[K-Movie] Memoir Of Murderer – Part 2

   Di suatu rumah kayu tua dalam hutan. Seorang gadis tengkurap merintih kesakitan dengan darah menggenang di bawahnya, kaki serta tangannya diikat, seseorang kemudian menjerat lehernya dari belakang.

Kim Byeong Soo berkendara, ia hendak mengambil alat perekamnya. Tanpa sengaja mobilnya menabrak mobil di depannya. Bagasinya terbuka, Kim Byeong Soo keluar untuk melihat. Darah menetes ke aspal. Curiga, ia mengambil sampel darahnya dengan sapu tangan dan memasukkannya ke dalam saku.

Pemilik mobil keluar, ia adalah Min Tae Ju (Kim Nam Gil) menyeringai dan menutup bagasinya dengan santai. 

Byeong Soo tetap menatapinya curiga serta waspada. Min Tae Ju ingin kecelakaan ini tidak usah diperpanjang masalahnya. Melihat Byeong Soo masih curiga, ia dengan tenang mengatakan di bagasinya itu rusa yang mati. Entah muncul dari mana tadi sehingga tertabrak olehnya.

Byeong Soo hendak menawarkan perbaikan, tapi Min Tae Ju tetap tidak ingin diperpanjang urusannya. Lupakan saja.. ia tak apa-apa, mari urus mobil masing-masing. Byeong Soo tetap ingin bertukar kartu nama demi jaga-jaga agar tak ada kesalahpahaman.

Meski tak setuju dengan ide Kim Byeong Soo, Min Tae Ju menerima kartu namanya dengan wajah masih tersenyum.

“Kartu bisnismu?”

Kim Byeong Soo meminta, namun Min Tae Ju hanya menyeringai dan segera meninggalkannya.

Kim Byeong Soo merekam kecurigaannya, plat nomor dan kesimpulan bahwa pria yang baru ia temui adalah seorang pembunuh. 

Di tempatnya Kim Byeong Soo mengecek darahnya, ternyata golongan darah O. Tidak ada rusa bergolongan darah O, pasti milik manusia.

Kim Byeong Soo pikir, berarti di kota ini terdapat dua orang pembunuh. Ia mulai khawatir jika Min Tae Ju menyadari bahwa Kim Byeong Soo juga seorang pembunuh.

Kim Byeong Soo berselancar di internet. Melihat berita kasus pembunuhan siswi SMA Kanghwa, khawatir.. Eun Hee berada dalam bahaya sekarang.

Kim Byeong Soo menghubungi polisi atas temuannya, ia tak menyebutkan namanya.

Hari lainnya beberapa petugas mendatangi Min Tae Ju menanyakan apakah Min Tae Ju pembunuh berantainya? 

Sontak mengundang tawa, karena tak ada yang percaya. Min Tae Ju bilang ia membawa rusa di bagasinya kemarin.

Di rumah, Kim Byeong Soo mempersiapkan makanannya. Ponselnya berbunyi, rupanya ikut tergoreng dengan lauknya. Ia ambil dan angkat panggilannya.

Panggilan dari Min Tae Ju, mengatakan soal mobil berplat yang Kim Byeong Soo laporkan itu bukannya membawa tubuh manusia, melainkan membawa rusa. Min Tae Ju ingin Tuan Kim melupakannya saja, itu bukan apa-apa.

Kim Byeong Soo tak tau yang meneleponnya adalah Min Tae Ju. Min Tae Ju lalu mematikan panggilannya dengan geli.

Kim Byeong Soo kesal dengan polisi yang menurutnya bodoh, ia akhirnya menyelidikinya seorang diri. Modus 2 pembunuhan sebelumnya menurutnya sama, arterinya diputus, bobot tubuhnya berkurang dan bisa diangkut.

Ia memahami jalan pikiran pembunuh berantainya dengan memposisikan dirinya sendiri, jika itu aku maka akan membawanya ke waduk, tak akan jauh-jauh.

Ia benar, jasad gadis ditemukan mengambang.

