​[C-Movie] 20 Once Again – Part 2

Akhirnya Xiaomei mengusir anggota bandnya. Ketiganya memohon diampuni Xiaomei, tidak akan begitu lagi. Xiaomei mengunci ruangan tersebut.

Set drum milik drummernya masih ada di dalam. Xiaomei tak mau ambil pusing, ia sudah terlanjur  marah. Dia tendang drumnya hingga jatuh ke tangga. Lalu pergi begitu saja.

Nenek Shen pulang ke rumah. Melihat rumah tak beres membuatnya kesal. Ia memanggili menantunya. Tak ada respon. Menantunya dibawa ke rumah sakit dengan ambulance.

Guobin, Xinran, dan Qianjin datang.

Guobin bertanya bagaimana keadaannya Yangqin sekarang? Sudah baikan? Ingin minum?.

“Ibu..” katanya lirih.

Nenek Shen salah sangka, ia pikir Yangqin ingij berbicara dengannya. Guobin mengingatkan, maksud Yangqin.. ia ingin Nenek Shen menunggu di luar. Terpaksa Nenek Shen keluar.

Dokter mengatakan Yangqin baik-baik saja, perlu melakukan diet sehat dan menjaga kondisi psikisnya jangan stres. Guobin tampak berpikir setelahnya.

Guobin mendiskusikannya dengan si kembar. Keputusan mengeluarkan Nenek Shen dari rumah memang sulit. Disini Xinran sangat setuju jika Nenek ditempatkan di panti jompo sementara waktu, kondisi ibu memburuk karena Nenek.

Qianjin membela Neneknya. Ia tak mau melakukan hal tersebut. Sementara itu Guobin berpikir keras.

Xinran bilang sekarang panti jompo bagus. Makanannya enak-enak dan nyaman. Ia harap ayahnya mau menerima usulnya. Sedangkan Qianjin tidak terima. Kalau memang nyaman kenapa kau tidak tinggal saja di sana?. Ayah, bayangkan dia akan mengirimku ke sana suatu saat nanti. Keduanya saling lempar bantal.

Nenek Shen mendengarkan pembicaraan mereka. Ia melintas dan terlihat oleh ketiganya, Guobin merasa tidak enak.

“Ibu, kau disini? Sebentar lagi putri Huanzhu tayang. Biar aku hidupkan tv-nya.”

Nenek Shen berlalu tanpa menanggapi.

“Nenek.. Nenek..” Qianjin hendak menyusul Neneknya. Namun ditahan ayahnya, biarkan Nenek sendirian.

Nenek Shen menceritakan permasalahannya ke Kakek Li. Kakek Li sedih mengetahuinya, ia bahkan berkaca-kaca. Nenek Shen menenangkannya, tempatnya satu jam an dari sini dan Kakek Li bisa mengunjunginya kapan saja.

Nenek Shen makan malam bersama Guobin dan Xinran. Ia mengupasi udang untuk diberikan ke Guobin dan Xinran. Guobin memintanya berhenti mengupas, ia juga memberikan daging ke ibunya.

Guobin dengan canggung mengatakan, ia janji setelah Yangqin baikan pasti akan menjemput ibunya.

“Baik-baiklah padanya. Lain kali jangan salahkan aku.”

Nenek Shen enggan ikut mobil Guobin. Ia beralasan ingin jalan-jalan serta mengunjungi Kakek Li Dahai. Guobin memaksa ingin mengantarkannya. Tetapi Nenek Shen menolak. Akhirnya Guobin melajukan mobilnya, Xiang    Xinran masih fokus dengan ponselnya. Mengangkat telapak tangannya tanpa menatap Neneknya.

Nenek Shen berjalan dengan sedih. Dia melamun di halte. Kemudian menerima panggilan Qianjin. Qianjin tadi tidak ikut makan malam bersama karena malas  dengan ayah serta Xinran.

