[Sinopsis] Grand Prince: Drawing Love – Eps 2

“Yeon… Bagaimana kabarmu? Aku penasaran apakah kau masih anak-anak atau sudah dewasa? Baru-baru ini, aku bahkan tidak bisa membayangkan wajahmu dengan jelas lagi.”

Anak panah melesat mengenai bunga di kolam.

“Kurasa suatu hari kau benar-benar akan memanahku.”

“Apa yang kau pikirkan begitu dalam? Kau bahkan tidak sadar akan kedatanganku. Apa kau melempar bunga ke kolam seperti anak perempuan? Kenapa? Apa ada sesuatu yang bisa dilihat?”

“Simpan anak panahmu. Jangan sia-siakan kerja keras si pembuat panah.”

“Ayo pergi berburu bersama hari ini.”

“Aku tidak suka berburu. Aku akan berada dalam masalah jika melewatkan pelajaranku…

“Kau bisa menggunakan paman sebagai alasanmu. Ibu dan Ayah tidak akan mengatakan apa-apa.”

Semua puteri bangsawan datang dengan anggunnya kecuali Ja Hyeon, ia malah tertidur selama perjalanan. Kalau tidak dibangunkan Keut Dan pasti sudah pulas.

Ja Hyeon terjatuh karena menginjak roknya sendiri, ia dimarahi karena seharusnya bekerja keras. Coba contoh Nona Na Gyeom, sudah bertunangan tapi masih berusaha dengan baik. Ja Hyeon mengelak ia seharusnya tidak disini.. kelas ini hanya untuk mereka yang akan menikah dengan keluarga kerajaan, sedangkan ia tidak tertarik untuk menikah.

Seol Hwa menyindiri Ja Hyeon, kalau tidak tertarik menikah lalu kenapa rajin sekali berangkatnya? Ja Hyeon beralasan ini karena dia takut dihukum keluarganya.

Akhirnya Ja Hyeon memilih kabur dari kelas, yang penting sudah absen hadir. Ja Hyeon mengajak Kkeut Dan pergi,

Ja Hyeon pergi untuk membeli tinta biru pesanannya, namun si penjual menyembunyikannya. Mereka berdebat sebentar kemudian saling tarik menarik, tintanya jatuh mengenai rok Ja Hyeon. Si penjual  bilang harganya 100 nyang,

Hwi juga menyaksikan pertengkaran mereka, kemudian mendekat dan menarik rok Ja Hyeon. Kemudian mengambilnya sedikit, menjilat tinta tersebut.

“Apa ini diimpor?” Tanya Hwi, si penjual sudah sesumbar Hwi adalah pemilik tinta mahal tersebut.

Hwi kemudian menyuruh Ja Hyeon memperhatikan lidahnya apakah berwarna hitam?

Meski sedikit bingung ia membenarkan warnanya memang hitam. Si penjual kembali sombong kalau itu adalah produk terbaik, tapi Hwi bilang harganya tidak sampai 100 nyang, ini barang palsu dan harganya hanya 1 nyang. Jangan menipu pelanggan bodoh! Mau dibawa ke biro polisi?

Si penjual memohon-mohon dan meminta maaf. Mereka kemudian pergi.

Ja Hyeon berterima kasih karena sudah menolongnya tadi, Hwi malah memarahi Ja Hyeon kenapa tidak mengerti tinta padahal dia adalah pelukis?

“Bagaimana kau tahu aku ini pelukis?”

“Aroma Shim jung cheong dari tanganmu..” Hwi beralasan ia hanya kebetulan melihat Ja Hyeon dibodohi, jadi tidak merasa harus mendapatkan ucapan terimakasih atau permintaan maaf.

Kemudian Ja Hyeon kesal mengungkit sikap Hwi tadi yang mengangkat roknya, harusnya Hwi meminta maaf.. masih untung Ja Hyeon tidak menamparnya.

“Karena aku menolak permintaan maafmu, lakukan hal yang sama untukku. Mari berpura-pura tidak terjadi apa-apa hari ini.” Kata Hwi lalu hendak pergi,

“Tidak hanya kasar, tapi juga tidak tahu malu!”

Dan terpenting lagi kenapa Hwi bicara tidak formal pada Ja Hyeon, memangnya ia dianggap remeh karena seorang wanita?. Dan mereka mulai berbicara nonformal satu sama lain. Ja Hyeon tetap marah, ia merasa harus memberikan pelajaran pada Hwi.

Hwi bilang dia adalah Lee dari keluarga Gwangwangbang, jangan lupakan wajah dan namaku. Kalau ada pertanyaan apapun itu silakan ajukan saja..

Kemudian Hwi pergi. Ja Hyeon masih kesal, itulah kenapa dia tidak mau menikah! Pria Joseon itu semuanya saja!

Kkeut Dan sama kesalnya, padahal tuan muda tadi tampan tapi kenapa kasar sekali.

Hwi dalam perjalanan pun ikut-ikutan kesal, kenapa niat baiknya malah dianggap buruk? Sedangkan Gi Teuk pikir Nona tadi ada benarnya juga, melihat bagaimana Hwi asal mengangkat roknya. Hwi menatapnya tajam, kesal.

