​[C-Movie] 20 Once Again – Part 4


   Lijun tidak percaya. Mana ada orang jahat mengaku?. Tan Ziming mengatakan ia bekerja di studio rekaman. Ketika Lijun hendak pergi ia mencoba menahannya justru membuat kancing paling atas kemeja Lijun lepas.


Lijun langsung pura-pura menangis. “Tolong! Pelecehan!”

Tan Ziming langsung dikerubungi banyak orang.

“Orang mesum di siang bolong! Tangkap dia!”

Lijun melenggang pergi dengan santai. Ia bahkan melambaikan tangannya pada Tan Ziming.


   Bel rumah berbunyi. Qianjin berlari menuruni tangga dengan antusias, ia bahkan merapikan rambutnya lagi di cermin.. baru ia bukakan pintunya. Xiang Xinran heran siapa sebenarnya tamu pentingnya Qianjin sampai sebegitunya cerianya?

Pintu dibukakan. Dia adalah Lijun, membawakan semangka untuk Qianjin.

“Bagaimana kau tahu aku suka semangka?” (Karena dia nenekmu.. hahahaha)


“Bu, temanku datang ke rumah..”

Yangqin langsung tersenyum menyapanya. Lijun langsung heran, bergumam menantunya tidak sakit. Sehat-sehat saja.

“Hah?” Menantunya bingung. 

“Tante. Maksudku kau terlihat bercahaya”

“Terimakasih. Siapa sangka Qianjin memiliki teman secantikmu”

Xinran sebal. Siapa dokter bedah plastikmu?. Qianjin langsung memberikan semangka ke Xinran. 

Qianjin meminta Lijun jangan memasukkannya ke dalam hati. Xinran begitu meniru neneknya, Yangqin juga membenarnya Xinran mirip neneknya.


Qianjin mengajak Lijun ke lantai dua, kamarnya Qianjin di lantai 3. Lijun beralasan ia agak haus dan minta dibawakan minuman.

Qianjin lalu turun mengambilkan. Sementara Qianjin pergi ia pun langsung mengambili barang-barang di kamarnya.


Qianjin datang tepat disaat neneknya sudah selesai mengambili barang-barangnya. Qianjin mengajak Lijun ke kamarnya.

“Tidak! Ke ruang tamu saja.”

Xinran mengomentari Qianjin. Seusianya mengajak seorang gadis ke kamar? Hahahaha. Xinran tertawa sendiri karenanya. 


“Jangan makan kebanyakan!” Ujar Lijun ketus. Qianjin juga ikut-ikutan

“Jangan makan kebanyakan!”

Keduanya turun. 


Ketika makan malam. Jelas sekali terlihat Lijun tidak menyukai semua masakan menantunyan, ia juga mencoba sup dan langsung melepehkannya. Yangqin mengamatinya sejak tadi, 

Lijun langsung berkomentar masakannya enak.

“Enak apanya? Beraktinglah lebih baik lagi!” Xinran kesal

“Xiang Xinran! Dimana sopan santunmu?” bentak Qianjin.


“Kau ingin berakting juga?” Xinran tak mau kalah. Yangqin menyikut puterinya untuk diam.

“Apa masalahnya? Apa tidak sesuai seleramu?” Tanya Yangqin. Lijun mengaduk-aduk supnya, persis ia katakan sebelumnya dalam wujud nenek Shen Mengjun. Kata neneknya Lijun.. Jenis ikan ini harus digoreng dulu sebelum disup, maka kuahnya akan jernih dan rasanya lebih meresap. 

“Iya. Benar..” kata Yangqin 

“Lihat Bu, Lijun sangat berpengetahuan.” Qianjin bangga.


Yang paling aneh adalah ketika Lijun menanyakan dimana ayah anak-anak? Jam segini belum pulang.

Xinran kesal, temannya Qianjin ini banyak mengeluh. Kalau terus berlanjut.. lama-lama Qianjin akan pulang membawa cucu.

Guobin pulang. Lijun antusias menyambutnya, lupa bahwa sekarang wujudnya adalah Mengjun muda. Keempatnya syok melihat reaksi Lijun. 

