K-Drama; Because This Is My First Life || Nam Se Hee: “Hanya 3 hal yang aku bersedia tanggung, angsuran rumah, kucingku dan diriku sendiri..”

..

    Drama Jepang We Married as Job ada filmnya lho, sebagai obat kangen pecinta drama kocak tersebut. Saya sempat ngerecap sinopsisnya dulu, namun saya belum nonton filmnya. Namun katayang sudah nonton gak begitu bagus. Makanya saya skip dulu,

Tertarik menonton Because This Is My First Life karena dulu ratingnya tinggi dan disukai banyak orang. Namun saya nontonnya jauh setelah dramanya lama tamat. Dan ternyata… lumayan bagus. Untuk mengundang tawa tentunya We Married as Job lebih unggul, sesekali ngadih bumbu bumbu sedih. Sedangkan Because This Is My First Life lebih terikat dengan kehidupan sehari-hari. Saya suka keduanya, namun lebih suka We Married as Job meski tidak masuk akal.

Apakah saya sudah cerita, sebenarnya saya lumayan baper dengan komentar readers di recapan We Married as Job, yang notabenenya sudah berkeluarga. Sebagai manusia transisi menuju Revolusi Industri 4.0.. wkwk saya punya pemikiran yang lumayan terbuka dan merasa kalau sepertinya beberapa hal gak mungkin kejadian, ternyata kejadian..

Satu contohnya, ada yang komentar dia rajin bikinin bekal untuk suaminya. Maksudnya gini lho… saya mikirnya, sepertinya laki-laki lebih suka jajan di kantin sekalian berinteraksi dengan rekan kerjanya. Kalau nge-bekel kan takutnya dikira ansos dan gak punya temen. Tapi beneran ada ya.. hahaha yang bekelan. Itu baru komentar sih.. kenyata’annya memang ada laki-laki kerja dan beberkal, rekan kerja saya sendiri hahahahaha, uuuh…. So sweet. Meski tidak setiap hari..tapi ada. Dan mereka gak malu. Nice!

Recap Singkat Because This Is My First Life;

       Drama ini cukup masuk akal atau bahkan cenderung aneh bin ajaib. Nam Se Hee adalah pria lajang yang bekerja sebagai enginer? Apaseh? Pengembang aplikasi maybe lebih tepatnya. Dia berusia akhir 30 an kalau tidak salah. Sudah memutuskan untuk tidak akan menikah, dia hanya akan fokus mengurusi kucingnya dan membayar rutin cicilan rumahnya yang bahkan lunasnya bisa 40 tahun lagi.

Yoon Ji Ho adalah penulis, lebih tepatnya asisten penulis. Meskipun Ji Ho lulusan Univ ternama yaitu Seoul University, tetapi karirnya begitu-begitu saja. Bahkan hanya sebagai bayangan penulis drama, tugas Ji Ho adalah menulis naskah penempatan produk sponsor. Semisal ada adegan protagonisnya ngeluh “Aku tuh capek! Tapi minum ini langsung seger.. “ sambil pegang minuman berenergi dan labelnya kesorot kamera, yang gitu-gitu pokoknya.

Bagaimana mereka bisa dipertemukan? Karena Ji Ho butuh tempat tinggal, rumah yang ia bayar tiap bulan sewanya kini ditinggali oleh adiknya dengan istrinya. Adiknya yang pemalas lebih rajin bikin anak ketimbang kerja, ayah akan membela adiknya karena keluarga mereka lebih mementingkan laki-laki. Jadi Ibu dan Ji Ho sejak kecil selalu mengalah. Meski yang membayar Ji Ho, sayangnya rumah tersebut atas nama Yoon Ji Suk dan Ji Ho harus mengalah lagi. Ji Ho mencoba mencari tempat sewa dan akhirnya cocok dengan tempat tinggalnya Nam Se Hee.

Semula Ji Ho pikir Nam Se Hee adalah perempuan, maka dia tidak keberatan tinggal di sana dan membayar murah. Meski Nam Se Hee memintanya sekalian merawat kucing dan memilah sampah.Se Hee sendiri pun juga mengira Ji Ho adalah laki-laki. Sempat canggung, ternyata mereka lawan jenis, padahal Se Hee sudah puas dengan perilaku Ji Ho yang rajin memilah dan membuang sampah, perhatian pada kucingnya dan bisa diandalkan ketika Se Hee pulang telat. Se Hee takut hubungan mereka akan kearah lebih dari pemilik dan penyewa.

