Divorce – 01

Di ruangan keluarga, TV yang dinyalakan dan Faizal yang asyik menonton sinetron azab. Duduk di karpet dengan Sabina tak jauh darinya sedang memasang wajah serius sembari melihat ponselnya. Sudah semingguan ini Sabina tinggal kembali ke rumah utama, Faizal masih tidak mengerti kenapa kakaknya bercerai dengan Amar. Padahal kisah cinta mereka sudah cukup membuatnya pusing. Ia juga masih dalam masa berkabung karena gadis tuna rungu yang ia jatuh cintai beberapa waktu lalu meninggal karena gagal ginjal. Kesibukan Faizal masih sama, ngeband dan ikut membantu Ikram atau si kembar. Dan ditambah lagi menjadi mata-matanya Amar.

“Kalau benci kenapa masih suka stalking sosial medianya? Munafik deh ini orang satu ini.. ckckck” Faizal melirik kakaknya.

Sabina langsung melemparkan ponsel adiknya, dengan sigap Faizal menangkapnya. Hati-hati karena ini bisa menjadi ponsel kedua yang dirusak kakaknya.

Tanpa sepatah kata kakaknya menuju ke balkon. Faizal hanya bisa mendengus melihat kelakuan aneh Sabina.

“Kalau masih sayang kenapa cerai?! Ini yang gila siapa sih? Sama-sama gengsian jadi orang!” Faizal meneriakinya tapi tetap tidak ada respon apapun dari kakaknya, malah asyik memotret pemandangan awan dan langit sore. Kahfi segera menimpuk kepala Faizal dengan bantal, sebab pria awal dua puluhan ini entah kenapa tidak bisa peka pada kakaknya sendiri. Faizal mengusap-usap kepalanya sembari mengernyit sebal pada Kahfi. Barangkali Sabina sedang ingin sendiri, dia tidak mau diganggu. Membiarkannya begini mungkin cara yang terbaik agar tidak dimusuhi.

“Faizaal! Kamu diem dulu nak.. Abang mau kerja ini.. okay?”

Kemudian Faizal beranjak dari karpet lalu duduk di seberang meja tempat Kahfi sedang merampungkan tulisannya. Faizal merasa aneh pada Kahfi, kenapa seolah tidak khawatir dengan apa yang Amar dan Sabina alami sekarang. Cerai.. semudah itukah hubungan mereka?

“Bang, seriusan deh.. kayaknya Abang ini tau ada yang gak beres sama kakak dan Mas Amar. Tapi apa? Kenapa? Mereka kan saling cinta.. sudah sebulan lho, yakin? Gak mau bagi-bagi rahasia sama aku?”

Kahfi hanya melirik sekilas pada adik sahabatnya ini. Melanjutkan menulis lagi. Sedang dapat ide bagus, tokoh utama yang senang memelihara keong semisal.

“Bukan urusan anak kecil.” Masih fokus menulis.

“Tapi Mas Amar nanyain kakak terus, aku kan gak enak.. tinggal serumah tapi gak tau apa-apa.. cuman bisa jawab, kakak baik.. abis balik kerja langsung ketemuan sama Bang Kahfi, atau kakak lagi ada acara sama temen-temennya, kakak libur di rumah cuman tidur seharian, gak enak aku tuh.. sumpah! Kasihan sama Mas..” Faizal menoleh ke Sabina, kalau-kalau Kakaknya setidaknya melihat ke arahnya ketika nama Amar disebut.

“Zal, gak semua hal perlu kamu ketahui ya sayang~”

Faizal merinding dipanggil sayang, dengan Kang Arip saja dia alergi apalagi Kahfi. Yang ternyata keduanya menaksir satu orang yang sama. Sungguh perseteruan yang hebat! Di kepala Faizal terbayang keduanya beradu romantis atau paling parah di ring tinju. Faizal segera menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran bodohnya itu.

“Tapi.. aku juga harus tau..”

