Blog Archives

[C-Movie] Never Said Goodbye – Part 5 End

Junho berada di kawasan yang sama. Ia kepayahan berjalan. Tetangganya Xiaoyou berlarian mengejar Guguk.

Keduanya tampak akrab, tetangga memberikan Junho minuman.

“Seperti manusia, anjing juga… Disaat mereka tersesat, mereka akan berusaha… Mencari cara untuk kembali pulang. Dan bersama dengan majikan yang mereka sayangi. Benar ‘kan? Si kecil nakal” ujar tetangga

 “Terkadang… Kita melarikan diri dengan maksud… Untuk bisa tinggal di tempat yang sama. Tolong tetap jaga rahasiaku. Aku percaya padamu.”

Xiaoyou mencuci motor retro 2006 milik Junho. Tetangga memuji motornya. Xiaoyou menjelaskan persis seperti Junho dulu saat padanya, motor retro 2006 kelihatan jadul namun setia.

“Maafkan aku. Aku tidak bisa menemukan anjingmu.” Ujar tetangga

“Maafkan aku juga. Karena sudah menjadi tetangga yang perusuh. Tapi mulai sekarang. Keadaan akan kembali tentram. Ambilah. Ini sebagai ganti rugi untuk pianomu.”

Tetangga menolaknya, ia beralasan karena tidak bisa naik motor. Xiaoyou memaksanya, tadinya ingin dia rongsokkan saja namun sayang rasanya. Lebih baik ia berikan pada seseorang. Tetangga menerimanya, ia tergelak dan meminta setidaknya motornya dicucilah dengan bersih. Xiaoyou kembali melanjutkan mencucinya.

Barnya sudah selesai. Xiaoyou menerima ucapan terima kasih, alasan Park Junho membuat geladak di atas berasal dari Xiaoyou.. menurut Park Junho, Xiaoyou adalah sumber inspirasinya.

Xiaoyou mendatangi geladak yang dimaksud. Guguk datang dengan pakaian wanita, Xiaoyou senang bukan kepalang meski geli. Ia menggendongnya memasuki rumah-rumahan, terdengar suara kembang api berpendar di langit malam.

Senyuman mengembang di wajah Xiaoyou menyaksikan keindahan tersebut. Mata Xiaoyou makin terbelalak melihat papan iklan besar tak jauh dari kembang api bertuliskan

[ Disaat daun terakhir gugur, pemandangan akan berubah.]

Junho disaat yang sama berada di kantornya Ma.

“Seperti… Sudah menempatkanmu dalam banyak masalah.” Junho merasa bersalah,

“ Aku punya sedikit kejutan untukmu.”

Junho menjadi badut boneka, dengan begitu ia bisa menemui Xiaoyou untuk mengobati kerinduannya. Meski pada akhirnya ia makin tersiksa.

Sebelumnya Xiaoyou menuliskan bye di dinding merah, sebagai pernyataan ia akan berusaha hidup lagi. Lama waktu berselang Junho melihat dinding tersebut.

Junho yang sekarang ketika menjadi boneka sudah memutuskan ia tidak akan pergi lagi.

Satu tahun kemudian..

Xiaoyou terbang ke Italia menemui kakaknya Junho. Kedatangannya disambut baik. Xiaoyou mendatangi makam Junho, ia meletakkan rangkaian bunga sederhana beserta foto fotonya dengan Junho ketika pertama kali berpacaran.

Di kamar Junho ia melihat-lihat, di sana ia juga mendengarkan rekaman suara Junho.

Junho: Xiaoyou. Maafkan aku. Aku berjanji… Aku tidak akan membiarkanmu meneteskan air mata. Aku tahu aku sudah membuatmu sedih. Aku punya kisah. Bagaimana cahaya menyapa cahaya? Mereka saling mengajak ke dalam kegelapan. Bagaimana dengan lautan menyapa lautan? Mereka membuat gelombang. Bagaimana angin menyapa angin? Menurutku, dengan menghela nafas. Kalau begitu.. Bagaimana Park Junho dan Gu Xiaoyou saling menyapa?

Seulas senyuman terbit diwajah Xiaoyou mendengarnya.

