[K-Movie] Life Risking Romance – Part 4 end

    Kembali ke masa sekarang. Jane menjawab pertanyaan Lokhan saat itu..

“Karena…”

Yumi dan Hur Jong Gu.

“Itulah yang kulakukan, dan sekarang aku inginkan.” Pisau di leher Yumi, Yumi lalu mengambil pisaunya sendiri.

“Itu karena pisau, kau seorang pencuri, bukan seorang perampok.”

“Ini untuk perlindunganku.  Pisau ini hanya mainan. Jangan kaget, ini sangat tumpul.”

Jong Gu membuktikannya dengan memukul-mukulkannya ke lehernya sendiri.

Jong Gu rupanya kenal dengan Yumi. Jong Gu diberi makan tahu (bagi yang gak ngerti kenapa? Karena ini semacam tradisi di Korea sono kalau orang baru keluar penjara harus makan tahu dengan harapan tidak masuk ke penjara lagi. Kepercayaan saja..)

Yumi menagih janji ke Jong Gu untuk tidak membunuh orang atau semacamnya. Jong Gu mengiyakan, ia tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Mencuri saja ia pilih rumah yang kosong kog.. (dan bego’nya dia dua kali ketangkep dekat koper yang ada jasadnya XD )

Yumi diberikan kalungnya Jane. Yumi senang, sudah lama menginginkan ini. Lucunya mereka berkaca di pisau daging :v (Geloooo, ini hurang teh minta diruqyah biar nyaho.. huuuy dasar.. XD )

Jong Gu mengajak Yumi tinggal di Hawai karena ia di Korea sudah jadi buronan. Yumi tanya apa Jong Gu punya uang?

Tidak sih. Jawab Jong Gu.

Yumi menyarankan bagaimana kalau kita rampok saja gedung ini? Karena penghuninya kebanyakan pergi dan rumah-rumah sedang kosong. Jong Gu langsung memuji-muji Yumi yang tidak hanya cantik tapi juga pintar. Tidak sadar Jong Gu mengetuk-ngetukkan pisau besar ke lehernya sendiri.

Oppa.. itu pisau sungguhan. Jong Gu langsung menjerit histeris. Yumi menyingkirkan pisaunya.

     Jane mengembalikan kalung pemberian Jason, ia tidak bisa bersama dengan Jason. Jason menebak alasannya pasti karena si Lokhan bukan? Meskipun Lokhan pembunuh?. Jane membenarkannya, ia merasa perlu berada disisi Lokhan.. karena setiap kenangan yang ia jalani selama ini baik susah dan senang selalu ada Lokhan bersamanya.

Jane khawatir jika ia meninggalkan Lokhan, pria itu akan mengalami masa yang berat kedepannya. Tak peduli kalau ia pembunuh atau bahkan lebih buruk dari itu, Jane ingin tinggal disisi Lokhan.

Rekannya Lokhan mengambil selfie sementara Lokhan terlihat masam dan muram, di depannya ada boneka wanita meringkuk di koper. Lokhan menyesal, ia pikir dirinya juga cocok menjadi profiler. Ia berlatih membunuh dengan boneka. Karena ia ingin membantu Jane. (Manekin yang sepanjang episode selalu muncul, yang bentuknya mirip sekali dengan manusia. Cantiknya ngalahin manusia malahan ̩̩̩̩̩̩ƪ)  )

Rekan Lokhan kemudian pamit pergi padahal shift jaganya belum selesai, karena ia harus segera pulang, mood istrinya tampaknya sedang buruk karena pms. Ia minta Lokhan yang jaga menggantikannya. Lokhan mengingatkan kalau kepala bisa marah nanti. Sebelum pergi rekannya menasehati Lokhan

“Sesuatu tentang hubungan, kau harus mempertaruhkan segalanya untuk itu. Bahkan jika itu untuk istri yang sedang haid.”

