Magenta Lilac – Part 9 End

Aku tersenyum menyaksikan semua ini, perlahan-lahan sosokku pun melenyap bagai debu. Sabina telah mendapatkan kembali ingatannya, aku tak seharusnya ada lagi. Kalian masih ingat siapa aku? Aku adalah bagian dari ingatan Sabina yang terlupa dan selalu mengikuti Amar, mereka semua tak bisa melihatku namun aku bisa ke mana saja dan bebas serta kebas secara fisik. Tubuh ini mulai lenyap, tercerai berai bagai jutaan kristal kecil-kecil. Aku akan kembali pada Sabina membawa ingatan yang ku lihat ketika membersamai Amar.

Selama di perjalanan pulang Sabina mengirimkan pesan ke Makki untuk mengumpulkan semua orang di rumah. Sudah waktunya mengakui, apa yang perlu ditunda-tunda lagi. Ia tak mau menyakiti Amar lebih lagi.

***

    Seluruh keluarga duduk di ruang tamu. Lambat laun mereka pergi sendiri-sendiri dengan berbagai alasan, para ibu mengatakan ke belakang untuk menyiapkan makana, Si kembar Tama Tomo dan si Faizal anak nakal izin ke kamar Faizal karena hendak bermain ps3. Amar yang duduk membolak-balik koran tak merasakan ada yang aneh.

Sampai ia ditinggal seorang diri, lengang, sepi. Sabina muncul dari ruang belakang menuju Amar, tadi di kamar ia hanya meletakkan tasnya, ia berjalan gusar ke sana kemari berpikir dan menguatkan diri agar bisa mengutarakan permintaan maafnya pada Amar, ia sedikit takut menghadapi ini. Jika biasanya ia menatap Amar garang, maka kali ini sebaliknya.

Amar meletakkan korannya mendengar suara langkah kaki. Sabina nampak kikuk, ada apa ini?

Amar otomatis beranjak dari duduknya mendekati Sabina yang sudah tak begitu jauh darinya. Sabina dengan canggung dan malu-malu menatap Amar.

   “Kamu sebelumnya bertanya berkali-kali apa yang aku mau dan inginkan? Jawabannya adalah kamu..”

Amar sedikit menunduk menatapi kedua bola mata bulat indah itu dengan separuh terkejut. Mulutnya sedikit terbuka namun tak bisa berkata apa-apa.

     “Khalil Moamar Hanaffi, you are the best God gift given to me..”

Sabina menangkup wajah Amar dengan lembut. Disaat itulah Amar mulai berkaca-kaca, nyaris tak percaya bahwa Sabina-nya yang mencintainya telah kembali.

    “I miss you too..”

Ucap Sabina lirih atas tatapan Amar yang mulai berair, seolah menyuarakan isi hatinya dan Sabina menjawabnya. Sabina mengusap setitik air mata Amar yang nyaris jatuh. Sabina sendiri juga sudah sembab sedari tadi.

    “Jangan nangis.., kamu adalah orang yang sangat kuat, tangguh.. dan aku sangat menyayangi kamu.”

    “Aku tidak keberatan kamu melihat semua titik kelemahanku. Ini benar Sabina ‘kan? Katakan bahwa ini kenyataan?”

Sabina mengangguk ringan atas pertanyaan Amar.

     “Maaf Mas Amar.. maafkan aku.. aku jahat padamu selama ini.”

Amar menggeleng, ia dekatkan dahinya dengan dahi Sabina.

     “Aku yang harusnya minta maaf sayang, terima kasih untuk sepuluh tahun ini telah menunggu. Apa yang aku rasakan selama kamu lupa padaku tidak seberat itu..”

Keduanya lalu saling tersenyum. Tanpa mereka sadari Faizal merekam reuni mereka sejak awal. Ia tersipu-sipu melihatnya.

    “Cium! Cium! Ayo dong… aduh! Kalian ini pasangan yang aneh. Sama-sama nyebelin orangnya! Nikah lama baru pelukan sekali, ngenes banget sih kalian?!”

Sabina dan Amar langsung menoleh ke arah Faizal dengan geli. Amar merangkul Sabina.

    “Anak kecil minggir dulu!”

    “Cheese! Nah.. ini adalah satu-satunya foto kalian berdua.”

    “Jangan salah Zal.. mereka memang tidak pernah foto mesra berdua sebelum ini. Tapi langsung di buku nikah… Itu bukti, bahwa cinta tidak perlu dikoar-koarkan jika belum pada tempatnya..”

Kata Ikrom sembari menggenggam tangan Makki.

Faizal malah memanggili seluruh keluarga yang semenjak tadi bersembunyi mengintip mereka berdua. Faizal bersiul, semuanya keluar dari tempat persembunyian mereka.

    “Sabina, Amar! Nampaknya kita harus mengadakan ijab kabul ulang. Sabina tidak pernah dengar lho… Amar dulu keren banget!.”