Dua orang berpelukan di pinggiran deburan ombak. ( Xiaoyou dan Junho?)

Lubi  menikah. Xiaoyou dan Ma menyaksikan mereka dengan sukacita.

Pulangnya Ma mengatakan ia ingin mengenalkan Xiaoyou dengan temannya Ma, seseorang seniman yang berbakat khusus namun takut naik kendaraan, ia mengalami traumatis karena kendaraan. Selalu jalan kaki karena mengalami kesulitan.

Xiaoyou menghadiri kencan buta yang dipersiapkan Ma.

“Maaf, macet.” Tukas Xiaoyou

“Tidak apa-apa.” jawab si tetangga

“Jadi kau si artis yang bertalenta itu?”

Keduanya membeku setelah mengetahui ternyata mereka pasangan kencan buta masing-masing, lalu tergelak geli sendiri, setelahnya Xiaoyou pulang dengan motor Junho.

“Apa yang akan aku lakukan kalau kau pergi?” Si tetangga geli

“Hati-hati pulangnya.”

Semula Xiaoyou tersenyum ceria, tak berapa lama kemudian ia mendongak menatap langit dengan ekspresi terluka.

……………………………………………………………………………..

KOMENTAR:

Ekspresinya Xiaoyou di ending seolah mengatakan “Park Junho, meskipun kau pergi dan takkan pernah kembali.. juga menjagaiku sampai aku bisa cukup kuat bertahan sendiri tanpamu sampai akhir hayatmu.. Bagiku masih teramat berat menjalani semuanya sendirian. Namun jika kau memintaku untuk tetap hidup dan bahagia tanpamu, akan aku coba.., namun kumohon beri aku waktu barang sebentar saja.. biarkan aku menikmati kekosongan ini dan tetap menyimpanmu lekat-lekat dalam lubuk sanubariku.. sampai waktu menyembuhkan lukaku dan siap menerima hati yang baru. Aku sangat bersyukur bisa mengenal dirimu, aku akan selalu mencintaimu.. terima kasih atas segalanya. Dariku Xiaoyou si gadis pemarahmu yang hidupnya penuh warna semenjak adanya kehadiranmu..”

     Karena film ini sukses membuatku menangis dipertengahan dibagian Xiaoyou depresi ditinggalkan Junho *hiks, saya memutuskan untuk menuliskannya dengan gaya penulisan yang lebih romantis dan lembut. Apakah berhasil? Gak usah komentar lah.. jawab aja di hati kalian masing-masing *kkk, kayaknya juga gak begitu berhasil sih.  Alurnya maju mundur namun tetap nyaman dilihat. Setelah operasi kupikir Junho hidupnya juga tak berlangsung lama, mengingat ia tidak pernah menjalani perawatan secara intensif dan justru memilih berada disisi Xiaoyou yang hampir mati setiap harinya karena depresi, disatu saat ia juga sedih ketika Xiaoyou menuliskan “Bye” di dinding yang artinya Xiaoyou ingin move-on dari Junho. Padahal memang itu yang Junho harapkan dari Xiaoyou, sehingga Junho pergi tanpa meninggalkan beban dipundak Xiaoyou.

      Lucu, saya gak tahu namanya si tetangga Xiaoyou sampai akhir, browsing pun gak ketemu.. atau barangkali saya kurang gigih mencari. Serius, di film kurasa sepanjang menit yang berlalu tiada nama yang terlontarkan sekali pun *wkwkwk. Lucu sekali! Haha haha haha etaa.. garing.. XD, ada yang tahu namanya siapa? Komentar pliss..

      Jenis anjing bulldog Perancisnya imut lucu namun sedikit mendistracting diriku sepanjang menulis ini. Karena jadi inget anjingnya Siwon yang menggigit orang sampai meninggal *uh, Siwon-ssi.. kesempurnaanmu rusak gegara anjing. Kepengen sekali punya anjing karena mereka cenderung setia dan tidak bisa lepas dari majikannya, yang selalu ada seperti mi sedap *kkk. Sedangkan kucing mereka cenderung cuek dan terkesan tidak butuh majikannya, meski sesekali manja, terkadang aku bertanya-tanya ini gw pelihara kucing apa manusia sih? Pas di rumah dan gak butuh.. dia nyelindet-nyelindet manja luar biasa… Pas kangen dan sangat butuh, saya dicuekin, sediih.. *ckck. Namun kupikir aku tidak akan sanggup jika merasakan sedihnya ditinggal anjing mati atau hilang.. mengingat sifat setia dan selalu ada untuk majikannya, saya sedih lihat Hachiko.. nangisnya bisa separah nonton film tentang ibu, apalagi memilikinya sendiri??. Bisa jadi mayat hidup selama beberapa waktu ini saya.. Yasudahlah.. lupakan.

