Sinopsis Hippocratic Oath Episode 3 Part 2

     Akan tetapi Makoto ingin bertemu dengan ibunya Yuko, dia tidak ingin menggunakan formulir surat perintah. Prof Tsukuba meminta Makoto menyerahkan permasalahan ini padanya saja, ia mengerti persaannya Makoto. Makoto berterimakasih kemudian pamit pergi.

Dokter Hideo cemas bagaimana ini? Pihak Prof Mitsuzaki menggunakan surat perintah pengadilan. Prof Tsukuba tidak menginginkan Prof Mitsuzaki melakukan otopsi. Dokter Hideo tidak masalah jika memang penyebab kematian adalah Pneumonia, akan tetapi penyebab kematiannya adalah ITU… bagaimana?

Prof Tsukuba marah besar, apa benar Yuko Kashiwagi tidak demam sebelumnya?. Dokter Hideo diam saja. Prof Tsukuba makin murka, kenapa dr Hideo tidak menuliskannya di rekam medisnya?.

“Maaf”

“Aku menyuruhmu melaporkan semuanya padaku. Ini semua terjadi karena kau melakukan tugasmu dengan tidak becus.” Bentak Prof Tsukuba.

“Aku minta maaf,”

     Kotegawa dan Okamura meminta izin ke Kepala untuk mengajukan formulir surat perintah. Kepala tidak bisa menyetujuinya hanya dengan foto-foto sisa obat Yuko Kashiwagi. Kotegawa menjelaskan kalau Sumire Kashiwagi pernah melakukan tindakan serupa sebelumnya. Akan tetapi Kepala tetap tidak bisa menyetujui Kotegawa karena buktinya terlalu lemah, dan jika di otopsi tidak ditemukan apa-apa maka pihak kepolisian lah yang akan dipersalahkan.

Kepala pergi. Kotegawa mengerti, dia kemudian menyindir Kepalanya dengan mengatakan pihak medis dicurigai sebagai penyebab kematiannya korban, akan tetapi Kepala dari kepolisian terlalu pengecut dan tidak mengizinkan pengajuan surat perintah.

“Hei! Kau mengejekku?!” Kepala emosi, dia hendak menyerang Kotegawa. Okamura sebisa mungkin menahan Kepala.

“Kau mau mengabaikan insiden pembunuhan?” tantang Kotegawa.

    Makoto memperhatikan kontak personnya Prof Tsukuba. Lalu beralih ke Kashiwagi Sumire, Makoto menelfonnya. Langsung tersambung ke kotak suara, Makoto tidak meninggalkan pesan.

Ragu-ragu Makoto menekan bel rumah keluarga Kashiwagi. Tetangganya mengatakan Kashiwagi Sumire baru saja pergi ke kuil. Kuil? Makoto heran bukannya pemakamannya minggu ini?. Tetangga tersebut mengatakan kalau pemakamannya dilakukan sekarang karena ada beberapa hal yang mengganggunya maka pemakaman dilakukan hari ini.

    Saat itu sedang rapat. Orang-orang mengeluhkan kenapa Kotegawa tidak mengatur ponselnya dalam mode diam. Sekarang Kotegawa menerima panggilan tanpa memperdulikan cerca’an para rekannya. Dokter Kashiyama menelfon memberitahukan pemakaman akan diselenggarakan pukul 11:00.

Kotegawa mengecek jam tangannya, sekarang kisaran jam 10:12. Dokter Kashiyama meminta Kotegawa segera mendapatkan surat perintahnya. Kotegawa langsung bertindak dan berbicara dengan Kepalanya.

     Sebentar lagi jasad Yuko akan diproses. Makoto mendatangi Sumire dan Sumire berterimakasih makoto datang, ia juga meminta maaf tidak bisa menghubungi makoto karena ini tiba-tiba. Makoto meminta waktu sebentar untuk berbicara tapi Sumire bilang nanti saja karena ada yang harus dilakukan.

Dokter Kashiyama hendak menyusul ke kuil, Prof Mitsuzaki mengerti dan akan mempersiapkan otopsinya. Dokter Kashiyama yakin Sumire Kashiwagi bergegas mengadakan pemakaman pasti waspada setelah diminta melakukan otopsi.

“Atau seseorang bilang padanya soal surat perintah…” kata Prof Mitsuzaki.

Layar kemudian berganti ke wajahnya Prof Tsukuba. Di kepolisian, Kotegawa memburu Kepalanya segera membuatkan surat perintah.

“Kapten, kita tidak harus pergi sekarang!”

“Aku tahu.” dia tinggal menstampelnya. Kotegawa langsung pergi segera setelah dokumen tersebut dicap.