Nenek Shen menduga Qianjin belum makan malam. Ia akan mentraktir Qianjin dengan teman-temannya. Qianjin diminta menunggunya.

Nenek Shen heran melihat studio foto yang secara tiba-tiba ada di sana, di etalasenya dipajang foto para lansia, sebelumnya tak pernah ia tahu terdapat studio tersebut. Ia memasukinya, takzim betapa besar dan luasnya tempat tersebut.

Ia disambut fotografernya. Ia kemudian bersiap berfoto, masih merasa heran karena tiap hari melintasi jalan ini namun tak menyadari ada studio foto ini. Ia tak pernah foto di studio sebelumnya.

Ia harap hasil fotonya bagus, sehingga keluarganya bisa menggunakannya sebagai foto pemakamannya. Memberikan kenangan pada mereka. Sewaktu muda ia sangat menyukai Teresa Teng. Ia ingin fotonya seperti beliau.

Fotografer memberikan aba-aba untuk lihat kamera. Bayangkan dirimu berada dalam puncak kecantikanmu.

Dengan terenyuh Nenek Shen mengingat kembali memori masa silam. Ketika muda ia membiarkan waktunya berlalu begitu saja. Bukan karena ia yang menginginkannya, namun keadaan memaksanya.

Nenek Shen keluar dari studio foto. Ia secara ajaib berubah menjadi muda kembali, ketika ia sangat cantik dan masih gesit. Ia dihubungi Qianjin bertanya Neneknya sudah sampai mana?

Neneknya bilang akan bergegas ke sana. Setelahnya Qianjin bingung,ada yang aneh dengan neneknya.. suara sedikit berubah. Teman-temannya sudah kelaparan sejak tadi.

Nenek Shen mengejar bus. Ia masih belum menyadari perubahannya. Dua orang pemuda tertarik melihat kecantikan Nenek Shen. Nenek Shen tadi buru-buru masuk dan tanpa sengaja menginjak kaki salah satunya.

Keduanya menggodanya. Nenek Shen berpikir ia hendak diperas. Nenek Shen akan dimaafkan, asal bersedia menciumnya. Nenek Shen mengiyakannya saja. Menyuruh pemuda itu lebih dekat lagi, lagi, lagi.. lalu menggamparnya.

Kesal dipermainkan, berani-beraninya bercanda dengan wanita tua. Bagaimana jika itu nenekmu?!. Kau pikir usiaku berapa?!

**

Nenek Shen menjewernya. Ia langsung syok melihat ke jendela. Wajahnya muda sekali.

Pemuda tadi langsung menebak-nebak umurnya barangkali 20, 19, 18?

“Kyaaaaaa!!”

Nenek Shen menjewer kupingnya keras sambil berteriak syok.

“18? 17?” Yang dijewer terus mengurangi jumlah umurnya.

Qianjin dan temannya masih menunggu Nenek Shen. Heran ponselnya mati. Temannya Qianjin mengajak makan saja dulu, nanti Nenek Shen akan menyusul.

Nenek Shen kembali mencari studio tadi. Tapi tidak ada, lenyap. Malah dia ditawari melihat-lihat sekalian mencoba.

Nenek Shen geram dibuatnya, apa maksudmu? Bicara seperti itu pada wanita tua sepertiku?!

Nenek Shen sudah memikirkan yang tidak-tidak. Xinran dan Qianjin berebut siapa yang berhak menempati kamar nenek. Yangqin datang menyuruh mereka jangan bertengkar, akhirnya ia terbebas dari mertuanya.. Yangqin bahagia sekali.

Pertama-tama mari keluarkan barang-barangnya. Guobin memarahi semuanya yang ribut. Ia bilang telah memikirkan kamar Nenek lama.. akan Guobin jadikan ruang belajar baru. Semuanya bersorai senang.

Mimpi buruk. Nenek Shen terbangun dari tidurnya. Ia masih belum percaya ini adalah kenyataan. Ia duduk melihat para lansia senam pagi.