Kim Byeong Soo melaporkan temuannya sebagai anonim.

Min Tae Ju asyik sendiri mengamati petugas lainnya, ia sampai tak merespon pertanyaan rekannya. Ia bahkan tersenyum.

Min Tae Ju mendatangi klinik hewan Kim Byeong Soo. Sayangnya tertempel kertas pemberitahuan ditutup sementara waktu. 

Eun Hee dan teman-temannya kebetulan melintas, dengan ramah Eun Hee bertanya ada keperluan apa? Pasti karena ingin memeriksakan kucingnya.

Min Tae Ju mengabaikannya, tak menghiraukannya. Namun ketika Eun Hee mengatakan minta maaf karena ayahnya sedang tidak enak badan.. Min Tae Ju segera menoleh dan tertarik.

Eun Hee menyarankan kucingnya dibawa ke dokter hewan di kota saja. 

Mereka lalu meninggalkan Min Tae Ju, salah satu teman Eun Hee mengatakan Min Tae Ju itu polisi, ia memotong rambutnya di salon ibunya. 

Min Tae Ju sendiri memperhatikan Eun Hee, terpikirkan suatu rencana.

Kim Byeong Soo meminta bantuan Chief Ahn untuk menemukan plat mobil, tabrakan lari. Akhir-akhir ini Chief Ahn disibukkan oleh kasus pembunuhan berantai. Ketimbang melaporkannya Kim Byeong Soo memilih menyelesaikannya secara kekeluargaan.

Chief Ahn penasaran apakah Kim Byeong Soo sekarang sudah mengingatnya?

Byeong Soo menyebutkan namanya. Chief Ahn tertawa, kadang ini membuatnya bingung.

Eun Hee pulang larut malam, Min Tae Ju mendekatinya. Melihat pria dengan kucing tadi pun Eun Hee tidak curiga, ia menyapanya dan mengambil kucing Min Tae Ju.

Min Tae Ju mengkhawatirkan Eun Hee apa tidak apa-apa gadis mungil sepertinya pulang larut? Berbahaya, ia menawarkan tumpangan pulang. Karena Min Tae Ju adalah polisi, Eun Hee menyambut tawarannya.

Mondar-mandir Kim Byeong Soo menantikab kepulangan Eun Hee. Namun melihat bayangan wanita membuatnya gelap mata, dikiranya wanita itu orang lain dan menyerangnya.

Eun Hee dicekik. Eun Hee bingung apa yang terjadi sebenarnya?. 

Ayahnya tersadar, setelahnya.. di dalam ruangannya ia mulai memikirkan kemungkinan lain

Bagaimana jika ialah pembunuh berantai yang dicari-cari polisi selama ini? Bagaimana jika ia hanya berhalusinasi soal tabrakan dengan Min Tae Ju? Padahal ia sendiri yang membawa mayatnya?. Ia mulai meragukan pemikirannya.

Kim Byeong Soo merasa penyakitnya semakin parah, ia pikir ia seharusnya dirawat di RS atau panti jompo saja. Eun Hee tidak setuju, selama ia masih sanggup merawat ayahnya ia takkan melakukan itu.

Eun Hee menjambak rambut ayahnya, ternyata sudah memanjang. Lalu Eun Hee memangkasinya. Byeong Soo berkomentar riasan Eun Hee makin hari makin tebal, sebelumnya bahkan tidak pernah memakai lipstik.

Eun Hee bilang ia ini juga perempuan, putrinya ini juga sedang memikirkan untuk berkencan. Lantas bagaimana dengan ayahnya? Apa di kelas puisi ada wanita yang menarik perhatiannya.

Ayahnya tidak suka membicarakan hal semacam itu. Ia meminta direkamkan lagi Spring Rain, tanpa sengaja ia menghapusnya. Eun Hee mengeluh, bagaimana ayahnya bisa kencan jika kelakuannya seperti ini?. Ayahnya pikir toh sebentar lagi ia akan memakai popok. Eun Hee dengan sabar mengatakan baginya tak masalah, sewaktu kecil ayahnya lah yang mengganti popoknya. Sekarang giliran Eun Hee yang merawat ayahnya.