Kata Makki seraya tersenyum. Ikrom menimpalinya “Setuju! W.O serahin ke aku saja. Pestanya gampanglah..”

    “Ijabnya pakai bahasa arab lho mba Sab..” ujar Tomo.

    “Kupikir Mas Amar mau sok sok an doang, ternyata ya ada alasannya sih. Katanya mba Sabina terlalu berharga makanya Mas Amar mau mengikat janjinya pakai bahasa Allah langsung. Ciee so sweet lah Mas ku yang satu ini..” tambah Tama.

    “Perlu dicontoh ini.. ” timpal Faizal.

Sabina tidak menyangka Amar bisa romantis begitu. Ia sedikit tersipu mengetahui hal tersebut.

    “Tidak takut kan Mar?” Tanya ayah Sabina.

    “Papah ini tanya apa sih? Amar ini hidup matinya sudah untuk Sabina..” Ibu mencubit ringan suaminya.

    “Insha Allah tidak.. “

    “Gak deg degan karena Sabina juga menyaksikan kan Mar?” Tanya ibu Amar.

    “Iya, sebelumnya istrimu ini kan koma..” tambah ayah Amar jahil.

    “Siapa takut..? Kamu pasti mau dengar juga kan Sayang?” Jawab Amar mantap. Sabina mengernyit geli melihat Amar, jahilnya ide semua orang, kalau dipikir kembali ia memang tak pernah tahu prosesnya karena sedang koma.

    “Boleh, kamu deg degan gak sih waktu itu?”

    “Sedikit, tapi aku harus melaluinya demi memiliki kamu selamanya, aku sudah menantikan momen sakral itu lama. Aku cukup bingung memikirkan maharnya apa. Kak Makki mengatakan sesuatu yang membuatku memutar otak lebih keras.”

Sabina mengangkat sebelah alisnya tertarik. Ia memang sempat mengutarakan keinginannya pada Makki.

     “Gampang kan? Maharku cuma.. sebesar kamu menghargaiku dan sebesar kamu menghargai dirimu sendiri.”

    “Nah, justru itu aku bingung Sab.. kalau bisa aku kasih seluruh dunia ini, bahkan semesta ini. Atau malahan tidak ada yang bisa sebanding sama sekali, besar.. besar sekali sayang… tak terhingga. Kamu terlalu menarik bagiku, aku rela menjadi apa saja dan melakukan apa saja asal kamu disisiku selamanya.”

Sejenak ruangan tersebut menjadi lengang. Semuanya terdiam, hanya Sabina yang tak mengetahui apa maharnya. Namun dulu bukan soal angka yang membuat mereka terhenyak, namun betapa besarnya Amar mencintai Sabina. Bagi Tomo dan Tama ini menjadi hal baru, kakak mereka tidak suka mengumbar kata dan selalu tegas pada semuanya disegala situasi, namun berubah menjadi selembut ini pada Sabina. Faizal tersenyum bangga pada Amar, senang karena kakaknya jatuh pada orang yang tepat. Ayah dan Ibu Sabina saling bergandengan dan saling tersenyum penuh arti pada ayah dan ibu Amar. Ikrom mendapatkan banyak cubitan dari Makki karena iri melihat kehangatan keduanya sedangkan Ikrom selalu kaku dan tak tahu cara beromantis ria.

    Sabina menatapi Amar dengan takjub. Matanya berkaca-kaca hendak menangis. Ia mengusap air matanya sembari tersenyum lebar.

    “Mas Amar…”

    “Iya.. Sabina-ku sayang..”

    “Kamu adalah malaikat yang ayah dan ibuku kirimkan untuk menjagaiku.. terima kasih sekali…”

    “Sabina, terima kasih sudah lahir di dunia ini. Terima kasih sudah menjadi seluruh hidupku. Kalau aku terlahir kembali maka aku akan mencari kamu lagi serta menyayangi kamu seutuhnya..”

Mereka berpelukan erat. Semuanya hanya mengamini keduanya semoga takkan pernah terpisah lagi. Aamiin…

    _ e n d _

.

.

.

Author’s Speech:

    Bagiku awkward moment dalam pembuatan cerbung ini adalah ketika Amar pulang dan dinasehati Ibunya. Bener-bener feeling awkward ketika saya menulisnya.. antara ogah ah ogah.. kog terlalu manis gini sih?? yang mana saya harus masuk ke dalam sense of mother yang bijak serta sayang sekali pada Amar dan mendukung anaknya meraih bahagianya. Seorang pria yang sudah matang sekali serta sudah merasa cukup atas segala hal dihidupnya dan saatnya meraih bahagianya sendiri. Owh! Man.. manis banget romantika anak dengan ibunya ini… *kkk, aku pengen jadi ibunya Amar.. kkk. Itu pertama… apalagi ketika saya nulis berbagai dialog Amar, mikir.. memangnya beneran ada orang seperfect ini? Wkwkwk, mungkin.

