[K-Movie] Midnight Runners – Part 2

“Coba tunjukkan hanya sampai ke taringmu. Sedikit lagi. Tidak bagus juga.” Namun menurut Ki Joon sohibnya ini lebih baik daripada Jae Ho. Hee Yeol kemudian memprotes “Tentu saja, dia terlihat tua.”

Ki Joon melihat senyumannya Hee Yeol jadi agak mendingan saat mengatakan Tentu saja, dia terlihat tua. Mereka mengulang-ulangnya lagi. *HHHHH

Sekarang mereka siap pergi ke club! Dasar duo kunyuk.. ckckck

Mereka bersiap-siap. Mandi dan memilih baju.. Hee Yeol meminta saran bagusnya memakai kacamata yang mana. Ki Joon hanya berkomentar semuanya kelihatan jelek pada Hee Yeol. Ki Joon bertanya pakai baju yang mana bagusnya?. Heol! Hee Yeol mencela pakaiannya Ki Joon ini cocoknya buat masuk TK.

Sedangkan pakaiannya Hee Yeol seperti baju dari donasi menurut Ki Joon. Hee Yeol menjelaskan ini merk Cambridge. Ki Joon tidak peduli merknya, jika Hee Yeol mengenakan ini pasti akan diusir dari club.

Jae Ho di kamarnya berlatih dengan teman sekamarnya, temannya berkomentar mau berlatih sekeras apapun Jae Ho tidak akan bisa mengalahkan Ki Joon, Jae Ho ia masih dendam dan ingin mengalahkan Ki Joon di kelas bela diri.

Hee Yeol dan Ki Joon nyelonong masuk ke kamar Jae Ho, Hee Yeol mengambil satu pakaian lalu berterima kasih dan pergi. Ki Joon asyik memilih-milih pakaian. Jae Ho tidak senang kenapa harus meminjaminya baju?

Dengan polosnya Ki Joon mengatakan kalau mereka ini kan teman?.

“Tidak cukup” tukas Jae Ho.

Ki Joon bertanya apa yang Jae Ho inginkan?. Jae Ho bilang ia ingin Ki Joon pura-pura membuat Jae Ho menang di depan semua orang saat kelas judo.

“Gila kau..” Ki Joon kesal, tapi akhirnya setuju. Jae Ho kegirangan dan mengajaknya tos. Tapi Ki Joon malah merapikan rambutnya dan pergi.

Mereka perlu wangi dan parfum, Ki Joon menyemproti Hee Yeol. Hee Yeol berputar agar wanginya merata (Wait! Ini parfum apa pengharum ruangan Mas?)

Mereka izin keluar dengan alasan “Kehidupan asmara”. Prof Yang bertanya apa mereka kena masalah di luar. Keduanya menjawab tidak. Profesor menyuruh mereka segera pergi kalau tidak mau ketinggalan bus. Pasca mereka pergi Profesor mendesah “Aku cemburu..”

Ki Joon dan Hee Yeol mengejar busnya yang sudah melaju. Di Oktagon mereka dikira polisi, si penjaga lalu pergi mengawal Chansung 2 PM. Hee Yeol dan Ki Joon langsung norak, Ki Joon tos dan berteriak ia tahu lagunya 2 PM yang Put Your Hands Up!

Ki Joon dan Hee Yeol terkagum-kagum melihat orang-orang. Mereka juga senang bisa melihat banyak artis di sini.

Hee Yeol sksd, sok kenal sok deket nimbrung ke para gadis, ia bergoyang-goyang dan ditinggalkan karena dianggap aneh *hhhhh, yang menurutku lucu karena jogetnya ala Mr Bean. Sementara Hee Yeol mendekati dikacangi seorang wanita yang mengiranya wajib militer, Ki Joon menjelaskan ia ini taruna kepolisian. Wanita itu mengabaikannya, ia sudah punya pacar.

Hee Yeol malah di gang dan mencegati orang, beberapa justru mundur tidak jadi masuk karena Hee Yeol. Seorang wanita mendekati Hee Yeol, mengajaknya menari karena Hee Yeol manis. Tak lama menari pacar wanita itu datang, si wanita melompat ke gendongannya. Hee Yeol takut, mengira pacarnya akan memukulnya tapi hanya tersenyum dan pergi.