Singkat cerita mereka sepakat tinggal bersama dengan kontrak pernikahan, mereka akan tetap seperti biasanya hanya saja jika didepan orang terdekat mereka harus berakting. Se Hee sudah diburu keluarganya untuk segera menikah, sedangkan Ji Ho membutuhkan tempat tinggal yang nyaman dan murah. Meski tidak ada cinta, setidaknya kesepakatan ini sangat menguntungkan bagi keduanya.

Witing tresno jalaran saka kulina, cinta tumbuh karena terbiasa. Tetapi cinlok itu cuman jebakan setan, akhirnya Ji Ho naksir Se Hee duluan. 30 tahun belum pacaran karena sibuk mengejar mimpinya, mimpinya pun tak kunjung dia raih, Ji Ho hampir diperkosa temannya dan membuatnya lumayan trauma. Diperlakukan dengan baik dan sopan oleh See He membuatnya baper, nyaman, tenang, merasa dilindungi, ia pikir jatuh cinta sendiri makanya dia milih untuk batalin kontrak nikah. Padahal Se Hee aslinya juga mulai suka dengan Ji Ho, setelah lama gagal move on dan hanya fokus membayar angsuran rumah ia kini merasakan cinta lagi.

Bagaimana kelanjutannya? Kita kupas sambil kenalan dengan tokoh-tokohnya.. hahah

Nam Se Hee: “Hanya 3 hal yang aku bersedia tanggung, angsuran rumah, kucingku dan diriku sendiri..”

         Nam Se Hee berusia akhir 30 an kalau tidak salah, kita tau kan harga rumah di perkota’aan pastinya sangat mahal. lebih tepatnya Rumah apartemen, bukan rumah dengan halaman. Cicilan rumahnya Nam Se Hee berpuluh-puluh tahun, yang memakan sebagian besar gaji bulanannya. Namun dalam perhitungan sistematisnya yang rinci itu.. Se Hee tetep defisit, tetep ada saja yang kurang. Makanya Se Hee menyewakan salah satu kamar kosong di rumahnya.

Para penyewanya tidak tahan dengan peraturan ketatnya Se Hee, walhasil tidak ada yang betah lama tinggal di sana. Se Hee diceritakan punya karakter yang kaku sekali, Bahkan CEO perusaha’annya takut pada Se Hee. Ma Sang Goo selalu bilang begini “Se Hee meludah melalui tatapannya.” Hahahaha. Namun Ma Sang Goo tidak akan pernah berani memecat Se Hee, karena Se Hee bisa dibilang kunci master perusaha’annya. Kartu as yang sangat bisa diandalkan, lagipula mereka adalah sahabat sejak lama.

Kenyata’an sebenarnya Se Hee itu trauma akan cinta-cinta’an, karena dulu sempat menghamili pacarnya di jaman kuliah tetapi orangtuanya tidak setuju karena Se Hee masih terlalu muda dan gadis itu dianggap tidak pantas untuk Se Hee. Karena ayahnya Se Hee adalah kepala sekolah, dia menginginkan menantu yang menurutnya setara dengan anaknya dan Se Hee dianggap masih punya masa depan yang panjang.. tidak boleh tersandung menikahi pacarnya yang hamil.

“KELUAR DARI RUMAHKU!!” kata-kata ayah Se Hee tersebut membuat Se Hee mendendam, makanya Se Hee bela-bela’in mengangsur rumah ratusan juta selama puluhan tahun, Pun juga sudah menyiapkan kamar untuknya meninggal nanti, nyaman dan hangat.. dengan pemandangan yang baik.. yaitu kamar yang Ji Ho sewa juga. Tidak tertarik dengan cinta lagi karena saat itu pacarnya keguguran, meninggalkan Se Hee dan menyumpahi Se Hee. Ku harap kau tidak pernah bahagia, kau tidak pantas mencintai dan dicintai.

Meski kehidupan Se Hee cukup suram dengan rutinitas bekerja, rumahnya, kucingnya. Semenjak tinggal bersama Ji Ho kehidupannya perlahan berubah, hatinya yang membeku mulai luluh karena ketulusan dan kepolosan Ji Ho.

