Blog Archives

Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 9 Part 2

     Kono lihat ada obat, mainan di mejanya dari rekan-rekannya, Yoneoka menyemprotkan minyak wangi ke Kono. Mereka berharap Kono bisa semangat dan ceria lagi seperti semula.

Masamune datang, ia penasaran kenapa Kono-san tidak seperti biasanya?. Yoneoka segera menarik Masamune-nya itu untuk jangan mengganggunya.

Kono membawa barang-barang tersebut dan pamit pergi.

Di luar Shesiru mengajaknya minum. Senpai hari ini tidak seperti yang biasanya, meski tidak tahu apa masalahnya ia rasa dengan minum-minum akan membuat lega. Yukito datang, bertanya apa Ecchan bisa? Ada janji ya?

Shesiru menarik Kono dan memberikannya sedikit lipstick. Kono masih lesu, ia berterima kasih dan didorong Shesiru ke Yukito.

Kaizuka datang ke Lassy mencari Kono. Morio bilang senpai baru saja pergi, Morio menduga pasti Kaizuka bicara sesuatu pada senpai bukan?

Kaizuka kikuk menanggapinya, aa.. tidak.

      Ecchan dan Yukito melihat pemandangan malam hari. Yukito menunjuk taman di bawah sana, taman itu sering digunakan bermain oleh anak-anak dan syukurlah tidak ada yang terluka ketika bermain. Kenapa? Karena ada petugas yang setiap saat mengecek dan  memperbaiki semua permainan di tamannya. Juga di rel kereta api, selalu ada petugas yang mengecekny secara rutin. Jika ada sambungan rel yang tidak rata segera mereka ganti.

Berkat mereka kita bisa dengan aman naik kereta. Jembatan juga, yang tingginya 120 m dan ada petugas khusus yang membetulkan palang yang kendor. Sehingga jembatan tidak roboh dan mengalami kecelakaan fatal. Ada juga petugas yang memeriksa tower listrik yang tinggi.

Kono takjub, baru pertama kali tahu pekerjaan ekstrim semacam ini. Beresiko sekali, dibutuhkan dan jarang orang yang tahu. Semua yang mereka lakukan tidak pernah ada yang memuji mereka, kapan mereka mengerjakannya pun Yukito tidak tahu. Mereka sangat hebat!

“Hal yang kita kira sudah jelas, dan hal jelas itu bisa, karena dibaliknya, terdapat orang-orang yang berusaha melindungi hal tersebut.”

“Benar-benar seperti itu. Kenapa aku melupakan hal yang sudah jelas ini.” Kata Kono

“Menurutku tak apa-apa. Meskipun keberadaan mereka jarang ada yang mengetahui, mereka tetap melakukan  tugasnya. Oleh karena itu, aku berpikir untuk menulis tentang mereka, yang melakukan pekerjaan akan hal-hal  yang terlihat sudah jelas bagi kita.”

Etsuko tidak menyangka Yukito yang mencari semua informasi ini. Yukito membenarkan kalau ia sangat ingin menulis buku ini. Etsuko yakin bukunya Yukito yang ini akan bagus sekali, sangat bagus!

Yukito berterima kasih, ini semua berkat Ecchan. Ecchan yang memproofreading novelku sehingga aku bisa mengenal Ecchan. Membuatku tertarik pada pekerjaan koetsu. Ternyata ada pekerjaan seperti itu, di tempat yang tidak diketahui ada banyak orang-orang hebat.

Makanya aku ingin membuat buku ini.

“Yukito-kun..” Etsuko tersentuh.

“Ecchan, aku… aku sangat bersyukur bisa bertemu Ecchan. Mungkin terdengar lebay sih, tapi aku sangat bersyukur telah dilahirkan.”

“Terima kasih. Begitulah penulis, terlalu lebay!” Keduanya tertawa.