Guobin mengira ibunya merajuk dan menginap di tempatnya Paman Li Dahai. Paman Li khawatir, ibunya Guobin benar-benar tidak ada di sini. Ia takut kalau Mengjun terjatuh di suatu tempat, Guobin harus menghubungi polisi untuk menemukannya. Guobin bilang kalau menghilangnya baru sebentar polisi tak langsung bisa memprosesnya.

Anaknya Kakek Li langsung menyahut. Mana mungkin.. fisiknya Bibi Shen itu kuat dan mentalnya sehat.

“Bagaimana kalau dia tertabrak mobil? Bagaimana kalau diculik?” Kakek Li khawatir sekali.

“Jangan berspekulasi macam-macam..”

Bahkan jika Mengjun diculik ia rela menjual rumahnya sebagai tebusan. Anaknya tidak terima, bagaimana dengannya jika rumah ini dijual? Lebih penting mana ia dengan Bibi Shen?

“Tentu saja dia!”

Anaknya kesal sekali. Harusnya ayahnya memihaknya, malah membela Bibi Shen.

“Berhenti. Cari suami sana!”

Sedangkan itu Mengjun ikut senam dengan yang lain. Kemudian dia pergi ke salon, berbelanja baju. 

Dan mempercantik dirinya sesuai dengan tren masa mudanya dulu. 

Retro retro hahaha

Ia akan menyewa ruangan di rumah Kakek Li Dahai. Anaknya memahal-mahalkan harga. Mengjun tidak bisa dibodohi, ia akan pindah hari ini dan meminta lemari kaca peninggalan istrinya Li Dahai ditaruh ke kamarnya.

Mengjun berbohong ketika ditanya apa mereka pernah bertemu sebelumnya?. Ia bilang tinggal dekat dekat sini dulu, makanya sedikit tahu.

Kakek Li datang. Mengjun tak berani melihatnya, takut Li Dahai mengenalinya. Anaknya memberitahukan bahwa gadis ini hendak menyewa ruangan di atas.

​[C-Movie] 20 Once Again – Part 1 

   Mereka bersiap untuk berfoto. Guobin datang dengan istrinya. Si kembar Xiang Xinran dan Qianjin (Luhan) berdebat dulu, sebelumnya Qianjin duduk didekat ibunya tapi diusir Xiang Xinran.

Kemudian kita diperlihatkan kilasan perkembangan Guobin sejak kecil hingga dewasa dan menikah, kemudian memiliki si kembar Xiang Xinran dan Qianjin.

Guobin merupakan seorang dosen, kali ini dia mengajar. Topik pembahasannya adalah lansia. Tidak ada mahasiswa yang mendengarkan kuliahnya, sibuk memainkan ponsel, membaca komik, tidur,

Guobin mengajukan pertanyaan tentang definisi lansia. Semuanya rata-rata menjawab kekurangan mereka. Jalan mereka yang lambat, makan terlalu pelan, jika jatuh tak ada yang berani menolong, bicara mereka banyak, pikun, jika di bus lansia berharap diberikan temlat duduk, yang lainnya lalu menimpali “Pura-pura tidur saja!”. Mereka mengoloknya dan menjadikannya bahan tertawaan.

Guobin menyuruh kelas tenang kembali.

Kemudian kita beralih ke nenek Shen Mengjun, naik bus dengan kartu lansia. Kebanyakan penumpang saat itu memang juga lansia.

Tidak ada tempat duduk kosong. Ada seorang pemuda yang tetidur kepanasan, Nenek Shen memayunginya.

Justru pemuda tersebut merasa tidak nyaman. Nenek Shen menyuruhnya tidur lagi saja. Ia beranjak dari duduk karena risih.