Eun Hee selesai dan memuji ayahnya terlihat tampan dan berkencanlah. Ia juga berselfie dengan ayahnya.

Kim Byeong Soo mendatangi biara Maria. Menjumpai kakaknya, kakaknya bertanya apa yang membawa Byeong Soo kemari tanpa menghubungi terlebih dahulu?.

Byeong Soo menanyakan panti jompo sekitar, ia tak ingin menyusahkan Eun Hee. Lebih baik menyusahkan kakaknya, ia menderita demensia, sepertinya ini merupakan hukuman bagi dosanya. Mengetahui hal tersebut kakaknya segera berdoa dalam haru.

Byeong Soo kemudian pamit, akan mengunjunginya di lain waktu. Ia meninggalkan makanannya di kursi kayu.

Sebelum pergi kakaknya menahannya, ia ingin Byeong Soo melupakan peristiwa silam. Ia mendoakan adiknya setiap hari, biar kakaknya saja yang menanggung dosa Byeong Soo. Dalam hati Byeong Soo sangsi apakah kakaknya masih bersedia mendoakannya jika mengetahui bukan hanya ayah mereka yang ia bunuh?.

Pengajar di kelas puisi menjelaskan, mengutip dari kata-kaya Nietzsche “Tidak ada setan dan tidak ada neraka, atau hal menakutkan lainnya. Jiwamu akan mati lebih cepat ketimbang tubuhmu.”

Byeong Soo sudah muak dengan kelas puisi ini, ia hendak membunuh pengajarnya. 

Pulangnya Yun Ju agresif mengejarnya meski sudah menghindar. Memaksa minta tumpangan, padahal sudah naik tanpa dipersilakan.

Jo Yun Ju mengajaknya menonton film. Byeong Soo bilang ia tak suka film karena semuanya palsu.

“Lalu hal nyata apa yang suka kau lakukan? Selain menulis puisi”

“Membunuh”

Byeong Soo mengerem mendadak dan menoleh ke kanan, Yun Ju sudah kegeeran tapi Byeong Soo mengenyahkan kepalanya untuk melihat lebih jelas. 

Eun Hee bersama Min Tae Ju. Byeong Soo menjauhkan Min Tae Ju dari Eun Hee. Eun Hee kesulitan menjelaskan, Min Tae Ju berinisiatif mengatakan ia adalah pacarnya Eun Hee.

Eun Hee diajak pulang karena sudah hendak malam. 

Jo Yun Ju menyapa Eun Hee juga.. ia adalah sesama orang yang menghadiri kelas puisi, memujinya cantik sekali dan membantunya.. malam apanya? Ini masih siang bolong juga.. 

Kim Byeong Soo menarik Eun Hee mengajaknya pulang, Eun Hee menolak. Min Tae Joo bilang ia akan mengatarkan Eun Hee pulang dengan selamat, ia ini polisi. Byeong Soo merasa tak asing dengan Min Tae Joo.

Jo Yun Ju akhirnya mendorong Kim Byeong Soo ke mobil. Biarkan anak muda dengan urusannya.

Dalam mobil Yun Ju memihak Min Tae Ju polisi, itu pekerjaan yang bagus dan cocok juga dengan  Eun Hee. Ia penasaran mau dibawa kemana dia ini?. Kim Byeong Soo malah bertanya

“Sudah lama aku ingin mengatakan ini.”

Yun Ju kembali ge er.. 

“Siapa kau?” Tanya Byeong Soo. Yun Ju diturunkan begitu saja di pinggir jalan. Ia mengumpat “Sial. Apa aku orangnya mudah dilupakan?” (Hahhaha)

Kim Byeong Soo merekamnya. Eun Hee punya pacar, Min Tae Ju seorang petugas polisi. Mungkin hal yang baik.

