Sinopsis Hippocratic Oath Episode 3 Part 2

     Akan tetapi Makoto ingin bertemu dengan ibunya Yuko, dia tidak ingin menggunakan formulir surat perintah. Prof Tsukuba meminta Makoto menyerahkan permasalahan ini padanya saja, ia mengerti persaannya Makoto. Makoto berterimakasih kemudian pamit pergi.

Dokter Hideo cemas bagaimana ini? Pihak Prof Mitsuzaki menggunakan surat perintah pengadilan. Prof Tsukuba tidak menginginkan Prof Mitsuzaki melakukan otopsi. Dokter Hideo tidak masalah jika memang penyebab kematian adalah Pneumonia, akan tetapi penyebab kematiannya adalah ITU… bagaimana?

Prof Tsukuba marah besar, apa benar Yuko Kashiwagi tidak demam sebelumnya?. Dokter Hideo diam saja. Prof Tsukuba makin murka, kenapa dr Hideo tidak menuliskannya di rekam medisnya?.

“Maaf”

“Aku menyuruhmu melaporkan semuanya padaku. Ini semua terjadi karena kau melakukan tugasmu dengan tidak becus.” Bentak Prof Tsukuba.

“Aku minta maaf,”

     Kotegawa dan Okamura meminta izin ke Kepala untuk mengajukan formulir surat perintah. Kepala tidak bisa menyetujuinya hanya dengan foto-foto sisa obat Yuko Kashiwagi. Kotegawa menjelaskan kalau Sumire Kashiwagi pernah melakukan tindakan serupa sebelumnya. Akan tetapi Kepala tetap tidak bisa menyetujui Kotegawa karena buktinya terlalu lemah, dan jika di otopsi tidak ditemukan apa-apa maka pihak kepolisian lah yang akan dipersalahkan.

Kepala pergi. Kotegawa mengerti, dia kemudian menyindir Kepalanya dengan mengatakan pihak medis dicurigai sebagai penyebab kematiannya korban, akan tetapi Kepala dari kepolisian terlalu pengecut dan tidak mengizinkan pengajuan surat perintah.

“Hei! Kau mengejekku?!” Kepala emosi, dia hendak menyerang Kotegawa. Okamura sebisa mungkin menahan Kepala.

“Kau mau mengabaikan insiden pembunuhan?” tantang Kotegawa.

    Makoto memperhatikan kontak personnya Prof Tsukuba. Lalu beralih ke Kashiwagi Sumire, Makoto menelfonnya. Langsung tersambung ke kotak suara, Makoto tidak meninggalkan pesan.

Ragu-ragu Makoto menekan bel rumah keluarga Kashiwagi. Tetangganya mengatakan Kashiwagi Sumire baru saja pergi ke kuil. Kuil? Makoto heran bukannya pemakamannya minggu ini?. Tetangga tersebut mengatakan kalau pemakamannya dilakukan sekarang karena ada beberapa hal yang mengganggunya maka pemakaman dilakukan hari ini.

    Saat itu sedang rapat. Orang-orang mengeluhkan kenapa Kotegawa tidak mengatur ponselnya dalam mode diam. Sekarang Kotegawa menerima panggilan tanpa memperdulikan cerca’an para rekannya. Dokter Kashiyama menelfon memberitahukan pemakaman akan diselenggarakan pukul 11:00.

Kotegawa mengecek jam tangannya, sekarang kisaran jam 10:12. Dokter Kashiyama meminta Kotegawa segera mendapatkan surat perintahnya. Kotegawa langsung bertindak dan berbicara dengan Kepalanya.

     Sebentar lagi jasad Yuko akan diproses. Makoto mendatangi Sumire dan Sumire berterimakasih makoto datang, ia juga meminta maaf tidak bisa menghubungi makoto karena ini tiba-tiba. Makoto meminta waktu sebentar untuk berbicara tapi Sumire bilang nanti saja karena ada yang harus dilakukan.

Dokter Kashiyama hendak menyusul ke kuil, Prof Mitsuzaki mengerti dan akan mempersiapkan otopsinya. Dokter Kashiyama yakin Sumire Kashiwagi bergegas mengadakan pemakaman pasti waspada setelah diminta melakukan otopsi.

“Atau seseorang bilang padanya soal surat perintah…” kata Prof Mitsuzaki.

Layar kemudian berganti ke wajahnya Prof Tsukuba. Di kepolisian, Kotegawa memburu Kepalanya segera membuatkan surat perintah.

“Kapten, kita tidak harus pergi sekarang!”

“Aku tahu.” dia tinggal menstampelnya. Kotegawa langsung pergi segera setelah dokumen tersebut dicap.

    Makoto hati-hati berbicara. Sudah beberapa hari berlalu semenjak kematian Yuko, ada kemungkinan penyebab lain kematiannya. Sumire terus mengelak tidak punya waktu, sebentar lagi upacara dimulai. Makoto bertanya kenapa sisa obatnya masih banyak, apa Ibu mengurangi dosisnya?.

“Sudah cukup!” bentak Sumire. Kenapa Makoto butuh mengotopsinya sekarang?. Makoto dianggap mengganggu upacara. Sumire meminta maaf pada semua pelayat atas ketidaknyamanannya. Makoto adalah teman putrinya dan sekarang ini Makoto agak terguncang jiwanya karena kepergian Yuko.

Makoto mencoba membujuk sekali lagi, tapi dia diusir. Akhirnya Makoto meninggalkan kuil.

     Jam makan siang dan loketnya ditutup. Kotegawa tidak peduli, dia menggeser papan tanda tutupnya. Sedang terburu-buru meminta dokumennya disahkan. Para pengantri yang sejak tadi menunggu pun geram karena sedang  buru-buru juga, Okamura menahan mereka dan mengatakan mereka adalah polisi. Para pengantri kesal polisi memotong antrean.

     Makoto dan dokter Kashiyama menunggu surat perintah datang di luar kuil. Makoto benar-benar tak habis pikir kenapa tidak menyadari sesuatu padahal dia sering di rumah keluarga Kashiwagi. Prof Mitsuzaki sudah bersiap di ruangan otopsinya, ia membersihkan semua peralatan bedahnya. Kotegawa masih menunggu petugas mengesahkan dokumennya.

     Sumire Kashiwagi memberikan sambutannya. Seorang ibu dan putrinya telah berjuang melawan penyakit, Sumire sudah merawat Yuko selama ini dan akhirnya Yuko sudah sampai batasnya. Yuko adalah gadis yang ceria. Makoto dan dokter Kashiyama was-was karena waktunya sebentar lagi habis.

      Sumire keluar dari kuil. Makoto membujuknya “Nyonya, Yuko bilang padaku ingin tahu kebenarannya!”

Akan tetapi Sumire terus berjalan menuju ke mobil. “Aku tidak bisa merelakan kepergiannya tanpa tahu kebenarannya.  Nyonya, juga sama, kan?. Jika memang ini benar, anda tidak akan bisa bahagia. Kumohon izinkan aku mendengar suaranya Yuko!”

Peti mati sudah dimasukkan ke mobil.

“Terimakasih banyak sudah menjadi temannya Yuko” kata Sumire ke Makoto.

     Mobil pergi tanpa menghiraukan Makoto. Akan tetapi mobil berhenti berjalan karena dihadang oleh Kotegawa dan Okamura. Mereka memperkenalkan diri sebagai polisi Prefektur Saitama, Okamura menunjukkan identitasnya dan Kotegawa menunjukkan surat perintah otopsi.

      Yuko dibawa ke ruang otopsi. Makoto membuka kantung jenasah dengan sedih. Di rumah sakit, Prof Tsukuba diberitahu kalau otopsi dilakukan, apa yang harus pihak Prof Tsukuba lakukan?. Prof Tsukuba melepaskan kacamatanya, dia sepertinya tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

13:15 otopsi dimulai. Semua orang di ruangan berdo’a sebelum otopsi dimulai. Wanita, 27 tahun. Tinggi badan 164 cm, berat badan 43 kg. Telinga dan kepalanya dari luar terlihat baik-baik saja. Wajahnya baik-baik saja tidak bengkak. Semuanya yang tampak luar baik-baik saja.

      Makoto teringat kenangannya bersama Yuko. Pengecekan luar telah selesai dan Prof Mitsuzaki hendak memotongnya untuk mengecek tubuh bagian dalam. Makoto terenyuh melihat satu lintang sayatan di tubuh Yuko.

Paru-paru Yuko dipotong, Makoto terkejut dan Kotegawa tanya ada yang salah?. Makoto bilang paru-paru Yuko tidak mengalami peradangan. Prof Mitsuzaki melihat ada bekas kecil yang menunjukkan peradangan yang tak kasat mata/langsung. Dengan kata lain, bukti perawatan dari penyakit pneumonianya.

Semuanya terkejut dengan pernyataan tersebut. Okamura menebak, jadi bukan meninggal karena pneumonia?.

          Kemudian otak dikeluarkan untuk dicek. Prof Mitsuzaki memotong sesuatu dan menyuruh Makoto mengeceknya. Thrombus. Kotegawa menanyakan apa artinya. Makoro mengatakan Yuko bukan meninggal karena Pneumonia, sebab meninggalnya Yuko berasal dari pulmonary embolism?. Makoto terkejut dengan pemikirannya itu.

    Kotegawa bingung apa maksud istilah kedokteran tersebut. Dokter Kashiyama menjelaskan secara mudah, thrombusnya tersumbat di dalam pulmonary artery, dan menyebabkan kegagalan kinerja jantung.

“Pulmonary embolism sangat sulit didiagnosa. Hampir mustahil untuk menentukan pulmonary embolism dari pneumonia. Akan tetapi mereka harusnya mempertimbangkan pulmonary embolism sebagai opsi lain karena dia tidak terkena demam”

“Diagnisa yang salah?” kata Kotegawa.

“Lantas, apa yang terjadi pada ibunya?” tanya Makoto.

Sumire mengurangi dosisnya karena dia pikir kalau putrinya mengidap pneumonia… karena Yuko diketahui meninggal bukan akibat pneumonia, jadi ini bukan kesalahan ibunya, kan?.

“Kau bisa bilang begitu. Jangan lupakan kalau pulmonary embolism memburuk sebab tidak adanya olah gerak tubuh ” kata Prof Mitsuzaki. Jika ibunya tidak mendorongnya untuk olah gerak tubuh dengan tujuan tertentu, itu salah satu penyebab kematiannya. Dan bila Sumire membantahnya akan sulit membuktikannya.

Prof Mitsuzaki lalu melanjutkke livernya. Okamura dan Kotegawa pergi meninggalkan ruangan.

     Prof Mitsuzaki dan dokter Kashiyama menyerahkan akhiran ke Makoto. Makoto meminta maaf ke Yuko, ia merasa tidak berperasaan karena melakukan otopsi pada Yuko. Hati-hati Makoto menempelkan plester ke luka sayatan bekas otopsi.

     Makoto datang ke Kepolisian Prefektur Saitama. Kotegawa mengatakan Sumire Kashiwagi telah mengakui perbuatannya yang mengurangi dosis obat dan tidak bermaksud membunuhnya, ia bilang hanya ingin menjaga anaknya yang sakit lebih lama.

Okamura datang membawakan minuman ke Makoto. Kotegawa tanya apa Makoto masih ada yang ingin ditanyakan?. Makoto tahu Kotegawa mengawasi Prof Mitsuzaki selama ini, Makoto minta izin ikut membantu detektif Kotegawa. Dari yang Kotegawa katakana tempo waktu lalu, kebenaran yang tersembunyi dari jasad yang Prof Mitsuzaki otopsi. Makoto ingin tahu apa maksud tujuan Prof Mitsuzaki melakukan otopsi, apakah benar untuk mengumpulkan data?.

    Dokter Hideo banyak melamun saat membuat laporannya. Kotegawa menunjukkan hasil pengamatannya selama ini. Sejauh ini ada 3 pasien yang Prof Mitsuzaki otopsi, ketiganya memiliki kemiripan dalam hal sama-sama memiliki penyakit akan tetapi penyebab kematiannya lain.

“Tapi banyak orang sakit setiap harinya, bukan?” kata Okamura.

“Benar, tapi mereka semua pergi ke rumah sakitmu untuk menerima pengobatan.”

“Rumah sakitku?” Makoto heran. Ia kemudian mengecek data-datanya Kotegawa, semua dokter yang menanganinya adalah dokter Kajiwara Hideo. Prof Mitsuzaki sengaja memilih pasiennya dr Hideo untuk ditopsi. Tapi kenapa?, Makoto tidak menemukan apa korelasinya.

“Kau tahu kenapa Kashiwagi Sumire memajukan tanggal pemakamannya?” tanya Kotegawa

“Kenapa? Karena… aku memintanya melakukan otopsi.”

Karena Makoto tidak memberitahu surat perintah otopsi, kemungkinan dr Hideo yang memberitahukannya ke Sumire. Akan tetapi kenapa dr Hideo tidak ingin pasiennya diotopsi?. Kotegawa berpikir sederhana saja, jika dokter tidak ingin rahasianya terbongkar… itu artinya dia melakukan malpraktek. Kotegawa berpendapat mungkin dr Hideo sejak awal tahu, dan dari pandangan Kotegawa ia rasa Prof Mitsuzaki ingin membuktikan malprakteknya dr Hideo dengan otopsinya.

       Dokter Hideo bertanya kenapa Prof Mitsuzaki ingin bertemu?. Prof Mitsuzaki meminta daftar pasiennya dr Hideo, jika menanganinya dengan baik sejak awal pasti kemungkinan yang terselamatkan ada banyak. Prof Mitsuzaki mengerti jika dr Hideo ingin meminimalisir korban.

   Prof Tsukuba bertemu dengan Dekan. Mereka dapat masalah. “Kita perlu bergerak cepat demi kelangsungan RS ini.” Kata Prof Tsukuba penuh amarah.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

Komentar:hippocratic-oath

     Terkadang kita banyak menemui orang semacam Sumire Kashiwagi, meski bukan dalam bentuk penyakit mental. Pengen dikasihani dan diempati ni orang-orang, dengan menyakiti diri sendiri bahkan anak. Fuuuh…. Kurasa sebagai manusia, hal yang paling dibenci di dunia ini adalah dikasihani. Sayangnya terkadang kasihan dan kasih sayang terkadang tidak tampak jelas dimana batasannya/garisnya. Being human isn’t easy, in front of you they told you are kind and etc, but… behind you they murmured you’re the bad person in the world.

So, take it simply way, you have your own life and they have theirs too. Meets and connected, respect each other as human, humanity… when religion doesn’t work anymore.

Prof Mitsuzaki benar, orang yang hidup itu bisa berbohong akan tetapi mayat tidak.

#whatAreYouTalkingAbout? Hahahaha…

Dari dugaannya detektif Kotegawa sepertinya Prof Mitsuzaki ingin membuat mayat bicara kebenaran yang terjadi sebagai saksi untuk pembuktian malpraktek dan tindak tanduk mencurigakan dari RS Urawa.

Jangan lupa like FP blog ini untuk tahu update-an terbarunya!>>>>>FANPAGE

 

Sinopsis Hippocratic Oath Episode 3 Part 1

     Makoto terus berusaha, dokter Hideo hanya memandangi Makoto yang terlihat frustasi, Yuko sudah tidak tertolong lagi, mereka telah berusaha semaksimal mungkin. Dokter Hideo menyuruh Makoto berhenti, Makoto masih bersikeras Yuko belum meninggal.

Makoto baru berhenti setelah dokter Hideo menghentikan. Yuko meninggal pukul 16:45. Makoto menatap nanar sahabatnya yang telah pergi untuk selamanya. Masih tidak percaya.

Dokter Hideo Kajiwara menginformasikan bahwa Kashiwagi Yuko telah meninggal ke Profesor Tsukuba. Profesor Tsukuba terkejut mengetahuinya. Penyebab kematian adalah kegagalan sistem pernafasannya, dipercepat oleh pneomunonia yang sudah parah.

