan bisa selesai dengan aman?.

Keringat Hiramasa banyak sekali. Mikuri juga menyadari hal tersebut, Mikuri heran kenapa dia juga bisa berkeringat banyak begini?.

“Panas sekali!” kata keduanya.

    Akhirnya Mikuri dan Hiramasa pindah ke kamar lainnya. Nakai-san meminta maaf karena ACnya memang aneh akhir-akhir ini, ia mengantarkan Hiramasa dan Mikuri ke kamar baru. Sebuah kamar dengan double bedroom, pemandian air panas terbuka, dan harganya tidak jauh berbeda dari yang sebelumnya dipesan.

Nakai-san pergi. Mikuri memuji mereka dapat kamar yang bagus. Tidak tidak tidak, menurut Tsuzaki kamar ini tidak bagus. Ia menunjuk pemandangan dari kamar yang terlalu berlebihan kalau hanya untuk perjalanan kerja.

Mikuri bilang, tapi kan tidak ada kamar yang kosong lagi?. Tsuzaki kalau begitu ingin pergi ke pemandian umum di bawah saja. Mikuri meletakkan tasnya dan menjelaskan kalau pintu gesernya ditutup maka ini seperti kamar biasa. Mungkin kamar ini tarifnya lebih dari 100.000 yen. Karena jarang-jarang bisa menikmati kamar seperti ini, ayo kita nikmati saja dengan sepenuh hati.

“Ini perjalanan kerja.” Ucap Tsuzaki masih cemas.

“Ya, ini perjalanan kerja.”

     Nakai-san mengetuk pintu kamar, ia memberitahukan kalau ada barang tertinggal dari kamar sebelumnya. Mikuri yang menyambutnya di pintu. Untungnya Hiramasa ingat apa yang ketinggalan, ektrak kobranya tadi ia lemparkan ke bawah meja.ia syok, jangan sampai Mikuri tahu!

Nakai-san yang pengertian tidak menyerahkan barang tersebut ke Mikuri. Mikuri dilewati begitu saja. Nakai memberikannya ke Tsuzaki Hiramasa, ia memandang Tsuzaki penuh arti “Permisi.”

Selepasnya Naka-san pergi, Hiramasa memuji Nakai-san habis-habisan. Kenapa ada pegawai sehebat dan seperhatian itu?, dia hebat sekali!. Mikuri pikir itu biasa saja karena memang sudah tugasnya Nakai-san.

“Memangnya apa itu?” Mikuri penasaran dan mendekati Hiramasa.

Tsuzaki berjalan menjauh sambil menyembunyikan bungkusannya. “Itu tidak ada hubungannya denganmu, Mikuri-san.”

Mikuri lalu mengatakan, karena kita sudah jauh-jauh kemari kenapa tidak coba berendam saja?. Dengar kata-kata Mikuri membuat Tsuzaki kaget dan melepaskan ekstrak kobranya sampai bungkusannya terlepas. Tsuzaki melompat melindungi jangan sampai Mikuri melihatnya “Ah, jangan lihat!”

Tsuzaki tahu Mikuri pasti bercanda lagi, ia mohon pada Mikuri jangan bicara seperti itu seenaknya sendiri. Hubungan kita hanya sebatas hubungan pekerjaan. Juga masalah berpelukan setiap hari selasa, dan sekarang pun ini hanya perjalanan kerja. Tidak lebih atau kurang dari itu.

Tsuzaki mengambil tasnya dan menggerutu sendiri sambil memasukkan ekstrak kobra ke dalam tas. Demi Tuhan…, Mikuri-san biasanya kau langsung melakukan hal yang gila.

Mikuri keluar dari kamar. Ia pikir Hiramasa marah padanya, sepertinya karena kepandaiannya ini ia selalu dicampakkan oleh pacarnya. Mikuri menuju ke snack dan makanan lainnya. Ia tanpa sengaja lihat Kaouru dan pasangannya. Ia bersembunyi, kenapa beta-beta couple itu selalu ada di sekitaran Mikuri?, (beta-beta couple: padangan yang nempel mulu)

Mikuri iri sekali pada kemesraan keduanya. Mikuri menggelengkan kepalanya, ia adalah pekerjaan kerja. Untuk berterima kasih atas hadiahnya Yuri-chan.

    Umehera Natsuki mendekati Yuri untuk memperlihatkan gambarnya, haruskah diperbaiki dan diperjelas warnanya agar tidak kelihatan seperti bohongan?. Yuri bilang tidak apa-apa, biarkan saja tetap alami. Sebelum pergi Umehara meletakkan notes ke meja Yuri []

Sekarang Horiuchi yang mendekat, ia bertanya apakah dokumen rapat kemarin mau memeriksam dokumen dari rapat kemarin?. Yuri sudah menendainya dengan tanda merah, ia akan memperbaikinya sendiri karena sudah tidak ada waktu dan besok ada rapat. Horiuchi awalnya kaget, tapi ia berterima kasih.

Umehara juga memperhatikan mereka. Umehara bilang seharusnya Horiuchi mengatakan akan memperbaikinya. Horiuchi dengan raut muka sedih mengakui jika ia sendiri yang memperbaikinya maka akan makan waktu lama.

Di bar, Yuri bercerita pada akhirnya dialah yang memperbaiki dokumennya sendiri. Karena itu pekerjaan dan tidak ada pilihan lain.

“Tidak ada pilihan lain, setengah pekerjaan itu harus kau lakukan.” Kata Numata,

“Lalu setengah sisanya?” tanya Yuri.

“Aku mau pulang,”

“ini bukan Yazuki zero” (yazuki zero: tidak ada motivasi)

Keduanya lalu tertawa. Menurut Numata, tapi kalau hanya bekerja sendiri.. ini bukanlah hidup. Bekerja secukupnya tapi akhirnya berkembang itu bagus, kan?.

“Itu juga suatu kenyataan lain, kan?”

“Yuri-san, kau melakukan pekerjaan yang kau inginkan, kan?”

“Yah, tapi ku akui belakangan ini. Waktu dan usaha yang aku sendiri lakukan, Seperti tidak sesuai dengan keuntungan. Perasaan itulah yang ku tunjukkan.”

“Kalau kau bilang keuntungan, kau tak bisa bilang apa-apa.”