Ji Ho dan Se Hee saling membutuhkan. Ji Ho membutuhkan tempat tinggal yang murah dan nyaman, sedangkan Se Hee dituntut menikah oleh ayah dan ibunya sekaligus membutuhkan teman serumah yang rajin dan rapih. Pernikahan bohongan mereka akan menjadi Win Win solution. Semula Ji Ho punya pemikiran polos wanita pada umumnya, kita menikah tentu saja harus dilandasi dengan cinta.. tetapi Se Hee mengatakan bahwa yang terpenting sekarang bukanlah cinta bagi Ji Ho, tetapi tempat untuk tinggal. Dan akhirnya mereka menikah.

Keduanya tidak mau melakukan resepsi, selain buang-buang uang.. juga karena mereka menikah tidak sungguhan. Mereka tidak akan mendaftarkan pernikahan ke pemerintah. Jika cerai ya cerai saja kemudian hari. Tapi… Emaknya Ji Ho tidak terima! Dia berpikir keluarganya Se Hee menganggap keluarganya rendah/menyepelekan karena tidak mau mengadakan resepsi. Mengira Ji Ho duanggap rendahan karena sudah mau tinggal dengan Se Hee sebelum menikah, maka dari itulah Emaknya Ji Ho marah-marah. Enggak mau! Pokoknya harus resepsi! Wkwkwk

Ini seperti dunia nyata juga sih, dimana pasangan muda biasanya merasa resepsi/pesta pernikahan itu tidak penting. Tetapi pada kenyata’annya orangtua pihak perempuan mau dihargai, karena anaknya dipersunting.. seharusnya lakukanlah resepsi. Sebagai bentuk pengharga’an, menghargai/sopan santun.

Mereka pesta sih, tapi memang aneh.. serba hemat. Se Hee menyewa gedung di hari kerja karena pastinya di akhir pecan pasti akan sangat mahal, tidak banyak mengundang orang, kedua mempelai bahkan berangkat menggunakan bus.

.

.

.

Yoon Ji Ho || Menikah dengan orang yang dicintai adalah suatu kemewahan..

      Ji Ho tahun ini berusia 30 tahun, karirnya tidak bagus, rumahnya diembat adiknya meski yang bayar angsuran dirinya, dia sibuk menjadi asisten penulis dan belum pernah sekalipun menulis dramanya sendiri. Tidak pernah punya pacar, tidak pernah berciuman, tidak pernah merasa dibutuhkan ataupun diperlukan oleh siapapun, terlalu banyak kemalangan di hidupnya. Lilin ulang tahunnya pun lebih sering ditiup adiknya dulu. Ji Ho vakum menulis karena nyaris diperkosa rekan penulisnya. Drama baru yang dia kerjakan pun diambil alih orang lain, hanya karena Ji Ho masih amatiran takutnya dramanya tidak laku. Ji Ho juga sempat diledek, masa’ lulusan Universitas Seoul tetapi 30 tahun tidak sukses seperti teman-teman seusianya?

Saya baru ngeh kenapa judulnya “Because This is My First Life” ketika Ji Ho tak jarang sering bicara sendiri dalam hati dan bahagia karenanya, karena dari sudut pandangnya Ji Ho.. segala sesuatu yang ia lakukan dan rasakan dengan Se Hee semuanya terasa baru. Pertama kali menikah, pertama kali menjadi istri, pertama kali merasakan perasaan diterima dan dibutuhkan orang lain, pertama kali ciuman dengan Se Hee. Karena ini adalah kehidupan pertamanya, kata Ji Ho di ending drama.

Pertemuan pertama Ji Ho dan Se Hee cukup unik, Ji Ho hari itu berdandan cantik bahkan ke salon. Dia mengira malam itu, di acara makan-makan tim produksi dramanya.. dia akan diajak kencan rekan penulisnya, tetapi ternyata rekannya itu malah berkencan dengan aktris utama drama mereka. Ji Ho sakit hati karena salah paham, atau lebih tepatnya terlalu sering digodain tetapi ternyata emang buaya buaya aja. Malam itu Ji Ho tidak sengaja melihat Se Hee yang duduk sendirian  menyaksikan pertandingan bola. Karena tim jagoan mereka mencetak gol.. Ji Ho sampai kelepasan sorak-sorak ketawa, dan memukul Se Hee.

