[Sinopsis] We Married as Job Special Movie – Part 1

.

.

Seperti biasanya, Mikuri doyan berkhayal. Dia membayangkan dirinya betdiri di sebuah kongres dan menyampaikan idenya. Ini terjadi karena saat jam makan siang dia dan rekan sejawatnya membicarakan tentang cuti melahirkan di kantor yang acap kali membuat pekerja’an yang terbengkalai dipegang oleh karyawan lainnya selama si wanita cuti melahirkan.

Mikuri dan teman-temannya sependapat untuk era sekarang entah kenapa bagi wanita hamil dan cuti terasa diatur-atur dan sangat terbatas. Serta membuat kacau departemen. Mikuri sudah 1,5 tahun ini bekerja lagi, dan menjadi satu-satunya perempuan di divisinya.

Mikuri dan Tsuzaki juga sudah pindah rumah 2 tahunan ini. Yang semula hubungan mereka hanyalah asisten rumah tangga dan pemilik rumah kini berubah menjadi pasangan sesungguhnya. Tsuzaki bahkan terkadang memasak juga untuk hari libur dan selalu bergantian dengan Mikuri, seperti kali ini Tsuzaki memasak dan Mikuri berkomentar masakannya terasa lebih enak dibandingkan sebelumnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tsuzaki berterimakasih karena sudah dipuji, baginya memasak itu seperti bereksperimen. Memerlukan kombinasi bahan dan bumbunya. Mereka bangun tidak bersama’an makanya Mikuri dan Hiramasa bebas mau sarapan dengan apa sesuka hati mereka.

.

.

.

.

.

.

Mikuri akan mencuci pakaian kotor tiap 2 hari sekali, kemudian Hiramasa akan bertugas menjemur pakaian. Karena Mikuri pulang lebih awal dari Hiramasa maka dia yang bertugas mengangkat jemuran dan melipatnya.

.

.

“Masing-masing dari kami akan bertugas sesuai kemampuan. Kami juga saling bagi tugas untuk membersihkan bagian rumah yang tidak disuka. Kami juga saling menceritakan apa yang sudah dilakukan serta saling mempertimbangkan suatu hal.”

Seperti saat makan malam, Mikuri bilang dia sudah membersihkan AC. Hiramasa bilang dia juga sudah membersihkan dapur sampai berkilau. Kemudian saling berterimakasih,

.

.

Hiramasa diprotes Bossnya karena tidak ikut berkontribusi di projek terbaru, tetapi Hiramasa menjawab, kalaupun dia tidak ikut pasti tidak banyak berpengaruh juga.

Kemudian Bossnya mengajaknya menggosip tentang karyawan yang cantik, bagaimana kalau Hiramasa dikasih asisten itu nanti? Siapa tau kinerja Hiramasa akan naik drastis.

Hiramasa membantah “Memangnya kalau dapat asisten cantik akan berpengaruh banyak di kinerjaku?”

“Dia itu bagaikan oasis di sini, seger banget tau’!. Kalau ada orang seperti itu harusnya kau jadi semangat kerja kan?.”

Kazami datang membela Tsuzaki, “Tsuzaki-san bukanlah orang seperti itu. Kalau daya tariknya cuman cantik dan imut tentu saja tidak akan membuat Tsuzaki-san tergoda.”

.

.

Kazami kemudian menyindir harusnya Tsuzaki ikut projek terbaru kali ini, karena Kazami tidak yakin projeknya akan berjalan lancar kalau dipimpin Boss mereka ini.

.

.

.

.

Kazami dan Yuri-chan sebenarnya berkencan selama 1,5 tahun ini. Tetapi tidak ada angin tidak ada hujan kabarnya mereka putus. Yuri-chan masih sama seperti biasanya, wanita karir yang pekerja keras. Bahkan pernah masuk ke TV mempromosikan perusaha’annya yang ramah kebijakan bagi pekerja perempuan, tentang cuti hamil dan sejenisnya.

.

.

Mikuri sangat bangga pada Yuri-chan yang sangat terkenal. Anehnya entah kenapa akhir-akhir ini Mikuri merasa hampa dan mudah sekali mengantuk. Banyak yang menduga Mikuri hamil.

.

.

Saat main ke rumahnya Yuri-chan dia juga lelah dan menghindari minum wine, Mikuri izin mau pulang karena ingin mampir ke apotek, bilangnya mau beli bathing powder agar tidak dicurigai Yuri-chan hamil. Aslinya ingin membeli alat penguji kehamilan.

Sesampainya di rumah dia juga kebingungan bagaimana menjelaskannya nanti ke Hiramasa.

..

.

.

.

Setelah di cek barulah ketahuan Mikuri hamil. Sayangnya Hiramasa tidak memberikan reaksi yang Mikuri inginkan, Hiramasa masih belum percaya dan mengajak Mikuri melakukan tes medis sesungguhnya, lalu mereka bisa membicarakannya lagi. Kemudian Hiramasa meninggalkan Mikuri sendirian di ruang tamu.

.

.

Hal ini membuat Mikuri semalaman berpikir kenapa Hiramasa terlihat tidak bahagia dengan kehamilannya?

.

.

.

.

Hari lainnya Mikuri curhat ke Yassan, Yassan langsung nyerocos laki-laki itu sama saja! Tidak peduli mau istrinya hamil atau punya anak, banyak anak banyak rezeki apanya?! Suaminya Yassan malah mengurangi uang jajannya Yassan.

Mikuri protes, suaminya Yassan kan berbeda dengan Hiramasa-san.