    Makoto hati-hati berbicara. Sudah beberapa hari berlalu semenjak kematian Yuko, ada kemungkinan penyebab lain kematiannya. Sumire terus mengelak tidak punya waktu, sebentar lagi upacara dimulai. Makoto bertanya kenapa sisa obatnya masih banyak, apa Ibu mengurangi dosisnya?.

“Sudah cukup!” bentak Sumire. Kenapa Makoto butuh mengotopsinya sekarang?. Makoto dianggap mengganggu upacara. Sumire meminta maaf pada semua pelayat atas ketidaknyamanannya. Makoto adalah teman putrinya dan sekarang ini Makoto agak terguncang jiwanya karena kepergian Yuko.

Makoto mencoba membujuk sekali lagi, tapi dia diusir. Akhirnya Makoto meninggalkan kuil.

     Jam makan siang dan loketnya ditutup. Kotegawa tidak peduli, dia menggeser papan tanda tutupnya. Sedang terburu-buru meminta dokumennya disahkan. Para pengantri yang sejak tadi menunggu pun geram karena sedang  buru-buru juga, Okamura menahan mereka dan mengatakan mereka adalah polisi. Para pengantri kesal polisi memotong antrean.

     Makoto dan dokter Kashiyama menunggu surat perintah datang di luar kuil. Makoto benar-benar tak habis pikir kenapa tidak menyadari sesuatu padahal dia sering di rumah keluarga Kashiwagi. Prof Mitsuzaki sudah bersiap di ruangan otopsinya, ia membersihkan semua peralatan bedahnya. Kotegawa masih menunggu petugas mengesahkan dokumennya.

     Sumire Kashiwagi memberikan sambutannya. Seorang ibu dan putrinya telah berjuang melawan penyakit, Sumire sudah merawat Yuko selama ini dan akhirnya Yuko sudah sampai batasnya. Yuko adalah gadis yang ceria. Makoto dan dokter Kashiyama was-was karena waktunya sebentar lagi habis.

      Sumire keluar dari kuil. Makoto membujuknya “Nyonya, Yuko bilang padaku ingin tahu kebenarannya!”

Akan tetapi Sumire terus berjalan menuju ke mobil. “Aku tidak bisa merelakan kepergiannya tanpa tahu kebenarannya.  Nyonya, juga sama, kan?. Jika memang ini benar, anda tidak akan bisa bahagia. Kumohon izinkan aku mendengar suaranya Yuko!”

Peti mati sudah dimasukkan ke mobil.

“Terimakasih banyak sudah menjadi temannya Yuko” kata Sumire ke Makoto.

     Mobil pergi tanpa menghiraukan Makoto. Akan tetapi mobil berhenti berjalan karena dihadang oleh Kotegawa dan Okamura. Mereka memperkenalkan diri sebagai polisi Prefektur Saitama, Okamura menunjukkan identitasnya dan Kotegawa menunjukkan surat perintah otopsi.

      Yuko dibawa ke ruang otopsi. Makoto membuka kantung jenasah dengan sedih. Di rumah sakit, Prof Tsukuba diberitahu kalau otopsi dilakukan, apa yang harus pihak Prof Tsukuba lakukan?. Prof Tsukuba melepaskan kacamatanya, dia sepertinya tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

13:15 otopsi dimulai. Semua orang di ruangan berdo’a sebelum otopsi dimulai. Wanita, 27 tahun. Tinggi badan 164 cm, berat badan 43 kg. Telinga dan kepalanya dari luar terlihat baik-baik saja. Wajahnya baik-baik saja tidak bengkak. Semuanya yang tampak luar baik-baik saja.

      Makoto teringat kenangannya bersama Yuko. Pengecekan luar telah selesai dan Prof Mitsuzaki hendak memotongnya untuk mengecek tubuh bagian dalam. Makoto terenyuh melihat satu lintang sayatan di tubuh Yuko.

Paru-paru Yuko dipotong, Makoto terkejut dan Kotegawa tanya ada yang salah?. Makoto bilang paru-paru Yuko tidak mengalami peradangan. Prof Mitsuzaki melihat ada bekas kecil yang menunjukkan peradangan yang tak kasat mata/langsung. Dengan kata lain, bukti perawatan dari penyakit pneumonianya.

Semuanya terkejut dengan pernyataan tersebut. Okamura menebak, jadi bukan meninggal karena pneumonia?.

          Kemudian otak dikeluarkan untuk dicek. Prof Mitsuzaki memotong sesuatu dan menyuruh Makoto mengeceknya. Thrombus. Kotegawa menanyakan apa artinya. Makoro mengatakan Yuko bukan meninggal karena Pneumonia, sebab meninggalnya Yuko berasal dari pulmonary embolism?. Makoto terkejut dengan pemikirannya itu.