Seol Hwa dan Na Gyeom berbicara, Seol Hwa mempertanyakan kenapa Na Gyeom kenapa memilih ingin menikah dengan pangeran? Bukannya menjadi istrinya Raja saja?. Seol Hwa memang punya keinginan berbeda, ia hanya ingin menikahi pria tampan. Tapi sepertinya Na Gyeom punya impian lain dengan menikahi pangeran Kang,

Na Gyeom beralasan ini soal masa depan, ia bisa melihat potensi tersembunyi di diri Kang.

Di istana para menteri meributkan Raja yang tidak segera memiliki anak laki-laki sebagai pewaris tahta, terlebih tidak ada yang menempati posisi Ratu sekarang. Negeri ini membutuhkan seorang Putera Mahkota demi kestabilan.

Raja mengatakan untuk jangan berdebat, ini masih masa berkabung dan ia akan mendiskusikan posisi Ratu dengan Ibu Suri. Ia harap para menteri mengerti.

Pemaisuri Hyo akan segera kembali ke istana dan melahirkan anaknya, namun berita ini sementara akan dirahasiakan.

Hwi kembali ke istana, Ibu Suri memarahinya karena melewatkan pelajaran. Hwi bilang ia hanya keluar mencari tinta. Ibu Suri murka, seharusnya tugas tersebut bisa dilimpahkan ke orang lain, tidak perlu Hwi keluar sendiri. Gi Teuk dipukuli karena kesalahannya Hwi, Hwi merasa tidak adil.

Kang dan pamannya memasak babi hasil buruan mereka di dekat kuil sembari membahas tahta. Jelas membuat kepala biksu marah-marah, namun Kang dan pamannya justru tertawa-tawa.

Hwi kembali dimarahi, Hwi bilang ia memang sengaja membolos. Mendiang Raja juga tak menginginkan Hwi begitu.

“Jika aku belajar dengan giat, aku akan dicurigai sebagai orang yang licik… tapi jika tidak, aku akan menjadi lelucon. Apa sebenarnya yang harus dilakukan seorang pangeran? Saat Yang Mulia masih menjadi Putera Mahkota… Aku dipukul karena aku ingin mencoba jubah merah naga yang indah. Aku hanya anak kecil, apa yang bisa aku ketahui? Alasan apa lagi yang bisa aku miliki? Semua orang dewasa ini… mereka selalu menafsirkan sesuatu. Hanya karena Yang Mulia lemah karena penyakitnya… banyak tekanan yang dilimpahkan pada Pangeran.. Anda pasti sudah tahu semua ini.”

Para biksu diberikan uang, Pangeran Kang bilang ini untuk perbaikan kuil. Dan sengaja ia beri agar mereka tutup mulut.

Hwi harus meninggalkan istana ketika sudah menikah nanti. Hwi khawatir karena sekarang tidak ada Ratu, pasti banyak tekanan yang meliputi Baginda Raja. Ibu Suri mengatakan sebenarnya ada seorang Permaisuri di luar istana yang tengah mengandung, ia akan kembali dan melahirkan di istana. Namun kabar ini harus dirahasiakan sementara waktu. Ibu Suri masih merasa tidak tenang.

Pernikahan Raja akan ditunda, jadi akan dilaksanakan pernikahannya Kang terlebih dahulu.

Hwi memiliki permintaan, ia hendak memilih siapa yang akan dia nikahi sendiri. Namun Ibu Suri mengingatkan bahwa pernikahan seorang anggota kerajaan bukanlah sesuatu yang bisa diatur sendiri.

Hwi memohon sekali ini saja, karena ia tidak tertarik akan tahta dan politik di istana. Setidaknya ia ingin menemukan seseorang yang dia cintai untuk dinikahi.

Mendengar perminataan anaknya membuat Ibu Suri sedikit luluh.

Ja Hyeon kembali ke rumah, heran ibu bersama teman-temannya sedang main kartu. Ia mengingatkan semuanya kalau ayahnya segera pulang. Para Nyonya pulang tergesa dan bersisihan dengan  ayahnya Ja Hyeon.

Anak dan ibu ini berdebat, Ibu mempermasalahkan Ja Hyeon yang pulang dalam keadaan acak-acakan dan sepertinya membolos dari kelas. Ja Hyeon mengingatkan kalau sebentar lagi ayah akan pulang.

Ja Hyeon menutupi ibunya, Kkeut Dan juga. Namun ketahuan karena Ja Hyeon mengkhawatirkan roknya yang kotor. Akhirnya ayah menemukan bukti kalau istrinya berjudi tadi. Ayah langsung memarahi ibu yang malah berjudi, bukannya mendidik Ja Hyeon dengan benar. Memangnya apa sudah cukup hanya dengan mengirimkan Ja Hyeon ke kelas pra-pernikahan?.