Eun Hee merasa tidak enak dengan sikap ayahnya pada Min Tae Ju. Min Tae Ju memakluminya, semua ayah pasti tidak akan senang dengan pacar puteri mereka. Sebenarnya ia pernah berjumpa dengannya sebelumnya, namun karena ayahnya tak ingat.. ia memilih berpura-pura tak ingat.

Eun Hee sedikit terkejut. Namun Min Tae Ju bilang pertemuan mereka hanyalah insiden kecelakaan kecil saja. Ia juga pernah dengar dari Eun Hee bahwa ayahnya demensia.

“Iya, mungkin alzheimer.”

“Apa tidak sulit merawatnya?”

“Sesekali, dia seperti orang asing.”

“Ngomong-ngomong kenapa dia ke Aoewol Junction?”

Eun Hee bercerita bahwa ayahnya mungkin ke hutan bambu, beliau membeli tanah dan menanaminya bambu. Sering kesana untuk berjalan-jalan, sayangnya tak jarang ia tersesat.

Mengetahuinya membuat Min Tae Ju memikirkan sesuatu.


KOMENTAR:

Giyeom… imut.. Kim Nam Gil + kucing: ❤ hahahah

[K-Movie] Memoir Of Murderer – Part 1

Kim Byeong Soo di kantor polisi setempat, ia nampak linglung ditanyai petugas. Ini adalah kesekian kalinya Kim Byeong Soo lupa alamat rumahnya sendiri, ia menderita demensia dan sering melupakan banyak hal.

Bahkan Ahn Byung Man dia lupakan, Ahn Byung Man sudah memancing-mancingnya dengan name-tag tapi tetap tak berhasil.

Walhasil dia memilih main dengan anjing. 

Eun Hee berlarian menuju ayahnya, ia mengkhawatirkannya.

Bertanya apa ayahnya tidak apa-apa?.

Eun Hee menunjukkan cara menggunakan alat perekam pada ayahnya. 

“Hari ini aku makan jjajangmyeon dengan Eun Hee. Malam ini aku harus pulang.”

Eun Hee memperingatkan ayahnya, jika lupa pasti tidak akan pulang. Kim Byeong Soo mengatakan ia menulis semuanya di jurnal. Ia pikir jika tak ingat untuk merekam, apa gunanya juga?

Eun Hee menyuruhnya menjadikanlah kebiasaan, agar tak lupa. Eun Hee sudah muak berkali-kali menjemputnya di kantor polisi.

Eun Hee pindah duduk, ia menggertak ayahnya dengan mengatakan ia telah merekamkan lagu Spring Rain disana, tetapi jika ayah tak mau ya sudah. Kim Byeong Soo langsung menahan alat perekamnya dan memasukkannya ke dalam saku. Eun Hee juga memberikan liontin berisi alamat rumah mereka. Ada potret Eun Hee juga di dalamnya.

    3 bulan yang lalu Kim Byeong Soo didiagnosis mengidap demensia (penurunan daya ingat).

Dokter mengatakan ini merupakan demensia vaskular, ingatannya akan berangsur-angsur lenyap, secepat kilat. Tidak bisa disembuhkan namun bisa diperhambat.

Dari rekam medis sebelumnya dokter juga terkejut bahwa Kim Byeong Soo sempat menjalani operasi otak kanan, bisa jadi itulah penyebab demensianya.

   Sebelumnya ketika muda Kim Byeong Soo memang sempat kecelakaan. Mobilnya terbalik di tengah salju turun, kepalanya terhantam cukup keras bersamaan tubuhnya terpelanting.

Kini Kim Byeong Soo sedang mendengarkan lagu kesukaannya melalui alat perekam dari Eun Hee.

Eun Hee menyaksikan berita, terjadi kasus pembunuhan gadis berusia 20an dengan metode yang sama dengan sebelumnya. Kemungkinan besar dibunuh oleh pembunuh berantai.

Kim Byeong Soo terkejut menyaksikannya, ia kemudian bergegas menuju ruangannya. Membuka lemari, ia ambil sepatu putihnya.