“ Itu benar, kan?”

“Manusia memang menyedihkan, ya?. Kitalah makhluk hidup yang berharap akan dapat imbalan. Terutama dalam hubungan cinta.” Kata Master Yama-san sebelum menenggak minumannya. Yuri mengingatkan kalau Yuri tadi sedang membicarakan masalah pekerjaan.

“Hei.. hei hei” Numata mengingatkan Yuri. Master Yama-san dalam mode merenung sekarang, ingin curhat dan wisdom mode on. (sahabat-sahabatku yang super…)

“Jika seseorang tak mendapatkan balasan perhatian dari lawannya. Orang lain pasti penasaran. Bahkan jika mereka tak mendapatkan perhatian, kadang jika mereka mendapatkan imbalan yang setimpal, mereka akan menerimanya. Entah dalam bentuk uang atau kehidupan yang layak.”

Yuri mendengarkannya. Master Yama-san terus melanjutkan kata-katanya “Tapi kau tahu, jika perasaaannya lebih dalam mungkin mereka tak kan bisa menahannya. Entah hanya untuk aku (lk) atau hanya untuk aku (pr). Kekhawatiran akan terus menumpuk. Lalu hubungan itu akan berakhir.”

Master Yama-san melepaskan kaca matanya dan menangis, Numata juga ikut-ikutan sedih. Yuri satu-satunya yang bingung di sana.

“Kalian tidak boleh terpengaruh, lah!” kata Yuri sambil menepuk pundak Numata. (kalau kata gw sih bahasa gaulnya gini, kalian gak usah pada baper lah!, wkwkwkwk)

      Mikuri dan Hiramasa makan malam bersama, suasananya canggung. Mikuri mencoba membangun percakapan dengan berkata makanannya enak ya?. Tsuzaki membenarkannya, oh! Terbuat dari apa ini?. Tunjuknya makanan yang tersaji. Mikuri bilang itu dari salmon.

Tsuzaki berkomentar makanan di sini pasti disiapkan dengan rumit. Mikuri meminta maaf karena selama ini hanya bisa memasakkan Tsuzaki dengan masakan rendahan. Tsuzaki pikir apa itu makanan memang rendahan?. Mikuri menanggapi, dirinya tidak yakin yang mana saja sih.. tapi ia memasakan Tsuzaki dengan menu-menu yang efisien, tidak banyak makan waktu.

Tsuzaki bilang kalau dalam hidup ini yang diperlukan adalah yang efisien, kalau dia menuntut makanan bercita rasa restoran dengan waktu terbatas, itu pun akan memboroskan uang pula. Ia tidak keberatan makan makanan yang mewah dan rumit proses memasaknya seperti yang di depan matanya sekarang ini sekali-kali, “Masakan apapun yang dibuat Mikuri-san, aku akan sangat menyukainya.”

Mikuri tersentuh dengan ucapan sederhana dari Hiramasa.

“Kinmedai ini luar biasa, yah?” komentar Tsuzaki pada makanannya.

Mikuri akhirnya menyadari, tadi mungkin ia hanya terkejut sedikit. Merasa galau karena dipikirnya Hiramasa-san marah padanya tadi, dan hanya oleh kata-kata Hiramasa yang sederhana barusan… lenyap sudah kegundahan dan kesedihannya, lenyap seperti sebuah kebohongan.

    Mikuri mengirimkan ucapan terima kasih ke Yuri-chan. Di bar dia sungguh terharu dengan ucapan terima kasih Mikuri yang terlihat senang memakan kinmedainya. Numata memuji Yuri-san telah berusaha keras demi Mikuri dan Tsuzaki, Yuri balas mengatakan “Numa-chan juga, sampai sekarang kuharap kau baik-baik saja.”

Mood Yuri rusak saat Kazami datang dan bertanya ada apa sebenarnya ini. Yuri hendak pergi, Kazami akan mengalah jika Yuri masih ingin di sini. Tapi Yuri tetap ingin pergi karena besok haru bangun pagi untuk kerja.

Oh iya, Hiramasa dan Mikuri menikmati bulan madu mereka. Kazami yang mendengar itu ia pikir Yuri-san sedang bercanda. Yuri menunjukkan buktinya, foto dua keponakannya itu yang terlihat mesra [Terima kasih Yuri-chan, kami sangat menikmatinya]. Yuri sampai iri melihat keduanya sedang dimabuk asmara.

    Tsuzaki sedang berendam, ia sekarang percaya dengan kata-kata Yuri-san sebelumnya. “Kau benar, Yuri sensei. Walau pernikahan kontrak dan pelukan di hari selasa memang tidak jelas. Tapi aku sadar saat aku menjalaninya, ini bukan hal yang buruk. Sebenarnya, aku bahkan berpikir ini sangat ideal.”

Baru saja tenang, Hiramasa ingat candaan Mikuri yang mengajak berendam bersama tadi. Beneran deh Mikuri-san!, keterlaluan! (wkwkwk) Hiramasa yang jengkel langsung menenggelamkan dirinya ke dalam air.

“Sudah bagus aku ini jomblo profesional. Bagaimana kalau aku adalah pria biasa? Apa yang akan kau lakukan? Kau adalah orang yang menyulitkan, Mikuri-san.”

­~We Married as Job~

     Mikuri melihat obat kuat ekstrak “KOBRA”. Ia cukup tercengang kenapa Hiramasa-san membawa yang seperti ini. (cling! Cling!, Sssshhh… Sssshhh! SSssHHH!! Wkwkwkw)

Mikuri segera membungkusnya kembali dan memasukkannya ke dalam tas Hiramasa. Tadi ia tidak sengaja menendang tasnya dan sesuatu keluar dari dalamnya, Mikuri melihat sesuatu yang menakjubkan. Mikuri kemudian beralih ke tasnya, ia pikir Hiramasa-san tidak memiliki keberanian seperti itu. Jadi Mikuri tidak menyiapkan apapun. Apa yang akan Hiramasa-san lakukan, Mikuri sungguh tidak tahu.

Akan tetapi Mikuri sudah menyiapkan sesuatu yang tidak ia khawatirkan sebelumnya. Mikuri sudah membeli pakaian dalam saran dari Yassan. Apakah ini ada gunanya?. Tsuzaki sudah selesai mandi, Mikuri gugup dibuatnya.