“Faizal…, kamu cukup jadi adek yang nurut saja. Kalau semisal kakakmu pinjem hape buat stalking Amar ya kasih aja. Kalau dia banting toh kamu gak akan rugi, dibelikan lagi kan? Spesifikasi terbaru malahan..”

“Iya sih, tapi.. huf, ya udahlah..” Namun Faizal masih meragukan Kahfi.

“Abang pasti tau sesuatu kan? Ayolah.. kita kenal sudah lama, dan karena ini menyangkut kehidupannya kakakku aku jadi harus tahu!”

Kahfi menghentikan sejenak kegiatannya, mendengus sebal kemudian menopangkan dagu pada kedua tangannya.

“Apa yang ingin kamu ketahui? Besok ikut aku ke resto biasa yang sering kita sambangi kalau weekend.”

“Okeh! Siapa takut!” Faizal bersemangat.

***

Petang itu, keduanya sudah tampak rapi khas anak muda yang suka nongkrong di Sabtu Malam. Kahfi membenarkan letak kacamatanya dan mencari angle yang terbaik untuk selfie dengan Faizal. Faizal tidak mengerti,

“Mari kita memancing keributan, dududududu~”

“Maksudnya?”

“Memancing pangerannya ke sini, apapun yang menyangkut si Sapi pasti Amar langsung datang. Kamu gak inget bagaimana dia jauh-jauh ke Singapura, ke Macau, Taiwan nyari’in kakakmu yang sinting itu?”

“Ckckckck romantis memang..”

Keduanya berpose ceria, Kahfi sengaja meletakkan lokasi alamat sekarang dan caption “Mau bahas-bahas soal Sapi? Yuh ikut!”, menurutnya Amar pasti tahu maksud undangan tersebut dan langsung datang. Amar tentunya tau kalau Kahfi adakalanya memanggil Bi dengan Sapi karena sifatnya yang kadang menurut-nurut susah diatur itu.

“Kita tunggu saja, dalam 30 sampai 1 jam kedepan Amar pasti akan datang kemari”

“Kenapa gak langsung WA aja sih? Amar, ada waktu luang gak? Sini.. kita bahas soal Sabina.. mungkin aku bisa bantu. Kan enak kalau gitu Bang..”

“Alalalah.. basi, aku kan penulis.. nyentrik dikitlah caranya..”

Benar saja Amar datang dan langsung mengedarkan padangannya mencari Kahfi dan Faizal. Faizal terkejut, ternyata yang seperti ini saja bisa membuat Amar datang. Dalam hati Faizal mengatai Amar ini bucin sekali pada kakaknya.

Faizal mengangkat tangan agar Amar langsung menuju ke mejanya. Menyodorinya menu untuk memesan makanan.

Amar duduk berhadapan dengan Faizal dan Kahfi, yang satu adalah adik dari kekasihnya dan satunya sahabat.. meski terkadang Amar pun tidak rela jika Sabina dekat-dekat dengan Kahfi. Bagaimanapun juga dia ini lelaki dan tidak merasa suka jika ada pria lain disini Sabina. Mereka berbasa basi sebentar, tentang cuaca, kemacetan ibukota, serta kasus politik atau isu terhangat yang sedang terjadi. Sampai dimana Kahfi membuka pembicaraan utama mereka, tentang Sabina dan Amar.

“Nah, ini sekaligus buat Faizal yang over negatif mikirnya. Aku bahkan tidak tau kenapa Sabina seperti itu. Setahuku cuman.. kalau dia minta diantarkan ke supermarket atau mall aku siap, diajakin ke toko buku aku ada, Kaf.. ke kafe ini yuk, Kaf.. ada butik baru nih.. temenin ya?, Kaf..  Kaf.. dan Kaf Kaf lainnya, tapi kalau dia kepergok melamun dan aku tanya.. Kenapa Bi? Mikir apa? Jawabannya selalu sama.. gapapa, gapapa Kaf..”

“Lantas?” Tanya Amar.