Pas pulangnya pun Se Hee ngobrol lama dengan Ji Ho, membahas kucing. Kucing itu hewan yang tidak menyadari umurnya seperti manusia. Kucing sedari kecil sampai besar hampir selalu mempunyai ketertarikan yang sama, tidak pernah bosan pada satu hal. Alasan Se Hee pelihara kucing salah satunya itu, gak kayak manusia yang suka narget umur sekian harus apa dan bagaimana, kemudian merasa kecewa sendiri jika belum terpenuhi. Endingnya Ji Ho yang semi frustasi, alah.. palingan gak bakalan ketemu Se Hee lagi. Ji Ho nekat mengecup Se Hee lalu kabur masuk ke bus yang kebetulan datang.

Kenapa Ji Ho bisa tinggal dengan Se Hee? Se Hee sedang mencari teman serumah. Dibantu Ma Sang Goo, Sang Goo meminta bantuan Sim Won Seok… nah.. Won Seok meminta bantuan pada pacarnya yang bernama Yang Ho Rang. Sedangkan Ho Rang ini adalah sohibnya Ji Ho. Ji Ho sedang mencari rumah, karena Ho Rang tidak diberikan detail info Se Hee.. dia menyarankan Ji Ho sewa aja sama temennya temennya Won Seok, namanya Se Hee. Mereka cuman tau clue Se Hee dari foto sekantor yang royokan. Yang deketnya Ma Sang Goo, itulah Se Hee… padahal deketnya Sang Goo ada Bomi juga wkwk.

Ji Ho dan Horang mengira Se Hee adalah perempuan. Lagipula namanya Se Hee, Se Hee itu biasanya digunakan untuk nama anak perempuan. Se Hee mendapatkan info dari Sang Goo kalau nama penyewanya adalah Ji Ho. Se Hee ngeceklah di sosmed, ketemunya Ji Ho cowok. Mereka salah paham beberapa waktu. Meski serumah mereka jarang bertemu karena jam sibuk mereka berbeda. Se Hee puas sekali karena penyewanya rajin menyortir sampah dan membuangnya, selalu ingat memberi makan kucingnya. Pokoknya bisa diandalkan sekali! Wkwk

Namun ada momen mereka saling tahu ternyata mereka lawan jenis. Sempat tidak jadi sewa menyewa, dan endingnya ya itu tadi.. mereka menikah bohongan demi kepentingan masing-masing.

.

.

.

Saya suka ending drama ini, gak muluk-muluk. Tidak tiba-tiba Ji Ho menjadi penulis drama terkenal, bukan Se Hee yang makin sukses dan melunasi angsuran rumahnya. Mereka tinggal di rumah atapnya Ho Rang dan Won Seok. Menyewa bulanan yang bayarnya dibagi dua, meski rumah atap jelas-jelas kecil dan tidak senyaman apartemen ratusan jutanya Se Hee dulu.

.

.

.

Ho Rang: “Sofanya bagus ya? Aku juga mau..”

       Untuk beberapa hal di dunia ini kita kadang butuh tarik ulur, kadang harus to the point agar maksud tersampaikan. Ini yang disalahpahami pacarnya Ho Rang, Ho Rang ingin beli sofa. Padahal maksud halusnya itu Ho Rang sebenarnya pengen menikah. Kenapa dari sofa bisa menjadi menikah?

Mereka kurang lebih 2 tahunan sudah tinggal bersama di rumah atap yang sempit. Ho Rang ingin sofa, sedangkan rumah mereka kecil. Berarti kita butuh rumah yang lebih besar dong~. Biasanya rumah identik  dengan kata “Pulang” tempat paling nyaman dan menjadi diri sendiri. Nah… rumah yang nyaman sebagai pasangan, menikah, ingin sofa.. Ho Rang ingin Won Seok lebih serius dengannya, memikirkan masa depan meraka kedepannya lebih serius. Ho Rang ingin dilamar Won Seok.

Berbeda dengan kedua sahabatnya, Ho Rang orientasinya sederhana saja. Ia ingin menikah, memiliki anak, tinggal di rumah dan mengurus Won Seok. Akan tetapi Won Seok saat ini masih tipikal yang ambisius polos, dimana dia memperjuangkan impiannya menjadi pengembang aplikasi dan berharap bisa mendirikan perusahaan start up sendiri. Tentu saja Won Seok tidak memiliki penghasilan yang banyak untuk menghidupi sebuah keluarga. Tidak salah memang, tapi tolong pikirkan perasaan Ho Rang juga, kalian sudah 7 tahun/8 tahun pacaran, kalian sudah tinggal bersama, Ho Rang amat sangat menantikan kematangan berpikirnya Won Seok.

