Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 9 Part 2

     Kono lihat ada obat, mainan di mejanya dari rekan-rekannya, Yoneoka menyemprotkan minyak wangi ke Kono. Mereka berharap Kono bisa semangat dan ceria lagi seperti semula.

Masamune datang, ia penasaran kenapa Kono-san tidak seperti biasanya?. Yoneoka segera menarik Masamune-nya itu untuk jangan mengganggunya.

Kono membawa barang-barang tersebut dan pamit pergi.

Di luar Shesiru mengajaknya minum. Senpai hari ini tidak seperti yang biasanya, meski tidak tahu apa masalahnya ia rasa dengan minum-minum akan membuat lega. Yukito datang, bertanya apa Ecchan bisa? Ada janji ya?

Shesiru menarik Kono dan memberikannya sedikit lipstick. Kono masih lesu, ia berterima kasih dan didorong Shesiru ke Yukito.

Kaizuka datang ke Lassy mencari Kono. Morio bilang senpai baru saja pergi, Morio menduga pasti Kaizuka bicara sesuatu pada senpai bukan?

Kaizuka kikuk menanggapinya, aa.. tidak.

      Ecchan dan Yukito melihat pemandangan malam hari. Yukito menunjuk taman di bawah sana, taman itu sering digunakan bermain oleh anak-anak dan syukurlah tidak ada yang terluka ketika bermain. Kenapa? Karena ada petugas yang setiap saat mengecek dan  memperbaiki semua permainan di tamannya. Juga di rel kereta api, selalu ada petugas yang mengecekny secara rutin. Jika ada sambungan rel yang tidak rata segera mereka ganti.

Berkat mereka kita bisa dengan aman naik kereta. Jembatan juga, yang tingginya 120 m dan ada petugas khusus yang membetulkan palang yang kendor. Sehingga jembatan tidak roboh dan mengalami kecelakaan fatal. Ada juga petugas yang memeriksa tower listrik yang tinggi.

Kono takjub, baru pertama kali tahu pekerjaan ekstrim semacam ini. Beresiko sekali, dibutuhkan dan jarang orang yang tahu. Semua yang mereka lakukan tidak pernah ada yang memuji mereka, kapan mereka mengerjakannya pun Yukito tidak tahu. Mereka sangat hebat!

“Hal yang kita kira sudah jelas, dan hal jelas itu bisa, karena dibaliknya, terdapat orang-orang yang berusaha melindungi hal tersebut.”

“Benar-benar seperti itu. Kenapa aku melupakan hal yang sudah jelas ini.” Kata Kono

“Menurutku tak apa-apa. Meskipun keberadaan mereka jarang ada yang mengetahui, mereka tetap melakukan  tugasnya. Oleh karena itu, aku berpikir untuk menulis tentang mereka, yang melakukan pekerjaan akan hal-hal  yang terlihat sudah jelas bagi kita.”

Etsuko tidak menyangka Yukito yang mencari semua informasi ini. Yukito membenarkan kalau ia sangat ingin menulis buku ini. Etsuko yakin bukunya Yukito yang ini akan bagus sekali, sangat bagus!

Yukito berterima kasih, ini semua berkat Ecchan. Ecchan yang memproofreading novelku sehingga aku bisa mengenal Ecchan. Membuatku tertarik pada pekerjaan koetsu. Ternyata ada pekerjaan seperti itu, di tempat yang tidak diketahui ada banyak orang-orang hebat.

Makanya aku ingin membuat buku ini.

“Yukito-kun..” Etsuko tersentuh.

“Ecchan, aku… aku sangat bersyukur bisa bertemu Ecchan. Mungkin terdengar lebay sih, tapi aku sangat bersyukur telah dilahirkan.”

“Terima kasih. Begitulah penulis, terlalu lebay!” Keduanya tertawa.

“Sekarang ini bukan maksudku untuk mengulanginya lagi, tapi kali ini akan kukatakan dengan benar. Ecchan, denganku…”

“Sebentar!”

“Eh?” Yukito bingung

“Sebentar. Ano.. Maaf. Ano… tunggu, tunggu dulu…  berikan aku waktu. Mohon tunggu sebentar,  kumohon beri aku waktu. Ano.. Aku benar-benar minta maaf.”

Etsuko kemudian pergi meninggalkan Yukito.

Etsuko menuju rumahnya Morio. Ia meminta izin pada Morio untuk berpacaran dengan Yukito, kalau Morio ada perasaan pada Yukito.

Morio tidak masalah, ia tidak ada perasaan pada Yukito. Bohong! Morio menanggapi ucannya sendiri. Sebenarnya ada perasaan pada Yukito tapi hanya sedikit saja. Saat masalah dengan pacar dan pekerjaan.. kebetulan Yukito ada di rumahnya. Rasanya menyejukkan. Ketika tidak ada seperti sekarang, sekejap di dalam seperti ada lubang yang kosong.

Tapi sungguh tidak ada apapun sekarang. Lagipula daripada Yukito sebenarnya Morio lebih menyukai senpainya ini. Suka dalam artian kagum, dulu ketika SMA ia selalu ingin lebih hebat daripada senpai. Tapi saat bersama Etsuko ia terkadang merasa dirinya payah dan membuatnya sedih.

Tapi selalu berjuang dan tak peduli dengan omongan orang. Jujur saja Morio ingin seperti senpai yang selalu ia idolakan ini. Ia tidak nyaman dengan senpai hanya karena Yukito. Jika memang Morio menyukai pasti sudah ia rebut dari senpai.

Etsuko lalu menangis, Morio memeluknya. Ketika melihat dirinya di kaca Etsuko merasa penampilannya parah sekali. Morio tertawa, baru sadar sejak seharian ini?. Morio membawakan membantunya menyelamatkan penampilan. Etsuko tidak menyangka hanya dengan sedikit tambahan pakaiannya terkesan lain.

Morio terima kasih!, semoga sukses dengan proposalnya. Aku juga akan berjuang!.

Kono pamit, ia minta maaf karena sudah mengganggu waktunya Morio.

     Kono kembali bekerja dengan semangat penuh. Buchou datang menengok keadaan Kono, syukurlah tidak memasang muka lesu seperti tadi siang. Tadi Takehara ikut pertemuan sesame Buchou dan Sachou menyapanya sudah lama tidak bertemu ya Takehara-san?.

Kono merasa itu jahat. Takehara malah senang dengan sapaan semacam itu, jika Buchou tiap departemen jarang bertemu dengan Sachou berarti pekerjaan di departemen mereka lancar-lancar saja dan tidak membuat masalah besar.

Kono bertanya, kalau begini apa pintu masa depan masih terbuka?. Takehara menunjuk ke depan, menurutnya akan selalu terbuka bagi siapapun yang menginginkannya.

Kono hendak bekerja kembali. Takehara pergi.

~ * Jimi Ni Sugoi! *~

     Kono masuk kerja siang, dia kembali ceria. Shesiru bertanya kenapa kog Koetsu senpai masuk siang. Kono menjelaskan ia kemarin lembur, jadi sekarang bisa masuk siang sesuai perintah Buchou. Tadi tidurnya nyenyak, bisa sarapan, keretanya lancar.

Ah, senangnya… ingin segera naik jabatan. Semangat!. Shesiru senang Kono kembali seperti semula yang ceria dan bersemangat.

Kono masuk departemennya, ia menyapa semuanya dengan semangat. Semuanya juga senang melihat perubahan Kono. Kono mencari-cari di mana kotak pensilnya. Fujiwa rasa masih ada di Lassy.

    Di proofreading majalah Lassy ada catatan kata-kata Kawaii diganti menjadi Kakkoi karena tidak ada pembaca yang menyadarinya. Layoutnya bagus dan sesuai dengan majalah mereka. Tiba-tiba listrik mati.

Yang mematikan adalah Kono.

“Jangan-jangan lagi berpikir kalau listriknya bakal mati dan hidup sendiri. Berpikir kalau kereta pasti bisa berjalan sendiri? Yah kemarin aku juga lupa hal itu. Bisa ada listrik, kereta bisa berjalan. Ditempat yang tidak terlihat, agar tidak terjadi kecelakaan, terdapat orang-orang yang memeriksanya. Kami juga,  sebagai peninjau. Kami juga melakukan pekerjaan seperti itu. Berusaha memahami pembaca juga. Tapi, bagiku dari A sampai Z, kata demi kata saat membacanya,”

“Karena kuyakin banyak orang-orang  yang menyukai majalah fashion. Untuk mereka, kami juga pasti akan melindunginya. Koreksi cetakan terakhir, silahkan di periksa!.” Kono menunjuk koreksi terakhir yang di depan para editor.

 “Ah ada.” Ia mengambil wadah pensilnya.

“Terima kasih banyak atas pengalaman berharga yang diberikan dalam seminggu ini. Lassy memang luar biasa! Majalah yang paling kusuka! Aku menantikannya, edisi bulan depan Permisi!”

Kono membungkuk dalam-dalam, lalu pergi.

Kepala Editor datang, menurutnya Kono adalah Koetsu yang memiliki keteguhan luar biasa. Kepala Editor melihat koreksi dan notes di sana, ia menanyakan siapa yang bertanggung jawab dan meminta anak buahnya memperbaiki.

” Ini isinya sama dengan Lassy 5 tahun lalu yang kubaca begitu maksudnya. Yang bertugas, siapa?”

“Iya.”

“5 tahun yang lalu, tidak ada di halaman pembukanya,  tapi lewat artikel, dia mengingatnya. meskipun terlihat sepele, meskipun ada satu pembaca pun kecewa dengan isi majalahnya,  berapapun banyak yang dicetak, tidak akan dijual menurutku. Sampai dilingkari oleh Koetsu-san, dan tidak ada yang mengetahuinya, hal yang memalukan bukan. Baiklah, mari kita kerjakan lagi.”

Hatano kembali ke mejanya, ia melihat berasnya masih di sana. Ia kemudian tampak berpikir.

   Hongo-sensei memuji non-fiksi yang tengah dikerjakan Yukito. Bukan hanya dari materinya saja yang menarik, namun sudut pandang Yukito tentang objeknya juga menarik. Penulis memang hebat. Hongo-sensei menyarankan bagaimana kalau dibuat serinya?

Melihat respon Yukito.. Hongo-sensei bertanya ada apa? Sedang tidak bersemangat?. Yukito bilang kemarin saat ia mau meminta Ecchan untuk jadi pacarnya, tiba-tiba Ecchan minta maaf dan meninggalkannya.

Hongo-sensei tertawa. Ini pertama kalinya anakku tanya tentang masalah cinta. Yukito membenarkannya. Hongo-sensei menjelaskan kalau ucapan minta maaf itu bukan berarti NO, kan?

“Hmm, tidak. Dia bilang minta sedikit waktu” Kata Yukito

“Kalau begitu diam dan menunggu saja, jangan berpikir aneh-aneh, tunggu sampai hatinya siap, dengan begitu…”

Ponsel Hongo-sensei berbunyi sebelum selesai bicara. Ada panggilan tentang pekerjaan. Beberapa detik kemudian Yukito juga menerima pesan dari Ecchan, minta bertemu nanti.

Hatano memuji hasil kerjanya Morio. Memang tidak baru namun ini adalah sesuatu yang Morio banget. Hatano memberikan beras kepada Morio dan satunya untuk teman Morio dari Koetsu itu. Hatano bercerita tentang permasalahannya kalau kakaknya hendak mengambil alih sawah tapi awalnya tidak setuju. Tapi mendengar penjelasan Etsuko tadi ia pikir pasti kakaknya sudah membulatkan tekad, kadang-kadang Hatano pulang untuk membantu juga.

    Kepala Editor memanggil Morio, ia ingin bicara.

“Sudah tidak menunggu, kan?” Tanya Yukito

“Hmm.”

Etsuko lalu berdiri.

“Yukito-kun.”

“Iya” Yukito ikut berhadapan dengan Etsuko

“Saat pertama kali bertemu, aku selalu menyukaimu. Yukito-kun yang luar biasa ganteng juga,  YUKITO sebagai model juga, Sebagai penulis…  Ahh… Sebagai Korenaga Koreyuki-san juga… Kapanpun itu, aku selalu bisa menjadi diriku sendiri,”

“Perlahan aku menemukan apa yang ingin kulakukan. Aku selalu menyukaimu. Jika boleh, jadilah pacar…

Suara ponsel Kono menganggu, telpon dari kantor. Yukito dan Kono tertawa geli, momennya tidak pas. Yukito mempersilahkan Ecchan untuk mengangkatnya. Morio yang meneleponnya.

Senpai ada di mana sekarang?. Kono bilang ada di sekitar kantor. Morio dengan bersemangat mengatakan kalau Kepala Editornya Kamei-san ingin bertemu dengan senpai. Senpai akan dipindahkan ke Lassy!

Pindah ke Lassy??

KOMENTAR + SPOILER:

     Drama ini menceritakan perjuangannya para koetsu yang kadang gak dianggap tapi pekerjaannya membutuhkan ketelitian tingkat tinggi, kalau salah sedikit saja pasti diprotes. Koetsu dibutuhkan namun tidak dianggap berharga, tapi saya bikin sinopsisnya kadang males ngecek ulang XD, gak sabar buat ngecek ulang *kkk, maafkan kalau ada salah-salah kata ya readers~. Benar-benar kagum dengan para proofreader!

Jimi Ni Sugoi Episode 10

Wah, episode 10 menurutku manis sekali. Cluenya adalah … Semuanya bisa kalah dengan kata nyaman. Selalu ada hal-hal yang tak terduga dalam hidup.  How beautiful life … ː̗(^^)ː̖

Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 9 Part 1

   Yukito masih di warungnya Taisho. Ia dan Etsuko suap-suapan. Etsuko mengingatkan ke Yukito kalau kereta terakhir sebentar lagi berangkat.

Tapi Yukito mengeluh tidak mau pulang sekarang.

“Ecchan tinggal diatas kan, ya?”

“Aku yakin kamarnya lucu”

“Eh… Kalau mau, boleh lihat, kok?”

“Ecchan…”

“Yukito-kun..” mereka pandang-pandangan.

Lalu Yukito menolak “Tidak boleh! Kita masih belum berpacaran, jadi tak boleh melakukan hal itu!” Kata Yukito sambil memegangi tubuhnya sendiri (Alay mode on)

Etsuko heran “Hal seperti itu, eh sebentar kita masih belum pacaran?”

“Kita benar-benar  belum berpacaran,”

“Kita tak boleh melakukan hal itu. Eh maksudnya apa? Ehh?” Kono masih bingung, Yukito pamit pergi dan Kono mengikutinya. Yukito menghilang.

Brakk!!

Kono bangun dari tidurnya. Hanya mimpi, “Jadikan aku pacarmu… “

“Ayo berpacaran, Yukito-kun…”

   Yukito tinggal bersama Hongo-sensei. Ia memasak untuk ayahnya, sebelumnya ia menawarkan nasi atau roti. Ayahnya ingin roti. Hongo-sensei tidak menyangka bisa makan bersama dengan anaknya. Yukito bilang ibunya tidak keberatan Yukito tinggal dengan ayahnya, lagipula rumahnya dekat dengan kampus.

Hongo-sensei tanya, sebentar lagi Yukito lulus bukan?. Yukito membenarkannya, 3 tahun sks pokoknya sudah ia ambil. Dan sekarang tinggal skripsi. Hongo-sensei tanya lagi, bagaimana soal pekerjaan? Lancar kan? Mau mencoba menulis non-fiksi kan?

Yukito menjawab lancar, ia melakukan penelitian dan itu sangat menarik. Lagi-lagi ayahnya menatapinya terus sehingga membuatnya kikuk.

~ Jimi Ni Sugoi! ~

      Buletin kantornya sudah terbit, ada bagian fotonya Kaizuka. Ini merupakan prestasinya tentang karyanya Kiritani-sensei. Karya anak-anak tersebut disukai banyak orang dan akan diterbitkan serinya.

Kono, Fujiwa, dan Yoneoka membaca artikelnya. Yang membuat Kono marah adalah kalimat yang mengatakan kalau karyanya Kiritani-sensei dikerjakan semalaman oleh kami berdua (Editor Kaizuka dan Kiritani-sensei).

Bahkan bantuan dari Koetsu Dept. tidak disinggung sama sekali dalam ulasan tersebut.