    Kotegawa bingung apa maksud istilah kedokteran tersebut. Dokter Kashiyama menjelaskan secara mudah, thrombusnya tersumbat di dalam pulmonary artery, dan menyebabkan kegagalan kinerja jantung.

“Pulmonary embolism sangat sulit didiagnosa. Hampir mustahil untuk menentukan pulmonary embolism dari pneumonia. Akan tetapi mereka harusnya mempertimbangkan pulmonary embolism sebagai opsi lain karena dia tidak terkena demam”

“Diagnisa yang salah?” kata Kotegawa.

“Lantas, apa yang terjadi pada ibunya?” tanya Makoto.

Sumire mengurangi dosisnya karena dia pikir kalau putrinya mengidap pneumonia… karena Yuko diketahui meninggal bukan akibat pneumonia, jadi ini bukan kesalahan ibunya, kan?.

“Kau bisa bilang begitu. Jangan lupakan kalau pulmonary embolism memburuk sebab tidak adanya olah gerak tubuh ” kata Prof Mitsuzaki. Jika ibunya tidak mendorongnya untuk olah gerak tubuh dengan tujuan tertentu, itu salah satu penyebab kematiannya. Dan bila Sumire membantahnya akan sulit membuktikannya.

Prof Mitsuzaki lalu melanjutkke livernya. Okamura dan Kotegawa pergi meninggalkan ruangan.

     Prof Mitsuzaki dan dokter Kashiyama menyerahkan akhiran ke Makoto. Makoto meminta maaf ke Yuko, ia merasa tidak berperasaan karena melakukan otopsi pada Yuko. Hati-hati Makoto menempelkan plester ke luka sayatan bekas otopsi.

     Makoto datang ke Kepolisian Prefektur Saitama. Kotegawa mengatakan Sumire Kashiwagi telah mengakui perbuatannya yang mengurangi dosis obat dan tidak bermaksud membunuhnya, ia bilang hanya ingin menjaga anaknya yang sakit lebih lama.

Okamura datang membawakan minuman ke Makoto. Kotegawa tanya apa Makoto masih ada yang ingin ditanyakan?. Makoto tahu Kotegawa mengawasi Prof Mitsuzaki selama ini, Makoto minta izin ikut membantu detektif Kotegawa. Dari yang Kotegawa katakana tempo waktu lalu, kebenaran yang tersembunyi dari jasad yang Prof Mitsuzaki otopsi. Makoto ingin tahu apa maksud tujuan Prof Mitsuzaki melakukan otopsi, apakah benar untuk mengumpulkan data?.

    Dokter Hideo banyak melamun saat membuat laporannya. Kotegawa menunjukkan hasil pengamatannya selama ini. Sejauh ini ada 3 pasien yang Prof Mitsuzaki otopsi, ketiganya memiliki kemiripan dalam hal sama-sama memiliki penyakit akan tetapi penyebab kematiannya lain.

“Tapi banyak orang sakit setiap harinya, bukan?” kata Okamura.

“Benar, tapi mereka semua pergi ke rumah sakitmu untuk menerima pengobatan.”

“Rumah sakitku?” Makoto heran. Ia kemudian mengecek data-datanya Kotegawa, semua dokter yang menanganinya adalah dokter Kajiwara Hideo. Prof Mitsuzaki sengaja memilih pasiennya dr Hideo untuk ditopsi. Tapi kenapa?, Makoto tidak menemukan apa korelasinya.

“Kau tahu kenapa Kashiwagi Sumire memajukan tanggal pemakamannya?” tanya Kotegawa

“Kenapa? Karena… aku memintanya melakukan otopsi.”

Karena Makoto tidak memberitahu surat perintah otopsi, kemungkinan dr Hideo yang memberitahukannya ke Sumire. Akan tetapi kenapa dr Hideo tidak ingin pasiennya diotopsi?. Kotegawa berpikir sederhana saja, jika dokter tidak ingin rahasianya terbongkar… itu artinya dia melakukan malpraktek. Kotegawa berpendapat mungkin dr Hideo sejak awal tahu, dan dari pandangan Kotegawa ia rasa Prof Mitsuzaki ingin membuktikan malprakteknya dr Hideo dengan otopsinya.

       Dokter Hideo bertanya kenapa Prof Mitsuzaki ingin bertemu?. Prof Mitsuzaki meminta daftar pasiennya dr Hideo, jika menanganinya dengan baik sejak awal pasti kemungkinan yang terselamatkan ada banyak. Prof Mitsuzaki mengerti jika dr Hideo ingin meminimalisir korban.