Dokter Hideo menyayangkan jika saja Kashiwagi Yuko datang ke rumah sakit untuk pengecekan kondisinya lebih awal. Profesor Tsukuba mengerti, dia akan menjelaskan penyebab kematian ke keluarga yang ditinggalkan. Makoto beranjak dari tempatnya duduk hendak mendampingi Profesor Tsukuba, namun beliau menolaknya. Menyuruh Makoto istirahat saja.

     Dokter Kashiyama ditelfon seseorang, ia menerima kabar kematian temannya Makoto Tsugano. Dokter Kashiyama menjelaskan kondisi temannya Makoto ke Prof Mitsuzaki dan Detektif Kotegawa. Sampai siang ini kondisi Yuko baik-baik saja tapi tiba-tiba dada Yuko sakit pingsan dan tidak demam.

Prof Mitsuzaki menduga tapi Yuko tidak dirawat di rumah sakit kita ‘kan?. Dokter Kashiyama membenarkan, namun Yuko tetap menjalani pengobatan dan dirawat di rumah. Prof Mitsuzaki ingin melihat jejak rekam medisnya di rumah sakit, apapun itu semuanya. Dokter Kashiyama mengerti, ia lalu pergi.

     Makoto membersihkan sisa tempat Yuko tadi, suster mengingatkan Makoto kalau itu tugas mereka. Makoto bilang tidak apa-apa, Makoto memberitahu para suster itu bahwa Kashiwagi Yuko tidak memiliki anggota keluarga lain, jika ingin memindahkan Yuko tanya saja pada ibunya dengan tenang, hati-hati jangan melukai perasaannya. “Aku akan kesana nanti.”

“Saya mengerti,” jawab suster. Lalu pergi meninggalkan Makoto.

    Makoto memunguti obat dan sebagainya di lantai, lalu ia memungut barang Yuko yang terjatuh. Makoto mulai menangis sampai bahunya bergetar. Tak kuasa kehilangan sahabatnya.

     Detektif Kotegawa membuat daftar nama-nama pasien yang dia pernah otopsi Prof Mitsuzaki. Di dalamnya ada Kurita Masumi, Mayama Shinji yang masing-masing memiliki kondisi khusus. Target Prof Mitsuzaki selanjutnya adalah Kashiwagi Yuko yang mengidap Pneumonia.

*Kurita Masumi: Organ dalam yang retak dan diketahui setelah otopsi meninggal karena subdural hematoma.

*Mayama Shinji: Otak memar, meninggal karena penglihatannya mengabur, pembuluh matanya terhadang.

*Kashiwagi Yuko: mengidap Pneumonia. Dan Kotegawa belum tahu pasti penyebab kematiannya apakah karena Pneumonia atau barangkali ada penyebab lain jika telah diotopsi oleh Prof Mitsuzaki.

Sosuke Ukamura menanyakan apakah Kotegawa menemukan sesuatu?. Kotegawa bilang tidak menemukan apa-apa, ia lihat kembali bagian Kashiwagi Yuko dan penyakit Pneumonianya. Kotegawa bergegas pergi, pamit ke Okamura. Nampaknya Kotegawa menemukan sesuatu.

    Prof Mitsuzaki meminta izin dokter Hideo untuk mengotopsi Kashiwagi Yuko. Dokter Hideo tampak cemas dan gelisah dengan permintaan Prof Mitsuzaki, dokter Hideo beralasan pihak keluarga yang ditinggalkan menolak adanya otopsi. Prof Mitsuzaki tidak menyerah, ia pikir itu terjadi karena dokter Hideo tidak menjelaskan pada keluarga yang ditinggalkan kalau pihak RS perlu menegaskan penyebab kematian.

“Penyebab kematiannya adalah pneumonia. Dia meninggal di ranjang rumah sakit di depan mataku yang merupakan dokternya.” Tegas dokter Hideo.

Prof Mitsuzaki mengerti, jadi dokter Hideo hanya memperkirakan kematiannya itu karena pneumonia hanya dari tampak luarnya saja. Dan memutuskan hidup atau matinya berdasarkan apa yang sudah terbaca dari jejak kesehatan Yuko Kashiwagi. Itu tidak menentukan penyebab kematian Yuko Kashiwagi.

“Kalau anda mengatakan begitu, kita seharusnya melakukan otopsi pada semua pasien yang meninggal di rumah sakit ini.” Kata dokter Hideo.

“itu benar,”

Prof Mitsuzaki kemudian berhadap-hadapan dengan dokter Hideo. Menantangnya seharusnya memang melakukan otopsi pada semua yang meninggal. Seseorang menelfon dokter Hideo, dokter Hideo mengerti.. dia mengatakan ke Prof Mitsuzaki kalau mobil yang membawa jasad Kashiwagi Yuko ker rumah telah sampai. Dokter Hideo pamit ingin mengeceknya.

     Yuko Kashiwagi dinaikkan ke mobil, Sumire Kashiwagi berterimakasih atas segalanya pada dokter Hideo. Makoto dari kejauhan memperhatikan, ia masih diselimuti kesedihan pasca perginya Yuko. Prof Tsukuba datang, ia menepuk pundak Makoto sekali untuk menguatkan.

     Prof Tsukuba menyebut Sumire Kashiwagi sebagai ibu yang kuat. Makoto mengatakan ibunya Yuko sudah kuat seperti itu semenjak You sakit, Sumire Kashiwagi pernah mengatakan ke Makoto kalau Sumire harus kuat demi menjaga Yuko. Terakhir kali Makoto bertemu Yuko, kondisinya sudah memburuk.

“Aku seharusnya membawanya ke rumah sakit sesegera mungkin. ” Sesal Makoto. Makoto sudah dipercayai dokter Hideo Kajiwara untuk mengawasi yuko.

Prof Tsukuba bertanya, jadi sebagai dokternya Yuko Kashiwagi.. Makoto mempersalahkan keluarga yang ditinggalkan karena tidak sesegera mungkin membawanya ke rumah sakit?. Ini bukan salah siapapun.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

     Makoto meminta maaf karena absen hari ini, tubuh Yuko Kashiwagi baru saja dibawa pulang. Prof Mitsuzaki bertanya apakah Makoto melihat Yuko meninggal dalam damai?.

“Apa?” Makoto tidak mengerti.

Prof Mitsuzaki menjelaskan, kalau dipikir-pikir lagi Makoto Tsugano melakukan pelatihan di sini, apakah Makoto memandang kematiannya tanpa kesangsian apapun?.

“Apa maksud anda?”

“Jasad Kashiwagi Yuko harus dilakukan otopsi”

“Apakah anda sungguh-sungguh dengan apa yang anda bicarakan ini?”

Dia tidak membutuhkan otopsi atau dia meninggal karena pneumonia… Prof Mitsuzaki tidak ingin dilempari dua opsi itu. Ia terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Makoto menegaskan dirinya tidak sedang mengatakan seperti itu.

Makoto mendekati meja kerja Prof Mitsuzaki, mempertanyakan apakah ini untuk data lagi?. Yuko sudah lama sakit dan menderita,  masih 20 an dan berharap mendapatkan banyak kebahagiaan. Akan tetapi Yuko tidak bisa melakukannya.

Ibunya memiliki 2 pekerjaan sambilan, tidak pernah mengeluh dan bahkan tidak bisa duduk menemani putrinya setiap malam. Dan yang membuat Makoto tidak mengerti pada Prof Mitsuzaki, kenapa Prof Mitsuzaki tidak peduli dan malah ingin melakukan otopsi?

Pengobatan internal lebih penting ketimbang pemikiran manusia?!.

“Kalau begitu, boleh aku bertanya kenapa kau menghadiri otopsiku sepanjang waktu?. Itu karena kau mengerti kebutuhan dari otopsi, ‘kan?” Tanya Prof Mitsuzaki.

“Itu..”

Menurut Prof Mitsuzaki, Makoto telah memiliki banyak pengalaman dalam hal otopsi dan emosional keluarga yang ditinggalkan semacam itu, hanya saja karena pasiennya adalah teman Makoto sehingga Makoto tidak bisa berpikir jernih sebab terlalu menggunakan emosi dan perasaannya dalam memandang segala hal. Tidak boleh membedakan pasien entah kenal atau tidaknya dengan mereka.

     Makoto masih yakin Yuko meninggal karena Pneumonia. Prof Mitsuzaki tahu Makoto mengatakan itu karena tidak ingin Yuko diotopsi, Makoto telah mencampuradukkan perasaan pribadi dengan kepentingan umum dan itu bukanlah keputusan yang tepat untuk sekarang. Prof Mitsuzaki juga tahu Yuko sebelum pingsan tidak demam, Prof Mitsuzaki tidak pernah dengar kalau Pneumonia tanpa demam.

Kemudian beliau menyerahkan rekam medis Yuko ke Makoto. Tanda-tandanya akan lebih terlihat jelas jika saja Yuko dirawat di RS. Setelah meminum obat kondisi Yuko semakin memburuk.

     Makoto menanggapi itu karena Yuko tidak pernah berolah raga dan sistem imunnya rendah. Prof Mitsuzaki menyangkal, hanya dengan alasan yang Makoto utarakan tersebut apakah justru malah membuat kondisinya semakin memburuk?.

“Kau menghabiskan banyak waktu dengannya. Apakah kau terima alasan tidak jelas itu?!” Tanya Prof Mitszuki.

Prof Mitsuzaki menyuruh Makoto memintakan izin ke keluarga korban untuk otopsi, karena Makoto mengenal keluarganya..  harusnya izin akan lebih mudah. Tapi Makoto menolak. Prof Mitsuzaki tidak masalah, ia mematikan lampu mejanya, menyuruh dokter Kashiyama yang memintakan izin. Prof Mitsuzaki pergi.

Dokter Kashiyama akan datang minta izin besok pagi, apa alamat di sini benar?. Tanyanya ke Makoto. Makoto tidak menanggapi, “Prof tidak mengatakan itu untuk membuatmu menarik empatimu. Maksud beliau adalah dokter harusnya menggunakan teori ketimbang emosi. Itu saja, terimakasih atas kerja kerasnya”

Dokter Kashiyama pergi.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

   

     Detektif Kotegawa menemukan Makoto di tempat biasanya merenung dan banyak pikiran. Ia sudah dengar kalau Prof Mitsuzaki hendak mengotopsi temannya Makoto. Makoto menduga Kotegawa sepemikiran dengan Prof Mitsuzaki.

Kotegawa meminta Makoto jangan mempersalahkannya, dia hanya ingin tahu apa yang akan dilakukan Prof Mitsuzaki.

“Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa menarik kembali empatiku.” Kata Makoto.

Kotegawa mengerti, karena objeknya ada di Makoto sendiri, itu membuat Makoto bermasalah. Makoto tidak mengerti. Kotegawa memaparkan, itu bukan apa yang Makoto pikirkan, itu bukan kemauan temannya Makoto. Bisakah Makoto berpikir menggunakan sudah pandang tersebut?

Kebenaran tersembunyi di dalam jasad yang Prof Mitsuzaki otopsi. Itulah yang Kotegawa tangkap dari semua otopsi yang dilakukan Prof Mitsuzaki selama ini. Tidak perduli itu temannya Makoto atau bukan.

     Dokter Kashiyama mendatangi rumah keluarga Kashiwagi. Tidak disangka Makoto telah menunggu dokter Kashiyama, mereka kemudian masuk bersama dan mendo’akan Yuko. Sumire berterimakasih karena sudah dikunjungi, dokter Kashiyama mengatakan ikut berbelasungkawa.

“Aku harus kuat, jika tidak aku akan dimarahi oleh Yuko. Pemakamannya akan dilaksanakan minggu ini. Makoto-chan! Kumohon datanglah.”

“Minggu ini…”

Dokter Kashiyama minta izin menggunakan toiletnya. Sumire mengantarkannya. Makoto memandang Yuko sesaat. Sumire kembali, ia masih tidak percaya Yuko telah pergi, tidak bisa menyembuhkan penyakitnya Yuko, aku ibu yang tidak berguna.

Makoto meminta Sumire jangan mengatakan hal seperti itu, itu tidak benar. Hati-hati Makoto bertanya bolehkan jasad Yuko diotopsi?, Sumire tercengang mendengar permintaan Makoto.

Makoto mengutarakan maksudnya adalah menemukan penyebab lain kematiannya Yuko, barangkali Yuko meninggal bukan karena Pneumonianya. Dan kenapa pula selepas meminum obat bukannya Yuko membaik akan tetapi justru semakin memburuk.

“Benar, itulah kenapa dulu aku tanya padamu ketika dia diobati dengan pengobatan yang sama, ‘kan?”

Sumire memberinya obat dari dokter rekomendasi dokter dan suster tetapi kondisinya makin parah. Dan sekarang Makoto berkata adanya kemungkinan lain penyebab meninggalnya Yuko. Rumah sakit yang tidak bertanggungjawab!

“Sudah lama semenjak Yuko dicek RS terakhir kalinya.”

“Apa kau menyalahkanku?” Sumire murka.

Tidak! Makoto menegaskan Makoto harusnya mengawasi Yuko dengan lebih hati-hati selama ini. “Itu bukan urusanmu!” bentak Sumire. Sumire satu-satunya yang berada disisinya Yuko, selalu mengutamakan Yuko dalam berbagai hal!. Bagaimana bisa Makoto berkata hal semacam itu pada Yuko yang sudah lama menderita?!.

     Sumire membuka penutup wajahnya Yuko, meminta Makoto melihatnya. Bisakan Makoto tanya ke Yuko untuk mengiris jasadnya?!. Yuko sudah terlepas dari penderitaannya selama ini!. Yuko yang malang.

Sumire menangis histeris, membuat Makoto tidak tega.

    Sepulangnya, dokter Kashiyama menyebut Sumire yang terlalu emosional. Makoto merasa bersalah, dirinya tadi tidak sensitif. Dokter Kashiyama bilang dirinya sudah sering melihat adegan seperti tadi di Amerika, tipikal yang sering terjadi di U.S.A.

Dokter Kashiyama menemukan obat-obatannya Yuko tadi di laci dapur. Juga mengambil gambar beberapa alat bukti ketika Makoto membujuk Sumire. Dokter Kashiyama mengitari dan menggeledah apa saja, mengambil gambar dengan ponselnya.

    “Apa ada yang salah dengan obatnya?” tanya Kotegawa.

Makoto melihat obat-obatan yang tersisa ini salah. Bukan obatnya Yuko. Jika diminum teratur sesuai dosis harusnya tidak sampai tersisa sebanyak ini.

Dokter Kashiyama menduga itu karena dosis yang seharusnya diminum justru dikurangi, itulah sebabnya Prof Mitsuzaki meminta dokter Kashiyama mengecek obatnya Yuko. Makoto tahu sekarang jadi Sumire mengurangi dosisnya dengan sengaja, merawat Yuko dengan nekat. Itulah sebabnya Yuko semakin memburuk kondisinya.

Makoto benar-benar tidak mengerti kenapa Sumire melakukannya. Kelihatannya..

Makoto menghentikan kalimatnya. Kelihatannya kenapa?, tanya Prof Mitsuzaki. Makoto enggan melanjutkannya, tapi Prof Mitsuzaki ingin mendengarnya.

Makoto menyebut Munchausen syndrome. Seseorang yang sengaja menyakiti didi sendiri untuk mencari perhatian. Dan lebih nyaman melakukan pengobatan sendiri. Dengan kata lain mental pengidapnya bermasalah, sehingga orang tersebut merawat orang lain dengan sesukanya dan membuat penyakitnya semakin parah.

      Mereka membuat anak-anak mereka sakit karena diberi racun atau semacamnya, dan bertingkah di luar seolah-olah menjadi ibu yang baik di publik. Maksudnya adalah membangkitkan simpati dari orang lain dan merasakan kenikmatan batin oleh karenanya.

Makoto tidak bisa mempercayai kesimpulannya sendiri, ternyata ibunya Yuko..

 “Jika Sumire Kashiwagi mengurangi dosisnya, buktinya akan tertinggal di jasad pasien. Itulah kenapa dia menolak adanya otopsi”

“Dia bukanlah orang jahat.” Bantah Makoto.