Yassan baru sadar dengan Tsuzaki Hiramasa yang kaku dan penuh perhitungan tetapi pengertian dan mudah diajak kerjasama “Iya juga sih..”

Yassan langsung sedih memikirkan rumah tangganya, tetapi tidak apa-apa.. merawat Hirari sendirian ia sanggup. Mikuri langsung meminta maaf karena membuat Yassan sedih,. Yassan mengelola perusaha’an selai sayuran dengan bantuan teman ibunya, penghasilannya bisa dibilang lumayan.

“Eh, ngomong-ngomong Mikuri kan orangnya tidak gegabahan. Sejak awal menikah memang sudah pengen punya anak kan?”

“Hmm, iya aku menginginkan anak. Syukurlah bisa mendapatkannya..”

Namun semakin kesini semakin membuat Mikuri bingung, apa hanya dia yang bahagia atas kehamilannya saat ini?

Hiramasa mengajak Mikuri bicara, sebenarnya dia sudah lama memikirkan ini. Tentang mendaftarkan pernikahan mereka ke Negara, agar hubungan mereka lebih jelas lagi. (cuman nikah siri ceritanya guysss.., pemberkatan tapi belum terdaftar di negara)

Berhubung sekarang ini Mikuri hamil, pembicaraan ini jadi cocok dibicarakan sekarang. Mendaftarkan pernikahan dan mempertimbangkan ingin menggunakan marga siapa?. Tsuzaki mengatakan kalau di Jepang itu budayanya biasanya setelah menikah.. istri akan ikut marga suami.. bukan sekedar dipanggil menjadi Nyonya Tsuzaki.. tetapi benar-benar harus merubah semua dokumen dengan nama Tsuzaki, dan ini agak ribet untuk urusan perubahan semua dokumen, dari KTP, ATM, SIM.

Mikuri tidak mempermasalahkannya tetapi dia tetep skeptis kenapa sih perempuan yang harus buang marganya?, namun demi kebaikan bersama ia setuju mengalah menjadi Tsuzaki Mikuri. Lagipula ia punya kakak laki-laki yang bisa meneruskan nama marganya. Sedangkan Tsuzaki Hiramasa adalah anak tunggal.

(Ada sih, sketsa opera sabun berbentuk mainan yang membahas marga ini dan perubahan nama yang merepotkan pengurusannya. Tapi intinya mereka membicarakan hal tersebut di atas gengs… wkwk, terlebih kan Mikuri karakternya yang agak bandel dan selalu sangsi dengan “hal-hal sewajarnya” di masyarakat.)

Mikuri juga mempertimbangkan Hiramasa yang meski bekerja di perusaha’an, tetapi Hiramasa digaji per projeknya.. jadi bisa dibilang freelance. Tidak akan menguntungkan sama sekali jika Hiramasa yang mengubah namanya.

Mikuri juga bilang kalau seandainya terjadi sesuatu dia bisa mendapatkan nama marganya sendiri lagi. Kemudian Hiramasa bercanda, namanya jadi Moriyama Tsuzaki. Mikuri tertawa, kog lucu ya namanya malah jadi terdengar seperti ahli sastra?.

Hiramasa “Tapi aku gagal jadi penyair..” Mereka berdua tertawa karena mengingat Hiramasa orangnya sangat rasional.

 

 

Mereka pergi ke dokter untuk mengecek kandungan.

Mereka kemudian berjalan pulang menuju rumah, terlihat bulan yang begitu besar meski langit sedang biru-birunya. Mikuri dan Hiramasa berhenti sejenak untuk mengagumi keindahan bulan tersebut.

“Bulannya nampak bagus ya, kelihatan begitu dekat..”

“Jarak terdekat bulan dengan bumi adalah 380.000 km

“380.000 itu sudah dekat ya?”

 

.

.

.

Mereka bercanda sembari menanti petugas pengurus dokumen, keduanya sama-sama tidak terbiasa memakai aksesoris. Jadi agak tidak nyaman mengenakan cincin kawin. Tetapi Hiramasa khawatir kalau Mikuri nantinya bisa digodain pria lain karena tidak mengenakan cincin. Mikuri balas berkata, sebenarnya dia juga khawatir kalau Hiramasa dikira masih lajang dan digodai.

Tapi Hiramasa menyergah “Kalau soal itu kau tidak usah khawatir..”

“Kalau Hiramasa masih lajang, aku akan menggodamu lho..”

Mendengar itu membuat Hiramasa malu, keduanya langsung senyum-senyum tidak jelas sehingga membuat petugasnya tadi ikutan tersipu.

Saat pulang Hiramasa sudah bertekad untuk membantu Mikuri. Ia mengutarakan akan membantu Mikuri sampai anak itu lahir, katakan apa saja nanti akan . Tetapi Mikuri nampak tidak setuju. Membantu? Bagaimana? Bukankah sebagai suami dan istri seharusnya mereka belajar bersama-sama dan melakukan tugas mereka secara adil? Kenapa harus Mikuri saja yang belajar sendiri dan memerintah sedangkan Hiramasa hanya menjadi pembantunya? Yang menurut Mikuri terasa timpang.

Mikuri pergi meninggalkan suaminya, marah dan merasa kesal karena sampai mengatakan sesuatu yang membuat Hiramasa tidak nyaman,

**

 Tiba-tiba karena perbeda’an pendapat mereka kali ini, membuat keduanya terasa jauh. Seperti jarak bumi dengan bulan.

Don't be shy. Leave a reply ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s