Keduanya adalah bagian ending ini, ketika Sabina sadar serta mengutarakan permintaan maafnya. Awkward banget bagiku pribadi *hh Saya suka bikin momen manis dalam cerita yang medianya dari keseharian normal lumrah, ketimbang terlalu jauh mewah.. seperti makan malam romantis, naik helikopter/liburan ke pulau mana gitu.  Lebih suka yang sederhana namun mengena.

    Proses menciptakan momen-momen melting itu terkadang agak gimana gitu.. terbikin dari pembelajaran serta perenungan. Saya harus memahami jalan pikiran berbagai macam jenis orang, yang strict lurus, agak nakal dikit, terlalu melankolis, gay, dewasa, childish, dll. Dan yeah! Rampung juga meski agak rempong sedikit.

Part 9 adalah part yang tidak berani saya baca ulang lebih dari 5 kali… 😝, tingkat termehek-meheknya agak bikin authornya sendiri salting. Hhhh dan gw gak percaya bisa bisanya nulis begitu..

Yaaa, thanks siapa pun kalian yang membaca sampai end. Kita seru-seruan lagi dengan para tokoh yang sama di cerita lain kesempatan yah!.  Magenta Lilac sampai di sini, next chapter dengan judul lain kita bahas Arip dan Shafa, kkk Kang Arip adalah tokoh favoritnya gw 😂

Trims 2017, telah memberikan sekotak kenangan yang pahit, asem, manis! Rame rasanya! Hahaha!