     Kotegawa sebelumnya sembari menyelidiki Sumire juga, ia menemukan bahwa semenjak suaminya Sumire Kashiwagi selingkuh… Sumire mengalami masa yang sulit. Di waktu yang sama dia menyakiti dirinya sendiri dan pergi ke rumah sakit untuk menghimpun simpati orang sekitarnya. Dia sudah didiagnosa mengidap Munchausen Syndrome. Kedengarannya cerita yang tidak asing.

Seorang wanita yang didianogsa dengan Munchausen Syndrome menjadi seorang ibu, dan menyakiti anak mereka sebagai gantinya.

     Yuko syok mengetahui fakta tersebut, berarti Yuko Kashiwagi terbunuh oleh ibunya sendiri?. Makoto teringat ketika Sumire mangatakan Yuko telah mengalami hidup yang berat.

     Dokter Kashiyama bertanya, haruskah meminta Sumire datang ke kantor polisi untuk diajukan pertanyaan?.

“Itu tidak mungkin, foto obat-obatannya tidak  cukup dijadikan bukti” kata Kotegawa.

Makoto meminta jangan menjadikan Sumire sebagai kriminal. Prof Mitsuzaki menyarankan bagaimana kalau menggunakan penaksiran formulir perizinan?.

Makoto terkejut. Kotegawa mengatakan itu adalah adalah sebuat surat yang diterbitkan dari pengadilan sehingga bisa memaksa Sumire ikut ke kantor polisi untuk diinvestigasi.  Jika memang keluarga korban menjadi tersangka atas terbunuhnya Yuko, maka otopsi bisa dilakukan tanpa perlu melakukan izin.

“Memaksa…” Kata Makoto yang masih tidak bisa menerima.

“Itu ide yang bagus. Minta Saitama Prefectur Polisi untuk mengajukannya.”

“Sebelum itu dilakukan, bolahkan aku bicara dengannya?” Tanya Makoto.

Dokter Kashiyama melarang Makoto, tidak boleh! Karena tidak ada jalan lain yang bisa membuat Sumire Kashiwagi mengakui kejahatannya. Dan kalau Sumire tahu dituduh membunuh Yoku, Sumire mungkin Sumire akan melakukan sesuatu yang tidak terduga.

Menurut Prof Mitsuzaki semuanya akan beres jika saja tubuh Yuko diotopsi. Pemakamannya minggu ini, diharapkan Kotegawa segera melakukan pengajuan berkasnya ke pengadilan.

    Makoto mengutarakan kemungkinan Kashiwagi Sumire yang mengidap Munchausen Syndrome ke dokter Hideo dan Prof Tsukuba. Apakah dokter Hideo menyadari sesuatu ketika berbicara dengan ibunya Yuko?.

Dokter Hideo bilang dia tidak memperhatikanya. Prof Tsukuba menanyakan apa Makoto yakin dengan dosisnya?. Makoto bilang dirinya yakin itu benar karena sisa obat yang masih ada terlalu banyak.

Dokter Hideo tetap yakin penyebab meninggalnya Yuko adalah Pneumonia, mengetahui Sumire mengidap Munchausen Syndrome tidak akan banyak membantu. Jika Sumire memang mengurangi dosisnya.

“Tapi bagaimana dia akan membuktikannya?” Tanya Prof Tsukuba.

“Beliau akan mengotopsi jasadnya.”

Dokter Hideo menanyakan bagaimana perizinananya?. Makoto menjawab mereka akan dapatkan izinnya dari formulir pengajuan surat dari pengadilan. Menurut Prof Tsukuba otopsi agak sulit membuktikan bahwa kondisi Yuko memburuk sebagai akibat dari dosis obat yang dikurang.

“Prof Mitsuzaki bilang bukti seharusnya ada di dalam jasad Yuko. Kajiwara-sensei, ingatkah anda apa yang saya melaporkan pada anda?. Aku berkata pada anda kalau Yuko tidak demam ketika dia dibawa ke RS”

“Dia tidak demam?” Prof Tsukuba terkejut.

“Ah… benar” jawab dokter Hideo.

Makoto menyebutkan itulah yang menjadi pertanyaan besar dari Prof Mitsuzaki. Pneumonia namun tidak demam. Beliau mengatakan tidak pernah mendengar sebelumnya jika pneumonia tanpa demam.

Komentar:

      Seratus saja dokter seperti Prof Mitsuzaki dan Makoto Tsugano. Apa jadinya dunia ini?. Magnet utama yang membuatku menonton drama ini adalah Keiko Kitagawa dan karena Jepang jarang bisa memberikan cerita romantis love line sebagus seperti Kdrama, kupikir perdetektifan, medical dan segala sesuatu yang serius lebih cocok untuk Jepang/ lebih bagusan mereka. Maka dari itu aku percaya drama ini bagus.hippocratic-oath

Silahkan like FP nya untuk mendapatkan update-an terbarunya>>>>> FANPAGE

 

Sinopsis Hippocratic Oath Episode 2 Part 2

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

     Profesor Mitsuzaki kembali ke tempatnya duduk. Dia membaca susunan organisasi di Tokyo Medical . Kenmochi Shozo adalah Direkturnya.

    Detektif Kotegawa ingin melakukan penyelidikan mendalam terhadap Profesor Mitsuzaki. Apa yang sebenarnya Profesor Mitsuzaki inginkan. Kepala bertanya, apa detektif Kotegawa curiga Profesor Mitsuzaki menyembunyikan sesuatu ?. Detektif Kotegawa akan berusaha menemukan apa yang disembunyikan Profesor Mitsuzaki.

   Keita tidur di dekat peti mati ayahnya. Makoto dan Kotegawa meminta izin istri Mayama untuk melakukan otopsi lagi. Mitamura memprotes, bukankah otopsi sudah dilakukan ?, dikatakan kematian Mayama karena kecelakaan, kenapa harus otopsi dua kali ?.

Makoto berkata, tapi bukankah istrinya tidak bisa menerima hasil otopsi ?. Istri Mayama mengangguk membenarkan. Mitamura tetap tidak terima, sebagai dokter dirinya tidak bisa menerima adanya otopsi ganda.

   Istri Mayama kekeuh dia perlu melakukan otopsi kembali. Mitamura tidak ingin, apa istri Mayama ingin otopsi lagi padahal jasadnya baru sampai di rumah ?. Mitamura terus mendorong Kumi untuk percaya bahwa penyebab kematiannya Mayama adalah kecelakaan. Kumi harus bisa menerima kematian Mayama demi Keita.

   Makoto mengatakan, yang terpenting keluarga yang ditinggalkan merasa puas dengan hasil otopsi.

“Silahkan pergi !” Mitamura membentak Makoto dan Kotegawa. Mengusir keduanya untuk pergi.

“Apa kau memiliki alasan kenapa tidak ingin dilakukan otopsi lagi ?” Tanya Kotegawa menyelidik.

“Apa maksudmu ?” Ada nada kecemasan di kata-kata Mitamura . Mitamura kesal dia hendak menghubungi seseorang. Kotegawa mencegatinya, Mitamura terus menolak memberikan jawaban.

Makoto menelfon Profesor Mitsuzaki, Mitamura-san berniat menelfon Tokyo Medical. Jika memang ada yang salah dengan otopsi ia akan meminta pihak Tokyo Medical yang mengotopsinya kembali.

“Apa yang harus kulakukan ?” Makoto bingung,

“Waktu yang pas sekali, periksa kondisi tubuh Mayama segera.” Perintah Profesor Mitsuzaki. Makoto heran dengan perintah tersebut. Profesor Mitsuzaki menyuruh Makoto untuk mengkonfirmasi ke pihak keluarga jika memang ada kesalahan pada sertifikat kematian yang dilakukan ahli dari Tokyo Medical Office.

“Aku tidak mungkin bisa melakukan itu,” respon Makoto.

“Aku tidak menyuruhmu mengotopsinya, cek saja kondisi tubuhnya.”. Makoto berontak, ia tidak mungkin bisa memberitahukan kesalahannya apa. Profesor Mitsuzaki berkata, nanti Makoto akan tahu sendiri apa salahnya, pokoknya Makoto harus segera mengeceknya. Profesor Mitsuzaki sedang menuju ke Tokyo Medical Office. Panggian diputus Profesor Mitsuzaki.

    Detektif Kotegawa mendekati Makoto, bertanya ada apa. Makoto menjelaskan kalau Profesor Mitsuzaki sedang menuju Tokyo Medical dan menyuruhnya mengecek kondisi tubuhnya Mayama Shinji.

  Seingat Kotegawa saat menelfon Profesor Mitsuzaki, beliau berkata telah memiliki rencana. Kalau begitu segera lakukan perintah Profesor Mitsuzaki.

Profesor Mitsuzaki masuk ke Tokyo Medical.

       Istri Mayama menggendong Keita yang tertidur, Mitamura mencoba menahan Istri Mayama untuk tidak setuju dengan apa yang akan dokter Makoto Tsugano lakukan tanpa persetujuan Tokyo Medical. Istri Mayama pikir Tokyo Medical sudah menyimpulkan kematian suaminya adalah kecelakaan, dan Tokyo Medical tidak akan mungkin menerima tuduhan atas kesalahan mereka, lagipula Makoto Tsugano hanya ingin mengecek kondisi tubuh Mayama Shinji.

    Profesor Mitsuzaki bertemu dengan Direktur Kinmochi Tokyo Medical. Direktur Kinmochi memperkenalkan Nagase, seorang ahli yang mengotopsi Mayama Shinji. Profesor Mitsuzaki memperkenalkan dirinya dari Universitas Urawa.

Direktur Kinmochi mempersilahkan Profesor Mitsuzaki duduk, jadi apa maksud kedatangan Profesor Mitsuzaki.

      Makoto membuka peti mati, ia lalu mengeceknya. Mitamura cemas sekali melihat tindakan Makoto.

   Direktur Kinmochi mengerti kalau Profesor Mitsuzaki ingin mempertanyakan sertifikat otopsi Mayama Shinji.

Profesor Mitsuzaki meminta izin melakukan otopsi lagi di labnya.

“Sudah cukup !. Kau tidak akan menemukan apa-apa hanya dengan mengeceknya !”  sergah Mitamura dengan gelisah. Detektif Kotegawa bertanya pada Makoto perkembangannya. Makoto meminta waktu lagi, dia mengeceknya lagi dan membuka bagian atas pakaian Mayama, tubuh atas Mayama diperban. Makoto memandang Kotegawa dengan terkejut, seolah telah mengetahui sesuatu.

    Direktur Kinmochi tidak percaya dengan keinginan Profesor Mitsuzaki yang ingin mengotopsi Mayama Shinji lagi. Tokyo Medical sudah sering melakukan otopsi dan tak keluarga korban banyak yang tidak setuju dengan hasilnya, Tokyo Medical sudah biasa dengan hal seperti itu. Melakukan otopsi lagi dan lagi tanpa ada masalah yang berarti.

   Namun Profesor Mitsuzaki menegaskan kali ini dia ingin mengotopsi Mayama Shinji karena hasilnya kurang memuaskan. Nagase tersinggung, apa Profesor Mitsuzaki sedang menghinanya ?. Direktur Kinmochi bagaimanapun juga tidak akan memberikan izin Profesor Mitsuzaki untuk mengotopsi Maayama Shinji lagi, saat Profesor Mitsuzaki kemari… atasannya Profesor Mitsuzaki menelfon Direktur Kinmochi untuk tidak terlalu menanggapi permintaan Profesor Mitsuzaki yang tidak-tidak.

   Dekan tidak habis pikir dengan Profesor Mitsuzaki. Pergi ke Tokyo Medical, padahal Direktur Tokyo Medical dan Rektornya Universitas Urawa pergi menuntut ilmu bersama dulu. “Profesor Tsukuba, terima kasih sudah memberitahuku” Dekan pergi meninggalkan Profesor Tsukuba.

Direktur Kinmochi tahu kalau Profesor Mitsuzaki posisinya sedang canggung di Urawa.

   Makoto menggunting perban di badan Mayama. Mitamura protes “Apa yang kau lakukan ?!” Detektif Kotegawa menahan Mitamura. Makoto terkejut melihat tubuh Mayama. Ia tahu sekarang kebenarannya.

    Direktur Kinmochi meminta Profesor Mitsuzaki pergi. Profesor Mitsuzaki menerima telfon dari Makoto. Makoto selesai mengecek tubuh Mayama, ia rasa otopsinya belum sepenuhnya diotopsi, tidak terdapat luka jahitan di sana.

Profesor Mitsuzaki terlihat lega, seperti yang ia duga sebelumnya. “Tubuh Mayama Shinji belum selesai diotopsi, kau yakin ?”

“Iya,”

   Pertanyaan Profesor Mitsuzaki jelas memicu kemarahan Nagase dan Direktur Kinmochi. “Akan aku telfon lagi nanti,”

Di rumah Mayama, Mitamura menatap geram pada Makoto.

***

“Asisten dalamku sudah mengecek tubuh Mayama-san. Dia tidak melihat adanya luka jahitan pada tubuhnya.”

“Apa kau bercanda ?. Nagase-kun yang melakukan otopsinya” Nagase diam saja. Direktur terkejut sendiri, kau tidak mengotopsinya ?. Profesor Mitsuzaki tahu kalau Nagase adalah dokter paruh waktu Tokyo Medical dan membuka klinik sendiri, Nagase pasti sangat sibuk orangnya. Jadwalnya berantakan, harus melakukan banyak administratif otopsi setiap hari.

    Ramai pemberitaan tentang kecelakaan Mayama Shinji, jadi Nagase ambil mudahnya saja dengan menyimpulkan penyebab kematian adalah kecelakaan, asistennya Nagase juga setuju dengan itu.

   Direktur Kinmochi marah besar. Nagase mengaku dirinya terlalu lelah dan sibuk, lagipula dia di Tokyo Medical hanya dokter paruh waktu, apa salahnya tidak mengotopsi orang yang meninggal yang jelas terlihat karena kecelakaan tersebut ?. Nagase kesal sendiri, bagaimana bisa dia disebut dokter padahal kebanyakan berurusan dengan jasad.

    Profesor Mitsuzaki yang terlihat geram sejak tadi mendengar alasannya Nagase, mengatakan, tidak perduli pasiennya hidup atau mati, jika dokter tidak mengotopsi yang harus diotopsi, dia tidak layak disebut dokter. Maka Nagase pantasnya disebut orang-orang tidak berguna yang hanya memiliki selembar kertas yang disebut linsensi kedokteran.

   Direktur Kinmochi dan Nagase diam tak berkutik. Profesor Mitsuzaki meminta Tokyo Medical menghubungi keluarga yang ditinggalkan untuk merekomendasikan otopsi ke Universitas Urawa. Profesor Mitsuzaki pergi.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

   Profesor Mitsuzaki mempersiapkan peralatannya, Makoto hendak membantu namun ditolak. Profesor Mitsuzaki ingin membersihkannya sendiri.

“Sejak awal anda sudah tahu kalau jasadnya belum diotopsi bukan ?”

“Aku tidak yakin jika Direkturnya tidak mempercayaiku. Kita beruntung karena keluarga yang ditinggalkan mengizinkanmu mengecek jasadnya.”

Makoto undur diri.

   Dekan datang. “Aku tidak menduga kau itu orangnya banyak sekali akalnya. Aku akan mengingatnya.” Setelah mengatakan itu Dekan langsung pergi.

Profesor Mitsuzaki mulai menggunakan pisau bedahnya, membuat sayatan.

   Istri Mayama dan Mitamura menunggu. Okamura berbisik pada Kotegawa “Apa kau pikir seseorang memberinya obat ?. Dari kacamata dokter, sangat mudah baginya untuk menduganya”

“Awasi mereka,” Kata-kata Kotegawa merujuk pada istri Mayama dan terlebih lagi teman akrabnya Mayama.