Lijun lalu beralasan menanyakan dimana kamar mandi. Qianjin menunjukkannya. 

“Siapa dia?” Tanya Guobin

“Vokalis baru band kami.”

Yangqin bertanya ada masalah apa?. Guobin bilang tidak ada. Yangqin menyuruhnya makan, sudah ia masakkan. Guobin hendak ganti baju dulu, ketika mencopoti sepatunya ia melihat foto keluarganya. Terlihat merindukan ibunya.

Sementara itu ibunya mengintip melihat Guobin. Juga merindukan anaknya.


   Kakek Li beserta Guobin ke kantor polisi. Dari cctv yang ada, mereka menyimpulkan kemungkinan penculikan, penculiknya pasti berpengalaman. Menutupi cctv dengan payung. Apa nenek shen memperlakukan orang lain dengan buruk? Bisa jadi penculiknya adalah orang terdekat. 

Guobin pikir ibunya memperlakukan semua orang dengan sangat baik.


Lijun berangkat audisi. Kakek Li sudah curiga dengan payung yang sering Lijun gunakan. Sementara Lijun pergi ia pun menggeledah kamar penyewanya itu.


Lijun dan bandnya tampil. Namun Lijun seketika kaget melihat Tan Ziming masuk ke ruangan. Ia segera berbalik, Qianji meski tak tahu apa maksudnya.. ikut-ikutan berbalik.

“Berhenti. Berhenti!”

Tan Ziming mendekati Lijun. Qianjin tak merasa asing.


Lijun meminta maaf atas kejadian sebelumnya. Kau tidak apa-apa ‘kan?

“Aku baik-baik saja.”

Qianjin tak menyangka keduanya sudah mengenal satu sama lain. Tan Ziming menjelaskan minggu depan ada festival musik, live house dan band mereka diajak tampil di pembukaan. Akan disiarkan langsung di tv serta web. 

“Aku bertanya apa kalian bersedia bergabung?”

“Tentu saja kami mau.”

Cindy kesal, ia sudah mengirimkan daftar bandnya. Tan Ziming tak mau tau, Cindy harus mengaturnya.


Setelah Cindy dan Tan Ziming pergi. Lijun menyarankan kontraknya dibaca terlebih dahulu sebelum ditandatangani. Qianjin pikir setelah ini mereka bisa merilis album baru.

Lijun girang, ia bertepuk tangan dan mencium pipi Qianjin sebagai nenek. 

Namun dimata ketiganya tentu itu bukan ciuman seorang nenek ke cucunya. (Hahahaha)

Si drummer menyodorkan pipinya ingin dicium juga. 


Lijun pulang. Lampunya mati, dibiarkan gelap gulita. Lijun heran mengapa sepatu bututnya ada di bawah.. rupanya Kakek Li sudah memegang stik golf untuk menyerang Lijun sejak tadi.


Lantas justru Kakek Li yang diikat oleh Lijun. Ia marahi. Kakek Li beranggapan Mengjun diculik oleh Lijun.

Lijun asal menyeletuk, ia bunuh Mengjun lalu buang ke sungai, jadi makanan ikan.

Lijun keluar. Kakek Li meraung-raung, ia tidak bisa hidup tanpa Mengjun. Bunuh saja dirinya sekalian! Ia ingin bersama Mengjun.


Lijun kembali lagi bertanya, memangnya apa bagusnya nenek nenek satu itu?.

Kakeki membelanya, Mengjun itu baik orangnya. Ketika muda ia sangat cantik dan manis, Li Dahai saat remaja sempat bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga Mengjun. Meski ia pelayan.. Mengjun tak pernah sekalipun merendahkannya. Mau sesulit apapun Li Dahai menjalani kehidupan, selama mengingati Mengjun ia mampu bertahan menjalaninya.

Jika saja bukan karena pendaftaran militer, Li Dahai yakin bisa bersama Mengjun.

Mengjun lalu duduk di sebelahnya. Jika memang Li Dahai sangat mencintainya, mengapa tidak bisa mengenali Lijun?. Kakek Li heran apa maksudnya. Lijun berusaha manis. Tapi Li Dahai lebih memilih dibunuh saja.