Ki Joon mendekati seorang wanita lainnya, ia bicara dengan kaku. Bertanya padanya apa yang dilakukan wanita ini saat natal?. Wanita itu bertanya apa pekerjaaan Ki Joon. Ki Joon bilang ia ini taruna polisi. Wanita itu mengira Ki Joon polisi. Ki Joon menjelaskan ia masih dalam pembelajaran, nanti kalau lulus baru jadi polisi.

Wanita itu berbicara ke dekat Ki Joon. Mengapa memilih menjadi polisi? Kau akan miskin seumur hidup. Setelahnya Ki Joon tampak merenungkan kata-kata yang ia terima tadi.

Hee Yeol dan Ki Joon mampir di kedai. Ki Joon memikirkan apakah mereka benar-benar akan menjadi polisi?. Hee Yeol bertanya kenapa?. Ki Joon menjelaskan, setidaknya Jae Ho punya tujuan kenapa ia berusaha keras untuk menjadi polisi. Sedangkan Ki Joon masuk akademi karena ia tidak memiliki biaya kuliah, sedangkan Hee Yeol masuk karena tidak sengaja (nyasar istilahnya XD, yakali.. dia dulu bilang cuman kepengen kelihatan unik dari temen-temennya yang pada masuk KAIST semua. Jadi secara gak langsung dia bilang belum ketemu passionnya dong)

“Sial” Hee Yeol kesal.

“Setelah kita lulus, kita akan jadi polisi seumur hidup.” Ki Joon mulai menyesal.
“Aku tidak tahu apakah ini benar. Sekolah juga membosankan bagiku. Hi-yah, pantatku. Mereka mengajarkan hal yang tidak berguna.

“Aku sudah bertahan selama 2 tahun. Aku tidak bisa berhenti sekarang.”

Hee Yeol mengajaknya makan pasta saat natal nanti. Mereka lalu keluar dari kedai, main-main overwatch.

Melihat gadis berjaket pink mereka lalu memainkan gamenya. Yaitu seolah menyihir apakah gadis itu berbalik atau tidak. Si jaket pink menoleh berbalik. Mereka lalu mengikutinya, meski keduanya merasa aneh karena seperti stalker tapi tetap mengikutinya.

Mereka suiten untuk menentukan siapa yang akan bertanya minta nomor teleponnya. Mereka main terus sampai tidak sadar bahwa si jaket pink diculik mobil hitam. Keduanya lalu mengejarnya sekuat tenaga.

Keduanya muntah karena kelelahan. KI Joon menghubungi polisi dan menjelaskannya, Hee Yeol juga menyebutkan plat nomor yang dilihatnya tadi. Katanya tidak terdaftar. Telepon ditutup. Mereka berdua kebingungan harus bertindak apa, mereka akan ke kepolisian terdekat yang jaraknya 10 menit.

Timjangnim Unit Kejahatan bertanya mereka dari angkatan berapa? Keduanya bilang 2015. Timjangnim bilang ia 1999 dan bertanya apa masalahnya?. Keduanya menjelaskan melihat orang diculik. Sayangnya Timjangnim tidak bisa membantu segera karena unit mereka sedang melakukan tugas, cucu pengusaha hilang dan ini perintah langsung dari atasan.

Keduanya putus asa, kalau hanya menunggu maka korbannya akan meninggal dan hanya mereka yang mengetahui kejadiannya. Hee Yeol ragu-ragu, mereka tidak mungkin bisa melakukannya karena tidak bisa melacak telepon atau melihat CCTV. Ki Joon meminta Hee Yeol yang pintar memikirkan ini dari apa yang mereka pelajari di akademi.

Hee Yeol memikirkannya, 3 sumber penyidikan.. Kesaksian korban, bukti, TKP. Meski kebingungan Hee Yeol berusaha memikirkannya. Kita tidak bisa memeriksa korban karena kita tidak tahu posisinya. Kita tidak bisa memeriksa bukti karena tidak ada bukti. Jadi kita periksa TKP.

Keduanya lalu kembali ke TKP.