“Soalnya aku dan Yukito-kun saja sampai tidak berpacar… Eh lihat, Yoneokacchi dan Masamune-kun sampai berpacaran… Tidak, Fujiwa-san juga, sampai membatalkan perayaan 10 tahun menikah.”

(Heol.. mereka serius? Ditunggu undangannya Mas.. tapi gw gk mau nyumbang-nyumbang segala, lagi hemat, numpang makan doang yak.. Wkwkwk. Kyaaaa… Geli.. XD)

“Sudah berusaha padahal,” Kono marah.

“Kenapa baru bilang sekarang. Seberapa keras kerja yang kita lakukan, seberapa banyak kesulitan tidak ada yang mengetahuinya, dan tidak ada yang memberikan apresiasi. Itu sudah menjadi pekerjaan seorang proofreader.” Jelas Fujiwa.

Kono makin kesal, siapa yang berhak memutuskan hal semacam itu? Fujiwa-san itu terlalu baik hati!. Kemarikan!

Kono meminta bulletin tersebut. Fujiwa tanya mau diapakan? Kalau ingin protes ke Kaizuka-san, tolong hentikan karena tidak ada gunanya.

Siapa juga yang mau protes? Kono justru mencoret-coret foto Kaizuka.

Takehara-san datang, ia memberitahukan kalau Lassy sedang membutuhkan tim koetsu yang sedang longgar karena Koetsu dept. yang khusus bertanggung jawab untuk majalah Lassy sedang terkena wabah flu. Kono dan Yoneoka semangat mengajukan diri. Kono senang sekali impiannya menjadi nyata, bekerja di Lassy meski hanya seminggu.

Wakil Kepala Editor menjelaskan, berbeda dari memproofreading karya sastra. Dalam majalah memiliki banyak komponen judul, index, credit, dan teks. Jika dikerjakan satu persatu meskipun banyaknya waktu yang ada juga tak akan selesai-selesai. Cukup sesuaikan dengan contohnya, hanya saja nama brand dan harganya, lalu daftar shoplist dan no teleponnya.

Yoneoka merasa pekerjaannya kali ini akan berat. Tapi Kono bersemangat sekali karena nama merek dan sejenisnya sudah ia hafal diluar kepala.

Tim Lassy sedang rapat. Kepala minta saran dan ide dari Hatano wakilnya, namun karena jawabannya kurang memuaskan jadi ia meminta Morio untuk menanganinya. Morio terkejut, ia diberi tanggung jawab untuk membuat halaman pembuka majalah. Karena Morio masih linglung.. Kepala berkata, memangnya sampai kapan kau mau menjadi asistennya Hatano terus?

Kono dan Yoneoka kagum melihat Morio yang bekerja keras.

Sudah jam 10 lebih dan pekerjaan mereka belum selesai juga. Morio menyapa keduanya, suasananya pasti berbeda karena kali ini meninjau majalah. Yoneoka mengeluhkan kenapa pekerjaannya masih belum rampung padahal semua bahasa bakunya sudah dia koreksi?. Morio membenarkan kalau yang tersulit adalah meninjau nama barang dan mereknya, jadi jangan sampai salah. Kono sesumbar kalau Morio tidak perlu khawatir karena Kono sudah hafal diluar kepala, yaah.. seharusnya sekarang sudah pindah ke Lassy bukan?

Yoneoka dan Morio sama-sama bergumam, padahal Kono baru jadi proofreader selama 3 bulan.

    Kono pikir edisi kali ini agak tidak nyambung, mana ada editor pemula yang melakukan presentasi? Dan jenis pakaiannya kelewat formal seperti orang hendak menawarkan barang. Kono bertanya bagaimana perkembangan pekerjaannya Morio? Morio diberi tanggung jawab yang besar.

Morio merasa kalau artikel di Lassy sudah agak kuno, karena sekarang jamannya internet. Mereka bersaing dengan media sosial yang mana bahkan tidak diketahui pembuat utamanya. Yoneoka berpendapat kalau itu adalah untungnya bagi para Koetsu seperti kita, karena kita tidak perlu memikirkan untuk bisa diakui. Semua orang tidak tahu keberadaan seorang proofreader.

Kono getir memikirkannya. Tak peduli seberapa keras mereka bekerja tidak ada yang mengetahui dan mengakui mereka. Rasanya seperti sia-sia.

Hatano melihat mejanya, ada kiriman beras sekardus. Ia tampak kesal dan menaruhnya ke bawah. Kono mendekat untuk bertanya. Kombinasi pakaian editor bulan ini menurutnya diluar karakter.

“Tidak perlu.” Hatano enggan mendengarkan komentarnya Kono. Bagi Hatano yang membuat majalah menarik itu hanya topiknya, dan gambar halaman yang menarik (Benar, sebagai orang awan dalam fashion bagiku ketika buka katalog  hanya lihatin gambarnya doang. Dan hanya membaca di bagian yang menarik saja. Buat yang ngerti fashion seperti Kono pasti beda lagi..)

Karena menurt Hatano tidak akan mungkin ada pembaca yang membaca awal sampai akhir. Kata perkata. Tidak ada pembaca yang akan merasa terganggu dengan kombinasi pakaian yang diluar karakter.

Kono masih keukeuh dengan pendapatnya. Hatano langsung mengingatkan, ini tugas bagian editor.. bukan bagian koetsu. Bagimu yang ingin pindah ke Lassy, meski punya kemampuan editor dan mungkin berharap ingin dilihat menarik juga, itu semua tidak penting jika nama barangnay salah pasti bakal jadi masalah. Sebelum ingin terlihat menarik di depan semua orang, pertama-tama sebagai proofreader,  lakukan pekerjaanmu dengan benar.

Hatano memukul telak Kono dengan kata-kata pedasnya. Ia pergi untuk mengangkat panggilan. Kono kesal, ia bukannya ingin terlihat menarik. Tadinya ia hanya ingin menanyakan bagaimana respon pembaca.

Yoneoka mengajaknya makan. Kono pulang dengan kesal.

Sesampainya di warung odennya Taisho, ada Kaizuka di sana. Kono awalnya mau langsung naik ke lantai dua tapi Kaizuka mengajaknya ikut bergabung. Mau tak mau Kono ikut makan sekalian.

Karena selama ini Kaizuka dipanggil Tako Tako terus oleh Etsuko, Kaizuka minta jangan dipanggil seperti itu. Karena sempat suatu kali Fujiwa-san keceplosan memanggilnya Tako.

   Saat itu Kaizuka selesai berbicara dengan Takehara-san. Fujiwa hendak mengatakan sesuatu pada Kaizuka

“Maaf, Ta.. Tako.. Tako.. Ta..”

“Ta?”

“Kaizuka-san, maaf.”

“Tidak, barusan bilang Tako, kan.”

“Tidak, salah dengar” Kata Fujiwa dengan cool-nya. Sementara itu Takehara menahan tawanya.

“Tako, kan?” Protes Kaizuka.

Kono terpingkal-pingkal mendengar cerita tersebut. Andai saja saat itu ia ada di sana. Kaizuka sebal julukannya itu sudah menyebar kemana-mana.

Kono mempertanyakan apa-apaan soal bulletin keibonsha? Kenapa tidak ada terima kasihnya sama sekali ke Koetsu Dept.?. Kaizuka santai menjawab, bukannya itu sudah biasa buat departemen Koetsu?.

    Kono penasaran kenapa Kaizuka bisa ditolak Morio?. Kaizuka terkejut, bagaimana Kono bisa tahu?. Kono menjelaskan kalau gossip mudah tersebar dalam 2 detik diantara para wanita di Keibonsha. Bukannya Morio baru putus dari pacarnya? Siapa tahu Kaizuka kalau mencoba lagi bisa bersama Morio.

Kaizuka tidak tahu Morio ternyata menyukai seseorang. Morio bilang ia baru sadar menyukai seseorang yang baru saja berpisah dengannya. Seketika itu Kono hanya kepikiran satu orang.

Morio dapat pujian dari Kepala Editor karena isu bulan ini dapat respon yang baik dan penjualannya cukup tinggi. Bagaimana pun juga ia menantikan halaman depannya Morio. Yukito tak lama kemudian juga datang, ia mendapatkan salaman dari Kepala Editor. Sedari tadi Kono memperhatikan mereka, tampak tidak enak.

Yukito menyapa Kono, kenapa Ecchan di sini?. Kono bilang ia diminta meninjau majalah. Yukito ingin menunjukkan sesuatu ke Kono setelah ini. Morio mengajak Yukito segera rapat. Kono bilang ia ada janji dan itu membuat Yukito bilang lain kali saja kalau begitu.

Hatano memberitahukan kalau ada kesalahan penulisan dalam artikel yang seharusnya nama perusahaannya ditulis huruf kapital. Hatano akan meminta maaf pada perusahaan tersebut. Kono lalu meminta maaf pada Hatano karena ia yang memproofreading kemarin, ia sungguh minta maaf. Ia pikir Cremona adalah perusahaan kecil.

Hatano memarahinya, kalau Kono punya waktu untuk mempercantik diri lebih baik waktunya itu digunakan untuk mengurusi pekerjaannya dengan benar!. Kono tersinggung, ia minta ingin ikut untuk meminta maaf. Hatano menyergahnya, buat apa seorang koetsu ikut minta maaf? Lebih baik urusi pekerjaanmu itu!

Sesampainya di rumah, Kono terpukul. Terngiang kata-kata Fujiwa dan Yoneoka, tentang keberadaan Koetsu yang tidak pernah dianggap, tidak ada yang memuji, meski ada banyak kesulitan yang mereka jalani.

    Hari ini Kono datang dengan penampilan yang berbeda dari biasanya, tingkahnya juga berubah. Seshiru heran sekali. Ia mengirimi pesan ke Yoneoka. Koetsu senpai tidak berdandan sama sekali, terlihat lesu! Biasanya member salam dengan suara keras, tapi hari ini tidak!

Semua orang juga terkejut dengan pekikan Yoneoka.

~ * Jimi Ni Sugoi * ~

     Fujiwa bertanya ke Kono, ada apa? Kenapa hari ini terlihat biasa sekali?. Kono masih lesu, ia hanya bertanya benarkah? Lalu kembali bekerja.

Hatano memarahi Morio yang salah. Editor biasanya mengurusi artikel 10 sampai 20 dalam sehari, sebenarnya apa yang Morio lakukan sejak pertama kali masuk ini?. Kalau tidak bisa sana bergabung dengan orang-orang koetsu!

Kalau di situsasi seperti ini biasanya Kono akan membalas omongan orang, kali ini ia enggan menanggapinya. Ia hanya mengajak makan Fujiwa makan siang. Para rekannya bingung dengan perubahan Kono yang tiba-tiba ini.

Aoiki memberitahukan kalau sebenarnya kemarin Kono-san melakukan kesalahan pada artikel. “Jika punya waktu mengurusi penampilanmu, lakukan pekerjaanmu dengan benar, itu yang dibilang Henshuuchou”

Yoneoka berpikir jangan-jangan Kono selama di sini memikirkan keberadaan koetsu yang tidak pernah dianggap, tidak diketahui orang-orang dan Kono sebelumnya bilang terasa sia-sia sekeras apapun usaha mereka.

Yukito mendengarkan mereka tanpa sengaja.

Kono tidak bersemangat sama sekali, ia bahkan lupa tidak menaruh lauk ke bekalnya hari ini, membuat Fujiwa khawatir. Kono-san.. ada masalah apa sebenarnya? Di mana Ecchan yang selalu bersemangat?

Yukito bertanya ke Morio di mana Ecchan. Morio menunjukkannya. Yukito ingin bicara dengan Ecchan di bawah.

Kono menolak dengan alasan ada janji. Yukito minta janji tersebut dibatalkan saja, karena buku yang tengah Yukito garap sekarang sungguh ingin Yukito tunjukkan pada Ecchan. Pokoknya aku tunggu!

Fujiwa membuatkan gambar senyum di nasinya Kono, ayo semangat!. Kono hanya tersenyum tipis dan memakannya.

Kaizuka datang ke Koetsu dept. heran kenapa Koetsu tidak ada di tempatnya. Takehara bilang Kono-san sedang di Lassy meninjau majalah. Kaizuka memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasihnya atas bantuan dalam loncong “Gekkan Kodomo Noberu”

Buchou mundur menjauh dari Kaizuka, curiga kenapa tiba-tiba baik begini memberikan bingkisan?. Ada apa ini?

Yoneoka menebak pasti ada yang Kaizuka katakan pada Konocchi sebelumnya bukan?. Kaizuka jadi kikuk. Takehara menyimpulkan, oh.. jadi Kaizuka sengaja begini ingin kelihatan baik di depannya Kono-san ya?

Kaizuka mengelak bukan seperti itu, kalau tujuannya seperti itu malah terdengar seperti Kaizuka naksir Koetsu.

Semuanya segera memalingkan muka ke Kaizuka. Terkejut dengan pernyataan tersebut. Kaizuka langsung bilang tidak, tidak mungkin.

Takehara memberitahu Kaizuka, hari ini Kono-san tampak lesu. Tidak berdandan dan biasa saja, seperti kehilangan jati dirinya. Kaizuka berkomentar, itu tidak ada hubungannya denganku bukan?

Tapi Takehara terus meliriknya dan main mata seolah menyuruhnya melakukan sesuatu.

    Pekerjaan hari ini selesai, Hatano berterima kasih atas kerja samanya selama beberapa hari ini. Morio menyapa senpainya, senpai dan Yukito habis ini mau kencan kan? Kenapa hari ini senpai terlihat berbeda? Tidak ceria seperti biasanya.

Kono menanggapi dia tidak kencan, hanya membicarakan masalah pekerjaan. Morio bersedia mendengarkan masalahnya senpai.

Kono bilang tidak ada apa-apa, ia lalu pergi. Kembali ke departemennya mengembalikan buku.

 

Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 8 Part 2

     Ini sudah bukan tempat kami berada lagi… Tersudutkan, Azusa dan Ryuuji untuk mencari tempat peristirahatan terakhir, mereka menuju Tohoku dengan kereta. Saat berjalan di hamparan salju, mereka berdua akhirnya menemukan tempat yang mereka tuju. Keesokan harinya, di bawah pohon besar… Mereka berdua ditemukan tidak bernyawa dalam kondisi berpelukan. Sebagai simbol cinta sejati mereka,

 

disekitar tempat mereka, semuanya “Sudah tertutup oleh salju putih yang bersih”.

“Tunggu sebentar. “Sudah tertutup oleh salju putih yang bersih”? Kalau begitu bagaimana dengan jejak kaki mereka yang tidak ada? Lalu bagaimana caranya mereka bisa sampai kesini?”

“Kalau di pikirkan lagi benar, bukan? Setelah mereka mati, butiran salju langsung jatuh dan menutupinya.”

“Tidak, di 2 halaman sebelumnya, tertulis “Salju berhenti turun pada tengah malam”.”

“Ah.. Kalau begitu.. Tolong diganti. “Salju terus turun hingga subuh”

“Tidak, kalau seperti itu keesokan paginya mereka tidak bisa ditemukan. Terlebih lagi “Sudah tertutup oleh salju putih yang bersih” ini Bagian ini apa boleh diganti?” Sela Kono

“Tidak! Sudah tertutup oleh salju putih yang bersih. Bagian ini harus tetap seperti itu.” Kata Aoi-sensei berapi-api.

“Kalau begitu dengan mereka naik helikopter, mereka bisa sampai kesini, bagaimana?” Saran Kono

“Eh? Apa yang kamu katakan! Kenapa, pasangan bunuh diri tersebut tidak naik helikopter, kan!”

Kaizuka memintakan maaf karena Kono menyarankan yang tidak-tidak. Bukannya marah Aoi-sensei justru mempertimbangkan idenya Kono yang masuk akal tersebut. Sebagai kenangan terakhir, dari atas langit mereka melihat pemandangan salju.

Etsuko mengungkapkan pendapatnya. Sepasang sejoli yang bersedia mati dari atas pesawat… Akan menjadi pemandangan yang indah, menurutku. Jadi.. mereka berdua adalah anggota lari lompat jauh. Kaizuka gerah mendengar ide aneh tersebut, oi! Kenapa pasangan bunuh diri tersebut sama-sama anggota klub lari lompat jauh?

“Tolong diam!” Kata Aoi-sensei.