“Sekarang ini bukan maksudku untuk mengulanginya lagi, tapi kali ini akan kukatakan dengan benar. Ecchan, denganku…”

“Sebentar!”

“Eh?” Yukito bingung

“Sebentar. Ano.. Maaf. Ano… tunggu, tunggu dulu…  berikan aku waktu. Mohon tunggu sebentar,  kumohon beri aku waktu. Ano.. Aku benar-benar minta maaf.”

Etsuko kemudian pergi meninggalkan Yukito.

Etsuko menuju rumahnya Morio. Ia meminta izin pada Morio untuk berpacaran dengan Yukito, kalau Morio ada perasaan pada Yukito.

Morio tidak masalah, ia tidak ada perasaan pada Yukito. Bohong! Morio menanggapi ucannya sendiri. Sebenarnya ada perasaan pada Yukito tapi hanya sedikit saja. Saat masalah dengan pacar dan pekerjaan.. kebetulan Yukito ada di rumahnya. Rasanya menyejukkan. Ketika tidak ada seperti sekarang, sekejap di dalam seperti ada lubang yang kosong.

Tapi sungguh tidak ada apapun sekarang. Lagipula daripada Yukito sebenarnya Morio lebih menyukai senpainya ini. Suka dalam artian kagum, dulu ketika SMA ia selalu ingin lebih hebat daripada senpai. Tapi saat bersama Etsuko ia terkadang merasa dirinya payah dan membuatnya sedih.

Tapi selalu berjuang dan tak peduli dengan omongan orang. Jujur saja Morio ingin seperti senpai yang selalu ia idolakan ini. Ia tidak nyaman dengan senpai hanya karena Yukito. Jika memang Morio menyukai pasti sudah ia rebut dari senpai.

Etsuko lalu menangis, Morio memeluknya. Ketika melihat dirinya di kaca Etsuko merasa penampilannya parah sekali. Morio tertawa, baru sadar sejak seharian ini?. Morio membawakan membantunya menyelamatkan penampilan. Etsuko tidak menyangka hanya dengan sedikit tambahan pakaiannya terkesan lain.

Morio terima kasih!, semoga sukses dengan proposalnya. Aku juga akan berjuang!.

Kono pamit, ia minta maaf karena sudah mengganggu waktunya Morio.

     Kono kembali bekerja dengan semangat penuh. Buchou datang menengok keadaan Kono, syukurlah tidak memasang muka lesu seperti tadi siang. Tadi Takehara ikut pertemuan sesame Buchou dan Sachou menyapanya sudah lama tidak bertemu ya Takehara-san?.

Kono merasa itu jahat. Takehara malah senang dengan sapaan semacam itu, jika Buchou tiap departemen jarang bertemu dengan Sachou berarti pekerjaan di departemen mereka lancar-lancar saja dan tidak membuat masalah besar.

Kono bertanya, kalau begini apa pintu masa depan masih terbuka?. Takehara menunjuk ke depan, menurutnya akan selalu terbuka bagi siapapun yang menginginkannya.

Kono hendak bekerja kembali. Takehara pergi.

~ * Jimi Ni Sugoi! *~

     Kono masuk kerja siang, dia kembali ceria. Shesiru bertanya kenapa kog Koetsu senpai masuk siang. Kono menjelaskan ia kemarin lembur, jadi sekarang bisa masuk siang sesuai perintah Buchou. Tadi tidurnya nyenyak, bisa sarapan, keretanya lancar.

Ah, senangnya… ingin segera naik jabatan. Semangat!. Shesiru senang Kono kembali seperti semula yang ceria dan bersemangat.

Kono masuk departemennya, ia menyapa semuanya dengan semangat. Semuanya juga senang melihat perubahan Kono. Kono mencari-cari di mana kotak pensilnya. Fujiwa rasa masih ada di Lassy.

    Di proofreading majalah Lassy ada catatan kata-kata Kawaii diganti menjadi Kakkoi karena tidak ada pembaca yang menyadarinya. Layoutnya bagus dan sesuai dengan majalah mereka. Tiba-tiba listrik mati.