Eun Hee hendak pergi menemui temannya yang akan merayakan ulang tahun. Ayahnya khawatir karena kasus pembunuhan di kota sebelah. Eun Hee meminta ayahnya hati-hati menyalakan kompor selama Eun Hee tinggal.

“Pembunuhan tidak terjadi sesering itu..” Ujar Eun Hee santai.

Namun dalam benak ayahnya, iya memang tak sesering itu. Tapi ada kemungkinan pasti terjadi.

Kim Byeong Soo menulis di laptopnya. Ingatan yang ia miliki. Karena ia juga merupakan seorang pembunuh.

Dibukanya folder ingatan, berisi jurnal pembunuhannya. Ia mulai mengetikkan ceritanya. 

Musim gugur 1971, ketika Byeong Soo pulang ke rumah ia mendapati ibu beserta saudara perempuannya telah lemah selepas disiksa ayahnya. Yang paling membuatnya marah adalah salah satu sepatunya kotor, 

Nampaknya sepatu putih yang terlihat baru itu sudah lama ia dambakan. Ia ambil dengan asal dari ayahnya, sebelah sepatu yang bernoda saus kimchi itu digunakan sebagai bantalan tidur ayahnya.

“Byeong Soo, apa kau tak menyapa ayahmu ini?”

Byeong Soo dipukuli habis-habisan, ia juga ditendangi. Namun Byeong Soo tidak membalas, baginya tak terlalu sakit dan ia bahkan memeluki sepatunya meski pukulannya makin banyak.

Sampai akhirnya ayah makin menjadi-jadi, ia mengajaknya ke ruangan sebelah untuk menghajarnya lebih lagi.

Namun justru Byeong Soo lah yang bertindak berani, ia bungkam ayahnya hingga meninggal. Itu merupakan pembunuhan pertamanya, malamnya langsung ia kuburkan.

Sepanjang malam ia ketakutan dengan hasil perbuatannya, ia khawatir polisi penjaga keamanan yang sedang patroli malam akan menangkapnya. Namun esoknya, serta hari-hari lainnya tak ada yang terjadi. Semenjak ayahnya mati keluarga mereka hidup damai nan tenang.

Byeong Soo berpikir, tak ada salahnya membunuhi orang-orang sejenis ayahnya. Ia tidak menyebut tindakannya sebagai pembunuhan, namun pembasmian. Ada banyak orang jahat yang menurutnya pantas mati.

Seorang wanita yang tega memukuli anjingnya hingga tewas hanya demi cincin berliannya yang tertelan, ia bawa ke Byeong Soo untuk dibedah perutnya. Akhirnya Byeong Soo justru mencekik wanita tersebut serta membuat wanita tadi menelan cincinnya sendiri.

Byeong Soo membunuh demi sesuatu yang ia anggap baik. 

Meski tindakannya melawan hak asasi manusia. 

Sebagian besar korbannya ia kubur di hutan bambu. 

~ Memoir Of Murderer ~

   Kim Byeong Soo merupakan seorang dokter hewan. Meski ia membunuhi banyak orang, ia juga menyelamatkan banyak hewan cacat. Menurutnya kehidupan hewan dan manusia apa bedanya?

Eun Hee membawakan pangsit jumbo kesukaan ayahnya, antrinya cukup lama. Namun ayahnya bilang ia tak menyukai pangsit. Eun Hee sedikit kecewa, terserah pangsitnya mau dimakan atau dibuang, ia meninggalkan ayahnya. Namun ketika Eun Hee tidak ada, Byeong Soo memakannya satu dengan lahap. Eun Hee yang mengintip dari luar sejak tadi pun senyum-senyum geli melihat ayahnya kepanasan,

Ia kembali dan makan pangsit bersama ayahnya. 

Meski menderita demensia Byeong Soo senang ia masih bisa bekerja. Bertahun-tahun menjadi dokter hewan telah menjadikannya terbiasa dengan apa yang ia lakukan.

Sayangnya ia terlupa salah suntik, Michele si kucing meninggal setelah 3 kali suntikan anti kanker. 