Ibu mengelak ini kan hanya taruhan kecil dengan makanan, lagipula ia tidak menjual rumah atau melakukan kegiatan gila yang melebihi batas. Nanti kalau sudah waktunya Ja Hyeon menikah pasti akan menikah juga.

Kang memberikan hasil buruannya ke Raja, yang sebenarnya adalah hasil yang dia beli. Ia menghadiahkannya ke Raja dengan alasan kesehatannya yang semakin menurun.

Hwi cemburu karena ia tidak diberikan satupun hasil buruan kakaknya, Kang juga memberikan salep luka untuk Hwi. Ia dengar Hwi tadi dipukuli karena membolos pelajaran.

Hwi pikir ia tak membutuhkan itu, namun ia akan tetap menerimanya.

“Bukankah Hyung takut?”

“Takut apa?”

“Menikah dengan seseorang yang belum pernah kau temui.”

Apa bedanya, siapa yang aku nikahi? Mendiang Raja menjodohkanku dengan keluarga yang tak berkuasa. Niat tulusnya… Itu hanya sesuatu yang harus kuterima. Siapa yang akan adikku nikahi?”

“Kukatakan pada Ibu kalau aku ingin memilih pasanganku sendiri.”

“Jadi ada wanita yang kau pikirkan? Katakan padaku, siapa wanita itu? Atau apa dia seorang selir di dalam istana?”

“Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada wanita yang menarik perhatianku. Jika aku tidak menemukannya, aku akan melajang saja. Bahkan jika keluar dari istana, semua gadis-gadis itu tidak… “ Hwi bergidik memikirkan Ja Hyeon yang ditemuinya tadi.

“Oh, jadi kau pernah bertemu seseorang yang membuatmu berpikir begitu!”

“Bukan begitu..”

“Kau tidak bisa berbohong pada kakakmu ini, coba katakan..”

“Sudah kubilang bukan begitu..”

Permaisuri akan dibawa ke istana, akan lebih baik melahirkan anaknya di istana. Demi keselamatan ibu dan bayi, ini harus tetap dirahasiakan.

Para menteri mengusulkan agar adik Raja yang meneruskan tahta, ini beredar karena Raja sudah kehilangan Ratunya dan tidak memiliki anak laki-laki.

Ini sangat berbahaya karena Pangeran Yang terus mempengaruhi Kang, tidak seperti adiknya. Kang itu ambisius dan serakah akan tahta.

Hwi memberikan salep dari kakaknya untuk Gi Teuk. Gi Teuk nampak terharu karenanya.

Di ruangannya, Hwi memandangi tinta biru sambil memikirkan kejadian tadi. Penasaran sebenarnya apa yang ingin Ja Hyeon lukis dengan tinta biru ini hingga rela tarik menarik dan menunggu berbulan-bulan?

Kemudian Hwi melukis bunga dengan tinta biru tersebut,

Di rumahnya, Ja Hyeon melukis bunga yang sama dengan susah payah.. ditemani Kkeut Dan. Ja Hyeon melukis sampai tinta mengotori pakaian dan wajahnya. Kkeut Dan menyindir Nonanya ini mau pamer ke semua orang apa bagaimana? Perasaan kalau pelukis lainnya masih tampak bersih ketika melukis..

Ja Hyeon pikir mereka itu cuma pamer, kalau yang namanya seni sungguhan pasti akan berantakan seperti dia sekarang. Kkeut Dan itu pandai segala hal tapi tidak tahu apa-apa soal seni.. ckckck

Kkeut Dan pikir seni itu tidak ada gunanya, lebih baik ia pergunakan waktunya untuk memetik lebih banyak sayuran liar atau jamur.

Ja Hyeon kesal dengan hasil lukisannya, ia meremasnya dan membuangnya. Kkeut Dan menyayangkan, harusnya diberikan saja kepadanya.. jangan dibuang begitu saja!.

“Aku ingin menggambar sesuatu yang hidup..” Ja Hyeon sambil tiduran

“Itu hidup! Tidak mati!” Tunjuk Kkeut Dan pada bunga tadi.

Ingin sesuatu yang besar, beruang, harimau atau sejenisnya. Ja Hyeon menceritakan soal ujian masuk sekolah melukis. Aroma sepatu kuda yang membentang di atas bunga.

Semua orang yang melukis bunga dan kuda gagal dalam ujian. Melukis gerombolan kupu-kupu terbang bersama… angin dengan tinta hitam.

Ja Hyeon pikir jika ingin lebih imajinatif ia harus mencoba melukis apa saja.

Kkeut Dan menyarankan Ja Hyeon ke pertandingan gyeokgu saja, akan ada banyak kuda Ja Hyeon bisa mengamati kuda-kuda terbaik di sana. Saking senangnya Ja Hyeon bahkan mencium Kkeut Dan di bibir.

Kkeut Dan kesal, ia memilih dicium pria saja.

Di pertandingan, Hwi berlatih dengan kudanya. Deuk Sik tidak menyangka Hwi pandai berkuda, ia pikir hanya pintar menulis puisi dan melukis. Tapi ia memuji Kang yang tentunya lebih hebat dalam bela diri melebihi Hwi.