Yang mematikan adalah Kono.

“Jangan-jangan lagi berpikir kalau listriknya bakal mati dan hidup sendiri. Berpikir kalau kereta pasti bisa berjalan sendiri? Yah kemarin aku juga lupa hal itu. Bisa ada listrik, kereta bisa berjalan. Ditempat yang tidak terlihat, agar tidak terjadi kecelakaan, terdapat orang-orang yang memeriksanya. Kami juga,  sebagai peninjau. Kami juga melakukan pekerjaan seperti itu. Berusaha memahami pembaca juga. Tapi, bagiku dari A sampai Z, kata demi kata saat membacanya,”

“Karena kuyakin banyak orang-orang  yang menyukai majalah fashion. Untuk mereka, kami juga pasti akan melindunginya. Koreksi cetakan terakhir, silahkan di periksa!.” Kono menunjuk koreksi terakhir yang di depan para editor.

 “Ah ada.” Ia mengambil wadah pensilnya.

“Terima kasih banyak atas pengalaman berharga yang diberikan dalam seminggu ini. Lassy memang luar biasa! Majalah yang paling kusuka! Aku menantikannya, edisi bulan depan Permisi!”

Kono membungkuk dalam-dalam, lalu pergi.

Kepala Editor datang, menurutnya Kono adalah Koetsu yang memiliki keteguhan luar biasa. Kepala Editor melihat koreksi dan notes di sana, ia menanyakan siapa yang bertanggung jawab dan meminta anak buahnya memperbaiki.

” Ini isinya sama dengan Lassy 5 tahun lalu yang kubaca begitu maksudnya. Yang bertugas, siapa?”

“Iya.”

“5 tahun yang lalu, tidak ada di halaman pembukanya,  tapi lewat artikel, dia mengingatnya. meskipun terlihat sepele, meskipun ada satu pembaca pun kecewa dengan isi majalahnya,  berapapun banyak yang dicetak, tidak akan dijual menurutku. Sampai dilingkari oleh Koetsu-san, dan tidak ada yang mengetahuinya, hal yang memalukan bukan. Baiklah, mari kita kerjakan lagi.”

Hatano kembali ke mejanya, ia melihat berasnya masih di sana. Ia kemudian tampak berpikir.

   Hongo-sensei memuji non-fiksi yang tengah dikerjakan Yukito. Bukan hanya dari materinya saja yang menarik, namun sudut pandang Yukito tentang objeknya juga menarik. Penulis memang hebat. Hongo-sensei menyarankan bagaimana kalau dibuat serinya?

Melihat respon Yukito.. Hongo-sensei bertanya ada apa? Sedang tidak bersemangat?. Yukito bilang kemarin saat ia mau meminta Ecchan untuk jadi pacarnya, tiba-tiba Ecchan minta maaf dan meninggalkannya.

Hongo-sensei tertawa. Ini pertama kalinya anakku tanya tentang masalah cinta. Yukito membenarkannya. Hongo-sensei menjelaskan kalau ucapan minta maaf itu bukan berarti NO, kan?

“Hmm, tidak. Dia bilang minta sedikit waktu” Kata Yukito

“Kalau begitu diam dan menunggu saja, jangan berpikir aneh-aneh, tunggu sampai hatinya siap, dengan begitu…”

Ponsel Hongo-sensei berbunyi sebelum selesai bicara. Ada panggilan tentang pekerjaan. Beberapa detik kemudian Yukito juga menerima pesan dari Ecchan, minta bertemu nanti.

Hatano memuji hasil kerjanya Morio. Memang tidak baru namun ini adalah sesuatu yang Morio banget. Hatano memberikan beras kepada Morio dan satunya untuk teman Morio dari Koetsu itu. Hatano bercerita tentang permasalahannya kalau kakaknya hendak mengambil alih sawah tapi awalnya tidak setuju. Tapi mendengar penjelasan Etsuko tadi ia pikir pasti kakaknya sudah membulatkan tekad, kadang-kadang Hatano pulang untuk membantu juga.