   Prof Tsukuba bertemu dengan Dekan. Mereka dapat masalah. “Kita perlu bergerak cepat demi kelangsungan RS ini.” Kata Prof Tsukuba penuh amarah.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

Komentar:hippocratic-oath

     Terkadang kita banyak menemui orang semacam Sumire Kashiwagi, meski bukan dalam bentuk penyakit mental. Pengen dikasihani dan diempati ni orang-orang, dengan menyakiti diri sendiri bahkan anak. Fuuuh…. Kurasa sebagai manusia, hal yang paling dibenci di dunia ini adalah dikasihani. Sayangnya terkadang kasihan dan kasih sayang terkadang tidak tampak jelas dimana batasannya/garisnya. Being human isn’t easy, in front of you they told you are kind and etc, but… behind you they murmured you’re the bad person in the world.

So, take it simply way, you have your own life and they have theirs too. Meets and connected, respect each other as human, humanity… when religion doesn’t work anymore.

Prof Mitsuzaki benar, orang yang hidup itu bisa berbohong akan tetapi mayat tidak.

#whatAreYouTalkingAbout? Hahahaha…

Dari dugaannya detektif Kotegawa sepertinya Prof Mitsuzaki ingin membuat mayat bicara kebenaran yang terjadi sebagai saksi untuk pembuktian malpraktek dan tindak tanduk mencurigakan dari RS Urawa.

Jangan lupa like FP blog ini untuk tahu update-an terbarunya!>>>>>FANPAGE

 

Sinopsis Hippocratic Oath Episode 3 Part 1

     Makoto terus berusaha, dokter Hideo hanya memandangi Makoto yang terlihat frustasi, Yuko sudah tidak tertolong lagi, mereka telah berusaha semaksimal mungkin. Dokter Hideo menyuruh Makoto berhenti, Makoto masih bersikeras Yuko belum meninggal.

Makoto baru berhenti setelah dokter Hideo menghentikan. Yuko meninggal pukul 16:45. Makoto menatap nanar sahabatnya yang telah pergi untuk selamanya. Masih tidak percaya.

Dokter Hideo Kajiwara menginformasikan bahwa Kashiwagi Yuko telah meninggal ke Profesor Tsukuba. Profesor Tsukuba terkejut mengetahuinya. Penyebab kematian adalah kegagalan sistem pernafasannya, dipercepat oleh pneomunonia yang sudah parah.

Dokter Hideo menyayangkan jika saja Kashiwagi Yuko datang ke rumah sakit untuk pengecekan kondisinya lebih awal. Profesor Tsukuba mengerti, dia akan menjelaskan penyebab kematian ke keluarga yang ditinggalkan. Makoto beranjak dari tempatnya duduk hendak mendampingi Profesor Tsukuba, namun beliau menolaknya. Menyuruh Makoto istirahat saja.

     Dokter Kashiyama ditelfon seseorang, ia menerima kabar kematian temannya Makoto Tsugano. Dokter Kashiyama menjelaskan kondisi temannya Makoto ke Prof Mitsuzaki dan Detektif Kotegawa. Sampai siang ini kondisi Yuko baik-baik saja tapi tiba-tiba dada Yuko sakit pingsan dan tidak demam.

Prof Mitsuzaki menduga tapi Yuko tidak dirawat di rumah sakit kita ‘kan?. Dokter Kashiyama membenarkan, namun Yuko tetap menjalani pengobatan dan dirawat di rumah. Prof Mitsuzaki ingin melihat jejak rekam medisnya di rumah sakit, apapun itu semuanya. Dokter Kashiyama mengerti, ia lalu pergi.

     Makoto membersihkan sisa tempat Yuko tadi, suster mengingatkan Makoto kalau itu tugas mereka. Makoto bilang tidak apa-apa, Makoto memberitahu para suster itu bahwa Kashiwagi Yuko tidak memiliki anggota keluarga lain, jika ingin memindahkan Yuko tanya saja pada ibunya dengan tenang, hati-hati jangan melukai perasaannya. “Aku akan kesana nanti.”

“Saya mengerti,” jawab suster. Lalu pergi meninggalkan Makoto.

    Makoto memunguti obat dan sebagainya di lantai, lalu ia memungut barang Yuko yang terjatuh. Makoto mulai menangis sampai bahunya bergetar. Tak kuasa kehilangan sahabatnya.

     Detektif Kotegawa membuat daftar nama-nama pasien yang dia pernah otopsi Prof Mitsuzaki. Di dalamnya ada Kurita Masumi, Mayama Shinji yang masing-masing memiliki kondisi khusus. Target Prof Mitsuzaki selanjutnya adalah Kashiwagi Yuko yang mengidap Pneumonia.

*Kurita Masumi: Organ dalam yang retak dan diketahui setelah otopsi meninggal karena subdural hematoma.

*Mayama Shinji: Otak memar, meninggal karena penglihatannya mengabur, pembuluh matanya terhadang.