Jane menerima pesan dari rekannya Lokhan, sebuah gambar selfie yang diambilnya tadi. Dengan pesan, Lokhan bahkan berlatih membunuh demi kau.

Jane merasa lega sekarang. Dugaannya salah tentang Lokhan.

“Bagaimana jika aku pembunuhnya?” gumam Jason tanpa Jane sadari.

Lokhan berpikir, FBI dan Polisi Korea. Ia menghembuskan nafasnya kesal, tidak bisa dibandingkan. Panggilan dari pihak lab “Sunbae! Dari mana kau dapatkan sampelnya?”

“Kenapa? Milik Jane lagi?”

“Salah satu dari 4 adalah DNA korban”

Lokhan langsung bergegas menemui Jane.

Bagaimana jika aku pembunuhnya?, tanya Jason. Dengan santai Jane menjawab kalau begitu ia harus pergi. Jane pergi, Lokhan menelfonnya memberitahukan DNA korban yang Jane temukan.

Lari Lokhan semakin kencang ketika ia mendengar jeritan Jane.

Jason mencekik leher Jane dengan ikat pinggang. Jason baru mengerti apa yang dimaksud lebih baik membunuhnya jika tidak bisa dimiliki. Ia akan memalsukan kematian Jane sebagai perbuatan Lokhan, DNA dan sidik jari Lokhan akan ditemukan di mana-mana, Lokhan sudah menguntit seorang gadis selama 30 tahun. Membunuh gadis itu dan dirinya sendiri.

Jane berhasil melarikan diri, ia mendorong Jason dan kembali ke rumahnya sendiri. Jane mencoba menghubungi pihak keamanan gedung. Nahasnya yang menjawab panggilannya malah Jason.

Jane dilanda panik, ia memutuskan untuk turun dengan tali. Disaat yang sama Jason datang, membuka pintu rumahnya.

Jason bilang ia tidak pernah ingin melakukan ini, tapi dia sekarang akan melakukannya. Jane melompat ke jendela. Jason memegangi talinya, ia menariknya.

“Kau bisa mengerti kalau Lokhan yang melakukannya, tapi kenapa tidak denganku??!”

“Apa kau harus bertanya? Kau ini pembunuh!” jerit Jane, ia mengarahkan alat penyetrum ke wajah Jason.

Jane langsung terjatuh karena Jason melepaskan talinya. Jane bergelantungan karena terlilit kakinya Jason.

Jane mencoba menghancurkan kaca di depannya, kacanya tak bergeming karena terlalu keras. Tapi jendelanya terbuka, ia menggesernya.

Hur Jong Gu dan Yumi kebetulan ingin merampok rumah yang ada Jane nya. Jong Gu bertingkah seolah ingin membunuh orang. Yumi menjewernya “Kenapa kau membawa pisau?”

Menariknya pergi. (HHHHH kocak kocak kocak)

Gerbang apartemen ditutup, Lokhan tidak bisa masuk. Ia menghadang pembawa motor, ia gunakan motornya dan menabrakkan diri ke gerbang sampai ia terjatuh tapi setidaknya bisa masuk.

Jane mengendap-endap. “Anyeong haseyo Han Jane-ssi..” sapa Hur Jong Gu, membuat Jane terkejut dan berteriak-teriak, Hur Jong Gu membungkamnya. Beberapa saat yang lalu Jason sudah terbangun dari pingsannya, sedang menelusuri di mana Jane.

Karena Hur Jong Gu cerewet, Jane membungkamnya sadar kalau Jason bisa saja mengetahuinya.

“Eonni!”

Jane dan Jong Gu menoleh. “Eonni, itu pacarku.”

Jane tidak menyangka Jong Gu adalah pacarnya yang dirindukan selama ini. Jane meminta mereka menghubungi polisi, Jason itu pembunuh. Jane lagi-lagi buang angin, baunya yang busuk membuat pasangan rampok tersebut keluar ruangan.