Ho Rang terbilang masih sangat sabar menghadapi Won Seok, meski sering sekali nyindir-nyindir halus pengen nikah. Sampai dia ngambek, nyesel pacaran sama anak teknik, ga peka, tidak bisa membaca situasi dan logikanya bener-bener putus sama perasaannya. Ho Rang saat ini 30 tahun dan khawarir tidak bisa melahirkan anak.

Hahahahahahaha… sejenis sama seperti Nam Do San di Start Up. Mungkin mindset orang korea tuh yang terlalu fokus dengan satu hal yang dia geluti, saya itu paling kagum dengan pemikiran mereka tentang menikah.. karena mereka keyakinannya beda dengan kita, masyarakat kita itu terlalu mengandalkan Tuhan tapi tanpa berusaha menyenangkan Tuhan.. bener kan? Kek pasrah.. banyak anak banyak rizki, kek.. apa ya? Ya udah.. anak itu sudah ada rizkinya sendiri, orang menikah itu ada rizkinya sendiri, tapi… ya emang ada.. kita harus yakin itu. Masalahnya.. apakah kita ada usaha untuk menjemput rizki itu? Menyenangkan Tuhan dalam artian ya harus usaha dibarengin doa dong, Tuhan tentunya gak suka dong sama hamba-Nya yang males-malesan?

Nah, bedanya orang korea yang maju. Karena ada yang gak maju juga.. kek masyarakat biasa Negara tersebut yang ngerasa superior pada kita padahal kita mah suka sama publik figure mereka doang.. wkwk, yang sederhana dan tinggal di desa juga ada. Saya mo ngomongin yang maju-maju, yang tinggal di kota besar. Mereka memang gak percaya Tuhan rata-rata, mindsetnya.. ketika ingin mendapatkan sesuatu maka harus melakukan sesuatu. Mereka bisa jatuh cinta, bisa menjalin hubungan, mereka lelah lalu mabuk demi mengimbangi tekanannya, pengen senang-senang ada banyak opsi, tetapi bagi mereka menikah is another level dari bagian hidup. Sudah kebayang harus mulai nyicil rumah, karena tempat tinggal di perkotaan itu mahalnya minta ampun dan harga tanah tiap tahun naik. Harus biayain pendidikan anak yang tidak murah. Ngidupin diri sendiri aja susah, banting tulang nangis darah. Terbayang tentang menikah tentu saja sangat menakutkan. Dan itulah kenapa anak mereka gak banyak, 1 atau 2 aja. Bukan kek kita banyak anak banyak rizki dan makan gak makan yang penting ngumpul, tapi mereka mikirnya mending anaknya sedikit aja tapi berkualitas. Pengen ngerti ambisinya orangtua ke anaknya? Coba nonton Sky Castle, Penthouse.

Terkesan memaksakan kehendak kepada anak, tetapi bagi mereka anak itu asset berharga. Mereka gak pengen anak mereka menderita dan direndahkan dikemudian harinya, gak pengen hidup anaknya susah. Ingin yang terbaik untuk mereka.

Ya tentunya tidak semuanya demikian, tetapi cukup bisa kita jadikan pembelajaran. Jujur ke diri sendiri, “Aku ingin menikah tetapi aku belum bisa..”

Gak usah mencari pembenaran a-z hanya untuk kelihatan keren dan nutup-nutupin perasaan sendiri, menurutku kata “bisa” dalam kalimat tersebut sudah mewakili segalanya. Apapun masalah-masalah atau sesuatu yang harus dan perlu kita lakukan merupakan hal-hal yang bikin kita gak “bisa”,

      disaat ketika menikah kita gak akan bisa melakukannya sebebas ketika lajang. Semisal pengen karirnya stabil dulu.. dan tersebut bisa dikejar maksimal pas lajang, pengen punya tabungan yang banyak dulu buat bangun rumah dan kehidupan rumah tangganya berjuang nyari cuannya gak sampe sesek napas, ada keharusan menyelesaikan pendidikan impian.. semisal pengen S1 lagi apa S2 apa S3 apa mau ambil sertifikasi apa kek/pengen mahir bidang apa kek, ada keharusan jagain orang sakit, atau biayain adik-adiknya sekolah dan gak ada yang lainnya selain kamu, pengen nyenengin diri sendiri dulu dan belum mau mengemban tanggung-jawab atas kehidupan orang lain (bersuami-istri), dan lain lain. Bukan berarti kita harus ngerjain PR tersebut tuntas sampai soal terakhir dengan nilai sempurna.. toh kita manusia pasti ada kurangnya, tetapi sekiranya ketika kita bisa tuh handle hal-hal tersebut setelah menikah.. ya silakan menikah.

