Magenta Lilac – Part 7

Setelah bersih-bersih rumah mereka berdua ke super market. Siang itu matahari di kota mereka terlihat temaram karena tertutup mendung.

   “Semalam tidur kamu nyenyak?” Tanya Amar hati-hati.
“Kalau tidur tanpa bermimpi disebut nyenyak, maka jawabannya adalah nyenyak.”
“Bagaimana kalau mulai sekarang aku antar jemput kamu Sab..”
Sabina terdengar menghela napas mendengar tawaran Amar. Sebelumnya Faizal menghubunginya bahwa mobilnya akan ia pakai sementara waktu. Sabina seperti tidak punya pilihan lain.
“Kantorku dan perusahaan kamu jauh letaknya. Tidak usah, malah merepotkan kamu.”
Seulas senyum terlihat di wajah Amar. Sebenarnya Sabina sedang menolak secara tidak langsung.
“Aku tidak merasa kerepotan, berarti kamu setuju?”
Sabina mengendikkan bahunya. Kali ini ia memutar radio di mobil, memilih-milih stasiun radio yang memperdengarkan suara Daffina.
“Menolak juga pasti percuma.”
Mereka memasuki pusat perbelanjaan. Rencananya mereka akan membeli persediaan bahan makanan selama seminggu. Amar mengambili beberapa jenis buah, Sabina berputar di bagian daging ikan. Ia ambil semua jenis daging, ia rasa Amar tak pilih-pilih dalam hal makanan. Ia suka memasak, dapur Amar sangat cantik menurutnya dan menbuat betah namun ia tak ingin Amar mengetahui isi pikirannya. Mereka banyak membeli barang dan bahan makanan.
“Kamu suka makan apa?” Tanya Sabina ketika melihat-lihat sayur mayur. Amar membolak-balik sawi.
“Semua masakan yang kamu buat.”
Sabina memelototinya karena Amar seperti mengajaknya bercanda.
“Maksudku kamu ada alergi apa? Sekiranya bahan makanan apa yang bisa membuat perut kamu sakit dan sebagainya. Tidak lucu kalau kamu terbunuh atau keracunan secara tidak sengaja olehku..”
Amar suka ini, Sabina masih memikirkan kesehatan Amar meski kelihatannya selalu jahat dan judes padanya.
“Kalau telat makan biasanya aku maag. Semua jenis masakan aku tidak masalah. Tapi lebih suka jenis sup dan masakan berkuah. Kamu belajar masak dari siapa? Masakan kamu enak Sab.. aku mengatakan ini bukan karena perasaanku, tapi ini beneran enak..”
Sabina mengambil bayam merah dan kangkung. Ia tak terlalu mendengarkan Amar.
“Tinggal di luar lama terpaksa harus bisa masak karena masakan luar tidak semuanya cocok. Otodidak tepatnya.. kalau kurang kurang tinggal tanya ke Mamah atau Kak Makki.”
“Aku benar-benar ingin melihat kamu memasak.”
“Apa istimewanya? Itu cuma memasak.. semua orang bisa.”
Mereka bergeser ke stan sayuran lain.
“Tentu saja istimewa. Kamu memasak untukku, apa pernah kamu buat makanan untuk pria lain?”
Amar harap dirinya adalah yang pertama Sabina masakkan. Sabina menoleh sebentar lalu memilih sayuran lagi.
“Pernah, teman satu flat aku laki-laki. Bisa dibilang hampir tiap hari aku memasak untuknya. Faizal, Kang Arip, Attar… kamu jangan ge-er lah..”
Disaat itulah seorang wanita berambut pirang datang mendekati Amar. Monika Liliana dan sering mendapatkan julukan Moli karena namanya dan tingkahnya tidak sinkron.
“Mas Amar! Tidak disangka-sangka kita ketemu di sini.. aku masih merasa enggak enak asal nyelonong ngikut Mas kemarin. Aku traktir kopi deh sebagai gantinya..
“Eh, aku ikhlas kog Mon..”
“Duh, jangan gitu… ehm, Mas Amar ke daerah itu ada urusan apa ya?”
“Jemput istriku, Sabina…”
Panggil Amar pada Sabina. Moli mengerjapkan matanya kaget. Wanita berhijab coklat krem itu istrinya Amar?. Sabina sendiri malas menggapinya.
“Nikah? Kapan Mas Amar nikahnya? Kog gak ngundang aku sih? Kapan pacarannya ya? Mas Amar kelihatannya sibuk terus di perusahaan tuh?”
Moli memiringkan kepalanya heran, Amar sudah menikah? Apa-apa’an ini? Monita syok berat.
“Oh, kami LDR an. Iya ‘kan sayang? Komunikasinya kalau malam, dia di luar negeri soalnya. Aku banyak mengalahnya, namanya juga sudah terlanjur sayang dan cinta.”
Sabina dan Moli bersalaman canggung. Moli tidak akan membiarkan ini, bisa saja Amar berbohong. Amar menikah dengan wanita serba tertutup ini? Moli rasa ia lebih cantik dan seksi ketimbang Sabina.
“Ya sudah ya Mas, aku pergi dulu, enggak enak ditungguin temen.”
Sengaja Moli tidak pamit pada Sabina.
“Fans kamu cantik.”
Komentar Sabina hambar ketika kembali memilih sayur mayur.
“Cuma teman Sab..”
“LDR? Memangnya kita pernah pacaran? Haha.. lucu…”
Tawa Sabina meledek Amar.
“Anggap saja begitu. Meski ku pikir hubungan kita selama ini lebih parah ketimbang LDR an..”
“Kamu sendiri yang membuatnya sulit. Risiko selalu ada.”
“Selalu ada happy ending atas setiap jerih payah dan kesabaran. Buktinya sekarang kamu jadi milikku..”
Amar tersenyum manis sekali pada Sabina. Sabina menatap Amar dengan datar.
“Milikmu? Enggak salah dengar? Aku milik Allah S.W.T!”
“Sabina memang miliknya Tuhan yang dititipkan ke Amar untuk dijaga..”
Balas Amar tak mau kalah. Sabina mendorong troli menjauhi Amar. Amar menahan senyumnya mengikuti istrinya.
“Sudah beli gula tadi ‘kan? Jangan bikin teh tawar lagi ya..”
Sabina tidak menggubrisnya.