Siapa sangka dibalik pintu Jason sedang menunggu. Hur Jong Gu menggerutu, lalu ia dipukul oleh Jason. Jane menutup pintunya, sempat tangan Jason terjepit pintu karena mencoba menahan Jane.

Jong Gu menyuruh Yumi pergi, ia meyakinkan Yumi kalau tidak akan apa-apa. Mereka akan ke Hawai nanti. Yumi pergi, Jong Gu melawan Jason dengan sebisanya. Jane tidak tega melihat Jong Gu dipukul dan ditendangi Jason.

“Oppa!!!” Panggil Yumi dari sisi lain gedung

Jane membuka pintu dan mengenai Jason. Ia menyeret Jong Gu ke dalam ruangan.

Lokhan terseok-seok menuju ke ruang keamanan, ia menghubungi Jane. Jane kau di mana? Maafkan aku datang terlambat..

Jane balik menghubunginya, ia minta Lokhan pergi saja. Jason akan menjebak Lokhan nantinya. Lokhan tidak peduli, apapun yang terjadi dia akan tetap ke sana.

Lokhan berlari ke tangga, Jason menghadangnya. Mereka terlibat adu jotos, Jason dengan mudah menendang Lokhan ke tangga. Ia juga mendorong Lokhan ke kaca, mendorongnya sampai kaca pagar pecah,

Lokhan meminta Jason jangan macam-macam pada Jane,

Yumi mendorong barang-barang ke arah Jason, Jason terkapar. Yumi mencoba menolong Lokhan. Jason kembali bangkit, ia mencekik Yumi dan menyeretnya.

“Hentikan!!!”

Jane mengacungkan senjata api ke Jason. Jason melepaskan Yumi. Jason terus mendekat,

“Apa kau tidak penasaran bagaimana rasanya membunuh seseorang?” Tanya Jason. Perlahan ia mengarahkan senjata di tangan Jane ke tubuhnya sendiri, tepat di jantungnya. Jason menekankan jarinya ke pelatuk, Jane takut-takut menekannya

Dorrrr! Terlihat api keluar,

Jason berpura-pura kena tembak. Ia terkekeh, isi selongsong peluru pertama di polisi korea selalu kosong.

Jason menyingkirkan senjata api dari tangan Jane dengan mudahnya.

Ia mencekik Jane. “Perasaanku padamu itu sungguh-sungguh!” Kata Jason.

Lokhan datang dengan pisau. Jason memukul jatuh Lokhan. Saat Jason hendak mendekati Jane lagi, Lokhan memegangi kaki Jason. Ia menyuruh Jane pergi. Jason menendang Lokhan.

“Apa lagi sekarang?” Tantang Jason pada Jane.

Jane mengeluarkan alat penyemprot api.

“Dasar pambunuh Psiko!!!”

Jason kepanasan, ia jatuh ke bawah menimpa meja di lantai dasar.

Jane mencoba menyelamatkan Lokhan, ia melakukan CPR. Lokhan terbangun, setelah membuka mata Lokhan mengatakan “Sekarang kita berciuman. Aku keluar dari friendzone.”

“Aku pikir kau sudah mati”

“Mengapa aku akan mati? Aku akan bersamamu selamanya.”

Jane memukulnya, kesal. Kata siapa memangnya?, meski sakit sungguhan Lokhan malah terkikik senang.

Kali ini Jane mencium Lokhan sungguhan. Bersamaan disaat itu matahari terbit,

Rekan Lokhan dan polisi yang lainnya datang. Mereka sibuk mencari Lokhan, sedangkan Lokhan masih berbaring di atas bersama Jane.

~* Life Risking Romance *~

Pembunuh berantai di Itaewon dengan tersangka Jason Chen diektradisi ke Amerika Serikat. Buronan Hur Jong Gu dilaporkan telah melarikan diri ke Hawaii bersama pacarnya Jung Yu Mi. Penulis Novel Byeon mempunyai skandal plagiat.