    “Liver dan limpanya, terjadi retakan luka ringan. Selaput ususnya rusak. Terdapat pendarahan di rongga perutnya. Ambil sampel urinnya untuk uji adanya obat”

    Makoto mematuhi perintah Profesor Mitsuzaki. Detektif Kotegawa mendekati Makoto, bertanya apa hasinya. Saat dites ternyata tidak ditemukan adanya obat-obatan. Kotegawa terkejut, apa ?, apa tidak terjadi kesalahan ?. Makoto melihat alatnya lagi, sejauh ini tidak ada kesalahan.

     Profesor Mitsuzaki selajutnya akan mengecek bagian belakang mata dan retinanya. Makoto heran kenapa Profesor Mitsuzaki ingin melakukan itu. Profesor Mitsuzaki mengambil mata Mayama, retinanya mati. Terdapat genangan yang memacetkan jalannya darah, tidak cukup darah yang tertransfer ke retina dan sel visualnya mati. Terdapat sumbatan di Retinal Arteri.

   Kotegawa menanyakan apa penyebab kematian Mayama. Dokter Kashiyama menjelaskan, berarti saat pertandingan mata Mayama kehilangan penglihatannya dan terjadilah kecelakaan.

“Mayama-san berarti buta saat pertandingan ?” kata Makoto. Kashiyama mengatakan, tepatnya penyebab kematian adalah karena otaknya luka memar akibat terbentur sangat keras di bagian kepala. Tapi Mayama mengalami kecelakaan karena kehilangan penglihatannya.

   Makoto pikir itu seperti bunuh diri karena situasi. Profesor Mitsuzaki berkata, tapi karena situasi dia berlomba. Profesor Mitsuzaki curiga ada banyak penyebab lainnya daripada insiden kecelakaan,

   Profesor Mitsuzaki yakin Mayama telah lama kehilangan kejernihan penglihatannya. Harusnya Mayama menyadari tanda-tanda itu dan segera memeriksakan diri ke dokter. Pada dokter mata yang bisa menyimpan rahasia Mayama.

   Makoto berpikir sejenak, dibenaknya terlintas video saat Mayama merayakan ultah Keita. Mayama menuangkan jus tidak tepat pada gelasnya, mungkin saja saat itu penglihatan Mayama mengabur. Terlihat jelas Mayama kesulitan setelah menyadari jusnya tumpah, tangan bergerak asal seolah tidak bisa melihatnya. Di video yang sama Mitamura tersenyum samar, menegaskan kalau dia tahu permasalahan mata Mayama Shinji.

Juga sikap Mitamura yang tampak aneh ketika Makoto dan Kotegawa mengunjungi rumah Mayama Shinji.

Makoto menyimpulkan itu adalah bunuh diri tanpa sengaja yang terbungkus dalam kecelakaan. Mayama memiliki asuransi jiwa bernilai 50 juta yen untuk keluarganya.

Kotegawa: Jadi Mitamura bersekongkol,

Kashiyama: Jika memang begitu, berarti ini adalah situasi yang samar-samar. Jika dia mengakui ini adalah pembunuhan diri maka asuransinya tidak akan dibayarkan.

   Mitamura dibawa oleh polisi. Sebelum pergi Mitamura memandang Istri Mayama yang amat sedih. Dia berkata, makanya aku terima kalau ini adalah kecelakaan.

Profesor Tsukuba: Kau pikir aku senang karena sudah mengkhianatimu ?. Jagalah dirimu,

Profesor Mitsuzaki hanya mendengarkan. Panggilan diakhiri.

  Makoto memeras air di handuk kecil. Ia pikir telah melakukan hal yang baik pada keluarga yang ditinggalkan. “Satu kemungkinan telah gugur” kata Kotegawa, ia mengepel ruangan.

“Kemungkinan ?”

“Kenapa Profesor Mitsuzaki bersikeras melakukan otopsi secara agresif ?. Kemungkinan pertama untuk melindungi keluarga yang ditinggalkan dari penyebab kematian yang salah. Sebenarnya Profesor Mitsuzaki memintaku memberikan semua info tentang jasad di yuridiksiku”

“Apa ?” Makoto terkejut.

 Profesor Mitsuzaki berkata pada Kotegawa, dia melakukannya untuk mengumpulkan data demi hal-hal penting Pembelajaran Kedokteran Forensik. Jadi Kotegawa percaya Profesor Mitsuzaki melakukan otopsi untuk mengumpulkan data.

    Tapi kenyataannya Profesor Mitsuzaki hanya mengotopsi beberapa jenis jasad saja. Tidak semuanya. Salah satu contohnya adalah Mayama Shinji. Membuat Detektif Kotegawa berpendapat kalau kemungkinan kedua, tujuan Profesor Mitsuzaki mengotopsi adalah untuk mengumpulkan data riset pribadinya.

Makoto tertegun mendengarnya.

   Makoto menemui Profesor Mitsuzaki, menanyakan data-data otopsi untuk apa. Sebenarnya apa tujuannya Profesor Mitsuzaki melakukan otopsi ?.

“Bukan urusanmu”

“Anda membuatku terlibat, tidakkah anda tahu itu ?. Anda sudah tahu Mayama-san buta saat melihat videonya kan ?.  Sekalipun anda tahu usaha keras Mayama-san tidak dihargai jika anda menyimpulkan dia bunuh diri, anda melakukan otopsi untuk mengumpulkan data kan ?!”

Makoto selama ini percaya Profesor Mitsuzaki melakukan otopsi demi membantu menemukan kebenaran bagi keluarga yang ditinggalkan. Profesor !, sebenarnya untuk apa anda melakukan otopsi ?

“Bukankah sudah kuberitahu kau dari awal ?, Kedokteran Forensik bukan untuk keluarga yang ditinggalkan.”

   Detektif Kotegawa melihat keduanya, lalu pergi. Makoto ditelfon oleh Kashiwagi Sumire, ibunya Yuko.

   Yuko kritis, “Wanita, 27 tahun. Tekanan darah 60 dan 80. Serangan jantung”. Kashiwagi Sumire dan Makoto, dokter Hideo serta staf medis lainnya mendorong ranjang Yuko.

“Tingkat kesadarannya ?” tanya dokter Hideo

“100. Kondisi dimana dia mengalami penurunan kesadaran”

“Yuko !, Yuko !. Dia baik-baik saja sampai siang tadi. Tapi sore ini dia mulai mengeluh dadanya sakit. Makoto-chan, Yuko akan baik-baik saja kan ?”

Makoto meminta ibunya Yuko tenang dan menunggu.

   Di dalam ruangan. Makoto mengecek kondisi Yuko, tekanan darahnya, 89 dan 50. Denyut nadinya 72. SPO2 82 % (Kadar oksigen yang terikat dalam sel darah merah). Laju pernafasannya 15. Ini adalah Hypoxemia (Kekurangan suplai oksigen)

  Dokter Hideo memandang Makoto seolah tahu ini akan terlambat. Ia bersikap tenang.

  Dokter Hideo: Kombinasi dari hypoxemia dan pneumonia.

Makoto: Tolong persiapkan ventilator.

Suster: Baik !

Dokter Hideo: Tsugano-kun, berikan hasil X-ray nya sekarang.

Ketika Makoto mengambil hasil X-ray Yuko. Jantung Yuko berhenti berdetak. Dokter Hideo menyuruh Makoto melakukan pijatan ke jantung, dengan perasaan yang campur aduk Makoto berusaha melakukanyang terbaik demi Yuko.

“Arrest !”

Makoto tidak rela kehilangan Yuko begitu saja.

KOMENTAR :

     Tidak semua drama medis melulu membosankan. Hipokuratetsu No Chikai menurutku alurnya menyenangkan. Berarti jika ada beberapa pihak yang terkait dalam semacam case diantara “Ragu-ragu” dan “Pasti yakin orang itu”, tidak perduli apapun dugaan awal penyebab kematiannya, jasad harus segera diotopsi. Diotopsi semuanya, luar dalam sampai ke otak2nya harus dicek agar semua orang merasa adil, Oh… I See I See..

Dan dilakukan oleh kedokteran Forensik yang tidak ngibul+netral lah yang bisa dipercaya, semacam Profesor Mitsuzaki itu XD (Meskipun beliau pun punya maksud pribadi melakukan otopsinya sih.. mengumpulkan data-riset pribadi).hippocratic-oath

Sinopsis Hippocratic Oath Episode 2 Part 1

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

          “di negara-negara Nordic, kurang lebih 100% mayat dengan kematian yang tidak wajar dilakukan otopsi. Tetapi di Jepang hanya 11% yang dilakukan otopsi, itu terendah ketimbang Negara-negara maju. Rendahnya presentase menunjukkan kelemahan dari kekuatan sistem perlindungan sosial. Aku sangat  percaya kita harus melakukan otopsi bukan hanya pada kematian tidak wajar. Tetapi juga pada kematian yang wajar, kecelakaan, atau karena penyakit. Untuk mengumpulkan sebanyaknya data”

Profesor Mitsuzaki memberikan kuliah, para mahasiswa mencatat sambil mendengarkan. Dokter Kashiyama menulis di papan tulis.

“Data yang terkumpul sangat amat penting bagi pembelajaran Kedokteran Forensik.”

Kuliah diakhiri. Profesor Mitsuzaki dan dokter Kashiyama pergi.

      Makoto masih duduk di tempatnya. Detektif Kotegawa datang dan duduk di belakang Makoto. Makoto bertanya apa kali ini Detektif Kotegawa menemukan mayat yang tidak diketahui penyebab meninggalnya lagi ?.

Detektif Kotegawa bilang, ya semacam itu. Ia datang kemari untuk menanyakan pendapat ke Profesor Mitsuzaki. Makoto dan Kotegawa meninggalkan tempat duduk mereka,

Makoto penasaran orang seperti apa Profesor Mitsuzaki itu. Profesor Mitsuzaki kelihatan tenang dan tak memiliki ekspresi. Tapi meskipun beliau diam saja, ia mungkin memikirkan keluarga yang kehilangan dan pasiennya.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

    Terjadi kecelakaan di boat motor race jembatan Tenkuu. Insiden perlombaan tersebut terjadi dua hari sebelumnya. Korban meninggal adalah Mayama Shinji, 38 tahun. Kapalnya terbelah, Mayama terlontar dan meninggal seketika.

   Makoto rasa ini kelihatan seperti kecelakaan biasa, apakah Detektif Kotegawa berpikir ada penyebab lainnya ?. Detektif Kotegawa bilang, istri Mayama Shinji menduga ada seseorang yang sengaja mencelakai Mayama Shinji.

Flash back..

   Istri Mayama Shinji meminta detektif untuk menyelidiki dengan cermat. Coba lihat mesin kapal suaminya, seseorang pasti sengaja mensabotasenya.

Flash back end..

     Kepolisian dari Oniri-Minami yang menangani kasus tersebut menganggap kematian Mayama Shinji sebagai kecelakaan. Namun istrinya tidak bisa menerima hal tersebut, lalu meminta kepolisian Prefektur Saitama untuk menyelidikinya.

       Dokter Kashiyama bertanya, apakah Mayama Shinji sempat memperlakukan orang dengan buruk sehingga ada orang yang hendak mencelakainya ?. Detektif Kotegawa menggeleng, untuk sekarang ini tidak terlihat seperti adanya motif dendam. Mayama Shinji adalah seorang yang jujur dan atlet yang berbakat, serta memiliki keluarga yang bahagia.

“Otopsinya telah selesai dilakukan bukan ?” Tanya Profesor Mitsuzaki.

“Benar, sudah dilakukan di Tokyo Medical. Aku memiliki dokumen sertifikat kematian dan laporan otopsinya.” Kotegawa memberikan dokumen-dokumen yang dimaksud ke Profesor Mitsuzaki.

        Makoto pikir Forensik Urawa tidak perlu melakukan apapun karena otopsinya telah selesai. Namun Detektif Kotegawa tetap ingin memastikannya, karena dari hasil otopsi masih ada yang rancu dan dipertanyakan.

        Profesor Mitsuzaki mencemooh kedua dokumen di tangannya tidak berharga sekali. Omong kosong. Dokter Kashiyama membacanya, ia berpendapat sama dengan Profesor Mitsuzaki.

        Pihak Tokyo Medical melakukan otopsi dengan asal-asalan, tidak ada laporan mengenai kondisi organ dalam Mayama Shinji. Dan yang paling buruk adalah catatan tentang kerusakan di bagian kepala, tetapi tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai itu. Tokyo Medical menyimpulkan mungkin penyebab kematian karena luka memar sebagai akibat dari terpental dari air 80km/jam. Harusnya ada lebih banyak kerusakan.

“Ada di mana sekarang jasadnya ?” Tanya Profesor Mitsuzaki. Detektif Kotegawa rasa masih ada di Tokyo Medical. Profesor Mitsuzaki melihat dokumennya, penanggung jawab otopsi adalah dokter Nagase.

       Profesor Mitsuzaki ingin melakukan otopsi pada Mayama. Makoto terkejut, melakukan otopsi lagi ?.

        Detektif Kotegawa mengerti, dia akan memintakan izin otopsi segera. Profesor Mitsuzaki kembali ke meja kerjanya, dia yakin tidak akan diizinkan melakukan otopsi lagi jika Detektif Kotegawa memintakan izin resminya. Profesor Mitsuzaki berencana melakukan otopsi setelah jasadnya sampai di rumah, Profesor Mitsuzaki akan meminta izin pihak keluarga yang ditinggalkan.

Kotegawa: Baik,

Makoto: Apa itu mungkin ?. Bisakah kita melakukan otopsi dua kali pada jasad yang sama ?

Makoto bertanya pada dokter Kashiyama. “Tentu saja. Itu akan menimbulkan masalah besar. Kita akan menjadi musuh dari Tokyo Medical.” Jawab Kashiyama.

Tapi Profesor Mitsuzaki rasa tidak masalah dengan resiko tersebut karena dokter yang menulis laporan otopsi melakukan tugasnya dengan amat buruk. Profesor Mitsuzaki meminta Kotegawa membawakannya 1 video ketika Mayama masih hidup.

   Kotegawa menyanggupinya.

       Makoto terlihat khawatir, dia meminta izin Profesor Mitsuzaki untuk menemui keluarga yang ditinggalkan. Makoto ingin tahu kenapa istri Mayama berpikir kematian suaminya bukan karena kecelakaan.

       Dokter Kashiyama juga berpikir itu ide yang bagus. Dokter di Jepang harusnya ikut turun ke lapangan untuk menyelidiki kasusnya juga. Ketika aku bekerja di Columbia, aku selalu diikutsertakan dalam investigasi sebagai ahli medis.

       Profesor Mitsuzaki mengizinkan Makoto melakukan apapun yang dia inginkan, asal jangan memberitahu istri Mayama tentang niatan mereka yang ingin melakukan otopsi lagi. Profesor Mitsuzaki tidak mau terlibat masalah jika istri Mayama mengajukan gugatan ke Tokyo Medical.

       Makoto dan Kotegawa mengunjungi rumah Mayama Shinji. Makoto melihat-lihat foto keluarga.

      Istri Mayama turun membawakan handycam untuk Detektif Kotegawa. Kebanyakan video di dalamnya adalah video keluarga pada umumnya. Detektif Kotegawa meminta izin untuk meminjamnya sebentar.

Istri Mayama pikir Kotegawa datang dengan rekan detektifnya dan Kepolisian Prefektur Saitama telah melakukan penyelidikan untuk kasus suaminya. Kotegawa menjelaskan kalau dia datang dengan seorang dokter dari Kodokteran Forensik, dan bukankah sudah aku katakan sebelumnya bahwa aku bekerja di M.P.D.

       Makoto bertanya, “Kenapa kau pikir itu bukan insiden kecelakaan ?”

“Karena itu tidak mungkin. Dia tidak mungkin melakukan kesalahan seperti itu. Dia pastinya tidak melupakan adanya tikungan di pertandingan. Dia sudah berlatih lusinan kali untuk itu.”

