​[Cerbung] Nightfall, Light Up The Sky – Part 4

    Pria di depan mereka memancarkan aura kebingungan setelah melihat Sabina dekat sekali dengan Amar. Senyumannya ramah, ia mengenal Sabina dan Amar namun tak tahu apa hubungan keduanya.

“Sabina.. Amar. Kalian saling kenal? Ada apa ini ‘ya?”

Amar sontak merangkul pundak Sabina erat. Sabina bahkan sempat menoleh ke Amar seolah menanyakan apa maksudnya.

Diantara semua yang datang,setelah menyapai semua kawan Amar. Seorang pria datang menyapa Amar, baik Sabina dan pria itu sama-sama terlihat kaget. Amar bingung, apa hubungan keduanya? Tatapannya melembut melihat Sabina. Namun berubah defensif melihat Amar.

“Mas Ibram. Sabina istriku sekarang. Sebelumnya mau mengundang Mas tapi kita lost contact lama.”

Ibram menenglengkan kepalanya sebentar. Lalu ia tatap Sabina dan Amar bergantian. Meski Amar sudah mengetahui Sabina dan Ibram saling kenal, dari cara mereka menatap satu sama lain terlihat jelas. Sabina diam saja sejak tadi.

“Oh, jadi begitu. Selamat ‘ya Sab.. saya tidak menduga kamu menikah dengan Amar.”

Kata Ibram dengan setengah hati. Dari sorot matanya Amar lihat senior dua tahun di atasnya ini ada perasaan pada Sabina. Terlihat jelas ketidakrelaan di sana.

“Maaf Mas Ibram. Terima kasih..”

Ibram mengangguk penuh wibawa. Wajahnya menenangkan bagi siapapun yang memandang, Amar jadi khawatir. Jangan bilang Ibram dan Sabina pernah ada hubungan sebelum kenal dengan Amar.

Amar langsung ambil inisiatif. Ia beralasan ada urusan keluarga dan harus segera pulang. Ia menarik tangan Sabina dan keluar dari gedung tersebut. Melewati kerumunan orang-orang. Sesampainya di parkiran Sabina meronta minta dilepaskan.

“Kamu kenapa sih?”

Sabina gerak-gerakkan lengannya sakit dicengkeram Amar keras barusan.

“Mas Ibram. Kamu kenal? Kenapa tidak cerita ke aku? Ada hubungan apa kalian berdua?”

Sabina mengusap pelipisnya dengan sebal. Ia mengerjapkan matanya dan keraskan rahangnya. Marah pada Amar.

“Cemburu? Heloo.. Mas Amar. Aku jauh lebih sakit hati karena teman kamu kebanyakan perempuan dulu. Kita sudah menikah, kamu pikir aku akan kemana? Jangan seperti ini! Kekanakan tau gak?!”

“Aku takut Sab.. dia lebih sukses dari aku. Pengusaha muda, pelesiran ke luar negeri saban bulan. Jauh sekali dibandingkan aku.”

“Mas, kamu engga’ ingat? Kamu itu hadiah terbaik yang Tuhan berikan ke aku..”

Sabina mencoba meraih tangan Amar dan menggenggamnya.

“Lalu kenapa kamu meminta maaf ke Mas Ibram? Kesalahan apa yang kamu buat?”

“Aku tidak mau menjelaskannya sekarang. Pikiran kamu sedang tidak jernih. Lebih baik pulang.”

Sabina memasuki mobil.

“Baik..”

***

    Faizal menyeruput sodanya sembari berpikir. Ia bersama Amar di salah satu resto. Ia diminta Amar bertemu sore itu. Ia sejak Sabina koma sampai amnesia memang selalu mendukung Amar. Memberikan informasi tentang kakaknya dan cara mendekatinya. Tak pelak kalau ada permasalahan diantara keduanya ia akan senang senang saja menjadi penengah. Amar tak segan memberikannya uang jajan sesekali.

“Mas Ibram itu… kenal kakakku kira-kira ya waktu di luar negeri sih..”

“Teman flatnya?”

Faizal mengibaskan tangannya dan terkikik.

“Bukanlah.., teman satu flatnya kakak itu Kahfi dan Mba’ Heidi.”

Amar masih tampak kalut. Faizal ingin tertawa sejak tadi. Kakak iparnya cemburuan.

“Tapi kenapa harus parno sih Mas? Ceritanya udah basi kali ah.., suaminya Kakakku adalah Mas Amar. Kalau hitung-hitungan cemburu, parahan kakakku ketimbang Mas. Tahulah.. Mas ‘kan fansnya banyak. Dan dulu kakakku tidak tahu perasaannya Mas. Itu sakit Mas..”

Kedua tangan Faizal angkat tinggi-tinggi menjelaskan.

Tapi tetap saja Amar penasaran.

“Jadi ada apa sampai Sabina minta maaf ke Ibram?”

“Kakak ‘kan cantik. Aku bilang gini bukan karena dia kakakku lho Mas.., wajar perempuan single beberapa kali dipedekate-in orang. Tapi kakak itu dingin,  jangankan kasih lampu ijo.. lampu kuning aja ogah..”

Faizal mengecek notifikasi ponselnya lalu kembali menatap Amar.

“Nah… Mas Ibram sabar pada kakak. Semangat 45 istilahnya. Tapi kakak tetap susah didekati. Mas ingat masa-masa dimana Kakak kabur dan jahat pada Mas? Kakakku juga seperti itu tingkahnya ke Mas Ibram.”

“Sabina memang pemarah.”

“Tapi Mas Ibram tidak mudah menyerah. Sampai pernah dilamar 13 kali. Sering ke rumah juga bicara pada orangtua kami. Hasilnya nol besar, karena keputusan tetap di tangan Kakak. Saat itu aku tidak tahu siapa yang Kakak suka.. cuma Kak Makki yang tahu.”

“Tidak luluh juga?”

“Aku bingung Mas. Sekeren Mas Ibram didiamkan Kakakku.. sekarang ternyata aku sadar, kakak nungguin Mas Amar. Jadi pliis.. jangan berpikiran macam-macam pada kakak. Perempuan seperti kakakku hanya bisa menambatkan hatinya sekali seumur hidupnya Mas.”

Amar mengerjapkan matanya berpikir. Nyaris saja Sabina terlepas ke tangan Ibram dulu.

