[K-Movie] Midnight Runners – Part 5 Final

Ki Joon dan Hee Yeol berpura-pura disuruh Prof Yang meminjam peralatan polisi lengkap. Petugas memberikannya tanpa curiga sedikit pun, ia mengatakan Rabu harus dikembalikan dalam kondisi yang sama.

Keduanya lalu berlatih menembak.

Seorang anak dicek kondisi tubuhnya, menurut mereka anak tersebut tidak layak diambil sel telurnya. Mereka memutuskan untuk diambil saja organ dalamnya. Yunjung mencoba menghentikannya, namun ia malah dipukul

Di kelas bela diri baik Ki Joon dan Hee Yeol sama-sama berlatih dengan keras. Diluar kelas mereka juga berlatih gila-gilaan.

Ki Joon sit up dan Hee Yeol menghitunginya. 98, 99.. dan 99 lagi, 99 lagi, terakhir! 99. Ki Joon kesal dipermainkan, ia langsung menjambak Hee Yeol.

Ki Joon juga melakukan hal yang sama pada Hee Yeol. Hee Yeol balas menggigit kaki Ki Joon. Mereka makan lebih banyak daging, berlatih kian keras tiap harinya.

Saat pelajaran pun mereka memperhatikan penjelasan Prof Yang dengan nyalang. Muka muka tampang kebanyakan belajar dan kurang tidur *hhhh

Ki Joon melakukan push up. Hee Yeol juga berlatih sama kerasnya seperti Ki Joon.

Joo Hee menemukan mobilnya dan memberikan informasinya. Ki Joon dan Hee Yeol menemukan informasi di internet,

mereka akan bergerak 2 hari dari sekarang.

Yunjung dipalsukan identitasnya menjadi mahasiswi jurusan bahasa inggris, menyumbangkan sel teluarnya untuk biaya kuliah. Harga sel telurnya Yunjung 80 dollar, kisaran 1 M jika di-kurs kan dalam rupiah.

Anak-anak dibawa ke klinik. Ki Joon dan Hee Yeol menuju ke lokasi. Ki Joon dan Hee Yeol mengamati situasi terlebih dahulu. Dokter memberikan 20 dollar untuk preman.

Ki Joon dan Hee Yeol bersiap-siap. Keduanya menghajari para preman yang jumlahnya tak sebanding dengan mereka.

Ki Joon berhasil melumpuhkan banyak preman, Hee Yeol dan membuatnya kaget.. nyaris saja Hee Yeol kena hantam besinya Ki Joon *hhh. Ki Joon khawatir dengan tangan Hee Yeol yang retak.  Hee Yeol khawatir pada pistol listrik mereka yang rusak, bisa mati mereka sekarang, Hari Rabu harus dikembalikan dengan kondisi utuh.

Hee Yeol dan Ki Joon bertanya pada Bibi kebersihan di mana ruang operasi. Beliau menjawab ruang 8. Keduanya berterima kasih, sampai di lantai 8 mereka disambut si bos preman.

Perkelahian sengit tidak terhindarkan. Ki Joon berhasil mendorongnya ke jendela kaca, hendak memborgolnya tapi gagal. Hee Yeol jadi sasaran berikutnya, ia dijatuhkan ke jendela kaca.

Ki Joon membantingnya, mereka lalu memborgolnya. Padahal mereka sudah keren-keren langsung menuju ke ruang operasi, dua kunyuk kembali lagi untuk mengambil peralatan yang mereka pinjam. Bisa kena semprot kalau sampai tidak mengembalikannya XD

Ki Joon dan Hee Yeol menuju ruang operasi untuk menghentikan pengambilan sel telurnya Yunjung. Mereka juga mendatangi ruangan para anak-anak lainnya. Mereka tidak ada pilihan lain selain menghubungi Prof. Yang meski risikonya mereka akan dikeluarkan.

Prof Yang sebelum menghadiri rapat bertanya apakah keduanya apa tidak menyesal jika akhirnya dikeluarkan?. Hee Yeol dan Ki Joon sepemikiran apa yang mereka lakukan adalah tindakan yang benar. Namun keduanya tidak mau dikeluarkan karena ingin terus belajar dan menjadi polisi yang sebenarnya.