“Aku sendiri pun juga jengkel, jadi kamu apakan dia sampai minta cerai?” Tuduh Kahfi, Amar menjadi agak tersinggung dibuatnya.

“Maksudnya gimana? Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya bahagia, dia minta pin debit card punyaku pasti ku kasih dengan sukarela. Aku nggak merasa kurang dalam hal apapun untuknya..”

Faizal melongo dibuatnya, Kahfi hanya bisa tersenyum geli.

“Pantes cocok, sama-sama gak waras..” celetuk Faizal.

“Sombong kalee Amar ini yak? Pengen nabok rasanya., lama-lama ngeselin juga mirip Sabina kamu ya.. hahahaha!” Ketiganya tertawa mengingat Sabina.

“Aku serius sekarang, kamu sudah memenuhi kebutuhan emosi dia?”

“Kenapa Abang tiba-tiba nanya’in itu?”

“Hei, aku ini juga Coach kelas cinta tau, lupa apa gimana ini bocah? Seminar aing ada dimana-mana bocah!” Memelototi Faizal.

Amar pernah dengar sekilas dari Sabina dulu dan dipikirnya itu hanya bercanda, tapi tidak menyangka kalau Kahfi benar-benar menjalani profesi sejenis itu.

“Semisal?” Tanya Amar penasaran.

“Kamu juga ngerti kan Mar, angka itu cuman bilangan. Tapi tidak menunjukkan sebenarnya. Nah.. kiasan itu juga cocok buat rumah tangga seumur jagung. Semisal gini, kamu sudah merasa mencukupi dia secara materi, sudah memberikan apa saja. Tapi saraf otak perempuan untuk masalah cinta itu beda sama kita laki-laki, mereka butuh pujian, butuh diajak bercanda, diajak bicara, didengarkan keluh kesah dan ceritanya tanpa disela atau diberi solusi, kamu harus rajin-rajin bilang sayang dan aku cinta kamu setiap harinya, membangun keterikatan emosi.”

“Aku sudah melakukan semuanya.., percayalah. Tanya dia kalau tidak percaya..”

“Tapi kenapa dia minta cerai?” Faizal heran.

Amar hanya mengendikkan bahu pun sama bingungnya. Tapi setelah dengar mereka masih ada kemungkinan rujuk membuatnya sedikit lega.

“Mungkin ada masalah diluar konteks cinta-cinta’an kalian..”

Ketiganya sama-sama tidak bisa menemukan jawabannya apa.

[Cerbung] Light Up the Sky – Part 5

  Sabina sejak meninggalkan Amar terus berpikir. Apakah mungkin Amar menduakannya? Mereka baru menikah berapa lama? Kenapa tega sekali? Ia bukannya impoten, ia hanya keguguran karena terpeleset sisa-sisa air hujan. Apa iya ayah dan ibunya Amar tidak sabaran menantikan cucu sampai menyuruh anak sulungnya menikah lagi? Masuk akal di bagian mananya?. Di perjalanan ia melamun melihat jalanan. Ia tak mau tahu apa yang Amar rasakan saat ini. Kalau Amar mencintainya pasti akan mencari keberadaannya. Itu yang Sabina yakini.

Sampailah dia di kawasan apartemen. Salah satu gedung di sana adalah milik Arip, Arip jarang menghuninya. Sabina kemari tanpa sepengetahuan sepupunya.

Ia membayar ongkos taksi segera, menuju lobi yang lumayan ramai tersebut dan disapa satpam di sana. Pak Joko sudah mengenal Sabina berkat Arip adalah pemilik gedung tempatnya bekerja.

“Mbak Sabina tumben kemari? Pak Arip ada di tempat biasa.”

“Kangen Kang Arip Pak, selama beberapa waktu saya akan tinggal di sini. Kalya sehat Pak? Sudah berapa tahun sekarang? SD kelas 3 ‘ya?”

“Iya Mbak, kapan-kapan saya ajak kemari buat ketemu sama Mbak.”