Hee Yeol pikir dari tindakan pelaku yang rapi, dipastikan pelaku sangat mengenal kebiasaan korban yang artinya akan semakin sulit menemukan siapa penculiknya. Mereka menemukan bungkusan plastik di jalan.

Hee Yeol jijik, mengira ini benda hidup. Ia menyuruh Ki Joon saja yang buka. Hee Yeol sudah menjerit mengira itu darah. Ki Joon lihat itu hanya tteokpokki, tteokpokki cukup banyak… mungkin cukup untuk 4 orang.

“Siapa yang peduli?” tukas Hee Yeol

“Kau tahu kenapa dia beli Tteopokki beku begini?”

“Aku belum pernah melakukan itu.”

“Artinya dia punya beberapa orang untuk dibagi di rumah.”

“Investigasi gaya hidupmu, luar biasa!” Puji Hee Yeol

“Kalau kita tahu alamatnya, kita akan tau lebih banyak lagi. Bahkan tidak ada tanda terimanya.”

“Kita tidak bisa menemukan rumahnya, tapi kita bisa penjual Tteopokki nya.”

“Forensikmu luar biasa!” Gantian puji Ki Joon.

Mereka kemudian mencari penjualnya. Sedangkan korban tampak siuman dan mendengarkan pembicaraan penculiknya.

Ki Joon dan Hee Yeol banyak diusirnya daripada diterimanya, namun mereka masih mencari. Hee Yeol menyarankan Ki Joon untuk minta bantuan Prof. Yang saja, Ki Joon tidak mau.. mereka akan kena semprot kalau tahu melakukan hal ini.

Hee Yeol mulai frustasi. Bisakah kita memeriksa buktinya sekarang? Lalu bisakah kita memeriksa korbannya? Dan semua jawabannya tidak. Satu-satunya harapan mereka adalah Prof. Yang tapi kalau Prof. Yang tahu mereka ke club dan dalam perjalanan pulang melihat penculikan ini akan menjadi masalah.

“Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan ini. Tapi, kau tahu apa yang kutulis sebagai 3 sumber penyelidikan?”

“Apa?”

“Semangat, kegigihan, kejujuran.”

Seketika tawa Hee Yeol pecah, Ki Joon tolol sekali. Namun justru itu membangkitkan semangat Hee Yeol lagi, mereka kembali mencari penjual tteopokki.

Di penjual terakhir mereka mendapatkannya.

Advertisements

[K-Movie] Midnight Runners – Part 1

Upacara Penerimaan Akademi Kepolisian angkatan 2015. Joo Hee menghentikan kebisingan para peserta didik dan orangtua. (Joo Hee: Park Ha Sun, ini orang suaranya gak ada manis-manisnya sama sekali, keren! Suaranya agak ngebass dan tidak manis untuk ukuran wanita. ˆʃƪ) )

“Bisa minta perhatian sebentar? Sekarang, semua kandidat akan berpindah ke Union Hall untuk pemotongan rambut. Ucapkan selamat tinggal pada keluarga dan teman-teman kalian segera.”

Semua orangtua dan anak-anak mereka kemudian saling berpelukan dsb. Park Ki Joon (Park Seo Joon) diantarkan ibunya, ibunya memberinya pesan untuk menurut pada para senior, jangan lewatkan makan, tidur pakai selimut di malam hari. Tetap kuat ‘ya sayang.. pulanglah kalau terlalu sulit.

“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.  Tetaplah sehat bu” Ki Joon kemudian memeluk ibunya.

Ayahnya Hee Yeol (Kang Haneul) menyaksikan adegan dramatis tersebut dan beralih ke puteranya yang sibuk dengan ponselnya.

“Siapa yang kau sms?”

“Eomma”

“Haruskah kita berpelukan juga?”

Hee Yeol menggeleng keras. Setelah itu Hee Yeol pamit pergi, ayahnya mengatakan ia bangga pada Hee Yeol. Hee Yeol menyuruh ayahnya membenarkan jaketnya sebelum pulang karena hari terlalu dingin.

Joo Hee mengaba-abai mereka untuk memberikan hormat pada orangtua mereka sebelum pergi.