“Kalau Mas masih bingung. Coba pikir deh, kecemburuan yang Mas rasakan ke kakak saat ini adalah sebanding dengan apa yang kakak rasakan ketika Mas masih memendam perasaan Mas sendirian. Tidak lebih malah”

Amar langsung teringat Sabina mengatakan ia melihat Amar makan dengan wanita lain sebelum kecelakaan dan koma. Sabina juga tidak nyaman ketika bertanya masa sekolah Amar dulu sebelum menghadiri reunian dan bertemu Ibram tanpa direncanakan. Amar terlihat berpikir, Faizal melanjutkan celotehannya.

“Nah, persis! Itu yang Kak Sabina rasakan ketika lihat Mas bersama perempuan lain. Meski itu cuma ngobrol santai gak penting sekalipun.”

“Baiklah. Positif.. kami sudah menikah.”

“Tapi kupikir Mas Ibram orangnya romantis ketimbang Mas. Karena jarak umur mereka cukup jauh, kakak selalu pakai kata ganti saya ke Mas Ibram. Dulu saat masih getol mendekati, kadang aku mikir mereka bisa menjadi pasangan keluarga kerajaan yang serba sopan.”

Amar menatap adik iparnya dengan tajam mendengar itu.

 “Ups! Maaf Mas. Tapi kulihat dulu kakak nyaris menyerah nunggu Mas juga. 10 tahun! Itu kalau anak sudah SD kelas 4 Mas.. hahaha. Aku mah ogah nunggu selama itu.. manusia di dunia ini ada banyak.”

“Faizal…”

“Bercanda Mas.., kakakku lebih jadi dirinya sendiri tanpa Mas paksa tuntut jadi ini itu ketimbang dengan Mas Ibram.”

“Memang kesalahanku juga sih Zal, aku terlalu fokus pada diri sendiri sampai lupa bahwa Sabina  kadang ada goyahnya. Perempuan..”

“Jadi.. kakak meminta maaf karena membuat Mas Ibram harus menelan pil pahit. Sekeras apapun Mas Ibram mencoba, kakak tidak bisa menerima perasaannya Mas Ibram.”

Setelah itu Amar pulang ke rumah. Sabina membukakan pintu rumahnya. Amar langsung memeluknya dan mencium keningnya, menciumi bibirnya berkali-kali. Sabina kebingungan,

“Kabar baik? Buruk?” Tanya Sabina masih bingung.

“Engga’ cuma pengen peluk kamu saja Bi.., kangen.. engga’ boleh?”

“Apa? Bi?”

“Beberapa hari lalu aku ketemu Kahfi. Dia cerita soal kamu, aku yang minta. Ternyata dia penulis dan kamu dekat dengan dia sampai selalu diucapi terima kasih di bukunya. Kahfi kadang panggil kamu Bi.. ‘kan?”

“Cih.. Kahfi, padahal aku melarangnya cerita. Reputasinya terancam.”

“Tenang Bi.. aku takkan ember kemana-mana soal identitasnya Kahfi.”

Sabina tertawa mendengarnya. Menepuk-nepuk bahu Amar. Lalu tarik rambutnya sedikit. Terdengar Amar meringis kesakitan.

“Bee tawon atau Bi apa?”

“Kamu tahulah sayang. Tidak perlu dijelaskan. Kamu kan cerdas.”

“Ayo keluar. Antarkan aku ketemu Hugo sekarang. Sudah ah! Lepasin!”

Amar terpaksa melepaskannya. Ia pandangi Sabina yang sudah sewot.

“Sabina sayang, tunggu sebentar. Aku mandi dan ganti baju dulu..”

**

   Sesampainya di rumah makan yang sama dengan beberapa waktu lalu tempat Makki, Arip, Sabina, serta Amar makan bersama dulu.

Hugo salah satu kawan Sabina di luar negeri. Baru pulang beberapa hari lalu, dan baru bisa bertemu Sabina sebelum pulang ke Selandia baru. Setelah makan mereka mengobrol, keduanya lebih banyak mendengarkan ocehan Hugo yang memang sedang membutuhkan teman yang menyediakan kupingnya.

    “Aku salah apa Saaaab? Dona gak secantik aku yang kejar-kejar banyak, Pika gak sebaik aku kenapa yang mau meminang pada ngantri?? Zeva yang begajulan kenapa yang suka banyak? Aku ini kurang apa? Kenapa tidak ada satu pun yang terlihat suka denganku??”

Hugo kesal dan marah-marah sejak tadi. Ia mengeluh sebenarnya ada apa dengannya sampai tidak ada yang mendekatinya?. Kesal setengah mati. Melihat Sabina sudah menikah membuatnya ingin menjerat leher Amar dengan tali skipping, iri setengah mati. Sabina tak pernah kelihatan dekat dengan lelaki, kalau pun dekat itu sebatas teman, mungkin terkadang ada yang mengekornya namun tak berlangsung lama.

Sabina menahan tawanya sejak tadi. Hugo menarik dan cantik orangnya, karakternya juga baik, kadang bisa emosional pemarah seperti Sabina tapi tak sesering Sabina. Hugo hanya seperti ini jika dengan Sabina. Jika diluar pembicaraan ini Hugo akan bersikap tenang dan tertata, namun Sabina adalah temannya maka dari itu kelakuannya menjadi serba terbuka seperti sekarang.

    “Kasus kamu juga seperti aku dulu, aku merasa tidak ada seorangpun yang menyukaiku. Kadang iri dan hampa, tapi tak ada solusinya, aku bahkan tidak bertemu dengan Mas Amar nyaris 5 tahun. Lebih malahan”

    “Hugo, aku beri tahu rahasia kecil, Sabina tidak banyak yang berani mendekati sampai serius karena tiap malam aku berdo’a supaya semua lelaki itu menjauhi Sabina. Aku mengikatnya dalam do’a, akan menjadikannya istriku selamanya.”

Jelas Amar percaya diri, entah sedang bercanda atau serius yang jelas makin membuat Hugo kesal. Sabina menatap dedaunan plastik di pot bunga-bunga’an di atas meja dengan datar, ia hembuskan nafasnya seolah melepaskan beban dari pundaknya. Dalam hati merutuki Amar, lelaki yang satu ini cara mencintai dirinya benar-benar membuatnya merinding. Membuat Sabina tak urung berpikir, jika saja Sabina bisa diperkecil ukurannya dengan senter pengecil doraemon, pasti Amar akan membawa-bawanya dalam saku setiap hari. Sabina mengerjapkan matanya sekali dan menggeleng. Mengenyahkan pikiran anehnya.

    “Terima kasih ‘ya Mas Amar, sudah membuatku tertekan selama bertahun-tahun.”

    “Itu pujian atau hujatan?”

Amar menatap istrinya dengan manja.

    “Pikir sendiri..”

Sabina bahkan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Lalu Amar kembali ke Hugo.