“Saya ke atas dulu ‘ya Pak. Permisi..”

Sabina menuju ke lift. Kosong, terdengar langkah kaki cepat menahan lift. Menyusul Sabina, Ibram tersenyum kaget melihat Sabina di dalam. Sabina menyapanya sopan. Ibram hendak ke lantai 6 sedangkan Sabina 8.

“Mas Ibram tinggal di sini?”

“Cuma sementara, lebih mudah menemui Arip di sini. Kamu janjian dengan Arip hari ini?”

“Ya, begitulah..”

“Kahfi juga di sini, saya sering lihat dia beberapa kali saat jogging atau di kafetaria. Kapan-kapan kita kumpul bertiga, saya traktir.”

“Kahfi? Kog saya tidak tahu ‘ya?”

Kemudian ponsel Ibram berbunyi. Ia meminta maaf dan mengangkatnya. Pembicaraan bisnis Ibram. Sabina hanya memandangi bayangannya sendiri yang terpantul di lift. Kalau Amar tahu ini pasti ia akan kesal.

Sesampainya di lantai 6 berbunyi. Sabina dan Ibram berpisah.

“Sampai jumpa Sab..”

“Iya Mas.”

Sabina segera mengetikkan pesan ke Kahfi. Kahfi membalas ia ada di lantai 7, apartemennya nomor 704. Sedang menulis bab selanjutnya.

   Sabina memenceti bel apartemen Kahfi dengan kesal. Kahfi membukakan pintu dengan malas-malasan, dengan kaos gombrong dan kacamata khususnya untuk menulis, celana pendek sedengkul, dan sandal jepit. Kahfi mempersilakannya masuk.

Kahfi kemudian kembali duduk di kursinya, meja dengan berserakan banyak kertas serta dua laptop, di belakang pria nyentrik itu terdapat jendela kaca besar menunjukkan hiruk pikuk kendaraan petang ini. Di sisi kiri lengan Kahfi terdapat foto-foto suatu daerah dan 3 gelas cangkir kopi yang sudah kosong. Sabina menatapinya jijik. Kahfi pasti belum mandi selama berhari-hari. Sabina meletakkan tasnya ke sofa, melepaskan sepatunya. Lalu bersila duduk dan menghela napasnya berat. Kahfi menoleh, ruangan itu hanya terisi mereka berdua, Kahfi tidak menyetel musik lagi. Ia topangkan dagunya menatap sobatnya itu. Belum bertanya Sabina sudah bicara duluan.

“Menurutmu kalau orang sejenis Mas Amar selingkuh, masuk akal tidak?”

“Kenapa? Amar selingkuh?”

Sabina beranjak dari duduknya dan menuju meja Kahfi. Mengamati lalu lalang kendaraan petang ini. Kahfi memutar kursinya mengamati Sabina.

“Bukan.., jangan bikin konklusi seenaknya gitu! Pengandaian.”

Kahfi renggangkan bahunya. Menulis berjam-jam baru terasa lelahnya sekarang.

“Premis satu, Amar orangnya serba lurus. Premis dua, memperistri kamu saja susah Sab.., kesimpulannya, lantas kenapa harus selingkuh? Bego’ itu namanya.”

Sabina tak merespon. Kahfi menguap, mengucek matanya sekalian mengelap embun di lensa kacamatanya dengan tisu.

“Kecuali kalau Amar dijebak atau sejenisnya. Betewe aku mau kasih nama tokoh pendukung di bab 6 yang misterius itu, gimana kalau namanya Serafina?”

Sabina sedikit menoleh terkejut.

“Yang belum kamu kasih nama itu? Tapi.. apa’an sih? Kayak nama kucing? Dijebak bagaimana?”

Dengan berapi-api Kahfi menjelaskan.

“Suatu malam. Amar di gang kantornya, diseret beberapa pria asing, digebuki, dihajar, dikarungi lalu buang di kali lalu diseret lagi ke daratan. Kemudian dibius, diminumi obat penenang sejenisnya atau sesuatu yang membuat kesadarannya hilang. Lalu begitulah..”