Guobin menyimpulkan, bahwa diantara kita tak banyak yang ingin menghabiskan waktu dengan lansia. Tapi apa kalian tidak mempertimbangkan kalian kelak juga akan menua? Apakah ada cara untuk mencegah penuaan?

Salah satu pemuda menjawab, latihan yang banyak (olahraga). Yang lain menjawab, melakukan perawatan sedini mungkin. Yang lainnya menambahkan, kenapa tidak ke Korea sekalian? Lakukan botoks. Seluruh kelas tertawa.

Kemudian Guobin hendak memanggil Xiang Xinran untuk menjawab. Seluruh kelas mengoloknya, Xiang! Xin! Ran! Yang dipanggil sejak tadi tertidur. Ia malas-malasan bangun. Tampaknya kejadian seperti ini sudah sering terjadi.

Xiang Xinran mengatakan, yang buruk akan semakin buruk. Ia tinggal bunuh diri saja setelah usianya 30 tahun

Nenek Shen bermain mahjong dan mengobrol dengan teman-temannya. Ia sempat terpikirkan untuk bunuh diri setelah usianya 30 tahun, namun ia harus merawat Guobin. Ketika muda ia sangat cantik, Kakek Li membenarkannya. Tak sampai hati meninggalkannya begitu saja.

Ia begitu muda, sudah menanggung hidup sebesar itu. Apa ia pernah mengeluh? Tidak pernah.. bahkan tidak boleh.

  Temannya menyayangkan mengapa dulu Nenek Shen bersikeras menikahi ayahnya Guobin? Jika tidak ‘kan bisa saja kehidupannya lebih baik. Nenek Shen mengatakan bahwa ia memang menikahi pria yang salah, namun melahirkan anak yang benar. Guobin tak hanya tampan, ia juga profesor sebuah universitas. Lantas anak kalian apa sekarang?

Karena Nenek Shen begitu membanggakan anaknya, kawan-kawannya jadi sebal.

Guobin-nya meneliti lansia, kalau bukan karena Guobin.. daerah ini sudah dijadikan gedung dan para lansia tak bisa main mahjong di sini.

Nenek Chen datang dengan anjingnya dan dandanan mewahnya. Mengingatkan Nenek Shen salah baca ubin dan tidak jadi menang. Nenek Shen mengajak main ulang. Alhasil para lansia kesal, mereka tidak mau main lagi dan memilih pulang. Menyiapkan makanan untuk anak mereka yang pecundang. Menyindir Nenek Shen.

Nenek Chen menyindir Nenek Shen. Kalau Guobin memang sehebat itu, kenapa Nenek Shen memakai sandal butut dan berpenampilan seperti ini?. Ia lalu menunjukkan fotonya ke Kakek Li, baru saja foto untuk pembuatan paspor.

Kakek Li memujinya bagus. Nenek Shen menyebut ini cocok untuk altar pemakaman.

  Nenek Shen memberikan foto tersebut ke Kakek Li sebagai kenang-kenangan. Ia akan ke Amerika tinggal bersama anaknya sementara waktu, tapi tidak ada yang merawat anjingnya. Ia meminta Kakek Li merawatkannya. Kakek Li bilang ia tak mengerti bagaimana cara merawat anjing.

Nenek Shen menduga pasti kepergiannya ke Amerika terburu-buru, kenapa tidak menyuruh menantunya saja yang mengurus anjingnya.

Nenek Chen geram, terserah apa yang dilakukannya dong… apa urusanmu?!

  Nenek Chen menghina Guobin lagi. Ia akan ke Amerika, tapi jika Guobin memang hebat.. kenapa tidak mengajak Nenek Shen  mengelilingi Amerika?. Nenek Shen tersinggung, ia dan Nenek Chen adu mulut. Puncaknya ketika  Nenek Shen menarik rambut palsu Nenek Chen. Nenek Chen kesal, ia berlari pergi.