***

Sebulan berlalu, rumah mereka sudah diatur dan banyak perabot rumah pada umumnya, Sabina mengatur dekornya dibantu Makki yang kebetulan adalah desainer interior dan sedang tidak banyak ambil job karena fokus pada kehamilannya, mengikuti senam bumil, pilates untuk ibu hamil, dan berbagai kegiatan mencerdaskan si jabang bayi lainnya. Sabina kini diantar jemput oleh Amar. Hubungan mereka masih sepah sepah asam dan tak banyak perkembangannya. Sabina sangat defense pada Amar. Amar heran entah apa motivasi Sabina bisa bertahan seperti itu. Ini melelahkan namun Amar pikir tak jauh lebih menyakitkan ketimbang diabaikan atau berjauhan dengan Sabina.
Di sebuah restoran china keluarga. Arip sebelumnya sudah booking ruangan sendiri. Attar dan Arip mengajak Amar bertemu. Attar di kantor memang sudah sering mengabarkan Sabina pada Amar, Arip sendiri baru pulang dari perjalanan kerjanya. Arip adalah arsitek handal yang karya diakui banyak orang. Jika sedang duduk diam dan membaca dari tabletnya seperti sekarang ini takkan ada yang menyangka bahwa dia gay. Arip hanya bertingkah kemayu didekat Attar, Sabina, dan Makki. Bertambah satu lagi yang tahu jati dirinya, Amar tahu dan tak jadi masalah karena Amar orangnya baik dan mudah menerima perbedaan. Bisa dipercaya dan Arip pikir di poin-poin seperti itulah yang membuat Sabina jatuh hati pada Amar dulu. Seseorang yang memiliki pandangan hidup kuat namun tetap luwes terbuka pada pemikiran lain.
“Tapi Amar sudah tahu belum.. kalau kita ini jadian?”
Attar menatap Arip yang sedang memilih menu dari tab di meja. Pelayan Restoran ini akan membawakan menu dari pesanan pelanggan yang dipilih dari tab di meja, letaknya terbenam di dalam meja dengan kaca sebagai pembatasnya.
“Tahu dari mana? Sepertinya belum. Sabina juga bukan tipe orang yang rumpi sana sini. Tapi nanti aku akan bersikap jadi laki-laki saja. Agak kurang enak pertemuan awal kami dia sudah langsung tahu aku yang lembek dan kemayu.”
“Kamu enggak naksir Amar kan?”
Arip mendongak sebal pada pria rambut keritingnya ini.
“Attar.. Attar, Attar… honey bunny sweety?!. Amar itu memang double perfect dan sayangnya hanya cocok untuk Sabina. Lagipula aku juga bukan pelakor, Amar itu normal.. kamu ini ada – ada saja mikirnya. Yang justru khawatir harusnya aku, karena kamu sepertinya masih doyan perempuan.”
Attar tersenyum penuh kemenangan. Kaum mereka memang tidak mudah diterima di negeri timur apalagi negara mereka ini. Namun tak menutup kemungkinan komunitas mereka selalu ada. Pertemuan mereka pun dari sana.
“Ya.. tergantung perempuannya seperti apa Rip? Kalau model Sabina aku tidak tertarik. Yang seksi dan serba terbuka gitu.. baru menggoda iman.”
Arip hendak menyiramkan air mineral di gelas ke wajah Attar. Attar menahan tangan Arip dan tersenyum manja padanya. Arip pun luluh.
“Jangan ngomong seperti itu di depannya Sabina! Dia akan mencarikan perempuan yang kamu mau kalau sampai tahu! Ngerti?!”
“Oke boss!!”
Amar datang, mengambil duduk di depan Arip dan Attar yang bersebelahan. Amar tak menyangka Arip kenal dengan Attar. Jika sebelumnya Amar sedikit merinding dengan kecentilan Arip.. nampaknya kali ini Arip tidak akan bersikap kemayu.