Sabina mengernyit dibuatnya.

“Ngarang! Tega tau gak khayalanmu Kaf..”

“Namanya juga penulis, kalau tidak tega pada tokoh utamanya, dijamin semua novelku tidak akan laku di pasaran. Ceritanya tidak akan seru. Kadang-kadang kita lambungkan dia dengan segala situasi menyenangkan, lalu jatuhkan ke dasar-dasar jurang paling gelap dan dalam. Setidaknya itu peganganku ketika menulis Bu Editor!”

“Aku bingung Kaf..”

Sabina kembali menatap langit sore dengan mata mulai berair.

Kahfi hanya bisa menggaruk dahinya melihat Sabina seperti ini. Tak ingin bertanya lebih jauh apa yang sedang terjadi. Ia yakin Sabina bisa mengatasinya sendiri.

“Tapi Bi, Kang Arip jarang di apartemen ini ternyata ‘ya? Jarang lihat batang hidungnya meski aku keliling tiap hari.”

Sabina mengusap kedua matanya lalu melihat Kahfi dengan heran.

“Kamu kenapa di sini? Selain karena gedung ini bagus serta letaknya strategis. Jangan bilang mau menguntit Kang Arip? Shafa masih single, sebelum janur kuning melengkung siapa saja berhak memperjuangkannya.”

Kahfi mengerucutkan bibirnya.

“Enak saja! Aku ini fair orangnya. Si tokoh Wafi ‘kan ceritanya tinggal di apartemen elit begini. Jadi aku observasi di sini. Sekali mendayung 4 sampai 10 pulang terlampaui. Ha haha!”

“Kamu sudah nonton film abg yang lagi booming itu? Menurutmu gimana? Norak ‘ya? Ngajarin anak-anak buat rayu-rayuan begitu pas pacaran.”

“Oh, yang banyak gombalannya itu? Ah sudahlah. Aku sih biasa saja, bukan selera Kahfi juga. Tidak begitu tertarik. Lebih suka romance thriller seperti yang kugarap sekarang.”

“Trilogi novel sejenis itu hanya cocok untuk anak ABG. Semua rayuan di dalamnya tidak akan pernah cocok untukku. Aku sih masih fans nomor satu kamu Kaf..”

Kahfi tersanjung, senyumnya mengembang sempurna, menyodorkan tinjunya ke Sabina dan dibalas Sabina dengan tinjunya juga. Kebiasaan keduanya kalau bertemu sejak dulu.

“Aku ke Kang Arip dulu ‘ya?”

Sabina kenakan kembali sepatunya dan menuju lantai 8.

Jika di setiap lantai terdapat kediaman 4 penghuni berbeda. Khusus lantai 8 adalah rumah Arip seorang, dengan interior yang luar biasa menawan berkat tangan dingin Makki, angka favorit Arip delapan. Menurutnya angka delapan sempurna karena tidak pernah putus. Sudah lama Sabina tak kemari, Arip jarang tinggal lama di sini. Siapa tahu Arip sedang pergi, maka Sabina tak perlu menjelaskan apa masalahnya pada Arip.

Sabina mengetahui kode sandinya, ia masukkan dengan mudahnya. Tanpa dia duga Arip sudah melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatapnya tajam. Sabina hanya meringis menatap Kakak sepupunya tersebut. Sudah menduga bahwa Sabina bertengkar lagi dengan Amar.

“Tolong, jangan beritahu Mas Amar.”

“Tidak janji sih..”

Sabina memelas. Arip tak bisa mengatakan tidak pada adik sepupunya ini.

“Sebesar apa pertengkaran kalian sampai kamu tidak mau pulang ke rumah? Aku mau ke luar kota seminggu Neng.. kalau begitu jaga rumahku.”

Arip menepuk bahunya sekilas dan pergi sambil melambaikan tangannya.