    Kepala Editor memanggil Morio, ia ingin bicara.

“Sudah tidak menunggu, kan?” Tanya Yukito

“Hmm.”

Etsuko lalu berdiri.

“Yukito-kun.”

“Iya” Yukito ikut berhadapan dengan Etsuko

“Saat pertama kali bertemu, aku selalu menyukaimu. Yukito-kun yang luar biasa ganteng juga,  YUKITO sebagai model juga, Sebagai penulis…  Ahh… Sebagai Korenaga Koreyuki-san juga… Kapanpun itu, aku selalu bisa menjadi diriku sendiri,”

“Perlahan aku menemukan apa yang ingin kulakukan. Aku selalu menyukaimu. Jika boleh, jadilah pacar…

Suara ponsel Kono menganggu, telpon dari kantor. Yukito dan Kono tertawa geli, momennya tidak pas. Yukito mempersilahkan Ecchan untuk mengangkatnya. Morio yang meneleponnya.

Senpai ada di mana sekarang?. Kono bilang ada di sekitar kantor. Morio dengan bersemangat mengatakan kalau Kepala Editornya Kamei-san ingin bertemu dengan senpai. Senpai akan dipindahkan ke Lassy!

Pindah ke Lassy??

KOMENTAR + SPOILER:

     Drama ini menceritakan perjuangannya para koetsu yang kadang gak dianggap tapi pekerjaannya membutuhkan ketelitian tingkat tinggi, kalau salah sedikit saja pasti diprotes. Koetsu dibutuhkan namun tidak dianggap berharga, tapi saya bikin sinopsisnya kadang males ngecek ulang XD, gak sabar buat ngecek ulang *kkk, maafkan kalau ada salah-salah kata ya readers~. Benar-benar kagum dengan para proofreader!

Jimi Ni Sugoi Episode 10

Wah, episode 10 menurutku manis sekali. Cluenya adalah … Semuanya bisa kalah dengan kata nyaman. Selalu ada hal-hal yang tak terduga dalam hidup.  How beautiful life … ː̗(^^)ː̖

Advertisements

Sinopsis Jimi Ni Sugoi! (Simpleness is Great!) Episode 9 Part 1

   Yukito masih di warungnya Taisho. Ia dan Etsuko suap-suapan. Etsuko mengingatkan ke Yukito kalau kereta terakhir sebentar lagi berangkat.

Tapi Yukito mengeluh tidak mau pulang sekarang.

“Ecchan tinggal diatas kan, ya?”

“Aku yakin kamarnya lucu”

“Eh… Kalau mau, boleh lihat, kok?”

“Ecchan…”

“Yukito-kun..” mereka pandang-pandangan.

Lalu Yukito menolak “Tidak boleh! Kita masih belum berpacaran, jadi tak boleh melakukan hal itu!” Kata Yukito sambil memegangi tubuhnya sendiri (Alay mode on)

Etsuko heran “Hal seperti itu, eh sebentar kita masih belum pacaran?”

“Kita benar-benar  belum berpacaran,”

“Kita tak boleh melakukan hal itu. Eh maksudnya apa? Ehh?” Kono masih bingung, Yukito pamit pergi dan Kono mengikutinya. Yukito menghilang.

Brakk!!

Kono bangun dari tidurnya. Hanya mimpi, “Jadikan aku pacarmu… “

“Ayo berpacaran, Yukito-kun…”

   Yukito tinggal bersama Hongo-sensei. Ia memasak untuk ayahnya, sebelumnya ia menawarkan nasi atau roti. Ayahnya ingin roti. Hongo-sensei tidak menyangka bisa makan bersama dengan anaknya. Yukito bilang ibunya tidak keberatan Yukito tinggal dengan ayahnya, lagipula rumahnya dekat dengan kampus.