 Ja Hyeon dilarang keluar dari rumah karena ia dikeluarkan dari pelajaran pranikah. Namun ia tak hilang akal, memaksa meminjam pakaian Kkeut Dan. Ia akan menyamar.

Tim Merah dipimpin oleh Kang dan biru dipimpin oleh Hwi. Pertandingan berjalan sportif, keberadaan Hwi menceriakan suasana. Ibu Suri dan Raja sesekali tersenyum melihat Hwi, beberapa rakyat yang menyaksikan pun sama. Mungkin Kang merasa sedikit cemburu.

Sedangkan itu Ja Hyeon mengamati kuda-kudanya, namun ia malah ketahuan kakaknya. Akhirnya mereka kejar-kejaran.

Lalu di tengah pertandingan Hwi terjatuh, ia menyadari kalau kudanya disabotase sejak tadi.

Hwi memilih meninggalkan pertandingan, sesaat setelahnya Ibu Suri dan Raja juga meninggalkan pertandingan,

Ja Hyeon masih kejar-kejaran dengan Deuk Sih kakaknya, sampai Ja Hyeon asal memasuki ruangan. Yang rupanya merupakan ruangan milik Hwi.

Hwi yakin kudanya pasti ditikam seseorang sebelum dia bermain tadi, namun ia memilih tidak mau memperpanjang masalah. Anggap saja kuda ini terluka selama pertandingan.

Gi Teuk mengingatkan, pasti ada yang sengaja ingin mencelakai Pangeran. Hwi bisa terluka jauh lebih parah kalau tidak ketahuan tadi. Namun Hwi meminta Gi Teuk jangan terlalu khawatir, lanjutkan saja menonton pertandingannya.

Hwi menuju ruangannya, Ja Hyeon takut dan bersembunyi.

Hwi memang nampak tenang di luar, namun di ruangannya ia langsung membanting  pakaiannya dan apa saja di sana dengan kesal.

Gi Teuk kembali menyaksikan pertandingan, ia memikirkan sesuatu. Kakaknya Ja Hyeon juga kembali namun tidak masuk ke arena, bagaimana Ja Hyeon berani menyamar menjadi pelayan dan datang kemari.

Pertandingan menjadi tidak begitu berarti tanpa Hwi.

Seol Hwa dan Na Gyeom mengobrolkan seharusnya Pangeran EunSeong bisa memenangkan tim biru.. sayang sekali keluar dari pertandingan. Juga tentang Ja Hyeon yang tidak kelihatan padahal kakaknya tampil, pasti karena dia dihukum tidak boleh keluar karena membolos kemarin.

Luka di lengan Hwi nampak parah, ia membasuhnya. Ja Hyeon mengintip karena penasaran. Tapi ia malah mendapati Hwi tanpa baju.

Hwi seperti mendengar sesuatu, lalu ia menemukan lukisan yang entah milik siapa. Ia mulai curiga kelita mendapati kaki-kaki dibalik tirai. Hwi mengambil pedangnya dan menebas tirai.

Keduanya sama-sama terkejut.

“Shim Jung Cheong?” Kata Hwi

“Lee dari Gwangwangbang?” Gantian Ja Hyeon

Advertisements

[Sinopsis] Grand Prince: Drawing Love – Eps 1

Tiga orang berjalan tergopoh di hamparan salju, mereka adalah Pangeran Hw, pelayannya, dan Roo Si Gae. Mereka ketika berjalan menyusuri hutan menemukan seekor kelinci untuk dimakan.

Sementara itu di istana, Raja sedang tergolek lemah karena sakit. Dijagai Ibu Ratu, permaisuri, dan putera mahkota yang masih kecil. Ibu Ratu tidak ingin rumor tentang sakitnya Raja tersebar keluar. Siapapun itu pasti akan dihukum jika berani menyebarkannya.

“Tapi ia sudah bertahan selama beberapa tahun” Kata permaisuri.

“Raja harus siuman, Putera Mahkota masih kecil..”

Di luar, seorang Dayang diperintahkan ke istana lain.

Pangeran Eun Sung tidak diizinkan masuk karena tidak membawa identitasnya, si petugas bersikeras bahwa Pangeran Eun Sung bahkan diberikan upacara pemakannya. Maka dari itu dia tidak percaya bahwa ini adalah Pangeran.

“Dia orang yang sangat penting, mohon segera panggilkan pelayan..” Kata pelayannya Hwi. Namun Hwi menahannya untuk tidak berbicara terlalu jauh.

“Yang Mulia..”

Hwi menggeleng,

“Kita harus memanggil Kepala Kasim, begitu mereka mengenali anda pasti akan diizinkan masuk..”

Hwi terus berjalan hendak pergi, sayangnya para petugas malah menghadangnya. Sehingga terjadilah pergumulan di depan pintu gerbang istana. Disaat pertarungan sengit tersebut Hwi melihat seorang dayang diam-diam menyelinap keluar. Ketiganya memutuskan untuk mengikutinya.