Istri Mayama kembali menyiapkan minuman. Makoto bertanya kembali, adakah kemungkinan Mayama Shinji sebelumnya sakit atau mengalami tekanan mental ?. Istri Mayama ngotot, tidak mungkin !, benar, seseorang mungkin memberinya obat tidur sebelum pertandingan dimulai.

       Katanya penuh kecurigaan. Tetapi Kotegawa mencoba menjernihkan, jika memang seperti itu.. pasti sudah ketahuan saat dilakukan otopsi. Istri Mayama berbalik lagi, sibuk menyiapkan minuman. Makoto hati-hati bertanya, apa istri Mayama ada pemikiran lainnya mengenai insiden kematian Mayama Shinji ?.

   Istri Mayama kesal mendengar pertanyaan tersebut. Bukankah tugasnya penyidik untuk menemukan penyebab kematian suaminya ?!. Lalu ia menangis,

     Anak Mayama Shinji datang. Ia langsung dipeluk ibunya yang menangis. Seorang pria meminta maaf karena Keita pulangnya telat. Ia juga terlihat terkejut melihat kedatangan Makoto dan Kotegawa, namun langsung membungkuk sekilas menyapa. Pria yang datang bersama Keita mengajak Keita main.

   Istri Mayama menyuguhkan minumannya “Maafkan aku,”. Kotegawa langsung bertanya siapa pria tadi. “Dia adalah teman akrab suamiku. Dia sangat mengkhawatirkan Keita,” Istri Mayama memandang Keita dan teman suaminya yang sedang bermain dengan mainan. “Suamiku adalah hero nya Keita,” Gumamnya dengan tatapan melamun.

   Istri Mayama meminta Detektif Kotegawa dan Makoto membantunya menemukan penyebab kematian suaminya.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

Kotegawa dan Makoto keluar dari rumah keluarga Mayama Shinji. “Istrinya kelihatan tidak suka memikirkan jika penyebab kematian suaminya adalah kecelakaan.” Kata Kotegawa.

“Aku bisa mengerti,”

    Temannya Mayama Shinji berlari mendekati Makoto dan Kotegawa. Ia berkata, akan lebih baik jika keduanya mengatakan penyebab kematiannya adalah kecelakaan. Mitamura juga berharap Detektif Kotegawa memberitahu kepolisian Omori-Minami juga. Istrinya Mayama Shinji mungkin hanya belum bisa menerima kenapa suaminya meninggal, lambat laun pasti akan bisa menerima kenyataan demi Keita, anaknya.

   Makoto dan Kotegawa memandangi kepergian Mitamura.

       Dekan Yoshihiko Sakamoto meminta Profesor Tsukuba menjelaskan seperti apa Makoto Tsugano. Profesor Tsukuba menolak menjelaskan, dulu di pembicaraan sebelumnya ia tidak mengatakan apapun karena Rektor ada di sana. Beliau mengirim Makoto Tsugano untuk pelatihan Makoto Tsugano sendiri.

      Dekan Yoshihiko Sakamoto berdalih, sangatlah wajar kalau pihaknya meminta laporan tentang profesor yang membimbingnya.

“Aku akan langsung berbicara pada Profesor Mitsuzaki”  kata Profesor Tsukuba.

“Ini akan sangat terlambat untuk melakukan apapun jika aibnya terbongkar. Apa yang akan kau lakukan jika masalah yang disebabkan dari kebiasaan buruknya dilaporkan ke polisi seperti terakhir kali, dan pihak keluarga korban melaporkan perguruan tinggi ini ?”

“Apa kau mengkhawatirkan itu akan mengganggu jalanmu dipromosikan menjadi Rektor ?”

      Dekan Yoshihiko Sakamoto tertawa mendengarnya. Ia rasa tidak hanya dirinya yang akan hancur, Profesor Tsukuba dan Kedokteran Internalnya yang tercinta pun akan hancur. Mari buat Makoto Tsugano melaporkan apa yang Profesor Mitsuzaki lakukan, Mitsuzaki bukan pria biasa.

    Profesor Mitsuzaki melingkari tulisan penyakit bronchitis dan menggaris bawahi nama dokter penulis laporan.

 Profesor Tsukuba berkunjung. Dokter Kashiyama menyambutnya ramah. Profesor Tsukuba memuji pasti dokter Kashiyama banyak kesulitan karena menjadi asistennya Profesor Mitsuzaki. Profesor Mitsuzaki segera menutup lembaran laporan kematian.

“Aku akan membuatkan kopi,”

“Terima kasih,”

Dokter Kashiyama pergi. Profesor Mitsuzaki bertanya “Apa yang bisa kubantu,” . “Aku datang kemari untuk berterima kasih karena sudah membantu pelatihannya Makoto Tsugano.”

“Menurutku dia tidak perlu dibantu untuk belajar.”

“Kau ini memang tidak biasa. Kudengar kau mengatakan keinginanmu pada Dekan bukan ?.” Profesor Tsukuba sudah sangat mengenal Profesor Mitsuzaki, semua yang meninggal harus dilakukan otopsi. Namun Profesor Tsukuba menyarankan Profesor Mitsuzaki untuk berhenti sekarang, demi kebaikan Profesor Mitsuzaki sendiri.

“Terima kasih atas nasehatnya” Profesor Mitsuzaki membungkuk berterima kasih.

Profesor Tsukuba menasehati Profesor Mitsuzaki, selama Profesor Mitsuzaki tergabung sebuah institusi maka tindakan Profesor Mitsuzaki pun akan memiliki dampak pada universitas ini.

“Maaf, aku harus menghadiri kelas selanjutnya.” Profesor Mitsuzaki pamit, dia tampaknya tidak menghiraukan nasehat Profesor Tsukuba.

     Dokter Kashiyama datang membawakan kopi. Profesor Tsukuba menanyakan di mana Makoto Tsugano. Ragu-ragu dokter Kashiyama mengatakan “Dia sedang keluar,”. Profesor Tsukuba tidak bertanya lebih lanjut. Beliau menatap tumpukan buku, kertas di meja Profesor Mitsuzaki.

      Makoto menonton video di handycam. Tak lama kemudian Kotegawa masuk ke mobil, meminta maaf karena sudah membuat Makoto menunggu. Makoto juga meminta maaf karena telah menonton video Mayama Shinji seorang diri. Keduanya lalu menonton bersama.

        Detektif Kotegawa bertanya, apa dokter Makoto tahu kenapa Profesor Mitsuzaki ingin melihat video Mayami Shinji ketika hidup ?. Makoto pikir mungkin Profesor Mitsuzaki ingin memastikan kalau Mayama Shinji terlihat sakit sebelumnya, tapi dilihat dari video ini Mayami Shinji kelihatan baik-baik saja.

        Video ulang tahun Keita dua hari yang lalu sebelum pertandingan. Makoto pikir keluarga tersebut terlihat damai menyenangkan.

       Ternyata Mitamura juga ada di sana. Temannya tersebut diajak minum bersama, pria itu mengatur handycam lalu duduk. Mayama menuangkannya jus tetapi tertuang bukan di gelas, semuanya tertawa dan hendak membersihkan.

       Makoto berkesimpulan kalau temannya Mayama sudah seperti anggota keluarga, itulah mengapa pria itu sangat mengkhawatirkan anaknya Mayama. Akan tetapi Kotegawa tidak sependapat, mungkin saja pria itu mengkhawatirkan hal yang lainnya.

Kotegawa menutup handycam, menaruhnya di belakang. Keduanya mengenakan sabuk pengaman.

“Kau pasti dokter yang baik,” Tebak Kotegawa.

“Apa maksudmu ?”

“Kau mencoba terlibat dengan pasien dan keluarga mereka diberbagai macam situasi.”

“Aku pikir jika aku mengabaikan perasaannya pasien atau keluarga yang ditinggalkan, aku tidak layak menjadi seorang dokter.”

Ucapan Makoto membuat Kotegawa tersenyum. Ia suka dengan pemikiran semacam itu, aku mungkin akan menggunakan kata-kata itu.

        Kotegawa berada di suatu kantor polisi. Pria yang dia mintai informasi menolak memberikan informasi pada orang luar seperti Kotegawa.

       Kotegawa melihat keluarga yang ditinggal menahan duka citanya dengan amat sangat. Jika aku mengabaikan perasaan dari keluarga yang ditinggalkan maka aku tidak layak disebut polisi bukan ?.

       Setelah mengatakan itu Kotegawa menoleh pada Makoto. Makoto mengerutkan alisnya mendengar perkataan Detektif Kotegawa. Makoto lalu kembali mencatat sesuatu.

     Polisi yang menangani mengatakan kalau pria itu adalah temannya Mayama Shinji sejak SMA. Kami mendapat informasi kalau Mitamura menyukai istrinya Mayama.

Makoto menoleh mendengar pernyataan tersebut. Polisi lanjut bercerita, Mitamura membuka praktek klinik mata tapi keuangannya mengalami kesulitan. Dan Mayama Shinji memiliki uang asuransi jiwa sebesar 50 juta yen. Ahli warisnya adalah istrinya sendiri.

      Detektif Kotegawa berpikir, pria itu mungkin membunuh Mayama Shinji untuk mendapatkan istri Mayama dan bonusnya adalah asuransi 50 juta yen milik Mayama.

      Makoto tidak setuju dengan pemikiran Kotegawa. Polisi di hadapan Kotegawa sangsi, bagaimana caranya Mitamura membunuh Mayama selama pertandingan berlangsung ?, hanya orang-orang yang terlibat dalam pertandingan saja yang mungkin mensabotase Mayama.

Polisi juga berpikir sama. Tidak masuk akal jika Mitamura mensabotasenya, polisi menganggap kematian Mayama adalah kecelakaan. Jadi Detektif Kotegawa jangan berpikiran yang tidak-tidak dan menggagu jalannya investigasi !.

       Polisi tersebut kemudian pergi dengan beberapa polisi lainnya. “Uang asuransi dan istri.., itu adalah motif yang bagus. Jika otopsinya salah dan tes reaksi obat-obatannya positif, jalan ceritanya akan  berubah.” Kata Kotegawa sembari berpikir.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

    “Melakukan otopsi lagi ?” Tanya Profesor Tsukuba.

“Iya, Profesor Mitsuzaki meragukan otopsi yang dilakukan Tokyo Medical.”

       Mereka bertemu. Makoto menceritakan tentang kecelakaan yang dialami Mayama Shinji. Profesor Tsukuba juga tahu kabar tersebut. Makoto mengakui Profesor Mitsuzaki memang orang yang ahli, tetapi jika beliau melakukan sesuatu yang tidak baik maka Makoto tidak akan setuju dengannya.

“Sejujurnya, dia berada di posisi yang canggung sekarang. Jika dia terus melakukan otopsi tanpa izin, dia mungkin akan dipecat”

      Makoto terkejut mendengarnya. Profesor Tsukuba berkata kalau saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan otopsi tanpa izin lagi. Itu akan menyulitkan Profesor Mitsuzaki sendiri. Profesor Tsukuba menyukai Profesor Mitsuzaki, ia tidak ingin kehilangan rekan yang berbakat tersebut. Kapanpun ia akan membujuk Profesor Mitsuzaki untuk berhenti. Jadi jika Makoto-kun memiliki permasalahan tentang Profesor Mitsuzaki, beritahu saja Profesor Tsukuba.

Makoto berterima kasih banyak.

      Ketika Makoto berjalan sambil berpikir, ibunya Yuko memanggilnya. Mereka kemudian berbincang. Yuko ada di rumah, ibunya ke RS untuk mengambil obat karena kondisinya buruk sekarang.

Dokter Hideo akan mengatur jadwal periksanya Yuko nanti. Ibunya Yuko berterima kasih.

Makoto memperhatikan wajah ibunya Yuko yang pucat dan membuat Makoto khawatir, Makoto meminta ibunya Yuko jangan gegabah dan terlalu memaksakan diri.

Sumire: Aku tidak gegabah tetapi aku memaksakan diriku bekerja sekeras mungkin. Aku satu-satunya yang bisa menjaganya. Tapi bagaimanapun juga terima kasih.

      Makoto tersenyum mengerti. Sumire Kashiwagi memegangi tangan Makoto.

      Dokter Hideo berharap Makoto bisa membujuk Yuko untuk tinggal di rumah sakit. Namun Makoto menjelaskan kalau keluarga Kashiwagi memiliki kesulitan dalam perekonomian mereka.

“Apa dia orang tua tunggal ?”

“Benar, ketika Yuko 5 tahun ayahnya meninggal karena sakit. Ibunya memiliki 2 pekerjaan paruh waktu”

“Aku mengerti, minta mereka untuk datang melakukan pengecekan secepatnya.” Dokter Hideo lalu berjalan pergi meninggalkan Makoto. Makoto tampak cemas, dia menahan dokter Hideo dengan pertanyaan “Apakah penyakitnya sudah sangat mendesak ?”

Dokter Hideo berbalik, mereka akan tahu setelah dilakukan tesnya nanti.

      Dokter Hideo dengar Makoto sedang mengalami masa sulit sekarang. Makoto tersenyum mendengarnya. Dokter Hideo bercanda, ia memang tidak mengenal Profesor Mitsuzaki seperti apa, tapi ia ingin tahu apa yang sebenarnya Profesor Mitsuzaki inginkan. Makoto menjawab, dia pun juga ingin mengetahui hal tersebut.

“Bagaimana pun juga aku serahkan Kashiwagi Yuko padamu. Tetaplah awasi dia. Dan beritahu padaku jika kondisinya berubah,” Kata Dokter Hideo.

“Aku akan melakukannya,”  kata Makoto. Dokter Hideo melangkah pergi. Tapi dia masih melanjutkan kalimatnya, ia pikir Makoto Tsugano adalah dokter internal yang sesungguhnya. Makoto tersenyum, lalu berbalik pergi.

    Makoto mengecek kondisi Yuko. Yuko tertidur sambil memegangi sapu tangan.

Makoto melipat baju yang ada, Yuko terbangun. “Kau ada di sini ?” Makoto mendekati Yuko kembali.

“Kau begadang karena membaca buku ?” Tanya Makoto

“Bagaimana kau bisa tahu ?”

“Ayo jalan-jalan minggu ini !” Ajakan Makoto membuat Yuko tertawa, mengajaknya keluar ?, apa Makoto tidak punya pacar ?. Makoto membantu Yuko untuk duduk, ia mengajak Yuko jalan-jalan untuk menghirup udara segar…  Makoto akan menyewa mobil untuk mereka.

“Ngomong-ngomong, ceritalah soal pekerjaanmu Makoto ?!. Cerita tentang Profesor Mitsuzaki.”

“Kenapa ?”

“Karena dia melakukan otopsi sekalipun dia mungkin bisa ditahan. Itu luar biasa”

“Apa itu luar biasa ?” Tanya Makoto heran. “Apa ?” Yuko tidak mengerti kenapa Makoto berkata begitu.

        Makoto menjelaskan, dia mulai berpikir kalau Kedokteran Forensik mungkin bisa menyelamatkan orang-orang. Bagi pasien yang telah meninggal dan keluarga yang ditinggalkan. Namun Profesor Mitsuzaki sepertinya hanya ingin melakukan otopsi.

“Tapi..” Yuko langsung terbatuk-batuk setelah mengatakannya. Makoto pikir dia harus berhenti mengobrol dengan Yuko. Yuko menggeleng, “Tapi, aku rasa Profesor Mitsuzaki melakukan sesuatu yang baik.”

“Apa ?”

“Karena orang-orang ingin tahu apa yang Profesor Mitsuzaki kerjakan bukan ?. Bukan hanya pasien yang teah meninggal ataupun keluarga yang ditinggalkan. Orang-orang bisa berduka cita hanya jika tahu kebenarannya. Makoto, kau bisa menjadi dokter yang baik”

Makoto senang mendengar kata-kata Yuko. “Kau selalu memberiku kekuatan.” Keduanya lalu sama-sama tertawa. Yuko mencubit Makoto “Semangatlah Makoto !”,

“Aku akan berusaha keras !”

      Profesor Mitsuzaki melihat tayangan video Mayama Shinji. Profesor Mitsuzaki terkejut dan membesarkan bagian wajah Mitamura yang nampak mencurigakan.

