Tiba-Tiba Kangen Imam. Ngapain Saya Kangen Suaminya Orang? Aduuh.. Stres..

F=73 ingetku siapa coba? Bang Ipul. Hahahaha, maksudnya apa? Hanya orang-orang tertentu yang ngerti. Dan wah, tak kusangka sekarang lihat dia biasa aja bawa’annya.. nothing special~. Tapi bagiku dia masih keren.. 😂 mata oh mata.. karena mata gak pernah bohong.. #ngaco’.
.
.
Selly bilang dulu Imam pernah cerita kalau dia punya teman yang namanya Riza, dipikirnya cowok. Yo.. okay, wareg aku dikiro jeneng lanang.
Tapi.. ya begitulah kisah mereka, yang tak jelas ujungnya bagaimana. Sudah nikah tapi tetep aja ribut.
Karena Imam berusaha pedekateh dengan sosok ukhti-ukhti.. saya sampai sakit perut memikirkannya.
Kesambet apa orang ini? Secakep apa mba mba yang dia taksir sampai begitunya?? Saya kenal Imam bukan sehari dua hari ya.. jeleknya banyak banget, tapi saya pertahankan jadi temen. Bangsatnya gak ketulungan tapi saya masih bisa sabar dan mencari-cari sisi baiknya.
Saya sampai menyarankan Selly buat memeriksakan Imam ke ahli jiwa atau kemana kek.. kelakuannya makin aneh aja nih orang.

Hahahahaha, Selly sampai ngirimin ss IG Imam yg bahkan Selly tidak diperkenankan Imam untuk follow. Jadi mereka berantem, no nya Selly diblokir Imam. Jadi saya menjadi mata-mata atas segala kegiatannya Imam. Tapi.. saya kelupa’an sesuatu.. tanpa sadar ngepost soal kedekatan kami.. nah.. Imam langsung privat statusnya dariku. Kampret sekali kau Mam.. ngeselin tau gak?

Banyak hlo yang heran padaku, sejenis berkomentar “kamu yang seperti ini kenapa bisa punya temen seb*jingan Imam?”

Jawabku “Gak tau..” sumpah! Gak tau.. hahahahahhaa.. entah mengapa nyaman saja didekatnya Imam. Tapi bukan nyaman dalam artian lain.

Meski Selly membercandakan Imam sebegitunya dengan saya dan nyaris setiap harinya, saya mengerti bagaimana perasaannya. Punya suami mata keranjang, gak jelas.. hmm ingin ku berkata kasar.

Kalau yang atas ini Sony, jadi Senin dia ngajak ketemu buat bayar hutang. Hmm.. pinter.. neg rak mbuk bayar tak gorok lehermu Son.. yaqin.. 😂

Seharian kan saya jarang pegang hape, tiba-tiba dapet pertanyaan soal Imam? Heuh.. mana kutahu.. dia seperti menghindariku sekarang.

.

.

  • Dikira aku selingkuhannya Imam
  • Dikira aku pacar dinasnya
  • Dikira aku genda’ane
  • Dikira aku ini istri tuanya. Yang dateng pas butuh dan susah, tapi seneng-senengnya sama istri kedua yang muda dan kinyis-kinyis
  • Dikira aku dan Imam saling suka?? Hahahaha.. astagfirullah.. ini hanyalah hubungan antara tumbuhan parasit dan induk semangnya..

Sampai saat ini Imam belum bayar hutang juga padaku. Aku pribadi aih jujur dibayar kapanpun tidak masalah.. asal dia tidak melupakan hutangnya. Dia sudah janji.

Karena saking banyaknya.. saya sampai pernah bilang begini..

“Mam, rasanya aku kayak nabung ke kamu deh..”

“Gapapa, buat sangu nikah..”

“Nikahku jeh suwe ndul, mbuh mbi sopo sisan..”

“Hahah, ya nanti sambil jalan kalau ada uang pasti kubayar. Gak usah khawatir..”

“Atau jangan-jangan kamu bayar pas aku nikah? Diamplopin dalamnya + nyumbangnya? Edan..”

.

.

Jadi.. apa yang saya rindukan dari Kangmas ketemu di selokan ini?

Jawabannya adalah: “The way he make me laugh..”

Mungkin dia tidak memberiku uang atau kata-kata manis serta perhatian seperti Mas Ipul, atau tidak menjadi orang yang sok ngingetin kurangku, terlalu sering menyentuh kepala dan keningku, dan.. dua kali sepertinya.. dua kali apa? He touch my lip dengan alasan “Iki lho ono ilere..” dan tentu saja aku segera menghalau tangannya. Dan kamu berharap aku menyukainya lebih dari teman? No way!