Lijun kesal. Lalu ia mencoba lagi, dia pegangi dua rambutnya seperti dikuncir. Barulah Li Dahai ingat.


Lijun jadi muda secara ajaib. Li Dahai jadi iri dibuatnya. Lijun bercerita kalau minggu depan tampil di tv, karena Qianjin terus memohon untuk ikut. Li Dahai pikir dengan keadaan Mengjun yang sekarang seharusnya tak perlu mengkhawatirkan Qianjin cucunya.

Lijun bilang sebenarnya ia bernyanyi bukan hanya demi Qianjin. Ini merupakan cita-cita masa mudanya dulu yang tak pernah kesampaian karena keadaan. Sekarang ia memanfaatkan ini demi dirinya juga.

Li Dahai pikir Lijun bisa saja seterkenal Teresa Teng dulu. Li Dahai menyentuh pipi Lijun dengan jarinya. Lijun kesal, jangan pegang-pegang! 

Foto Mengjun muda terkena air dan basah. 

“Orangnya ada di sini.. apa gunanya foto?”

Lijun menyuapinya kuaci. Li Dahai senang bukan main.


Nenek Chen terkejut melihat kemesraan keduanya dari jauh.


Li Dahai bingung bagaimana menjelaskan keberadaan Mengjun ke Guobin dan Yangqin. Guobin tidak sabar, ini mengenai ibunya.

“Ibumu itu seperti angin. Kadang-kadang disini, sebentar pergi.”

Sebelumnya Lijun sudah mendikte Li Dahai, Nenek Shen ingin merasakan gaya hidup yang berbeda. Di masa lalu ia menjalani kehidupan demi orang lain.


Mengjun berpesan agar Guobin menghilangkan pembekuan kartu kreditnya. Anaknya Kakek Li melihat Lijun sedang menguping, ia heran. 


Li Dahai permintaannya makin melunjak. Ia menyerahkan sesuatu ke Guobin, soal Guobin yang ingin mengirim ibunya ke panti jompo. Tak perlu, Li Dahai dan Shen Mengjun bisa hidup bersama secara sah dimata hukum. Di rumah ini

Lijun segera berlari mencegatinya. Anaknya Li Dahai juga sama. Guobin syok, kau ingin menikahi ibuku?.

Anaknya Li Dahai tidak terima, Mengjun apalagi. Ini keinginan sepihak, tidak boleh!.

Karena semuanya bertengkar, Lijun kalah ketika ditanya memangnya kau siapa ikut campur?

“Aku… penyewa.” Lijun pergi begitu saja.


Nenek Chen mengambilkan puding yang sudah diberi label ke anaknya Li Dahai. Nenek Chen rasa sudah memusingkan menghadapi Shen Mengjun, sekarang ditambahi Lijun. 

Ia pikir Lijun sengaja mendekati Li Dahai. Anaknya tak habis pikir, masuk akal dimananya ayahnya yang sudah tua itu dengan Lijun?. Nenek Chen pikir Lijun itu hendak mengambil rumahnya. Harganya pasti jutaan.


Pemilik pudingnya kesal, siapa yang memakan pudingnya?. Keduanya pura-pura tidak paham.


Lijun hendak pergi. Li Dahai menawarinya tumpangan. 

“Li Dahai. Kau sudah gila?! Berapa usiamu?”

“Untukmu” Lijun diberi bunga. Mereka lalu berkendara.


Anaknya syok berat melihat keduanya seperti hendak kencan. Hahhahaha


Laju motornya bahkan tak lebih cepat dari kayuhan sepeda segerombolan nenek-nenek yang merumpikan sayuran. Hahahaha


Lijun menyanyikan lagu ciptaan Qianjin cucunya. Para juri menilai lagunya parah. Bertanya siapa yang merekomendasikannya? Cindy menunjuk Bos Tan. 

Tan Ziming sendiri juga tampak tak puas.


Qianjin mulai putus asa. Bagaimana kalau berhenti saja. Ia tak mau bermusik hanya demi uang seperti band di luaran sana. 