     Tapi Tsuzaki berjalan tertatih-tatih, sepertinya dia meriang karena telalu lama berendam dalam air.

Komentar:

       cling! Cling!, Sssshhh… Sssshhh! SSssHHH!! Wkwkwkw, aku tiap denger  itu pasti ketawa sendiri dan pertama kali lihatnya aku ketawa sampai perutku sakit, saat membuat ini aku masih bisa tertawa lhoo, apalagi tampang kobranya yang mangap tak berdosa XD . Hino pas ngomong ciao itu lucu juga, sok sok cuek, kupikir akan lucu kalau balik honeymoon dia nagih cerita ke Hiramasa, temen yg kurang ajar! >_<. Kalian pasti tahu dong ciao itu bahasa Italia, “ciao” itu seperti “bye!/hai” Dalam bahasa inggris.

dance

Sampaikan rasa terimakasih mu setelah membaca sinopsis ini dengan cara Like FP barunya>>>>FANPAGE

Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 6 Part 1

     Hari selasa pagi waktunya membuang sampah daur ulang, pukul 8 pagi akan diangkut oleh petugasnya. Mikuri tersenyum melihat stiker penanda pukul 8 sampah daur ulang akan diambil. Mikuri pagi hari seperti biasanya membuatkan bekal makanan untuk Hiramasa dan menyiapkan sarapan.

    Mikuri menyapa Hiramasa yang baru keluar kamar dengan piyamanya. Sebelum Hiramasa keluar kamar dengan baju kerjanya, Mikuri setiap pagi bisa melihat Hiramasa berkeliaran dengan piyama. Mikuri menata makanan di meja, Hiramasa ada di kamar mandi.

 Mikuri sedikit mengintipnya yang sedang cuci muka, rasanya menyenangkan seperti berhasil menjinakkan kapibara liar (kapibara ?, bisa kasih tahu aku beli di mana hewan yg unyu antara kyk kelinci/marmut/tikus itu ? *LOL)

Menggemaskan sekali bagi Mikuri, ia sangat ingin mengelusnya (kapibaranya ?, eh… Hiramasanya ? XD). Meskipun sangat ingin mengelusnya, Mikuri yakin Hiramasa pasti akan kabur. Ketika Hiramasa menoleh Mikuri sudah pergi.

Hiramasa keluar dari rumah, bertegur sapa dengan salah seorang tetangga. Lalu  ia berhenti sebentar melihat stiker penanda Selasa pukul 8 sampah daur ulang akan diangkut, Hiramasa tersenyum sekilas lalu kembali melanjutkan perjalanannya.

 Setelah mengantarkan Hiramasa bekerja Mikuri melakukan tugasnya, mencuci piring dan baju, bersih-bersih rumah. Sebagai tambahan Mikuri juga bersih-bersih dalam seminggu. Pergi ke dokter gigi di jam makan siang, lalu pergi belanja. Setelah pulang ke rumah ia mengangkat jemuran. Kemudian menyetrika dan membuat makan malam.

     Setelah makan malam ia mencuci piring, menyortir jenis sampah yang akan dibuang besok. Mendapatkan upah dari pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaannya Mikuri. Mikuri melihat Hiramasa menonton TV, lalu ia membuatkan teh untuk diminum bersama.

Hiramasa meminta maaf karena Mikuri harus repot-repot meladeninya di luar jam kerja. Mikuri bilang tidak apa-apa, lagipula dia ingin minum teh.

Mikuri mengingatkan hari ini hari selasa, waktunya pelukan. Hiramasa ingat mereka sudah pelukan di hari lainnya. Mikuri tadi memang sengaja meminta pelukan siapa tahu Hiramasa lupa. Hiramasa tentunya tidak akan lupa.

Lalu Mikuri menawar bagaimana kalau peluk di muka lagi ?. Hiramasa tidak setuju, tolong jangan bicara seperti perusahaan yang terlilit hutang.

Mikuri tertawa mendengarnya, ia hanya bercanda. Hanya mengingatkan kalau ini hari selasa.

    Hiramasa lalu menggeser duduknya, kemudian memandang Mikuri “di bawah terlalu dingin”. Mikuri tersentuh “Terima kasih banyak,”

Mikuri pindah duduk di sebelahnya Hiramasa, mereka menyesap teh mereka secara bersamaan sambil menonton acara televisi. Dalam hati Mikuri bertanya-tanya, ketenangan macam apa ini ?.

-=+-*+Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu||We Married As Job *+-+=-

      Yuri sedang konsultasi. “Pelecehan seksual ?” tanyanya bingung ke wanita. Yuri tidak ingat pernah mengalami kejadian tersebut. Wanita tersebut menjelaskan bukan Tsuchiya yang mejadi korbannya, tapi Tsuchiya lah yang menjadi pelakunya. Pada Rabu lalu Tsuchiya melakukannya pada Umehara Natsuki.

“Kau menyebut dia pria ganteng”

Ingatan Yuri ketika menyebut Umehara ganteng langsung terlintas dibenaknya Yuri. Umehara ganteng, tapi Yuri tidak merasa terganggu dengan kehadiran Umehera, apa ini karena Umehara adalah bawahannya?.

Yuri mengelak bukan begitu kejadiannya. Tidak ada indikasi pelecehan di kata-katanya. Lalu si rekannya menyatakan kesaksian dari seseorang yang melihat tindakan Yuri di hari rabu tersebut.

Diganti!!!, “Hei, Umehara-kun. Kau juga pria ganteng, kan?.”

Umehara terlongo-longo mendengar kata-kata Yuri. Yuri menambahkan “Tapi anehnya, aku ingin sekali memeliharamu.” Yuri sambil berjalan “Kenapa ini ?, mungkin karena aku cinta padanya.”

Yuri pikir kata-katanya yang diedit orang itu aneh sekali. Aneh sekali!, di tengah-tengah kalimatnya diganti. Si wanita itu juga setuju dengan Yuri, ia sudah menduga Tsuchiya tidak mungkin melupakan detail ucapannya sendiri. Yuri lalu berusaha melihat siapa orang yang menfitnahnya.