“Ehh?” Kaizuka tidak mengerti. (Sabar Tako-chan.. beginilah kalau dua orang gila ngumpul jadi satu.. Wkwkwkwk)

“Awalnya mereka adalah teman sekelas waktu SMA. Kemudian, mereka satu klub lari lompat jauh, dan menjadi sahabat saat perlombaan. Makanya sebagai kenangan terakhir, agar sama seperti waktu itu, mereka lari dan melompat!”

“Sehingga, tidak ada bekas jejak kaki di atas salju.”

“Boleh juga! Itu bisa!”

Kaizuka linglung dengan pembicaraan ini.

“Sebagai tambahan, rekor lari lompat jauh bagi anak SMA yaitu untuk laki-laki adalah 7m 96cm, sedangkan perempuan 6m 44cm. Dalam radius 5m ini, jejak kaki tidak dapat dibuat. Cukup masuk akal.”

“Sekarang tinggal ini… “Tadi malam, Azusa salah satu pasangan bunuh diri mengenakan kaos dalam berwarna merah.” akan tetapi, hari ini dia memakai baju berwarna putih. Untuk memperjelas, bagaimana jika kaosnya tidak dipakai. “

“Kaos dalam… Ah tapi, kaos dalam merah dan baju putihnya juga ingin kugunakan.”

“Kalau begitu, bagaimana kalau diganti. Pakaian ini tidak terbuat dari bahan cotton. Namun jika diganti dengan bahan Wool tidak akan terlihat, karena tidak tembus.”

“Ayo pakai itu! Kamu itu dapat diandalkan, ya!”

“Terima kasih banyak.”

~ * Pretty Proofreader Kono Etsuko *~

Ini adalah hari yang sudah ditentukan bagi kami. Selalu menahan diri dari publik… pertama kalinya kami keluar untuk pergi berkencan. Tempatnya… Nezu Kaiwai. Museum kecil yang kebetulan kami lewati. Kami membeli towel yang sama.

“Ah Sensei bukankah ini bagus.” Kono memilihkan towel ke Aoi-sensei.

“Ehh bukankah terlihat biasa saja?”

“Bukankah sama denganmu.” Sama-sama mencolok kalau pakai baju.

Kaizuka kemudian menunjukkan satu yang motifnya ramai bunga-bunga. Menurutnya wanita cocok dengan yang seperti ini.

“Norak!” Seru Kono.

“Cerewet!” Kaizuka tidak terima.

“Norak!” Kata Aoi-sensei.

“Eh!”

Mereka lalu membeli Taiyaki sembari mengecek naskahnya. Saat membeli satu taiyaki, dibagi dua dan kami berdua memakannya. Karena rasa lembut yang manis ini, 2 hati yang tersambung menghadirkan sebuah keyamanan.

Penjualnya memuji Aoi-sensei dan Kono adalah ibu dan anak yang sama-sama cantik. Aoi-sensei membenarkannya, iya.. anakku cantik bukan?. Kono meminta maaf.

Mereka melanjutkan perjalanan, sekarang foto-foto di jembatan.

Yukito memuji Ame saiku (pembuat permen yang bisa dibentuk-bentuk di Jepang). Ia ingin dengar cerita dari pria itu mengenai pekerjaannya.

     Aoi-sensei senang karyanya bisa lancar dengan bantuan Kono. Ia memuji kinerja Editor Kaizuka yang cakap. Tiba-tiba Aoi-sensei terjatuh, Kono membantunya bangkit. Aoi-sensei beralasan ini karena belum makan seharian. Menulis membuatnya lupa makan.

Kono izin meminjam dapurnya.

Di kantor, Kaizuka memuji dulu Aoi-sensei bersama Kaizuka-san adalah partner yang hebat. Menghasilkan banyak buku yang bagus. Takehara berkomentar kalau Aoi-sensei orangnya memang keras, pernah suatu malam menelfonnya minta dibelikan cheese cake tapi berubah pikiran ingin kue lainnya. Entah sudah berapa ponsel pula yang ia rusakkan selama itu. Aoi-sensei melalui karya-karyanya telah banyak mempengaruhi Takehara-san menjadi lebih bersemangat dan positif.

Kono memanggil Aoi-sensei ketika makanannya sudah siap. Sensei tidak menyangka dibalik penampilan Kono ia ternyata pandai dalam urusan masak-memasak. Kono minta jangan menilai orang dari penampilannya.

Makanannya enak sekali menurut Aoi-sensei, suasana hangat seperti itu dipikirnya tidak ada di dunia ini. Ia selama ini menulis cerita-cerita menyakitkan sebagai pelarian dirinya. Kono terenyuh mendengarnya. Kemudian Aoi-sensei mulai memikirkan tentang menu makanan pasangan yang bunuh diri itu.

Ah.. sensei, jangan sekarang. Kumohon sekarang fokuslah makan. Potong Kono.

Morio memanggil Kaizuka. Ia menunjukkan foto perhiasan untuk digunakan bukunya Aoi-sensei. Ia dengar senpai-nya meninjau karyanya, jadi ia pikir perhiasan ini cocok. Kaizuka ikut senang, ia akan menanyakannya ke Aoi-sensei.

Di hari lainnya, Kono masih berkutat dengan naskahnya Aoi-sensei. Kaizuka datang dengan naskah terakhirnya, tolong dikoreksi kesalahan katanya saja. Kono heran. Kaizuka sebenarnya tidak ingin memberitahu semuanya perihal sakitnya sensei, sudah cukup lama ia tutup mulut. Semalam sensei pingsan dan sekarang sudah dirawat di Rumah Sakit, kata dokter penyakitnya sudah menyebar.

Sekarang yang terpenting adalah kesehatannya sensei, Koetsu. Terima kasih sudah menjawab karyanya sensei dengan sekuat tenaga. Permisi..

Tunggu!,aku tidak bisa menerimanya. Kono yakin sensei juga tidak bisa menerimanya bukan? Sensei juga sudah berusaha keras demi karya ini. Kalau diperiksa setengah-setengah sensei pasti tidak bisa menerimanya, ‘kan?

Kaizuka bersitegang dengan Kono, jika diteruskan bukankah ini mempertaruhkan nyawa beliau?. Kono ingin bertemu sensei. Takehara-san berpikiran sama dengan Kono, karena menurutnya sensei selalu mempertaruhkan nyawanya di setiap novelnya.

      Mereka di rumah sakit. Kono berkunjung setelah Takehara-san. Sensei berkata ia akan melakukan yang terbaik demi karya terakhirnya ini. Kono sedih, baginya ini bukanlah karya terakhir sensei.

Salju lembut yang turun dari atas, membuat dua bayangan yang berdekatan bertemu, berubah menjadi salju.

Takehara membantu menulis sementara Aoi-sensei berbicara.

Waktu itu.. pertama kalinya aku menyadari arti dari kita berdua menjadi satu. Shoon.. kau punya anak buah yang luar biasa. Pertama kalinya ada yang mengerjakannya dari awal hingga akhir. Sakurawa-sensei menyesal karena pertemuannya dengan Takehara membuat Takehara mengalami kesulitan. Seandainya mereka tidak bertemu pasti sekarang Takehara menjadi Editor yang hebat.

Takehara menanggapi, dirinya tidak menyesal sama sekali. Novel yang kamu tulis dengan sekuat tenaga, dan hari demi hari yang sekuat  tenaga kamu lewati demi menulis,bagiku itu adalah hal yang tak tergantikan.

Bagiku sekarang ini adalah pekerjaan yang luar biasa, meski cahaya matahari tak terlihat lagi… meskipun tidak ada lagi yang memujiku, kupastikan pekerjaan ini adalah tempat untuk selalu mendukungnya. Koetsu adalah pekerjaan dimana seseorang terus maju untuk berusaha sekuat tenaga dan berusaha sekuat mungkin membantu penulis. Takehara mencintai pekerjaan ini..

   Novelnya sudah jadi, Sakurawa sensei sudah keluar dari rumah sakit. Menurut Takehara sifat keras kepala sensei kembali lagi, itu berarti dia sudah sehat. Kono dapat pesan dari sensei, ide novel terbaru sudah ada dan selanjutnya ia minta Kono yang meninjaunya.

     Yukito menunjukkan ketertarikannya pada mereka yang mencintai pekerjaan mereka, ini adalah hal yang sangat berbeda dari tulisannya yang lain. Namun Yukito ingin sekali menulis ini. Kaizuka setuju, mari kita coba.

Kono menceritakan soal Sakurawa-sensei. Kemudian hati-hati Kono mengutarakan kekhawatirannya jika hubungan mereka menjadi Shizen Shoumetsu. Yukito-kun sangat sibuk menjadi model dan penulis. Selama ini aku menahannya, padahal kan kalau ingin bertemu tinggal katakana saja. Shizen Shoumetsu.. yah, padahal kita memang belum..

Yukito menyelanya, bukan Shizen Shoumetsu.

“Aku menyukai Ecchan. Perasaan ini bukanlah Shizen Shoumetsu.

“Yukito-kun..”

Taisho diam-diam menguping, sudah hentikan. Sudah waktunya bagiku menerima hal ini. Yukito dan Etsuko serba salah. Yukito lalu ganti topiknya, Ecchan! Aku menemukan sesuatu yang ingin kutulis!

Eh, iya? Benarkah?. Tanya Kono antusias.

Morio dan Kaizuka bersama. Morio senang berkat bantuan mereka penggarapan novelnya Sakurawa-sensei berjalan lancar. Berkat Kaizuka-san pula Morio bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Kaizuka balik memuji Morio, karena bantuan Morio ia benar-benar bersyukur.

Morio merendah, tidak.. tidak. Karena kita sama-sama saling membutuhkan. Mulai sekarang, mohon kerja samanya!

“Nee.. Morio-chan..”

“Hmm?”

“Ano.. “ Kaizuka menenggak minumannya baru melanjutkan bicaranya “Denganku..”

“Berkencanlah denganku..” Kata Kaizuka dengan suara opung-opung TBC atau radang tenggorokan *HHHHHHH. Kaizuka tersedak saking groginya.

“Jadilah pacar…” Kaizuka masih dengan suara opung-opung TBC-nya XD

Morio tidak langsung percaya. “Bercanda ya?”

“Tidak, aku tidak bercanda.. Aku benar-benar serius.” Suara Kaizuka sudah normal kembali. Morio tidak enak menjawabnya, bukankah ini terlalu cepat untuk menuju kearah itu? Bukannya apa….

“Ano.. bukan seperti itu maksudku, hanya saja orang yang selalu dekat denganku, aku memikirkannya saat berpisah dengannya. Hanya saja aku juga tidak begitu memahaminya.”

    Kono dan Yukito masih mengobrol.

“Eh apa? Sesuatu yang ingin kamu tulis. Hmm, masih rahasia.”

“Eh apa? Aku ingin tahu.”

“Taisho apakah ada saran!”

“NO.”

“Orang yang selalu dekat?” Tanya Kaizuka.

“Eh ahh Tidak… Tidak ada apa-apa kok. Tolong jangan dipikirkan. Ano.. Lupakan saja.”

“Hari ini ada menu baru, lho.”

“Eh apa?”

“Hei, Uinnaa!”

 

Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 8 Part 1

     Etsuko menceritakan dirinya yang sudah dipercayai Hongo-sensei untuk menjaga Yukito. Shesiru ikut senang mendengarnya, ia menyarankan Kono untuk segera mengarahkan hubungannya lebih kuat lagi dengan tidur bersama, Yukito kan sudah keluar dari rumahnya Morio. Kono dan Taisho terkejut dengan idenya Shesiru ini.

Kono mengelak hubungannya belum sejauh itu, pacaran saja belum, lagipula Yukito terlihat sibuk sekarang. Menjadi model sekaligus penulis.

Shesiru berpedapat, itu tidak baik.. nanti hubungan mereka menjadi Shizen Shoumetsu, dalam hubungan mereka akan sulit bertemu karena terlalu sibuknya dengan pekerjaan dan lain hal. Shesiru minta senpai untuk memastikan sendiri perasaannya.

Kono tertawa garing dengan nasehat tersebut, Shesiru ini masih kecil ya.. dengar, bagi orang dewasa itu yang terpenting dalam menjalin hubungan adalah saat kita tidak bisa bertemu, itu bagian dari cinta yang sedang tumbuh.

Tidak, Kono tidak sedewasa ucapannya didepan Shesiru. Setelahnya ia uring-uringan di dalam kamar. Bagaimana ini? 5 hari tidak bisa bertemu dengan Yukito-kun! (5 hari? Masih mending itu maaah… )

Kono mulai membayangkan jika ia dan Yukito bertemu tapi Yukito sudah terlalu lelah dan tidak terlalu menanggapinya. Tidak.. tidak tidak tidak tidak!!!

~Jimi Ni Sugoi!~

     Pakaiannya Masamune dan Yoneoka sama, Kono dan yang lainnya kagum melihat mereka berdua. Masamune beralasan kalau Yoneoka orangnya fashionable jadi mereka ingin sepertinya dan baru-baru ini belanja bersama.

Kaizuka datang ke Koetsu Dept. membawa naskahnya Sakurawa Aoi Sensei. Kaizuka bertanya ke Takehara-san siapa yang akan menangani naskah ini? Takehara mengedarkan pandangannya, semuanya sibuk dan Kono yang terlihat agak santai sedikit. Keduanya sepakat, tentu saja.. sudah jelas.

Takehara meminta Kono mengerjakannya dengan baik, terlebih Sakurawa Aoi Sensei orangnya keras, tidak suka dengan orang yang setengah-setengah dalam bekerja. Kono semangat, ia akan mengerahkan kekuatannya dua kali lipat dari biasanya!

Kono mulai mengerjakannya, ia merasakan pergolakan batin yang teramat sangat. Kenapa tokoh utama dalam novel ini terlalu sempurna dan kemana pun ia pergi selalu dipuja?. Terlebih lagi dengan kata-kata, tiap kali wanita itu pergi pasti ada saja pria yang selalu ingin dengannya.. memberikan waktu dan uangnya. Ini sangat menjengkelkan bagi Kono mengingat ia dan Yukito jarang bertemu.

Takehara-san sedari tadi terus mengecek Kono, mengkhawatirkan novel Sakurawa Aoi Sensei maksudnya.

Yukito menelepon Kono dan mengajaknya makan siang bersama. Kono antusias, ia menemui Yukito dengan naskahnya. Fujiwa heran mengapa Kono membawa naskahnya segala?. Lagi-lagi di mejanya.. Bucho Takehara-san juga nampak gelisah karena naskah tersebut.

“Ecchan! Di sini!” sapa Yukito dari tempatnya duduk

“Maaf terlambat Yukito-kun…”

Dalam hati Kono berkata “Bagaimana pun, sudah sewajarnya perempuan membuat laki-laki menunggu. Saat laki-laki sedang menunggu,itu adalah harapan bagi perempuan.”

Kono duduk, Yukito berkata ” Ecchan, rasanya lama tidak berjumpa.”

“Iya! Aku selalu ingin ketem….” Kono keceplosan.

“Ketemu?”

Perempuan itu selalu ceplas ceplos, namun jangan pernah mengucapkan kata “ingin ketemu”.

“Ada es Cafe au lait ?” Kono mengganti katanya.

“Ah iya, etto… adanya es cafe latte gak apa-apa ya, sama juga kan.” Tawar Yukito

“Cafe au lait dan Cafe latte dua-duanya merupakan kopi susu. Tetapi Cafe au lait hanya memakai kopi biasa, sedangkan Cafe latte memakai kopi espresso. Dan lagi, antara Cafe latte dan Cappucino. Keduanya merupakan kopi espresso yang dicampur susu. Namun takaran dan kualitas susunya berbeda. Susu yang ada pada Cafe latte menggunakan susu segar yang tidak berbusa. Sedangkan susu yang ada pada Cappucino menggunakan susu segar yang memiliki busa, dan beruap karena itulah, keduanya benar-benar berbeda.” Jelas Kono panjang lebar, Yukti bengong mendengarnya.

Dalam hati Kono mengingatkan dirinya, Sudah menjadi kebiasaan bagi perempuan ingin serba tahu, namun jangan menampilkan hal yang tidak perlu.

Kono menyesal, ia bersikap berlebihan lagi. Huf..

Yukito bertanya dari mana Ecchan tahu semuanya itu?. Kono bilang, ia baru-baru ini meninjau buku mengenai barista. Yukito kagum, ia memuji Ecchan luar biasa! Pekerjaannya Ecchan itu menakjubkan.