Bisa dan Kalau ada kesempatan. Kesempatan pasti ada banyak, tetapi bagaimana kita menuju “Bisa” itu sendiri tentu butuh menyingkirkan pelbagai rintangan bukan. Mengambil “Kalau ada kesempatan” jatohnya malah jadi gegabah dan nurutin emosinya, “bisa” ? akan selalu ada “bisa” tetapi bagaimana itu murni menjadi “bisa” tentunya gak akan mudah.

Menikah ketika kita bisa dengan segala pemakluman atas diri dan orang lain.. ketika sama dia justru saling meringankan malah lebih enak lagi hidupnya, kita dengan masalah kita dan doi dengan masalahnya. Nungguin siap, gak ada yang benar-benar bisa jawab siap. Nungguin “selesai dengan diri sendiri” sampai mati pun kita akan terus mencari diri kita sendiri.. atau kata sejenis “Bahagiain dulu dirimu sendiri, jangan ngarep dibahagiakan orang lain..” kita memang gak boleh sepenuhnya mengandalkan orang lain, tapi perasaan senang melihat orang lain senang dan itu bukan keluarga kita.. itu beda kan rasanya?. Kek bego banget sih lu mau maunya ngasih duit ke cowo lu 100 juta? Bego banget sih lu mau mau aja dulu sampai hamil? Bego banget sih lu jagain jodoh orang, terus cewe lu milih nikah sama yang lain?.
Tau lagunya Noah – Ini Cinta gak? Apalagi liriknya yang ini “Ini cinta.., bukan yang lainnya..” setiap kita pasti ada perasaan suka lawan jenis yang kita masuk di titik dimana kita gak dapet apa-apa, kita cuma lihatin dia aja sudah seneng. Biasanya perasaan itu ada pas kita udah nemu belahan jiwa.

tetapi kita akan selalu butuh satu orang dalam hidup kita untuk dicintai dan mencintai.. yaitu pasangan sejiwa-mu, yok menikah setelah meng-upgrade mental, finansial, hati dan tentunya dengan orang yang cocok sepaham denganmu, biar kalaupun berantem.. gak fatal. Cuman berantem-berantem gemes yang dalam hitungan jam sudah baikan lagi.

And then…

Ada saatnya Ho Rang ngerjain Won Seok, intinya gamau keblabasan sama Won Seok.. ngapain?? Lah Won Seok gak ada kepikiran untuk berumah tangga, terus kalau Ho Rang hamil nanti memangnya Won Seok bisa nafkahin?.  Ho Rang tau Won Seok gak bisa dipaksa, nanti malah nyakitin hatinya. Jadi Ho Rang memakai pendekatan halus.. biar Won Seok sadar pelan-pelan. Biar mikirin dapet kerja tetap, nikah sama Ho Rang. Bukan berarti Ho Rang itu ngitungin seberapa lama mereka pacaran, bagaimana ia menghabiskan waktunya bersama Won Seok. Hanya saja menikah itu impiannya Ho Rang, dia pernah cerita kalau ada tuh Ibu Ibu di kampungnya dulu. Cantik,  menawan, fashionable dan sukses… tiap ngumpul para ibu lainnya dia yang paling royal bayarin dan traktir sana sini. Tapi dia gak bisa masuk ke obrolan tentang anak dan suami karena memilih hidup melajang. Orang kan kalau sudah tua mulai mikir lebih nyaman pakai baju-baju yang warnanya netral dan gak mencolok mata, sedangkan ibu ibu royal tadi hobi banget pakai baju warna merah seperti anak muda. Ho Rang gak mau seperti beliau, dia ingin menjadi orang biasa pada umumnya. Tidak harus sukses mewah, hanya menjadi biasa ia yakin akan merasa bahagia.

.

.

.

Won Seok || Apa dia gak suka sofanya karena itu dipajang?

