[Sinopsis] We Married as Job Special Movie – Part 3

Yassan berkunjung ke rumah Mikuri dan membawakannya banyak kudapan, Mikuri sedang senang-senangnya memakan makanan yang asam dan manis, Yassan menjelaskan sebagian besar jelly yang dijual terbuat dari rumput laut, ia bisa memahami Mikuri karena pernah hamil dan merasakan yang Mikuri rasakan. Keduanya juga mengenang semasa SMA kenapa bisa bersahabat dekat, karena Yassan pernah melihat Mikuri muntah saat karya wisata. Sehingga ia tidak merasa sungkan lagi dengan Mikuri.

Mikuri menghirup aroma yang menurutnya harum sekali, Yassan rupanya membawakan kentang goreng McD juga. “Sudah ku duga, orang hamil itu pasti suka makan makanan yang aneh-aneh. Makanya aku bawa ini juga.”

Taraaaa.. kentang McD *wkwkwkwk

Mikuri sangat ingin makan itu!

 Yuri chan baru selesai bertemu dengan dokter untuk membicarakan kankernya, ia ditemani kawannya. Merasa bersyukur karena baru stadium 2 dan bisa disembuhkan dengan operasi dan biayanya tidak begitu mahal untuk diangsur, ia hanya tinggal bekerja keras lagi! Semangat!. Ia juga berterima kasih dengan temannya itu sudah bersedia menemaninya.

Temannya juga mengenang masa lalu, sejak lama ia menyukai Yuri karena orangnya selalu ceria. Dulu dia tidak bisa mengutarakannya karena menyukai sesama jenis dianggap aneh, takut Yuri akan menjauhinya. Setidaknya sekarang dia bisa menjalani hidup sesuai keinginannya tanpa harus malu lagi menunjukkan siapa dirinya.

Yuri mengutarakan ia senang sudah mendengar pengakuannya, entah suka sebagai teman atau yang lainnya… Yuri cukup bersyukur karena ada seseorang yang menyukainya. Karena teruntuk seseorang yang dianggap perawan tua dan menyalahi tolok ukur kewajaran di masyarakat dan terkadang merasa kesepian saat sendirian, dia senang ternyata ada orang yang suka padanya. Bukan menghakiminya dan membuatnya sedih.

Pagi hari Mikuri membuat makanan untuk dimakan sendiri ketika bangun, bahkan ia makan banyak dan lahap. Ia merasa senang sekali karena sudah tidak mual-mual seperti sebelumnya. Saking bahagianya ia segera membangunkan Hiramasa untuk mengabarkan kabar ini.

Mikuri pun bernyanyi-nyanyi dan ngerap saking senangnya. Hiramasa ikut senang mendengarnya. Dan berpelukan~ teletubis~

Mikuri sudah bekerja kembali, rekan kerjanya yang dulu mengeluh beban kerjanya akan bertambah selama Mikuri hamil pun segera meminta maaf. Itu karena Mikuri pandai mengerjakan data-data, ia jadi kesal duluan kalau harus ditambahi beban pekerjaan Mikuri. Tetapi ia menyadari bahwa mereka adalah satu tim yang memang seharusnya salling bagi tugas.

Mikuri menerima permintaan maaf, ia juga bergumam ia harap departemen lain juga punya tim yang saling solid begini.

Hiramasa diprotes karena mengajukan cuti mengasuh, sangat aneh ada laki-laki melakukan cuti mengasuh anak!. Tidak ada orang seperti itu di dunia ini! Terlebih mereka sedang ada projek penting yang berjalan. Paling normal laki-laki adalah cuti 1 minggu. Kalau sampai 1 bulan namanya tidak bekerja.

Mikuri juga masih ngobrol dengan rekannya, ia dan Hiramasa hendak berbagi secara adil saat anak mereka lahir. Hiramasa akan cuti 1 bulan. Rekan Mikuri kaget mendengarnya, enak banget bisa cuti selama itu? Kantornya baik banget? Kalau di sini pasti sudah disemprot habis-habisan karena dianggap lepas tanggung jawab.

Hiramasa dan Mikuri justru merasa aneh dan tidak anehnya cuti mengasuh bagi laki-laki dan perempuan.

Keduanya berpendapat aturan semacam itu seharusnya sudah aneh sejak awal. Tidak bisakah seseorang beristirahat dari pekerja’annya?

Malamnya mereka membahas apa yang mereka alami tadi, Hiramasa curhat bagaimana dia ditentang atasannya. Mikuri menyarankan Hiramasa memasang ekspresi meyakinkan.

Yuri chan mulai dirawat di RS, dia akan menggunakan ini sebagai waktu istirahat juga. Mikuri sangat merasa bersalah karena saat mual-mual parah dulu tidak bisa membantu Yuri chan, Yuri chan tidak apa-apa.. namun agak sedih mengatakan dia akan kehilangan rahimnya tanpa pernah digunakan untuk melahirkan anak. Namun memiliki keponakan seperti Mikuri membuatnya merasa memiliki anak.