Dayang tersebut menuju kediaman Pangeran Lee Kang, memberikan surat yang berisikan bahwa Raja sakit dan Ratu tidak diketahui keberadaannya. Nyonya Na Gyeom memberikan imbalan pada dayang tersebut.

“Kerja bagus, hati-hati di jalan..”

Di luar kediaman tersebut Seong Ja Hyeon ditemani Keut Dan menuju ke dalam. Keduanya nampak gelisah.

Si dayang tadi yang baru saja mau menghitung jumlah imbalannya, namun diculik oleh rombongannya Pangeran Hwi,

Na Gyeom “Kita berada di tingkat yang sama. Setengah dari orang-orang ada

di pihak raja dan pihak ibunya, dan setengah lainnya ada di pihak kita.”

“Apa yang akan Anda lakukan? Penyakit Raja sangat parah. Ibu raja tidak bertemu

denganmu atau negarawan.” Kata Kakaknya Na Gyeom bingung..

“Jika Anda kehilangan kesempatan ini sebelum dia meninggal… Sebelum peristiwa buruk terjadi, kita harus mendapatkan gomyeong (wasita raja.) Sementara Putra Mahkota Eun Sung tidak ada di sini,”

Ketiganya pikir bisa mendapatkan tahta disaat Hwi tidak ada di istana.

”Jika Anda mendapatkan gomyeong,…tahta akan menjadi milik Anda, Yang Mulia.” Na Gyeom optimis suaminya mampu memanfaatkan kesempatan sakitnya Raja ini.

“Aku akan pergi ke istana.” Lee Kang tampak resah.

“Oraboe-nim, hubungi Menteri Keuangan dan menteri pengadilan lainnya untuk masuk istana.” Na Gyeom menyuruh kakaknya.

“Baik.”

“Anda harus ganti pakaian.” Na Gyeom melihat Lee Kang.

Disaat yang bersamaan Ja Hyeon datang bertamu,

“Anggota keluarga kerajaan Weol Yeong telah menawariku untuk menikah dengan Anda. Aku meminta Anda untuk menyerah. Aku sudah mendengarnya dari Pangeran. Jadi, tolong selesaikan masalah ini.” Kata Ja Hyeon dengan mata berapi-api.

“Bukankah kau menginginkan pengantin pria lain?”

“Apa maksud Anda?”

“Kau menolak menjadi wanitaku selama tiga tahun. Aku memberimu pilihan yang berbeda dengan kemurahan hati.”

“Apa Anda memintaku untuk menjadi wanita yang haus akan harta?

“Hwi, tidak akan kembali. Anak itu sudah meninggal. Kau harus menerimanya.”

“Orang yang dengan kejam mendorong saudaranya…, adalah Anda, Pangeran.” Ja Hyeon tidak mempercayainya.

“Dia pergi dengan keinginannya sendiri. Dia memiliki rasa tanggung jawab sebagai pangeran bangsa ini.”

“Apa Anda ingin… menghancurkan hidupku?”

“Weol Yeong adalah sepupuku. Menikah dengan seseorang dari keluarga kerajaan berarti hidupmu akan hancur? Gadis-gadis lain pasti akan terkejut mendengarnya.”

“Aku tidak ingin menikah! Aku tidak ingin menjadi mempelai wanita siapa pun.”

“Kau benar-benar tidak menyukai Weol Yeong?”

Ja Hyeon mendengus mendengarnya, tapi Pangeran Kang malah menawarkan diri bagaimana kalau Ja Hyeon menikah saja dengannya. Ja Hyeon marah, ia beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Rasanya ia telah membuang-buang waktu dengan datang kemari, ia sungguh merasa bodoh karena masih mempercayai bahwa Lee Kang masih memiliki sedikit nurani.

“Hati-hati di jalan ketika malam hari, karena kau akan segera menjadi pengantin..”

Na Gyeom segera menampar Ja Hyeon setibanya di luar. Keut Dan kesal, apa yang anda lakukan Asshi? (Nona)

Na Gyeom mendorong Keut Dan, kemudian memarahi Ja Hyeon yang bertingkah seenaknya sendiri, harusnya Ja Hyeon berterima kasih karena kalau bukan karena ia dan suaminya pasti Ja Hyeon sudah menjadi perawan tua, Ja Hyeon menyayangkan sikap Na Gyem.. apa tidak ingat bagaimana kita bersahabat dulu?

Tapi bagi Na Gyeon menurutnya persahabatan mereka berakhir semenjak Ja Hyeon merayu semua pangeran. Ja Hyeon bertanya apa ini karena Na Gyeom tidak percaya diri?

“Jika kau tidak mau menikah kenapa tidak bunuh diri saja?, cinta yang luar biasa yang kau miliki itu, jika kau meninggal karenanya, kau pasti akan dipuji karena memiliki cinta dan pengabdian luar biasa pada satu orang..” Ujar Na Gyeom dengan sarkas menyinggung soal hubungan Ja Hyeon dengan Pangeran Hwi.

Keut Dan meminta majikannya tidak usah mendengar kata-kata pedas tadi, kita pulang saja.