    “Mungkin karena kamu terlalu mewah secara pribadi bagi sebagian besar pria. Sebagai pria aku paham bahwa lelaki kebanyakan akan memilih istri yang cantik tapi tidak terlalu pintar lebih darinya.. ketimbang perempuan dengan standar tinggi seperti kamu. Aku saja dengan Sabina sering adu pemikiran saking cerdas dan pintarnya dia.”

    “Jangan sok muji-muji. Norak kamu Mas..”

    “Pada kenyataannya kamu memang begitu Sab. Aneh, menyebalkan.”

    “Entahlah Amar.. aku lelah sekali, tolong bagi kontak teman kamu yang cocok denganku, aku stagnasi sekarang..”

Hugo putus asa sudah.

    “Hugo.. aku juga pernah di keadaan kamu sekarang ini. Bingung besar, sebenarnya ada yang mencintaiku tidak? Apa yang kurang dariku? Kenapa yang lain yang dibawahku bisa punya banyak penggemar sedangkan aku tidak? Mas Amar juga tidak jelas!”

Sabina memegangi kedua tangan Hugo dengan bersimpati. Mengingat part hidupnya yang sempat kacau karena Amar. Amar tersenyum sabar pada Sabina.

    “Aku sudah membuatnya menjadi jelas Sab… kurang apa lagi aku ini? Apapun yang kamu inginkan akan kuberi, kamu menginginkan surga pun aku akan mengajakmu ke sana.”

Sabina langsung tertawa mendengarnya, memukul bahu kiri Amar dengan gemas. Amar ikut tersenyum karenanya. Mengenang masa pahit itu dia menjadi sebal, namun dengan Amar yang sekarang semuanya seperti terbayarkan.

    “Sabina, suami kamu ngeri ‘ya orangnya? Cocok ditaruh di museum. Langka, gak umum, aneh. Kamu nemu Amar dimana sih?”

    “Di bumi..”

Ketiganya tertawa.

    “Untung Amar ganteng ‘ya? Kalau tidak sudah aku siram air kobokan, kata-katanya ya ampun.. Sabina, ini kalau keluar dari mulut orang lain pasti aku menganggapnya tukang gombal, tapi Amar tidak, karena posisinya suami kamu. Hahahah!”

    “Iya ih.. kadang agak jijik akunya. Semua omongannya konyol.”

Amar menyeruput minumannya dengan santai melihat dua wanita ini tertawa tak hentinya.

***

    Di kantor Sabina sendirian. Yang lainnya kebanyakan sudah pulang. Attar sudah satu jam tidur di ruangan pribadinya yang tersembunyi di balik rak buku besar di dalam ruangannya. Hanya ada Sabina di luar, menunggu Amar menjemputnya. Amar bilang ban mobilnya bocor dan harus ditambal. Sabina jangan turun dulu sebelum Amar mengirimkan pesan lagi.

Lima belas menit yang lalu seorang wanita tinggi dan berambut sedang mendatanginya. Sekarang menjelaskan apa maksudnya ia kemari.

 “Kamu Sabina? Mau maunya dibodohi Amar ‘ya?”

   “Maksudnya apa ‘ya Mbak?”

   “Aku mengandung anak Amar. Dia sudah tidak tahan dengan kelakuan kamu yang seperti anak kecil. Pernikahan itu harus ada anak, apa kami tidak tahu orangtua Amar sudah mendambakan bayi sejak lama?”

   “Mbak siapa ‘ya?”

   “Istri siri Amar. Dia memang sengaja tidak bilang ke kamu karena kamu emosional. Dia cuma kasihan sama kamu Sabina, jangan naif!”

   “Mbak tidak bohong ‘kan?”

Wanita tersebut memberikan selembar foto Amar dengan wanita tersebut. Tampak acara ijab kabul. Mata Sabina memanas melihatnya

   “Bawa saja Sabina, aku punya banyak. Kamu bisa tanyakan langsung ke Amar dengan itu.”

   “Kamu memang tidak ada masalah dengan rahim, tapi temperamental kamu itu yang membuat segalanya jadi salah. Amar sudah lebih dari bersabar menghadapi kamu”

Sabina tak berkutik karenanya. Ia terduduk lemas di kursinya. Sore ini penuh masalah, pabrik kertas mereka terbakar, kesalahan cetak pada judul buku terbaru, ditambah ini juga. Wanita itu pergi begitu saja.

**

   Amar tidak tahu menahu kenapa Sabina terlihat sedih. Sedari tadi ia bungkam dan lebih memilih menatapi jalanan. Amar beberapa kali membuka pembicaraan namun tak banyak ditanggapi.

   “Bi, kamu kenapa? Ada masalah? Ceritalah”

   “Engga’ kog,”

   “Sabina, kita sudah sepakat sudah tidak ada privasi aku kamu. Semua sudah jadi kita, apapun itu.”

   “Mas, bisa nggak? Kalau aku tidak mau jawab kamu tidak usah maksa terus buat tanya? Ngerepotin tau gak?”

    “Aku tidak suka kamu mengatakan seperti itu. Apa kamu tidak bersyukur dicintai olehku? Sab…”

Sabina menggeleng lemah

    “Bukan seperti itu, soal Mas Ibram juga sama, nggak nyaman Mas. Aku… aku hanya manusia biasa Mas, aku nyaris berhenti menunggu kamu. Dilamar oleh Mas Ibram berkali-kali membuatku terkadang bimbang. Tapi dengan bodohnya aku masih berusaha percaya kamu mungkin punya perasaan yang sama..”

Amar tercenung mengetahuinya.

    “Tapi jika kita tak berjodoh aku bisa belajar mengikhlaskan meski tidak mudah”

    “Sabina, aku mohon jangan begini.. kamu satu-satunya yang aku cintai.”

    “Tepikan mobilnya Mas..”

    “Sab…”

    “Tepikan sekarang juga!”

Terpaksa Amar menepikan mobilnya. Tanpa menoleh lagi Sabina keluar dari mobil dan mendapatkan taksi dengan cepat. Amar sandarkan dahinya ke kemudi, frustasi. Jika memaksa Sabina tetap tinggal justru akan memperumit segalanya.

[Cerbung] Nightfall, Light Up the Sky – Part 2

    Hening sesaat tatkala Faizal mengatakan bahwa ia sedang jatuh cinta pada seorang perempuan tuna rungu. Amar dan Sabina tak berani banyak berkomentar. Seorang Faizal yang suka gonta-ganti perempuan kini jatuh cinta sungguhan dengan hati terdalamnya. Namun Faizal tak hendak membahas lebih jauh lagi, ia baru mengenal perempuan itu ketika beberapa saat lalu sering antar jemput Sabina ke tempatnya Shafa.