“Benarkah? Benarkah?”

“Iya,”

“Syukurlah,”

~Jimi Ni Sugoi!*~

   Di rumahnya Kono, Shesiru menyiapkan makanan bergaya Italia. Fujiwa berkomentar, jadi inilah menu yang ada kalau para wanita sedang berkumpul. Morio agak enggan mengiyakannya, itu.. ada satu orang yang bukan perempuan di sini.

Si bukan perempuan itu memuji-muji makanan Shesiru enak sekali. Yap! Yoneoka berubah menjadi gemulai dan centil (Plis deh… ini orang dikardusin paketin ke istana Negara, atau karungin ekspedisi ke Somalia bisa gak sih? XD )

“Hmm~! Enaknya! Sesiruna ini yg terbaik!”

“Aku dipuji! terima kasih Yoneokacchi!”

Kono bertanya mengenai novelnya Sakurawa Aoi Sensei ada ungkapan-ungkapan jaman sekarang yang kurang Kono mengerti. Shesiru mencontohkannya dengan Yoneoka, pertama-tama keduanya duduk berhadapan.. lalu pasangan kita menirukan hal yang sama. Shesiru dan Yoneoka mengambil makanan dengan sumpit, mencelupkannya ke saus, kemudian memakannya dan berseru Hmm~..

Inilah miraaringgu kouka. Pasangan melakukan hal sama dengan kita sebagai bukti kita menyukai pasangan kita.

      Lalu kurosu kouka itu bagaimana?. Tanya Fujiwa. Shesiru dan Yoneoka mempraktekkannya, keduanya menggerakkan tangan mengatur rambut dengan sekeren mungkin, semenawan mungkin. Kono tidak mengerti apa gunanya itu? Morio cobalah..

Morio mencobanya, ia terlihat menawan sekali. Membuat semuanya kagum. Kono senang, konfirmasi clear!

 Fujiwa bilang ia lain kali akan mencoba yang seperti itu ke Kuutan juga. Kuutan adalah suaminya, namanya Sakurawa Aoijadii singkat menjadi Kuutan. Keempatnya menatap Fujiwa dengan datar, tidak mengerti dimana singkatan Kuutan bisa Ayano Koji Kimiharu?. (HHHHH, jauuh)

Morio membantu Kono bersih-bersih. Morio meminta maaf karena sebelumnya tidak mengatakan Yukito tinggal di rumahnya. Kono tidak masalah, bagaimana pekerjaannya Yukito sebagai model?

Morio menjawab, baik-baik saja.. namun nampaknya Yukito sedang sibuk dengan hal lainnya.

Yukito bersama Editor Kaizuka. Editor Kaizuka melihat lembaran yang diabawanya, baginya ini bukan masalah menarik dan akan berhasil nantinya. Tapi adakah hal-hal yang sedang membuat Korenaga-san tertarik hingga ingin menulisnya?

Yukito tampak berpikir setelahnya.. Hal yang menarik ya..

Kaizuka menunjukkan rancangan cover buku ke Sakurawa Aoi-sensei. Wanita eksentrik itu tidak suka dengan covernya, ia menuju Koetsu Dept. Kaizuka mengejarnya, menahan Sakurawa Aoi-sensei jangan ke sana.

“Takehara!!”

Keduanya maju perlahan-lahan, kau apa yang kau lakukan di sini? Ini bukanlah tempatmu seharusnya berada. Kata Sakurawa Aoisensei.

“Sudah kuduga,  semua ini salahku.” Sakurawa Aoi-sensei membuka kacamatanya,

“Shoon.” Panggil Sakurawa Aoike Takehara-san.

Keduanya kemudian berpelukan dengan dramatis.

Semua orang terkejut melihat adegan drama romantis tersebut (HHHHH)

Yukito datang terlambat, ia lalu diminta Morio ganti baju dengan cepat.

Yukito penasaran dengan siapa pria itu? Apa yang sedang dilakukannya?. Morio menjelaskan pria itu bernama Pannama-san.. desainer yang tugasnya mengukur baju sesuai ukuran model.

Kono tidak menyangka kalau dipanggil Shoon begitu. Takehara memaparkan, Nagisa dan oto kalau ditulis maka bacanya Shoon. Kaizuka pikir itu karena ibunya Takehara-san penggemar beratnya Sean Connelly. Kono tidak tahu siapa itu Sean Connelly.

Kaizuka heran, masa’ Kono tidak tahu? Itu lho agen James Bond 007!. Kono tidak tahu kalau ternyata Takehara-san itu mantan editor. Kaizuka bilang Takehara dulu adalah Editor yang mudah naik darah, tapi kehidupannya berubah semenjak menjadi penanggung jawab Sakurawa Aoi-sensei.

10 tahun yang lalu…

Takehara-san meninjau karyanya Sakurawa Aoi-sensei. Takehara-san takjub dengan karyanya dan hendak pergi membawa naskahnya. Sakurawa Aoi-sensei tidak ingin Takehara-san pergi sekarang, ia mencoba menahannya. Ia mencintainya, ia ingin bersamanya. Takehara-san mengungkapkan ia juga mencintainya. Sakurawa Aoi-sensei meminta buktinya.

Takehara-san dengan lembut dan pengertian meminta Sakurawa Aoi-sensei untuk istirahat. Di luar, Sakurawa Aoi-sensei menyusul Takehara-san dengan sebilah pisau. Ia berlari untuk memeluk dan menusukkan pisaunya ke Takehara-san


Takehara-san rubuh dalam pelukannya. Sakurawa Aoi-sensei beralasan ini adalah bukti rasa cintanya. Orang-orang terkejut melihat adegan penusukan tersebut.

Kono ngeri membayangkannya. Kaizuka bilang tidak apa-apa untungnya lukanya hanya sedalam 3 mm. Kono tidak mengerti, kalau memang cinta kenapa memberikan kenangan buruk seperti itu padanya?. Kaizuka menjelaskan, hubungan Takehara-san dengan Sakurawa Aoi-sensei adalah hubungan yang jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing, yah seperti itulah.. bagaimana pun juga ini adalah karya Sakurawa Aoi-sensei setelah 10 tahun tidak menulis.

Kono masih ngeri, jangan sampai Kaizuka ditusuk oleh Sakurawa Aoi-sensei ya!. Kaizuka berkilah, tidak ada hubungan seperti itu dengan Sakurawa Aoi-sensei, karena sekarang.. sekarang.. Kaizuka malu-malu mengatakannya.

“Tunggu, sekarang lagi memikirkan Morio bukan… Menjijikkan!” Tebak Kono.

“Eeh… tidak “

Pokoknya Kaizuka ingin Kono meninjau karyanya dengan baik. Kono penasaran sekali bagaimana perasaannya Takehara-san setelah bertemu dengan kekasih yang menusuknya 10 tahun yang lalu. Pasti berat rasanya.

Takehara-san di rumahnya, ia menyiram bunga yang disebutnya tidak sedang semangat, tidak boleh begitu. Sepertinya menyemangati dirinya sendiri. Kemudian membelai-belai kucingnya. Dalam benaknya teringat pertemuannya dengan Sakurawa Aoi-sensei.

Kono mengerjakan bagian terakhirnya dengan penuh semangat, setelahnya ia tepar. Takehara-san memuji kerja bagusnya Kono.

Kono kembali ke mejanya, sedih memikirkan Yukito. 5 hari tidak bisa bertemu. Ia mulai membayangkan dirinya berpelukan secara dramatis seperti Sakurawa Aoi dan Takehara-san.

Yukito sendiri sedang melihat-lihat pekerjaan pembuat pedang, dan lannya. Ia bertanya pada mereka mengenai pekerjaan mereka. Melakukan pekerjaan yang disenangi memang luar baisa.

Shizen shometsu, Kono masih memikirkannya lagi lagi dan lagi.

Di Lassy, semuanya melihat hasil gambar Nagase Hiroko-san. Kepala Editor menyerahkan tugas  memilih gambar yang dipakai ke Morio.

~* Jimi ni Sugoi! *~

Kono-san menerima naskah lainnya. Bukannya naskah yang pertama dan kedua harusnya ditangani orang yang berbeda?

Takehara bilang ini permintaannya Sakurawa Aoi-sensei. Kono melihat hasil koreksi dari Sakurawa Aoi, kenapa masih sama?.

“Tanda koreksi yang Kono-san lakukan itu, membuat bagian yang sensei ingin ganti semakin, semakin bertambah.”

Kono mengeluh, bukannya ini sama saja dengan memproofreadingnya dari awal lagi?.

Kaizuka meledekknya, Kalau tidak bisa mengerjakannya bilang saja tidak bisa..

Kono malah makin bertekad untuk menyelesaikannya, tidak ada yang tidak bisa!. Ia kembali ke mejanya. Kaizuka dan Takehara sepertinya memang sengaja melimpahkannya ke Kono

Memang hanya Kono yang bisa. Takehara membenarkannya.

K O M E N T A R:

Kono dan Yukito berada dalam hubungan “We’re not lovers, but we’re not friends either…”, dibilang pacaran bukan.. dibilang friendzone juga kurang pas. Jadi kita ini apa? Jelaskan! (.“)  

 

Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 7 Part 2

Kono dan Yukito pergi ke akuarium. Mereka melihat-lihat ikan, ketika itu tanpa sengaja mendengar seorang anak kecil memanggil ayahnya. Yukito dan Kono memperhatikan mereka,

Tanpa sadar Kono mengatakan, Yukito.. pa pa.. apa ada panda di sini?

Editor Kaizuka menemui Morio. Ia kemari ingin meminta bantuan Morio.

Yoneoka dibantu Nobuyoshi mengecek jadwal kereta. Nobuyoshi tidak menyangka kalau prosesnya serumit dan sejauh ini. Yoneoka menjelaskan kalau memang salah harus dibenarkan.

Kaizuka menjelaskan tentang Kono yang sampai mengoreksi judul penulisnya. Morio juga menyayangkan kenapa Senpai-nya tidak mengerti hal mendasar tentang itu?. Kono menyarankan Kaizuka untuk memberikan naskah ini ke Morio untuk ditinjau.

Setelah memikirkannya matang-matang, Kaizuka pikir sarannya Koetsu ada benarnya juga, maka ia kemari meminta bantuan Morio. Morio bilang akan membacanya, jika memang sesuai untuk Lassy ia akan merekomendasikannya ke Kepala editor.

Kaizuka sangat berterima kasih pada Morio.

Morio kemudian menunjukkan foto-fotonya Yukito. Awalnya dia bingung mau menggunakan foto yang mana, namun ia akhirnya bisa memutuskan. Karena baginya sekarang ia mengerti, kalau tidak mengambil resiko maka tidak akan melakukan apa-apa.

Tampaknya Yoneoka sudah mentok, ia meminta maaf pada Masamune Nobuyoshi sampai ia mintai bantuan.

*~ Jimi Ni Sugoi ~*

      Yukito dan Kono sudah kembali. Kono hendak mengatakan sesuatu, tapi yang keluar dari mulutnya malah betapa senangnya ia diajak ke akuarium dan melihat ikan-ikan. Yukito memberikannya mainan yang ia beli tadi ke Kono. Yukito pamit pulang.

Kono terkejut pada dirinya sendiri, hampir saja tadi bertanya. Ia sungguh penasaran tapi tidak boleh bertanya mengenai Hongo-sensei ke Yukito.

     Kono kembali berkutat dengan essay milik Hongo-sensei. Ia membaca di bagian Hongo-sensei membelikan sarung tangan kidal karena anaknya kidal.

Beberapa saat yang lalu Takehara-san menerima panggilan dari Kitano-sensei. Setelah menerima hasil proofreading Yoneoka ia akan memperbaiki naskahnya. Kitano-sensei mengungkapkan kalau pikirnya tidak apa-apa tidak tahu jadwal kereta, namun ia tidak bisa menutup mata demi kebaikan pembaca setianya, juga kedepannya.

Takehara-san menasehati, pekerjaan mengoreksi karya orang-orang memang penuh resiko namun itu semua dilakukan demi hasil karya itu sendiri.

    Yoneoka mengungkapkan kalau ia memiliki keberanian mengoreksi jadwal kereta tersebut berkat Kono-san. Karena Kono-san orangnya tidak takut mengambil resiko.

Kono yang di mejanya langsung teringat pada Yukito. Ia ingin sekali melakukan apa yang mengganggu benaknya selama ini.

Kono mengambil mantelnya dan pamit pergi. Fujiwa yang biasanya melarang sekarang malah mengucapkan hati-hati. Membuat yang lainnya bingung dengan perubahan sikap yang drastis ini.

Setelah Etsuko pergi, Takehara balik tanya ke Fujiwa. Bukannya Fujiwa-san juga bilang hati-hati. Fujiwa langsung bingung, lho..

     Etsuko menghubungi Yukito untuk bertemu. Mereka bermain lempar tangkap bola. Ragu-ragu Etsuko mengatakan maksudnya. Ia sebagai Proofreader dari Departemen Koetsu Keibonsha ingin mengkonfirmasi, apakah saat berumur 3 tahun Yukito sering menggunakan tangan kirinya dan pernah dibelikan sarung tangan khusus kidal oleh ayahnya, Hongo Daihaku-sensei?.

Yukito terkejut, tapi ia langsung menjelaskan. Saat kecil ia memang sering menggunakan tangan kirinya ketimbang yang kanan, namun lambat laun ia membiasakan menggunakan tangan kanannya karena lebih mudah melakukan sesuatu dengan tangan kanan. ( Berarti Yukito ambidextroy? )

Karena suasana agak canggung, Etsuko kemudian meminta Yukito menganggapnya sekarang berbicara dengan Ecchan. Ia meminta Yukito menemui Hongo-sensei, selama ini Hongo-sensei menunggunya. 20 tahun tidak bertemu, Hongo-sensei ingin sekali berjalan bersama anaknya di bawah jembatan Tappi.

Etsuko ingin Yukito mempertimbangkan hal tersebut.

Morio mengatakan kalau Kepala Editor suka dengan novelnya, cocok untuk pembaca Lassy. Kaizuka senang sekali atas bantuannya Morio,

ia juga memegangi tangan Morio. Lain kali ia akan mentraktirnya makan. ( Modus! Pedekate.. Pedekate..  HHHH)

Morio bingung, tapi kenapa tiba-tiba?. Kaizuka jadi tidak enak, ia bilang hanya bersemangat karena terbawa suasana. Namun tanggapan Morio diluar dugaan, ia bilang tidak apa-apa kog.

 ( Lampu ijo tuh! Cepet respon, kalau enggak… dijutekin mati kutu lu… (╭ ̄.) )
“Hah? Bohong?” Kaizuka tidak percaya

~* Pretty Proofreader Kono Etsuko *~

Saat itu Hongo-sensei dalam ceritanya mengatakan kalau anaknya tertidur melihat teater musikal. Tapi versinya Yukito berbeda, seingatnya dulu ayahnya lah yang tertidur karena dengkurannya mengganggu penonton yang lainnya.

Baiklah, mari kita lihat ingatan siapa yang paling kuat. Yukito ingin bertemu dengan Hongo-sensei. Etsuko terenyuh mendengarnya, ia kemudian ingin menghubungi Kaizuka. Tako.. Tako.. Tako.. eh dikontaknya tidak ada yang namanya Tako. Kaizuka. Membuat Yukito tertawa.

Hongo-sensei dan Yukito bertemu sekarang. Yukito mengungkapkan ketakutannya selama ini, ia ini hanya penulis yang setengah-setengah. Tiap kali melihat nama ayahnya ia berusaha untuk kabur. Ia ketakutan melihat dunia ayahhnya.

Sebagai penulis, Hongo-sensei menasehatinya. Ia juga sudah membaca semua bukunya Yukito. Dan sebagai seorang ayah ia memuji selera Yukito terhadap wanita bagus juga. Hongo-sensei meminta Etsuko untuk menjaga Yukito dengan baik. Bukankah dia ini pacarnya Yukito?

Yukito serba salah, tidak mengiyakan dan tidak bilang tidak. Yukito malu-malu. Etsuko awalnya ingin menyangkal tapi langsung menyanggupi akan menjaga Yukito dengan baik.

Yukito pamit pindah dari tempatnya Morio. Ia meminta maaf telah merepotkannya selama ini, juga berterima kasih atas kebaikan Morio. Yukito kagum dengan ketegaran Morio, ia telah belajar banyak dari Morio.