Setelah terjadi perdebatan sengit diantara dua kubu yang pro dan kontra, Prof Yang menengahi mereka telah berhasil mendidik Kang Hee Yeol dan Park Ki Joon dengan baik, memang tindakan mereka secara sistem dianggap buruk, namun mereka telah melakukan kebenaran mengingat keduanya masih muda. Ingatkah kita pernah berada di posisi mereka yang muda dan bersemangat, ambisius, serta teguh memegang nilai-nilai kebenaran yang mereka yakini?. Mereka bukanlah anak-anak yang egois, mereka berlari sepanjang malam demi menolong orang lain.

Ki Joon dan Hee Yeol seharusnya dikeluarkan, namun keputusannya adalah keduanya harus mengulang satu tahun masa pendidikan dan melakukan kerja bakti selama 500 jam.

Ki Joon bertanya pada Hee Yeol jumlah jam kerja bakti mereka tersisa?. Hee Yeol menjawab 473 jam, 20 menit. Ki Joon mengerang kesal karena masih banyak sekali. Ia mengajak Hee Yeol bersih-bersih kali ini segera diselesaikan dan pergi ke warnet untuk main tembak-tembakan (HHHHHHHH)

Hee Yeol melihat ke belakang. Yunjung datang untuk menyapa mereka,

Yunjung terharu sekali, sesekali ia mengusap air matanya. Amat berterima kasih berkat keduanya ia bisa menjalani hidup normal. Yunjung mendekati Ki Joon dan memeluknya, Hee Yeol yang jadi ikutan terharu dan beralasan angin membuat matanya berair.

Hee Yeol iri lantas mendekat dan gantian memeluk Yunjung. Ki Joon memeluk Yunjung lagi, modus XD

Keduanya lalu tidak peduli dengan kerja baktinya, mereka mengajak Yunjung jalan-jalan melihat-lihat kampus. Mereka juga memperkenalkan diri mereka.

CUAP-CUAP:

Efek ketiduran tak jarang bisa mimpi buruk ya.. karena gak do’a dulu sebelum tidur dan pasti ada yang gangguin kita waktu tidur. Itu terjadi padaku, HaHaHaHa! Aku takut tidur (﹏╥), gak juga sih.. hobiku kan tidur ^^/

Midnight Runners pakai ost lagunya barat, pernah denger tapi kurang tahu judulnya apa saja. Terlepas saya suka Park Seo Joon, mungkin saya akan melirik film ini karena ada Kang Haneulnya.. rata-rata film dan Dramanya Haneul bagus bagus, ini orang selalu dapet peran pria pintar cerdas, kalem tenang. Dari Teaser-nya sudah kelihatan kalau film ini adalah komedi kepolisian.

Scene favoritku?

  • Ketika Hee Yeol dan Ki Jun berusaha nyari cewek, polosnya yaampuun… mereka harusnya dengan tampang sekece itu gak usah susah-susah ke klub, ngibulin aja anak-anak SMA baru gede pasti dapet XD. Yang pasti kalau nyari cewek di klub kebanyakan ya yang mata duitan, dan mereka banyak tidak diterimanya karena mereka masih taruna polisi yang polos, yang kalau pun sudah jadi polisi gajinya tak seberapa. Atau? Kencan aja sama gw.. senin-rabu Ki Jun, kamis-sabtu Hee Yeol, Minggu? Jalan bertiga aja.. susah amat? *HHHHHHHHHHHH!
  • Sewaktu Hee Yeol meludahi Ki Joon dan membohongi Ki Joon kalau kepalanya Ki Joon berdarah XD, dan menyemangati Ki Joon yang meloloskan diri dari gantungan HHHH!. Dan setuju banget yang masuk ke salon pembersih telinga si Hee Yeol aja, si anak pintar yang kelihatannya sopan dihadapkan pada mbak mbak seksih, nampar muka sendiri biar sadar dan minta maaf ke ibunya, waktu si mbak-mbaknya mulai nempel-nempel. Kurasa gak akan lucu kalau yang masuk ke salon si Ki Joon dan yang lari-lari manggil babi adalah Hee Yeol *hhh.
  • Saat Ki Joon mengalihkan perhatian polisi dengan memanggil mereka “Hei Babi!” yang dalam bahasa korea pengucapannya mirip dengan polisi *wkwkwk. Ini mengingatkanku pada Goblin..