Sampai jumpa di post selanjutnya! Sinopsis Film ada di menu/laman Movie. Karena minggu ini dimulai dengan “Never Said Goodbye”, maka minggu depan akan dipost yang ceria. Fyi sinopsis akan diperbaharui tiap akhir pekan, kalau bukan Sabtu ya berarti Minggu, dan Readers hanya perlu bersabar menungguku yaw.. ^-^

Advertisements

[C-Movie] Never Said Goodbye – Part 4

     Suatu hari Junho mendapati hidungnya mengeluarkan banyak darah. Junho memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Dokter menjelaskan hasil pemeriksaannya, Junho positif mengidap kanker.

Junho bertanya pada dokter berapa lama lagi perkiraannya hidup?.

“Setengah tahun” Jawab dokter.

Itulah mengapa Junho berpura-pura pergi ke Italia demi mengejar mimpinya. Ia sesungguhnya tidak ingin membuat Xiaoyou terluka jika mengetahui penyakitnya. Pagi hari setelah diusir keluar dari apartemen Xiaoyou, Junho minta putus.

Ia pergi meninggalkan Xiaoyou ke Italia.

Junho pulang ke rumah kakaknya. Kakaknya senang sekali Junho pulang setelah 3 tahun merantau. Ia memukuli Junho karena kesal, tiba-tiba Junho terjatuh dan kesulitan berdiri.

Junho diperiksakan. Kakaknya terkejut ternyata Junho mengidap kanker, setelah keluar dari rumah sakit kakaknya hanya mengatakan Junho kelelahan dan harusnya beristirahat di rumah. Namun Junho tahu kakaknya sudah mengetahui penyakitnya.

Di pinggiran tebing Junho menerima pesannya Xiaoyou.

[ Park Junho. Maafkan aku. Aku yang salah. Kalau kau kembali. Aku tidak akan marah lagi. Aku akan berubah. ]

Junho mengatakan keinginannya pada kakaknya, ia ingin dimakamkan lebih awal. Xiaoyou harus melupakan Junho secepatnya. Sayangnya Junho lihat Xiaoyou tidak menghadiri pemakamannya. Ia yakin Xiaoyou tidak bisa menerima ini.

Junho memberitahukan kebohongannya pada Ma dan memintanya menutupinya dari Xiaoyou.

31 Januari 2014. Awal tahun baru. Hari ke-3 sejak aku kembali ke Shanghai. Setelah banyak memohon, Ma setuju menunda perawatanku. Dan aku tinggal di apartemen diatas tempat tinggal Xiaoyou.

Selama ini Junho selalu mengawasi Xiaoyou.

Tahun baru dan bagi Xiaoyou sama saja, tinggal ia dan Guguk, rumah yang kotor.

Junho juga mendengar ketika Xiaoyou pulang ke apartemen dan memaki-makinya, melemparkan semua barang-barang ke luar.

Itulah mengapa dulu tetangganya Xiaoyou tidak jadi naik menemui Xiaoyou yang berteriak-teriak karena Junho sudah ada di depan pintu apartemen Xiaoyou, namun tetangganya tidak pernah mengatakannya pada Xiaoyou bahwa Junho masih hidup meski tahu, ia menghargai privasi orang lain.

Junho di apartemennya. Merekam semua pembicaraannya, sekarang sudah berganti alat rekaman lain. 14 Febuari 2014. Hari valentine (kasih sayang). Xiaoyou menangis lagi. Dan aku tidak bisa menghiburnya. Ma memaksaku untuk dirawat dirumah sakit. Ingatanku semakin memburuk.