*Kashiwagi Yuko: mengidap Pneumonia. Dan Kotegawa belum tahu pasti penyebab kematiannya apakah karena Pneumonia atau barangkali ada penyebab lain jika telah diotopsi oleh Prof Mitsuzaki.

Sosuke Ukamura menanyakan apakah Kotegawa menemukan sesuatu?. Kotegawa bilang tidak menemukan apa-apa, ia lihat kembali bagian Kashiwagi Yuko dan penyakit Pneumonianya. Kotegawa bergegas pergi, pamit ke Okamura. Nampaknya Kotegawa menemukan sesuatu.

    Prof Mitsuzaki meminta izin dokter Hideo untuk mengotopsi Kashiwagi Yuko. Dokter Hideo tampak cemas dan gelisah dengan permintaan Prof Mitsuzaki, dokter Hideo beralasan pihak keluarga yang ditinggalkan menolak adanya otopsi. Prof Mitsuzaki tidak menyerah, ia pikir itu terjadi karena dokter Hideo tidak menjelaskan pada keluarga yang ditinggalkan kalau pihak RS perlu menegaskan penyebab kematian.

“Penyebab kematiannya adalah pneumonia. Dia meninggal di ranjang rumah sakit di depan mataku yang merupakan dokternya.” Tegas dokter Hideo.

Prof Mitsuzaki mengerti, jadi dokter Hideo hanya memperkirakan kematiannya itu karena pneumonia hanya dari tampak luarnya saja. Dan memutuskan hidup atau matinya berdasarkan apa yang sudah terbaca dari jejak kesehatan Yuko Kashiwagi. Itu tidak menentukan penyebab kematian Yuko Kashiwagi.

“Kalau anda mengatakan begitu, kita seharusnya melakukan otopsi pada semua pasien yang meninggal di rumah sakit ini.” Kata dokter Hideo.

“itu benar,”

Prof Mitsuzaki kemudian berhadap-hadapan dengan dokter Hideo. Menantangnya seharusnya memang melakukan otopsi pada semua yang meninggal. Seseorang menelfon dokter Hideo, dokter Hideo mengerti.. dia mengatakan ke Prof Mitsuzaki kalau mobil yang membawa jasad Kashiwagi Yuko ker rumah telah sampai. Dokter Hideo pamit ingin mengeceknya.

     Yuko Kashiwagi dinaikkan ke mobil, Sumire Kashiwagi berterimakasih atas segalanya pada dokter Hideo. Makoto dari kejauhan memperhatikan, ia masih diselimuti kesedihan pasca perginya Yuko. Prof Tsukuba datang, ia menepuk pundak Makoto sekali untuk menguatkan.

     Prof Tsukuba menyebut Sumire Kashiwagi sebagai ibu yang kuat. Makoto mengatakan ibunya Yuko sudah kuat seperti itu semenjak You sakit, Sumire Kashiwagi pernah mengatakan ke Makoto kalau Sumire harus kuat demi menjaga Yuko. Terakhir kali Makoto bertemu Yuko, kondisinya sudah memburuk.

“Aku seharusnya membawanya ke rumah sakit sesegera mungkin. ” Sesal Makoto. Makoto sudah dipercayai dokter Hideo Kajiwara untuk mengawasi yuko.

Prof Tsukuba bertanya, jadi sebagai dokternya Yuko Kashiwagi.. Makoto mempersalahkan keluarga yang ditinggalkan karena tidak sesegera mungkin membawanya ke rumah sakit?. Ini bukan salah siapapun.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

     Makoto meminta maaf karena absen hari ini, tubuh Yuko Kashiwagi baru saja dibawa pulang. Prof Mitsuzaki bertanya apakah Makoto melihat Yuko meninggal dalam damai?.

“Apa?” Makoto tidak mengerti.

Prof Mitsuzaki menjelaskan, kalau dipikir-pikir lagi Makoto Tsugano melakukan pelatihan di sini, apakah Makoto memandang kematiannya tanpa kesangsian apapun?.

“Apa maksud anda?”

“Jasad Kashiwagi Yuko harus dilakukan otopsi”

“Apakah anda sungguh-sungguh dengan apa yang anda bicarakan ini?”

Dia tidak membutuhkan otopsi atau dia meninggal karena pneumonia… Prof Mitsuzaki tidak ingin dilempari dua opsi itu. Ia terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Makoto menegaskan dirinya tidak sedang mengatakan seperti itu.

Makoto mendekati meja kerja Prof Mitsuzaki, mempertanyakan apakah ini untuk data lagi?. Yuko sudah lama sakit dan menderita,  masih 20 an dan berharap mendapatkan banyak kebahagiaan. Akan tetapi Yuko tidak bisa melakukannya.