Rekannya menyembunyikan kertasnya, ini rahasia!. Rekan wanitanya lalu berkata, setelah menikah dan melahirkan anak, karirnya serta mengasuhnya maka karir akan selesai. Tapi bagi semua orang itu adalah bintang harapan. Tsuchiya jangan sampai tersandung hal-hal sepele seperti salah berbicara, mulai sekarang Tsuchiya diharapkan menjaga bicaranya.

 “Apakah kau tahu manager kita? Dia cerita tentang gadis bawahanmu.”

“Horiuchi-san ?”

“Selama ini dia mengira kau membuli gadis itu”

     Yuri sudah ada di rumahnya Hiramasa, ia menceritakan masalahnya di kantor ke Hiramasa dan Mikuri. Yuri tidak ingin menjadi Bibi yang cerewet, dia tidak bermaksud membuli Horiuchi. Itu karena tulisannya Horiuchi yang hancur. Dan Yuri enggan untuk memberitahukannya ke Horiuchi secara langsung.

    Mikuri dan Hiramasa mendengarkan ocehan Bibi Yuri dengan seksama sambil mengangguk-angguk seperi anak SD diberi nasehat.

Yuri pikir akan cepat selesai kalau dia kerjakan sendiri tanpa menyuruh Horiuchi. Tapi itu tidak benar, melakukan pekerjaan yang harus Horiuchi lakukannya sendiri demi kebaikan dirinya sendiri. Meskipun Yuri tidak mau disebut bibi yang cerewet, ia juga tidak mau sampai disebut bibi yang mesum. “Aku benar-benar Muak!” kata Yuri berapi-api sambil membuka minumannya.

Mikuri dan Hiramasa menjadi ngeri melihatnya. (pfffft, aku mencoba membayangkan jika Yuri benar-benar menonjok Hiramasa di 5 part 2 ???, lucu apa sadis ya ? *mikir)

“Aku minta maaf, semua itu gara-gara kami.” Tiba-tiba Hiramasa merasa bersalah.

“Kenapa kita yang salah?” Mikuri menyela suaminya yang blo’on terlalu sopan ini. Mereka saling pandang, beda pendapat.

“Bukankah karena itu dia mengeluh pada kita ?”

“Apa kau mau memberiku julukan bibi yang agak rewel ?” Tebak Yuri setengah jengkel.

Yuri bilang karena dia kebetulan ada di sini dia akan mengeluh sedikit. Sedikit ?, Hiramasa kelepasan menanggapi. Mikuri langsung berdehem mengingatkan Hiramasa jangan menyelanya. Yuri lalu mulai bercerita.

“Sebenarnya selama setahun terakhir, aku telah menyimpan sedikit demi sedikit poin dari kartu kredit. Dan akhirnya sudah mencapai 50.000 poin.”

Mikuri dan Hiramasa menyelamati Yuri. Yuri mengambil sesuatu dari tasnya, lalu menaruhnya ke meja. “Aku tukarkan ini.”

“Tiket diskon penginapan untuk pasangan.” Baca Mikuri dan Hiramasa bingung.

     Hiramasa salah mengerti, ia pikir Yuri meminta izin dirinya untuk pergi menginap dengan Mikuri-san. Dengan senang hati Hiramasa mempersilahkan istrinya dan bibi tercinta jalan-jalan.

Yuri menunjuk keduanya, “Bukankah ini sudah jelas untuk kalian berdua ?”. Mikuri dan Hiramasa bagai disambar petir mendengarnya. Yuri menyuruh dua keponakannya itu untuk  menikmati bulan madu. (kkkkk, yipiiii! aku ngefans dengan Yuri-chan~ ❤ #abaikan)

     Mikuri mencoba mengeles, “Yuri-chan,… soal bulan madu kami…”

“Aku juga ada pekerjaan,” sambung Hiramasa. Yuri meletakkan kaleng minumannya ke meja dengan kasar. Kalau dia bilang pergi maka mereka harus pergi!. Kapan harus pergi? Sekarang, kan ?.

Mereka sudah pindah di kelas. Mikuri mengajar di depan, Mikuri dan Tsuzaki menjadi salah sau dari sekian orang yang mendengarkan Yuri.

“Kalau kalian terus berpikir nanti, nanti, dan nanti. Kalian akan punya anak, kalian tidak akan bisa pergi sampai 3 tahun lagi. Apalagi jika lahir anak yang kedua. Akan lebih sulit untuk pergi 3 tahun berikutnya.”

Mikuri mengangkat tangannya “Sensei !”

Yuri mempersilahkannya berbicara, Mikuri bilang ia dan Hiramasa belum berniat memiliki anak.

“Kalian terlalu optimis!” Bentak Yuri, ia lalu mendekati Mikuri dan Hiramasa. “Kalau hidup berjalan seperti yang direncanakan, aku pasti sudah menikah pada usia 27 tahun. Takdir jadi bibi yang cerewet dan melakukan pelecehan seksual. Siapa yang bisa menebaknya ?. Kalian paham ?”

Mikuri dan Hiramasa masih mendengarkan. “Hal-hal yang tak terduga mungkin saja terjadi. Itulah hidup.” Kata Yuri sambil mengibaskan rambut ringan dan menyelipkannya ke belakang telinga. Hiramasa teringat sesuatu dengan gaya dan cara bicara Yuri “Apa itu Kinpachi-sensei ?”

“Bukankah itu Hayashi-sensei ?” kata Mikuri. Mereka sudah ada di rumah lagi.

“Tidak, tapi sekarang agak terasa seperti aroma Kinpachi.”. Mikuri lalu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, Hiramasa juga melakukan hal yang sama.

“Kasarnya, apakah kalian akan tetap baik-baik saja. Siapa yang akan tahu. Karena itulah aku meminta kalian memakai tiket perjalanan pasangan ini. Sebenarnya, karena ada voucher makanan mewah atau resort spa, aku akan menggunakannya sendiri. Untuk apa aku memlih hal semacam itu.”

Hiramasa menyetujui Yuri, ia akan mengambil tiketnya dan pergi dengan Mikuri. Yuri terlihat lumayan tenang sekarang. Hiramasa dan Mikuri berunding kecil

“Kau tidak keberatan ?” Tanya Mikuri. Hiramasa bilang ini karena mereka tidak ada pilihan lain. “Maaf” kata Mikuri. “Tidak apa”

-=+-*+Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu||We Married As Job *+-+=-

    Di kantor Hiramasa sedang melihat-lihat panorama alam tujuan wisatanya dari sebuah situs. Tanpa sadar Hino memperhatikannya, apa Tsuzaki-san mau ke pemandian air panas ?. Hino memuji Tsuzaki bagus sekali berkali-kali. Hino menduga Tsuzaki mau bersama istrinya di dalam private room dengan pemandian outdoor ?.