“Eh Amar.. selamat datang! Kalau kita kumpul srperti ini, kita bertiga menjadi.. Triple A! Attar, Arip, Amar. Ayo kita buat grup vokal atau boyband sekalian! Sabina pasti seneng.”
“NO!”
“NO!” Jawab Attar dan Amar bersama’an.
“Hufufufu.. cuma bercanda, kalian mana bisa nyanyi sambil nari? Hahaha!”
Pelayan datang membawakan pesanan untuk tiga orang lalu undur diri.
“Jadi ada apa kalian ngajakin ketemuan?”
Amar bertanya sembari mengaduk mie di mangkuk.
“Bagaimana kamu dan Sabina sekarang? Masih dijutekin? Ya begitulah Sabina sepupu aku yang aneh itu.. tapi dia masih bersikap baik kan? Masih mau mengurus rumah dan masakin kamu. Meski tidak nyaman sebenarnya dia sedang berusaha untuk menjalaninya karena sadar dirinya yang ingat Amar akan bersikap baik. Atau setidaknya ia hanya berdarma antar manusia.”
Ucapan Arip ada benarnya juga. Amar sungguh ingin merasakan perhatian Sabina bukan sekadar formalitas semata apalagi berdarma. Attar juga ikut bicara setelah Arip.
“Bener! Selabil ataupun emosiannya dia.. cara menghadapinya sebetulnya mudah, jangan dibikin sakit hati. Bersikaplah halus dan lembut padanya, lakukan apapun yang dia sukai dan jauhi apa-apa yang Sabina benci. Sabina akan menjadi kelinci putih yang manis jika sudah luluh.”
Arip melirik Attar sebal. Idenya ada benarnya juga namun akan jadi pepesan kosong saat ini.
“Sayangnya baginya sekarang apapun yang Amar lakukan adalah salah sih Tar.. kamu yang kuat ya Amar.. semangat!”
“Insha Allah..”
Arip memandang Amar iba. Kagum juga betapa sabarnya Amar menghadapi Sabina.
“Aku cuma tahu ceritanya sedikit sih Mar, tapi aku cukup paham kalau Sabina memang agak sakit hati karena kamu.. yah… meski bukan sepenuhnya salah kamu. Perempuan susah dimengerti..”
“Aku bisa menunggu dia kembali lagi Kang Arip..”
“Kalau kamu sudah dapatkan hatinya Sabina… dia akan jadi penambat hati yang lara serta sebaik-baiknya tempat untuk bernaung, tahu gak Amar? Kalau aku suka perempuan maka aku akan mencari yang seperti Sabina. Untuk urusan berumah tangga kurasa adaptasi masing-masing kalian  takkan sulit, sudah sama-sama dewasa juga. Kalian juga bukan anak kecil lagi, Amar sangat sabar orangnya. Cuma.. sayangnya Sabina sedang agak kurang beres.”
Amar memiringkan alisnya. Apa ini? Jadi Attar juga mengetahui Arip gay? Arip salah tingkah kemudian mengoreksi.
“Maksudku tentu untuk dijadikan istri aku akan mencari yang seperti Sabina lho Attar Amar!. Haha..”
Attar menyenggol kaki Arip karena kesal nyaris terbongkar hubungan mereka.
“Setuju dengan Arip, menurutku serumit apapun kalian sebelum nikah.. Sabina yang dulu pasti akan menganggap itu hanya sekadar angin lalu. Dia pasti bisa memaafkan kamu.. tapi takkan semudah itu.. tentu butuh proses. Sekarang Amar ada disisinya.. hadiah terindah apa lagi coba?”
“Ayo makan!” Sergah Arip atas pembicaraan itu.
Amar lama sudah mengetahui hal tersebut akan terjadi. Permasalahannya adalah kapan Sabina akan pulih dan memandangnya sama halnya dengan cara Amar memandangnya.