“Semoga kau bahagia! Menikahlah, memiliki anak laki-laki, dan hidup bahagia! Kenyataan bahwa kau seperti gadis lain di luar sana, bahwa kau menyedihkan dan materialistis! Tunjukkan pada seluruh dunia!” Na Gyeom kesal sekali.

Roo Si Gae disuruh menyamar sebagai dayang yang mereka culik tadi, Hwi menyuruhnya untuk memberikan pesan ke Ibunda Ratu. Hwi mengiris sedikit jarinya dan menuliskan pesan namanya ke selembar kain.

Roo Si Gae masuk ke istana tanpa dicurigai sedikitpun, karena tingkahnya mencurigakan akhirnya dia   hendak ditangkap. Namun ia berhasil menunjukkan tulisan darah Hwi.

Ratu yang semula tanpa tenaga menangis haru, puteranya telah kembali. Ia merasa seperti mendapatkan kekuatan.

Ja Hyeon memandangi lukisan bunga Hwi di sapu tangannya, kemudian ia simpan.

Lee Kang beserta para menteri yang mendukungnya menuju ke istana.

~… Grand Prince: Drawing Love..~

Hwi diizinkan masuk ke istana, ia langsung menyembah Ibu Ratu. Semuanya menangis melihat Hwi.

“Anakmu yang tidak ini telah kembali memberikan salam..” Hwi menangis,

Ibu Ratu kemudian memeluknya, ia menyayangkan dimana wajah ceria Hwi selama ini. Baginda Raja tengah sekarat sekarang. Sepertinya langit mengasihani Ibu, sehingga mengirimkanmu kembali..

Sedangkan itu tengah terjadi perdebatan, Kasim mengatakan siapapun dilarang menemui Raja. Namun Lee Kang dengan rombongan bersikeras masuk untuk memberikan obat, apa kau berani melawan adik baginda Raja?.

Si Kasim ketakutan, namun ia terjebak dalam dilema.

Tak lama kemudian terdengar suara tangis pecah, Ratu keluar menemui anak keduanya. Lee Kang berpura-pura khawatir, bertanya apa yang sedang terjadi? Disaat itulah Kang heboh bertanya kenapa Ibu Ratu tidak memanggilkan kasim terdekatnya Raja sehingga kita semua bisa tahu apa wasiat terakhirnya?.

“Jangan khawatir..” Terdengar suara Hwi, dengan lesu berjalan keluar, ia mengatakan bahwa wasiat terakhir mendiang kakat tertuanya sekaligus Raja telah ia terima. Putera Mahkota akan tetap menerima titah sebagai Raja penerusnya, namun karena ia masih terlalu kecil maka Ibu Suri akan bertindak sebagai wali memimpin Joseon.

Semua orang terkejut melihat Hwi masih hidup.

Hwi mendekati kakaknya dan memeluknya, “Aku kembali Hyung-nim.. aku tidak mati.. aku masih hidup.”

Kepala kasim mengibaskan jubah raja di atas “Tolong kembali pada kami, Raja!”

“Tolong kembali pada kami, Raja!”

“Tolong kembali pada kami, Raja!” serunya berulang kali.

Ja Hyeon memotong rambutnya sendiri.

Keduanya dipakaikan baju berkabung.

“Kau punya banyak bekas luka.”

“Karena sering berperang.”

“Syukurlah kau masih hidup dan kembali.”

“Aku tidak bisa mati karena ada seseorang yang menungguku.” Kata Hwi

“Karena kau telah kembali pada saat meninggalnya Raja…, aku tidak bisa bahagia karena raja meninggal dunia. Pasti sulit bagimu. Kau bahkan tidak bisa bertemu wanita itu. Sebaiknya jangan menemui wanita yang akan menikah. Maksudku, Nona Ja Hyeon. Tapi karena kalian berteman, pasti dia akan senang jika kalian bertemu..”

“Ja Hyeon Nangja?” Mendengar kabar tersebut Hwi langsung syok, ia meninggalkan istana menuju rumah Ja Hyeon dengan kudanya.

Ia langsung menerabas masuk tanpa izin, ia bertemu Kepala Sekertaris Kerajaan yang merupakan ayahnya Ja Hyeon, ayah Ja Hyeon bertanya ada keributan apa ini pagi pagi?

Hwi mengatakan dirinya adalah Pangeran Eun Sung, Raja telah wafat. Ayahnya Ja Hyeon tidak percaya jika Hwi masih hidup, ia pikir Hwi di depannya adalah hantu.

Namun segera ia menyembah meraung berteriak setelah tahu Raja telah meninggal “Yang Mulia…”

Hwi meminta Ja Hyeon diberitahu kalau dirinya masih hidup, namun ayahnya bilang tidak perlu karena Ja Hyeon akan segera menikah.

Sang Ibu menemui Ja Hyeon, ia terkejut sekali melihat Ja Hyeon dan rambutnya. Ja Hyeon bilang ia akan ke kuil di pegunungan dan menjadi biarawati budha.