   Berkat terkena sikut Nenek Shen, hidung Kakek Li terluka. Ia dikompres putrinya di rumah. Putrinya menyalahkan Nenek Shen yang tak muda lagi namun kelakuannya menyebalkan. Kakek Li bilang itu bukan salahnya Nona.

Anaknya muak mendengar ayahnya memanggil Nenek Shen “Nona”. Sudah berapa lama terakhir kali ayahnya bekerja untuk keluarga Nenek Shen? Kenapa masih memanggilnya Nona?.

Kakek Li menyebut karena ia berhutang budi pada keluarganya. Anaknya kesal, itu kan sudah lama sekali! Dan ayahnya sudah melunasi hutang budi itu lama.

“Diam kau!” Kata Nenek Shen masuk ke rumah.

Keduanya menoleh. Nenek Shen berkilah, ia bicara pada anjing mereka. Lanjutkan lagi bicaranya..

Nenek Shen lalu mendorongnya pergi. Ia memarahinya, sudah 40 tahun tapi di rumah saja.. pantas saja masih melajang. Ia membawakan buah persik untuk Kakek Li.

Anaknya protes, ayahnya tidak makan buah persik. Kakek Li langsung mengambil satu dan memakannya.

Karena cek cok dan tidak nyaman, Nenek Shen memilih pergi saja.

Kakek Li mencoba menahannya, mau kemana? Sebentar lagi tayangan Putri Huanzhu dimulai!.

Nenek Shen tidak mau menontonnya, berkat anaknya Kakek Li.

Sepeninggalnya, anaknya Kakek Li kesal. Bibi Shen itu mulutnya sembarangan, pantas saja betah menjanda. Kakek Li membelanya, setidaknya Nenek Shen itu pernah punya suami.. tidak seperti anaknya yang melajang lama.

“Aku takut mendapatkan mertua sepertinya!”

Kakek Li mengenakan kemejanya kembali. Melarang anaknya ikut acara perjodohan di tv lagi.

Anaknya terlihat malu. Kakek Li mengejar Nenek Shen Mengjun.

“Ayah! Obat alerginya!” Anaknya mengejar ayahnya

   Menantunya sedang memasak. Nenek Shen mengomentari supnya. Harusnya ikannya digoreng matang bolak balik dikedua sisinya. Maka supnya akan bersih tidak pekat begini, ikannya menjadi utuh dan tidak amis.

“Ibu, Guobin bilang ia suka sup yang rasanya ringan”

“Jangan banyak beralasan.”

Kemudian Nenek Shen mengambil alih memotong sayuran. Ia menasehati menantunya, jika saja menantunya lebih memperhatikan apa yang dimakan.. ia takkan jadi lemah sakit-sakitan begini. Nenek Shen pikir menantunya bukan sakit jantung, tapi hanya kekurangan gizi.

Xiang Xinran turun. Ia meminta ibunya mengatakan ke ayahnya untuk jangan memanggilnya di kelas. Karena membuatnya malu. Nenek Shen menyebut, yang memalukan itu adalah cara berpakaian Xiang Xinran.

Qianjin turun. Ia pamit pergi untuk latihan band-nya. Ia sudah terlambat. Ibunya melarang, hari ini jatah Qianjin mencuci piring. Qianjin kembali protes.

Xiang Xinran juga memarahinya. Kemarin Qianjin sudah janji untuk mencuci piring. Qianjin balik nyolot, urus urusanmu sendiri!

“Aku ini kakakmu, tunjukkan rasa hormatmu!”

“Terserah, kau hanya keluar 5 menit lebih dulu!.” Balas Qianjin.

Qianjin pun mengalah, akan mencuci piring. Namun Nenek Shen  mendekatinya ingin menggantikan tugas mencuci piringnya. Qianjin sungkan, biar aku saja.. begitu seterusnya sampai ibunya Qianjin lebih merasa tidak enak dan akhirnya ia mengalah yang mencucikan piring ia saja ketimbang mertuanya.