***

Di kantor siang itu Sena si betty laveanya kantor, karena ia suka mengatur rambutnya kuncir kelabang dua dan memakai kacamata berframe tebal, giginya pun berbehel pelangi. Jika tersenyum suasana menjadi ramai sekali.
Sabina dan Sena baru selesai meeting untuk konsep dan materi buletin perusahaan mereka. Sena menarik Sabina ke lorong yang sepi.
“Dengar-dengar Mba’ sudah punya suami ya? Kog tidak ada undangannya? Nikah siri? Atau…”
Sena terperangah kaget dengan pemikirannya sendiri. Ia menutupi mulut dengan kedua tangan dan melihat ke perut Sabina yang datar. Sabina mengerti kemana arah pembicaraannya.
“Mbak Sabina tekdung duluan? Astagfirullah Mba’… Mba’ itu idola aku di kantor, sholehah dan gak neko-neko orangnya dan kelihatan kalem anggun begini, tadinya mau aku jodohin sama abang aku.. ta-tapii… katakan padaku ini gak bener kan Mba..? Siapa yang tega berbuat ini pada Mba’ Sab? “
“Kamu jangan berpikir yang macam-macam. Aku memang sudah nikah pas di Rumah Sakit Sen, jadinya belum diraya’in. Hamil apa’an?”
“Mba’ nikah sama siapa?”
Sabina mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Amar bersama Faizal. Seketika Sena terlonjak dari tempatnya berdiri.
“Mas Amar?! HRD perusahaan yang di sana itu? Woah!! Aku fans dia lhoh Mba’.. bisa tolong ketemukan dengan Mas Amar?”
Wajah Sena berubah menjadi fans fanatik labil. Sabina heran dari mana sifat alay Sena itu?.
“Sena…”
“Iya Mba’ Sabina?”
“Mulai hari ini kita enggak usah kenal ya? Kalau ketemu di jalan aku abaikan saja.. jangan  sapa aku!”
“Ya ampun Mba’… mana mungkin aku tidak suka Mas Amar? Cakep berdedikasi begitu.. kelepek kelepek aku lihat dia.. ayolah Mba’ Sab… yaaaa? Pliis.. Mba’ tinggal di mana sekarang. Rumahnya kalian pasti bagus kan?”
“Enggak!”
Sabina berjalan menuju ke toilet. Sena masih memaksanya.
“Kamu kenal Amar dari mana?”
Sabina mencuci tangannya di wastafel dan melirik Sena yang wajahnya tiba-tiba memerah.
“Sewaktu dulu sebelum kerja di sini aku pernah interview sama Mas Amar, aku salah tingkah dan ngeblank. Grogi banget Mba’.. ganteng banget! Senyumannya itu lho.. tinggi, kulitnya putih tapi putihnya laki banget, alisnya tebel, wajahnya menenangkan.. rambutnya.. ah Mba’ Sab… membayangkan saja aku tersipu-sipu Mba’..”
Sabina hanya mendengarkan tanpa tertarik. Sena berhalusinasi.
“Gimana ya rasanya dipeluk Mas Amar? Ya ampun.. Mba’ Sab?? Pasti Mba’ Sab selalu kangen dengan Mas Amar ya? Kalian cocok!”
Sena memukul-mukul manja pada bahu Sabina.
“Sena… kamu bersedia dipoligami dia tidak?”
Sena membuka mulutnya lebar karena kaget dengan pertanyaan seniornya.
“Mau sih mau.. tapi melihat Mba’ Sab yang seperti ini…”
Sena melihat Sabina dari atas ke bawah kembali lagi ke wajah dan kecerdasannya dia menjadi minder.
“Tapi kayaknya Mas Amarnya yang enggak mau deh..”
“Jangan bahas dia lagi. Ayo balik! Kita dikejar deadline.. kelihatannya kemarin kamu kepengen sepatu yang seperti punya Jen kan? Akan kubelikan kalau kerjaan kamu bagus”
“Yes! Mba’ Sab memang yang terbaik!”
Sena mengekor Sabina keluar dan masih sedikit bingung. Apa Sabina sedang marahan dengan Amar?.