Hongo-sensei tanya, sebentar lagi Yukito lulus bukan?. Yukito membenarkannya, 3 tahun sks pokoknya sudah ia ambil. Dan sekarang tinggal skripsi. Hongo-sensei tanya lagi, bagaimana soal pekerjaan? Lancar kan? Mau mencoba menulis non-fiksi kan?

Yukito menjawab lancar, ia melakukan penelitian dan itu sangat menarik. Lagi-lagi ayahnya menatapinya terus sehingga membuatnya kikuk.

~ Jimi Ni Sugoi! ~

      Buletin kantornya sudah terbit, ada bagian fotonya Kaizuka. Ini merupakan prestasinya tentang karyanya Kiritani-sensei. Karya anak-anak tersebut disukai banyak orang dan akan diterbitkan serinya.

Kono, Fujiwa, dan Yoneoka membaca artikelnya. Yang membuat Kono marah adalah kalimat yang mengatakan kalau karyanya Kiritani-sensei dikerjakan semalaman oleh kami berdua (Editor Kaizuka dan Kiritani-sensei).

Bahkan bantuan dari Koetsu Dept. tidak disinggung sama sekali dalam ulasan tersebut.

“Soalnya aku dan Yukito-kun saja sampai tidak berpacar… Eh lihat, Yoneokacchi dan Masamune-kun sampai berpacaran… Tidak, Fujiwa-san juga, sampai membatalkan perayaan 10 tahun menikah.”

(Heol.. mereka serius? Ditunggu undangannya Mas.. tapi gw gk mau nyumbang-nyumbang segala, lagi hemat, numpang makan doang yak.. Wkwkwk. Kyaaaa… Geli.. XD)

“Sudah berusaha padahal,” Kono marah.

“Kenapa baru bilang sekarang. Seberapa keras kerja yang kita lakukan, seberapa banyak kesulitan tidak ada yang mengetahuinya, dan tidak ada yang memberikan apresiasi. Itu sudah menjadi pekerjaan seorang proofreader.” Jelas Fujiwa.

Kono makin kesal, siapa yang berhak memutuskan hal semacam itu? Fujiwa-san itu terlalu baik hati!. Kemarikan!

Kono meminta bulletin tersebut. Fujiwa tanya mau diapakan? Kalau ingin protes ke Kaizuka-san, tolong hentikan karena tidak ada gunanya.

Siapa juga yang mau protes? Kono justru mencoret-coret foto Kaizuka.

Takehara-san datang, ia memberitahukan kalau Lassy sedang membutuhkan tim koetsu yang sedang longgar karena Koetsu dept. yang khusus bertanggung jawab untuk majalah Lassy sedang terkena wabah flu. Kono dan Yoneoka semangat mengajukan diri. Kono senang sekali impiannya menjadi nyata, bekerja di Lassy meski hanya seminggu.

Wakil Kepala Editor menjelaskan, berbeda dari memproofreading karya sastra. Dalam majalah memiliki banyak komponen judul, index, credit, dan teks. Jika dikerjakan satu persatu meskipun banyaknya waktu yang ada juga tak akan selesai-selesai. Cukup sesuaikan dengan contohnya, hanya saja nama brand dan harganya, lalu daftar shoplist dan no teleponnya.

Yoneoka merasa pekerjaannya kali ini akan berat. Tapi Kono bersemangat sekali karena nama merek dan sejenisnya sudah ia hafal diluar kepala.

Tim Lassy sedang rapat. Kepala minta saran dan ide dari Hatano wakilnya, namun karena jawabannya kurang memuaskan jadi ia meminta Morio untuk menanganinya. Morio terkejut, ia diberi tanggung jawab untuk membuat halaman pembuka majalah. Karena Morio masih linglung.. Kepala berkata, memangnya sampai kapan kau mau menjadi asistennya Hatano terus?