Tsuzaki panik sekali, dia mengelak tidak ada pemandian terbuka di dalam kamarnya.

     Disaat yang sama Mikuri bertemu dengan Yasue, membicarakan perjalanan bulan madunya. Yasue komentar, setelah berendam apa Mikuri dan Hiramasa akan melakukan itu di ranjang yang besar. Mikuri menjawab nanti mereka akan pisah kasurnya kok, twin room. Tidak akan ada yang saling menggoda.

“Apa yang akan kau lakukan ?” Tanya Yasue.

“Apa yah yang akan kupakai ?” Kata Mikuri menerawang, ia dan suaminya lebih seperti teman, tapi belum jadi kekasih. Lebih hangat dan menyenangkan. Yasue tidak mendengarkan Mikuri, ia mengambilkan brosur merek pakaian dalam.

“Kau tidak benar-benar mendengarkanku, kan ?” Kata Mikuri.

Yasue melihat-lihat mana yang cocok, ia dapat itu dari stasiun tadi. Karena Yasue masih muda, Yasue pikir dia harus menikmati hidup. Mikuri tersenyum, mereka ini seumuran tapi kenapa Yasue seperti tante tante ?. Yasue masih sibuk melihat-lihat gambarnya, ia sekarang sedang istirahat dari kehidupan.

Mikuri bersyukur Yasue sekarang tinggal di rumah orang tuanya. Yasue menanggapi, dirinya memang tinggal di sana tapi dia merasa tidak punya rumah, ia enggan menceritakan detailnya apa yang terjadi, lagipula kalau Mikuri tahu pun tidak akan merubah apapun.

    Mikuri merentangkan tangannya, hari ini Yassan boleh memakan semuanya karena Mikuri akan mentraktirnya. Yasue senang, ia juga ingin makanan penutup ditraktir sekalian. Yasue lalu menunjukkan pilihan pakaian dalamnya ke Mikuri, walapun santai tapi tetap lucu, sebuah lingerin.

Mikuri melihatnya, ia juga memujinya lucu. Yasue menambahkan “Karena tokonya baru buka, ada diskon 30% off”

“Murah sekali !, tapi aku tidak mau membelinya” Mikuri mengembalikannya ke Yasue.

     Hiramasa Tsuzaki masih mengobrol dengan Hino. “Sejauh ini bahkan semuanya masih tidak jelas. Tidak ada yang menyenangkan.”

“Barangkali kalau kau jalan-jalan mungkin akan menyenangkan.” Usul Hino.

“Saat ini yang membuatku khawatir. Saat malam hari.” Kata Tsuzaki frustasi.

“Malam hari ?”

Sedangkan Tsuzaki memikirkan apakah dia bisa tidur, tampaknya Hino justru memikirkan hal yang lainnya. “Apakah aku akan benar-benar bisa tidur ?. Walaupun kamarnya twin room. Tapi aku tidak pernah sekalipun tidur sekamar dengan seorang wanita.” (Pernah kali ah!, dulu pas episode peluk-peluk kamu mikirnya pernah dipeluk ibumu waktu kecil -_-. Nah… kenapa gak mikir kamu pasti pernah tidur dengan ibumu waktu kecil yang jenis kelaminnya wanita, kan ?.  Emangnya ibu ada jenis lainnya ? XD hahahahahaha…)

Hino sudah punya solusi untuk Tsuzaki, Hino akan memberikan sesuatu yang bagus nanti. Dan Tsuzaki mengingatkan ke Hino kalau perjalanannya ini jangan sampai diberitahukan ke Numata-san.

“Memangnya kenapa ?” tanya Hino.

“Nanti dia mengatakannya pada Kazami-san. Kau juga benar-benar tidak boleh bilang pada Kazami-san.”

“Memang kenapa ?”

Seeet set set… Tsuzaki berbalik karena reflek. Dia merasakan auranya Numata. “Ada apa ?” tanya Hino bingung.

“Tidak.” Tsuzaki bilang dirinya merasa kalau Numata-san menguping pembicaraan mereka di suatu tempat.

“Karena itu dia bukanlah ninja.” Kata Hino dengan bercanda. Pokoknya Tsuzaki tidak ingin Hino mengatakan perjalanan Tsuzaki ke Numata atau pun Kazami. Hino menyanggupinya. Hino juga janji akan memberikan sesuatu yang bagus nantinya.

      Numata menguping di balik kursi panjang. Ia dengar sejelas-jelasnya pembicaraan Hino dan Tsuzaki. Lalu Numata menahan Kazami yang hendak mendekati Tsuzaki.

“Sekarang kau tak boleh pergi ke sana. Mereka pasti punya beberapa alasan. Sedang ingin menjauh darimu. Karena itu kau benar-benar tidak boleh kesana.”

“Apa yang terjadi ?” Kazami masih hendak menemui Tsuzaki.

“Maafkan aku.” Numata memegangi Kazami.

Alasan Tsuzaki tidak ingin Kazami tahu adalah… apakah Kazami akan cemburu jika tahu ia akan pergi dengan Mikuri ?.

    Tsuzaki di kamarnya, sedang duduk dan menata barang di tas, menyiapkan segala keperluannya. Ia akan menganggap perjalanan ini adalah perjalanan bisnis, ini demi kepentingan pegawainya. Tsuzaki lalu berdiri dan mengambil hadiahnya Hino. Katanya akan membantu Tsuzaki malam harinya yang khawatir.

Mikuri mengetuk pintu kamar Tsuzaki, menanyakan apakah Tsuzaki sudah siap.

    Mikuri mengatakan semua pintu sudah dikunci. Tsuzaki mengajak Mikuri berangkat sekarang.

Mikuri dan Hiramasa sudah ada di kereta, Mikuri memandang pemandangan “Baiklah, ayo ke Kyoto!”

“Bukankah tujuannya bukan ke Kyoto ?”

“Benarkah ?”