***
Di rumah petang itu Sabina duduk di teras belakang membalasi e-mail orang-orang. Ia tersenyum karena Kahfi panjang menuliskan bahwa ia akan kembali ke Indonesia secepatnya karena kangen dengan Shafa. Setahu Sabina temannya itu sedang sibuk mengisi kajian anak-anak dan remaja. Shafa adalah pendakwa muda, usianya 27 tahun seperti Sabina. Sangat aktif dalam mengurusi anak-anak jalanan di rumah singgah dan panti asuhan. Menurut Shafa merawat itu selalu lebih sulit dan mulia. Bantuan sekadar momentuman seperti bedah rumah atau pembangunan sehari rumah bobrok tak banyak membantu meski kelihatan wah diawalnya lalu ditinggalkan begitu saja. Shafa selalu tertantang untuk menanamkan pola pikir yang baik dan membantu merawat. Sabina kagum sekali pada temannya itu, tak khayal seorang Kahfi bisa jatuh cinta padanya. Jum’at depan kebetulan tanggal merah, ia akan menemui Shafa dan Kahfi. Tepatnya mempertemukan mereka.
Amar mendekati Sabina. Ia memperhatikan Sabina asyik dengan ponselnya,
“Besok bisa pulang cepat? Attar bilang kamu bisa pulang awal.”
“Kenapa? Aku bukan guru SD yang bisa pulang pukul 12 ya.. paling cepet aku pulang jam 4 sore.”
Sabina menatap Amar yang kini duduk di sampingnya.
“Aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Izin ke Attar jam 3,”
Tanpa Sabina sadari ponselnya diganti Amar. Lalu Amar menyelipkannya ke sakunya dan pergi ke dalam sambil bersiul-siul. Buru-buru ia berlari ke dalam kamarnya sendiri. Ia akan mengecek isi ponsel Sabina.
yang pertama kali ia lakukan adalah mengirimkan pesan ke ponselnya [ Sayang, kamu harus tepat waktu pulangnya. Kalau ingin ponsel kamu kembali.. 😉. Kamu tidak penasaran isi ponsel suami kamu? Silakan, diantara kita jangan ada rahasia. Kalau kamu mau aku akan kasih semua pin ATM aku lhoh.. 😙 minta saja, pasti aku kasih.]
Di luar Sabina tampaknya baru menyadari ponselnya ditukar. Sabina tergesa masuk ke rumah dan menyambangi kamar Amar. Ia gedor pintu kamar suaminya itu.
“Amar! Balikin hapeku sekarang!”
“Tidak bisa, aku balikin besok. Kamu pasti tidak akan lupa kata sandi dan e-mail kamu kan? Kalau ada yang hubungi kamu nanti aku kasih tahu. Selamat malam Sab…”
Sabina terpaksa kembali ke kamarnya dan membedah isi ponsel Amar daripada ia banting atau lemparkan ke kolam renang.
Sabina duduk di karpet bawah bersandar pada pinggiran kasur. Ponsel ini terlalu besar untuk tangan Sabina namun pas untuk genggaman Amar. Tidak disandi, wallpaper depan dan latar belakangnya adalah foto Sabina ketika di Jerman.
Notifikasi WA nya kebanyakan dari perempuan dan ditanggapi Amar dengan sopan. Sabina pikir Amar juga lebih banyak berkomunikasi via e-mail jika menyangkut pekerjaan.
Pertama-tama Sabina membaca pesan WA dari segerombol perempuan.
[Mas Amar makan siang yok! Malam minggu Mas sibuk?😉]
[Mas, komputer di ruang meeting agak ngadat. Tolong hubungi Kang Pino ya? Tadi aku telfon gk diangkat. Mas Amar tadi keren pas mentoring anak-anak baru😄. Kemejanya cocok buat Mas. ]
[Amar.. tolong ambilkan berkas di meja Pak Toni. Nanti siang makan bareng kuy! Qm potong rambut ya? Ganteng.. tapi cuma rambutnya.. 😛 hehe 😊]

Dan masih banyak lagi modus sejenis. Sabina menghembuskan napasnya sebal.
“Fans kamu terlalu banyak. Aku akan punya haters banyak karena mereka pikir aku merebut Amar dari mereka.”
lalu ia beralih ke media. Video dan foto-foto Amar. Terlihat video Amar mengecek ikan-ikan di pelabuhan, Amar tanpa sadar ketika membrifing beberapa karyawan. Foto Amar berselfie dengan lelaki berkamata dan rambut klimis, ketika Amar jalan-jalan di daerah pedalaman. Kemudian Sabina melihat galeri khusus fotonya, Sabina menghela napas panjang melihat potretnya sendiri di ponsel Amar. Banyak sekali. Ada apa dengan jenis pemujaan ini?
Sabina lalu mengirimkan pesan ke Amar. Nama Sabina di kontak Amar adalah Sabina-ku. 
[Mas Amar, kamu boleh membaca semua di hapeku tapi jangan membalasi e-mail apapun!]
[Hei.. kamu memanggilku mas lagi! Hip hip horey! 😄. Tentu, aku menghargai privasi kamu.]
[Kamu yakin kamu bukannya terobsesi padaku? Tolong bedakan antara cinta dan terobsesi.. nyaris 1gb fotoku di ponsel ini!! Jangan bilang di laptop kamu ada lebih banyak lagi! Dasar penguntit!!😡]
[di hape kamu juga ada banyak fotoku. Kita impas. Itu cinta… 209% haqqul yaqin sayang…😜]
[Tapi aku tidak cinta kamu sekarang 😑]
[Kamu lagi amnesia, aku yakin kamu juga cinta aku tapi lebih banyakan aku sih.. 😎 . Sudah.. sudah… selamat tidur Sab. Mimpi yang indah indah ya.. mimpikan aku!. Aku akan mimpikan kamu juga.. 😶 kamarku selalu terbuka untuk kamu, hayuuk ah.. aku bosen tidur sama guling terus..😙😘😚]
[😨STOP IT!! 😧😧😧 I have nightmares 😒]

Amar ingat saat di rumah sakit Sabina mengatakan ia menulis semacam diary di draft e-mailnya. Tapi yang terbuka di ponsel adalah e-mail kerja.. jadi Amar tidak bisa melihatnya. Sepertinya Sabina memiliki banyak alamat surel.
Akhirnya ia hanya melihat-lihat galeri dan akun WA Sabina serta media sosialnya.