Sekarang Jane dan Lokhan sedang liburan.

“Begitu banyak udara kotor di otakku. Aku mendapatkan begitu banyak ide.”

Lokhan menyiapkan makanan. “Jangan kau pikir novel yang agak terlalu tradisional?”

“Lalu apa? Membuat tokoh pembunuh sahabatnya.” Tantang Jane,

“Ide cemerlang.”

“Itulah mengapa emosi ini penting, emosi. Apa yang utama dari emosional?”

“Lihat dirimu, kau tahu itu semua.”

Lokhan mencari-cari pisau, tidak ada. Jane pindah ke tenda orang di sebelahnya. Ia ingin meminjam pisau pada pria itu.

“Apa kalian pasangan? Kalian berdua terlihat bahagia.”

Jane hanya mengangguk-angguk. Pria itu membuka perkakasnya, ada begitu banyak pisau sampai membuat Jane ternganga.

“Ini sedikit berlebihan tapi nyaman untuk digunakan. Tunggu sebentar. Apa kau Jane Han Penulis ‘Psikologi pembunuhan’?”

“Iya, memang aku.” Jawab Jane bangga.

“Benar. Benar. Aku tidak pernah membayangkan akan bertemu penulis buku terlaris di sini. Aku merasa terhormat. Bolehkah… Minta tanda tanganmu?”

Jane menandatangani punggungnya. Jane bertanya “Apa sudah semua ‘Noh Duk-sul’?”

Pria itu bingung bagaimana Jane tahu namanya. Jane sendiri juga linglung “Entahlah..” ia menimbang-nimbang. Bagaimana aku tahu namamu?

Jane langsung menjerit “Kyaaaaaa! Noh Duk Sul, tidak membayar gaji, melakukan percobaan pembunuhan.”

Jane dan Lokhan mengejarnya, tapi karena Noh Duk Sul membawa pisau ia pun berbalik mengejar.

Tidak ada pilihan lain selain melompat dari tebing. Jane marah kenapa Lokhan tidak bisa melawan?. Lokhan balik meneriaki Jane kenapa penulis menghafal semua poster paling dicari?

Dok Sul menantang mereka untuk melompat. Jane mendorong Lokhan duluan.

“Emosional utama yang ada dalam hidupku. Bersama Lokhan..”

-END-

 

S T I C K Y  –  N O T E S:

Jason… yang kamu lakukan ke saya itu jahat! Kenapa Chen Bolin diawal-awal manis dan diakhiran jadi super duper menakutkan? Kokoh.. aku padamu laah (╭ ̄.)charming abis..

Tolong dikondisikan gantengnya Koh.. itu kumisnya yang tipis-tipis benar-benar mengganggu penglihatanku.. kog bikin tambah cakep sih? ♡(ˆ▿ˆʃƪ)

Diawal-awal saya banyak ketawa, geli, lalu kaget, ketawa lagi. Life Risking Romance sukses mengaduk-aduk emosi (˘_˘٥)

Film yang menarik. Nice nice nice…

Advertisements

[K-Movie] Life Risking Romance – Part 3

Jason dan Jane beda pendapat, menurut Jane anak-anak tidak ada yang dilahirkan untuk menjadi penjahat. Mereka adalah malaikat.

“Kau seorang malaikat di mataku, Jane.” Kata Jason sembari mendekat.

Jane terdiam sesaat kemudian mengatakan “Tempat ini sedikit menakutkan. Mungkin karena mayatnya dibuang di sini.”

“Kupikir kau tidak mudah takut.”

“Aku menulis misteri karena aku pemalu. Aku selalu berpikir tentang hal-hal yang mengerikan. Kemudian cerita datang, jadi aku tidak mudah untuk tertidur.”

“Itu tidak baik. Mulai sekarang, aku berharap aku bisa membuatmu lupa semua hal yang mengerikan. Seperti ini.”

