Tentang Perempuan Egois dan Lelaki yang dicintainya..

Ketika engkau jatuh cinta maka masing-masing dari kita akan mengambil peran sebagai korban, suka sekali merasa paling sakit dan benar sendiri. Tapi bagiku.. jatuh ya jatuh saja, luka ya luka saja.. mau dikata apa lagi Bi?

Yes.. just now, I just wanna call you that.. Bi.. dari Beb atau hubi, honey, baby~ terserahlah.. kau suka dipanggil apa Sayang? Apa? Nama langsung? Oh tidaaak, artinya aku sedang marah jika harus memanggil namamu langsung Mas, bagaimana pun juga kau lebih dewasa ketimbang aku dilihat dari segi apapun.

Satu hal yang ku sadari sejauh ini, harusnya aku diam saja ya? Tidak usah mengungkapkan amarah, kesalku, tangisku, bahagiaku, dan semua perasaan yang menggunung dalam benakku terhadap kamu. Karena apa?

Ku tau kau pasti kabur, sejauh-jauhnya, pergi semenghindarnya. Sebisanya.. diam sebungkam-bungkamnya.

Dan lagi.. menjadi semakin menutup diri.

Dengan aku berlagak tak tau apa-apa bisa membuatku mengobservasi lebih dalam lagi tentang kamu. Sayangnya aku bodoh, kecolongan terlalu gampang memberikan hipotesis rapuh yang ku punyai.. meski sebenarnya banyak benarnya.

Karena sepertinya tidak sesederhana itu menjelaskan apa yang kau rasakan padaku bukan?

Tapi tidak bisakah kau membenci-ku saja? Jika sesakit itu?

Bukankah kau tipe orang yang akan langsung menoleh ke belakang dan berlari sekencangnya jika ada orang yang jatuh di belakangmu? Menolongnya. Tidak seperti aku yang mudah mendendam dan terkadang justru tertawa melihat orang menangis?

Tidak bisakah kau tolong dirimu sendiri yang menyedihkan itu? Harus menghitungi tiap detik rindu? Pernahkah kau membayangkan dirimu mati karena perasaanmu sendiri?

Seorang teman yang sepertinya sengaja ku beri tau perasaanku, mengirimkan pesan. Aku tidak bisa membayangkan betapa hebohnya semua manusia yang mengenal kalian jika pada akhirnya punya ending bersama. Parah kau ini.. bisa bisanya menyembunyikannya selama ini.

Jangan… jangan dibayangkan, aku pun tidak tau apakah dia akan tetap bertahan dengan lukanya atau memilih dipeluk bahagia oleh cinta baru. Harapanku masih sama, jikalau itu terjadi biarkan Tuhan hapus perasaanku saja.. dengan begitu aku bisa mengenangnya tanpa merasa harus menghukum diri sendiri lagi.

Menghukum diri sendiri? Kenapa?

Karena mengenal cinta membuatku merasa bahagia sekaligus sekarat. Semesta, sampaikan pada sosok manusia acak acakan itu.. aku suka mengingat bagaimana kami pernah semanis itu saling, aku senang membayangkan hari hariku ketika masih bisa melihatnya seterang dan sejelas dulu, apa-apa yang melewatkanku dan betapa cepatnya waktu berlalu. Tapi jika dia muncul di hadapanku sekarang? Tidak.. aku lebih suka begini, maaf.. ada seseorang lain yang sedang mengganggu pikiranku beberapa tahun ini..

Dan mungkin aku lebih mengganggu pikirannya berjuta kali.

Yang pertama memang bukan yang terbaik, namun selalu dihati. Sungguh brengsek kalimat itu bukan? Karena benar adanya.. hahah

Hei Bi..

Selama ini semenjak mengenal kamu, anggap saja karena kau nyaris mengetahui semua sifat burukku dan brengseknya aku dan anehnya kau tidak ada niatan untuk mundur sejengkal pun, justru terlihat menunggu dan membiarkan aku berbuat sesukaku. Selama ini.. sungguh membuatku penasaran setengah mati, tiap melihatmu tertawa dan tersenyum setampan itu..

Ingin sekali ku tanyakan..

“Apa yang sedang kau sembunyikan dalam hatimu?”

“Kau itu sedang menangis atau tertawa?”

Kenapa terlihat menyedihkan dimataku? Meski bagi orang-orang terlihat baik-baik saja..

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s