Giliran Ki Joon dipangkas rambutnya. Ia melakukan request XD

“Tidak bisakah jangan dipotong terlalu pendek? Cambangku butuh waktu lama agar tumbuh kembali. Tolonglah. Butuh waktu satu tahun untuk menumbuhkan rambutku.”

Namun petugasnya tidak terlalu menghiraukan, Ki Joon terus memprotes cambangnya jangan dipotong. Disaat itulah Hee Yeol menatapi Ki Joon dengan tatapan menghina

Ki Joon tersenyum pada Hee Yeol dan Hee Yeol malah mengatainya bodoh.

Giliran Hee Yeol, ia bertanya apakah alat cukurnya disterilkan?. Petugas bilang tidak. Hee Yeol menjelaskan kalau tidak disterilkan akan menyebabkan infeksi kulit. Petugas tidak peduli, langsung mencukur saja dan tersenyum geli dengan ketidaknyamanan Hee Yeol.

“Pelatihan ini merupakan program pelatihan militer selama 2 minggu. Saya harap kalian semua menyelesaikan pelatihan dengan mengikuti instrukturmu. Tahun lalu, 4 dari 96 kandidat keluar dari program ini. Kalian harus tetap waspada sampai akhir.” Jelas Profesor Yang

“Ya, pak.”

“Kalian lebih baik belajar cara berbicara.”

“YA, PAK!”

“Ayahku angkatan 1985 dari Angkatan Kepolisian. Sejak kecil, dia mengajariku dengan baik…. tentang ketertiban umum dan keadilan. Kalian akhirnya akan mempelajarinya di sini. Ketertiban dan keadilan itu penting. Aku ingin jadi polisi seperti ayahku. Apa yang membawamu kemari?” Jelas Jae Ho di depan. Ki Joon ditanya dan Ki Joon tidak bisa menjelaskan.

Kemudian terdengar pengumuman untuk segera berkumpul dengan seragam, kalau terlambat mereka akan dihukum. Medusa alias Joo Hee yang mengumumkannya. Anak-anak langsung kelabakan berganti seragam.

Karena push up mereka tidak kompak, Medusa menyuruh mereka mengulangnya dari 1 sampai 100 padahal mereka kini sudah menginjak 85.

Mereka juga dibangunkan fajarnya untuk lari, lalu makan di dapur umum. Ki Joon minta sosisnya ditambahi lagi, ia tidak bisa makan nasi sebanyak ini dengan 2 gelintir sosis saja. Petugas menyuruhnya mengurangi nasinya kalau begitu, Ki Joon mencoba protes tapi gagal.

Ia duduk di hadapan Hee Yeol, masih merana karena makanan sekecil ini cocoknya hanya untuk anak TK. Ki Joon lihat He Yeol tidak memakan sosisnya, ia bertanya kenapa?

Hee Yeol dengan cerdasnya menjelaskan. Sosis dibuat dengan sodium glutamat dan natrium nitrat, yang menyebabkan kanker.

Dan Ki Joon tidak ngeh maksudnya apa. Dengan jengkel Hee Yeol menjelaskan, mengapa sengaja makan zat penyebab kanker?, Hee Yeol tidak mau kena kanker. Ki Joon langsung memakan milik Hee Yeol.

Saat pengukuran badan, Ki Joon menyapa Hee Yeol. Hee Yeol balas mengacungkan jari tengahnya dengan berpura-pura membenarkan letak kacamatanya. Ki Joon mengumpatnya b*jing*n.

Joo Hee menyuruh mereka untuk memperhatikan baik-baik, kalau tidak mereka akan terluka parah. Baru saja diingatkan, salah satu dari yang memanjat tali langsung terjatuh dan berteriak kesakitan. Dokter dipanggil.

“Sebagai petugas di lapangan, kalian bisa menghadapi bahaya yang besar. Maka dari itu, di sini, di Pusat Seni Bela Diri… kalian akan memilih satu dari Taekwondo, Judo, Aikido, dan Kendo… dan berlatih selama 4 tahun. Mengerti?” Jelas Profesor yang

“Ya, pak.”

“Aku mengerti kalian kecewa… karena dua kalian sudah gagal melanjutkan pendidikan. Tapi kalian hampir sampai diakhirnya. Teruskan.”