“Anakku nanti juga anaknya Yuri chan kog,” Mikuri mencoba menenangkan.

Saat mereka mengobrol, tanpa sadar si jabang bayi menendang. Mereka berdua terkesima.

Mikuri dan Hiramasa pergi ke kuil untuk berdoa, setelah selesai berdoa Ibunya Hiramasa dengan mikuri jalan-jalan di sekitaran seperti teman. Mereka iseng melakukan permainan keberuntungan. Sedangkan Hiramasa duduk canggung dekat ayahnya, ayah menasehati tentang tanggung jawab Hiramasa akan menjadi lebih besar, bagaikan pilar rumah yang harus lebih kuat dan kokoh lagi untuk menopang rumah. Namun Hiramasa menjelaskan bahwa ia dan Mikuri saat ini diibaratkan tinggal di salat satu unit apartemen/mansion, jadi tidak membutuhkan pilar yang dimaksudkan ayah. Karena Hiramasa dan Mikuri berkomitmen untuk melakukan segalanya berdua secara adil, bukan siapa yang harus menerima beban paling berat.. mereka ingin beban dan tanggungjawab dibagi sama.

Sayangnya Ayah salah paham, dikiranya Hiramasa adalah suami yang takut istri dan tidak bisa tegas, ayah malah menyuruh Hiramasa lebih bisa berani dan mendominasi rumah tangga. Hirmasa hanya diam saja mendengar komentar ayahnya. (Paling geregetan sendiri ya? Keknya mo dijelasin pakai cara apapun untuk saat ini gak bakal bisa dipahami Oto-san~, dududu~)

Hiramasa dan Mikuri memasak bersama, Ayah yang tengah duduk di sofa nampaknya tidak suka melihat Hiramasa di dapur untuk memasak. Sedangkan Ibu tampak antusias dengan anaknya yang masih tahap belajar memasak.

Disaat itu pulalah bayi dalam perut Mikuri menendang, Mikuri terkejut dan Hiramasa segera cuci tangan untuk merasakan keberadaan calon anaknya. (Yang mau gw tanyakan! Hoi Papah Muda! Ngapain pakai celemek kalau ada acara cuci tangan segala? Hadeh.. gunanya celemek kan memang buat lap lap tangan pas masak wkwkw. Apakah Adek di dalam sana bisa mencium aroma bawang? Terus pas keluar nanti protes “Papa! Aku tidak suka bau bawang!”)

Telat, anaknya sudah tidak menendang lagi disaat Hiramasa mencuci tangan dengan buru-buru.  Hiramasa nampak kecewa karena melewatkan momen tersebut, Mikuri menyemangati. Tidak apa-apa, mulai sekarang sepertinya dia akan lebih aktif bergerak kog!

Ibunya Hiramasa memuji suatu hidangan dan mengira Mikuri yang membuatnya, Mikuri gentian memuji “Itu buatan Hiramasa-san, lho..”

Ayah tercengang, ya balik lagi ke mindsetnya.. ngapain suami masak? Kan harusnya dilayanin. Hiramasa mengatakan ia memasak dengan peralatan modern dan menjelaskan keuntungan menggunakan mesin tersebut.

Nampaknya ayah dan ibunya Hiramasa sudah pulang ke rumah mereka. Hiramasa termenung di sofa, Mikuri datang membawakannya minuman. Mikuri bertanya apa yang sedang Hiramasa pikirkan. Hiramasa bilang dia hanya merasa agak canggung bersama ayahnya, semakin bertambah usianya ayah semakin sensitive, terlebih gagasan bahwa pria harus mendominasi keluarga.

“Tapi kan Hiramasa-san orangnya berbeda dengan ayah..”

“Terlebih aku tentu saja tidak akan pernah bisa melakukan itu. Karena aku tidak pernah terpikirkan untuk menikah sebelumnya. Namun setelah mengenal Mikuri aku berubah pikiran. Aku menghormati ayahku, tetapi aku dan ayah tentu saja berbeda. Pasangan yang ku pilih pun berbeda..”

Yang lebih penting bagi Hiramasa sekarang adalah menjadi ayah yang ideal. Mikuri mengiya-iyakan saja sembari tersenyum, masalahnya dia malah bingung sendiri dengan artian ayah ideal versi Hiramasa itu seperti apa? Kenapa membingungkan dan terdengar berat sekali. Ayah ideal seperti apa yang diinginkan Hiramasa?

Hiramasa izin mengecek email pekerjaannya, Mikuri masih bingung. Sebenarnya akhir-akhir ini Hiramasa-san terasa sangat jauh, apa mungkin Hiramasa memang menjaga jarak dan tidak banyak mengungkapkan keresahan dan kekhawatirannya sendiri karena tidak mau mempengaruhi kehamilannya Mikuri?