Magenta Lilac – Part 8

 Seketika ruangan tersebut lengang kembali setelah seorang pegawai magang datang ke ruangan Amar atas aduan supervisor bahwa anak muda tadi membuat masalah dan Amar memotivasinya, memberikan pengertian dan menyuruhnya mengendalikan emosinya. Setelah tenang ia mempersilakan pemuda tadi pergi.Pintu ruangannya dibuka kasar, Pak Umar mencengkeram kerah dua pemuda di kanan kiri tangannya dan mendorong paksa mereka masuk ke ruangan Amar.Amar terkesiap, laki-laki paruh baya dan berkumis lebat tersebut mukanya merah padam dan napasnya menderu. Tak seperti biasanya yang selalu nampak hangat khas kebapakan.   “Mas Amar, mereka berdua membuat masalah. Aku sudah tak bisa menanganinya lagi. Aku serahkan ke Mas.”Amar berdiri dari tempatnya duduk, menatapi keduanya sudah sama lebam, pakaian kotor, rambut awut-awutan.   “Mereka berkelahi? Masalahnya apa?”Keduanya duduk tertunduk takut jikalau Amar memberikan Surat Peringatan atau memulangkan mereka.   “Biasalah, anak muda.. emosinya masih meledak-ledak. Suka menangnya sendiri”Pak Umar bersandar di pinggiran meja Amar. Amar bersidekap mendengarkan awal mula pertengkaran kedua pemuda awal dua puluhan tersebut.Keduanya semula mengemasi barang-barang yang akan dikirimkan ke luar pulau. Salah seorang dari keduanya yang bermata gelap memang diketahui sudah lama tak suka pada si jangkung ini. Ia meledek si Jangkung soal keluarganya yang suka memoroti harta orang. Setelah Pak Umar tekan untuk bicara, duduk permasalahannya adalah si adiknya suka dengan si jangkung dan sering meminta uang keluarga mereka dengan alasan menolong si jangkung. Si jangkung tidak terima difitnah, ia menghancurkan satu kardus lalu ia dipukul duluan. Bahkan si jangkung diludahi wajahnya, walhasil ia balas memukul.Amar manggut-manggut mengerti. Ia mengambil duduk di kursinya kembali.   “Kalian tahu kan kita dilarang berkelahi sampai adu jotos di sini? Mohon bedakan antara pekerjaan dan masalah pribadi. Saya yakin kalian bisa menyelesaikan masalah kalian secara kekeluargaan.”   “Tapi Pak, dia yang mulai duluan! Lihat ini buktinya.” Si Jangkung menunjuk pipinya yang masih ada ludahnya. Segurat senyum terbit di wajah Amar, ia mendekatkan tisu ke pemuda tersebut.   “Bersihkan itu. Entah siapa yang memulai, sesuai aturan akan saya beri SP1. Hati-hati, jangan gegabah lagi.. nanti kalau kalian jadi kolektor Surat Peringatan apalagi sering ketemu saya di ruangan ini kalian bisa dipulangkan lho..”Kata Amar santai. Pak Umar menahan tawanya mendengar Amar.    “Kalian baikan sekarang! Salaman. Disini kita sama-sama rekan kerja, jangan ada perselisihan lagi.”Kedua pemuda itu bersalaman dengan enggan. Amar mempersilakan keduanya keluar dan kembali bekerja. Pak Umar duduk di pinggiran meja menatapi Amar dengan bangga yang kini sedang menuliskan sesuatu di komputernya.   “Mas Amar..”   “Iya Pak Umar? Bapak mau diberi SP1 juga?” Canda Amar. Pak Umar tertawa keras sekali mendengarnya.   “Mas Amar ini sudah cakep, baik orangnya, HRD dimana-mana galak dan garang lho Mas.. tapi Mas ini tidak, Mas juga berbakti pada orang tuanya, mapan, kekurangannya cuma satu. Belum ada istrinya, sebenarnya Mas ini cari yang seperti apa sampai melajang lama sekali? Mas ini tidak muda lagi lho..”Mendengarnya Amar mengangkat sebelah alisnya dengan geli, lalu memandang Pak Umar dengan sedikit terkejut.   “Pak Umar belum tahu ‘ya? Saya sudah nikah Pak, namun karena ada suatu hal jadi tidak ada semacam undangan resepsinya. Untuk yang ini saya minta maaf.”Pak Umar menenglengkan kepalanyan heran.   “Lhoh.. Kog saya ndak dikasih tahu sih?”  “Nanti ya Pak, sikonnya tidak mendukung.”  “Sudah berapa lama?”  “Jalan 8, 9 bulan.”  “Alhamdulillah dong. Orangnya seperti apa?”Amar membalik laptopnya menghadap Pak Umar, memperlihatkan wallpaper dekstopnya. Pak Umar melebarkan matanya senang melihatnya.   “Namanya Sabina Pak, ”   “Auranya terang bagus, pasti baik orangnya. Mas Amar pasti juga tahu kalau orang tua yang sudah berpengalaman tentu bisa mudah melihat tabiat orang sekali pandang ‘kan?”Amar menatap Pak Umar lamat-lamat, tertarik.    “Kalau di jawa ini namanya ilmu titen Mas.. bukan dukun atau yang serba gaib lainnya. Ini dikuasai berkat mengamati dan berinteraksi dengan ribuan orang selama kami hidup.. sejago-jagonya Mas Amar baca gerak tubuh orang berdasarkan ilmu psikologi.. tak lebih jago perihal hal ini dibandingkan kami para orangtua”   “Ibu’ saya juga pernah mengatakan hal serupa soal titen itu. Mungkin bahasa gaulnya feeling kali ya Pak?”   “Persis Mas.. Mba’ Sabina cocok dengan Mas Amar. Apapun masalah diantara kalian pasti ada jalan keluarnya Mas. Mungkin ini ujian dari Yang Maha Kuasa.. apa yang sudah ditakdirkan miliknya Mas Amar niscaya akan kembali ke Mas.”   “Aamiin…”Pak Umar pamit keluar meninggalkan ruangan Amar Amar terhenyak sejenak, ia ingat tak pernah mengatakan apapun soal masalah. Amar bertopang dagu memikirkan kata-kata Pak Umar yang barusan. Ia ketuk-ketukkan ujung jari telunjukknya pada meja kemudian mendengus ringan.    “Orang tua, sudah merasakan semua pahit manis getirnya hidup.”***   Sabina sebelumnya telah menunggu lama orang keluar dari ruangan Shafa. Jika sudah seperti ini biasanya Shafa berbicara serius dengan anak/remaja yang meminta nasehatnya. Beberapa waktu lalu Sabina sedikit mengintip siapa yang berbicara dengan Shafa. Seorang gadis muda, barangkali berada di usia dua puluhan awal. Sabina menunggu di luar, duduk di teras memperhatikan bunga-bunga yang Shafa sengaja tanam. Sudah tiga hari ia tak pulang ke rumah Amar. Ia tak habis pikir dengan Amar, kenapa bertingkah seperti itu padanya? Tidakkah Amar bisa mengambil sudut pandangnya sekarang? Ia ini tak mengenal Amar dan tiba-tiba sudah terikat dengannya, ia tak memiliki perasaan apapun pada Amar namun harus tinggal dengannya dan menerima semua cinta Amar, suatu hari nanti ia tentu akan mengingat siapa Amar. Namun apa yang terjadi belakangan ini, baginya apapun yang Amar lakukan selalu salah dimatanya.   “Sab… ayo masuk..” Panggil Shafa memudarkan lamunannya. Mereka kemudian mengobrol basa basi sebentar dan tibalah Shafa mengutarakan permintaannya. Wanita tersebut mengajak Sabina bertemu, ada hal penting yang ingin ia katakan pada Sabina.     “Sab.. boleh aku minta tolong?”    “Apa?” Sabina menunggu Shafa melanjutkan kalimatnya.    “Bantu aku mendekati Kang Arip.”    “APA??! Ka-kahfi bagaimana?”Sabina mencari-cari apa tadi ia tidak salah dengar? Namun gurat di wajah Shafa menunjukkan keseriusan.    “Aku sudah minta petunjuk Allah 2 tahun belakangan ini Sab, jawabannya adalah Kang Arip. Hatiku juga lebih condong ke beliau.., mungkin Allah punya maksud lain.”Sabina mengedipkan matanya berkali-kali masih tak percaya. Kang Aripnya?    “Jadi inilah alasan kamu menolak Kahfi? Kang Arip? Bukan aku tidak mau membantu kamu Shafa.. tapi Kang Arip itu.. bagaimana menjelaskannya ya? Dia diluar pemikiran kamu sama sekali Shafa.. akan aku pikirkan dulu. Aku akan bicara dengan Kahfi juga.”    “Sabina, aku benar-benar minta maaf jika permintaan ini berlebihan bagi kamu.”Bening Shafa memandangnya, berharap Sabina bersedia membantu.    “Tidak apa-apa..”Setelah berbicara sebentar dengan Shafa tentang hal lainnya ia keluar dari ruangan tersebut. Kaki kaki Sabina seolah tak bisa menapak tanah lagi. Ia gontai berjalan tertatih berpegangan dengan dinding. Shafa ingin didekatkan dengan Kang Arip? Namun bagaimana caranya? Ia ingin sekali Arip kembali pada fitrahnya sebagai lelaki, sayangnya disisi lain Sabina sendiri juga tak tahu caranya. Telah berbagai cara ia lakukan untuk membuat Arip dan Attar kembali. Ini tugas yang sulit, Shafa sahabatnya. Tidak tega ia memberitahukan bahwa sebenarnya Arip gay. Shafa pasti telah banyak memikirkannya sebelum mengutarakan permintaannya tadi.    “Bagaimana caranya?”Kahfi melenggang mendekati Sabina yang nampak syok akan suatu hal. Berbicara sendiri, memegangi kepalanya bingung.    “Shafa suka Kang Arip?” Gumamnya masih setengah sadar. Kahfi yang melengganggang santai mendekati Sabina pun terperangah mendengarnya. Sabina langsung gelagapan melihat Kahfi di sini.    “Kamu jangan bercanda ‘ya? Shafa… Kang Arip? Maksudnya apa?”Sabina menoleh pada Kahfi didekatnya, muka Sabina pucat seperti habis melihat hantu. Kahfi tidak tahu Kang Arip gay, Kahfi akankah marah? Sabina ketakutan memikirkan kemungkinannya.    “Yes! Aku punya saingan yang sepadan. Arsitek keren seperti Kang Arip.”Sabina langsung berdiri tegak mendengarnya. Apa ini? Kenapa dia justru senang?. Alisnya saling bertaut heran. Justru Kahfi nampak ceria dan beringas.     “Sabina, kamu pucat sekali. Pasti kurang olah raga, kamu harus ikut aku! Sementara waktu aku akan nge’gym dulu!”Kahfi menggamit Sabina mengajaknya ke gym yang ia sebagai member di sana. Mereka menuju ke pusat kebugaran langganan Kahfi. Kahfi mengatakan ia sedang menyelami karakter, tokoh utama novel baru lainnya yang tengah ia kerjakan adalah seorang personal trainer dan hidup sehat.      Keduanya kini bersebelahan berjalan di treadmill sembari bertukar ide.     “Aku bahkan ikut menjalani diet ketat Sab, sebelumnya aku konsultasi ke ahli gizi terlebih dahulu. Aku coba seminggu hanya makan ketimun, walhasil bobotku turun banyak namun massa otot sedikit berkurang karena aku tidak olah raga teratur.”    “Pantas saja kamu sekarang agak berisi otot sedikit ‘ya. Mengenai Shafa kamu tidak apa-apa?”Kahfi mengangkat bahunya tenang. Lalu melirik ke belakang bahu Sabina. Sebastien sudah berlari di treadmill dekat Sabina. Ia mengikat rambutnua tinggi dan melabaikan tangannya dengan ceria pada keduanya.    “Hai hai! Tahu tidak Sab? Aku terbang ke sini dipaksa Kahfi. Kebetulan aku mau jalan-jalan juga.”    “Kalian sudah baikan?”    “Aku tahu secara tidak sengaja ternyata perkebunan bunga milik Kahfi ada di pedalaman Inggris. Kalian sebelumnya juga ke Dubai ‘kan? Kenapa tidak ajak aku?”Sabina menatap Kahfi sebal dan Kahfi hanya menggelengkan kepalanya malas menanggapi.    “Kalian tidak ada hubungan apapun dengan Amar ‘kan?”    “Amar? Aku tidak pernah bertemu dengan dia Sab.. Seb palingan yang berkhianat.”Kahgi menujuk Seb yang memelankan kecepatan treadmillnya.    “Aku hanya bertemu dia sekali Sab.. itu pun dia pulang lagi karena ibunya kena serangan jantung.”Sabina tidak mengetahui ini, ibunya Amar sempat sakit? Sehari yang lalu ketika mengunjungi beliau di rumahnya bersama Faizal ia baik-baik saja. Ia ke sana dan banyak membicarakan Amar, Sabina meminta mertuanya merahasiakan kedatangannya ke rumah mereka.    “Panjang umur..” bisik Seb lalu pergi ke angkat besi dan menyingkir dari reuni tersebut. Amar dari kejauhan melihat Sabina dan berjalan mendekatinya. Kahfi tersenyum tipis melihat ini, Sabina tampak kaget sedikit. Sesampainya di dekat Kahfi dan Sabina ia langsung bertanya ke mana Sabina?    “Sab, di mana kamu sekarang?”    “Di rumahku, kenapa? Kamu takkan kekurangan suatu hal apapun tanpa aku disisimu.”    “Sabina…” Kahfi mencoba masuk ke garis diantara perang yang Sabina mulai ini. Amar seketika menatap Kahfi dengan pandangan spekulatif. Kahfi kemudian mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.    “Perkenalkan, aku Kahfi.. personal trainer-nya Sabina sekaligus temannya. Salam kenal, kamu Amar ‘kan?”Dalam hati Sabina mengutuk Kahfi kenapa mengaku sebagai personal trainer? Dasar gila..   “Amar..”Amar kembali pada Sabina. Sabina menatapnya malas.    “Pulanglah kalau kamu sudah tidak emosi lagi padaku..”Sabina tidak menanggapinya, ia langsung pergi saja. Kahfi tersenyum kikuk pada Amar dan mengikuti Sabina.Hati Amar seperti mencelos diperlakukan seperti ini oleh Sabina. Ia kemari karena diajak Rofi yang telah lama mengenal Amar dan tahu Amar ada masalah meski tak pernah dikeluhkan. Rofi menepuk bahu Amar menenangkan.    Sebulan semenjak kejadian tersebut Sabina masih belum kembali. Amar banyak menanyakan kabarnya melalui Makki, Sabina katanya selalu pergi pagi buta dan pulang larut malam. Menurut Attar Sabina tak banyak berubah kecuali ia yang makin terlihat murung dan tertekan oleh suatu hal, beberapa kali selalu menginterupsi rapat karena mual dan menuju kamar mandi.***    Sabina duduk menyadarkan punggungnya ke kursi yang sengaja didesain untuk membuat siapa saja yang duduk di sana merasa nyaman. Ia memejamkan matanya setelah disugesti.Kahfi di dalam ruangan tersebut mengawasi mereka berdua. Sabina dengan Timothy menjalani prosedur menyelami alam bawah sadar.Sepulang dari pertemuan tidak sengaja keduanya dengan Amar di pusat kebugaran, Sabina menangis tak tertahankan di mobil Kahfi, Kahfi sampai kehabisan sekotak tisunya berkat air mata dan ingus Sabina. Sabina sesenggukan mengatakan ia sebenarnya tidak sampai hati tega pada Amar, namun tiap melihatnya entah mengapa ada emosi tersulut. Kahfi kemudian mencarikan temannya yang ahli menangani hal semacam ini, Kahfi mengkonsultasikan kondisi Sabina dengan ayah Sabina serta dokter terakhirnya. Lalu mereka setuju merujuknya ke Timothy yang sudah terkenal cakap sebagai hipnoterapis. Yang mengetahui ini hanya di lingkaran mereka saja, Kahfi sembari mengamati ia sekalian memikirkan ide menulis. Sabina banyak menangis dan tercekat, menjerit menyusuri alam pikirannya. Timothy menyarankan Sabina menyusuri alam bawah sadarnya yang paling dekat dan mengusiknya, ternyata yang dituju Sabina sebagian besar justru kenangan menyakitkan miliknya. Karena ingatan Sabina yang muncul kebanyakan rasa sakitnya, ia justru sering mual dan tidak bisa makan. Perlahan-lahan ia ingat Amar. Makin kuat ia tak bisa pulang ke rumah Amar.    