     Detektif Kotegawa menelfon Profesor Mitsuzaki, melapor kalau besok jasadnya Mayama akan dibawa ke rumah. Profesor Mitsuzaki menyuruh Detektif Tokegawa untuk meminta izin melakukan otopsi bersama Makoto Tsugano.

“Anda yakin mau mengotopsinya lagi sekalipun pihak Tokyo Medical  akan menjadi musuh anda ?”

      Profesor Mitsuzaki berkata dia punya rencana sendiri untuk itu. Kotekagawa bertanya, sebelumnya Profesor Mitsuzaki bilang kalau ingin mengoleksi seluruh data dari kematian biasa, kecelakaan, atau karena penyakit. Jika memang begitu, apa Profesor Mitsuzaki selalu mempercayai Kotegawa ?.

    Kotegawa telah berjanji akan memberikan info jasad yang meninggal di dalam yuridiksinya pada Profesor Mitsuzaki, tetapi Kotegawa menyadari bahwa Profesor Mitsuzaki tidak mengotopsi semuanya, hanya mengotopsi beberapa kategori jasad tertentu saja. Contohnya Kurita Masumi dan Mayama Shinji.

   Mendengar kecurigaan Kotegawa, Profesor Mitsuzaki memejamkan matanya seolah meredam diri, Profesor Mitsuzaki tentu tidak ingin diketahui apa motif aslinya melakukan otopsi.

Profesor Mitsuzaki memilih tidak menanggapi perkataan Kotegawa, ia menyuruh Kotegawa melakukan tugasnya dengan cepat besok. Kotegawa terihat tidak puas, Profesor Mitsuzaki memutus panggilan tanpa menanggapinya.

Komentar: hippocratic-oath Aku penasaran dengan Yuko. Sejak episode satu, namanya ada dan dia sudah tidak bernyawa lagi. Bagaimana perasaan Makoto jika Yuko diotopsi oleh Prof. Mitsuzaki ?.

Sinopsis Hippocratic Oath Episode 1 Part 2

Sinopsis Hippokuratetsu No Chikai Episode 1 Part 1

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

   Ayahnya Kurita Masumi yakin kalau anaknya meninggal karena tertabrak mobil.

Nyonya Shinoda juga diberitahu oleh polisi kalau kompensasi sepertinya tidak mungkin dilakukan dilihat dari keluarga Kurita yang seperti itu.

    Nyonya Shinoda menyuruh Tuan Shinoda untuk mengaku saja. Suaminya bertanya apa istrinya tidak percaya padanya ?, ia mengerem duluan dan sepedanya menabrak mobil. Tetapi istrinya pun sama frustasinya, ia tentu percaya pada suaminya tapi kenyataannya tidak ada yang percaya cerita suaminya karena Kurita Masumi sudah meninggal.

   Sayangnya mereka tidak punya uang untuk menyewa pengacara dan asuransi mereka tidak cukup untuk membayar uang kompensasi.

  Nagisa menunggu ibunya yang tengah menemui ayahnya. Detektif Kotegawa dan Makoto memperhatikan Nagisa. Kemudian Makoto mendekati Nagisa untuk mengajaknya makan siang bersama.

     Mereka berdua makan mie, Makoto pikir hidung Nagisa berair karena mienya terlalu pedas/panas. Makoto mengambilkan sapu tangan. Rupanya Nagisa menangis karena memikirkan ayahnya, Makoto mencoba mengerti dengan tidak menggagunya.

     Makoto banyak mempelajari sesuatu. Sementara itu Profesor Mitsuzaki berpikir,

ia menuliskan pemikirannya ke sebuah kertas [ Tidak ada bantahan dari keraguan, Tidak pasti kepalanya terluka , Ganti rugi organ-organ, apa sebenarnya penyebab kematian ? ]

    Dokter Kashiyama menerima telfon dari kantor Dekan Fakultas Kedokteran, meminta disambungkan ke Profesor Mitsuzaki.

    Profesor Mitsuzaki bertemu dengan Dekan Yoshihiko Sakamoto, mereka mendapatkan keluhan dari Kepolisian Prefektur Saitama. Bukankah Profesor Mitsuzaki memerintahkan seorang detektif untuk meminta dilakukan otopsi ?.

   Profesor Mitsuzaki menjelaskan maksudnya, itu karena kita tidak bisa mengidentifikasi penyebab kematian yang pasti tanpa dilakukan otopsi. Dekan Yoshihiko Sakamoto bertanya lagi, bukankah tempatnya Profesor Mitsuzaki adalah tempat pengembangan riset ?.

    Profesor Mitsuzaki pikir kita harus melakukan otopsi untuk semua kasus dan menyimpan data-datanya. Itu akan sangat berguna untuk berbagai macam kemungkinan dimasa depan.

   Dekan Yoshihiko Sakamoto berjalan mendekati Profesor Mitsuzaki, ia mengingatkan kalau semua riset tentunya membutuhkan dana, dan otopsi adalah sebuah kegiatan sukarela kemanusiaan. Semakin banyak otopsi yang Profesor Mitsuzaki lakukan, maka semakin negatif keuangan yang kita miliki. Jika Kedokteran Foreksik satu-satunya yang membuang-buang uang, maka itu akan menjadi masalah.

“Menentukan sebab kematian tanpa dilakukan otopsi,” Profesor Mitsuzaki menggeleng dengan perkataan yang dia ucapkan sendiri. Lalu beliau menaruh cawan minumnya dan beranjak dari tempatnya duduk.

     Detektif Kotegawa dan Okamura melapor pada Profesor Mitsuzaki kalau mereka telah ditolak keluarga Kurita Masumi melakukan otopsi. Sekalipun sudah menjelaskan kalau sepedanyalah yang menabrak mobil, tapi keluarga tersebut tidak mau dengar soal itu dan menolak keras untuk dilakukan otopsi. Dokter Kashiyama menyayangkan sikap orang Jepang yang berpikiran kolot tentang mayat, tidak seperti Eropa atau U.S.A.

   Makoto memperhatikan mereka. Makoto memberikan saran, bagaimana kalau kita melakukan AI ? (AI: Autopsy Imaging. Melakukan Otopsi tanpa melakukan pembedahan, hanya menyinari tubuh mayat dengan semacam sinar laser untuk melihat kondisi tubuh bagian dalam)

   Sosuke Okamura dan Kazuya Kotegawa menoleh, AI ?. Makoto menjelaskan, AI adalah diagnosa pendekatan dengan gambar dari CT atau MRI. Karena AI tidak melakukan pembedahan, Makoto yakin pihak keluarga akan bisa menerimanya.

   Dokter Kashiyama pikir AI tidak sepenuhnya menunjukkan penyebab kematian, ini akan memakan biaya juga bagi polisi. Detektif Kotegawa berkata, jika memang itu dimungkinkan untuk mengetahui penyebab kematiannya, pihak kepolisian akan menanggung biayanya.

    Profesor Mitsuzaki menyetujui usulan Makoto Tsugano.

    Makoto Tsugano dan Detektif Kotegawa mendatangi keluarga Kurita. Tuan Kurita membaca dokumen penjelasan tentang AI, ia meminta detektif dan dokter pergi. Detektif Tsugano menjelaskan kalau metode AI tidak akan memotong bagian tubuh anaknya.

“Pria tidak bertanggung jawab itu mengemudi dengan cepat dan menabraknya sampai jatuh. Itulah penyebab kematiannya.” Kata Tuan Kurita dengan yakin ke Detektif Kotegawa. Detektif Kotegawa mencoba tenang “Untuk sekarang. Kita tidak bisa menyimpulkan pria itu mengemudi dengan cepat”

“Aku percaya putri kami tidak bunuh diri, dan aku percaya dia bukanlah orang yang melakukan permusuhan dengan orang lainnya. “

   Makoto mengambil sertifikat kematian Kurita Masumi dari sebuah amplop coklat, Makoto meminta Tuan Kurita membacanya. “Aku menulis poin keraguan dari insiden kecelakaan ini.” Tuan Kurita membacanya dengan enggan.

“Sangat normal jika anda mempercayai apa yang polisi katakan. Dokter tidak mendiagnosa secara keseluruhan, hanya mengecek fisiknya. Sekalipun kita mengetahui penyebab kematiannya, dia tidak akan pernah kembali.”

Makoto menegaskan kalau pihak keluarga ingin mengetahui penyebab kematiannya, AI adalah satu-satunya kesempatan mereka mengetahui penyebab kematian Kurita Masumi. Makoto mencoba berbicara dengan nada meyakinkan keduanya, Tuan Kurita dan istrinya saling memandang, lalu Tuan Kurita memandang foto keluarganya di dinding. Menatap figur putrinya. Seolah meminta izin.

    Tuan Kurita, setelah benar yakin. Dia mengizinkan putrinya dilakukan AI, segera dan secepatnya. Makoto senang mendengarnya, dia berjanji akan menjaga Kurita Masumi. Detektif Kotegawa langsung pergi menghubungi seseorang.

    Makoto dan beberapa orang membawa mayat Kurita Masumi. Makoto menghubungi pihak tempat AI, dalam 1 jam dia akan sampai. Di luar, Detektif Kotegawa sudah menunggu dan menyiapkan mobil. Kurita Masumi datang, salah seorang polisi bertanya-tanya kenapa Detektif Kriminal tingkat 1 Kazuya Kotegawa mengurusi Kurita Masumi, padahal kasus ini diluar yuridiksinya. Kotegawa bilang, ia hanya membantu.

     Detektif Kotegawa menghubungi Detektif Okamura. Meminta Detektif Okamura untuk mengawasi Ketua mereka selama Kotegawa melakukan tugasnya. Okamura terlihat cemas, ini masih belum terlambat jika Kotegawa ingin mengurungkan niatnya. Detektif Kotegawa terlihat tidak menghiraukan kecemasan Okamura, “Kau tidak mengerti apa-apa soal ini kan ?, hubungi aku jika terjadi sesuatu.”

  Makoto bertanya apa semuanya baik-baik saja ?. Kotegawa bilang nyaris. Makoto khawatir, nyaris bahaya atau aman maksudnya ?. Kotegawa berkata, itu tidak penting… sudah sangat terlambat untuk berhenti. Kotegawa mengintruksi arah jalannya supir.

   Makoto heran, itu bukannya arah untuk ke AI center. Detektif Kotegawa meminta maaf, tapi mereka sedang menuju ke Kedokteran Forensik Urawa, Profesor Mitsuzaki akan melakukan otopsi pada Kurita Masumi. Makoto terkejut mendengarnya, “Kita tidak boleh melakukan itu !”

“Jika kita menemukan penyebab kematian bukan karena kecelakaan, tubuhnya toh tetap akan dikirim untuk dilakukan otopsi kapan saja.”

“Bukan itu masalahnya !”

  Profesor Mitsuzaki menyiapkan peralatan medisnya. Setibanya di Urawa, dokter Kashiyama berlari untuk membantu mendorong Kurita Masumi sampai ke ruangan otopsi.

Makoto menahannya, bertanya “di mana Profesor Mitsuzaki ?”

“Di ruang otopsi,”

    Makoto masuk ke ruangan otopsi. Ia memprotes tindakan Profesor Mitsuzaki, mereka tidak bisa melakukan ini karena pihak keluarga tidak mengizinkan. Profesor Mitsuzaki berkata, kita tidak memiliki waktu lagi, barang buktinya akan hilang kalau terlambat melakukan otopsi.

   Makoto meminta izinnya untuk melakukan AI. Profesor Mitsuzaki berkata, AI saja tidak cukup. Tetap saja Makoto rasa ini tidak benar, apa Profesor Mitsuzaki bisa membayangkan bagaimana perasaan pihak keluarga ketika Makoto meminta izin untuk AI ?, AI saja mereka berat melepaskannya. Bagaimana aku akan menjelaskan situasi ini pada mereka ?

   Profesor Mitsuzaki terus mempersiapkan dirinya, “Profesor !, ini adalah tindak kriminal !”

“Aku akan bertanggung jawab atas apapun yang terjadi.” Kata Profesor Mitsuzaki dengan tegas. Makoto kecewa, apa mungkin dulu Profesor Mitsuzaki setuju AI hanya dijadikan alasan agar bisa mengotopsi Kurita  Masumi ?. Agar bisa mendapatkan tubuhnya, Profesor Mitsuzaki membuat Makoto berbohong pada pihak keluarganya ?.

   Profesor Mitsuzaki membenarkan hal tersebut. Makoto tidak terima, dia adalah seorang dokter dan tidak bisa menipu pihak keluarga untuk melakukan ini.

“Jika kau tidak bisa melakukannya. Aku tidak membutuhkanmu. Silahkan pergi dari sini,”

Jasad Kurita Masumi sudah masuk ke ruangan otopsi. Makoto hendak menelfon pihak kepolisian. Detektif Kotegawa menahan Makoto, setidaknya lakukanlah itu setelah otopsi selesai. Detektif Kotegawa mendorong Makoto keluar dari ruang otopsi dan merampas ponselnya.

  Makoto tidak habis pikir, bukankah Kazuya Kotegawa adalah detektif ?, ini adalah tindakan kriminal !. detektif Kotegawa mengatakan, Profesor Mitsuzaki memintaku menahannya setelah otopsi berakhir. Apapun hasilnya nanti, ini adalah harga yang harus dibayar atas tindakannya Profesor Mitsuzaki. Dan Detektif Kotegawa ada dipihaknya Profesor Mitsuzaki.

   Kotegawa menyerahkan ponsel Makoto kembali. Lalu meninggalkan Makoto yang kebingungan sendiri.

    Detektif Okamura terus mengawasi kepalanya. Sesekali mengecek jam dengan khawatir. Kepalanya menyadari diperhatikan Okamura, ada apa ?. Okamura bilang tidak ada apa-apa. Kepala bertanya, ngomong-ngomong aku belum lihat Kotegawa sejak tadi, kemana dia ?.

Okamura dengan ekspresi mencurigakan berkata dia juga tidak tahu. Kepala kesal mendengar jawaban Okamura, ia berdiri dan berkacak pinggang, bukankah sudah kubilang untuk mengawasinya !.

“Ketua, ada panggilan untukmu” Kata bawahannya yang lain.

“Dari siapa ?”

“Dari stasiun polisi Minuma. Mereka menanyakan tentang korban kecelakaan lalu lintas.”

Okamura dalam hati bisa menebak pasti ini ada hubungannya dengan Kotegawa.

    Profesor Mitsuzaki melakukan otopsi. Kepala Kurita Masumi tidak terluka, lengannya baik-baik saja, kulitnya mengelupas, dsb. Setelah dilakukan pengecekan luar, terlihat seperti korban kecelakaan pada umumnya. Lalu Profesor Mitsuzaki memulai pemotongan untuk melakukan pengecekan tubuh bagian dalam.

    Makoto merenung, ia memikirkan perasaan Tuan dan Nyonya Kurita, perkataan Detektif Kotegawa tentang perbandingan 8 dari 9 tubuh dikremasi tanpa diketahui penyebab kematian sebenarnya. Dokter Tsukuba yang meyakinkan Makoto kalau berada di bawah bimbingan Profesor Mitsuzaki baik untuk Makoto, kedokteran forensik bisa membantu pasien mereka, tangisan Nagisa yang tidak ingin ayahnya ditahan. Semuanya berputar dalam benak Makoto Tsugano.

“Aku mengerti. Tidak ada yang bisa kulakukan.” Kotegawa keluar dari ruang otopsi, ia menerima panggilan dari seseorang. Makoto datang dengan pakaian hijaunya, ia ingin ikut ambil bagian dari tindakan Profesor Mitsuzaki.

   Makoto masuk ke ruangan otopsi. Ia bertanya pada Profesor Mitsuzaki, apa Profesor Mitsuzaki yakin Kurita Masumi meninggal bukan karena kecelakaan ?. Profesor Mitsuzaki menjawab, dirinya tidak pernah memotong tubuh mayat tanpa keyakinan. Makoto meminta izin menjadi asistennya Profesor Mitsuzaki.