Basisnya mengingatkan Qianjin. Melakukan ini itu juga memerlukan uang.

​[C-Movie] 20 Once Again – Part 3

   Ketika ditanyai namanya siapa. Mengjun mengatakan namanya Meng Lijun. Kakek Li jadi teringat Nenek Shen suka sekali pada Teresa Teng dulu.

Anaknya mengingatkan bahwa Bibi Shen pasti baik-baik saja sekarang. Lijun kemudian naik ke atas meninggalkan keduanya.

   Lijun meninggalkan kertas di rumah. Ia sempat berpapasan dengan Guobin anaknya. Yangqin dan Guobin heran darimana datangnya surat ini? Keduanya mengedarkan pandangan namun tak ada siapapun.

Yangqin, jangan lupa minum obatmu. Aku akan menjadi orang yang pergi dari rumah. 

Guobin kebingungan, namun Guobin tersenyum tahu ibunya baik-baik saja. Yangqin kembali ke dalam. Nenek Shen menuliskan ia baik-baik saja dan tak perlu khawatir. 

  Kakek Li bermain mahjong dengan Nenek Chen juga. Lijun memperhatikan ubinnya sambil makan kuaci. Ia juga ikut mengatur ubinnya Kakek Li. Kakek Li dihubungi oleh Qianjin, ia tak jadi main. Lijun akan menggantikannya, ia mengaku sebagai penyewa tempat tinggal Kakek Li Dahai. 

Lijun senang sekali bisa memperolok Nenek Chen dengan memanggilnya nenek sementara dengan yang lain ia panggil kakak. Nenek Chen sampai kesal dibuatnya, 

Lijun menang terus.

Tan Ziming dan Cindy menyaksikan pertunjukan musisi jalanan. Cindy masih berusaha mencari tahu selera yang Bosnya inginkan.

Hujan turun. Keduanya menuju ke pelataran pusat lansia untuk berteduh. Cindy masih berusaha membujuk Tan Ziming. Orang terakhir yang audisi dengan mereka sebelumnya lumayan bagus. Bos tidak bisa menuntut orang langsung sempurna seperti keinginannya, tak ada yang lahir langsung menjadi musisi handal. Cindy harap Tan Ziming bisa mempertimbangkan bakat-bakat muda.

Nenek Chen kesal dipermainkan Lijun. Ia daripada rugi bandar lebih baik berhenti main saja. Ia lalu naik ke panggung untuk bernyanyi.

Qianjin barusan dari kantor polisi. Melaporkan neneknya yang menghilang. Polisi mengatakan kasusnya tidak bisa diproses karena neneknya pergi atas kehendak sendiri.

Nenek Chen hendak bernyanyi. Yang membikin syok adalah, ia mendedikasikan lagunya untuk Li Dahai. Kakek Li sampai syok dibuatnya. “Jangan!”

Qianjin geli melihatnya.

Lagu dinyanyikan. Lijun muak mendengar nyanyian Nenek Chen yang fales. Ia ambil mikrofon di kursi dan memotong nyanyiannya. Naik ke panggung. Mic Lijun dimatikan Nenek Chen.

Lijun gantian mencabut kabel Nenek Chen. Mereka berebut mikrofon. Penonton serempat menutuo kuping saat keduanya berteriak-teriak. Akhirnya Nenek Chen mengalah turun, lagipula sejak tadi dia disoraki untuk turun.

Lijun menyanyi dengan merdu sekali. Tan Ziming dan Cindy ikut menyaksikan. 

Kakek Li dan Qianjin juga terpana melihat Lijun bernyanyi.

Mempesona sekali hingga Tan Ziming tersenyum bangga melihatnya, ini yang dia cari selama ini. Qianjin tak bisa berkata-kata saking bagusnya.

Qianjin menanyakan siapa dia ke Kakek Li. Kakek Li menjawab itu adalah penyewa rumahnya. Lijun melihat cucunya di sini, merasa takut ia memilih kabur. 

Tan Ziming berusaha memperkenalkan dirinya. Qianjin juga hendak menahannya.