Pembicaraan sengaja Faizal setir ke kehidupan Amar dan Sabina kembali. Faizal cukup penasaran dengan kisah cinta kakaknya, bagaimana pun juga ia baru mengetahui bahwa kakaknya menyukai Amar sejak lama. Sabina cukup tertutup perihal masalah hatinya.

Faizal benar-benar geli dengan kakaknya yang menurutnya kelewat bodoh, Amar menceritakan bagaimana stresnya dia ketika Sabina hilang ingatan. Ia ratusan kali bertanya pada Sabina apa yang dia mau agar diizinkan memasuki kehidupannya. Terlalu kacaunya Amar sampai menawarkan kartu kredit dan ATM beserta pinnya. Sabina mengelak ia merasa dibeli kalau menerima semua uang Amar. Murahan dan menjijikkan. Faizal tercengang mengetahuinya.

    “Serius kalian ini bukan anak SMP? Kakak itu yang norak, laki-laki itu.. kalau sudah suka seseorang biasanya ada keinginan untuk memberi. Berupa barang atau uang, juga perhatian, biasanya aku juga begitu.. perasaannya disalurkan segala sesuatu yang berwujud dan bisa dilihat. Itu namanya ego lelaki, alias kebanggaan diri.. ada rasa bangga tersendiri melakukannya. “

    “Pantesan mantan kamu matre semua ‘ya? Royalnya adekku ini..”

Sabina memuji Faizal seolah bangga, padahal sedang menyindir.

    “Itu namanya cinta.. Kakak.. ya ampun, makanya jangan heran kalau dulu Mas Amar begitu. Karena normalnya seperti itu..”

    “Tapi ‘kan aneh Zal, untung dia ketemunya aku. Coba setipe mantan kamu bagaimana? Abis itu duitnya.”

    “Ya itu Kakak yang o’on, tinggal minta kartu kredit sama pin ATM malah gak mau? Kakak ini gak main otaknya. Ckckck, coba aku jadi kakak ya? Akan ku daya gunakan semua kekayaan Mas Amar dengan bijak.”

    “Mas Amar tidak seperti kamu ‘ya.. gak suka buang-buang uang buat yang gak penting.”

Sabina ikut duduk di bawah menjewer kuping adiknya. Faizal mengernyit kesakitan meminta tolong pada Amar. Amar hanya mengangkat bahunya asyik menonton obrolan kakak beradik ini.

    “Aduh!…aduh aduh! Ya karena Mas Amar sudah di titik bingung plus bosan mau ngapain sama duitnya Kak, karena saking banyaknya. Lagi apes aja dia sukanya sama Kakak…”

    “Faizal… kakak punya uang sendiri, jangan minta yang macam-macam dari Mas Amar tanpa sepengetahuan kakak ‘ya?!.”

Sabina melepaskan tangannya dari kuping Faizal. Faizal mengusap-usap kupingnya kesakitan.

    “Apa?! Makanya Mas Amar, bagi modal buat aku memproduseri band kami. Atau bantu mewujudkan mimpiku membuat label indie sendiri, RCM Label.”

Amar mengerutkan alisnya.

    “RCM? Seperti pernah dengar..”

Amar tertawa mendengarnya.

    “Republik Cantrang Manajemen! Aku akan ajak para nelayan bikin lagu demo melaut. Hahaha!” Tukas Faizal asal.

    “Jangan Mas, jangan nuruti anak rese’ ini.”

    “Boleh, kalau dia bisa melipatkan modalnya 3 kali lipat paling tidak. Aku setuju..”

    “Mas Amar… i love you!!”

Sabina malas menanggapi keduanya.

***

    Amar membolak-balik salah satu majalah anak yang dibawa khusus Sabina untuk anak-anak pengajiannya Shafa. Sabina sedang memperhatikan sobatnya tersebut bercerita.

   “Aku lebih suka Shafa ketimbang ISK. Ukhti dalam artian yang sebenarnya.. pikir deh Mas, dia gak punya akun pribadi media sosial, ada instagram dakwahnya tapi itu cuma ada contact person komunitas serta foto kegiatan anak-anak. Alami sekali dan sholehah orangnya..”

   “ISK siapa? Artis itu? Sholehah tau’ kelihatannya.. patut ditiru remaja sekarang.”

Amar menanggapi tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah.

   “Kamu ngerti gak maksudku? Harusnya para muslimah yang suka pamer foto dan kegiatan pengajiannya malu sama Shafa.”

   “Lhoh, maksudnya? Itu bukan pamer sayang.. tapi menggalakkan dan menyebarkan kebaikan.”

   “Jadi muslimah sejati, tidak perlu menunjukkan kesalehannya biar dicap saleh dan baik.. cukup Tuhan saja yang tahu.. dan aku belum bisa seperti dia,”

Amar menutup majalahnya dan menatap dalam-dalam mata istrinya.

   “Kamu tahu jalannya, tinggal dilaksanakan saja pelan-pelan. Berproses denganku juga.. kamu itu idaman sekali Sab bagi laki-laki muslim yang beres otaknya… dan lagi, kata Kak Makki kamu adalah orang yang sangat mungkin bisa sebulan tidak pegang ponsel dan tetap bahagia. Kog bisa?”

Sabina memutar matanya, lagi lagi Kak Makki menceritakan hal yang tidak-tidak.

   “Karena dunia ini sudah tak begitu menarik bagiku mungkin? Penilaian dimata manusia sudah tak begitu ku perlukan..”

   “Cuek itu namanya. Kita harus jaga silaturahmi dan silaturahim sayang.. meski nanti di hari perhitungan amal sekalipun aku tidak bisa disisimu atau menggantikan perhitungan amal kamu.. dari merekalah kita mendulang amal selama di dunia.. makanya jangan dijahatin.”

Sabina menyipitkan matanya. Semenjak jadi istrinya Amar pembicaraan mereka bisa mengalir kemana-mana, akan terdengar aneh bagi orang lain tapi mereka selalu mengobrol begitu. Meski tak berdebat dan bertengkar tidak jelas seperti ketika Sabina lupa ingatan, mereka selalu adu argumen.

    “Aku melakukannya Mas.. tapi dengan ketemu langsung, aku tidak terima ya.. kamu sebut cuek!. Jadi biasa aja kalau semisal aku berada disituasi gak pegang ponsel selama sebulan, orang ada laptop dan komputer juga.”

   “Kita ngomongin apa sih tadi?”