    Junho juga melihat Xiaoyou membuangi semua barang-barang yang berhubungan dengan mereka berdua. Malam ketika Xiaoyou mencari Guguk yang terlepas, Junho juga mengikutinya serta memperingatkan Xiaoyou yang tidak fokus menyeberang jalan hingga tertabrak.

Junho membawanya ke rumah sakit.

Junho mengamati lamat-lamat Xiaoyou yang belum siuman. Junho mengerjakan apa yang Xiaoyou coba buat sebelumnya, ia juga merapikan hasil cat tembok yang Xiaoyou cat sebelumnya.

Disaat Xiaoyou hendak melanjutkan las-lasannya, terkejut melihat semuanya sudah beres. Junho setelahnya mencoret emotikon cemberut dan menggambarkan dengan senyuman. Di waktu lain Xiaoyou balas menuliskan “Who are you?”

Dibalas oleh tanda lainnya. Xiaoyou mendekatkan telinganya ke dinding. Dibalik dinding tersebut Junho mengecatnya juga disaat Xiaoyou di sana.

Ma meradang pada Junho yang memintanya membantu mengerjakan pekerjaannya Xiaoyou. Dia ini adalah bos perusahaan desain interior tapi melakukan seperti ini demi Junho, rasanya sungguh ingin membakar tempat ini!. Muka keduanya cemong oleh debu dan cat, Junho membalas Ma.. mata duitan seperti Ma mana mengerti apa itu cinta?

Cinta apanya?!. Ma makin meradang mendengarnya. Junho memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan, ia ingin melanjutkan pekerjaan. Junho terjatuh, Ma menggantikannya naik membuat instalasi. Junho duduk istirahat, ia terengah.

“Kalau kau sungguh mencintainya. Kau harus kumpulkan keberanianmu untuk menemuinya. Meskipun kau membuatkannya desain pencakar langit. Membahayakan dirimu dengan rak tangga baja ini. Dia tidak akan bahagia. Kalau dia tidak tahu siapa yang membantunya. Dia tidak cukup pintar. Kau pikir dia bisa mengerjakan semua ini?” Pungkas Ma kesal semberi mengelas.

“Bagaimana kalau aku menemuinya. Apa yang terjadi kalau aku menemuinya? Aku hanya akan melukainya lagi. Mati sekali lagi dihadapannya? Saat aku tidak bisa menahannya lagi. Aku akan benar-benar pergi. Kalian tidak akan melihatku lagi.”

Ma turun dan menyuruh Junho bangun. Ma ingin Junho sadar, sekarang ini ia sedang sekarat dan Junho harus menemui Xiaoyou sekarang!.

Junho tidak mau, ia balas mengusir Ma. Pergi saja! Akan dia kerjakan sendiri.

Malam harinya Xiaoyou mengendap-endap memasuki bar. Ia pikir akan memergoki siapa yang membantunya. Namun hanya ada Pak Ma yang berjengit menggerutu, kedatangannya Xiaoyou mengagetinya saja. Xiaoyou tidak mudah percaya, ia menyurai sekitar dengan senternya. Bertanya pada Ma apakah benar-benar di sini sendirian sedari tadi?

Ma menawarkan untuk Xiaoyou membantu. Namun Xiaoyou pergi tak menghiraukannya. Junho sebenarnya masih di sana, ia bersembunyi dari Xiaoyou. Junho mengernyit kesakitan karena hidungnya mengeluarkan darah.

Ma mengantarkannya. Junho memegangi tisu meredam aliran darahnya dari hidungnya. Junho terbahak kecil melihat Ma yang kelabakan menyetir, Junho memintanya santai saja menyetirnya tak usah terburu-buru. Ma marah dibuatnya, ia takut Junho mati di mobilnya.

Ma diberitahu dokter untuk mengabari keluarganya Junho, dua dari dari sekarang Junho harus dioperasi.

Selama operasi Xioayou mengunjungi bar lagi, ia terpekur di hadapan dinding. Ia gambar dua cangkir kopi, [Mari minum kopi bersama?]

Kepala Junho sekarang plontos, ia menutupinya dengan kupluk.

Tetangga Xiaoyou membuntuti Guguk, anjing tersebut berlarian dengan lonceng berdentingan.