   Profesor Mitsuzaki melanjutkan otopsi. “Selanjutnya kita akan mengecek kerusakan organ dalamnya, ini berhubungan dengan penyebab kematiannya. Aku akan memotong  peritonea.”

“Baik,” Makoto lalu mengenakan kaca mata khususnya.

“Darah terakumulasi di abdomen. Ini hasil dari retakan liver”

Dokter Kashiyama mengambil cairan di perut. “Perbedaan abdominal diakibatkan karena pendarahan. Pada hasil ini, pengotopsi beropini kalau penyebab kematiannya disebabkan oleh kerusakan sebuah organ dalam. Dengan kata lain dia meninggal karena kecelakaan” [NB: Abdominal: berkaitan dengan perut]

“Baik” Makoto mengangguk. Dilanjutkan ke Profesor Mitsuzaki “Kelihatannya seperti itu. Tapi aku tetap meragukan. Jika seseorang meninggal seketika karena kerusakan organ dalam, harusnya terjadi pendarahan lebih parah. Tentu saja, pemikiran ini berbeda bagi tiap-tiap orang. Tapi pendarahan berlebihan yang terjadi secara cepat bisa membunuh seseorang seketika.

”Namun bagaimana bisa abdominal distention menyebabkan pendarahan ?” Tanya Makoto.

“Tidak ada seorang pun dokter forensik yang menyimpulkan kalau abdominal distention menjadi satu-satunya penyebab pendarahan abdomen. Periksa bagian perut paling dalamnya,” Kata Profesor Mitsuzaki.

“Gastroptosis ?” Tanya Makoto.

Dokter Kashiyama yang ada di sisi lain ruangan menjelaskan “Gastroptosis kebanyakan diberlakukan jika manusia tidak memiliki lemak di bagian perutnya. Kurus dan tinggi. Abdomennya sepertinya ada abdomen distention karena gastroptosis. Dan ini adalah kwantitas pendarahannya…” Dokter Kashiyama melihat banyaknya darah yang diukurnya.

“Dia tidak meninggal karena kerusakan organ dalam” Makoto menyimpulkan. “Itu mungkin saja” Profesor Mitsuzaki masih membuka banyak kemungkinan. Makoto bertanya-tanya, lantas apa penyebab kematiannya ?. Profesor Mitsuzaki menegaskan, itulah tujuannya otopsi !, otopsi akan mengatakan kebenarannya. Apa Makoto Tsugano ingat ketika Profesor Mitsuzaki melihat adanya perbedaan di sertifikat kematian dan laporan otopsi ?,

“Iya,” Kata Makoto.

“Itu adalah titik kematian”

“Titik kematian ?.”

      Dokter Kashiyama kembali, ia menjelaskan kalau pada umumnya titik kematian tidak terlihat kentara kuat dipermukaan. Jika seseorang meninggal akibat dari kehilangan banyak darah. Tapi untuk kasus pencekikan atau pendarahan otak, titik kematian terlihat sangat jelas. dan Kurita Masumi tidak kelihatan habis mengalami pencekikan.

   Profesor Mitsuzaki membedah kepala Kurita Masumi. Sementara itu di luar, para anggota kepolisian datang karena sudah mengetahui apa yang Profesor Mitsuzaki lakukan.

     Detektif Kotegawa sebisa mungkin menghentikan para polisi mengganggu jalannya otopsi, setidaknya biarkan para dokter menyelesaikan otopsi terlebih dahulu. Tanpa diduga, Tuan Kurita datang.

   Makoto mendengar suara keributan dari luar. 

  Detektif Kotegawa menyesal, dia meminta maaf pada Tuan Kurita.  Tuan Kurita tidak terima, kenapa Detektif Kotegawa tega membohonginya. Hentikan sekarang !

Makoto khawatir, suara keributan tentunya sampai ke dalam ruangan otopsi. Dokter Kashiyama menyuruh Makoto jangan mengganggu Profesor Mitsuzaki. Profesor Mitsuzaki sedang memotong dengan hati-hati, Makoto yang panik terkejut melihat apa yang ada di depan matanya “Subdural hematoma…”

     Profesor Mitsuzaki mencoba mencaritahu penyebab pendarahan.

   Profesor Mitsuzaki menemukan sesuatu, Makoto dan dokter Kashiyama terkejut dan bergantian menyebut “Thrombus”.

Makoto: Embolism (Economy-class-Syndrom) ?

Profesor Mitsuzaki mengangguk.

    Di luar, Tuan Kurita berontak ingin otopsi dihentikan. Detektif Kotegawa meminta Tuan Kurita tenang. Tuan Kurita terisak, bagaimana dirinya bisa tenang ?.

   Makoto keluar dari ruangan, penyebab kematian telah diketahui. Yaitu endogenous embolism, Makoto meminta izin ke Tuan Kurita untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

   Makoto: Meskipun otaknya tidak mengalami kerusakan, terjadi pendarahan besar-besaran di sini. Diakibatkan karena celebral sinusnya retak. Subdural hematoma berkembang pesat ketika naik sepeda. Dan membuatnya pingsan. Dia pasti tertabrak mobil karena pingsan

Detektif dan polisi yang menangani kasusnya juga mendengarkan penjelasan Makoto.

Makoto: Dari kwantitas pendarahan di perutnya, dia tidak meninggal karena kehilangan banyak darah di organ dalamnya. Dia meninggal karena penyakit subdural hematoma. Itulah alasan mendesak kami melakukan otopsi ketimbang AI. Beberapa hari setelah kematiannya akan sulit mencari tahu penyebab pendarahannya dengan CT scan. Jika menggunakan AI, mungkin penyebab sebenarnya akan luput. Tapi apa yang kami lakukan memang tak termaafkan.   Aku meminta maaf.

   Makoto membungkuk. Diikuti Detektif Kotegawa dan Okamura.

  Tuan Kurita melihat foto anaknya. Ia pikir seumur hidupnya akan membenci tersangkanya, Tapi nyatanya pria itu tidak membunuh putrinya. Tuan Kurita terisak.

Makoto: Putri anda juga mengatakan hal yang sama padaku.

   Peralatan dicuci. Profesor Mitsuzaki menutupkan kain putih ke Kurita Masumi. Profesor Mitsuzaki menunduk berdo’a. Dokter Kashiyama mematikan lampu ruangan otopsi.

     Profesor Mitsuzaki memiliki segalanya dibidangnya. Dekan Yoshihiko Sakamoto bertemu dengan seorang pria lainnya. Pria tersebut bisa mengeluarkan Profesor Mitsuzaki dari pendanaan mereka jika Profesor Mitsuzaki menyulitkan mereka, akan tetapi pria yang berambut putih tidak ingin menghentikan pendanaannya karena itu bisa mengganggu jalannya Dekan Yoshihiko Sakamoto untuk dipromosikan menjadi Rektor. Dekan Yoshihiko Sakamoto bilang tidak masalah, dia bisa menanganinya.

   Detektif Kotegawa penasaran kenapa Profesor Mitsuzaki ingin melakukan otopsi lebih banyak. Kotegawa ingin mengetahui alasannya karena dirinya bertugas menginformasikan jasad ke Profesor Mitsuzaki.

   Profesor Mitsuzaki menjawab, kita bisa mengurangi angka kematian yang tidak diketahui penyebabnya. Itu bagus juga untukmu bukan ?

  Makoto memberikan bunga ke makam Kurita Masumi. Nagisa datang dengan seikat bunga, dia mengabarkan ke Makoto kalau ayahnya sudah pulang. Makoto juga senang mendengarnya. Keduanya lalu berdo’a.

     “Kita tidak bisa mengabaikan species rendah itu. Bukankah begitu Profesor Tsukuba ?” Kata Dekan Yoshihiko Sakamoto.

“Tapi, Dekan..” Profesor Tsukuba tampak tidak sependapat dengan Dekan Yoshihiko Sakamoto. Dekan Yoshihiko Sakamoto juga terlihat senang karena Profesor Tsukuba mengirim Makoto Tsugano ke labnya Profesor Mitsuzaki. Dekan Yoshihiko Sakamoto pikir Makoto Tsugano bisa melaporkan semua yang terjadi di labnya Profesor Mitsuzaki.

    Komentar:hippocratic-oath

 Makoto yang tidak tahu apapun perihal urusan orang2 atas, dia hanyalah seorang dokter yang lurus lurus saja. Aku keranjingan drama yang diadaptasi dari novel pemirsa.. XD . Hahahaha…

 

Sinopsis Hippocratic Oath Episode 1 Part 1

  • hippocratic-oathDrama: Hippocratic Oath/ Hipokuratetsu No Chikai
  • Director: Akira Uchikata
  • Writer: Shichiri Nakayama (Novel), Eriko Shinozaki
  • Network: WOWOW
  • Episodes: 5
  • Release Date: October 2 – October 30, 2016

     Tsugano Makoto (Keiko Kitagawa) dan para rekan sejawatnya membaca sumpahnya Hipocrates,

1,5 tahun kemudian. Makoto mendatangi seorang pasien yang bernama Adachi. Makoto menanyakan keadaannya dan memeriksanya.

     Di sebuah ruang otopsi, Profesor Mitsuzaki memimpin otopsi. “Pukul 9:30 kita mulai otopsi,” Semua orang yang ada di sana menunduk untuk berdoa.

   Seorang pria berusia 45 tahun, tinggi 168, berat badan 64 kg. Panjang rambutnya 10 cm, beberapa diantaranya sudah memutih, diameter pupil matanya 0,5 cm, sekitar lubang hidungnya normal.

Teru Kashiyama memotretnya sembari Profesor Mitsuzaki berucap dan mengecek kondisi tubuh mayat.

Suara analisis Profesor Mitsuzaki juga direkam.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

     Makoto mendatangi dr. Hideo Kajiwara, ia melaporkan keadaan Adachi-san yang mulai membaik dan secepatnya bisa pulang. dr. Hideo Kajiwara senang mendengarnya, selama Adachi-san di rumah sakit, Adachi-san tidak bisa minum, ini adalah pengobatan terakhirnya. Hideo Kajiwara meminta laporan pelatihannya Makoto Tsugano. Makoto undur diri sebentar, dia akan segera memberikan laporannya pada dr. Hideo Kajiwara.

Hideo Kajiwara kembali pada kesibukannya tadi.

  Profesor Mitsuzaki memotong saluran penafasan si mayat, ada yang aneh di sana. Profesor Mitsuzaki menyendokkan cairan yang ada di sana, ia meminta Teru Kashiyama membawa cairan tersebut ke Laboratorium.

     Detektif Kazuya Kotegawa menanyakan apa itu tadi ke Profesor Mitsuzaki. Profesor Mitsuzaki berkata tidak tahu. Kemudian Profesor Mitsuzaki membuka kepala si mayat.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

      Profesor Mitsuzaki sedang makan, Detektif Kazuya Kotegawa menanyakan hasil otopsi. Profesor Mitsuzaki akan memberikan laporan lengkapnya nanti jika sudah selesai. Sosuke Okamura mual melihat irisan daging di sumpit Profesor Mitsuzaki. Profesor Mitsuzaki sedang makan daging olahan, tidak bisakah kau membedakan daging yang dimasak dengan potongan tubuh mayat ?.

   Detektif Kazuya Kotegawa sedang terburu-buru, ia ingin tahu apa ada di organ pernafasan si mayat tadi. Profesor Mitsuzaki bilang itu adalah serbuk sari, ia tidak yakin detailnya yang terjadi pada mayat tapi itu semacam senyawa dalam bunga.

“Serbuk sari di saluran pernafasannya ?”

“Biasanya, jika terjadi sesuatu di saluran pernafasan. Kita mencoba meludahkannya, itu adalah sistem pertahanan tubuh. Selnya disebut ciliated ephitelial akan tetap berada di sini” Profesor Mitsuzaki menunjuk bagian yang dimaksud. “Itu artinya dia meninggal karena pernafasannya terganggu oleh serbuk sari”

    Detektif Kazuya Takegawa mengerti, dia memerintahkan Sosuke Okamura membuat laporan berdasarkan penjelasan Profesor Mitsuzaki. Detektif Kotegawa berterima kasih pada Profesor Mitsuzaki, ia hendak menjelaskan investigasi. Tetapi Profesor Mitsuzaki menolak, ia tidak tertarik pada investigasi kepolisian.

Profesor Mitsuzaki selesai makan dan beranjak dari duduknya menuju ke sisi lain ruangan.

     Detektif Kotegawa meminta Profesor Mitsuzaki mempersiapkan sertifikat otopsinya. Profesor Mitsuzaki juga meminta tolong pada Detektif Kotegawa untuk memberitahukan informasi jika menemukan mayat yang berada di dalam yuridiksinya Detektif Kotegawa, tidak perduli apapun penyebab kematian mayat-mayat tersebut.

   Detektif Kotegawa tidak mengerti kenapa Profesor Mitsuzaki meminta hal semacam itu, untuk apa tujuannya ?. Profesor Mitsuzaki melakukannya untuk mengumpulkan data.

     Hari ini Tuan Adachi-san keluar dari rumah sakit, Makoto, beberapa suster, dr. Kajiwara dan dr. Tsukuba melepaskan kepergiannya. Makoto memperbolehkan Tuan Adachi minum sepuasnya. dr. Kajiwara dan dr. Tsukuba mengingatkan jangan minum terlalu banyak demi keluarganya Tuan Adachi.

Tsukuba bertanya pada Makoto, apakah kau tertarik bekerja di kelas Kedokteran Forensik ?. Makoto menoleh, maksud anda kelas Kedokteran Forensik di Universitas Urawa ?. dr. Tsukuba membenarkannya. Tetapi Makoto berencana menjadi dokter Kedokteran Internal di rumah sakit ini setelah pelatihan.

Tsukuba juga tahu itu, dia bertanya tadi bukannya menyuruh Makoto Tsugano untuk menjadi dokter foreksik, dr. Tsukuba pun dengan senang hati menerima Makoto Tsugano menjadi dokter Kedokteran Internal RS ini. Pelatihannya Makoto sebentar lagi akan selesai, tapi nantinya Makoto Tsugano tidak akan memiliki waktu untuk mempelajari hal lain jika sudah tergabung di Bagian Kedokteran Internal. dr. Tsukuba pikir ini adalah waktu yang tepat bagi Makoto untuk belajar lebih banyak lagi, di sana nanti akan ada Profesor Mitsuzaki, dia adalah temanku. Aku telah memintanya menjagamu dengan baik.

   Makoto menuju ke Forensik Urawa, Makoto Tsugano berhenti sejenak memandangi bangunan tersebut. Lalu ia mengikuti tanda panah menuju tempat masuknya.

   Makoto sampai di ruangan kerja Profesor Mitsuzaki dan dokter Kashiyama. Makoto masuk dan memperkenalkan diri serta maksud tujuannya kemari, tetapi baik Profesor Mitsuzaki maupun dokter Kashiyama tidak ada yang tahu akan kedatangan anggota baru.

   Makoto menjelaskan dirinya akan belajar ilmu kedokteran forensik di sini sementara waktu.

“Kenapa setelah kematian harus segera dilakukan otopsi ?, jika kau sekarang ingin mempelajari ilmu kedokteran forensik sementara waktu, tidakkah kau sudah mempersiapkan diri ?” tanya Profesor Mitsuzaki tiba-tiba, Makoto tidak segera menjawab. Profesor Mitsuzaki menyuruh dokter Kashiyama menjelaskan,

“Suhu tubuh berkurang satu derajat tiap 1 jam sampai 10 jam setelah kematian, setelah itu suhu berkurang 0,5 derajat perjamnya. Titik kematian dan hypostasis menjadi menguat dalam 12 jam setelah kematian. Setelah 24 jam, gagal meregresi,  Kornea serta tubuh mayat mengering.”

Makoto meminta maaf karena tidak mengetahui apapun tentang itu. Dokter Kashiyama bertanya pada Profesor Mitsuzaki kenapa kita tidak menerima Makoto Tsugano menjadi staf sementara saja ?. Profesor Mitsuzaki tidak berurusan dengan manusia yang hidup.