Karena kata-kata Yukito sudah mulai kemana-mana, Morio mendorongnya keluar dari rumah. Membuat terharu saja, Morio segera mengusirnya.

Hongo-sensei akhirnya memperbaiki tulisannya. Ia jatuh tertidur dan mengganggu penonton yang lainnya. Judulnya yang semula Hari yang menyedihkan menjadi hari paling membahagiakan.

Takehara berterima kasih kepada Kono, sekali lagi sebuah karya terselamatkan. Yoneoka menyindir-nyindir enaknya Etsuko yang mendapat pujian dari seorang penulis. Aku juga ingin…!

“Aaa Kitano sensei selanjutnya juga ingin berbicara kepada Yoneoka-kun atas koreksi revisiannya.”

Yoneoka senang sekali. Takehara dapat telepon, nominasinya sudah ditentukan.

Semua orang di Koetsu departemen bersemangat. Kaizuka datang, dia tanya ke Etsuko soal daftar kan sudah diumumkan, harusnya perasaannya membaik. Etsuko membanting pulpennya dan mendekati Kaizuka.

Apa maksudnya dengan kegelapan yang sangat dalam?. Kaizuka bilang itu rahasia terdalam antara Hongo-sensei dan Yukito. Gara-gara pemikirannya Kaizuka yang aneh itu, Etsuko sampai berpikir yang tidak-tidak.

Kaizuka bilang, pada akhirnya semuanya berjalan dengan lancar kan?. Lalu dia kabur dari Kono.

K O M E N T A R:

Maaf kalau ada typo ya.. ^^

     Menurutku kalau novelnya memang mengambil latar tempat sungguhan, seperti misalnya monas itu ada emasnya.. saat itu blablabla, kalau novel berlatar 1980an.. monas dalamnya justru mall kan malah diprotes banyak orang :v, okelah perlu dilihat faktanya tahun segitu beneran ada itu dan cocok tidak? Tempatnya, gaya bahasa sewaktu itu, sejarahnya, yang terkhusus orang-orang di masa itu tahu. Kalau agak semi fiksi yang tidak sampai menyebutkan tempat nyata, namun cukup general, cuman sekedar jalan, kantor, Jakarta, blablaba.. gak usah dikulik karena memang tidak detail. Nah.. kalau yang fiksi fantasi, kita harus ngikutin arahannya si penulis maunya dibawa kemana? (hubungan kita? Heol.. XD , eeh)

    Juga soal sejarah, kita harus cek dari dua sisi antara penjajah dan yang dijajah. Pasti perspektifnya beda, entah mana yang benar dan bagian mana yang dilebih-lebihkan.. tapi dua-duanya menawarkan history. Itulah kenapa sejarah disebut history dari kata His dan story. Sejarah adalah soal sudut pandang, bukan cerita eksak yang pasti jika a bilang a maka benar a, namun karena kita tidak mengalaminya sendiri.. juga sebab ingatan manusia itu rapuh, jadilah kita percaya namun tetap harus skeptis bertanya-tanya sembari membuktikan, caranya? Ya belajar dong.. tapi jangan fokus ngapalin tahun doang, wkwkwk gw ditanya tahun-tahun juga gak ngeh.. pengen gw lempar bunga beserta potnya tuh orang-orang (¬_¬”), die sendiri gak inget.. sok sok an tanya gw. Menurutku gak perlu bener-bener dihapalin teks book, tapi lebih seperti memahami dan mencintainya.. tanpa sadar nanti nyantol ke otak sendiri. Kalau Hongo-sensei ingetnya anaknya yang ketiduran dan Yukito ingetnya ayahnya yang ketiduran kan beda.. namanya juga his story. Kita ngomongin sudut pandang. Berarti kalau ada 2 orang berantem kita harus dengerin cerita masing-masing dari mereka baru bisa mengambil kesimpulan yang bijak.

     Gak kaget sih soal Yukito ternyata anaknya Hongo-sensei. Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Gen itu beneran nurun. Soalnya gen adalah semacam perekam kehidupan manusia. Kebiasaanmu, apa yang sering kamu lakukan, plus minus, hidupmu semuanya terekam di gen. Maka dari itu, ketika dua orang punya anak.. anaknya secara otomatis akan mewarisi gen orang tuanya. Biasanya ayah dominan menurunkan fisik, sedangkan ibu dominan nurunin sifat ke si anak.

      Drama ini entah bagaimana endingnya, 3 episode lagi ending. Kono mulai menikmati pekerjaannya, akan adil kalau dia bisa dapetin keinginannya menjadi Editor Lassy tapi sepertinya sudah sangat enjoy dengan Koetsu Dept. Terkadang dalam pekerjaan ada istilah kamu baik dalam melakukannya meski tak menyukainya atau kamu tidak menargetkan tempat tersebut tapi kamu mampu dan baik dalam hal tersebut. Dan tentu saja, entah suka atau tidak, asal kita mampu dan bisa mengerjakannya dan memberikan manfaat bagi yang lain, kenapa enggak?

Komentarku gak usah di-iya-in gapapa, ini hanya opini yang punya blog, yang punya blog siapa? Kan gw.. wkwkwk suka-suka yang punya dong…  (‘) (‘)┌, 

Gracias and ciao~

Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 7 Part 1

  Sedari tadi Yoneoka terus mendesah sebal, membuat Etsuko tidak bisa berkonsentrasi. Ia bertanya ke Yoneoka apa yang sedang terjadi? Apakah patah hati karena anak percetakan itu?

Tidak tidak, bukan begitu. Yoneoka meminta Kono mendekat. Yoneoka sedang frustasi mengerjakan naskah “Kisah Detektif di Sekitaran Jalan”, seri terkenal dari Kitano Shoutaro-sensei. Dalam kasusnya menggunakan jadwal pemberangkatan kereta untuk penyelesainnya, dan masalahnya Kitano-sensei tidak memperhatikan jadwal pemberangkatan kereta yang baru.

Kalau begitu tinggal koreksi saja kan, usul Kono. Yoneoka bilang tidak bisa semudah itu, karena harus memperhatikan apakah hujan, terik matahari, kondisi pembangunan daerah sekitar juga. Ini sungguh menjengkelkan, Yoneoka juga tidak mau ambil resiko. Benar-benar membikin frustasi.

     Kono setuju, tapi bukankah kalau sudah dikoreksi nanti kita akan menemukan solusi penyelesaiankan bukan?

     “Koetsu!”

Editor Kaizuka memprotes tindakan Kono yang mengoreksi judul. Apa-apaan ini?. Kono menjelaskan bahwa selama ia memproofreading naskah ini ia merasa judulnya tidak cocok, “Takeko yang Tidak Disukai Setiap Harinya” padahal diceritanya si Takeko ini makin hari makin banyak menerima cinta dari orang-orang terdekatnya. Jadi tidak benar-benar dibenci.

Kaizuka naik darah, apa Kono bercanda? Judul adalah wajahnya buku! Dan kau menyama-nyamakan judul buku ini dengan wajahku!!??

     Yoneoka terguncang memperhatikan perdebatan Kono dan Kaizuka. Mengkoreksi judul?? Aku  tidak  bisa melakukan peninjauan yang  beresiko seperti itu. Ia mulai menangis dan membanting-banting barang di mejanya.

~* Jimi Ni Sugoi *~

Yukito dipakaikan jas dan rapi, semuanya senang karena Yukito cocok untuk projek mereka ini.

Yukito tidak nyaman mengenakan jas dan dasi yang ketat. Ia juga tidak sabar pemotretan segera dilakukan supaya segera berakhir. Morio mengingatkan Yukito untuk jangan mengeluh seperti amatiran begitu, karena Yukito sudah profesional.

     Kono, Yukito, dan yang lainnya merayakan keberhasilan Yukito menjadi modelnya Lassy. Yukito merendah, ini bukanlah sesuatu yang perlu dirayakan. Semuanya tidak setuju, kedengarannya menjadi model itu menyenangkan.

Yukito tanya adakah matsutake Taisho? Karena Yukito suka aneka jamur. Dengar kata suka membuat Kono teringat saat Yukito bilang suka padanya.

Karena Kono tak segera merespon, Yukito menghindar dengan cara bilang mau ke sana dulu. Sampai jumpa.

   Kono menimbang-nimbang apa itu sungguhan atau tidak?. Yukito menjadi model berkat usaha keras Morio, Morio pasti senang sekali sekarang.

Kono mulai bercerita mengenai impiannya yang ingin menjadi desainer dan mengadakan fashion show di Milan. Yukito tanya, apa pantat nanti tidak sakit? Kan perjalanan ke Milan cukup jauh?

“Taisho tolong tacos kinchaku.” Pesan Yukito

“Oke”

Kono jadi tersadar. Sedangkan para pria asyik mengobrol

*~ Pretty Proofreader ~*

Hongo-sensei datang, ia mencari Kono. Seperti biasanya Etsuko selalu ceria, Etsuko bahkan memuji syal Hongo-sensei yang manis. Kaizuka mengingatkan Kono untuk jangan bertindak yang tidak sopan.

     Hongo-sensei secara khusus datang ke Departemen Koetsu untuk menyerahkan essay miliknya untuk ditinjau oleh Etsuko. Essay tersebut nantinya akan diterbitkan ke dalam majalah bulanannya K-Bon.

    Mereka mengantarkan Hongo-sensei keluar. Etsuko minta ditraktir makan setelah selesai menggarap essay Hongo-sensei. Shesiru berterima kasih pada Hongo-sensei atas oleh-olehnya.

Disaat yang sama Yukito terlihat, “Bahaya!” Kaizuka langsung panik dan berusaha menghalangi pandangan Hongo-sensei ke Yukito.

“Sensei! Terima kasih banyak untuk hari ini.”

Kaizuka langsung bertingkah lebay. Semuanya bingung dengan tingkah Kaizuka.

Yukito memanggil Etsuko. Air mukanya langsung berubah dari ceria ke sebaliknya ketika berpandangan dengan Hongo-sensei. Tanpa diminta Etsuko langsung menjelaskan siapa Yukito, penulis Korenaga Koreyuki dan juga modelnya Lassy.

Hongo-sensei berkomentar, penulis yang benar-benar masih muda.

Kaizuka langsung tidak nyaman, ia mengantarkan Hongo-sensei pergi. Sedangkan Yukito mengambil card dan langsung meninggalkan Kono di lobi.

*~ Simpleness is Great! ~*

 

Yukito menyela sebentar, ia minta nama aslinya jangan digunakan. Ia beralasan agak malu dengan nama aslinya.

Kepala Editor menyetujuinya, Penulis Korenaga Koreyuki dan model Yukito. Menarik juga, terkesan misterius dan menimbulkan rasa penasaran.

Kono takjub, ia bertepuk tangan berkali-kali. Proofreader yang lain penasaran ada apa? Kono menjelaskan mengenai essay milik Hongo-sensei yang amat menyentuh hati dan menyenangkan. Hongo-sensei sangat hebat! Tapi masalahnya judulnya tidak sesuai dengan isinya yang menghangatkan ketimbang menyedihkan.

Ketika Kono hendak mengoreksi judulnya, Takehara mencegahnya. Semua judul essay yang akan terbit di majalah bulanan dibuat oleh para sensei-nya sendiri, jadi Takehara mohon Kono jangan mengkoreksi judulnya. Cukup itu saja yang dibiarkan. (Wkwkkk)

Sumire, sumire, sumire.. apa itu sumire? Kono bingung dengan kalimat anak laki-lakiku menggunakan sumire untuk menyendok kuah ramen. Apa itu sumire sejenis bunga atau apa? Bukankah nanti kalau digunakan malahan tumpah?

Benar juga, Kono dan Yoneoka memikirkan hal yang sama. Fujiwa berpikir, jangan-jangan itu renge (merupakan sendok mangkuk yang biasa digunakan saat makan ramen.). Barangkali Hongo-sensei keliru menulis rengen menjadi sumire.

Tapi Kono belum sepenuhnya yakin. Akan jadi masalah besar kalau penulis sekelas Hongo-sensei melakukan kesalahan semacam itu. Jadi Kono memutuskan untuk mengeceknya sendiri.

Ia memakai jaketnya, pamit pergi ke atasannya. Atasannya santai sekali memintanya hati-hati. Fujiwa protes, apakah Takehara-san tidak terlalu santai?. Takehara bilang ia keceplosan saja. Lalu ngomong-ngomong Kono mau ke mana?

Hari terburuk dalam kehidupanku. Adalah saat istriku memintaku untuk menjaga anak laki-lakiku. pertama kalinya aku menghabiskan waktu bersamanya dengan mengajaknya keluar. pada hari itu, aku.. agar terlihat menjadi ayah yg keren, aku membuat rencana hebat untuknya.

pertama, demi manga kesukaan anak laki-ku, kami datang ke tempat kerja mangakanya. untuk bisa bertemu langsung dengan mangakanya. tapi, anakku langsung bilang gambar ojiisan payah. aku langsung mengusap keringat.

Etsuko memperhatikan gambar-gambar yang ada. Semuanya dikhususkan untuk anak-anak namun Etsuko tidak yakin apa anak-anak mengerti maksud gambar-gambar ini.

Setelah itu. waktu itu aku menulis sebuah karya orisinil, tentang pertunjukan musikal. Tapi, pikirku apa anakku menyukainya tidak, tersentuh, tertidur. saat dia naik panggung, aku langsung melarangnya.

Kono mengeceknya dengan meteran. Tinggi anak 3 tahun kira-kira 97 cm. Karena panggung ini tingginya 60 cm maka masuk akal juga. Konfirmasi oke!

saat makan siang, aku mengajaknya ke restoran tradisional yg sudah kupesan saat bekerja. Spesial di waktu makan siang anak-anak.Tapi anakku tidak mau, ia ingin makan ramen. Anak laki-lakiku memakai sumire untuk memakan makanan kecil di kuah ramen,

Kono bertanya ke pegawai di sana soal renge. Pegawai membenarkan itu bukannya sumire. Kono tidak menyangka itu memang renge.

    Di kedainya Taisho. Kono menceritakan keasyikannya mengecek tempat-tempat yang kunjungi untu melakukan konfirmasi essay. Makanan Taisho hari ini enak sekali.

Yukito kemudian meminta Etsuko mengambilkan sumire yang ada di dekatnya Etsuko. Etsuko bingung tapi tetap ia ambilkan. Yukito, ini namanya renge.

Yukito menceritakan kalau semenjak kecil ibunya sering menyebut ini sumire di rumah. Jadilah kebiasaan sampai sekarang. Menyebut renge sebagai sumire. Kono terkejut sekali, kebetulan apa ini? Hari ini ia mengerjakan essaynya Hongo-sensei. Ini aneh, beliau juga menyebut renge dengan sumire. Kono kira itu kesalahan ketik atau semacamnya.

Aneh. Ternyata di dunia ini adalh yang menyebut renge sebagai sumire. Yukito merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Ia memukulkan renge ke wadah.

“Bisakah dihentikan? Pembicaraan itu”

“Eee kenapa memangnya?”

Etsuko berpikir kalau jangan-jangan Yukito membenci Hongo-sensei. Tadi suasananya juga canggung ketika bertemu di lobi. Tapi kenapa? Hongo-sensei kan hebat dan baik orangnya? Apa karena beliau lebih terkenal dari Yukito sehingga membuatnya kesal?. Yukito makin tidak nyaman dengan pembicaraan ini, ia meletakkan makanannya dan meninggalkan kedai.

    Morio masih bekerja, ia menjadi sibuk sekali tapi sangat menikmatinya. Yukito ikut senang, ia akan membuatkan Morio kopi. Morio mengingatkan soal tempat tinggal Yukito. Yukito sedang memikirkan hal tersebut.

Kono merasa bersalah, apa ia tadi sudah keterlaluan pada Yukito. Ia kemudian membaca essay Hongo-sensei lagi, saat itu anaknya berumur 3 tahun dan terakhir kali bertemu dengannya adalah 20 tahun yang lalu. Umur anaknya sekarang berusia 23 tahun. Lalu Kono terkejut mengingat umur Yukito sekarang 23 tahun, juga hal-hal yang terlampir di data diri Yukito mirip dengan ciri-ciri anaknya Hongo-sensei.