Sabina lega, ia sendirian sekarang. Ruang tamu yang luas, dapur di ujung kiri sana. Ada 3 ruang kamar di sini. Sabina menuju ruangan yang selalu jadi kamarnya jika kemari.

Sudah lama tak ia kunjungi, namun ruangannya rutin dibersihkan oleh petugas. Lemarinya juga penuh dengan pakaiannya.

Sabina langsung merebahkan dirinya di kasur. Banyak dirundung masalah hari ini membuat emosinya meluap-luap. Harusnya ia bisa bertanya baik-baik pada Amar tadi. Sayangnya Amar menginterupsi dirinya yang sedang berpikir, otomatis membuat Sabina naik darah.
**

   Amar dan Sabina duduk berdua di kafetaria apartemen ini. Amar terlihat putus asa, Sabina malas menatapinya. Setelah menunjukkan foto, Sabina berharap Amar mengatakan itu bukan dirinya, itu hanya bohongan atau sejenisnya. Namun yang ada Amar justru tertunduk lesu sebentar baru mengutarakan isi dalam pikirannya.

“Jika ini yang kamu inginkan aku bersedia melepaskan kamu Sabina. Jika ini yang terbaik untuk kamu..”

Dalam hati Sabina tak ingin mendengarkan kata-kata itu. Berharap Amar meyakinkannya kembali, sangat wajar hubungan mereka belum sekuat itu. Mereka baru menikah beberapa bulan jika terhitung koma dan amnesianya tidak dianggap.

“Baik.”

Namun entah mengapa Sabina mengiyakan saja.

“Tapi yang perlu kamu ingat. Aku akan tetap menyayangi kamu sampai kapanpun. Aku tidak akan pernah menikah lagi jika bukan dengan kamu sayang.”

Amar terdengar sungguh-sungguh. Dalam hati Sabina memohon, tolong jangan katakan itu?! Aku tidak bisa membayangkan kedepannya akan seperti apa jika bukan kamu.

    Namun entah mengapa tak bisa ia katakan.

“Sebelum aku talak 3 sekaligus. Izinkan aku memeluk kamu Bi, sekali saja sudah cukup. Sampai bertemu di pengadilan.”

   Sabina merasa sebelas bulan berlalu begitu cepat. Ia berjumpa dengan Ibram di salah satu kawasan perumahan. Mereka sedang berjalan-jalan di sekitar sana. Entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya, Sabina tak ingat.

“Maaf kalau saya kurangajar Sab, kamu sudah lewat masa iddah ‘kan? Boleh saya mempersunting kamu?”

Sabina membelalakkan kedua matanya mendengar itu.

“Saya sudah pernah jadi istri orang. Saya bukanlah Sabina yang sama seperti yang Mas Ibram lihat dulu.”

“Tidak masalah. Sekali Sabina tetap Sabina, kamu tidak berkurang satu hal apapun.”

Waktu berjalan begitu cepat, mereka menikah. Sabina keluar dari pekerjaannya sebagai editor dan selalu menemani Ibram pergi bekerja baik di luar kota maupun luar negeri. Orang-orang saling berbisik pada keduanya, mereka pasangan yang serasi.

   Lalu entah mengapa Sabina kini berada di bandara internasional negeri ini. Ia tak ingat pasti kenapa bisa kemari, rasanya ada seseorang yang memanggil-manggilnya keras sekali diantara ribuan lalu lalang manusia ini. Ia kenal suaranya, Mas Amar? Ia-kah?

Ditengah hiruk pikuk manusia yang datang serta pergi tanpa banyak menghiraukan satu sama lain, Sabina berusaha mencari Amar dimana keberadaannya. Tak ada terlihat sama sekali.

Setelah pencarian lama tersebut, sosoknya terlihat dari jarak 10 meter, detik itu juga matanya bersitatap dengan mata Amar. Amar merentangkan kedua tangannya menyambut Sabina, Sabina tanpa ragu berlari menujunya.