Lijun dan Kakek Li menonton tayangan puteri Huanzhu. Lijun merendam kakinya dengan air hangat. Keduanya mengobrolkan jalan ceritanya.

Qianjin datang hendak menanyakan tentang gadis yang bernyanyi tadi di pusat lansia. 

Melihat Lijun, Qianjin langsung tersipu-sipu. (Eh sumpah.. di bagian ini Qianjin kelihatan malu grogi campur jadi satu. Imut.. lucu..:D)

Sedangkan neneknya sudah was-was jika cucunya salah paham padanya. 

“Kenapa?”

Kakek Li bertanya. Qianjin bilang ia hanya mencarinya.

Neneknya masih was-was “Untuk apa?”

Qianjin menjawabnya agak lama. Masih dengan muka tersipu-sipunya. Qianjin mengambil duduk dekat Neneknya.

Neneknya sudah memikirkan yang tidak-tidak.. bagaimana kalau Qianjin naksir padanya. Karena Qianjin lama sekali mengutarakan niatannya..

Lijun jadi makin khawatir. 

“Kalian saudara sedarah. Tidak boleh tertarik satu sama lain..”

Kakek Li mengomentari acara tv.

Lijun berdiri karena kesal. Siapa juga yang tertarik pada Qianjin?. Salah paham wkwk

Qianjin ingin bicara serius dengan Lijun.

Mereka minum bersama. Muka neneknya masih masam sejak tadi. “Kau Lijun ‘kan?”

“Iya” jawab neneknya ketus

“Sudah lama sejak terakhir kali minum dengan laki-laki.” Tebak Qianjin. Neneknya mengiyakan lagi. 

“Kenapa kau menundukkan kepalamu terus? Apa aku semenakutkan itu?”

Tanya Qianjin. Neneknya langsung menatapnya. Justru Qianjin yang jadi grogi, ia minum segelas untuk membuatnya lebih berani.

“Sebenarnya.. sejak pertama kali bertemu.. kau memberikan perasaan istimewa.” Kata Qianjin

“Perasaab istimewa seperti apa?” Neneknya ketus. Qianjin kesulitan mengutarakan kata-katanya.

“Aku.. aku punya permintaan. Tapi aku takut.. kalau aku mengatakannya kau akan menolak.”

“Jangan katakan!”

“Tidak bisa! Aku harus bertanya..”

Mereka berdebat begitu terus.

“Kubilang jangan katakan!”

“Aku ingin bertanya bisakah kita..”

Belum selesai Lijun sudah memotongnya. Tidak mungkin bisa mereka menjadi pasangan! Tidak akan pernah bisa jadi pasangan! Tidak mungkin bisa!

Ia beranjak dari duduknya. Karena gebrakan meja dan teriakannya mengundabg perhatian. Lijun balas menyentaki mereka “Bukan urusan kalian!”

Qianjin meluruskan. Ia ingin menjadikan Lijun sebagai vokalis bandnya. Vokalis lamanya berhenti. Lijun beralasan keluarganya takkan mendukungnya ikut band.

Giliran Qianjin bercerita. Keluarganya juga tidak mendukungnya, hanya neneknya yang mendukung Qianjin. Sayangnya nenek pergi dari rumah dan sekarang entah berada dimana.

Iba melihat cucunya bersedih. Lijun mengalah, ia bersedia menjadi vokalis bandnya. Ia memberikan kupasan udangnya ke Qianjin untuk dimakan. Qianjin tersentuh dibuatnya.

Hari lainnya Qianjin menunjukkan bandnya pada Lijun. Yang ada Lijun terkena gangguan pendengaran karena diteriaki begitu, yang katanya Qianjin adalah musik rok.

“Kau ini.. menyeret seorang gadis kemari. Berteriak dan meratap.”

“Ini rock n roll”

“Roll apanya. Kau berguling-guling dimana?” (Hahahahaha)

Lijun juga berkomentar pada anggota lain. Yang satunya cuma ber ah oh saja. Yang satunya set drumnya kebanyakan. Bagaimana caranya membawa kemari?

