Bulan Malam ini Berwarna Merah..

Separuh tak utuh, kuning ke’emasan bercampur jingga kemerahan. Dominan merah..

Atau mungkin penglihatan mata ini salah mengamati karena aku sedang marah, tak sedang jatuh cinta secintanya selayaknya gadis remaja yang jika bertemu puja’an hatinya maka kedua pipinya bersemu merah, hatinya berbunga-bunga merekah..

Aku menyusun kalimat demi kalimat sembari masih marah, ingin ku ucapkan semua makian yang ku tau setumpahnya seluruh-luruhnya, hingga tumpah ruah kepalaku nyaris pecah…

Aku menulis bukan untuk mencari berkah, atau berusaha menyamai semua konotasi indah pepatah. Hanya sampah..

Malam ini aku berjalan menyusuri jalan-jalan gelap, menatapi langit yang tampaknya mendung pun menghitam karena sang surya telah pergi dari langit. Menanti esok datang? Sayangnya bulan tampak separuh bahkan tak utuh, bahkan tampak seperti potongan asal acak, dicacah. Bintang-bintang muncul satu dua menyala sendiri-sendiri.

Apakah sang rembulan sama muak dan marahnya sepertiku? Enggan, jengah menyaksikan manusia-manusia ini? Akankah ia membuat lautan ikut membuncah? Meliukkan gelombang pasang surutnya karena rembulan bertingkah?

Apakah bunga-bunga di pinggir jalan itu merasa iri pada seutas mawar yang mekar sendirian? Sementara yang lainnya hanya punya daun dan hanya hijau? Tidak merah, tidak cerah, tidak indah? Akankah bunga disebut bunga hanya karena memiliki kelopak dan berwarna? Bagaimana dengan yang hijau dan punya daun saja? Dibiarkan mati kepanasan dan membusuk karena terlalu banyak disirami hujan

Sudahlah, aku lelah..


Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s