“Dengarkan aku! Pangeran kembali, ia masih hidup. Dia datang menemuimu..”

Ja Hyeon kaget mendengarnya.

Hwi berteriak memanggili Ja Hyeon, Ja Hyeon keluar. Tanpa pikir panjang dan bahkan tanpa alas kaki ia berlari menuju Hwi yang selama ini ia rindukan. Begitupun dengan Hwi, berlari kecil mendekati Ja Hyeon.

.

.

.

Flash back..

Hwi kecil tengah menulis ditemani kasim kecilnya, ada hewan yang bermain di tulisan Hwi sehingga kasim berusaha menyingkirkannya dengan kasar, namun Hwi menahannya. Ia memindahkan binatang tersebut dengan kertas lain lalu melepaskannya.

Lee Kang kecil tumbuh dan besar di luar istana, ia memaksa ingin ke istana karena merindukan Raja dan Ratu, sayangnya dayang menahannya. Hari ini tidak boleh karena Ratu yang memerintahkannya, Lee Kang terus memaksa.

Seorang dayang mengabarkan ke Ratu bahwa Lee Kang di luar membuat keributan dengan memaksa masuk, Ratu tetap melarangnya.

Kang tetap ingin masuk hari ini.

Hwi keluar menemui kakaknya, ia kemudian mengajak Kang masuk ke istana meski mendengar perintah larangan. Ia menyambut hangat kakaknya, dan memarahi dayang serta penjaga.

Kang memberikan salam, Ibu Ratu tampak agak marah karenanya. Namun Kang beralasan ia merindukan ayah dan ibunya, maka berani melanggar perintah.

Ibu Ratu bertanya ke Hwi apakah sudah menyiapkan kamar kakaknya? Hwi bilang ia akan segera kerjakan, akan dia dekorasi dengan bahan terbaik. Melihat keakraban Hwi dengan Ibu Ratu membuat Kang sedikit cemburu. Ia bertanya apa ada hukum di istana yang menempatkan adik laki-laki di atas kakak laki-laki? Kenapa Hwi tidak ikut duduk disampingnya malah duduk memperhatikannya?

Hwi langsung meminta maaf dan pindah duduk. Ibu Ratu rasa Kang marah padanya dan melampiaskannya ke Hwi, jangan marah ke adikmu.

Sebelum kau menjadi anakku kau adalah pangeran negeri ini. Alasan kenapa aku membesarkan dirimu diluar istana agar kau mengerti.

Hwi kemudian membacakan puisi hadiah untuk kakaknya.

Satu bulan bersinar

Satu bulan bersinar di dua tempat di dua tempat,

Dua orang

Dua orang terpisah ribuan mil.

terpisah ribuan mil,

Bersedia mengikuti.

Bersedia mengikuti bayangan bulan ini, bayangan bulan ini.

Malam demi malam cahaya menyinari.

Malam demi malam cahaya menyinari para pria pemberani.

 

Puisi tersebut mengungkapkan kerinduannya pada sang kakak, Ibu Ratu amat terkesan dibuatnya. Ia mengumpamakan perasaan Hwi juga sama seperti hatinya pada Kang. Sambil menunggu dan terus menunggu, Ibu merindukanmu..

Hwi sedih karena tidak bisa memberikan pesta penyambutan semestinya untuk Kang, kalau saja Kang datang di hari yang lebih baik. Kang dengan sombongnya berkata ia belum memasuki istana sesungguhnya, ia baru kembali, namun ia pasti akan menempati tempat dimana ia seharusnya berada. Ia bahkan risih ketika Hwi merangkulnya,

Di luar Yeon Hee, dayang muda membersihkan sepatu Hwi. Hwi marah mendapatinya begitu, karena tahu tangan Yeon Hee sedang sakit, Hwi dengan keras menyuruh Yeon Hee jangan sakit, jangan sedih. Mendengar perintah tersebut nyaris semuanya tersenyum akan kebaikan Hwi. Namun tidak dengan Kang, ia kesal sekali.

Kang berlatih panahan, kemudian Pamannya datang. Pamannya merupakan Kakak ayahnya, Pangeran yang. Beliau mulai mendoktrin pemikiran Kang, alasan kenapa Kang dibesarkan diluar istana karena keberadaannya bisa mengganggu tahta Putera Mahkota, dalam sejarah Joseon putera pertama memang tidak pernah menjadi raja, seperti halnya dirinya tidak menjadi Raja. Kang penasaran kenapa Hwi di istana,

Menurut Pangeran Yang ini karena Hwi itu anak bungsu, ia lebih terkenal sebagai orang jenius dalam sastra dan lukis. Hwi jenius secara linguistik, hebat dalam melukis dan pandai menulis puisi. Pangeran Yang pikir jika Kang dibesarkan dengan cara yang sama tentu bisa lebih hebat ketimbang Hwi.

Hwi, Kang dan para dayang serta kasim kecil bermain petak umpet. Semuanya bergegas bersembunyi, Yeon Hee berjaga dan tidak sengaja menemukan Kang. Ia pikir Kang adalah Hwi, ia meminta maaf.