Amar gemas melihat Sabina wajahnya sudah agak masam.

   “Definisi wanita sholehah yang sejatinya. Shafa adalah buktinya.”

   “Bagiku kamu sudah sholehah, dan akan selalu sholehah dimataku. Tidak ada definisi secara pakem harus seperti apa. Inti dari semuanya adalah dia.. Shafa tidak congkak atas apa yang dia kerjakan, miliki, serta perjuangkan. Kamu juga mempunyainya Sab.. “

   “Dasar tukang rayu..”

Amar menggeleng melihat senyum Sabina sudah mengembang dan pipinya bersemu kemerahan.

   “Serius, aku tidak suka menggombali kamu… percuma juga, bukannya dibales jawab so sweet tapi malah di-skak balik, untuk ngeromantisin kamu agak susah.. kamu itu beda dari yang lain, agak ngeselin sedikit Sab.. tapi ngangenin. Kapan kelarnya nih? Tiba-tiba sudah jam empat sore aja, ayo pulang..”

   “Sabar..”

Amar memandang Sabina sebal.

Sabina hanya meliriknya dan kembali mendengarkan Shafa. Shafa masih sibuk mengajari anak-anak itu. Beberapa menit kemudian datang beberapa wanita lainnya menggantikan Shafa. Shafa kemudian mengajak Sabina dan Amar ke gazebo belakang mengobrol.

    Sore itu angin semilir menerpa dedaunan tanaman hijau di sana. Kota mereka memang jarang terlihat matahari sejak pagi sampai siang.

Shafa menyiapkan minuman dan makanan ringan.

   “Silakan diminum Sab.. Mas Amar..”

   “Iya. Shafa, aku tanya sekali lagi. Kenapa kamu tidak pilih Kahfi saja? Aku bukannya tidak suka kamu dengan Kang Arip, tapi ini rumit Shafa..”

Shafa menggeleng ringan. Tiap kali Sabina bertanya hal tersebut ia selalu mengatakan tidak.

    “Kamu sudah tahu jawabanku Sab..”

    “Kalau boleh tahu sejak kapan kamu suka Kang Arip? Sabina sempat cerita kalau dia kaget betul mendengar permintaan kamu Shafa.”

Shafa tersenyum mendengar pertanyaan Amar, matanya memandang jari jemarinya yang saling meremas dan bertaut karena gugup. Memikirkan Arip dan permulaan ia bisa jatuh cinta padanya.

    “Sejak Sabina mengajaknya kemari. Mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu. Semula suka saja melihatnya.. lama-lama keterusan jadi suka semua hal tentangnya.”

Sabina heran bagaimana menanggapinya. Shafa dan Arip belum bertemu karena Arip terus menolak permintaan Sabina. Namun Sabina akan membuat keduanya bertemu minggu depan.

    “Minggu depan kamu tolong luangkan waktumu sebentar ‘ya Shafa.., kita ngobrol lebih serius lagi.”

   “Aku usahakan Sab, maaf tidak bisa mengobrol lama. Aku masih ada urusan.”

Ketiganya beranjak hendak pergi. Sebelum Shafa pergi Sabina mengajukan pertanyaan.

    “Ngomong-ngomong ada tidak perempuan seumuran Faizal yang tuna rungu disini Shafa?”

Shafa tampak berpikir.

    “Ada sih, tapi jarang-jarang kemarinya. Zidna namanya, dia tinggal di sekitar daerah sini juga kalau tidak salah. Ada apa ‘ya Sab?”

Sabina menggeleng. Sedangkan Amar menahan senyumnya, perihal Faizal yang playboy katanya sedang naksir Zidna.

    “Nanti aku jelaskan. Kami pulang dulu ‘ya..”

***

  Malam harinya Sabina dan Amar menonton tv di ruang keluarga. Tama menghubungi Amar mengatakan temannya Tama ditahan polisi atas penyalahgunaan senjata berapi, Amar hendak menyusul ke kantor polisi dan menjadi penjaminnya. Sabina melarangnya, sudah hampir tengah malam dan di luar hujan deras sekali. Jarak pandang Amar akan kabur ditengah hujan, ia bisa kecelakaan kalau tidak hati-hati. Amar meyakinkannya tidak akan terjadi apapun, Sabina tak perlu khawatir.

  “Kamu merasa bertanggung jawab atas segala sesuatunya. Mengurusi masalah semua orang! Itu salah menurutku. Berhentilah bersikap seperti itu! Biarkan mereka menyelesaikannya masing-masing!”

Amar menatap Sabina lembut.

   “Jika dimata orang-orang aku seperti itu, toh bukan salahku ‘kan Sab? Kekuranganku selama ini tertutupi begitu saja tanpa aku bermaksud menjadi sempurna. Tapi ‘kan kamu istriku, mengertilah posisiku, aku bersikap begini karena aku tidak sampai hati membiarkan mereka kesulitan…”

   “Justru karena aku istrimu, makanya aku ingin mengerem sikap sok heroik kamu itu. Jangan bilang kalau kamu ketemu orang gila di jalan pasti kamu kasih uang atau makanan?”

Amar menggaruk tengkuknya dan matanya berkedip tak fokus. Heran betul kenapa Sabina bisa menebaknya semudah itu? Apa memang ia semudah itu untuk ditebak orang-orang? Atau hanya Sabina?. Tidak menjawab, bagi Sabina itu artinya iya.

    “Iya ‘kan? Aduh, sudah kuduga… Mas Amar, kamu benar-benar membuatku jengkel..”

Dan tanpa diminta ia memeluk Amar, bersandar di dada kirinya mendengarkan detak jantung Amar. Gemas dengan kelakuan Amar tak jauh beda dari ekspektasinya. Konyol.

    “Kalau jengkel kenapa dipeluk?”

Amar menahan senyumnya, terkesiap. Padahal ia sudah menyiapkan mental untuk ditampar dan sejenisnya.

    “Jengkel kenapa kita tidak nikah dari dulu saja?”

    “Hei… Aku tidak mau kamu berada disisiku ketika aku sedang berada di titik terbawah hidupku. Simpel, kepengen kamu senang terus meski tidak tahu kamu maunya apa saja? Setidaknya aku ingin membuat kamu bangga karena sudah dipersunting olehku.”

