Bisa Nulis Cerita Singkat?|| Oke; “Kusut..” #Day4

Karena untuk hari ke-4 saya bingung mau improv bagaimana, ya sudah.. mari mengarang indah 😀

Kalo gamau bacaa ya udah..

Langsung back aja ndapapa.. bebas akumah.. welcome, dah biasa terlalu welcome macam keset makanya di-injak-injak wkwkwkw
sabar..

***** Kusut

   Matanya terus nyalang memandangi langit-langit kamarnya, baru 2 hari dicukur entah kenapa jambang dan kumis di wajahnya sudah selebat ini, hanya ia sentuh sebentar lalu abaikan. Tidak berniat mematut diri di cermin karena  bosan pasti wajahnya itu-itu saja, wajah yang lelah, lelah karena rindu?.

Sehabis adzan Isa’ tadi dia sibuk membuat soal dan mengoreksi jawaban, kemudian membaca jurnal penelitian dengan bahasa Inggris yang dia hanya tangkap setengah isinya saja. Kemudian lanjut menulis dan mengoreksi entah apa, yang selalu membuatnya tidak puas. Dia habiskan berjam-jam waktu demi ini, jika ada isu virus komputer yang meminta tebusan dan apesnya menyasar di laptopnya, jelas dia akan menangis.

“Ah, menangis? Sudah sejak kapan aku terakhir kali menangis?”

Tidak bisa, dia tidak secengeng itu. Katanya pura-pura kuat.
   Tetapi buktinya sejak pukul 23.14 sampai 00.47 ia berbaring di ranjang kesayangannya dan matanya tak kunjung terpejam. Setelah memutar beberapa judul lagu berkali-kali, ia dengarkan dengan earphone sampai mulai terasa panas. Kalau saja dia cukup gila pasti sudah memutar lagu remix dangdut yang sedang trend dan berjingkrak di kamarnya.

Pukul 01.15 kepalanya terasa pusing, matanya sudah memerah, tetapi mau seberusaha keras apapun memejam, matanya masih segar enggan memasuki alam mimpi.

Masih teringat janji bagaimana pertemuannya dengan gadis itu besok Rabu. Entah harus bagaimana?
“Apakah aku harus dingin seperti biasanya? Ataukah sedikit melembut? Ataukah inilah saatnya mengatakannya lebih tegas? Aku cinta..”

***
    Siang itu kafetaria riuh oleh para pengantri yang sibuk membayar dan memilih menu. Pria sendu itu duduk di salah satu sudut kafetaria yang lumayan lengang sendirian, sesuap demi sesuap nasi ia makan. Tadi ia bangun terlalu pagi, jika harus dihitung  sebenarnya tidurnya tidak banyak. Tapi tetap bersyukur dia tidur, setidaknya ia tidur.
Jika diperhatikan lamat-lamat lingkaran hitam di bawah matanya cukup mencolok untuk ukuran pemuda berusia awalan 20 tahunan, nampak seperti memikul semua beban dunia. Apalah yang pria ini pikirkan? Menjaga mimpinya sekaligus menjaga perasaan gadis itu bukanlah hal yang mudah. Rasa-rasanya jauh lebih mudah menguras laut jika harus mencari perbandingan yang setara.

di suapan yang terakhir gadis itu muncul membawa entah apa itu tangannya, sebuah kotak persegi bermotif bunga bunga. Dari kejauhan sudah melambaikan tangan dengan sangat ceria, seperti keponakan di desa yang disambangi Pamannya dari kota membawa mainan baru, memangnya aku setua itu? Kenapa harus membuat perbandingan begini? Dasar!. Pria itu hanya tersenyum tipis dan menyeruput sedikit air de dekatnya. Belum-belum tenggorokannya sudah kering karena gugup tidak tau harus bicara apa? Kenapa lebih mendebarkan ketimbang memberikan seminar pada para orangtua beberapa hari lalu di salah satu gedung pemerintahan kota ini ya? Padahal hanya satu orang, tetapi jelas-jelas mengganggu pikiran.