        Won Seok beli sofa sih, tetapi dia gagal mengartikan keinginannya Ho Rang. Padahal pas ngobrol dengan Ma Sang Gu, mereka sudah sampai di kesimpulan yang benar “Ho Rang pengen dilamar dan menikah..” tetapi kocaknya mereka malah gagal nyimpulin, jangan-jangan Ho Rang ngambek karena sofanya itu pajangan, udah kena tangan banyak orang. Mungkin Ho Rang pengen yang masih baru dan bersih. Hahahhahaha

Ini napa sih dia kalau main drama suka jadi cowok tersakiti? Wkwkwk, mana mukanya imut gitu kan kita yang lihat jadinya kasihan. Gak cocok jadi laki-laki jahat memang komuknya.

Meski berjuang mengembangkan aplikasinya, meski emang dianggap remeh karena ga ada gunanya wkwk, perlu diapresialah.. sayangnya Won Seok juga harus menyadari sekitarnya sih, harus menyeimbangkan tentang impian dan realitas. Karena tidak semua impian bisa menjadi realitas, terkadang kesukaannya itu hanya bisa dijadikan sampingan. Orang yang kerja bangun bisnis sendiri dan sukses memang banyak, mereka sudah menemukan jalannya dan kalau capek pun mereka tidak akan menyesal. Won Seok hanya saja terlambat menyadari ada Ho Rang di sampingnya, harus bertanggung-jawab atas perasaannya Ho Rang. Bukan ngitungin untung ruginya, kamu sayang Ho Rang kan? Jika kamu pengen terus menerus Ho Rang disampingmu ya kamu harus memberikannya kenyamanan.

Won Seok setelah lumayan peka, dia kerja di perusahaannya Ma Sang Gu. Masih nyebelin sikapnya karena dia kekeuh dengan prinsipnya, walau dia tidak sepenuhnya suka tetapi dia berusaha.

.

.

.

Woo Su Ji || Aku tidak akan menikah..

      Su Ji bisa temenan dengan Ho Rang dan Ji Ho karena insiden kecil. Semula Ji Ho sohiban dengan Ho Rang. Ji Ho dulu adalah murid paling pintar di sekolah, Su Ji sebagai anak pindahan langsung menggeser posisi tersebut. Ji Ho tidak marah, tapi ada banyak gossip menyebar tentang Su Ji. Katanya Su Ji itu anaknya pelacur, tidak diketahui siapa ayahnya.

Su Ji masa bodoh dengan gossip sejenis, namun suatu hari dia marah karena ternyata Ho Rang yang menyebarkan gossip tersebut. Mereka berantemlah, jambak-jambakan. JI Ho ikutan dihukum karena mencoba melerai keduanya, Ho Rang kesal napa dia mulu yang dipukul? Pa gegara Ji Ho sama Su Ji pinter sedangkan dia o’on? Su Ji sama Ji Ho didiemin doang?. Singkat cerita Ho Rang minta maaf dengan meletakkan apel di halaman depan rumah Su Ji. Dalam bahasa korea “Sagwa-hae” artinya meminta maaf, sedangkan apel bahasa koreanya “sagwa”. Jadi secara tidak langsung Ho Rang meminta maaf pada Su Ji. Su Ji memafkannya dengan memberikan buku yang sudah ditandai kisi-kisi apa saja yang akan keluar di ujian nanti.

     Sebenarnya Su Ji bukan ujug-ujug pinter, Su Ji belajar mati-matian juga. Impiannya adalah menjadi CEO dari bisnisnya sendiri. Ketika dewasa Su Ji bekerja di perusahaan dan lumayan mendapatkan kepercaya’an atasan, karirnya bagus dan sukses. Karena Su Ji cantik dan masih lajang, dia selalu digodai dan dilecehkan rekan kerjanya. Su Ji sabar sekali dan tidak marah di depan mereka. Karena Su Ji menyadari dia butuh uang, impiannya membutuhkan uang banyak sekali. Su Ji membeli apartemen dan berusaha membuat ibunya bahagia. Dia pengen menghabiskan waktu dengan ibunya di apartemen yang sudah ia beli. Ibunya masih tinggal di desa dan sesekali ke kota untuk mengunjungi Su Ji.

Su Ji takut menikah karena tidak mau direndahkan diremehkan dihina, menyadari ibunya cacat dan dia tidak tahu pasti siapa ayahnya. Ia tidak membayangkan jika suatu hari akan menikah dengan seseorang, ia tidak mau dengar pertanyaan yang berbau tentang keluarga dan usul, dia juga tidak yakin ada pria yang bisa menerima ibunya.. bisakah suaminya kelak bisa tinggal serumah dengan Ibunya Su Ji?. Apakah tidak merasa risih dengan ibunya?. Su Ji tidak mau menjalani hidup seperti orang biasa. Ia tidak mau bergantung pada orang lain.