Amar mengendikkan bahunya. Sabina tak pernah ambil pusing soal materi yang acap kali Amar bahas. Kini pun ia tahu dari mana saja pundi-pundi Amar berasal, selain pekerjaannya sekarang Amar memiliki beberapa usaha dipelbagai bidang, Amar pernah menjelaskannya secara rinci dan gamblang. Kata Amar seluruh uangnya adalah milik Sabina, uang Sabina adalah miliknya sendiri. Dia takkan membuat surat pemisahan harta seperti yang orang kebanyakan lakukan, mereka juga tak membuat surat perjanjian pranikah, namun ada janji-janji tersendiri yang mereka buat ketika sama-sama saling mengutarakan isi hati untuk pertama kali beberapa saat lalu. Sabina mempercayai Amar dan sebaliknya. Amar mempercayakan Sabina yang mengatur semuanya. Sabina tak pernah mengerti dengan gengsi lelaki ini.. soal uang, kendaraan, rumah, tabungan. Sabina bukan perempuan matre, ia punya uang sendiri bahkan lebih banyak dari Amar tapi ia tak ingin Amar mengetahuinya dulu.

   “Kita nikah sudah berapa lama? Kenapa jantung kamu detaknya masih tidak karuan?.”

Sabina mengernyitkan kedua alisnya mendengarkan dentum jantung Amar. Terdengar seperti habis lari maraton.

   “Mungkin karena terlalu bahagia?. Tahu tidak? Lihat kamu senyum sampai tersipu-sipu itu tidak baik bagi kesehatan jantungku. Nyaris aku terkena serangan jantung.”

Sabina tertawa mendengarnya. Tapi detak jantung Amar benar-benar bertalu dengan ritme acak saat ini.

   “Kalau begitu aku akan senyum terus biar kamu cepat mati!”

   “Astagfirullah..”

   “Bercanda.. “

   “Kalau aku tidak kamu bolehin keluar, aku takkan pergi.”

   “Pinter..”

Sabina mencubit hidung Amar lalu keduanya tertawa. Sabina beranjak meninggalkan Amar untuk naik ke kamarnya sendiri.

   “Mau kemana?” Tanya Amar bingung.

   “Tidur! Besok aku ada meeting penting pagi-pagi sekali. Kita LDR an malam ini.”

Amar antara rela tak rela membiarkannya. Tapi ia tidak mau egois. Sabina sudah menaiki banyak anak tangga. Terpaksa Amar melambaikan tangannya seperti mau pisah jauh saja.

   “Kamu gila ‘ya?” Sabina menanggapinya dengan geli, balas melambaikan tangannya juga. Amar jadi agak sinting setelah menikah dengannya.

   “Sab, kiss bye!”

   “Ogah!”

   “Selamat malam sayang, mimpi yang indah indah ya..”

   “Malam, sampai ketemu besok pagi..”

Ia berlari cepat menuju kamarnya sendiri. Amar lanjut menonton tv, ia akan begadang menonton siaran bola tim favoritnya. Kebetulan ia berlangganan tv kabel siaran resminya.

***

   Pertemuan hari itu berjalan dengan baik meski suasana hati Attar tidak baik. Semua orang keluar dari ruangan setelah rapat usai, tinggal Sabina dan Attar. Mood Attar sedang sangat buruk, ia yang biasanya mudah menerima ide dari bawahannya berubah menjadi ketus dan serba tidak puas.

Seperti halnya saat membalik-balik sebuah naskah print-print an yang dibendel ini.

   “Bodoh! Ini lebih seperti kata-kata mutiara terpisah-pisah yang ditempel-tempel paksa dalam satu wadah oleh penulisnya dan dia merasa puas serta bangga setelah melakukannya. Dia pikir itu keren, tapi sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia literasi.. kita menilai ini bodoh sekali, jelek! Dia enggak punya sense of sastra.. jadi penulis fiksi itu susah, tapi pria ini sok keren.. bungkus! Mendingan ini orang jadi joki skripsi aja deh.. jangan jadi novelis!”

Attar naik darah, moodnya sedang buruk sekali. Kali ini ia memarahi Sena karena membawakan draft seorang novelis muda yang memaksa-maksa ingin dipertontonkan karyanya ke Direktur langsung sebelum menyerah pergi. Sena yang tidak tegaan pun menginterupsi rapatnya Sabina dan Attar membahas perkembangan mereka sebulan ini.

Sabina mengernyit heran melihat Attar, sebenarnya ia ingin tertawa keras mendengar ketika Attar mengatakan bungkus! Tapi Sabina tahan, terserah Attar mau bilang apa.. sepuas-puasnya Attar saja. Sekalipun apapun yang keluar dari mulut Attar semrawut.

    “Tapi Pak Attar, orangnya tidak mau pergi sebelum dengar pendapat langsung dari Pak Attar..”

    “Sena, keluar sekarang!”

Attar membentaknya. Sabina menatap iba pada Sena meminta Sena memaklumi suasana hati Attar. Sena mengambil draft tadi takut-takut dan permisi keluar dari ruangan.

    “I-iya Pak..”

Sabina menatapi Attar geram dengan tindakannya kali ini. Attar tengah uring-uringan karena rencana Sabina beberapa waktu lalu untuk menjodohkan Arip dengan Shafa. Attar menentangnya keras. Attar sempat tidak menegur Sabina selama seminggu.

   “Attar, kamu dan Kang Arip itu tidak bisa ditakdirkan bersama. Kang Arip punya Tante Ellen yang ingin melihat anaknya menuju pelaminan dengan seorang wanita.”

   “Sabina, sudah aku bilang berapa kali? Hati tidak bisa dipaksa..”

   “Tapi kamu dan Kang Arip tidak akan bisa bersama. Aku akan melakukan apapun agar Kang Arip kembali. Oh iya, aku mau resign.”

Attar menatapi surat pengunduran diri Sabina.

   “Kenapa kamu keluar? Dilarang Amar kerja?”

Sabina menggeleng santai.

   “Bukan, Mas Amar tidak pernah mengekang apapun yang kulakukan selama masih baik.”

Attar menyobeknya langsung di depan mata Sabina.  Sabina heran bercampur kaget.

   “Attar!”

   “Kamu masih harus mengurusi Kahfi Sab… kamu bekerja pun tidak akan menganggu penghasilan lain kamu. Apa? Aku salah? Tidak ‘kan.. kuharap Amar tidak merasa kecil setelah mengetahui berapa uang kamu.”

Sabina memicingkan matanya geram. Amar tahu pun bukan menjadi masalah.

    “Dasar ‘ya.. aku bohong. Itu bukan surat pengunduran diri. Makanya amplopnya dibuka dulu! Itu surat dari Kang Arip.”

Attar langsung kelabakan bingung, ia berusaha menyusun sobekan kertas tadi. Sabina meninggalkannya di ruangan sendirian.

Di luar Sena menunggu, ia langsung bertos ria. Sabina menggandeng Sena ke kantin. Keduanya tertawa puas melihat ekspresi Attar tadi.