Gadis itu duduk di seberang meja, meletakkan tas di kursi sebelahnya dan mendorongkan kotak tadi padanya.

“Ini apa? Ulang Tahunku masih jauh..” Sambil memutar kotak tersebut, belum ingin membukanya.

“Ciee, tumben makan sendirian? Temen-temennya kemana?”

“Mereka sengaja ngacir pergi karena ku kabarin kemarin soal kamu mau datang..”

“Baik banget ya mereka? Padahal aku gak bakal mampir lama..”.

“Enggak gitu, palingan mereka lagi sembunyi dimana jadi juru dokumentasi dadakan. Kemudian foto sama videonya disebar ke grub kantor. Iseng mereka..”

“Oh..” Manggut-manggut. Kemudian menunjuk kotak dengan dagunya.

“Buka aja, di dalamnya ada obat sangobion buat nambah darah, kamu lagi sibuk dan kurang tidur kan? Ada pulpen bagus yang sengaja aku pesan pake kaligrafi nama kamu, aku mau pindah rumah juga, ada alamatnya di sana.”
“Oke. Kamu pergi lagi ke sana kapan? Mau aku jemput nanti? Atau aku antar sampai bandara?”

Pria itu membukanya, mengangkat satu persatu barang yang disebutkan. Sampai matanya melebar menemukan alamat yang dimaksudkan. Ia amati lekat-lekat, bingung.

“Udahan ya, aku mau pergi dulu.. gak enak ganggu kamu lagi sibuk pastinya. Aku sayang kamu.., tau kan?” Beranjak dari tempatnya duduk, kemudian pergi meninggalkan pria itu sendirian. Punggungnya kian menjauh, pria itu berusaha memanggilnya agar menoleh.
“Dek!”

kepalanya menoleh, dan senyumnya manis sekali. Perpisahan.

***
    Butuh setengah jam bagi pria itu untuk menyadari situasinya. Pesan masuk dari gadis itu. Kemudian dia mengirimkan pesan pada gadis itu, ingin tau lebih lagi penjelasannya.

“Karena kamu enggak pernah ngasih apa-apa, aku juga tidak tau harus balikin apa..”

“Kamu tau aku gak bakal datang kan? Kamu yakin? Kenapa baru bilang sekarang? Tapi kenapa bukan dia yang ngasih ini? Tadi kami apel pagi bersama, sebelahan malah..”

Gadis itu menggeleng dari tempatnya, mengamati ponselnya.
“Enggak boleh, yang punya masalah itu aku sama kamu. Dia tidak boleh ikut diseret dalam hubungan kita, kalaupun harus ada yang disalahin itu aku..”

“Dua tahun lagi gak lama, kamu yakin? Aku gak masalahin dia, ini tentang kita..”

“Tapi akunya yang gak bisa.., gak bisa nyakitin kamu lebih lagi.., mendingan kita udahan aja. Daripada aku terus jadi beban kamu. Mendingan sekali aja nyakitinnya tapi langsung udah selesai..”

“Aku gak keberatan kamu sakitin, aku salah apa? dia temenku, senior yang paling ku jaga hubungannya.”

Tidak dibalas lagi.
****
       Sore hari, di tepi danau. Pria itu merenung duduk di tepian yang asri penuh rerumputan, dari luar kelihatan seperti sedang mengukur kedalaman dan ingin menjatuhkan diri ke sana.

Seoramg kawan menemaninya, sejak tadi hanya membicarakan tim bola jagoan mereka atau hewan hewan yang melintas atau perahu yang ada di danau.
Tiba-tiba pria itu mengeluarkan rokok dari sakunya, bersiap menyalakan api dari korek batangan yang sampulnya bergambar kucing.

Kawannya melebarkan kedua matanya kaget, bukannya kawannya ini paling menjaga pola hidup dan makanannya? Kenapa rokok?

“Sejak kapan Lo ngerokok?!”
Pria itu hanya tersenyum menyeringai.
“Sejak hari ini..”
Tatapannya menerawang jauh. Sedikit terbatuk sana sini karena tidak terbiasa.