Ibunya memiliki 2 pekerjaan sambilan, tidak pernah mengeluh dan bahkan tidak bisa duduk menemani putrinya setiap malam. Dan yang membuat Makoto tidak mengerti pada Prof Mitsuzaki, kenapa Prof Mitsuzaki tidak peduli dan malah ingin melakukan otopsi?

Pengobatan internal lebih penting ketimbang pemikiran manusia?!.

“Kalau begitu, boleh aku bertanya kenapa kau menghadiri otopsiku sepanjang waktu?. Itu karena kau mengerti kebutuhan dari otopsi, ‘kan?” Tanya Prof Mitsuzaki.

“Itu..”

Menurut Prof Mitsuzaki, Makoto telah memiliki banyak pengalaman dalam hal otopsi dan emosional keluarga yang ditinggalkan semacam itu, hanya saja karena pasiennya adalah teman Makoto sehingga Makoto tidak bisa berpikir jernih sebab terlalu menggunakan emosi dan perasaannya dalam memandang segala hal. Tidak boleh membedakan pasien entah kenal atau tidaknya dengan mereka.

     Makoto masih yakin Yuko meninggal karena Pneumonia. Prof Mitsuzaki tahu Makoto mengatakan itu karena tidak ingin Yuko diotopsi, Makoto telah mencampuradukkan perasaan pribadi dengan kepentingan umum dan itu bukanlah keputusan yang tepat untuk sekarang. Prof Mitsuzaki juga tahu Yuko sebelum pingsan tidak demam, Prof Mitsuzaki tidak pernah dengar kalau Pneumonia tanpa demam.

Kemudian beliau menyerahkan rekam medis Yuko ke Makoto. Tanda-tandanya akan lebih terlihat jelas jika saja Yuko dirawat di RS. Setelah meminum obat kondisi Yuko semakin memburuk.

     Makoto menanggapi itu karena Yuko tidak pernah berolah raga dan sistem imunnya rendah. Prof Mitsuzaki menyangkal, hanya dengan alasan yang Makoto utarakan tersebut apakah justru malah membuat kondisinya semakin memburuk?.

“Kau menghabiskan banyak waktu dengannya. Apakah kau terima alasan tidak jelas itu?!” Tanya Prof Mitszuki.

Prof Mitsuzaki menyuruh Makoto memintakan izin ke keluarga korban untuk otopsi, karena Makoto mengenal keluarganya..  harusnya izin akan lebih mudah. Tapi Makoto menolak. Prof Mitsuzaki tidak masalah, ia mematikan lampu mejanya, menyuruh dokter Kashiyama yang memintakan izin. Prof Mitsuzaki pergi.

Dokter Kashiyama akan datang minta izin besok pagi, apa alamat di sini benar?. Tanyanya ke Makoto. Makoto tidak menanggapi, “Prof tidak mengatakan itu untuk membuatmu menarik empatimu. Maksud beliau adalah dokter harusnya menggunakan teori ketimbang emosi. Itu saja, terimakasih atas kerja kerasnya”

Dokter Kashiyama pergi.

—-|| Hippocratic Oath || Hipokuratetsu No Chikai ||—-

   

     Detektif Kotegawa menemukan Makoto di tempat biasanya merenung dan banyak pikiran. Ia sudah dengar kalau Prof Mitsuzaki hendak mengotopsi temannya Makoto. Makoto menduga Kotegawa sepemikiran dengan Prof Mitsuzaki.

Kotegawa meminta Makoto jangan mempersalahkannya, dia hanya ingin tahu apa yang akan dilakukan Prof Mitsuzaki.

“Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa menarik kembali empatiku.” Kata Makoto.

Kotegawa mengerti, karena objeknya ada di Makoto sendiri, itu membuat Makoto bermasalah. Makoto tidak mengerti. Kotegawa memaparkan, itu bukan apa yang Makoto pikirkan, itu bukan kemauan temannya Makoto. Bisakah Makoto berpikir menggunakan sudah pandang tersebut?

Kebenaran tersembunyi di dalam jasad yang Prof Mitsuzaki otopsi. Itulah yang Kotegawa tangkap dari semua otopsi yang dilakukan Prof Mitsuzaki selama ini. Tidak perduli itu temannya Makoto atau bukan.

     Dokter Kashiyama mendatangi rumah keluarga Kashiwagi. Tidak disangka Makoto telah menunggu dokter Kashiyama, mereka kemudian masuk bersama dan mendo’akan Yuko. Sumire berterimakasih karena sudah dikunjungi, dokter Kashiyama mengatakan ikut berbelasungkawa.

“Aku harus kuat, jika tidak aku akan dimarahi oleh Yuko. Pemakamannya akan dilaksanakan minggu ini. Makoto-chan! Kumohon datanglah.”