   “Mba’ Sab ngapain Pak bos?”

   “Ada deh..”

   “Mukanya Mba’… lucu banget! Panik gitu.. ha ha ha!”

   “Mau makan apa? Aku traktir Sen..”

Sena langsung bersemangat lagi.

***

Malam harinya, pukul 19.47. Amar heran dengan Sabina yang terlihat seperti anak kecil mau mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya. Terlihat muda sekali, siapa sangka istrinya sempat hamil 3 minggu.

         “Sab, kamu mau kencan atau jogging? Atau kamu mau futsal?”

Komentar Amar melihat Sabina mengenakan jins, kaos putih, jaket, dan sepatu kets serta kerudung dengan warna serupa. Tidak ada anggun anggunnya sama sekali. Terlihat seperti anak SMA yang hendak karyawisata. Orang-orang tidak akan menyangka umurnya sudah hampir 30 dengan penampilan dan wajah awet mudanya tersebut. Adakalanya Faizal, Tomo, dan Tama mengejek Amar kelihatan seperti jalan dengan keponakannya daripada istrinya. Karena terlalu mudanya wajah Sabina dibandingkan umur aslinya.

Amar menjumpai Sabina di halaman depan rumah makan tempat mereka ketemuan. Amar tidak pulang ke rumah, sore tadi tiba-tiba mengajak Sabina keluar selepas Isa’.

    “Bilang kalau mau kencan dong..”

Sabina kesal karena Amar seenaknya sendiri. Ia mengerti barangkali Amar ingin memberikannya kejutan, tapi kalau pada akhirnya malah seperti ini justru gagal total acara kencan mereka.

    “Kamu yang tidak peka..”

Gantian Amar tidak mau kalah.

    “Udah deh, jangan protes!. Mas, kamu tadi tidak bilang mau kencan. Jadi, aku mengajak Kang Arip dan Kak Makki sekalian. Maaf…”

Amar syok. Ia memegangi pelipisnya frustasi tapi masih berusaha untuk tenang. Makki dan Arip datang bersama.

    “Amar! Sweetheart! Amar… sudah lama tidak ketemu ya? Sehat ‘kan?”

Arip memiting Amar dengan kesal. Tempo hari lalu Amar memutus pembicaraannya dengan Sabina via telepon.

    “Alhamdulillah sehat Kang..”

    “Bagus…, karena Akang akan membuat kamu tidak sehat!”

    “Angsanya mana Kang? Katanya aku mau disosorin soang?”

    “Kapan-kapan. Sekarang aku sosor aja gimana?”

Canda Arip. Ia dekatkan bibirnya ke pipi Amar dan Amar menjauh sebisanya.

Makki dan Sabina hanya mengulum senyum melihat keduanya.

    “Sudah, sudah.. ayo masuk ke dalam.”

Mereka berempat masuk ke dalam rumah makan tersebut.

Amar duduk di sebelah Sabina berhadapan dengan Makki dan Arip. Hari ini Makki mengajak Arip menemaninya membeli keperluan bayi yang ingin Makki beli. Arip dengan senang hati mengantarkannya, dari hasil USG terlihat anak Makki perempuan. 1 atau 2 bulan lagi Makki akan melahirkan.

Mereka memesan makanan dan mengobrolkan apa saja. Sampai Arip menjelaskan bahwa Sabina bisa saja hidup sejahtera tanpa menikah.

    “Perempuan akan merasa cemas jika belum menikah dan laki-laki justru banyak cemas setelah menikah. Hmm.. normalnya seperti itu. Tapi kurasa ini tidak berlaku untuk Sabina dan Amar, cemasnya karena dia stres tidak tahu Amar suka tidak padanya tapi bukan karena belum menikahnya itu yang membuatnya cemas.. lebih ke galau dengan perasaannya sendiri. Dan Amar malah makin bahagia dan berseri-seri setelah menikah. Itu artinya Amar tidak cemas.”

Semuanya mendengarkan teorinya Arip. Sabina berulangkali mengangguk menyetujuinya. Amar heran apa maksud Arip sebelumnya tentang Sabina bisa saja tidak menikah dan tetap bahagia.

   “Aku masih heran dengan teori Kang Arip, Sabina berpotensi besar tetap bahagia tanpa menikah?”

Sabina lalu menjelaskan pada Amar dan semuanya. Makki tak begitu terkejut mengetahuinya, namun ia sekarang penasaran dengan reaksi Amar. Adiknya itu memang tidak seperti perempuan kebanyakan yang sehari saja bisa senewen kalau tidak ada pria didekatnya, bukan tipe orang yang butuh diberi perhatian lawan jenis lebih dari biasanya, Sabina selalu punya cara-cara tidak lazim untuk membuat dirinya sendiri tertawa dan terhibur. Namun memang benar bahwa keteraturan yang Sabina bangun bisa koyak karena tidak tahu pasti bagaimana menanggapi perasaannya sendiri pada Amar.

   “Aku tidak masalah tidak pernah menikah. Lihat dong aku bisa mencukupi diriku sendiri sampai 70 tahun kedepan, menikah itu sunnah.. tidak wajib dan dosa kalau ditinggalkan jika orangnya mampu hidup sendiri, ada juga kan orang-orang jaman dulu yang tidak menikah dan fokus menuntut ilmu atau fokus berkarya serta berkontribusi pada sesama.. lihat tuh ada banyak beberapa ulama dan sufi, filsuf.. kalau kamu mau tahu detailnya lihat aja sejarah. Lagian aku tipe orang yang let it flow aja sama hidup. Santai.. bagiku cinta ke manusia bukanlah segalanya.”

   “Kamu tidak mau punya anak? Dicintai dan mencintai?” Tanya Amar.

   “Adopsi bayi banyak. Cinta? Cinta itu hanya perasaan Mas.. pasti ada ujungnya juga. Manusia lahir membawa dirinya sendiri, ia mati dikubur sendiri. Mempertanggung jawabkan amal perbuatannya pun juga sendiri. Kenapa tidak?”

Amar mengerjapkan matanya berkali-kali, kerasukan jin mana lagi ini istrinya? Istrinya ini memang sudah aneh pemikirannya, tapi Amar baru menyadarinya betul sekarang. Ia memang pernah dengar di sejarah ada orang-orang yang hidup melajang karena alasan besar mulia lainnya, meninggalkan hasrat kemanusiawiannya untuk mencintai hal lainnya. Tapi bagaimana bisa Sabina berpikiran semacam ini?