Kono dan Yoneoka kagum melihat Morio yang bekerja keras.

Sudah jam 10 lebih dan pekerjaan mereka belum selesai juga. Morio menyapa keduanya, suasananya pasti berbeda karena kali ini meninjau majalah. Yoneoka mengeluhkan kenapa pekerjaannya masih belum rampung padahal semua bahasa bakunya sudah dia koreksi?. Morio membenarkan kalau yang tersulit adalah meninjau nama barang dan mereknya, jadi jangan sampai salah. Kono sesumbar kalau Morio tidak perlu khawatir karena Kono sudah hafal diluar kepala, yaah.. seharusnya sekarang sudah pindah ke Lassy bukan?

Yoneoka dan Morio sama-sama bergumam, padahal Kono baru jadi proofreader selama 3 bulan.

    Kono pikir edisi kali ini agak tidak nyambung, mana ada editor pemula yang melakukan presentasi? Dan jenis pakaiannya kelewat formal seperti orang hendak menawarkan barang. Kono bertanya bagaimana perkembangan pekerjaannya Morio? Morio diberi tanggung jawab yang besar.

Morio merasa kalau artikel di Lassy sudah agak kuno, karena sekarang jamannya internet. Mereka bersaing dengan media sosial yang mana bahkan tidak diketahui pembuat utamanya. Yoneoka berpendapat kalau itu adalah untungnya bagi para Koetsu seperti kita, karena kita tidak perlu memikirkan untuk bisa diakui. Semua orang tidak tahu keberadaan seorang proofreader.

Kono getir memikirkannya. Tak peduli seberapa keras mereka bekerja tidak ada yang mengetahui dan mengakui mereka. Rasanya seperti sia-sia.

Hatano melihat mejanya, ada kiriman beras sekardus. Ia tampak kesal dan menaruhnya ke bawah. Kono mendekat untuk bertanya. Kombinasi pakaian editor bulan ini menurutnya diluar karakter.

“Tidak perlu.” Hatano enggan mendengarkan komentarnya Kono. Bagi Hatano yang membuat majalah menarik itu hanya topiknya, dan gambar halaman yang menarik (Benar, sebagai orang awan dalam fashion bagiku ketika buka katalog  hanya lihatin gambarnya doang. Dan hanya membaca di bagian yang menarik saja. Buat yang ngerti fashion seperti Kono pasti beda lagi..)

Karena menurt Hatano tidak akan mungkin ada pembaca yang membaca awal sampai akhir. Kata perkata. Tidak ada pembaca yang akan merasa terganggu dengan kombinasi pakaian yang diluar karakter.

Kono masih keukeuh dengan pendapatnya. Hatano langsung mengingatkan, ini tugas bagian editor.. bukan bagian koetsu. Bagimu yang ingin pindah ke Lassy, meski punya kemampuan editor dan mungkin berharap ingin dilihat menarik juga, itu semua tidak penting jika nama barangnay salah pasti bakal jadi masalah. Sebelum ingin terlihat menarik di depan semua orang, pertama-tama sebagai proofreader,  lakukan pekerjaanmu dengan benar.

Hatano memukul telak Kono dengan kata-kata pedasnya. Ia pergi untuk mengangkat panggilan. Kono kesal, ia bukannya ingin terlihat menarik. Tadinya ia hanya ingin menanyakan bagaimana respon pembaca.

Yoneoka mengajaknya makan. Kono pulang dengan kesal.

Sesampainya di warung odennya Taisho, ada Kaizuka di sana. Kono awalnya mau langsung naik ke lantai dua tapi Kaizuka mengajaknya ikut bergabung. Mau tak mau Kono ikut makan sekalian.

Karena selama ini Kaizuka dipanggil Tako Tako terus oleh Etsuko, Kaizuka minta jangan dipanggil seperti itu. Karena sempat suatu kali Fujiwa-san keceplosan memanggilnya Tako.