“Maaf. Bolehkah aku duduk di sampingmu ?. Aku merasa tidak nyaman kalau tidak menghadap searah dengan perjalanan. ”

Mikuri meminta maaf karena tidak menyadarinya, ia langsung memindahkan tasnya. Hiramasa pindah duduk di samping Mikuri.

“Perjalanan hari ini untuk kepentingan Mikuri-san.”

“Tidak, terimakasih atas perhatianmu selama ini.”

“Tidak, sama-sama. Akulah yang berhutang padamu.”

Mereka lalu makan bekal mereka bersama-sama.

    Mikuri dan Hiramasa melihat-lihat. Hiramasa menunjuk gunung yang ada di belakang mereka adalah gunung tertinggi di sini.

    Mereka juga pergi ke hutan bambu, walau hujan pemandangannya masih terlihat bagus menurut Mikuri.

Sesampainya di kamar. Keduanya syok besar-besaran melihat kasurnya hanya ada satu. Mikuri menahan si pelayan pergi, bukankah mereka pesan twin room ?. Pelayan mengatakan dia menerima perubahan pesanan. Mikuri menoleh ke Hiramasa. Hiramasa menggeleng-geleng, bukan dia yang mengubahnya.

Mikuri menelfon Yuri. pelaku utamanya adalah Yuri-chan.

“Kenapa ?”

“Itu karena penginapan menghubungiku untuk konfirmasi diskon penginapan. Kenapa penginapan bilang kalian malah memesan twin room.”

Yuri yakin tidak mungkin, tolong ganti daja double bed.

“Tapi aku butuh twin room.”

Yuri heran, bukannya kalian ini tidur bersama ?. Mikuri kelepasan, dia dan Hiramasa tidak tidur bersama.

    Mikuri dan Hiramasa mencoba mengganti, sayangnya pihak penginapan tidak bisa karena twin room sudah penuh. Hiramasa meminta ia dan Mikuri menyerah saja, ini bukan kesalahan pihak penginapan. Hiramasa meminta maaf pada petugas yang meladeninya karena telah mengganggu di tengah kesibukannya. Petugas tersebut meminta maaf. Hiramasa balas mengatakan tidak apa-apa.

    Menurut Mikuri dalam hati menyimpulkan, sifatnya Hiramasa Tsuzaki sangat berbeda dari pacar Mikuri di jaman SMA dulu. Saat itu ia dan Kaoru baru saja menerima pesanan. Kaoru memekik kenapa ini kecil sekali ?. Ia minta diganti.

Mikuri marah pada Kaoru, tapi kan Mikuri memang pesan ini tadi!. Kaoru tetap dengan pendapatnya, ia ingin diganti karena tadi Mikuri tidak tahu apa yang mereka pesan seperti apa.

Mikuri mencoba membayangkan jika saat itu pacarnya adalah Hiramasa-san. Dengan situasi yang sama, Mikuri yakin Hiramasa hanya memandangi cangkir kecil itu dengan bingung, memperbaiki letak kacamatanya dan berkomentar “Kecil sekali, ya ?”

“Apa mungkin, ukuran ini… “ Kata Mikuri agak menyesal.

“Kita harus belajar.”

“Benar,”

Mereka lalu meminumnya.

Komentar:

       Kenapa drama ini bisa lucu sekali ?, apakah manganya selucu dramanya ?. Bagi yang belum tahu, atau gagal fokus dari sinopsis buatanku eps 1 part 1, aku sudah mencantumkan kalau ini adalah adaptasi dari manga. Manga komik pasti lucu, aku yakin itu. Sense of humornya komik dan drama tentunya berbeda, aku tidak membaca manganya tapi aku punya ekspektasi kalau manganya pasti lucu.

And then…we-married-as-job

     Mohon maaf bagi yg sudah menontonnya, saya akan sensor kata-kata yg agak menjurus ke itu itu XD, kata orang biasa saja sih standar bahasanya, tapi gak biasa bagiku tuh…, menurutku tidak. yorosiku onegaisimasss~~~ mohon pengertiannya…

Semua ada waktunya kog, aku tidak ingin menjerumuskan siapapun ^^. Yang halus-halus saja… let it flow…. Let it flow~

Like FP baru blog ini untuk memberikan dukungan ke Authornya terus melanjutkan sinopsisnya, satu saja klik dari kalian merupakan penyemangat yang amat berarti. Dapatkan update-tan terbaru langsung dari admin blognya tanpa perantara. Just click here >>>>>FANPAGE

 

Sinopsis Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu (We Married as Job) Episode 5 Part 3

-=+-*+Nigeru Wa Haji da ga Yaku ni Tatsu||We Married As Job *+-+=-

     Mikuri menuangkan minuman, ia berkata di sini benar-benar tenang ya ?. Tsuzaki mengiyakannya. Mikuri bercerita, dulu ia dan keluarganya sering pergi piknik dan berkemah. Belakangan ini hanya Mikuri yang tidak bisa ikut.

Hiramasa bercerita dirinya hanya pernah satu kali piknik, saat dia kelas 3 SD. Ayahnya bekerja di pabrik dan jarang dapat hari libur. Mikuri menebak pasti itu adalah kenangan yang membahagiakan bagi Hiramasa-san.

Mikuri sambil membuka tutup makanan. Tsuzaki bilang ibunya dulu membuatkannya soba genting. Soba genting ?, Mikuri seperti baru pertama kali dengar. Hiramasa menjelaskan soba genting adalah makanan khas daerah Yamaguchi. Di restoran, mereka akan menggunakan genting, genting untuk atap, menaruh soba di atas genting yang sangat panas bersama potongan telur dadar dan daging sapi asin-manis di atasnya.

“Kedengarannya enak.” Kata Mikuri.

“Ibuku… .membawa soba untuk bekal makan siang sebagai kejutan. Namun ayahku marah dan berkata Kenapa kita harus makan soba yang sudah apak di luar ruangan?. Dan ini bukan soba teh, tetapi soba buckwheat”

“Jadi seharusnya menggunakan soba teh?” Mikuri penasaran.

“Benar,”

“Ibuku dari Kagoshima, jadi dia tidak kenal betul masakan itu. Ayahku adalah orang yang tidak bisa berkompromi saat sedang marah, jadi dia berkata ‘Aku tak mau memakannya’. Tak ada yang bisa kulakukan, jadi.. aku terus saja berkata “enak, enak” sendirian… dan mati-matian memakan soba dari kotak bekal bertumpuk itu. Kenangan hari itu bagai neraka.”