    “Terkadang aku ingin membedah otak kamu Sab. Entah isinya apa saja sampai kamu bisa mengatakan segala pemikiran aneh itu.. serius. Tidak manusiawi sekali.”

Sabina hanya mengendikkan bahunya acuh tak acuh.

   “Aku sekarang menyadari aku sama sekali tidak takut jika kamu ingin menceraikan aku atau terpikirkan untuk selingkuh. Meski aku yakin kamu tak mungkin melakukannya, kamu orang beragama dan taat pada nilai serta norma sosial.”

   “Aku tidak akan seperti itu. Karena bagiku setiap hari kamu selalu berbeda Sab, sejauh ini saja aku masih merasa asing dengan kamu.”

   “Oke, kalau kamu mendua pun.. itu sudah menjadi bukti Mas.. bahwa kamu tidak pantas untukku. Dan tidak layak untuk dicintai olehku. Jika aku stres atau depresi karena kamu, aku akan minta tolong Kak Makki atau Kang Arip untuk mengembalikan semangat hidupku.”

   “Justru aku yang ketakutan dengan kamu yang terkesan tidak membutuhkan aku Sab. Bukannya aku bermaksud congkak, kebanyakan perempuan didekatku menatap penuh harap meminta dinikahi semua.. sedangkan kamu bahkan terkadang dingin sekali padaku. Kadang aku bingung sebenarnya apa cuma aku yang cinta kamu?”

   “Aku cuma beropini Mas, aku tidak suka lihat anak-anak itu yang belomba-lomba naik ke pelaminan dan atau yang diburu-buru menikah tanpa tahu hakekat hidup itu apa.. aneh tahu tidak? Kita bisa kog hidup aman sentausa sejahtera tanpa menikah kalau mau berpikir diluar normal dan mampu tentunya, mampu secara psikis dan materi. “

    “Sabina.. kamu hari ini perlu di ruqyah deh..  kamu tidak normal Sab..”

Timpal Makki. Sementara Arip malah memanfaatkan ini sebagai tempat rekreasi.. memancing keributan.

    “Tentu saja, aset dan properti Sabina ada dimana-mana. Barangkali penghasilan Sabina dalam sebulan 2 kali lipat dari yang Amar punyai jika sudah termasuk bisnisnya. Belum lagi yang Sabina sembunyikan.”

Amar tersenyum lembut menatapi Sabina, pantas saja istrinya tak pernah minta apapun darinya dalam bentuk materi. Semua keinginan Sabina sejauh ini hanyalah hal-hal konyol. Tapi sudah menjadi kewajiban Amar memberinya nafkah, meski tak sebanyak yang Sabina entah berapapun miliki sekarang.

    “Kang Arip, stop!” Sela Makki, ia tak mau menjatuhkan harga diri Amar.

    “Sabina sayang, hentikan semua pembicaraan ini. Aku tidak tahan mendengarnya..”

Sabina terdiam mendengarnya, ia memutar matanya geli dan menahan tawanya. Lalu tersenyum manis sekali sampai gusinya terlihat semua. Ia tenglengkan kepalanya menggoda Amar yang tampak kalut.

    “Takut ‘ya? Ayolah, aku tidak ingin kamu mencintaiku lebih dari Pencipta kita. Maka dari itu ikhlaskan semuanya,”

    “Aku mencintai-Nya melalui kamu juga Sab.. bersyukur serta merasa damai disetiap harinya. Itulah kenapa aku takut kamu meninggalkan aku.”

Sabina memeluknya, menepuk-nepuk bahu Amar dan menahan tawanya.

    “Mas Amar, santai saja. Dari semua yang ku utarakan tadi, aku hanya coba mengatakan bahwa aku mungkin bisa hidup sendiri tanpa kekurangan apapun secara materi. Pernikahan itu bukan puncak bahagianya hidup. Tapi hidupku akan sangat merasa kurang dan hampa jika tanpa ada cintanya Mas Amar.”

    “Kamu menyebalkan Sab..”

    “Terima kasih, sayang..”

Amar melepaskan pelukannya dan menatap Sabina takjub. Pertama kalinya Sabina memanggilnya sayang, Sabina hanya memanggilnya Mas Amar sejauh ini, kalau kumat kurang ajarnya dia akan memanggil namanya langsung. Ini perlu dirayakan.

    “Apa? Coba ulangi lagi?”

    “Tidak mau.”

    “Ulangi lagi coba..”

    “Enggak mau…”

    “Sab… kamu tadi bilang apa?”

Amar mencubit kanan dan kiri pipi Sabina gemas. Sabina hanya mengangkat kedua alisnya dan menggeleng ringan. Makki dan Arip tersipu-sipu melihat keduanya lucu sekali.

    “Kalian berdua bisa tidak… sehari saja tanpa berantem? Atau membicarakan hal-hal tidak wajar?”

    “Tanya Sabina Kak, dia yang mulai duluan..”

Amar masih mencubiti gemas pipi Sabina.

    “Tak ada asap tanpa api, Mas Amar yang memicunya.”

    “Sudah sudah, kasihan anakku nanti.. punya om dan tante gak beres seperti kalian.”

Dengar om dan tante membuat Arip terpikirkan ide lucu.

    “Ngomong-ngomong nanti dia panggil aku Om apa tante ya Ki? Aku pengen dipanggil auntie.. manis, enak didengar telinga.”

Arip sudah tersenyum-senyum senang membayangkan ada anak kecil berlari-larian memanggilnya auntie.

    “Kang, jangan aneh-aneh.. sssttt. Malu ini..”

Makki jijik membayangkan anaknya memanggil Arip Auntie.

    “Bodo amat…”

Arip sewot. Makki kembali pada Amar dan Sabina yang kini suap-suapan makanan.

    “Aku mengerti sekarang kenapa kalian belum dikasih anak juga, sebagai orang luar Kakak merasa seru lhoh.. lihat kalian berantem beda pendapat dan suka mengkompromikan segala sesuatu. Sabina yang tidak mau mengalah, Amar yang pengertian.. kalian ini lucu dan manis. Mungkin Tuhan ingin kalian lebih saling mengenal dulu, bagaimanapun juga nanti kasih sayang kalian akan otomatis berpindah ke anak kalian kalau sudah punya anak.”

Arip menyesap minumannya dan tertawa hambar.

    “Sayangnya aku tidak bisa hamil yaa..”

Ketiganya kaget mendengar celetukan Arip.

   “Kang Arip…” seru tertahan ketiganya.

   “Apa?”

Arip kembali masa bodoh. Menyendok supnya dengan santai. Beruntungnya tak terdengar oleh para pengunjung lainnya.