Profesor Mitsuzaki beranjak dari duduknya dan menuju keluar, ia menanggapi. Karena manusia yang hidup menunjukkan kebohongan. Jangan lupa bawa file tes obat.

     Makoto mengiyakannya. Makoto hendak bertanya pada dokter Kashiyama. Dokter Kashiyama menyuruh Makoto jangan terlalu khawatir, aku asistennya Profesor Mitsuzaki, Kashiyama. Tunggu sebentar kami akan segera kembali.

“Mohon bimbingannya !” Seru Makoto setelah kedua orang tadi pergi.

     Makoto membalik salah satu lembar. Ia terkejut melihat foto bagian organ dalam mayat yang tersusun rapi memenuhi lembaran. Makoto menutupnya kembali, ia tertarik pada ruangan otopsi. Makoto masuk ke dalam ruangan tersebut.

     Hati-hati Makoto melangkahkan kakinya. Suara tetesan air dari keran, susunan toples berisi organ dalam, Makoto mengamati ruangan tersebut. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara telfon. Makoto mengangkat telfon tersebut. Terdengar suara seorang anak kecil meminta tubuh seseorang diotopsi.

  Makoto terkejut mendengar permintaan tersebut.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

     Makoto Tsugano pergi menemui gadis yang menelfonnya. Makoto bertanya pada receptionist di mana gadis yang bernama Shinoda Nagisa. Tiba-tiba terdengar suara Shinoda Nagisa mengajak Makoto mengikutinya, Makoto berlari mendekati Nagisa. Makoto bertanya di mana ayah dan ibunya Nagisa. Nagisa bilang orang tuanya sedang bertemu polisi.

“Ayahmu menabrak pengendara sepeda kan ?. dan wanita pengendaranya meninggal kan ?”

“Itu bukan salahnya ayah !” Nagisa tidak terima ayahnya dituduh menabrak. Nagisa ingin dilakukan otopsi untuk tahu kebenarannya.

   Seorang polisi wanita dan Detektif Kazuya Kotegawa mendekati Nagisa dan Makoto. Detektif Kotegawa heran rupanya Nagisa benar-benar menelfon dokter untuk otopsi. Si polisi wanita mengajak Nagisa menemui ibunya. Nagisa membungkuk dalam-dalam memohon bantuannya dokter. Lalu pergi dengan polisi wanita.

    Detektif Kotegawa dan Makoto menatap kepergian Nagisa. Detektif Kotegawa menyebut “Anak-anak jaman sekarang memang luar biasa, dia menemukanmu di web dengan kata kunci Saitama dan Otopsi”

“Kau detektif ?, bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi ?”

     Detektif Kotegawa menjelaskan. Sekitar pukul 9 kemarin ayahnya Nagisa mengendarai mobil untuk berangkat bekerja, bukannya dilakukan otopsi tapi ayah wanita yang meninggal menyimpulkan putrinya meninggal karena ditabrak ayah Nagisa.

Flash back..

“Kau menyetir dengan kencang kan ?” tuduh petugas yang duduk di sebelah ayah Nagisa.

“Aku berhenti sebelum menabrak sepedanya !”

Detektif Kotegawa pikir jika wanita itu memang tertabrak mobil, apa mungkin percobaan bunuh diri ?. Tuan Shinoda juga berpikir demikian, iya iya !, mungkin begitu !.

Flash back end..

    Petugas yang menangani kasus tersebut mendekat, “Siapa dia ?” tanyanya ke detektif Kotegawa ketika melihat Makoto Tsugano. Kotegawa menjelaskan kalau Makoto adalah dokter dari Urawa. Petugas tersebut heran, tapi dia tidak meminta otopsi.

 Makoto meminta penjelasan akuratnya.

 Petugas tersebut duduk dan mencontohkannya dengan kotak tisu, mobilnya dari utara, lalu sepedanya tertabrak dari arah sebaliknya. Jika pengencara mobil mengemudi pelan harusnya bisa menghindar.

   Petugas tersebut kesal melihat Kotegawa membaca dokumennya tanpa izin. Dia merebutnya kembali. Intinya Petugas tersebut berpikir ini adalah kecelakaan lalu lintas biasa, tidak perlu melibatkan Detektif kelas atas dan tidak perlu dilakukan otopsi.

   Detektif Kotegawa mengobrol dengan Makoto, jadi.. dokter Makoto Tsugano dipindahkan ke Kedokteran Forensik Urawa ya ? . Makoto menjelaskan dia tidak dipindahkan, ia hanya sedang melakukan pelatihan, ia adalah dokter Kedokteran Internal.

       Detektif Kotegawa tidak perduli soal itu, ia meminta Makoto untuk menyampaikan pesan ke Profesor Mitsuzaki kalau   dirinya akan menemui Prof. Mitsuzaki nanti. Makoto terkejut ternyata Detektif Kotegawa mengenal Profesor Mitsuzaki. Detektif Kotegawa mengenalnya karena profesor Mitsuzaki sering diminta melakukan otopsi.

 Makoto dan Kotegawa melihat Nagisa dan ibunya keluar dari kantor polisi. Makoto bertanya, apa yang akan didakwakan pada ayah Nagisa jika memang terbukti kecelakaan mobil. Detektif Kotegawa menjelaskan, ayahnya Nagisa akan dituduh atas kelalaian dalam berkendara sampai menyebabkan kematian dan cedera. Setidaknya akan dihukum penjara 7 tahun lamanya atau membayar denda 1 juta yen. Jika dia dituntut ganti rugi… akan lebih kejam

     Korban bernama Kurita Masumi, usia 26 tahun. Saat kejadian Kurita Masumi sedang menuju ke super market. Makoto heran, bukankah Detektif Kotegawa tidak sedang dalam investigasi resmi, apa boleh mengcopy dokumen korban tanpa izin ?. dokter Kashiyama mengatakan kalau Detektif Kotegawa sering melakukan ini untuk menanyakan pendapat Profesor Mitsuzaki.

    Profesor ingin melihat sertifikat kematian dan laporan otopsi. Detektif Kotegawa telah mengcopy nya juga tanpa meminta izin, ia menyerahkannya ke Profesor Mitsuzaki.

   Detektif Kotegawa menjelaskan kalau Kurita Masumi darahnya pernah keracunan dan dirawat selama beberapa waktu di musim semi lalu. Setelah keluar dari rumah sakit Kurita Matsumi mempersiapkan pernikahannya.

      Makoto menyimpulkan, kalau memang begitu berarti tidak mungkin Kurita Matsumi bunuh diri. Harusnya ini adalah masa-masa paling bahagianya, keluar dari rumah sakit dan mempersiapkan pernikahannya.

    Menikah disama artikan dengan masa-masa paling bahagianya, menurut Profesor Mitsuzaki tidakkah kesimpulan Makoto Tsugano tadi berat sebelah untuk sebuah kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan ?.

“Pembunuhan ?” kata Makoto tidak percaya.

“Segala kemungkinan mungkin terjadi, seseorang mungkin memberinya obat tidur dan dia tertabrak dalam keadaan linglung.” Jelas Detektif Kotegawa.

“Itu tidak mungkin..” Makoto tetap tidak percaya.

“Tidak ada bukti sepedanya menghindari mobil, jika mobilnya datang ke arahmu kau akan mencoba mengerem dan berbelok menghindari mobil bukan ?. Malahan, sepedanya langsung tertabrak mobil” Kotegawa menunjukkan dokumen investigasi copy-annya.

Ada banyak kemungkinan, jadi Detektif Kotegawa ingin membuat kasus ini menjadi jelas. Mantan pacarnya, tunangannya, hubungan tunangannya dengan seorang wanita lain, ada banyak orang yang harus kita investigasi.

    Profesor Mitsuzaki melihat ada banyak perbedaan dari Sertifikat Kematian dan laporan otopsi. Bawakan tubuhnya kemari. Detektif Kotegawa mengiyakan permintaan Profesor Mitsuzaki.

    Makoto terkejut, tapi polisi sudah menyimpulkan kalau kasus ini adalah kecelakaan. Profesor Mitsuzaki menyuruh Detektif Kotegawa meminta izin ke keluarga yang ditinggalkan untuk otopsi jika secara yudisial otopsi tidak mungkin dilakukan. Detektif Kotegawa menyanggupinya.

Makoto mendekati Profesor yang sudah berpindah duduk di kursi kerjanya. Makoto mempertanyakan keputusan Profesor Mitsuzaki. Profesor tanya, apa aku berbuat salah ?

  Makoto pikir Profesor Mitsuzaki tidak seharusnya melakukan hal seperti ini. Orang tua almarhum Kurita Matsumi baru saja kehilangan putri mereka dan Profesor malah meminta izin melakukan otopsi. Mereka pasti tidak akan setuju dengan otopsi.

“Jika kau berpendapat seperti itu, silahkan tinggalkan tempat ini sekarang. Kedokteran forensik mencari kebenaran bukan untuk polisi maupun keluarga yang kehilangan anggota keluarga mereka”

“Lantas, demi apa ?”

“Ini demi hak masyarakat dan kesejahteraan. Jika seseorang meninggal kita akan memeriksanya dengan strategi terbaik, sehingga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Ilmu Kedokteran Forensik adalah Ilmu Kedokteran Sosial, terlalu berempati adalah kelemahan ego-mu”

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

     Makoto mengecek keadaan temannya. Yuko. Makoto menanyakan apakah Yuko masih batuk kering. Yuko bilang dia sudah tidak apa-apa, cuman.. saat tidur dia kadang batuk. Makoto menyayangkan kenapa Yuko sering menyembunyikan sakitnya. Makoto mengecek Yuko dengan stetoskopnya.

Yuko percaya pada RS nya Makoto. Yuko tiba-tiba batuk, ia mengambil tisu dan menutupi mulutnya. Makoto mengusap-usap punggung Yuko, ia mengerti pasti tenggorokan Yuko sakit sekali, bersabarlah.

    Ibunya Yuko datang, ia menyuruh anaknya cepat sembuh dan segera menemukan suami masa depannya. Aku ingin menikmati waktuku juga.

Yuko malu mendengar candaan ibunya tersebut.

    Ibunya Yuko terlihat sedih sekali. Makoto bertanya apakah Yuko bermasalah atau kecape’an berolah raga ?. Ibu Yuko bilang anaknya sudah lama tidak keluar, ia juga mendesah akankah Yuko diobati dengan cara yang sama lagi ?. Namun ia segera menambahkan “Aku bukannya meragukan rumah sakitmu Makoto-chan.”

  Ibunya Yuko juga rajin memberikan Yuko obat dari dokter. Makoto merasa sama sedihnya, bakteri pnemunia memang agak sulit mengobatinya, dari hari ke hari keadaan Yuko semakin memburuk, namun Makoto percaya pengobatannya akan efektif. Makoto juga telah membaca literatur luar negeri, mari kita sembuhkan penyakitnya.

   “Benar, aku tidak boleh berkecil hati.” Kata Ibu mencoba kuat.

     Makoto memandangi tulisan Sumpahnya Hipocrates. Tak lama kemudian Profesor Tsukuba mendatanginya, Profesor Tsukuba tahu kalau Makoto sedang ada masalah pasti pergi kemari.

“Alasan kenapa aku memilih rumah sakit ini sebagai tempat pelatihanku adalah ini” Makoto mendongak memandang tulisan sumpahnya Hipocrates. Profesor Tsukuba ikut mendongak.

“Rumah sakit ini satu-satunya yang membacakan Sumpah Hipocrates pada hari pertama”

“Aku mengerti,”

“Bisakah aku kembali ke Kedokteran Internal ?”

Profesor Tsukuba terkejut, Profesor Mitsuzaki adalah dokter yang hebat. Makoto mengaku ingin menjadi dokter yang menyembuhkan orang, apa Profesor Tsukuba ingat Kashiwagi Yuko ?, dia adalah temannya Makoto dan Makoto ingin sekali menyembuhkan Kashiwagi Yuko. Bagi Makoto, meskipun di Kedokteran Forensik bisa mengetahui penyebab kematian seseorang, itu tidak menjadi penting toh jika tetap meninggal.

    Profesor Tsukuba bertanya pada Makoto, apakah Hipocrates mendiskriminasi antara yang hidup dan yang mati ?. Makoto tertegun sesaat, Profesor Tsukuba menunjuk sumpah Hipocrates dan membacanya, Hipocrates tidak membeda-bedakan pasiennya entah baik atau buruk wataknya, pria maupun wanita.              

     Profesor Tsukuba berkata, pasien yang hidup dan mati adalah pasien bukan ?. Jika Makoto ingin menyembuhkan temannya, serahkan saja itu pada Profesor Tsukuba , jadi Makoto teruslah belajar untuk memperluas pandangannya sebagai dokter. Dan Kedokteran forensik niscaya bisa membantu pasien.

   Makoto tersenyum mendengar nasehat Profesor Tsukuba . Lalu keduanya memandangi ikrarnya Hipocrates lagi.

     Detektif Kotegawa menemui atasannya, ia ingin meminta persetujuan otopsi. Kepalanya tersebut bersikeras kalau itu hanyalah kecelakaan lalu lintas pada umumnya. Detektif Kotegawa menyayangkan sikap Kepalanya tersebut yang terlalu menganggap remeh kasusnya, kenapa Kepolisian Prefectur Saitama memandang rendah kriminal. Kepalanya marah, apa Kotegawa sedang mengajarinya ?.

   Kotegawa memohon disetujui otopsi, sebentar lagi tubuh mayat tersebut akan dikremasi. Kepalanya tetap tidak mau, apa Kotegawa itu seorang dokter ?, kenapa tidak keluar saja dari kepolisian dan menjadi dokter ?. Kepala pergi diikuti beberapa bawahannya, ia melewati tempat duduk Sosuke Okamura, “Okamura, awasi dia !” katanya sambil menunjuk Kotegawa.

     Makoto datang ke tempat tersebut. Kotegawa mengajaknya ke sebuah ruangan yang penuh dengan orang-orang yang sedang merokok, Kotegawa pun juga merokok. Makoto terlihat tidak nyaman duduk diantara para perokok “Karbon monoksida dari rokok menyatu dalam hemoglobin dan mengikis tenagamu. Yang berarti nikotin mengecilkan pembuluh darah kapiler dan meningkatkan tekanan darah.”

     Detektif Kotegawa tidak perduli, dia terus menyesap rokoknya. Makoto penasaran kenapa Detektif Kotegawa sangat ingin melakukan otopsi, Makoto bisa mengerti Profesor Mitsuzaki sangat menginginkannya karena beliau adalah dokter, sedangkan Kazuya Kotegawa adalah seorang detektif.

“Bisa kau perkirakan berapa banyak tubuh yang meninggal setiap tahunnya ?, “

“Apa ?” Makoto tidak mengerti apa maksud pertanyaan tersebut,

“Tahun 2015 sekitar 166.000 tubuh, dan 11% darinya dilakukan otopsi.”

“Hanya 11% ?. Bagaimana bisa seperti itu ?”

Kotegawa menjawab, karena kepolisian tidak memiliki cukup dana. Biaya operasionalnya terbatas. 8 dari 9 mayat kemungkinan dikremasi tanpa dilakukan otopsi jelas penyebab kematiannya.

“8 dari 9 ?” Makoto terkejut,

“Jadi kota ini adalah surganya kriminal,” Kotegawa hendak pergi ke kepolisian Prefectur Saitama. Makoto izin ikut pergi bersama Kotegawa.

     Nyonya Shinoda mendatangi tempat keluarga Kurita Masumi, ia membungkuk dalam-dalam memohon agar keluarga memberikan izin dilakukan otopsi.

Ibu Kurita Masumi di dapur sedang terisak, Ayah Kurita Masumi tidak habis pikir bagaimana bisa Nyonya Shinoda meminta dilakukan otopsi. Ayah pikir putrinya sudah cukup menderita, jika dilakukan otopsi putrinya pasti akan semakin menderita.