Eh jeng jeng jeng.. Katanya Goblin diputar di TV dan didubbing ya? Maklum… saya gak pernah nonton tipi jeng.. tipe tipe mbak mbak sok sibuk. Ini sedikit membuatku kecewa. Karena apa? Nostalgia dikit ya.. Eun-tak kan sering minta duit 500 dollar dari Shin, dia sering ngomong “kobek!” bisa memiliki dualivitas makna yang ambigu tergantung situasinya, soalnya kobek kan artinya 500 dollar dan ngakulah/menyatakan cinta. Dari bahasa aslinya kita bisa ketawa karena hal sekecil seremeh ini, namun jadi hilang kalau didubbing.. yah..  Jadi kita merasa lucu si Euntak ini pas ngomong kobek maksud sebenarnya lagi minta duit apa minta ditembak Shin? *wkwkwk

     Seo Joon cocok sekali memerankan sosok boyish anak nakal begini, jujur saja dari semua drama maupun film sampai variety show maupun CF nya Seojun yang kuikuti selama ini.. 2 tahun ini tepatnya. Midnight Runners adalah versi tergantengnya Seojun XD, menurutku eye catching sekali! Yaampun! Speechless rasanya, karena semuanya terasa pas ^-^. Dan Haneul cocok banget jadi anak pintar dan kadang-kadang nakal dikit *hhhh. Aje gile tampang o’onnya sewaktu keenakan dibersihin telinganya kepengen gw gampar XD *ngeselin tapi lucu*

Argh! Kalau polisinya model begini, yang ada saya ingin sekali ditilang XD Tilang saja daku Kang… Tilang! Tilang Kang.. PLIS! Jaeballll. Tangkap aku, penjarakan aku dalam hatimu jangan dikasih keluar *kkkk

[K-Movie] Midnight Runners – Part 4

Para preman mendekat karena curiga. Mereka mulai memukuli Hee Yeol dan Ki Joon. Mereka terlibat perkelahian sengit, Hee Yeol dan Ki Joon berhasil menjatuhkan mereka. Kemudian mereka menginterogasi si ketua premannya, tapi ia tidak mau angkat suara.

Ki Joon mengambil setusuk sate, kemudian menusuk-nusukkannya ke pantat  si preman.

Mereka menuju tempat dikurungnya anak-anak. Hee Yeol juga melihat plat kendaraan yang sebelumnya ia lihat membawa Yunjung. Hee Yeol mengecek ke atas sendirian, anak-anak meminta dikeluarkan dari sana.

Ki Joon bertanya pada si preman tempat apa ini?. Dikatakan ternyata anak-anak tersebut diculik untuk diambil sel telurnya dan kemudian dijual, meski sel telurnya diambil anak-anak itu masih bisa hidup, Hee Yeol turun mengajak Ki Joon  melihat ruangan atas.

Ki Joon mendobrak salah satu ruangannya. Gadis itu demam dan berdarah karena diambil sel telurnya. Ki Joon mengangkatnya dan berencana ke rumah sakit, saat keluar mereka berdua disambut oleh para preman. Hee Yeol menghalau mereka. Sementara Ki Joon menjauhkan si anak dari mereka. Hee Yeol mulai kewalahan karena sendirian, Ki Joon hendak membantu.

Hee Yeol dipukuli banyak orang. Ki Joon ragu untuk mendekat. Si Ketuanya bertanya siapa Ki Joon? Ki Joon mengaku ia adalah polisi. Si Ketua tidak percaya, ia minta bukti lencana polisi.

Ki Joon dipukuli secara brutal, Ki Joon sesekali membalas sebisa mungkin.

Ki Joon dan Hee Yeol digantung di langit-langit. Hee Yeol yang siuman terlebih dahulu, Hee Yeol mencoba membangunkan Ki Joon dengan menggunakan ludahnya. Sekali gagal, yang kedua kalinya Hee Yeol mengumpulkan ludahnya lebih banyak dan meludah tepat di pelipis Ki Joon. Ki Joon terbangun,

Ki Joon merasa aneh karena ada sesuatu yang menetes di wajahnya.