     Etsuko menarik dari Kaizuka dan meminta izin Takehara-san untuk menggunakan ruangan sebentar. Takehara meminta pendapat Fujiwa. Fujiwa mengizinkan mereka 5 menit saja.

Etsuko berterima kasih dan kembali menarik Kaizuka ke ruangan. Fujiwa mencari-cari timer, ia benar-benar member waktu 5 menit saja.

Di dalam. Kono bicara serius, ia sampai-sampai memanggil Editor Kaizuka dengan namanya, karena biasanya ia memanggilnya Tako.

“Kaizuka-san”

“Kaizuka (-san) ?”

“Anosa…”

Kaizuka-san yang dipepet mulai berpikiran yang tidak-tidak. Ia mengelak tidak bisa berbuat seperti itu.

“Karena aku senpai mu. Sudah berpengalaman akan hal itu. hmm boleh kok, coba katakan”

“Apa? Kenapa aku harus mendengarkan saran dari pekerja kantoran sepertimu. Dasar Tako! Berisiknya! kenapa selalu saja mengatakan hal seperti itu.. beneran nih !”

Di luar semuanya menguping pembicaraan keduanya.

“Gara gara kamu aku gagal membeli Yakisoba tahu.”

“Halah kemarin juga makan Yakisoba gitu”

Keduanya berdebat tidak jelas. “Sudah 3 menit!” Kata Fujiwa mengingatkan. Kono kesal, ia lalu mengutarakan pikirannya ke Kaizuka, Hongo Daihaku itu ayahnya Yukito kan?. Kaizuka terkejut bagaimana Kono mengetahuinya?. Kono berkesimpulan kalau Hongo-sensei tidak mengetahuinya.

Kaizuka mengingatkan jangan sampai Kono membeberkan rahasia ini. Di perusahaan hanya ia dan Kono yang tahu fakta ayah anak tersebut. Kaizuka meminta Kono jangan melibatkan persoalan tentang Hongo-sensei ke Yukito. Bagi Korenaga pembicaraan tentang Hongo-sensei harus benar-benar dihindari. Ada kegelapan terdalam diantara mereka.

Sebetulnya Yukito menjadi penulis bayangan agar bisa menyembunyikan identitasnya kalau dia adalah anak laki-laki dari Hongo Daihaku-sensei. Dia sendiri yang mengatakannya pada Kaizuka. Entah apa rahasia kelam yang terjadi diantara keduanya.

Ketika jam makan siang, Etsuko menyesal karena telah melakukan salah pada Yukito. Beberapa detik kemudian Yukito meneleponnya. Yukito meminta maaf karena beberapa hari lalu bersikap kasar dengan pergi begitu saja.

Etsuko bilang tidak masalah, bukan apa-apa. Yukito mengajaknya ketemuan hari Minggu ini. Etsuko menyanggupinya.

Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 6 Part 2

       Redaksi memutuskan untuk tidak melibatkan karyanya Saionji-sensei karena sastranya terlalu rumit untuk anak-anak.

Takehara menyampaikan terima kasihnya pada Kono karena sudah melakukan proofreadingnya dengan begitu rapi. Sayangnya tidak bisa diikutsertakan ke majalah bulanan anak-anak.

Di kantin. Kaizuka tampak bingung, ia menyesalkan soal ditariknya karya Saionji-sensei. Padahal ia optimis karya tersebut bisa laku keras. Membuat Kaizuka cukup frustasi. Kaizuka juga mengungkit tentang Etsuko yang terikat dalam pekerjaan Proofreader padahal ingin menjadi Editor Lassy.

Sementara itu Kono tidak masalah, ia lebih memilih berpikiran positif serta mengambil pelajaran baik dari hal-hal yang dia kerjakan selama ini. Menjadi proofreader membuatnya banyak mengetahui hal-hal detail yang tidak dia ketahui selama ini.

       Kaizuka kembali ke tempatnya. Seseorang memberitahukan kalau ia mendapatkan kiriman paket dari seorang kurir. Kaizuka langsung teringat Kiritani. Benar saja, isi paket tersebut adalah kumpulan naskahnya. Kaizuka mulai membacanya.

Salah satunya adalah novel anak-anak yang Kiritani buat sebagai hadiah ulang tahun anak kakaknya. Kaizuka takjub dengan novel anak-anak tersebut. Kemudian ia meminta Direktur untuk memasukkan naskah ini ke majalah bulanan.

Direktur menolak keras, karena sebagai pengganti karyanya Saionji-sensei adalah cerita klasik. Direktur pergi, Kaizuka bersikeras meyakinkannya.

    Etsuko mencium aroma parfum, ternyata itu adalah parfumnya Yoneoka. Etsuko mendekatinya, Yoneoka meminta maaf kalau baunya terlalu menyebar. Etsuko menggodanya, rupanya Yoneoka mau berkencan dengan anak percetakan itu ya..?. Yoneoka membenarkan, mereka akan nonton gulat bersama. ( Omeigat! Nobuyoshi? (_) )

Etsuko minta disemprotkan juga. Yoneoka tanya apa Etsuko mau kencan juga? Semoga acara kita lancar hari ini. Keduanya berbunga-bunga.

Braakkk!!

Fujiwa menggebrak meja. Membuat Kono dan Yoneoka langsung tidak enak, mereka meminta maaf kalau aroma parfumnya menyebar sampai kemana-mana. Keduanya lalu mengusir-usir aroma parfum yang menyebar.

Fujiwa sebenarnya tidak merasa terganggu, justru ingin minta parfumnya juga. Etsuko penasaran, apa Fujiwa mau berkencan juga?. “Yah, begitulah..” jawab Fujiwa

Etsuko ingin tahu memangnya dengan siapa Fujiwa akan berkencan?. Fujiwa menjawab ia akan berkencan dengan suaminya, hari ini adalah 10 tahun perayaan pernikahan mereka. Kono dan yang lainnya baru tahu soal Fujiwa yang sudah punya suami. Bahkan Takehara juga baru tahu.

Etsuko pulang, ia dipanggil-panggil Editor Kaizuka. Kaizuka menunjukkan naskah yang hendak dimasukkan ke majalah bulanan anak-anak. Waktunya sudah mendesak, harus segera diproofreading sebelum masuk ke percetakan pukul 6 besok pagi.

Etsuko masih belum mengerti. Bukannya halaman milik Saionji-sensei diganti?. Kaizuka menjelaskan kalau ini berbeda, ia merekomendasikannya untuk mengganti halaman tersebut. Ia memohon agar Etsuko mau membantunya.

Etsuko tersentuh, ia bilang maaf ada janji. Namun pada akhirnya ia tidak tega juga, ini menjengkelkan, jadi ia akan membantu Kaizuka.

      Etsuko memulai pekerjaannya. Kaizuka khawatir, ia menawarinya mau kopi atau teh? Atau Etsuko mau apa?. Etsuko kesal, ia menyuruh Kaizuka jangan berisik, ia tidak butuh apa-apa sekarang.

Fujiwa kembali lagi ke kantor. Ia meninggalkan hadiah untuk suaminya di meja. Kaizuka terkejut, ternyata Fujiwa sudah menikah. Heran kenapa Etsuko dan Kaizuka ada di sini. Setelah mengetahui masalahnya dan tindakan gegabah Kaizuka, Fujiwa memutuskan untuk membatalkan perayaan 10 tahun pernikahannya dan lebih memilih membantu.

Fujiwa meminta detailnya dan profil penulisnya, penulisnya juga harus datang kemari.

Kiritani, Yoneoka dan Nobuyoshi sudah ada di sana. Etsuko meminta maaf karena mengganggu acara nonton gulat mereka. Yoneoka dan Nobuyoshi mengatakan tidak masalah.

Yoneoka meminta maaf mereka jadi gagal menonton gulat, sebaiknya Nobuyoshi pulang dan tidur sekarang karena besok harus kemari mengambil naskahnya. Nobuyoshi tidak masalah, ia akan ikut membantu mereka sampai selesai. Ia lalu membantu Etsuko.

(Tiap lihat Yoneoka jadi gini, kog saya geliiiiii…. Banget… Kyaaaaa!!! XD )

Kiritani-sensei takjub dengan cara kerja Departemen Proofreading yang mengkoreksi kata per katanya.

~* Simpleness is Great! *~

      Hari ini adalah hari H diumumkannya pemenang model utama pria Lassy.

Di Departemen Proofreading masih sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. Yukito datang membawakan kacang untuk menyemangati mereka. Fujiwa awalnya bertanya siapa pria ini, kemudian Kaizuka memperkenalkan kalau dia ini adalah Korenaga Koreyuki. Fujiwa lalu meminta maaf atas ketidaksopanannya tadi, sayangnya tidak bisa menikmati kacangnya karena mereka semua sibuk.

Yukito hendak pergi. Etsuko mencegahnya, jika ingin membantu tolong ambilkan buku tentang anatomi tubuh manusia.  Yukito membawakannya,

Melihat Etsuko yang bekerja keras membuat Yukito kagum.

~** Jimi Ni Sugoi! **~

     Hasilnya keluar. Toraro-kun mendapatkan suara 15.376, Kikuchi Shun-kun mendapatkan 9.375 suara, Orihara Yukito mendapatkan 15.377 suara.

Yukito menjadi model eksklusif Lassy. Morio tampak terharu dan lega sekali. Sepulangnya rumah masih gelap, Yukito belum pulang dari tadi.

    Seseorang menelepon Morio. Morio memutuskan untuk berhenti, ia berterima kasih atas segalanya selama ini, bagaima pun juga menyenangkan.

*~ Pretty Proofreader Kono Etsuko ~*

Yukito membantu membawakan buku-buku untuk Etsuko. Kiritani sudah selesai dengan bagiannya, ia serahkan ke Kaizuka. Kemudian Kaizuka meminta Kiritani bagaimana di bagian ini diubah menjadi ini agar lebih enak.

Kaizuka diprotes Fujiwa karena menyarankan hal tersebut.

Namun Kaizuka  tetap meyakinkan Kiritani supaya mau mempertimbangkan usulannya. Kiritani tidak langsung menanggapi, ia pikir Kaizuka masih belum berubah juga. Ia meminta waktu untuk menulis ulang.

Pagi menjelang, sebentar lagi pukul 6. Akhirnya selesai. Masamune Nobuyoshi mengantarkannya ke percetakan. Mereka sudah bekerja dengan keras. Kaizuka berterimakasih pada semuanya, terutama Koetsu.

    Kiritani meminta maaf dan berterimakasih, ia merendah karyanya yang amatiran ini. Etsuko menyelanya, ia pikir ceritanya lucu. Ia tidak sekedar memproofreading tanpa membaca kontennya. Ceirtanya menarik sekali, walau Etsuko tidak suka dengan Kaizuka-san tapi ia sependapat mengenai karyanya Kiritani.

“Aku senang menulis. Dan aku akan terus menulis selamanya. Aku senang, ini benar-benar memotivasiku. Dari lubuk hatiku, aku yakin mampu” Ucap Kiritani. Semua orang di sana tersentuh.

Kiritani sampai menangis.

Yukito hendak pulang, ia akan naik kereta. Kaizuka mengatakan tidak tahu kapan edisi berikutnya karya Korenaga akan keluar, sedangkan novel yang soal anjing itu dihentikan. Yukito mengerti, barangkali apa yang dia tulis tidak menarik dan tidak bisa memenuhi harapan orang-orang yang membacanya. Yukito sama sekali tidak mengerti, ia mencari-cari namun tidak menemukan apa yang sebenarnya dia cari.

Etsuko ikut mendengarkan, ia teringat kegiatan Yukito yang berubah-ubah. “Jika aku tidak bisa menulis bahkan berjuang begitu keras… aku mungkin tidak akan menulis apa-apa lagi. Kaizuka-san… Seharusnya kau menolak saya sejak awal.”

“Apa yang kau katakan?”

“Jika kau sangat tertekan katakan saja! Editor dan penulis itu seperti tripod! Mereka sama-sama merasakan masalah bersama-sama!”

Kaizuka mengguncang Yukito. Ia memeluk Yukito, memintanya untuk bergantung padanya kalau memang berat. Dengan canggung berterima kasih, dan Kaizuka masih terus memeluknya. Yukito meminta maaf karena tidak pandai mengungkapkan perasaannya.

   Yukito dan Etsuko bersama. Etsuko meminta maaf pada Yukito karena membatalkan pertemuan mereka dengan alasan pekerjaan. Juga sampai membuat Yukito ke departemennya sehingga membuat Yukito tahu semua tingkah buruk Etsuko ketika sedang bekerja.

Yukito tidak masalah, ia malah senang melihat Ecchan bekerja. “Setelah mengetahui itu semua, Ecchan adalah sosok yang kuinginkan.”

“Apa?” Etsuko bingung

“Jangan telalu banyak berpikir buruk tentang pandanganku.. Semuanya baik-baik saja setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri, semoga sukses dengan pekerjaanmu”

Yukito lalu ingin mengatakan sesuatu.

“Aku suka segala sesuatu yang ada di diri Ecchan. Aku mencintaimu.”

Etsuko terbengong-bengong mendengarnya. Sementara itu Morio sedang menikmati perasaan kelabunya.

 

K O M E N T A R:

Yes! Yukito menyatakan cintanya! ƪˆ)ʃ

Mungkin Yukito sedang mengalami Writer’s block \(´ー`) 

     Karena menulis adalah menuangkan imajinasi membentuk buah pikiran baru, imajinasi didapat dari ketajaman pikiran yang berasal dari ilmu pengetahuan serta pengolahan data yang unik dari individunya. Bagi penulis menulis layaknya bernapas,  yang menggerakkan jemarinya adalah hatinya, yang membentuk kalimatnya adalah pikirannya. Yang membuatnya sampai ke para pembaca adalah perasaannya yang tertuang didalam karyanya.

Harapan menimbulkan beban di pundak Yukito,

~(‾‾~)(~‾‾)~ \(‾‾\) (_o_) (/‾‾)/

Sabtu Malam, Malam Minggu.. bodo amat.. (.“)  waktunya tidur -> hibernasi -> pingsan -> minum obat tidur -> blablablabla..

Ada yang mau baca ulang? Klik saja link di bawah ini ♡(ˆ▿ˆʃƪ)

Episode 1 Part 1Part 2

Episode 2 Part 1Part 2

Episode 3 Part 1Part 2

Episode 4 Part 1Part 2

Episode 5 Part 1Part 2

Episode 6 Part 1 – Part 2

Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 6 Part 1

“Semoga dia ada di rumah” gumam Etsuko.

“Dia datang! Hai!” Seru Shesiru

Morio datang, dia terkejut melihat Etsuko dan Shesiru “Hah! Senpai!”

Di belakangnya ada Yukito mengikuti, “Apa ini tidak kebanyakan untuk dua orang?” tanyanya ke Morio sambil melihat daun bawang belanjaan mereka.

Canggung. Supnya mendidih, semuanya diam. Shesiru mencoba memecah keheningan dengan mengajak semuanya makan.

“Apa ini?” Tanya Etsuko datar

Shesiru menjelaskan ini adalah sup kimchi yang baik untuk kesehatan dan kecantikan kulit senpai!. Jelas Shesiru dengan tawa namun tak ada yang bereaksi. Tegang, canggung..

Shesiru serba salah, dia memilih diam saja.

Morio mencoba menjelaskan “Ano… Ketika aku merekrutnya menjadi model di Lassy. dia baru saja dikeluarkan dari apartemennya, dan tak punya tempat tujuan. Jadi, aku menawarkan kamar kosong  di rumahku untuk dia tumpangi. Sampai dia mendapatkan kontrak eksklusif dan bisa menyewa apartemen. Jadi, mohon jangan berpikir yang aneh-aneh. Bukankah aku pernah bilang kalau aku punya pacar?”

Etsuko tampaknya masih belum puas dengan penjelasan Morio.

“Menumpang?”

“Ya”

“Berbagi rumah?”

“Ya”

“Kohabitasi?”

“Tidak, itu berbeda… Bukan hidup bersama seperti itu, tapi seperti saudara. Iya, kan?” Tanya Morio ke Yukito. Yukito tidak menanggapinya.. justru menyantap makanannya yang masih panas.

“Panas! Panas!”

Lalu ia meraih minuman dan mulai meminta maaf. “Ecchan, maafkan aku. Pokoknya, aku minta maaf.”