Kang tersinggung, ia pikir Yeon Hee hanya ingin menemukan Hwi dan menganggap Kang tidak pandai bersembunyi. Yeon Hee memuji Hwi yang pintar bersembunyi,

Mendengarnya membuat Kang makin kesal, Hwi yang pandai apa saja. Ia menyuruh Yeon Hee ke istananya dan mengabdi padanya saja. Yeon Hee tidak mau, ia sudah menjadi pelayan Pangeran Hwi sejak kecil. Ia akan beritahu Kepala Kasim untuk memberikan dayang muda pada Pangeran Kang.

Di tengah perdebatan tersebut ternyata tidak hanya mereka berdua yang tahu. Puncak kemarahan Kang adalah mendorong Yeon Hee yang jelas-jelas tidak mau menjadi pelayannya. Ia membiarkan Yeon Hee kesulitan berenang hingga meninggal.

Setelah diberitahu akhirnya Hwi berlari menuju tempat kejadian, ia menyayangkan kenapa Kang tidak menolongnya. Hwi terjun ke air menyelamatkan Yeon Hee, ia menangis dan menyalahkan Kang yang setidaknya bisa memanggil orang.

Kang beralasan Yeon jatuh sendiri karena kegirangan menemukan Kang tadi.

Hwi masih menangis mengatakan ia tahu dari Gi Teuk tadi,

“Gi Teuk bilang apa? Apa lihat aku mendorongnya?”

Yeon Hee meninggal dan semua anak menangis, yang paling terpukul adalah Hwi. Ia menatap Kang dengan benci.

Pangeran Yang menyambut Kang, Kang langsung menghambur ke pelukannya dan menangis karena ketakutan. Bagaimana kalau ia diusir karena telah mendorong Yeon Hee, ia takut akan dihukum. Apa yang harus aku lakukan?

“Jangan khawatir, siapa yang akan berani menghukum seorang Pangeran?”

Hwi bertanya sekali lagi pada Gi Teuk, apakah benar Kang mendorong Yeon Hee?. Gi Teuk dengan takut-takut membenarkan. Tapi memang tidak ada orang lain, ia terlalu jauh sehingga tidak mendengar percakapan mereka. Tapi kedengarannya Kang ingin Yeon Hee menjadi pelayannya, tapi Yeon Hee tidak mau.

Hwi hendak berganti baju dan menemui kakaknya, ia menyuruh Gi Teuk mengambilkan bajunya. Namun Gi Teuk tak kunjung kembali karena anak itu diculik dua kasim dewasa.

Akhirnya Hwi datang sendiri menemui Pamannya. Pamannya mengancam Hwi untuk bungkam jika ingin menyelamatkan Gi Teuk. Pendam dan lupakan saja.

“Seseorang meninggal..”

Tapi menurut Paman kalaupun diketahui siapa pelakunya, menurutmu siapa yang paling besar terkena dampaknya? Gi Teuk salah satunya.

Gi Teuk dikurung di ruangan jerami.

Hwi hendak menemui Ibunda Ratu, namun mengingat perkataan Pamannya membuat ia mengurungkan diri. Demi menyelamatkan Gi Teuk juga.

Kang pikir puisi Hwi tidak mencerminkan perasaan ibunya. Aku merindukan istana yang tak pernah ku ingat, aku menangis dan membasahi bantalku setiap malam.

Paman memberikan anak busur dan anak panah yang menurutnya bagus untuk Kang dan cukup bagus untuk Kang gunakan di dunia nyata.

Kang khawatir jika ayah dan ibunya mencaritahu kejadian sebelumnya, namun Pangeran Yang memastikan Hwi akan tutup mulut. Yang perlu keponakannya lakukan adalah menjadi kuat dan  memiliki kekuasaan, karena kekuasaan akan menutupi segala kesalahan.

Hwi melemparkan satu bunga ke kolam, mengingat-ingat Yeon semasa hidup. Bagaimana tangan Yeon Hee terluka karena mencoba mengambilkannya buah, selalu ingin memberikan segalanya pada Hwi meski tidak punya apa-apa, tatapannya selalu mengikuti Hwi. Kemanapun ia pergi ia merasakan kehadiran Yeon Hee,

Hei menyesal seharusnya tidak pernah memarahi Yeon Hee, ia harap bisa mengatakannya lebih lembut.

Mulai sekarang ia harap Gi Teuk harus selalu disisinya, ia meminta Gi Teuk melupakan kejadian ini. Apapun yang kakanya lakukan, ia sadar ia masih muda sehingga tidak bisa melindungi Yeon Hee, maka dari itu ia ingin melindungi Gi Teuk mulai sekarang. Tumbuh bersama menjadi lebih kuat.

Hwi sampai dewasa masih suka melemparkan bunga ke kolam dan mengenang Yeon. Ia penasaran bagaimana jika Yeon dewasa, ia tidak bisa membayangkannya.

Disaat itu juga Kang melesatkan anak panahnya dan mengenai bunga di kolam, ia mendekati Hwi yang nampak terkejut.