“Kepalamu berdarah” Hee Yeol berbohong XD. “Aku tahu, rasanya seperti hangat” Ujar Ki Joon ngeri.

Ki Joon mengangkat tubuhnya dan berusaha melepaskan diri. Hee Yeol takjub melihat betapa kuatnya Ki Joon,  bukannya sama berusaha melepaskan diri.. ia malah menyemangati Ki Joon “Wuah! Fighting!” *HHHHH

Ki Joon terjatuh dengan keras, ia kesakitan. Hee yeol dibantu turun oleh Ki Joon. Semuanya hilang, dompet dan telepon mereka. Keduanya hendak keluar, tapi di luar mereka dijagai para preman yang tidur tumpang tindih.

Keduanya berhati-hati menahan napas dan melewati mereka. Terdengar suara orang buang angin, Ki Joon menuduh itu Hee Yeol. Hee Yeol menggelengkan kepalanya, itu bukan dia! Lalu melangkah lagi.

Nahasnya suara alarm jam Ki Joon berbunyi, mati-matian Ki Joon mencoba mematikan dan meredam suaranya. Yang ada para preman justru bangun dan mengejar mereka.

Keduanya berhenti dikejar setelah sampai di pos polisi. Para preman kabur kembali untuk mengamankan anak-anak.

Ki Joon dan Hee Yeol terengah-engah menjelaskan gadis-gadis dikurung di sebuah bangunan terbengkalai dan dimanfaatkan. Petugas mendengarkan, pertama-tama ia menginginkan KTP Hee Yeon dan Ki Joon karena itu adalah mekanismenya.

Hee Yeol memprotes, tidak bisakan dilacak lewat nomor KTP saja? Mereka tidak boleh membuang-buang waktu lagi. Namun polisi mengatakan tetap tidak bisa, butuh prosedur dulu. Ki Joon murka, apa mekanisme lebih penting daripada nyawa seseorang?!. Si polisi balik marah, justru dengan aturan itulah mereka bisa menyelamatkan nyawa orang.

Ki Joon memakinya, Hee Yeol mencoba menenangkannya. Ki Joon dan polisi masih adu mulut, sampai si polisi menembak keduanya dengan pistol listrik.

Profesor Yang Sung Il datang setelah menerima panggilan. Polisi setempat mengatakan Ki Joon dan Hee Yeol tidak memiliki KTP dan membuat laporan palsu. Prof Yang berujar keduanya adalah taruna akademi kepolisian, ia adalah Prof. mereka.

Keduanya kemudian dilepaskan, mereka menceritakan kasusnya. Anak-anak yang diambil sel telurnya dan dikurung di sebuah bangunan terbengkalai. Hee Yeol menyerahkan buktinya. Prof Yang bertanya di mana lokasinya.

“Tahun 2007, aku menghadapi kasus seperti ini, dan saat itu pertama kalinya aku melihat obat untuk sel telur. Seorang wanita sehat biasanya menghasilkan satu sel telur per bulan. Dengan obat ini, dia bisa menghasilkan hingga 20 sel telur. Mereka menjual sel telur ke pasangan yang tidak mempunyai anak, dan dibayar dengan harga tertentu. Mendengar ceritamu… aku pikir ada organisasi khusus yang menculik gadis-gadis… untuk diambil sel telurnya, seperti di peternakan telur.”

Di TKP semuanya sudah kosong. Prof Yang mengatakan kasus ini bukanlah kasus yang bisa diselesaikan oleh kepolisian biasa, ia akan meminta bantuan Unit Investigasi Regional. Ki Joon dan Hee Yeol bertanya apakah akan segera dimulai investigasinya?

Prof Yang mengatakan tidak akan secepat itu, paling tidak 2 minggu dari sekarang. Hee Yeol bertanya bukankah Prof. Yang pernah mengajarnya yang terpenting adalah waktunya?. Prof Yang menjelaskan, itu benar.. tapi ada banyak kasus yang diselesaikan. Setiap nyawa itu penting.