***
Sabina ke ruangan Attar menyerahkan daftar buku yang akan segera diterbitkan ulang dan beberapa buku dari penulis baru. Sabina meletakkannya di meja dengan kasar sampai Attar kaget.
“Attar! Kamu dibayar berapa oleh Amar untuk jadi mata-mata aku di sini?”
“Kamu jahat Sab sama Amar. Aku belum pernah melihat kamu memperlakukan orang sejahat itu. Ayolah sadar.. kamu dulu cinta sekali pada Amar. Maafkan dia..”
“Aku izin pulang jam 3, sepuluh menit lagi. Kerjaan sudah beres, besok aku ada meeting dengan Dior. Soal kolom kedaerahan aku akan cari penulis lepas yang jago mereview wisata di daerah.”
“Sip, silakan pulang Sab. Amar sudah nunggu di bawah sepertinya.”
“Aku pamit ya Tar.. “
Sabina keluar dari ruangan Attar dan menuju lift. Menekan tombol lantai dasar, ia bersama beberapa orang lainnya. Sampai di lobi dan menyaba beberapa orang serta resepsionis. Ia berjalan mendekati mobil Amar.
Amar dan Sabina bertukar ponsel. Amar kemudian kembali ke jalan raya.
“Sayangnya kita tidak pernah foto mesra berdua Sab…”
“Aku bisa pura-pura kalau kamu ingin.”
“Aku tidak mau kamu pura-pura.. “
“Kita ke mana? Kencan?”
Amar tidak menjawab. Entah mengapa Sabina merasakan aura yang berbeda dari Amar. Amar sedikit sedih?
Mereka sampai di komplek pemakaman. Tanpa Sabina bertanya lagi ia tahu ke mana tujuan Amar. Makam ayah dan ibunya Sabina. Sesampainya di pusara yang terawat rapi dengan rerumputan jepang. Faizal biasanya kemari seminggu sekali namun Sabina nyaris tak pernah kemari. Faizal tahu kakaknya akan menangis tersedu jika kemari.
“Kata Faizal kamu jarang kemari. Tapi aku yakin kamu tidak pernah putus mendo’akan mereka.”
Sabina tidak menanggapinya. Ayah dan ibunya dikuburkan satu liang. Namun mata Sabina sudah berkaca-kaca. Ingatan malam itu kembali lagi.
“Mereka selalu mengawasi kamu, kamu sudah menjadi Sabina yang baik. Mereka pasti bangga puteri mereka tumbuh cantik dan sebaik ini.. jika diberi kesempatan aku akan senang sekali berterima kasih pada mereka karena mereka sudah merawat Sabina dan membuatku bahagia di dunia ini.”
Sabina tetap tak bergeming. Amar mulai mendo’akan mereka dan Sabina mengamininya dalam hati.
Mereka berdiri dan disaat yang sama Faizal datang. Sabina sudah berurai air mata menatap Amar tajam.
“Aku tidak suka kamu kasihani seperti ini..”
Amar memegang bahunya lembut dan balik menatapnya sayang.
“Sabina.. aku tidak mengasihani kamu. Aku melakukan ini karena aku menyayangi kamu, harus aku bilang berapa kali agar kamu percaya aku mencintai kamu?”
Sabina melepaskan diri dari Amar dan memeluk Faizal. Dengan susah payah Sabina bicara pada adiknya.
“Zal.. jangan berpihak pada Amar sekali ini saja. Aku mohon…”
“Maaf Mas Amar, kami duluan ‘ya? Permisi..”
“Baik Zal.. hubungi aku nanti.”
“Iya Mas..”
Keduanya pergi meninggalkan Amar sendirian. Amar mendongakkan wajahnya ke langit, bulir bulir rintik hujan membasahi wajahnya. Ya Rabbi.. kuatkanlah aku, kembalikan ingatan Sabina.. aku akan melakukan apa saja untuk menebus salahku padanya.
     Amar kembali ke rumah. Ia membuka pintu rumahnya ia berdiri di ambang pintu menatapi rumah yang ia bangun sudah berubah banyak berkat didekor Makki atas keinginan Sabina. Rumahnya bercat nila dan menimbulkan suasana tenang damai. Sayangnya Sabina tidak pulang kemari.
    “Ini bukan rumah… Tanpa Sabina di dalamnya ini bukan rumah…”
Amar terduduk lemas di sofa. Namun ia takkan menyerah dan melepaskan Sabina.

NB:
Sebelumnya Adinda inbox tanya ini cerbung mau berapa part? Lanjut dong.. Menurut dia Sabina keterlaluan dendamnya ke Amar, berlebihan. *hahaha!

Jawabnya 9 part kelar. Biarin.. kalau Sabina sejak awal baik pada Amar, nanti saya nulis apa coba? Wkwk.. show must go on, dan saya memilih mengorbankan Amar disegala situasi.

Magenta Lilac – Part 6

Amar sampai di pelataran depan kantor Sabina. Pukul 16.47 jam bubaran kantor kebanyakan di kawasan bisnis tersebut. Amar kemari tidak sendiri, ia memberi tumpangan pada Moli rekan kerjanya yang kebetulan ada urusan di sekitar sana. Wanita berambut pirang buatan dan terlihat centil seperti Arip tersebut keluar dari mobil Amar dan bersalaman dengan Amar sebelum pergi. Amar sopan menanggapinya. Sabina memperhatikannya dari kejauhan dengan memicingkan mata. Senyuman wanita itu aneh sekali, jelas sedang menggoda Amar.