Keras kepala dan yakin akan pemikirannya, dan Ma Sang Gu lah satu-satunya yang bisa mengetuk hatinya Su Ji dan perlahan melunakkan Su Ji. Tidak memaksa namun menunjukkan ketulusannya sehingga Su Ji merasa jika orang itu adalah Ma Sang Gu, Su Ji tidak masalah.

 

.

.

.

Ma Sang Gu, Jago Sekali Menggerakkan Hatinya Orang-Orang..

     Jika Nam Se Hee adalah developer handal di perusaha’annya, maka Sang Gu lah yang berurusan menggerakan hati orang-orang. Dengan cara berteman sana sini, rajin ikut acara yang ketemu banyak investor, sering rapat sana sini agar ada yang mau mengucurkan dananya. Karena Se Hee itu dingin sekali, bisa hancur perusahaan jika Se Hee yang terjun langsung mencari investor. Biarlah Se Hee yang presentasi pengenalan aplikasi tetapi kalau ada yang kurang maka Sang Gu yang akan memoles dan menutupi kedinginannya Se Hee.

Aplikasi apa sih yang mereka punya? Aplikasi dating, posting foto dan akan mendapatkan like tertentu untuk menaikkan level. Aplikasi ini akan mencocokan orang-orang di peringkat yang sama. Kemudian mereka bisa saling mengenal chat, untuk hubungan serius atau hanya iseng.

Sang Gu ini sudah pernah ketemu Su Ji, namun baru dekat sekarang. Wajar dia tertarik pada Su Ji secara fisik, tetapi karena sering bertemu di rapat-rapat dan acara temu investor akhirnya Sang Gu semakin mengenal Su Ji dan kepengen menjalin hubungan lebih lagi. Sayangnya Su Ji terkesan jual mahal, Sang Gu melakukan hal-hal kecil dan membuat Su Ji kepikiran.

Semisal main mesin capit boneka dan memberikannya boneka sipit yang kelihatan judes seperti Su Ji, Su Ji awalnya ilfil tetapi malah endingnya nganggap boneka tersebut sebagai anaknya dan bahkan membeli satu lagi yang mirip tapi jenisnya laki-laki wkwk. Pernah memaki atasannya Su Ji melalui sindiran hanya karena Sang Gu tidak suka Su Ji dilecehkan, meski resikonya Sang Gu kehilangan investor.

Membuat Su Ji lebih memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat dunia dengan sudut pandang berbeda, ini lho.. gini.. gak semua yang kamu takutkan akan terjadi, jika kau bersamaku apa yang kau khawatirkan tidak akan pernah menjadi nyata. Karena aku mencintaimu apa adanya, maka izinkanlah aku memasuki kehidupanmu.. bukan untuk mengubahmu, karena bagiku Su Ji begini saja sudah cantik dan menawan, aku hanya akan berjalan di sampingmu dan mendukungmu, menyediakan bahuku jika kau lelah dan dicaci ketika marahpun aku tidak apa-apa. Karena Su Ji ya hanya Su Ji seorang.. aku tidak akan meminta apapun darimu, aku akan menghalau semua aral melintang yang mengganggu impianmu.. Jadi tetaplah bersamaku.. akan ku buat kau lebih banyak tersenyum seperti anak kecil, karena kenapa? Tawa Su Ji membuatku berdebar terpaku dan kehilangan orientasi waktu. Itu saja sudah cukup…

Ma Sang Gu secara implisit, saya nangkapnya kek gitu. Oh no… oh no.. oh no~ oh nonononon~ hahahhaha…

.

.

.

      Kita akan merasa tepat dengan orang yang tepat. Karena ini adalah kehidupan pertama kita, mari lakukan dengan sebaiknya!

Sumber gambar :

2 thoughts on “K-Drama; Because This Is My First Life || Nam Se Hee: “Hanya 3 hal yang aku bersedia tanggung, angsuran rumah, kucingku dan diriku sendiri..”

  1. sebenernya nonton ini gara-gara Ka Momo lho, pas berkunjung ke Simomotaro dan Ka Momo sering mengutip kata-katanya Ji Ho. Kan penasaran jadinya.. makanya nonton ini wkwkwk, hahahah.. ternyata dramanya memang bagus banget!

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s