“Ya, pak.”

“Selalu jawab dengan keras dan jelas.”

“Ya, pak.”

“Hari ini adalah final dari pelatihan.”

“YA PAK!”

“Ini adalah lomba lari ke Gunung Buphwa. Menurut tradisi kami, yang bisa berlari naik dan turun gunung dalam satu jam… akan diterima di Akademi ini. Mereka yang gagal akan ditolak masuk karena kurangnya kemampuan fisik. Mereka yang gagal mencapai puncak juga akan ditolak masuk. Lakukan dengan segenap kekuatan kalian. Mengerti?” Terang Joo Hee.

Ki Joon mengatur jamnya, mereka berlari setelah dilepas.

Dalam perjalanan Hee Yeol tersandung dan tidak bisa berdiri. Seseorang melewatinya dan menolak membantu. Ki Joon datang dan bertanya kenapa?. Hee Yeol meminta bantuannya karena ia tidak bisa berjalan, Ki Joon juga menolak. Namun Hee Yeol mengingatkan Ki Joon bahwa ia memberikan Ki Joon sosis sebelumnya. Ki Joon tidak terima,

“Aku memakannya karena kau tidak makan.”

“Kau yang minta duluan.”

“Jika kau mau memakannya, aku tidak akan minta.”

“Sialan, Bung.”

“Tolong bantu aku. Aku ingin masuk akademik.” Hee Yeol memohon. Dan Ki Joon makin bingung. Hee Yeol menawarinya akan membelikan daging, ayahnya Hee Yeol punya toko besar di Pasar Majang. Daging sapi korea, dipanggang sempurna. Ki Joon luluh juga demi daging, menyuruh Hee Yeol naik ke gendongannya. Tapi Ki Joon tidak kuat menggendongnya karena Hee Yeol berat.

Waktu hampir habis. Tinggal Hee Yeol dan Ki Joon yang belum sampai. Dalam perjalanan Ki Joon dan Hee Yeol masih berdebat. Medusa menyuruh mereka lari lebih cepat.

Medusa bertanya apa yang terjadi. Hee Yeol menceritakan bahwa ia terkilir saat berlari tadi dan Park Ki Joon menolongnya. Ia harap Ki Joon diterima dan Hee Yeol juga. Joo Hee langung berbalik bertanya pada yang lain apakah mereka melihat keduanya saling membantu tadi? Semuanya mengangkat tangan.

Joo Hee menghukum mereka karena tugas sebagai polisi adalah membantu masyarakat tapi kalian mengabaikan teman sekelasmu saat dia terluka?! Bagaimana kalian bisa disebut polisi saat kalian hanya peduli dengan diri sendiri? Walau kalian berhasil kembali tepat waktu, kalian semua gagal. Mereka diharuskan mengulang lari kembali.

Joo Hee menyuruh Hee Yeol dan Ki Joon ke ruang medis. Ki Joon bertanya apakah mereka berdua lulus? Joo Hee hanya meneriakinya “SEKARANG!”

Setelahnya Ki Joon kegirangan karena ia merasa mereka beruntung sekali.

-* MIDNIGHT RUNNERS *-

“Kau SMA dimana?” Tanya Ki Joon

“SMA Sains Seoul.”

“Bukankah seharusnya kau lanjut ke KAIST atau sejenisnya?” (KAIST adalah ITB-nya Korea)

“KAIST sudah biasa. Aku ingin melakukan sesuatu yang unik.”
“Aku pikir lanjut ke KAIST cukup unik.” Ki Joon merasa aneh

“Semua temanku pergi ke KAIST. Di SMA ku, lanjut jadi Polisi yang unik.”

“Maksudmu eksentrik?”

“Kenapa kau kemari?”

“Uang kuliah gratis disini. Ibuku tidak punya uang.”

“Bagaimana dengan ayahmu?”

“Aku dibesarkan oleh ibu tunggal.”

“Itu agak blak-blakan.” Hee Yeol merasa tidak nyaman, namun KI Joon biasa saja. Ia tidak merasa malu mengungkapkan ini pada Hee Yeol. Ki Joon menagih janjinya Hee Yeol, kapan kita akan makan steak?