Qianjin pamit pergi, ia ambil diam-diam uang ibunya di dompet untuk makan malam. Ibunya mengingatkan, Qianjin sudah diberikan uang sebelumnya dua hari lalu, kenapa minta lagi?.

Qianjin dengan muka ditekuk hendak mengembalikan. Tapi Nenek Shen mengeluarkan uangnya untuk Qianjin. Ibunya Qianjin jadi sungkan, daripada memberikan uang Nenek Shen untuk Qianjin.. lebih baik biarkan Qianjin memegang uang ibunya tadi saja. Untuk memutus perdebatan, akhirnya Nenek Shen menyuruh Qianjin ambil uangnya dan uang ibunya sekalian saja. Traktir teman-temanmu juga.

Qianjin sih senang-senang saja dapet uang banyak. Ibunya sudah memelototinua sejak tadi, tapi melihat ibu mertuanya membuatnya senyum paksa. Qianjin pergi. Kemudian Xiang Xinran bertanya ke neneknya. Apa nenek harus selalu memihak begitu pada Qianjin?

Nenek Shen bilang ia mendukung Qianjin yang memulai band. Jika bandnya mulai terkenal maka akan masuk tv. Sedangkan Xiang Xinran ini bahkan mengenakan pakaian yang terbuka. Karenanya ia bisa mendapatkan pelecehan seksual, lalu masuk berita tv.

Ibunya Xiang Xinran memprotes mertuanya. Bebaskanlah sedikit anak-anak. Nenek Shen menasehati, bagaimana bisa ia lepas tangan pada anak-anak? Kalian ini, mengurusi ketika tidak diperlukan dan mengabaikan ketika diperlukan!.

Xiang Xinran makan dengan tidak nyaman. Ibunya juga sudah mulai tertekan dengan ocehan mertuanya (yaaa..  kalau saya ini, pasti sudah ke belakang ambil gunting potong rambut. Botakin kalau perlu, marah tapi gak bisa bales. Kalau punya mertua model begini.. siapa menantu yang tidak tertekan? 😂)

Nenek Shen mengatakan, ia ini memang bukan apa-apa tapi bisa mendidik anaknya menjadi profesor. Sedangkan menantunya? Cucunya? Xiang Xinran ini tahunya cuma makan saja! Makannya banyak meski pakaiannya terbuka begini.

Xiang Xinran makan terburu-buru dan pergi meninggalkan neneknya. Ibunya juga ke atas kembali ke kamar.

Nenek Shen menyalahkan, ini semua karena menantunya terbiasa hidup enak. Ketika harus merana begini ia jadi kewalahan. Mengurusi diri sendiri saja tidak bisa, bagaimana mengurus keluarga?

Suaranya terdengar sampai ke kamar. Menantunya meminum obatnya,

“Sayang, kau tidak apa-apa? Kenapa tidak memeriksakan diri ke rumah sakit?”

Istrinya hanya menggeleng. Dibawah sana ibunya masih mengomel

“Tidak perlu”

(Gw bantu jawab. Tidak sayang! Buang saja aku ke hutan ketimbang diomeli ibumu setiap hari.. *mewek* Hahaha)

“Aku akan meminta ibu menurunkan suaranya.”

“Baiklah.”

“Biarkan dia mengatakan apapun yang dia inginkan. Jangan masukkan ke dalam hati.”

Istrinya hanya tersenyum lelah. Lalu menghela napas dalam (Tertekan. Lihat.. rambutnya saja awut-awutan. Apa kau tak tahu ketika masa pacaran saja menata rambut bisa 30 menit sendiri? Rumah tangga telah mengacaukan kepedulian istrimu pada dirinya sendiri. Wkwkwk)

Qianjin bermain dengan bandnya. Vokalisnya terlihat mual sejak tadi, ia sempat menghentikan bernyanyi dan muntah-muntah. Salah satu menduga si vokalis hamil, siapa ayahnya?.