Dan sejak saat itu Tsuzaki belum bisa makan soba genting lagi, sebagai anak Tsuzaki bertanya-tanya kenapa ibunya tidak menceraikan ayahnya ?. Mikuri terenyuh mendengar ceritanya Tsuzaki. Tsuzaki meminta maaf telah menceritakan cerita sedih kepada Mikuri.

Mikuri menjawab dirinya senang. Tsuzaki salah mengira Mikuri senang mendengar cerita neraka tersebut. Tapi Mikuri balas mengatakan dirinya senang karena bisa mendengar ceritanya Hiramasa-san. Saat pertama kali Mikuri bertemu dengan orang tuanya Hiramasa-san ia pikir mereka menyenangkan, mereka pasangan yang serasi.

Benarkah ?, Tsuzaki agak terkejut dengan pendapat Mikuri. Menurut Tsuzaki orang tuanya tidak bisa bercerai karena jaman dulu tidak semudah sekarang, tidak bisa berpisah karena memiliki anak, Tsuzaki Hiramasa.

     Mikuri berpendapat bukankah itu bagus?, seorang putera yang menyelamatkan ibunya. Tsuzaki sekali lagi terkejut, dipikirnya dia adalah putera yang menahan ibunya.

“Jika akhirnya mereka tidak berpisah, bukankah itu lebih baik?” Kata Mikuri.

“Tak apa-apa untukku jika dia bahagia.”

Tsuzaki teringat sesuatu, ia mengecek ponselnya. Rupanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Mikuri menyuruh Tsuzaki mengucapkan selamat ulang tahun ke Nyonya Tsuzaki. Tapi Tsuzaki bilang dia tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. Mikuri terus mendorongnya, kalau Hiramasa tidak mau maka Mikuri yang akan melakukannya.

      Saat Mikuri melihat ponselnya ada panggilan tak terjawab dari Yasue 3 kali. Tsuzaki menyarankan Mikuri untuk menelfon balik. Mikuri berlalu sambil mengingatkan Hiramasa jangan lupa menghubungi ibunya.

     Ayah sedang membaca koran, ponsel ibu berbunyi dan ia memanggil istrinya. Nyonya Tsuzaki datang dan mengangkat panggilan dari anaknya, ada apa Hiramasa menelfon. Dengan canggung Hiramasa mengucapkan selamat ulang tahun ke ibunya. Nyonya Tsuzaki tersenyum geli, pasti Hiramasa disuruh Mikuri melakukannya. Hiramasa kaget kenapa ibunya bisa tahu.

“Kau memang berubah setelah menikah…. Mikuri ada di situ?”

“Iya, kami sedang piknik”

“Piknik?”

“Iya, begitulah ?”

Tiba-tiba Hiramasa teringat tujuannya berpiknik hari ini. Ia mendongak ke atas, berdiri dan memastikan dengan teropong bahwa Yuri memang sedang berdiri di dekat kaca.

    Hiramasa kesulitan memanggil Mikuri, ia bahkan sampai tidak menanggapi ibunya. “Moshi-moshi… Hiramasa ?”

Sayangnya Mikuri masih sibuk dengan Yasue. Hiramasa lalu kembali ke ibunya, “Maaf, ada apa ?”

“Apa kau ingat saat kita bertiga pergi piknik?”

“Kenapa kau membawa-bawa hal yang sudah lama?” Kata ayah ikut tidak nyaman.

“Tak apa-apa, ‘kan?” Ibu lalu pergi ke sisi rumah lain meninggalkan ayah.

“Saat kita makan soba genting di perjalanan pulang.”

“Di perjalanan pulang?” Hiramasa terkejut.

     Akhirnya Yasue mengangkat panggilan Mikuri. Mikuri bertanya kenapa Yassan menelfonnya tiga kali. Jadi ada urusannya dengan Mikuri atau tidak. Yasue bilang lebih tepatnya bukan urusan, dia sudah memasukkan surat cerai ke kantor pemerintahan. Sebenarnya dia ingin mendiskusikan ini dengan Mikuri tapi Yasue tidak ingin merusak suasana. Semua orang menentang Yasue karena ada Hirari dan menyuruh Yasue mengabaikan fakta perselingkuhan suaminya, tetapi Yasue sudah tidak tahan dengan perselingkuhan suaminya, Yasue tidak bisa memaafkannya, ia tidak tahan memandang wajah suaminya.

Yasue bertanya apa Yasue salah ?, ia harus bertahan demi Hirari, apa Mikuri pikir suami Yassa selingkuh karena salahnya Yassan ?. Membesarkan Hirari, membersihkan rumah, Yasue sudah berusaha yang terbaik. Tapi kenapa suaminya selingkuh ?, apa salah Yasue ?.

“Kau tak melakukan kesalahan apa pun. Yassan sudah melakukan yang terbaik”

“Aku…. Apa kaupikir aku membuat Hirari tak bahagia?”

“Itu tidak benar! Dan bagi Hirari-chan, senyumanmu akan membuatnya lebih bahagia.”

    Mikuri ada di pihak Yasue apapun yang terjadi. Hiramasa menunggu Mikuri kembali, ia mengamati sekeliling ada banyak keluarga kecil dengan anak mereka. Mungkin Hirasama teringat pada dirinya sendiri saat kecil. Mikuri kembali, Hiramasa menanyakan soal Yassan. Mikuri menanggapi, saat Yasue memiliki anak… semua keputusan hidupnya bukanlah demi diri sendiri. Rumit, ya? Namun, jika sampai tak bisa memandang wajah pasanganmu, kupikir tak baik untuk kesehatan mental dan spiritual anak. Kupikir perceraian adalah hal yang baik untuknya.

“Jadi dia melakukannya… bercerai.” Kata Hiramasa.

Mikuri membenarkannya, ia juga meminta maaf pada Hiramasa karena ucapan Mikuri yang sekarang berbeda dengan yang tadi saat mengobrolkan orang tua Hiramasa.