“Apa ada unit yang bisa memulai lebih awal?” Tanya Hee Yeol

“Ada sesuatu yang disebut penyelidikan berbasis intelijen. Unit Investigasi Khusus (UIK) dan UIR biasanya menangani mereka. Tapi UIK lebih sibuk dari UIR sekarang.” Tukas Prof Yang

“Lalu bisakah kami mencari mereka sendiri?” Tanya Ki Joon. Hee Yeol juga sependapat. Prof Yang memahami perasaan Ki Joon dan Hee Yeol.. namun ini bukanlah sesuatu yang bisa mereka tangani. Kembali saja ke Akademi.

“Prof. Yang! Mereka lebih muda dari kita. Mereka diculik dan dikurung.” Bentak Ki Joon berapi-api.

“Kau kunyuk. Kau bukan polisi. Kau masih pelajar.”

 Bahkan jika kami adalah pelajar, kami menyaksikan kejahatan itu dan memiliki bukti. Kenapa kami tidak bisa melakukan apapun?” Bantah Ki Joon

“Jangan bicara begitu padaku. Biarkan orang dewasa yang menangani ini. Mengerti?”

Hee Yeol yakin pasti Prof Yang adalah seseorang yang bisa mendapatkan informasi pemiik kendaraan dengan sekali panggilan, Hee Yeol mengatakan nomor platnya dan memohon Prof Yang untuk membantu mereka sekali ini saja. Prof Yang lalu menghubungi rekan lamanya yang sudah 10 tahun tidak ia hubungi, mengatakan nomor platnya. Rupanya plat mobil tersebut illegal dan tidak terdaftar.

Prof Yang menasehati mereka untuk berhenti saja, belajarlah dengan giat. Jangan mengada-ada dengan menjadikan kasus ini satu-satunya sehingga menyuruh kasus lainnya diterbengkalaikan begitu saja. Jika keduanya mengurusi kasus ini mereka akan mendapatkan peluang dikeluarkan.

Dengan setengah hati mereka mengiyakan saran Prof Yang.

Ki Joon dan Hee Yeol pulang. Badan keduanya memar-memar dan terluka. Ki Joon dan Hee yeol masih mengkhawatirkan anak-anak tersebut apakah baik-baik saja.

Jae Ho datang, ia bertanya di mana jaketnya. Ki Joon meminta maaf dan akan menggantinya nanti. Jae Ho melihat tubuh keduanya yang babak belur langsung bertanya apa mereka tidak apa-apa?

Hee Yeol teringat bahwa ayahnya Jae Ho adalah polisi, pasti punya kenalan polisi Gangnam yang bisa dimintai bantuan untuk melihat CCTV mobil. Jae Ho mengiyakannya, ayahnya kenal banyak orang.. masalahnya yang di Gangnam itu.. Aku terlalu takut untuk mengatakannya.

Ki Joon dan Hee Yeol memaksanya bicara. Jae Ho takut-takut.

“Medusa!” Jawabnya dengan ketakutan.

Medusa adalah instruktur wanita mereka dulu yang galaknya bukan main. Joo Hee mendapatkan julukan Medusa karena tempernya sudah level setan. Barangkali mungkin setan akan minta maaf kalau ingin melintas di depannya Joo Hee XD

Seperti sekarang, dua orang bapak-bapak saja dia sentaki karena sudah bertindak tidak profesional. Main ponsel saat bekerja.

Hee Yeol menghubungi Medusa. Berbasa-basi terlebih dahulu baru mengutarakan maksud sebenarnya. “Apa yang kau inginkan?”

“Temanku jadi korban tabrak lari di Gangnam. Polisi mengatakan mobil penabrak itu tidak terdaftar.”

“Kami harus mencari secara manual lewat CCTV untuk menemukannya.”

Ki Joon memohon karena ini penting sekali. Joo Hee menyanggupinya. “Nomor plat, tahun produksi dan model… waktu dan tempat terjadinya, dan tempat terakhir terlihat. Kirimi aku semua itu.”

“Ya, Bu. “

“Aku akan menemukannya tidak peduli bagaimana. Kau tangkap pelakunya.”

“Ya, Bu.”

“Jadi tidak akan ada korban lain. Mengerti?”

Keduanya berterima kasih dan semangat. Sekarang Ki Joon dan Hee Yeol tinggal melakukan persiapan diri. Pertama-tama mereka memerlukan senjata.