Dia adalah laki-laki pertama yang kelakuannya kurang ajar begitu. Aku diam saja diperlakukan begitu? Tidak.. dia sudah kenyang dengan jambakanku. Sedih akutuh.. disentuh-sentuh Imam dengan seenaknya sendiri.. 😭😭

Apa yang saya benci darinya: semua, semua kriteria laki-laki yang saya tidak suka ada di dia. Tapi kenapa dia bisa menjadi sohibku? Kan sudah kubilang.. Temenan sama Imam itu rasanya seperti dipaksa Tuhan untuk memahami apa yang saya tidak suka.

.

.

Dan hei Imam! Berhentilah mencari.. kau sudah punya Selly yang tak kurang-kurang sabarnya.

Advertisements

[Primrose] Sesibuk Apa Kamu & Aku Hingga Terlupa Kita?

Masih terngiang jelas bagaimana Sabtu sore itu, kemudian senin setelahnya. Dalam sekejab ritme jantungku tak senada dengan akal sehatnya. Waktu itu aku 16 tahun, dan belum secantik ini. Hahah, mulai memuji diri sendiri.. dasar narsis,
Ku dengar kau di Jakarta, Bandung, Semarang, lalu entah Jawa bagian Timur sana. Lalu tiba-tiba sudah berada di rumah kembali.. kau yang begitu menyayangi ibumu, dasar si anak bungsu..
Sudah berapa keponakan yang memanggilmu Om? Hahah..
Kau bilang aku seperti buku, yang terlalu bagus untuk dihabiskan sekali baca. Ingin kau baca berulang kali, perlahan menikmati setiap lembar yang ada, bukan cuma paham tapi hafal gelap terangku. Baca terus sampai tak ada kisah yang terlewatkan sama sekali.
Huft.. seandainya kau seperti dua sahabatmu itu, pasti sudah jadi playboy kan? Tapi kamu bukan seperti mereka.. tak suka membual dan kau bilang cinta saja tak cukup, meski aku juga merasakan bagaimana sakitnya.
Kau ingin aku mengerti, tapi kau tak pernah dengan tegas memintaku menunggu. Tapi dengan hebatnya aku menunggu.. tanpa kau minta aku pun menunggu, meski kau kuberi tahu juga perihal betapa banyaknya buaya dan kadal yang mendekatiku. Hanya tak ingin kehilangan..
Maka kita tidak berpacaran, kau sibuk dan aku sibuk. Lagipula itulah yang kau dan aku yakini semenjak dulu sebelum saling bertemu.
Bukan bukan.. kau dua kali lipat lebih sibuk dibandingkan aku. Yang kadang-kadang membuatku khawatir betapa kurusnya dan pucatnya garis matamu itu.
.
.
Selayaknya sebagai orang yang sayang, pasti tak ingin apa yang disayangi terluka. Jika itu ibuku.. ketika aku menangis dan mengeluhkan “Kenapa? Kenapa tidak adil?”. Maka beliau akan menyuruhku berhenti.. sudah.. pulang saja ke rumah Nak, Ibuk ikut sedih kalau kamu sedih.
Tapi kamu beda Mas, konyol..
Malah menanggapi “Jingga di bahumu. Malam di depanmu. Dan bulan siaga terangi langkahmu. Teruslah berjalan. Teruslah melangkah, kutahu kau tahu. Aku ada.”
Dari semua yang kutangkap dan narasikan sendiri.
Seolah bilang, Dek.. memang aku tak selalu bisa berada disisimu, apapun yang kau lakukan di hidupmu.. semua keputusanmu, entah seberat apapun aral melintangnya jangan pernah menyerah. Teruslah berjalan. Kau tahu perasaanku. Aku minta pengertiannya, akan ada hari dimana semuanya akan seperti yang kau inginkan. Untuk saat ini engkau marah padaku pun aku tidak masalah.
Ya Rabbi, apakah di kehidupan sebelumnya aku menyelamatkan negara atau bagaimana? Kenapa ada lelaki seaneh ini yang Kau aku taruh hatinya begitu dalamnya dan aku tidak tahu alasannya apa?
Oh Bi.. apakah kau tahu.. aku sebenarnya amat sangat tergila-gila padamu hingga jadi sinting begini? Jadi murahan sekali jika berkaitan denganmu.
Rasanya kesal sekali dan ingin menjambaki rambutmu.
Bagaimana kabarmu? Kakimu sudah tidak apa-apa kan?
Seperti yang pernah ku sampaikan, bawalah hatiku kemanapun kau suka. Tapi jangan pernah lupa untuk pulang kembali ke pemiliknya.

.

.

.

Wanita akan menangis jika merindukan pasangannya? JAWABANNYA ADALAH “FAKTA”
Kalau saja air mataku selama ini dikumpulkan pasti sudah membentuk satu lautan. Lalu orang-orang dengan bingung akan bertanya

“Ini salah siapa?”

Lalu aku menunjuk dirimu.