Vokalis kesal dituduh-tuduh. Yang lain memberikannya sebotol air. Semalam vokalis minum-minum.

Qianjin kesal, sudah tahu hari ini latihan! Kenapa malah minum? Suaranya Xiaomei jadi tidak selaras dengan musiknya, bahkan nenekku bisa bernyanyi lebih baik darimu!.

Vokalisnya tambah kesal, ia tak suka lagunya Qianjin yang payah, liriknya aneh. Mereka bertengkar, kemudian salah satunya mengingatkan mereka sedang latihan di atap rumah Xiaomei. Qianjin lalu tersenyum berusaha baik pada Xiaomei agar tak diusir.

Tuan Tan tertidur ditengah audisi. Ia tak tertarik pada semua peserta.

Cindy heran dengan bosnya. Sebenarnya seperti apa yang Tuan Tan cari? Bisa diberikan contohnya? Menurut Cindy peserta terakhir lumayan bagus. Namun Tuan Tan tak sepakat. Lumayan bagus untuk membuatnya tertidur?

Tuan Tan mengatakan, yang ia cari kebanyakan sudah tua atau meninggal.

Cindy kesal. Dimana ia bisa menemukan yang seperti itu?.


K O M E N T A R:

    Twenty Once Again atau Back To Twenty adalah remake dari film Korea “Miss Granny”. Sudah banyak di-remake oleh negara lain selain Tiongkok. Indonesia juga kog.. saya tidak tahu judul buat versi remake Indonesia apa? Sepertinya sih Twenty, pemeran utamanya Tjatjana  Shapira pacarnya Bang Junot Ali, yang minta dinikahin Fahri di AAC2 tuh.. Si Hulya. Hahahah.

Saya merasa kalau dia sebagai ibu, Nenek Shen Mengjun sangat berhasil dan luar biasa hebat. Namun sebagai mertua dia masih kurang.

Hampir semua generasi ini memang sudah memiliki stigma negatif “Cerewet, suka mengatur, kalau sakit manja, menyebalkan, tukang pamer anak.”

   Ada baiknya untuk memulai pernikahan baru/rumah tangga seumur jagung memang jangan satu atap dengan orangtua dari pihak lelaki maupun perempuan. Jika ngikut keluarga pria.. Kasihan istrinya, mereka tidak mungkin blak-blakan mengaku ke suami bahwa mereka tertekan.. tidak nyaman dengan ibu sang suami. Terlebih yang sudah bertahun-tahun seperti dalam kasus ini, masih belum merasa terbiasa. Apalagi dedek dedek muda, ah kalian ini ngapain sih ngebet kawin muda?. Kau pikir menikah itu hanya urusan berdua?

   Rasanya pasti sesak didada, dari penelitian manapun, ibu dari pihak suami selalu lebih riwil ketimbang ibu dari pihak istri. Karena masih merasa memiliki dan bertanggungjawab penuh. Beda dengan ibu pihak perempuan, cara meluluhkannya lebih mudah.. asal putriku bahagia maka bawalah anakku kemanapun kau suka. Tapi kalau keadaan mengharuskan, ya dimohon saling pengertian dong.. boleh menuntut tapi sewajarnya saja. Boleh menasehati tapi ingat posisi juga, sudah rumah tangga lain juga. Biarkan mereka tumbuh dengan bijak tanpa perlu kebanyakan disuapi seperti bayi lagi.

   Betewe ini akting debutnya si Luhan ‘ya?. Kalau lihat dia berasa mau saya ajakin ke mall “Adeek! Ayo’ ke mall. Teteh beli’in baju, es krim! Hayoo minta apa..? Ayo.. ciku ciku..” Kayak lihat anak kecil yang ganteng gitu, gemes. 😂

Eniwei kalau ada salah-salah kata/informasi tolong dikoreksi di kolom komentar ‘ya.. ciao!