   Saat itu Kaizuka selesai berbicara dengan Takehara-san. Fujiwa hendak mengatakan sesuatu pada Kaizuka

“Maaf, Ta.. Tako.. Tako.. Ta..”

“Ta?”

“Kaizuka-san, maaf.”

“Tidak, barusan bilang Tako, kan.”

“Tidak, salah dengar” Kata Fujiwa dengan cool-nya. Sementara itu Takehara menahan tawanya.

“Tako, kan?” Protes Kaizuka.

Kono terpingkal-pingkal mendengar cerita tersebut. Andai saja saat itu ia ada di sana. Kaizuka sebal julukannya itu sudah menyebar kemana-mana.

Kono mempertanyakan apa-apaan soal bulletin keibonsha? Kenapa tidak ada terima kasihnya sama sekali ke Koetsu Dept.?. Kaizuka santai menjawab, bukannya itu sudah biasa buat departemen Koetsu?.

    Kono penasaran kenapa Kaizuka bisa ditolak Morio?. Kaizuka terkejut, bagaimana Kono bisa tahu?. Kono menjelaskan kalau gossip mudah tersebar dalam 2 detik diantara para wanita di Keibonsha. Bukannya Morio baru putus dari pacarnya? Siapa tahu Kaizuka kalau mencoba lagi bisa bersama Morio.

Kaizuka tidak tahu Morio ternyata menyukai seseorang. Morio bilang ia baru sadar menyukai seseorang yang baru saja berpisah dengannya. Seketika itu Kono hanya kepikiran satu orang.

Morio dapat pujian dari Kepala Editor karena isu bulan ini dapat respon yang baik dan penjualannya cukup tinggi. Bagaimana pun juga ia menantikan halaman depannya Morio. Yukito tak lama kemudian juga datang, ia mendapatkan salaman dari Kepala Editor. Sedari tadi Kono memperhatikan mereka, tampak tidak enak.

Yukito menyapa Kono, kenapa Ecchan di sini?. Kono bilang ia diminta meninjau majalah. Yukito ingin menunjukkan sesuatu ke Kono setelah ini. Morio mengajak Yukito segera rapat. Kono bilang ia ada janji dan itu membuat Yukito bilang lain kali saja kalau begitu.

Hatano memberitahukan kalau ada kesalahan penulisan dalam artikel yang seharusnya nama perusahaannya ditulis huruf kapital. Hatano akan meminta maaf pada perusahaan tersebut. Kono lalu meminta maaf pada Hatano karena ia yang memproofreading kemarin, ia sungguh minta maaf. Ia pikir Cremona adalah perusahaan kecil.

Hatano memarahinya, kalau Kono punya waktu untuk mempercantik diri lebih baik waktunya itu digunakan untuk mengurusi pekerjaannya dengan benar!. Kono tersinggung, ia minta ingin ikut untuk meminta maaf. Hatano menyergahnya, buat apa seorang koetsu ikut minta maaf? Lebih baik urusi pekerjaanmu itu!

Sesampainya di rumah, Kono terpukul. Terngiang kata-kata Fujiwa dan Yoneoka, tentang keberadaan Koetsu yang tidak pernah dianggap, tidak ada yang memuji, meski ada banyak kesulitan yang mereka jalani.

    Hari ini Kono datang dengan penampilan yang berbeda dari biasanya, tingkahnya juga berubah. Seshiru heran sekali. Ia mengirimi pesan ke Yoneoka. Koetsu senpai tidak berdandan sama sekali, terlihat lesu! Biasanya member salam dengan suara keras, tapi hari ini tidak!

Semua orang juga terkejut dengan pekikan Yoneoka.

~ * Jimi Ni Sugoi * ~

     Fujiwa bertanya ke Kono, ada apa? Kenapa hari ini terlihat biasa sekali?. Kono masih lesu, ia hanya bertanya benarkah? Lalu kembali bekerja.