Hee Yeol menjawab kapanpun Ki Joon mau.

“Kau ingin tahu sesuatu?”

“Apa?” Tanya Hee Yeol

“Akuu bisa makan seperti tukang pukul.” [Teringat FIGHT FOR MY WAY, dramanya Seo Joon XD kan dia jadi tukang pukul/atlet Taekwondo]

“Kami juga punya toko daging.”

“Astaga! Ayo berteman” Ki Joon mengepalkan tangannya dan Hee Yeol memukulkan kepalan tangannya juga. Ki Joon menduga Hee Yeol ini orang mesum, jangan menggosok tanganku!

Para taruna mengikrarkan sumpah mereka.

     2 tahun kemudian…

Bel berbunyi membangunkan semuanya. Rutinitas pagi, mereka mandi dan mengenakan seragam mereka.

Hee Yeol mengeluh ia ingin memakai pakaian biasa, Ki Joon juga mengatakan ia benci warna hijaunya. Mereka melakukan tes

Sebutkan 3 sumber penyelidikan. Hee Yeol menjawab: Kesaksian korban, bukti, TKP. Sementara itu Ki Joon berpikir keras apa 3 jawabannya, dengan asal Ki Joon menjawab: Semangat, kegigihan, kejujuran.

“Sebagian besar kasus penculikan menargetkan wanita dewasa dan anak-anak di bawah 13 tahun. Waktu adalah faktor yang paling penting dalam penculikan. Tingkat kelangsungan hidup korban, bergantung seiring berjalannya waktu. Apa sebutan periode waktu saat korban paling mungkin dibunuh?”

Jae Ho menjawab Golden time dan Prof. Yang menertawakannya. Hee Yeol menjawab jam kritis dan Prof. Yang memujinya. Jae Ho menoleh ke belakang, Hee Yeol dan Ki Joon mengejeknya.

“Dengarkan baik-baik. Bagi wanita dewasa, jam kritisnya adalah 7 jam setelahnya. Secara statistik, 70% korban tewas saat itu.”

 

Kelas berikutnya

“Sudah disampaikan minggu lalu, hari ini akan diajarkan teknik pertahanan diri.” Jelas instruktur.

Jae Ho maju ketika instruktur bertanya adakah yang mau menjadi relawan. Instruktur melakukan gerakan yang cukup aneh menurut Ki Joon sampai-sampai membuatnya menahan tawa. Sedari tadi yang keras cuman di bagian Hi-yah!

Jae Ho berimprovisasi lebay terkapar di lantai. Seluruh kelas diam merasa aneh, Jae Ho bangun dan mengajak semuanya bertepuk tangan. Ki Joon dan Hee Yeol yang paling antusias melecehkan XD

“Hee-yeol. Apa yang akan kau lakukan saat natal?” Tanya Ki Joon

“Aku pergi ke kafe internet dengan Ki-joon.” Jawab Hee Yeol santai

“Aku akan jalan-jalan dengan pacarku.” Bantah Ki Joon.

“Kau tidak punya pacar.”

“Aku tahu.”

Jae Ho pamer foto pacarnya. Ki Joon dan Hee Yeol penasaran di mana Jae Ho bertemu dengannya. Jae Ho mengejeknya, kenapa juga harus memberitahu mereka berdua? HHHH

Hee Yeol ingin Ki Joon melakukan interogasi pada Jae Ho.

Ki Joon memitingnya memaksanya berbicara, Jae Ho akhirnya mengatakan ia bertemu pacarnya di club Oktagon. Setelah kelas selesai Ki Joon dan Jae Ho mendiskusikannya, menurut Hee Yeol pesan minum dan masuk saja sudah mahal.

“Kita tidak usah pesan minuman.” Ujar Ki Joon

“Bagaimana kau bisa kenalan dengan cewek jika tidak traktir mereka minuman?”

“Dengar. Ibuku bilang, wanita suka pada pria karena senyumannya. Berikan aku senyumanmu.”

Hee Yeol pamer giginya. Ki Joon langsung berseloroh “Wow, kau punya banyak gigi..”

Hee Yeol kesal, ia mengacungkan jari tengahnya “Tutup mulutmu.”