Etsuko tidak merespon, langsung memekik selamat makan!. Berpura-pura tidak ada yang terjadi, Etsuko mencoba berpikiran positif, Morio baik hati bersedia menampung Yukito yang baru saja ditendang dari rumahnya.

*~ Jimi Ni Sugoi! ~*

     Takehara berencana menerbitkan majalah anak-anak berisi anime dan semacamnya yang bisa menarik minat pembaca anak-anak. Terdapat craft yang jika dilipat sesuai instruksi akan menghasilkan bentuk-bentuk yang menarik.

Takehara berharap departemen ini bisa membantunya untuk memproofreading apakah sudah layak atau belum. Melihat apa yang dikerjakan Fujiwa menarik, Etsuko merebutnya. Ia pikir ia lebih cocok mengerjakan ini, lihat! Hasil lipatan Fujiiwa yang tidak pas menurut Etsuko.

Namun Fujiwa menariknya kembali, ini bukan soal lipatannya. Ini soal sense of visualnya.

sekarang Morio tiap melihat Etsuko jadi serba salah. Ia bertatap-tatapan dengan Etsuko dan berusaha menjelaskan soal Yukito kemarin. Etsuko mengalihkan pembicaraan dimana Morio beli tasnya? Lucu sekali??. Morio beli di Olshop, Etsuko langsung bilang ia akan cek olshopnya nanti karena sebelumnya tidak ada model yang ini.

“Semoga harimu menyenangkan!” Kata Etsuko

“Iya”

“Senpai! Hei senpai!” Morio pergi. Shesiru memanggil Etsuko.

“Benar-benar tidak peka. Benar-benar payah. Kau baru saja bertemu dengan “striker” itu.”

“Eh, ada apa?”

“Seorang pria dan wanita berada di rumah yang sama. Tidak mungkin tak terjadi sesuatu.”

“Seshiru, kekasihmu dari Amore tidak meracuni pikiranmu, kan?”

“Senpai yang sudah diracuni. Mustahil ada persahabatan antara pria dan wanita.”

“Curiga berlebihan untuk seorang wanita itu tidak baik. Akan membuat pria lari darimu.” (Tapi terlalu positif thinking juga gak baik.. dibilang gak cemburu nanti dikira gak sayang.. dibilang cuek, dibilang cemburu nanti dikira over. Maunya apa??? Mau gw kasih kadal? 😀 Hayuuk.. sini.. )

Etsuko mengatakannya dengan manis, mencubit pipi Shesiru sampai seperti menempeleng. Etsuko kemudian pamit kembali ke ruangannya, sepertinya ada yang ketinggalan.

Shesiru khawatir, seharusnya Senpai cemburu. Yuri bergumam, kalau sepertinya ada sedikit perasaan khawatir di diri Etsuko.

Etsuko ke toilet, ia melampiaskan depresinya.

“Tidak ada… Iya, iya, iya! Mungkin mustahil! Mungkin benar ada! Tidak mungkin… Menumpang dengan seorang wanita karena tak ada uang? Tak ada perasaan romantis? Itu tidak masuk akal!”

Etsuko tidak mengerti, ia masih berusaha mencari penjelasan yang lebih logis baginya.

“Atau salah satunya… Yukito… Karena kau penulis? Karena dia penulis “Linear Motor Cow”? Ah bukan… Jadi apa?! Tidak, aku tak mengerti. Aku tak tahu alasannya”

Etsuko kesal sekali, dari ruangan sebelah ia mendengar suara jeritan.

Rupanya Editor Kaizuka. Sama-sama sedang frustasi.

Keduanya makan di warungnya Taisho. Taisho bisa melihat mereka sama-sama sedang tidak bersemangat. Kaizuka ke toilet, tak lama kemudian Yukito datang. Ia hendak menjelaskan ke Etsuko. Tapi Kaizuka keluar, terkejut melihat Korenaga di sini. Lalu mengajak Yukito keluar untuk bicara.

Yukito meminta maaf karena mengabaikan telepon Kaizuka. Rasanya canggung ketika bertemu. Kaizuka menceritakan kesulitannya sekarang karena atasannya tidak ingin melanjutkan projek Korenaga Koreyuki, Kaizuka berusaha melindungi penulis yang berbakat namun atasannya nampak tidak sependapat, yang terpenting adalah soal keinginan pasar, mari hentikan projeknya Korenaga Koreyuki.

Kaizuka menyesalkan, padahal saat Yukito 15 tahun ia sangat berbakat.

“Bagaimana dengan pekerjaan barumu? Apakah masih dalam proses branding personal?”

“Menurutmu, apakah aku penulis berbakat? Aku ingin tahu sampai mana penilaian akhir bukuku yang dikoreksi.”

“Hei, hei. Ayolah, maafkan aku. Masih proses.”

Etsuko melamun, sepertinya Yukito tidak akan kembali lagi kemari. Taisho bertanya apa Ecchan suka pada orang yang namanya Yukito itu? Menurut Taisho Yukito itu misterius. Etsuko sependapat, sejak awal mengenal Yukito memang sudah misterius, bagaimana kebiasaannya.., sedang apa, tempat seperti apa yang akan dia kunjungi. Kesemuanya itu menjadi misteri bagi Etsuko, Etsuko merasa ia tidak mengerti apapun mengenai Yukito.

“Tidak, kukira inilah yang dinamakan cinta?” Komentar Taisho

Etsuko terhenyak sejenak mendengarnya.

*~ Pretty Proofreader Kono Etsuko ~*

       Etsuko jengkel dengan kata-kata aneh di kalimat ini tidak cocok sama sekali untuk buku anak-anak, akan sulit dipahami oleh mereka. Fujiwa tanya Etsuko sedang baca yang mana? Etsuko kemudian membacakan larik yang menurutnya aneh.

Namun Fujiwa pikir kata-kata yang indah tersebut cukup mudah dipahami anak-anak, kalau terlalu sederhana penggunaan katanya itu hanya cocok untuk pengungkapan ekspresi polos. Sayangnya Kono masih tidak setuju, kalimat semacam ini masih tetap sulit dan malah menyurutkan minat baca anak-anak.

“Maaf, kita tak ada hak untuk melakukannya.” Sela Fujiwa

“Jadi, kita juga tidak boleh ikut campur. Pertama, riwayat penulis Saionji, memangnya dia itu penulis untuk anak-anak?”

“Pasti Kaizuka-san yang bertanggung jawab sudah diberitahu.”

Etsuko keluar untuk mengkonfirmasinya ke Editor Kaizuka. Fujiwa geram, pekerjaan Proofreader dimulai dari meja dan berakhir di meja. Ckckck

Yoneoka pamit keluar mau mengkonfirmasi pengrajin tembikar. Tak lama kemudian Aoki, Sakashita, dan Meguro juga pamit mau mengkonfirmasi. Takehara dengan senang hati mempersilakan anak buahnya pergi.

Fujiwa makin geram, semenjak Kono bekerja di sini, orang-orang jadi sering pergi keluar.

Takehara tidak masalah, justru orang-orang terlihat bersemangat dan lebih hidup.

Etsuko mencari-cari Editor Kaizuka tapi tidak ketemu juga. Ia melihat Yukito, Yukito mendekati anak kecil yang terjatuh dan menenangkannya. Ia juga mengguyoni anak tersebut, ibunya datang dan berterima kasih pada Yukito.

Shesiru ikut nimbrung memperhatikan Yukito. Etsuko sudah mantap, ia akan mengkonfirmasi Yukito.

Pukul 10.30 Yukito bermai gateball di Nanpaku Park. 11.20 pesta karaoke di Mori.

12.30 Yukito turnamen panco di Central Park. Jelas-jelas curang karena main dengan anak-anak.

Yukito berkilah, anak-anak ini perlu 1 juta tahun lagi untuk menang lawan Yukito. Seorang wanita datang dan meminta izin ikut ado panco. Yukito kalah telak. Etsuko heran, tidak menyangka, inilah kelemahannya Yukito. Heran kenapa ia begitu terpesona pada Yukito, sebagai wanita ia bertanya-tanya bisakah mendapatkan Yukito?

Kaizuka datang, tanya kenapa Etsuko di sini. Yukito dan anak-anak pergi.

Etsuko menceritakan kegiatannya Yukito dari tadi. Kaizuka heran, pasti Yukito sedang tidak ada kerjaan, seharusnya sebagai penulis dia melakukan sesuatu.

Etsuko berpendapat soal Saionji-Sensei tidak cocok dilibatkan dalam proyek majalah kartun bulanan untuk anak-anak. Karyanya cukup sulit dimengerti anak-anak, apa betul dia ini penulis anak-anak?. Kaizuka tetap tidak bisa tidak melibatkan Saionji-sensei karena dia penulis terkenal, tentu saja namanya menjual dan majalah mereka akan diminati banyak orang.

Etsuko kesal mendengar kata laku terjual dari Kaizuka, bisa tidak sih Kaizuka tidak mengatakan hal semacam itu terus menerus?, yang ada dipikirannya hanyalah laku tidaknya tiap berdebat dengan Kaizuka.

Seseorang datang, ia adalah Kiritani. Ia mengantarkan barang pada Etsuko. Kaizuka terkejut melihat Kiritani, ia bertanya di mana Kiritani sekarang. Kiritani tampaknya juga tidak suka dengan ucapan Kaizuka perihal yang terpenting adalah laku dijual.

Kiritani mengungkapkan jadi penulis, ia sudah menyerah dengan impian tersebut.

Malam harinya Kaizuka mengunjungi Kiritani. Kiritani menceritakan pekerjaannya sekarang, ia tampak sudah benar-benar menyerah. Tapi ini sudah kebiasaannya, ia menyukainya. Terikat dalam sesuatu yang disebut “penulis” ketika banyak membuang waktu, Kiritani merasa tidak layak disebut penulis. Kiritani merasa tidak berbakat.

Disaat yang sama Yukito melihat-lihat rak buku. Termenung sendiri memandangi tumpukan buku.

    Kaizuka mencoba menyemangati Kiritani, menurutnya Kiritani tidak boleh pesimis seperti ini. Ia yakin Kiritani bisa menulis karya yang bisa laku terjual, ia minta izin untuk membaca tulisannya Kiritani. Mendengar itu membuat Kiritani dingin, apa Editor Kaizuka sering mengatakan hal-hal arogan semacam ini?. Kiritani meminta Kaizuka pulang saja.

Etsuko bekerja, ia kesulitan dengan novel kali ini. Banyak kata-kata yang tidak dimengertinya. Yukito menelepon Etsuko, tanya sedang apa. Karena Etsuko bilang sedang mengerjakan proofreading, Yukito pamit. Etsuko mencegahnya. Ia meminta maaf, ia seharian mengikuti Yukito dan merasa tidak enak. Ia curiga mengenai Morio, namun didepan orang-orang Etsuko bersikap biasa saja. Syukurlah tidak ada apa-apa.

Yukito mengerti, besok ia ingin bertemu Ecchan dan berbicara yang sesungguhnya. Pukul 19.00 di Asakusa.

      Yukito pulang. Morio tampak ceria sekali, firasatnya mengatakan kalau besok Yukito akan menang sebagai model pria Lassy. Morio mengajak Yukito minum untuk merayakannya.

Yukito tidak yakin menang, lagipula pengumuman resminya kan baru besok. Morio pikir tidak masalah, kinerja Morio selama ini banyak dipuji berkat Yukito, itulah yang membuatnya optimis Yukito menang.

K O M E N T A R:

Ini, tinggal bareng.. ketemuan tiap hari. Kerjanya juga bareng, mustahil untuk Etsuko tidak cemburu ataupun curiga pada Morio.

     Posisinya Yukito menjadi serba tidak jelas, mungkin dia sedang mengalami kegalauan karena tidak tahu sebenarnya apa yang dia cari dalam hidup ini (cieilah alay bahasa gw XD).

     Karena sebagus apapun buku kalau tidak ada yang baca tidak ada gunanya bagi penerbit, inilah kenapa kita bicara selera pasar. Kadangkala yang kelihatan hebat dan sedang naik daun bukan karena memang hebat, hanya saja banyak yang menggemarinya atau karena yang menghujatnya banyak atau.. ehem! Boneka pencitraan, Pssstt.. macam anak SMA yang ngomongin agama warisan itu. Semisal.. kaosnya Lee Min Ho/Rain yang gak dicuci seminggu pasti laku jutaan, bukan kaosnya yang penting.. tapi itu punya Lee Min Ho  jeeeeng, Lee Min Ho lho Jeng… Wkwk

     Kalau kita bertanya yang berbakat tidaknya.. tentu saja ada banyak orang dianugerahi kemampuan mengolah kata sedemikian rupa indahnya, tidak semua namun sepersekian persen dari manusia di bumi siih~. Namun yang beruntung dan hidup bergantung dengan itu kemudian dicap “Profesional” adalah sedikit orang saja yang bisa. Hakikatnya kata profesional itu berarti “Kamu bisa hidup dari apa yang kamu kerjakan/profesimu”, karena saya selama ini cukup ya.. agak ilfil ketika kebanyakan orang mengartikan profesional adalah ketika kamu cakap/jago/mahir serta menguasai dengan apa yang kamu kerjakan/bidang tertentu, ya kan? Banyakan pada mengartikan hal tersebut. Padahal artinya cukup sederhana, kamu menghasilkan materi dari profesimu dan bisa menghidupi. Itu namanya profesional. Dari kata dasar Profesi

     Kebanyakan orang di bidang ini yang bergelut dibidang literatur mengungkapkan bahwa menjadi penulis itu mudah, menerbitkan buku itu juga mudah. Yang sulit adalah menjual buku, membuat buku tersebut laris terjual. Percaya tidak, memang begitulah kebenarannya..

Setelah di episode sebelum-sebelumnya kita disuguhkan oleh novelis yang sukses, kita di episode ini diberitahu kalau ada juga yang kurang beruntung meski dinilai mampu dan berbakat.

Sastra semacam “Membaca yang tak terbaca” could you?

 

Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 5 Part 2

Morio pikir itu tidak akan berhasil. Morio merasa suka dengan pekerjaannya namun hanya sebatas suka, bukan dalam perasaan membuncah yang suka sekali seperti yang Kono paparkan. Morio sebenarnya selama ini bertanya-tanya adakah pekerjaan yang menyenangkan di dunia ini.

Etsuko membalas, Morio merasa tidak senang karena Morio tidak menikmatin pekerjaannya. Itu bermula dari Morio sendiri. Morio membenarkan perkataan Senpainya, ia terlihat setengah hati dan memilih pergi dengan beralasan punya pekerjaan sambilan, ia tak lupa berterimakasih atas makan malamnya.

    Pagi harinya di akhir pekan. Etsuko memandangi karya Fraulein Tokiko dengan getir. Kemudian ia keluar menyapa Taisho sebelum pergi, Taisho pikir Etsuko pasti mau keluar karena ini akhir pekan

“Taisho, apa pekerjaanmu menyenangkan?” tanyanya

Taisho membenarkannya. Seperti mendapat semangat baru, Etsuko pergi.

“Mau ke mana?”

“Italia!”

Taisho bingung. “Italia?”

Etsuko pergi. Ia mengirimi Morio pesan, ia berusaha membuktikan ucapannya.

Shesiru sedang berkencan dengan pacar Italianya. Etsuko meneleponnya, entah apa yang dibicarakan.

   Kaizuka melihat Etsuko menanyai turis asing apakah ada orang Italia di sini.  Etsuko membagikan kuisioner pada orang Itali untuk mengecek kebenaran. Kaizuka memergokinya dan meremehkan apa yang Etsuko lakukan akan sia-sia. Etsuko tidak setuju, baginya tidak ada yang sia-sia, ia ingin mengkonfirmasi sendiri essay-nya walau hanya dapat 1 saja fakta.

Kaizuka tersentuh, ia akhirnya ikut membantu Etsuko.

Sebagai ucapan terima kasih Etsuko membelikannya pangsit, ia sebenarnya merasa tidak baik hanya mentraktir pangsit. Etsuko lalu bertanya bagaimana pendapat Kaizuka jika Etsuko makan dengan Yukito?, tapi dia tidak ada uang. Kaizuka komentar, kalau begitu pinjam ke bank saja.

Beruntung, Yukito menghubungi Etsuko. Bertanya di mana dan sedang apa Etsuko. Etsuko bilang sedang di Asakusa makan dango bersama Kaizuka. Setelah panggilan berakhir, Kaizuka memprotes Etsuko kenapa mengatakan semuanya?