    Hiramasa mengungkapkan kalau sebenarnya alasan ayah dan ibunya tidak jadi bercerai bukan hanya karena Hiramasa, sepulang setelah piknik neraka tersebut ibunya diajak ayah makan soba genting yang sebenarnya. Ibu bilang ke Hiramasa saat itu Hiramasa tertidur sehingga tidak ingat. Bagi Hiramasa saat itu adalah kenangan yang buruk, akan tetapi bagi ibu itu adalah hal terindah karena makan soba seenak itu. Hiramasa baru tahu hari ini tentang cerita lain yang tidak diketahuinya itu.

   Mikuri pikir Yassan dan suaminya tidak memiliki kenangan indah semacam itu, Mikuri hanya ingin Yassan dan suaminya bahagia. Mikuri hanya bisa mengatakan ia ada di pihaknya Yassan apapun yang terjadi. Hiramasa menanggapi, memiliki orang yang berpihak padanya ketika mengalami masa sulit itu akan membantu. Aku tak pernah punya seseorang seperti itu,

Ah!, Hiramasa lupa, ada Numata yang pernah menepuk pundaknya dan mengatakan apapun yang terjadi Numata akan ada dipihaknya Tsuzaki.

“Meski kupikir dia salah paham tentang sesuatu.” (Numata apapun yang terjadi akan mendukung Tsuzaki, entah Mikuri atau Kazami yang dipilih Tsuzaki nanti XD)

Sedangkan bagi Mikuri ada Yuri-chan.

“Kalian berdua dekat”

“Iya, aku selalu menjadi kesayangannya,”

    Keduanya baru ingat tujuan kemari adalah menunjukkan kemesraan ke Yuri, di mana Yuri ?. Mereka lalu berdiri, Hiramasa usul bagaimana kalau ke lobi, berlari mendekati Yuri dan berpelukan (Lol 😀 ). Mikuri terkejut dengan ide gila Hiramasa, ia meminta maaf telah mengganggu waktu libur Hiramasa yang berharga dan sampai membuat Hiramasa mengusulkan ide yang konyol seperti berpelukan di lobi. Akan lebih mudah kalau mereka mengaku jujur saja ke Yuri.

Kalau Yuri tahu kebohongannya Mikuri dan Hiramasa maka Yuri harus dia harus membohongi adiknya, Sakura. Yuri akan menanggung perasaan bersalah mereka yang harusnya ditanggung Mikuri dan Hiramasa sendiri.

    Mikuri meminta dipeluk Hiramasa hari ini. Hiramasa mengingatkan kalau hari ini bukan selasa. Mikuri minta pelukan di muka. Mereka lalu berpelukan,

“Jika sesuatu terjadi, Hiramasa-san… Aku di pihakmu” Kata Mikuri.

Hiramasa ragu-ragu hendak mengusap kepala Mikuri, Hiramasa menepuk-nepuk dan mengusap puncak kepala Mikuri dengan hati-hati. Mikuri senang bercampur terkejut.

    Yuri memergoki mereka sedang berpelukan. Ia kenal karpet tersebut, rupanya Mikuri dan Hiramasa sedang berduaan di taman. Hiramasa dan Mikuri seketika melepaskan pelukan mereka. Hiramasa mengelak bukan seperti itu. Yuri pergi dan mempersilahkan Mikuri dan Hiramasa bersenang-senang.

Hiramasa hendak menjelaskan sesuatu dan mengejar Yuri, tapi Mikuri menahannya. Misi mereka sudah berhasil sekarang.

   Yuri datang ke bar Master Yama-san. Tak lama kemudian Numata datang. Yuri khawatir Kazami ikut datang. Master Yama-san mengatakan Kazami tidak akan kemari sendirian. Yuri langsung lega. Numata menduga pasti Yuri sangat membenci Kazami ya ?.

    Kazami di rumah, ia menerima pesan dari Numata yang isinya Numata tak sengaja bertemu Yuri-san, apa yang Kazami katakan ke Yuri-san sampai membuatnya membenci Kazami ?. Kazami hanya tertawa membaca pesan dari Numata itu.

Mikuri di rumah, ia mendapat pesan dari Yasue. Yassan berterima kasih pada Mikuri, mulai sekarang Yasue dan Hirari akan berjuang!.

    Mikuri dan Hiramasa sedang memasak bersama. Mienya sudah matang, Hiramasa memisahkan kuahnya, karena uap panas… seketika kacamatanya menjadi berembun. (ahahahhahaha…!)

“Aku tidak bisa lihat”

Mikuri mengirisi telurnya dan Tsuzaki mengolah mienya. Sekarang kandidat cinta Mikuri menang !, Mikuri dan para petinggi partai serta tim sukses bersorak-sorak riang, hidup Mikuri !!, hidup Mikuri!, banzai !! (hahahhaha… Ah… gila’ kenapa aku masih bisa ketawa padahal sudah menontonnya XD gapapa lah..)

     Master Yama-san kesal, awalnya di pernikahan semuanya baik-baik saja dan tidak lihat kejelekannya. Numata bergumam, mulai lagi deh.. cerita soal mantan istrinya.

    Mikuri dan Hiramasa mencoba masakan mereka. Lalu memekik enak bersama’an.

Mikuri: Kami bukan suami-istri ataupun teman. Ini hanya hubungan kerja, ditambah… kekasih untuk dipeluk tiap Selasa. Bagi kami ini menyenangkan karena tidak pasti.

 Akan tetapi, kenapa.. jadi seperti ini?

Komentar:hoshino-gen

    Komentar apa ya…. Aku pengen meluk Tsuzaki Hiramasa boleh gak sih ?, yang versi kecil tapi~~~ *kkkkkk yang versi gede juga gapapa, unyuuuu…., kalau gak boleh gimana kalau peluk Hirarinya aja ?, wkwkwkwk. Episode 6 mereka akan honey moon. Gak akan terjadi apa-apa kog, Hiramasa-san adalah orang yang sopan sekali :D, kecuali kissue… itu pun ringan tapi manis *apaaa’ansiiih??, flat you know… jangan ngarep yg nggak2 ya ??, lihat Hiramasa-san terbuka+jujur dengan perasaannya saja sudah cukup menyenangkan kog ^_^

Like FPnya dan share postingannya untuk memberikan dukungan agar Authornya terus melanjutkan sinopsisnya ^^ >>>FANPAGE