Lijun tidak mau menjadi vokalis mereka. Namun ketiganya bertanya apa jenis musik yang suka Lijun nyanyikan? Mereka bersedia menurutinya.

Lijun diminta menyanyikannya. Lijun bilang ia terpikirkan satu lagu yang cukup up beat menurutnya. Namun setelah ia lantunkan malah membuat ketiganya heran. Lagu lawas sekali.

Mereka melakukan pertunjukan dan dapat respon yang bagus. 


Lijun membawa ketiga cucu ke salon dan membenahi penampilan mereka.

Mereka kemudian makan bersama. Si drummer hendak memesankan makanan paling mahal di sini untuk Lijun, si nenek melarangnya. Makanan di sini mahal-mahal tidak usah.

Dulu ketika pertama kali dibuka.. restoran ini sangat ramai, menyediakan porsi banyak serta murah. Semakin lama harganya naik hingga sepi pengunjung. 

Ketiganya heran. Dari mana Lijun paham? Pertama kali dibuka restoran ini adalah 50 tahun lalu. Untuk mengalihkan perhatian Lijun mengajak ketiganya bersulang.
   Tan Ziming berkendara dekat pasar. Ia tanpa sengaja melihat Lijun sedang menawar harga. Lijun mencoba makanan ringan dan  bertanya harganya. 

Karena terus mencicipi tanpa terlihat ingin membeli. Iapun dimarahi penjualnya. Lijun minggir dan menggerutu, bagaimana bisa ia beli tanpa sampel?

  Di dekat pedagang buah semangka. Lijun menawarkan diri menggendong si bayi sementara ibunya mengambil uang. Tan Ziming mengikutinya sejak tadi.

Melihat Lijun yang masih muda luwes sekali menggendong bayi membuat Tan Ziming tertarik. Bayinya terus menangis, Lijun menanyakan apakah si ibu membawakan dot susunya?

Lijun juga mengomentari bayinya harusnya dipakaikan pakaian yang lebih hangat, pakai kaos kaki juga. Nenek si bayi juga ikut-ikutan mengomeli, tadi sudah ia ingatkan tapi ibu si bayi tak mau dengar.

Si ibu mulai tidak nyaman. Ia ambil lagi anaknya. Lijun lihat susu di dot cair, apa ini ASI atau susu formula? Neneknya menjawab itu ASI meski membuat cucunya diare.

Lijun berkomentar dengan ASI yang kental bayi akan kenyang, tumbuh sehat dan berkulit putih.

Si nenek juga ngomel-ngomel. Anaknya ini memang susah dinasehati, setelah melahirkan tidak mau makan ini itu. ASI nya jadi encer tidak berkualitas karena ibunya kurus kurang gizi begini. Pasti perawatan pasca melahirkannya buruk sekali.

Lijun iba melihat bayinya menangis. Adik kecil.. kau menangis ya karena lapar, susunya encer dan membikin diare. 

Ibunya tersinggung. Anak muda seperti Lijun kenapa bicara soal ASI berkualitas? Memangnya hanya ASI miliknya Lijun berkualitas? Kalau begitu kenapa tidak susui anakmu sendiri!

Tan Ziming tertawa geli menonton sejak tadi.  

Ibu bayi dan neneknya pergi. 

Lijun kesal, tentu saja ASI-nya berkualitas. Ia membesarkan seorang dosen.

Tan Ziming mendekati Lijun yang berjalan menjauh. 

“Hai, Nona. Kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Dimana?”

Tan Ziming mengatakan dia pernah bertemu Lijun sebelumnya, mungkin Lijun tak ingat. Bagaimana kalau kita cari tempat untuk mengobrol?

“Kau berasal dari era mana? Masih menggunakan trik semacam itu. Duduk dan mengobrol. Mengapa kau tidak langsung bertanya mengajakku ke kamar hotel?”

“Sebenarnya sejak tadi aku memperhatikanmu.”

Lijun makin salah sangka. Ia menodongkan lobak ke Tan Ziming.

“Apa yang kau inginkan?!”

“Aku bukan orang jahat..”