Hatano memarahi Morio yang salah. Editor biasanya mengurusi artikel 10 sampai 20 dalam sehari, sebenarnya apa yang Morio lakukan sejak pertama kali masuk ini?. Kalau tidak bisa sana bergabung dengan orang-orang koetsu!

Kalau di situsasi seperti ini biasanya Kono akan membalas omongan orang, kali ini ia enggan menanggapinya. Ia hanya mengajak makan Fujiwa makan siang. Para rekannya bingung dengan perubahan Kono yang tiba-tiba ini.

Aoiki memberitahukan kalau sebenarnya kemarin Kono-san melakukan kesalahan pada artikel. “Jika punya waktu mengurusi penampilanmu, lakukan pekerjaanmu dengan benar, itu yang dibilang Henshuuchou”

Yoneoka berpikir jangan-jangan Kono selama di sini memikirkan keberadaan koetsu yang tidak pernah dianggap, tidak diketahui orang-orang dan Kono sebelumnya bilang terasa sia-sia sekeras apapun usaha mereka.

Yukito mendengarkan mereka tanpa sengaja.

Kono tidak bersemangat sama sekali, ia bahkan lupa tidak menaruh lauk ke bekalnya hari ini, membuat Fujiwa khawatir. Kono-san.. ada masalah apa sebenarnya? Di mana Ecchan yang selalu bersemangat?

Yukito bertanya ke Morio di mana Ecchan. Morio menunjukkannya. Yukito ingin bicara dengan Ecchan di bawah.

Kono menolak dengan alasan ada janji. Yukito minta janji tersebut dibatalkan saja, karena buku yang tengah Yukito garap sekarang sungguh ingin Yukito tunjukkan pada Ecchan. Pokoknya aku tunggu!

Fujiwa membuatkan gambar senyum di nasinya Kono, ayo semangat!. Kono hanya tersenyum tipis dan memakannya.

Kaizuka datang ke Koetsu dept. heran kenapa Koetsu tidak ada di tempatnya. Takehara bilang Kono-san sedang di Lassy meninjau majalah. Kaizuka memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasihnya atas bantuan dalam loncong “Gekkan Kodomo Noberu”

Buchou mundur menjauh dari Kaizuka, curiga kenapa tiba-tiba baik begini memberikan bingkisan?. Ada apa ini?

Yoneoka menebak pasti ada yang Kaizuka katakan pada Konocchi sebelumnya bukan?. Kaizuka jadi kikuk. Takehara menyimpulkan, oh.. jadi Kaizuka sengaja begini ingin kelihatan baik di depannya Kono-san ya?

Kaizuka mengelak bukan seperti itu, kalau tujuannya seperti itu malah terdengar seperti Kaizuka naksir Koetsu.

Semuanya segera memalingkan muka ke Kaizuka. Terkejut dengan pernyataan tersebut. Kaizuka langsung bilang tidak, tidak mungkin.

Takehara memberitahu Kaizuka, hari ini Kono-san tampak lesu. Tidak berdandan dan biasa saja, seperti kehilangan jati dirinya. Kaizuka berkomentar, itu tidak ada hubungannya denganku bukan?

Tapi Takehara terus meliriknya dan main mata seolah menyuruhnya melakukan sesuatu.

    Pekerjaan hari ini selesai, Hatano berterima kasih atas kerja samanya selama beberapa hari ini. Morio menyapa senpainya, senpai dan Yukito habis ini mau kencan kan? Kenapa hari ini senpai terlihat berbeda? Tidak ceria seperti biasanya.

Kono menanggapi dia tidak kencan, hanya membicarakan masalah pekerjaan. Morio bersedia mendengarkan masalahnya senpai.

Kono bilang tidak ada apa-apa, ia lalu pergi. Kembali ke departemennya mengembalikan buku.