“Minggu ini…”

Dokter Kashiyama minta izin menggunakan toiletnya. Sumire mengantarkannya. Makoto memandang Yuko sesaat. Sumire kembali, ia masih tidak percaya Yuko telah pergi, tidak bisa menyembuhkan penyakitnya Yuko, aku ibu yang tidak berguna.

Makoto meminta Sumire jangan mengatakan hal seperti itu, itu tidak benar. Hati-hati Makoto bertanya bolehkan jasad Yuko diotopsi?, Sumire tercengang mendengar permintaan Makoto.

Makoto mengutarakan maksudnya adalah menemukan penyebab lain kematiannya Yuko, barangkali Yuko meninggal bukan karena Pneumonianya. Dan kenapa pula selepas meminum obat bukannya Yuko membaik akan tetapi justru semakin memburuk.

“Benar, itulah kenapa dulu aku tanya padamu ketika dia diobati dengan pengobatan yang sama, ‘kan?”

Sumire memberinya obat dari dokter rekomendasi dokter dan suster tetapi kondisinya makin parah. Dan sekarang Makoto berkata adanya kemungkinan lain penyebab meninggalnya Yuko. Rumah sakit yang tidak bertanggungjawab!

“Sudah lama semenjak Yuko dicek RS terakhir kalinya.”

“Apa kau menyalahkanku?” Sumire murka.

Tidak! Makoto menegaskan Makoto harusnya mengawasi Yuko dengan lebih hati-hati selama ini. “Itu bukan urusanmu!” bentak Sumire. Sumire satu-satunya yang berada disisinya Yuko, selalu mengutamakan Yuko dalam berbagai hal!. Bagaimana bisa Makoto berkata hal semacam itu pada Yuko yang sudah lama menderita?!.

     Sumire membuka penutup wajahnya Yuko, meminta Makoto melihatnya. Bisakan Makoto tanya ke Yuko untuk mengiris jasadnya?!. Yuko sudah terlepas dari penderitaannya selama ini!. Yuko yang malang.

Sumire menangis histeris, membuat Makoto tidak tega.

    Sepulangnya, dokter Kashiyama menyebut Sumire yang terlalu emosional. Makoto merasa bersalah, dirinya tadi tidak sensitif. Dokter Kashiyama bilang dirinya sudah sering melihat adegan seperti tadi di Amerika, tipikal yang sering terjadi di U.S.A.

Dokter Kashiyama menemukan obat-obatannya Yuko tadi di laci dapur. Juga mengambil gambar beberapa alat bukti ketika Makoto membujuk Sumire. Dokter Kashiyama mengitari dan menggeledah apa saja, mengambil gambar dengan ponselnya.

    “Apa ada yang salah dengan obatnya?” tanya Kotegawa.

Makoto melihat obat-obatan yang tersisa ini salah. Bukan obatnya Yuko. Jika diminum teratur sesuai dosis harusnya tidak sampai tersisa sebanyak ini.

Dokter Kashiyama menduga itu karena dosis yang seharusnya diminum justru dikurangi, itulah sebabnya Prof Mitsuzaki meminta dokter Kashiyama mengecek obatnya Yuko. Makoto tahu sekarang jadi Sumire mengurangi dosisnya dengan sengaja, merawat Yuko dengan nekat. Itulah sebabnya Yuko semakin memburuk kondisinya.

Makoto benar-benar tidak mengerti kenapa Sumire melakukannya. Kelihatannya..

Makoto menghentikan kalimatnya. Kelihatannya kenapa?, tanya Prof Mitsuzaki. Makoto enggan melanjutkannya, tapi Prof Mitsuzaki ingin mendengarnya.

Makoto menyebut Munchausen syndrome. Seseorang yang sengaja menyakiti didi sendiri untuk mencari perhatian. Dan lebih nyaman melakukan pengobatan sendiri. Dengan kata lain mental pengidapnya bermasalah, sehingga orang tersebut merawat orang lain dengan sesukanya dan membuat penyakitnya semakin parah.

      Mereka membuat anak-anak mereka sakit karena diberi racun atau semacamnya, dan bertingkah di luar seolah-olah menjadi ibu yang baik di publik. Maksudnya adalah membangkitkan simpati dari orang lain dan merasakan kenikmatan batin oleh karenanya.

Makoto tidak bisa mempercayai kesimpulannya sendiri, ternyata ibunya Yuko..

 “Jika Sumire Kashiwagi mengurangi dosisnya, buktinya akan tertinggal di jasad pasien. Itulah kenapa dia menolak adanya otopsi”

“Dia bukanlah orang jahat.” Bantah Makoto.