Sabina berpikiran bahwa Amar jika tak sebaik ini sebenarnya sangat berpotensi besar menjadi playboy, terlebih dengan kondisi finansial serta wajahnya yang tak berdosa itu. Membuat Sabina muak melihatnya.

     Sabina mendekati mobil Amar dan masuk ke kursi sebelah Amar. Amar tersenyum menyambutnya, Sabina hanya menatapinya malas.

    “Siapa tadi? Selingkuhan kamu?”

Amar diberi pertanyaan ketika hendak memutar arah mobil.

     “Kenapa? Kamu cemburu?”

Tanya Amar santai. Sabina menyeringai mendengarnya.

     “Enggak, aku malah seneng kalau kamu selingkuh. Apalagi kalau sampai ada niatan poligami. Alhamdulillah sekali Amar.. bagus! Aku tidak perlu susah susah melahirkan anakmu. Lalu KB, hormon membludak dan susah payah menurunkan berat badan. Lalu kamu selingkuh dengan alasan sudah tidak cinta lagi, padahal kamu mau enaknya saja ‘kan? Laki-laki itu kebanyakan seperti itu. Mereka selalu ada kecenderungan untuk berkembang biak. Hebat!”

Sabina bahkan mengacungkan kedua ibu jarinya pada Amar dan bertepuk tangan.

Amar langsung menoleh sesaat lalu kembali menyetir fokus pada jalan, Sabina memanggil namanya tanpa Mas. Kenapa pula pembahasannya bisa menjadi sejauh ini? Ya.. dia bisa memaklumi ini karena Sabina tidak dalam mode jatuh cinta padanya. Maka dari itu Sabina memandangnya sebagai bagian dari laki-laki pada umumnya.

     “Kamu mau ngajakin berantem? Apa? Amar? Aku dua tahun lebih tua dari kamu ya Dek.., aku tidak seperti itu Sab, kamu satu dan untuk selamanya, bagiku kamu yang paling cantik di mataku.”

     “Kamu bisa dapetin yang lebih cantik dari aku. Aku ini cuma istri istrian kamu. Masih ingat kata-kata ku sebelumnya? Siap-siap dapat istri kurang ajar. Aku sudah memulainya pagi tadi dan akan berlanjut lagi.”

Amar masih berusaha bersabar. Langit mulai mendung, petang ini kendaraan di jalanan sudah banyak memicu kemacetan. Amar akan melalui jalan lain yang tak begitu macet.

     “Kamu harap aku akan bilang cerai kan? Tidak akan pernah..”

Sabina menatap Amar lama sekali. Suaminya bisa marah tidak sih?. Tapi saat ini ia tak terkesan sama sekali.

     “Makanya, poligami saja sana… kamu tidak lihat tadi dia? Sudah cinta mati sama kamu. Aku yakin kamu tinggal menjentikkan jarimu lalu para wanita baris mengantri.”

     “Tapi aku cintanya sama kamu..”

     “Terserah.”

Sabina kemudian menyilangkan kedua tangannya dan menatapi kendaraan lain di kirinya. Diam-diam Amar memperhatikannya, sepertinya ini kebiasaan Sabina jika tak ingin bicara dengannya.

Seseorang tolong pasang termometer suhu diantara mereka, berapa derajat celcius pertengkaran mereka tadi?

                                    ***

     Sesampainya di rumah, terlihat banyak mobil. Sabina menduga semua orang datang untuk menyambutnya. Bagaimanapun juga pulang ia langsung ke rumah Amar. Benar saja, ketika Amar membuka pintu Makki langsung memeluknya. Ayah dan Ibu juga di kursi duduk kemudian beranjak memeluknya. Ikrom hanya tersenyum pada Sabina. Faizal melambaikan tangannya sementara ia sibuk dengan laptopnya di bawah. Tama dan Tomo duduk di sofa kemudian beranjak dan menyalami Sabina. Ayah dan Ibu Amar juga menyambutnya.

Sudah banyak makanan tersedia di meja. Kebanyakan makanan favorit Sabina.

    “Aku ke atas dulu ya..” kata Sabina. Amar meladeni seluruh keluarga sementara Sabina naik ke lantai atas. Meski agak kesal, ia sedikit terharu dengan kehadiran mereka semua.

Ketika turun ia dengar Faizal dan Amar mengobrol mengintip kolam renang di belakang.

     “Ckckck, Mas Amar! Enggak ada gunanya juga rumah dikasih kolam renangnya Mas! Kak Sabina itu tidak bisa renang.”

Kata Faizal mengomentari kolam di belakang. Amar baru tahu ternyata Sabina tidak bisa renang.

     “Masa’ sih? Nanti aku ajarin dia, gampang lah.. iya kan Sab?!”

Sabina turun ke bawah, di sana ia memelototi Amar dan Faizal. Amar hanya tersenyum melihat ekspresi lucu Sabina.

     “Yang ada kakak malah ternak lele di sini Mas.”

     “Ide yang bagus Zal, besok aku akan pelihara aligator atau piranha sekalian.”