Sayangnya itu hanya bunga tidur. Mimpinya terhenti begitu saja bahkan belum sampai ia merasakan dekat dengan Amar, Sabina kebingungan dengan mimpinya barusan. Amar menceraikannya lalu Ibram menikahinya, mimpi absurd macam apa itu? Memikirkannya saja ia tak ingin.
Sabina membuka matanya, entah pukul berapa sekarang, dini hari pikir Sabina. Hawa dingin masih menyeruak menyelimuti ruangan tersebut. Pemandangan pertama yang ia lihat di sisi kirinya adalah wajah Amar yang tersenyum simpul padanya. Sepasang mata hangat yang ia rindukan. Ia pejamkan matanya sekali lagi untuk mengenyahkannya, masih berpikir ini adalah bagian dari mimpi gilanya tadi. Ini hanya halusinasinya, sudah cukup! Namun kedua kalinya ia kerjapkan mata Amar masih di sana. Ini bukan halusinasinya. Pasti Kang Arip yang memberikan kode password apartemennya.

Wajah pria itu tampak lusuh kurang tidur, matanya tak berbinar seperti biasanya, tampak lelah amat sangat. Ada banyak kekhawatiran tak terucap disana. Sabina usap pelipis Amar dengan telapak tangan kirinya, turun ke pipi hingga dagunya. Terasa kasar, suaminya belum cukuran sepagi ini.

“Bi, kamu takkan pernah tahu betapa cantiknya kamu ketika tidur. Terlihat damai dan tenang sekali.”

“Mas Amar tidak tidur?”

Amar menautkan jari jemarinya ke tangan kiri istrinya. Ia genggam lembut lalu hirup aroma Sabina.

“Kenapa aku harus memejamkan mataku ketika impianku sudah di depan mata. Aku hanya berusaha mempertahankan realitas ini sayang..”

“Tidurlah, realitas kita akan tetap aman. Aku tidak mau kamu sakit.”

“Sampai detik ini rasanya masih seperti mimpi Bi.., aku takut jika memejamkan mata kamu akan lenyap. Seperti yang sudah-sudah.”

Mereka terdiam cukup lama, hanya saling memandang selama beberapa menit, saling bicara dengan keheningan. Banyak yang ingin Amar tanyakan pada istrinya, namun ia urungkan. Tak melihat Sabina di rumah rasanya sudah seperti tak melihatnya bertahun-tahun, rindunya bagai menusuk-nusuk dan menghujam jantungnya. Entah mengapa sakit sekali, terasa sesak didada hingga bernapas sangat membebani.

“Masih marah?” Tanya Amar memecah kekosongan.

“Mas, tadi sore ada orang ke kantor mengaku istri sirri kamu, hamil. Ada fotonya juga.”

Sabina ambilkan foto di bawah bantal Amar. Amar memegangi foto itu tertegun.

“Aku tidak tahu ini apa Bi. Demi Allah ini bukan aku.”

“Aku bukannya tidak percaya kamu, aku butuh bukti konkret Mas.”

“Jahat.”

“Mas Amar-ku sayang..”

Amar mendengus mendengarnya dirayu Sabina dengan suara semanja ini.

“Aku kalah kalau kamu sudah pakai acara sayang-sayangan begini. Baiklah, kasih aku waktu beberapa hari maka aku bawakan bukti. Tapi jika terbukti aku tidak salah, kamu harus memanggilku Aa’ paling tidak sebulan!”

“Apa sih? Kog malah ngelunjak? Aa’? Ih jijik.., oke! Cuma satu bulan.”

Sabina bangun dan menarik lengan Amar supaya bangun juga. Amar tersenyum geli dibuatnya. Ia tahu Sabina akan mengajaknya sholat malam. Bukan dua atau empat raka’at saja, biasanya juga sampai batas maksimal raka’atnya. Bagaimana bisa ia menduakannya jika Amar merasa kebaikan begitu dekat dengannya setiap harinya?.

“Mau kemana Bi?”

“Katanya mau ngajakin ke surga. Aku sih ayo aja, tapi kamu tahu jalannya enggak?”

