Passenger & Foreigners.

Waktu itu Hari Sabtu, sore menjelang malam dan memeluk bantal masing-masing. Meletakkan pundak dan sesuatu yang disebut beban.

semilir angin lembut menggandeng buliran air hujan dan menyebut diri mereka gerimis. Haha, mengundang tangis..

kata sebuah lagu lawas..

Orang-orang tertahan di satu tempat, kotak-kotak panjang dan persegi.

Kenapa harus pulang jika di tempat lain merasa menemukan diri sendiri?

Kenapa harus pulang jika hati lebih nyaman di sini.

Semua ketidak-sengaja-an dan kesalahpahaman nyatanya membentuk takdir, bahwa ternyata cinta datang secepat ini..

saat kau belum mengenal segala sesuatunya terkadang begitu membendung dan tidak terkendali. Saat kau merasa sendiri meski ada banyak tangan yang siap menggenggam dan bahu yang siap memeluk tengah menanti.

Lari ke hutan, lari ke pantai? Daki gunung?

Kata siapa hatimu bisa ditenangkan semudah itu?

Bahkan jika ku lemparkan uang ke wajahmu takkan semudah itu, ups.. maaf

koin, justru malah terhinakan. Ya kan?

Buktinya kau masih terjaga di malam-malam hingga subuh. Menyalahkan segala sesuatu yang tidak berjalan sesuai ingin.

Menyalahkan kaki yang tak kunjung beranjak lebih dari ini.

Menyalahkan tangan yang tak bergerak lebih lagi.

Oh iya,

tadi ku bilang cinta datang secepat ini bukan?

ya.. mari lanjutkan.

Tangan mereka saling menggenggam dan menyebutkan nama masing-masing. Salah satu dari keduanya merasa asing dengan nama yang lain. Sedangkan yang satunya merasa konyol karena nama lainnya terdengar tidak cocok.

Mereka pikir ini hanya akan lalu dan pergi. Kenapa juga harus dipatri di hati?. Semua akan mati.

dan tak perlu ada yang disesali.

Bahwa cinta memang tidak mudah dikenali, dia bilang ia tak paham perasaannya sendiri.

Entah ini seperti kendi yang kosong dan tiba-tiba air mengisinya, meski bukan dari pendingin entah kenapa sejuk katanya.

yang satunya merasa ditipu mentah-mentah dan menyalahkan buku dongengnya.

Semenjak yang satunya menatap dalam-dalam seperti lupa sedang ditatap khalayak lain, semua menjadi lebih memusingkan.

Jika saja hari itu mereka tahu akan tersandung, terjatuh berguling ke lembah ngarai.

Maukah menghentikannya sebelum burung pemakan bangkai mendekat menantikan mereka putus asa dan mati?.

Mungkin jawabannya tidak.

Membiarkannya saja.


Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s