Etsuko pikir Yukito tidak akan salah paham dengan kebersamaan mereka. Kaizuka marah, bukan itu masalahnya.. ini tentang kebiasaan Etsuko yang selalu bicara tanpa dipikir terlebih dahulu. Sebagai rekan kerjanya ia tidak mau itu menjadikan masalah pada pekerjaan mereka. Terlebih dengan Takiko.

   Tiba-tiba Etsuko terlihat menyesal, ia telah gegabah bicara sebelum dipikir pada Takiko sebelumnya. Ia merasa tidak enak pada Morio. Kaizuka bicara panjang lebar, intinya ia yakin Morio bisa memakluminya karena sudah mengenal Etsuko lama dan tahu sifat Etsuko.

*~ Jimi Ni Sugoi! ~*

    Yukito lah orang yang memberikan informasi soal Asakusa ada banyak turis Italianya. Etsuko berterima kasih padanya. Yukito meminta maaf karena tidak bisa bertemu dengan Etsuko sebelumnya. Etsuko tidak apa-apa, baginya bisa bertemu dengan orang yang disukainya, memikirkan harus berpakaian seperti apa saat bertemu sungguh menyenangkan.

Yukito terkejut, “Orang yang kau suka?”

Etsuko memilih kabur, ia beralasan harus ke kantor.

Yukito pulang ke rumah Morio. Ia menceritakan kegigihan Etsuko yang mengonfirmasi fakta dari turis Italia di Asakusa. Ecchan memang unik orangnya, padahal sudah diberitahu untuk tidak perlu mengecek fakta.

Morio mendengarkan ceritanya, ia lalu pamit pergi sebentar. Yukito bertanya pada Morio, dengan situasi ini apa yang seharusnya Morio katakana pada Ecchan?

“Sukinanda, senpai no koto..” (Aku mencintaimu, senior..)

Ungkap Morio tersentuh pada Etsuka, ia akan mengutarakannya secepatnya pada Etsuko.

Fraulein Tokiko menandatangani kontrak kerjasama. Editor Kaizuka memberikannya buah tangan dari Asakusa. Fraulein Tokiko bilang tidak perlu karena di Italia kan sudah dijual banyak, tapi ia akan tetap menerima ini. Kaizuka juga memberitahukan perihal karya Fraulein Tokiko yang ada di Departemen Proofreader.

Fraulein Tokiko menanyakan di mana Departemen tersebut. Di sana Fraulein Tokiko melihat hal-hal yang aneh, Etsuko dan Aoki memeragakan adegan bertarung, Fujiwa sibuk dengan galleynya, Yoneoka asyik menyusun rumah-rumahan.

Fraulein Tokiko disambut Takehara, Fraulein Tokiko bingung sedang apa orang-orang di sini. Takehara mengatakan kalau mereka sedang mengoreksi fakta, ia mempersilakan Fraulein Tokiko untuk bertanya sendiri. Fraulein Tokiko bertanya satu persatu apa yang mereka lakukan.

Fraulein Tokiko tidak senang melihat essay-nya dicoret-coreti Etsuko, Etsuko bilang ia hanya mengoreksi apa yang diketahuinya dari internet. Tak lama kemudian banyak e-mail dan telepon masuk, mereka adalah orang-orang yang dimintai tolong Etsuko. Sayangnya hanya bicara dalam bahasa Italia, satu-satunya yang bisa bicara dalam bahasa Italia di sana adalah Fraulein Tokiko.

Fraulein Tokiko terlihat dingin awalnya, lalu bersedia bekerja sama. Ia menerima dua panggilan, lalu mengecek e-mail. Ia merasa apa yang dilakukannya ini tidak sia-sia.

Takehara berkomentar kalau urusan proofreading pekerjaan yang dianggap remeh-temeh ini tidak ada yang sia-sia. Fraulein Tokiko meminta Etsuko mengerjakan Essay nya dengan baik selama ia pemotretan, dan tak perlu merasa terhambat hanya karena tidak bisa bicara Italia.

Shesiru dimintai tolong untuk menerjemahkan e-mail, ia sangsi karena ini masih jam kerja. Kemudian rekannya menawarkan untuk mengerjakan tugas Shesiru.

Pemotretan dilakukan, Fraulein Tokiko merasa ada yang kurang padahal semuanya sudah sesuai dengan yang direncanakan. Ia melihat koper yang diberi kain perca. Ia tanya siapa yang bertanggung jawab atas ini?

Morio mendekat, ia mendapat saran dari Kono Etsuko dari Departemen Proofreader. Morio menceritakan kalau Kono Etsuko adalah seniornya sewaktu SMA, sangat menyukai fashion dan ingin menjadi Editor Lassy suatu hari nanti.

Fraulein Tokiko akan memakai inisiatif Morio ini. Pemotretan dimulai kembali

Semua berjalan lancar, hasil gambarnya bagus. Morio dipuji atasannya.

Fraulein Tokiko berfoto dengan kaos putih, Fraulein Tokiko ingin membuat kaos ini populer. Pelajaran yang luar biasa dari Departemen Koetsu.

Shesiru dan Etsuko ingin mengajak Morio pulang bersama, tapi kata rekannya Morio di Lassy.. Morio setengah hari kerja karena harus istirahat. Shesiru mengajak Etsuko untuk langsung datang ke rumah Morio kalau begitu.

Shesiru dan Etsuko sudah sampai, mereka berharap Morio tidak sedang tidur. Lama memencet bel tapi tidak turun juga. Rupanya Morio dan Yukito baru pulang berbelanja, awalnya Etsuko belum sadar dan justru menyapa keduanya dengan ceria.

Sesaat baru mengerti situasinya, kenapa mereka bisa pulang bersamaan dan sekarang ekspresinya berubah seperti ini.

Notes:

Nah, kalau mulai episode 5 baru dibikin bulan Juli ini. Saya gak suka bulan Juli, langsung SKIP ke Agustus bisa gak ya? *HHHHHHH, berasa Not Spring, Love or Cherry Blossom dan kepengen stay cool saja ^_^/, berasa Big Bang Let’s Not Fall In Love

 

Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 5 Part 1

     Morio tiba-tiba mencium Yukito, setelahnya Morio mengambil minuman dari lemari es. Situasinya menjadi aneh, Morio sendiri bahkan kebingungan apa yang sedang dia lakukan?.

Etsuko tertidur dan tersenyum-senyum sendiri, Taisho menyuruhnya jangan tidur di kedai.

Morio sedang ada banyak masalah di pekerjaannya, ia merasa tertekan, merasa tidak berguna dan semuanya terasa sia-sia. Tidak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan dan tidak mengerti sama sekali.

Yukito bangkit dari duduknya, merasa senasib dengan Morio. Jadi penulis, model, dan mahasiswa.. Yukito sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya hati terdalamnya inginkan. Yukito kemudian mengajak tos Morio, tos berkali-kali dan membuat Morio geli dengan tingkah aneh Yukito. Morio menyebut Yukito bego’

     Yukito menimbang-nimbang perkataan Morio, si bego’ ini memenangkan penghargaan sastra termuda, apa itu cukup. Mereka bercanda, perasaan Morio membaik dan mereka minum-minum.

    Etsuko terkejut melihat tugas Fujiwa kali ini berat. Fujiwa menjelaskan bahwa ia akan melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya sekalipun pekerjaannya itu tidak dianggap penting.

Nobuyoshi datang membawa Galley, editor yang bertanggung jawab atas penulis tersebut adalah Editor Kaizuka. Ia menyuruh Nobuyoshi langsung ke Departemen Proofreader.

Etsuko kesal dengan tingkah Kaizuka.

Nobuyoshi kemudian beralih ke Yoneoka, ia ingin berterima kasih atas buku sebelumnya. Nobuyoshi memberikan kaos gulat padanya. Yoneoka tampak tidak senang. Nobuyoshi pikir ia dan Yoneoka punya banyak kesamaan, kapan-kapan kita nonton gulat bersama.

Aoki mendekat, ia bilang juga suka gulat. Karena Aoki dan Nobuyoshi tampak akrab soal gulat, Yoneoka jadi agak kesal. Ia tanya ke Aoki apa kau juga menyukainya (entah yang dimaksud gulat/Nobuyoshinya *kkkk). Aoki tentu saja mengiyakan.

    Editor Kaizuka datang untuk memprotes Etsuko, kenapa ada banyak sekali catatan kaki di draft ini. Akan memakan banyak waktu membaca semuanya, penulisnya pasti tidak akan senang. Etsuko tidak sependapat, justru penulisnya harusnya senang.. dan lagi, Kaizuka sebagai Editor sudah lalai melakukan tugasnya karena tidak mengecek draft-nya terlebih dahulu tapi malah langsung mengirimnya ke departemen Proofreader.

Mereka berselisih paham, sampai Etsuko membercandai Kaizuka dengan memanggilnya Tako. Kaizuka kesal, namanya tidak ada Tako-nya.

     Takehara datang, mengomentari keakraban Etsuko dan Kaizuka. Etsuko mendapatkan galley baru, dari Fraulein Tokiko. Etsuko bersemangat sekali karena Fraulein Tokiko adalah orang yang terkenal di dunia fashion.

Kali ini ia akan mengerjakannya dengan sepenuh hati karena menyukainya.

      Di Lassy semuanya juga bersemangat karena Fraulein Tokiko akan menjadi penata gaya mereka mengisi beberapa halaman Lassy. Morio dan rekannya diberi tugas oleh wakil, membuat mereka harus lembur.

Morio dan Yukito main shogi, Morio menang 3 kali berturut-turut. Yukito kesal, tadi katanya Morio tidak bisa main.. kog sekarang menang terus?. (Shogi mengingatkanku dengan catur, yaelah.. saya pasti kalah kalau main catur, karena cuman tahu jalannya dan kurang greget di strateginya. XD )

Morio mengambil bir di kulkas, ia bergumam soal harusnya memiliki seseorang yang siap menunggumu di rumah. Yukito heran, jadi Morio berkencan dengan orang semacam itu?. Morio mengiyakan, hanya sekedar mengisi waktu luang.

Etsuko menelepon Yukito ketika Morio dan Yukito hendak tanding shogi lagi.

Etsuko dan Yukito janjian untuk ketemuan besok, pukul 7 di Showa retro. Etsuko tidak sabar, ia bingung memilih baju.

Etsuko penasaran sekali, ia ingin mengecek sendiri lokasi yang ada di essai Fraulein Tokiko . Tapi Kaizuka menyarankan tidak perlu melakukan yang seperti itu. Penampilan Etsuko kali ini benar-benar mencolok, bukan cocok untuk ke tempat kerja. Waktunya pulang, Etsuko memang sengaja berpenampilan seperti ini karena akan bertemu Yukito.

Di Showa Retro, Etsuko menarik perhatian wisatawan asing. Mereka meminta foto dan Yukito mengabadikan gambar mereka.

     Keduanya di taman hiburan. Yukito bertanya pertama-tama mau naik apa? Etsuko menajwab rollercoaster! Yukito menggandeng Etsuko. Di momen itulah Etsuko merasa dunia seakan berhenti karena perlakuan sederhana Yukito. Tapi tak berlangsung lama, Morio menghubungi Yukito memberitahukan kalau Fraulein Tokiko beberapa waktu lalu datang dan ingin melihat modelnya langsung. Tapi kalau Yukito tidak bisa datang tidak apa-apa.

Yukito merasa tidak enak hati harus meninggalkan Etsuko. Meski kecewa Etsuko menyuruhnya pergi saja karena Fraulein Tokiko orang yang hebat dan beruntung sekali bisa bekerjasama dengannya.

    Yukito pergi, ia pulang. Shesiru dan para pria makan bersama dan mengobrol. Mereka bertanya-tanya bagaimana kencannya.

Fraulein Tokiko menyatakan ia tidak akan pakai konsep yang diajukan Lassy. Menurutnya dari ketiga model, yang paling kiri badannya kekar seperti olahragawan, yang tengah lembut dan membosankan, dan yang terakhir (Yukito) wajahnya sedikit unik. Dia memutuskan konsepnya adalah Geng. Geng? Semuanya tercengan, terlebih Fraulein Tokiko ingin sudah selesai besok. Ia tidak ingin ada kesalahan dan jangan menyiakan waktu Fraulein Tokiko yang sangat berharga.

Yukito penasaran maksud konsep geng, apa yang pakai cerutu dan wine gitu? Morio membenarkan, ia lalu mulai kebingungan mencari wardrobe yang dibutuhkan.

    Etsuko menceritakan bagaimana Yukito menggandeng tangannya. Shesiru berkomentar soal kencan mereka ini aneh, pendekatan keduanya seperti anak SMP dan agaknya hubungan mereka akan berjalan lamban. Keduanya menghela napas pasrah. Etsuko penasaran bagaimana pacarnya Shesiru, Shesiru bilang pacarnya adalah pria Italia biasa dan punya kepribadian sopan membosankan.

Etsuko kagum, lantas dalam berkomunikasi mereka menggunakan bahasa apa?. Shesiru menjawab, Setengah Jepang dan Italia. Etsuko memuji Shesiru yang keren karena bisa bahasa Italia, Shesiru merendah.. tidak kog.. hanya percakapan dasar saja.

Morio berkeliling  mencari barel anggur namun ke banyakan tidak memiliki.

    Takehara mempertanyakan perkembangan essai milik Fraulein Tokiko, ia juga mengajak semuanya istirahat makan siang. Fujiwa dan Yoneoka tahu kalau Etsuko sudah selesai dengan essai tersebut sejak lama, namun sekarang ia sibuk mengecek faktanya lewat internet. Dan tentu saja ada batasan tertentu ketika melakukan hal tersebut. Etsuko merasa tidak puas denga hasil pekerjaannya, bagaimana kalau nanti malam ambil jadwal pemberangkatan ke Italia?

Tidak mungkin. Ia sadar.

Shesiru menelepon Etsuko untuk memberitahukan Fraulein Tokiko sudah ada di gedung ini. Keduanya berbicara formal. Etsuko langsung mengejar Fraulein Tokiko.

Di elevator Etsuko bertemu dengan Morio, terkejut melihat Morio denga barel anggur. Morio berhasil mendapatkannya setelah berkeliling 12 tempat. Etsuko lalu memuji-muji Morio.

Fraulein Tokiko datang, semuanya menyambutnya. Fraulein Tokiko melihat property, kenapa ada koper dan barrel anggur segala?, keduanya tidak ada dalam daftar. Barang-barang yang tidak dikonfirmasikan ke Fraulein Tokiko. Morio bertanggung jawab atas tersebut, Fraulein Tokiko marah padanya, hanya buang-buang waktu dan tidak ada gunanya. Ia kemudian pergi.

     Etsuko cukup kecewa, ternyata Fraulein Tokiko tidak seperti yang ia pikirkan. Fraulein Tokiko menuju elevator, Etsuko mencegahnya dengan kata-kata. Sebenarnya siapa Fraulein Tokiko? Tidak ada yang tidak berguna di dunia ini. Etsuko membelas Morio, Morio merasa tidak enak. Fraulein Tokiko bertanya apa Etsuko juga dari Lassy? Etsuko menjawab ia dari Proofreader dept. Kemudian Fraulein Tokiko mencela Etsuko karena sudah menyalahi tempat, bukan dari Lassy tapi di sini.

   Etsuko menyesal karena mengatakan sesuatu yang tidak pantas tadi. Ia meminta maaf pada Morio. Morio tidak apa-apa. Lalu Etsuko mengambilkan salah satu majalah yang ada Fraulein Tokiko nya,  saat itu Fraulein Tokiko adalah asisten dan berlari kesana kemari mencari properti, sayangnya tidak ketemu. Putus asa, sampai ia berniat berhenti dari pekerjaannya. Kemudian Fraulein Tokiko membuat tambal sulam kotak-kotak untuk digunakan dalam pemotretan.

Jadi tidak ada yang sia-sia, untuk permulaan itu seharusnya bisa dimaklumi. Belajarlah dari kejadian ini untuk masa depan. Dari konsep pemotretan untuk mengatur alat peraga. Aku yakin dengan begitu kau akan menjadi stylist yang dapat melakukan segala arah. Itu tertulis dalam esai di Lassy.

Etsuko menyarankan Morio membuat semacam ini untuk Fraulein Tokiko. Etsuko bersedia membantunya.