“Oh, nantangin ceritanya?.”

“Itu tahu..”

**

“Aku pinjam baju kamu yang terakhir kali kamu pakai buat umrah Fa..”

“Yang hitam itu? Burkaknya juga? Sabina kamu sehat?”

Shafa menghentikan aktivitas menulisnya, pulpennya sampai terdengar keras membentur meja, mengingat-ingat ia taruh dimana dulu. Sabina menatapinya gemas. Shafa was-was entah apa yang kawannya ini rencanakan.

“Fa, plis.. aku ingin lihat Mas Amar tanpa dia tahu aku dimana.”

“Maksudnya?”

“Kang Ikrom dan Kak Makki hendak ketemuan dengan dia di rumah makan biasa. Pura-puranya aku jadi pelanggan dari arab, dubai kali atau apa kek..”

“Sabina kamu aneh, rumah makan punyamu itu?”

“Sssttt.., punyanya Pak Fikri. Memang punyaku tapi atas namanya Pak Fikri.”

Sabina celingukan ke kanan kiri semoga tak ada yang mendengar.

“Wah, bos besar yang satu ini. Kamu nggak bilang Mas Amar soal kebiasaanmu yang suka buka bisnis tapi pakai nama orang?”

Shafa menuju ke ruangan pribadinya di lantai dua ruangan ini. Keduanya menaiki tangga, Sabina terus bercerita betapa ia tak betah ternyata tidak menjumpai Amar sehari saja. Biasanya pagi ia akan menyiapkan sarapan untuknya, diantarkan ke kantor, saat jam makan siang mereka akan melakukan video-call atau saling mengirim pesan. Pulangnya Sabina dijemput Amar meski perusahaan Amar cukup jauh dari kantornya Sabina. Ia sudah sangat terbiasa dengan keberadaannya Amar, jadi jika pisah diluar rutinitas keseharian mereka tentu ada yang kurang bagi Sabina.

Sabina dan Shafa sampai, Shafa membuka-buka lemarinya. Mencari baju yang Sabina maksudkan.

“Low profile Fa, apalah arti sebuah panggung jikalau pemilik sebenarnya ada si Sabina, aku belum bilang. Pelan-pelan pasti dikasih tahu, siapa yang mengira kejadian nikah sirri ini muncul?”

Shafa menemukan baju yang dimaksud. Ia tempelkan di badan Sabina, tinggi mereka sama jadi Shafa pikir bajunya akan pas tak kepanjangan atau kekecilan untuk Sabina. Sabina pergi ke kamar ganti sebelah, beberapa waktu kemudian ia sudah ganti bajunya. Hanya terlihat matanya saja karena ia mengenakan burkak.

“Sudah. Kira-kira Mas Amar kenal aku tidak kalau seperti ini?”

Shafa menimbang-nimbang. Manggut-manggut sembari tersenyum.

“Hmm, asal kamu jangan bicara sepatah katapun dan jangan menatap mata Mas Amar lebih dari 3 detik.”

Mata? Tentu saja. Amar pasti akan langsung mengenalinya. Sabina lihat wajahnya di cermin.

“Sunglasess kamu mana Fa?”

“Sabina..”

“Duh, jangan cerewet! Kemarikan sekarang!”

“Oke oke. Tapi Sab, masa iya sih Mas Amar nikah lagi? Tidak mungkin, kamu tidak bisa lihat bagaimana perjuangannya dulu?”

Shafa ambilkan di rak kedua di kirinya. Sabina segera memakainya dan bercermin kembali.

“Jujur aku tidak percaya. Tapi siapa yang tahu? Laki-laki tetap laki-laki.., harimau di kebun binatang yang jinak sekalipun hari ini manja dengan keepernya tapi hari lain kalau kelaparan pasti buas.”

“Mas Amar itu manusia.”

Sabina berputar-putar dan merentang rentangkan tangannya.

“Pantes?”

“Iya, persis dementor.”