Jason mendekat dan memberikannya kalung sebagai hadiah ulang tahun.

“Aku tahu ini terlambat tapi ini adalah kado untuk ulang tahunmu.”

Kemudian mereka hendak berciuman. Sayangnya Lokhan memanggilnya “Han Jane! Apa yang kau lakukan di situ?”

    Lokhan menangkap Jason, Jane tidak terima. Lokhan beralasan karena Jason melakukan penyelidikan tidak resmi tanpa meminta izin otoritas kepolisian setempat. Jane tidak peduli, harusnya mereka berterimakasih karena ada agen FBI yang ikut membantu.

Jane dan Lokhan berdebat, Lokhan diborgol Jane. Dan Jane pergi bersama Jason. Sebelum keluar dari kantor polisi Jason menyeringai melihat Lokhan yang terikat borgol. Membuat Lokhan naik darah.

   Lokhan kesal pada Jason, dan akhirnya ia memukul Jason sampai berdarah. Jane mengajak Lokhan untuk bicara. Sedangkan itu Jason bersama opsir satunya, dalam bahasa inggris Jasong mengatakan yang terjadi pada Lokhan saat ini adalah emosi kemarahan semacam cinta. Karena opsir itu tidak mengerti, ia hanya balas mengatakan “Thank you” (HHHHH)

Lokhan meledak-ledak, kenapa Jane bisa seperti ini? Bukankah tujuan awalnya adalah mengikuti Jason hanya untuk penyelidikan apa memang benar Jason pembunuh berantai? Tapi kenapa ingin berciuman dan apa-apaan kalung itu?

Lokhan marah, apa tidak pernah Jane menganggap Lokhan sebagai pria selama ini?

*~ Life risking Romance ~*

     Dalam perjalanan. Jason menceritakan lagi-lagi kesamaan kasus di Miami dan Itaewon, pelakunya adalah polisi setempat dan pemicunya adalah penolakan dari wanita. 37 wanita dibunuh. Jason mengatakan kalau Lokhan adalah salah satu teratas yang dicurigai sebagai pelakunya sekarang. Kasus ini semacam duplikat dari kasus yang pernah terjadi di Miami.

Jane tidak percaya, baginya Lokhan tidak akan mungkin seperti itu. Jason mengungkapkan adanya sidik jari Lokhan di koper, kemungkinannya lebih besar lagi. Jane pikir itu adalah sebuah kesalahan, bukan bukti yang benar-benar konkret.

      Kemarahan Lokhan masih belum mereda, ia lalu pergi dari kantor.

Berita terbaru, tersangka utama pembunuhan berantai Lee Jong Gu. Kata pembaca berita yang songong ini. Lalu dia meralatnya. Hur Jong Gu (Wkwkwk)

Dua pria bule memaki karena kesal pajak mereka terbuang sia-sia di Negara ini. Tapi fasilitas publik dan petugasnya malah seperti ini.

     Sajang-nim senang melihat pencarian tentang Han Jane menjadi yang populer. Lokhan datang, ia ingin membicarakan soal Han Jane dengan Sajang-nim.

Jason meminta maaf kalau dugaannya tentang Lokhan menyinggung perasaannya Jane. Jane bilang tidak masalah, semua kemungkinan bisa terjadi.

Jason menunjukkan tiket penerbangannya ke Jane, setelah liburannya berakhir ia akan kembali ke tempat asalnya. Dan mengenai projek novel Jane tentang Penulis dengan agen FBI yang menangkap pembunuh berantai.. akankah mereka bisa memberikan ending yang bahagia nantinya?

     Seorang wanita pulang sendirian, ia sejak tadi merasa dibuntuti oleh seseorang. Ia dikagetkan dengan kemunculan Lokhan dari tangga.