Pemiliknya sedih sekali kehilangan kucing tersayangnya.

Kim Byeong Soo merekam apa yang ia lakukan dan akan ia lakukan. Jam 7 ia akan menghadiri kelas puisi. Eun Hee yang mendaftarkannya, katanya bagus untuk penderita demensia. 

Meski Byeong Soo tak paham benar apa ada manfaatnya, kalau ia masih muda jelas akan membunuh pengajarnya. Sang pengajar membacakan hasil karya Byeong Soo. Puisi tentang pembunuhan.

Bagi si pengajar, puisinya indah sekali. 

Ketika ditanya apakah Kim Byeong Soo pernah membuat puisi sebelumnya, ia menjawab tidak pernah.. apa perlu sekolah puisi dulu?. 

Mentornya bilang tidak, justru terlalu banyak belajar puisi akan merusak kata-katanya. Puisi tidak bisa dipelajari, harus menggunakan pemilihan kata-kata yang tepat dan alami sehingga Tuan Kim puisinya terdengar seperti pembunuh sungguhan.

Pengajar bahkan membercandainya, apa Tuan Kim ini pembunuha sungguhan?. Semuanya tertawa kecuali Kim Byeong Soo. Ia merasa tak lucu,

Responnya dalam menanggapi humor memang sedikit terlambat dari orang normal lainnya. Seperti ketika menonton tv dengan Eun Hee, Eun Hee tertawa duluan sedangkan Byeong Soo belakangan.

Ia memang tak bisa menunjukkan emosi, namun tetap bisa merespon humor. 

Setelah kelas puisi selesai ia baru tertawa keras, Jo Yun Ju yang terkagum-kagum sejak tadi dalam kelas pun membuntutinya untuk berkenalan. Ia juga memuji puisinya Byeong Soo sangat menyentuh.

Terlebih dengan metaforanya. Byeong Soo tanya apa itu metafora. Dijawab perbandingan. Byeong Soo bilang ia tak membandingkan apapun,itu adalah sungguhan. 

Yun Ju rasa Byeong Soo hanya sedang bercanda. Pak Kim lucu sekali! Hahahaa

“Apa aku orangnya lucu? Mau aku kuliti kau?” Tanya Byeong Soo dengan muka mengerikan.

Justru Yun Ju makin menilai Byeong Soo ini lucu.

Byeong Soo risih melihat Yun Ju. Ia dikejar-kejar terus untuk diajak minum teh bersama. Sungguh ia ingin membunuh wanita ini tapi sayangnya ia tak bisa membunuh lagi.

17 tahun yang lalu adalah terakhir kalinya ia membunuh.

Ia tak ingat mengapa membunuh wanita tersebut di hutan bambu. Setelah menguburkannya, dalam perjalanan pulang ia mengalami insiden kecelakaan.

Pasti itulah yang menyebabkannya menderita demensia. Jika membunuh seseorang disebut puisi, maka merawat anak adalah membuat prosa. Dibutuhkan kemampuan untuk membunuh 10 orang, itu mungkin baik.

Eun Hee kecil iba melihat ayahnya banyak berlumuran darah. 

Ketika ia mulai kejang maka merupakan sebuah pertanda ia lupa ingatan dan melupa jalan pulang.

KOMENTAR:

Butuh adrenalin untuk mengenyahkan bosan, salah satunya dengan konsen movie sejenis ini.. disini saya tidak tahu harus mempercayai siapa, aje gileee bagusnya! Hahaha, saya suka film genre thriller seperti ini. 

Di Memoir of Murderer.. Membuat kesimpulan setelah detik terakhir pun terasa seperti mengunyah koral, ya sudahlah.. hahah. Setidaknya ada satu scene yang bikin saya nutupin mata tapi ngintipin penasaran, sewaktu Kim Nam Gil dibunuh. Waaaaw… jadi ini teh saha wae yang waras? Saha teh yang lieur.. saya.. *hoh. Pokoknya jangan percaya siapa-siapa di film ini, jangan percaya saya juga. Kkkk