Mereka kemudian makan malam bersama dan bercengkrama. Sabina banyak tersenyum dan bercanda. Amar selalu memperhatikannya tanpa ia sadari. Jika bisa ia juga ingin sehangat itu mengobrol dengan Sabina, bukan berdebat dan adu argumen atau balas kata-kata.

     Pukul 21.40 mereka semua pamit pulang. Sabina kembali mengabaikan Amar, ia naik ke kamarnya meninggalkan Amar tanpa sepatah kata pun. Amar menghela napas pelan menatapi punggung Sabina menjauhinya.

                                    ***

    Hari itu Minggu, Sabina pagi itu belum memasak. Ia malah berjongkok di dekat kolam ikan koi yang air mengalir dan memercik berkat air terjun mini. Ia mengamati ikan ikan koi dan sesekali melemparinya makanan ikan.

Amar selepas jogging di sekitaran kembali ke rumah dan mencari Sabina. Sabina masih dengan piyama kotak-kotak merah hitamnya dan rambut dikuncir kuda terlihat seperti anak kecil asyik bermain air. Amar ikut berjongkok di kanan Sabina.

    “Lagi mikirin apa Sab? Mikirin aku? Aku tidak akan ke mana-mana.. “

    “Kepikiran aja… kira-kira kalau ikan koi-nya aku ambil tiga ekor lalu masak balado kamu doyan gak ya?”

Amar mengangkat alisnya kaget. Menyurai rambutnya dan terkekeh pelan.

    “Sabina… ini ikan bisa buat beli mobil lagi lho sayang… tega banget sih?”

    “Abisnya lucu tuh, tuh.. tuh.. gemes lihatnya! Ngapain kamu beli ikan mahal-mahal? Mau pamer kamu tajir ya?”

Sabina memegangi kedua pipinya sendiri dan tersenyum lebar sekali seperti anak kecil memperhatikan ikan ikan. Meski gembira melihat Sabina lucu ceria seperti ini, yang jelas idenya buruk.

    “Kamu sakit ya? Ke dokter yuk.. “

Amar mengecek dahinya dan langsung Sabina tolak.

    “Apa apa’an sih?”

Ponsel Sabina bergetar, ia menghidupkannya. Terlihat Sabina sebelum ini berselancar di internet dengan pencarian aligator yang cocok untuk dipelihara di rumah, murah dan cepat pengantarannya. Amar berkedip berkali-kali tidak percaya.

     “Sayang… kamu ingin bunuh aku ya? Maksudnya cari aligator apa ya?”

     “Wah, negatif thinking.. kalau aku pengen bunuh kamu tinggal kasih racun di masakan yang kamu makan. Ngapain susah susah beli aligator?! Kamu kan terlalu percaya sama aku..”

Seketika mata Amar melembut mendengarnya.

     “Aku selalu percaya kamu, karena kamu memang pantas untuk dipercayai Sab..”

Sabina berdiri dan hendak kembali ke dalam, ia selalu risih jika Amar tiba-tiba memulai suasana jadi seperti ini mulai agak romantis. Amar mengikutinya.

    “Mau ke mana?”

    “Bersih-bersih rumah. Rumah ini kegedean cuma buat berdua, sengaja ya? Pamer.. dasar sombong!”

Amar hanya tersenyum mendengarnya. Pagi hari di Hari Minggu dan mereka akan bersih-bersih bersama. Anggap saja ini sedang kencan. Ada kegetiran melihat mata Sabina barusan karena sedari tadi wanita itu tak pernah menatapnya dan hanya menunduk memperhatikan ikan, Sabina pasti hanya ngawur pada Amar tadi, ia cuma bicara soal koi dan aligator untuk menutup-nutupi bahwa ia menangis. Buktinya matanya memerah dan bengkak.

    “Makanya kita harus punya anak biar ramai sedikit rumahnya nanti.”

    “Mimpi ya? Kalau kamu sepengen itu punya anak dariku gimana kalau bayi tabung saja. Kamu kan kaya. Lalu kamu carilah perempuan yang bersedia melahirkan anak kita.. beres kan? Itu anak kita.”

Sebenarnya Amar mau tertawa mendengarnya, masuk akal juga. Tapi ide ini konyol sekali. Sabina benar-benar menyebalkan seperti kata Kak Makki sebelumnya ketika Sabina pergi dari rumah sakit.

    “Mana mungkin? Anak itu buah hati… harus dilibatkan dua hati.”

    “Ngomong apa sih? Makanya silakan poligami Amar.. cari saja hati yang lain.”

    “Ayo bersih-bersih rumah lalu keluar cari angin biar pikiran kamu sedikit jernih.”

Amar malas membicarakan ini. Kenapa Sabina suka sekali membicarakan hal tidak masuk akal seperti ini.

     Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, resah memperhatikan keduanya memasuki rumah. Mungkin jika itu bukan Amar pasti sudah menceraikan Sabina sejak lama. Sabina keterlaluan pada Amar, ini sungguh membuat kesal bahkan oleh diriku sendiri.