Hur Jong Gun masuk ke rumah Jane, ia melihat-lihat. Yumi juga masuk ke rumah Jane, mengambil pisau daging. Tak lama kemudian Jane pulang, terkejut melihat Yumi memegangi pisau.

Jane mengingatkan Yumi untuk minta izin dulu, kalau tidak itu namanya mencuri. Keduanya belum ada yang menyadari Hur Jong Gun. Yumi menduga kalung Jane dari si agen FBI. Jane mengusirnya,

Sedari tadi Jane juga belum tahu Hur Jong Gun di sana, hampir saja Jane terkena tusukan pisau. Jane keluar dari rumah.

     Byeon datang ke rumah Jason disaat pria itu sedang berkemas. Byeon mengajaknya minum tapi Jason menolak.

    Jane menuju rumah Lokhan, tidak ada jawaban ketika dipanggil. Sementara itu Lokhan sedang menyerat koper di suatu gang.

Jane terkejut melihat rumah Lokhan ada wanita yang tergeletak. Jane bersembunyi ketika Lokhan datang dan mencekik wanita itu. Jane amat syok, ia nyaris berteriak.

Lokhan mendengar sesuatu, ia mencari dari mana asal  suaranya tapi tidak ketemu.

Yumi di lingkungannya. Karena semua orang pergi untuk waktu yang lama, jadi terasa sepi dan ini menyeramkan. Ia membuka pintu dan terkejut melihat Hur Jong Gun menyambutnya dengan pisau.

    Jane tidak mengerti kenapa Lokhan seperti ini. Jane menghubungi polisi setempat, baru terhubung sebentar lalu ia dengar Lokhan di depan pintu rumahnya. Lokhan ingin membicarakan sesuatu. Jane ketakutan. Ia minta berbicara besok saja, beralasan sedang lelah.

Lokhan tahu kode rumah Jane, ia lalu membukanya. Sebelum Lokhan masuk, Jane menguncinya dari dalam. Jane histeris, ia menyuruh Lokhan pergi.

Lokhan bilang ia akan dipindah tugaskan, ia pamit. Setelah dipikirkan ternyata selama ini ia selalu bersama Jane. Ia sekarang sudah bertemu dengan orang lain, Lokhan berharap Jane akan mendapatkan kebahagiaannya. Lokhan lalu pergi.

Jane menangis. Jane teringat masa kecilnya dengan Lokhan dulu. Nampaknya Lokhan kecil menangis karena anak ayamnya hilang, Jane kecil menyuruhnya jangan menangis seperti bayi begitu. Ia dan Lokhan kemudian main detektif-detektifan mencari anak ayam tersebut,

Mereka menemukan boneka anak ayam itu di tumpukan sampah. Keduanya kabur setelah kepergok si kakek.

Ketika SMA, Lokhan dan Jane dikejar-kejar banyak orang. Mereka selalu bersama selama ini.

Di hari ulang tahunnya Jane mereka menyelidiki disekitar persawahan, naasnya tidak menemukan apapun. Lokhan memberikannya kalung sebagai hadiah. Jane berbicara soal keinginannya memiliki teman dalam kepolisian sebagai narasumbernya menulis. Lokhan tampak berpikir, ia sepertinya mempertimbangkannya.

Suatu hari ketika Jane mabuk. Lokhan datang padanya dengan seragam polisi. Jane terkejut dan senang. Lokhan mengkhawatirkan Jane kenapa minum-minum? Apa ada masalah?. Jane baru saja ditolak novelnya yang katanya tidak bernyawa, ia merobek-robek naskahnya. Membuangnya, kebetulan hari itu salju pertama.

Di hari lain, Jane membantu Lokhan mencuci rambutnya. Ini karena tangan Lokhan digips akibat mengejar pencuri. Jane memarahi Lokhan kenapa mengejar pencuri sampai terluka begini? Lebih baik dibiarkan saja daripada mati.

Kenapa?, tanya Lokhan.

Part 4 – On progress