     Kotegawa sebelumnya sembari menyelidiki Sumire juga, ia menemukan bahwa semenjak suaminya Sumire Kashiwagi selingkuh… Sumire mengalami masa yang sulit. Di waktu yang sama dia menyakiti dirinya sendiri dan pergi ke rumah sakit untuk menghimpun simpati orang sekitarnya. Dia sudah didiagnosa mengidap Munchausen Syndrome. Kedengarannya cerita yang tidak asing.

Seorang wanita yang didianogsa dengan Munchausen Syndrome menjadi seorang ibu, dan menyakiti anak mereka sebagai gantinya.

     Yuko syok mengetahui fakta tersebut, berarti Yuko Kashiwagi terbunuh oleh ibunya sendiri?. Makoto teringat ketika Sumire mangatakan Yuko telah mengalami hidup yang berat.

     Dokter Kashiyama bertanya, haruskah meminta Sumire datang ke kantor polisi untuk diajukan pertanyaan?.

“Itu tidak mungkin, foto obat-obatannya tidak  cukup dijadikan bukti” kata Kotegawa.

Makoto meminta jangan menjadikan Sumire sebagai kriminal. Prof Mitsuzaki menyarankan bagaimana kalau menggunakan penaksiran formulir perizinan?.

Makoto terkejut. Kotegawa mengatakan itu adalah adalah sebuat surat yang diterbitkan dari pengadilan sehingga bisa memaksa Sumire ikut ke kantor polisi untuk diinvestigasi.  Jika memang keluarga korban menjadi tersangka atas terbunuhnya Yuko, maka otopsi bisa dilakukan tanpa perlu melakukan izin.

“Memaksa…” Kata Makoto yang masih tidak bisa menerima.

“Itu ide yang bagus. Minta Saitama Prefectur Polisi untuk mengajukannya.”

“Sebelum itu dilakukan, bolahkan aku bicara dengannya?” Tanya Makoto.

Dokter Kashiyama melarang Makoto, tidak boleh! Karena tidak ada jalan lain yang bisa membuat Sumire Kashiwagi mengakui kejahatannya. Dan kalau Sumire tahu dituduh membunuh Yoku, Sumire mungkin Sumire akan melakukan sesuatu yang tidak terduga.

Menurut Prof Mitsuzaki semuanya akan beres jika saja tubuh Yuko diotopsi. Pemakamannya minggu ini, diharapkan Kotegawa segera melakukan pengajuan berkasnya ke pengadilan.

    Makoto mengutarakan kemungkinan Kashiwagi Sumire yang mengidap Munchausen Syndrome ke dokter Hideo dan Prof Tsukuba. Apakah dokter Hideo menyadari sesuatu ketika berbicara dengan ibunya Yuko?.

Dokter Hideo bilang dia tidak memperhatikanya. Prof Tsukuba menanyakan apa Makoto yakin dengan dosisnya?. Makoto bilang dirinya yakin itu benar karena sisa obat yang masih ada terlalu banyak.

Dokter Hideo tetap yakin penyebab meninggalnya Yuko adalah Pneumonia, mengetahui Sumire mengidap Munchausen Syndrome tidak akan banyak membantu. Jika Sumire memang mengurangi dosisnya.

“Tapi bagaimana dia akan membuktikannya?” Tanya Prof Tsukuba.

“Beliau akan mengotopsi jasadnya.”

Dokter Hideo menanyakan bagaimana perizinananya?. Makoto menjawab mereka akan dapatkan izinnya dari formulir pengajuan surat dari pengadilan. Menurut Prof Tsukuba otopsi agak sulit membuktikan bahwa kondisi Yuko memburuk sebagai akibat dari dosis obat yang dikurang.

“Prof Mitsuzaki bilang bukti seharusnya ada di dalam jasad Yuko. Kajiwara-sensei, ingatkah anda apa yang saya melaporkan pada anda?. Aku berkata pada anda kalau Yuko tidak demam ketika dia dibawa ke RS”

“Dia tidak demam?” Prof Tsukuba terkejut.

“Ah… benar” jawab dokter Hideo.

Makoto menyebutkan itulah yang menjadi pertanyaan besar dari Prof Mitsuzaki. Pneumonia namun tidak demam. Beliau mengatakan tidak pernah mendengar sebelumnya jika pneumonia tanpa demam.

Komentar:

      Seratus saja dokter seperti Prof Mitsuzaki dan Makoto Tsugano. Apa jadinya dunia ini?. Magnet utama yang membuatku menonton drama ini adalah Keiko Kitagawa dan karena Jepang jarang bisa memberikan cerita romantis love line sebagus seperti Kdrama, kupikir perdetektifan, medical dan segala sesuatu yang serius lebih cocok untuk Jepang/ lebih bagusan mereka. Maka dari itu aku percaya drama ini bagus.hippocratic-oath

Silahkan like FP nya untuk mendapatkan update-an terbarunya>>>>> FANPAGE