Setelah selesai biasanya Sabina pucat sekali. Timothy menyambutnya.    “Bagaimana sekarang Sabina? Sudah hampir satu bulan. Progress kamu bagus, nyaris 95%. Besok tidak usah datang lagi tidak apa-apa.”Timothy memberikan sekotak tisu pada Sabina.    “Tim, terima kasih.”Kahfi mengacungkan tinjunya dan Sabina balas meninjunya.     “Mata kamu parah Sab.. sudah ingat siapa Amar?”    “Kamu sudah nikah Sab.. senyumlah.. kurasa kamu masih ada yang mengganjal.”    “Aku tidak tahu harus apa.., bagaimana ini? Rasanya campur aduk. Aku ingin membunuhnya dan mencintainya disaat yang bersamaan.”Kahfi dan Timothy saling pandang dan tersenyum melihat Sabina terlihat gamang dan mematung hampa seperti ini. Lalu Sabina berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.    “Hamil?” Tanya Timothy jahil.    “Jangan jadi biang gosip deh Tim.. kamu kan tahu sendiri dia dan Amar seperti apa hubungannya?!”    “Hahaha… yayaya..”***    Sabina sore itu bersama Shafa. Shafa menanyakan perihal Kang Arip, Sabina mengelak terus bahwa Kang Arip sedang di luar kota mengawasi proyek barunya. Sulit dihubungi. Shafa bersabar dan akan menunggu.    “Shafa… dengerin aku, kenapa tidak Kahfi saja?”    “Tidak bisa Sab…”    “Yasudahlah.. aku pergi dulu.”    “Ini payungnya. Lihat, sudah gerimis tuh..”Mereka lalu bersalaman dan pisah. Sabina menyusuri trotoar dengan hati-hati. Sepuluh menit berjalan, ia akan menunggu Faizal di sebuah halte bus tak jauh dari sana. Sabina lihat Amar duduk termangu menunduk menatapi ponselnya. Sabina jadi menghentikan langkah kakinya tidak mau melanjutkan ke halte. Kenapa Amar di sana? Tampangnya kusut sekali. Apa mobilnya mogok? Apa sudah panggil derek?Banyak pertanyaan muncul di benak Sabina. Sudah sebulan lebih lamanya Sabina tidak melihat Amar secara langsung. Ada pergolakan batin pada Sabina, di satu sisi ia ingin berbalik arah dan pergi mengabaikan apa yang dilihatnya saat ini. Di sisi lain ia juga iba melihat Amar, penasaran apa yang terjadi. Ia menggelengkan kepalanya berat untuk memutuskan. Ingatannya telah kembali, hanya Kahfi yang mengetahuinya.Akhirnya ia melangkah mendekati Amar. Gerimis masih menerpa payung hitamnya, Sabina tidak tega melihat Amar seperti ini. Ia pun memutuskan untuk menyambangi Amar.    Pukul 17.14 sore itu, di halte tersebut hanya ada Amar seorang. Mobilnya mogok tiba-tiba, sudah coba ia betulkan namun tak bisa. Ponselnya mati karena ia lupa tidak mengisi batereinya. Sebulan ini pikirannya kacau, ia tidak bisa tidur dan hanya menatapi langit-langit kamarnya. Makannya menjadi tidak teratur, rona wajahnya persis seperti sebulan pertama sejak Sabina koma.Sabina berdiri di depan Amar yang tertunduk lesu. Amar mendongak sedikit melihat Sabina, seperti hendak mengatakan sesuatu namun tiada yang terucap. Sabina meletakkan payungnya, ia duduk di kanan Amar. Mengeluarkan tisu basah dari tasnya, ia mengelap tangan Amar yang kotor. Amar tak pernah menanggalkan tatapannya dari wajah Sabina. Sabina lihat ponsel Amar mati.    “Kamu takkan kekurangan suatu hal apapun tanpa aku disisimu. Baru ditinggal sebulan sudah seperti ini..”Sabina lalu membersihkan dahi Amar yang juga kotor, pasti tadi tanpa sengaja Amar menyentuh dahinya dengan tangan bekas oli. Sabina kemudian menghubungi Faizal untuk dibawakan mobil derek sekalian ketika menjemputnya. Amar yang biasanya banyak bicara entah mengapa sejak tadi diam saja.Amar membuang gumpalan tisu kotor ke tempat sampah di sebelahnya.     “Sabina, aku meminta penjelasan dari kamu. Mau ku pikirkan seberapa lama tak pernah bisa aku mengerti dimana salahku?”Sabina sedikit mengangkat alisnya, suatu hari akan dapat pertanyaan ini dari Amar. Ia sudah berlatih menjawabny lama jauh sebelum ini terjadi.    “Mas Amar ingin tahu apa kesalahan Mas?”    “Apa?”    “Aku tidak masalah kita tidak bisa seperti pasangan kekasih lainnya. Aku tidak akan kesal jika kita tidak bisa banyak bertemu atau terpisah jarak ribuan kilo meter sekalipun. Atau menahan sesaknya rindu.”Sabina tersenyum getir mengatakannya. Ingatannya sedikit kembali, namun rasa sakit akan penantiannya lah yang datang terlebih dahulu dan mendominasi, baru rasa cintanya ke Amar.   “Lalu apa Sab? Di mana letak salahku selama ini?”Amar tampak bingung. Ia tak habis pikir harus berbuat apa lagi. Bagi Sabina apapun yang Amar lakukan selalu bernilai salah.    “Bukankah sudah aku buktikan aku serius, lihat… aku menikahi kamu. dan akan berusaha membahagiakan kamu, atau setidaknya jika membuat bahagia kamu kedengaran seperti janji yang muluk-muluk.. aku takkan pernah membiarkan kamu sedih atau menangis sejak aku ucapkan ijab sampai akhir khayat.”Sabina kagum mendengarnya, sejujurnya ia lumayan gugup melihat Amar seperti ini. Amar selalu memegang ucapannya, logis dan tegas.    “Katakan dimana letak salahku? Akan aku perbaiki.”Sabina menitikkan air mata mendengarnya. Amar masih menunggu penjelasan.    “Mas Amar hanya seharusnya cukup bilang padaku untuk menunggu! Tunggu Sab.. tunggu aku,”Amar memasang kedua telinganya sungguh-sungguh.     “Mas Amar, aku hanya ingin dengar itu.. lalu jalani hidupmu seperti yang kamu inginkan. Aku bisa bersabar.. “Amar menggeleng lemah mengetahuinya.    “Tapi kalau aku begitu maka artinya aku sedang berjanji Sab, aku takut tidak bisa menepatinya.. hati manusia mudah berubah.”Mata Sabina sudah memerah dan air matanya tak terbendung lagi. Amar iba melihatnya, hatinya bagai ditusuk-tusuk besi panas melihat Sabina seperti ini.     “Sepuluh tahun. Apa bisa kamu bayangkan rasanya jadi aku? Sakit hati karena cemburu pada teman-teman kamu.. tiba-tiba sedih tanpa sebab melihat kamu akrab atau sibuk dengan perempuan lain. Karena aku tidak tahu dimana hatimu… aku tidak bisa membaca pikiran kamu Mas… baik, aku salah dan egois berharap seperti itu.. tapi ini diluar kuasa hatiku.”Amar mengerti semarah itulah Sabina padanya. Sabina adalah perempuan, sesabar dan setenang apapun dia pasti rasa cinta yang begitu besar pada Amar justru menyakitinya sendiri. Tapi tunggu.. apa Sabina telah mendapatkan kembali ingatannya?    “Sab..?”    “Jika pada akhirnya justru rasa cinta ini menyakitiku.. Aku sungguh ingin pergi dari perasaan ini.. ingin sekali… tapi aku tidak tahu caranya! Aku tidak bisa! Ini menyakitkan… “Air matanya semakin deras. Amar sungguh ingin merengkuh perempuan yang begitu rapuh ini.   “Kamu tidak pernah bertepuk sebelah tangan sayang.. aku juga mencintai kamu. Harus aku bilang berapa kali agar kamu percaya?”Amar mencoba mendekat dan ingin memeluk Sabina yang sudah berurai air mata. Namun Sabina mengambil jarak menjauh.    “Jangan sentuh aku!”    “Sab, aku mengerti tidak mudah bagimu melupakan semua rasa sakitnya. Maka dari itu berikan aku kesempatan untuk membuat kenangan-kenangan indah baru sehingga kenangan lama menyakitkan itu tertimbun dan terlupa terabai sendiri.”Amar ingin Sabina jangan terfokus melupakan, buat saja kenangan baru yang akan menutupi semua rasa sakit itu.    “Ingatan kamu sudah kembali?” Tanya Amar ragu-ragu tak mau terlalu banyak berharap.Sabina menatapnya lama, dari sana Amar mengetahui ada yang berbeda dari biasanya Sabina menatapnya selama tinggal bersama.     Sebelum Sabina menjawabnya, Faizal datang mengacaukan.   “Tiap lihat Mas Amar menatap kakak itu.. aku langsung ingin menyanyikan lagunya BCL Tentang Kamu yang bagian ini. Bagaimana.. bila akhirnya ku cinta kau~ dari kekuranganmu~ hingga lebih mu~. Hahaha!”Keduanya langsung beralih ke Faizal. Keduanya tadi terlalu sibuk sendiri sampai tak menyadari Faizal sudah di sana semenit lalu.    “Lima menit lagi mobil dereknya sampai Mas. Mas Amar ikut mobil kami saja, sekalian pulang ke rumah kita.. “Amar menatap Sabina seolah bertanya boleh tidaknya menyambut ajakan Faizal. Sabina mengangguk sekali menyetujuinya.     Amar duduk di depan sedangkan Faizal menyetir. Faizal menceritakan bandnya akan mengadakan konser kecil-kecilan. Amar banyak menanggapi Faizal yang super cerewet dalam perjalanan pulang mereka. Sabina sesekali menanggapi.Sesampainya di rumah entah mengapa semua orang sedang berkumpul di sana. Amar sedikit heran namun masih belum merasakan ada yang berbeda atau istimewa.