Tutup dan Terima..

Ku bisikkan rahasia terdalam dariku, yang terjauh dan tidak terjamah sekalipun.. sesuatu yang tak pernah diungkapkan sebelumnya. Betapa putus asanya aku padamu..

Untuk sekarang tidak masalah aku terluka, menderita pun tidak mengapa.. memang begitu rasanya, terima saja.. tak apa jika menyakitiku.

Mereka berkata kau diciptakan untukku tetapi bukan untuk jadi milikku sekarang. Sehingga yang bisa ku lakukan saat ini hanya memandangimu, mengamati tenang tidurmu yang nyaris tanpa bergerak sama sekali. Entah apa yang sedang dimimpikannya? Apakah aku ada di dalamnya juga?

Maka aku ingin memutar jarum jam lebih cepat, memasuki mesin waktu dan sedikit mengintip masa depan dan menengok apa yang terjadi dengan kita? Atau setidaknya bertemu denganmu di waktu tersebut. Akankah kau mengingat aku dari masa lalu sebagai nama yang tak bisa dilupakan.. ataukah menjadi sosok yang dipanggil setiap hari sepanjang waktu hidupnya?

Bisa kau sebutkan namaku siapa?

Karena kau dan aku sekarang tidak boleh..

Ku mohon waktu berjalanlah lebih cepat, membawakan dirimu padaku. Ku mohon waktu bersahabatlah denganku. Cepatlah datang sekarang sebelum aku benar benar putus asa. Aku tak mau mengganggu aliran waktu, tapi begini saja sudah menyiksa..

Aku akan menjadi dewasa dengan cepat, hingga kau tak bisa mengenaliku lagi. Iya, benar.. aku anak kecil yang aneh itu. Yang kau temui ketika aku sedikit mencurangi waktu dengan sihirku. Aku menahan kita dengan mantraku, sehingga kau dan aku melupa waktu.

Namun ketika aku kembali, entah sekarang hari apa serta pukul berapa? Kelak kau mungkin suatu hari nanti tidak akan menemukan aku yang sama lagi. Saat itu terjadi, saat aku tersesat nanti, tolong cari aku, bantu aku dengan panggil saja namaku. Karena kau dan aku sekarang tidak boleh bersama..

Terinspirasi dari: IU – You & I

Tentang Perempuan Egois dan Lelaki yang dicintainya..

Ketika engkau jatuh cinta maka masing-masing dari kita akan mengambil peran sebagai korban, suka sekali merasa paling sakit dan benar sendiri. Tapi bagiku.. jatuh ya jatuh saja, luka ya luka saja.. mau dikata apa lagi Bi?

Yes.. just now, I just wanna call you that.. Bi.. dari Beb atau hubi, honey, baby~ terserahlah.. kau suka dipanggil apa Sayang? Apa? Nama langsung? Oh tidaaak, artinya aku sedang marah jika harus memanggil namamu langsung Mas, bagaimana pun juga kau lebih dewasa ketimbang aku dilihat dari segi apapun.

Satu hal yang ku sadari sejauh ini, harusnya aku diam saja ya? Tidak usah mengungkapkan amarah, kesalku, tangisku, bahagiaku, dan semua perasaan yang menggunung dalam benakku terhadap kamu. Karena apa?

Ku tau kau pasti kabur, sejauh-jauhnya, pergi semenghindarnya. Sebisanya.. diam sebungkam-bungkamnya.

Dan lagi.. menjadi semakin menutup diri.

Dengan aku berlagak tak tau apa-apa bisa membuatku mengobservasi lebih dalam lagi tentang kamu. Sayangnya aku bodoh, kecolongan terlalu gampang memberikan hipotesis rapuh yang ku punyai.. meski sebenarnya banyak benarnya.

Karena sepertinya tidak sesederhana itu menjelaskan apa yang kau rasakan padaku bukan?

Tapi tidak bisakah kau membenci-ku saja? Jika sesakit itu?

Bukankah kau tipe orang yang akan langsung menoleh ke belakang dan berlari sekencangnya jika ada orang yang jatuh di belakangmu? Menolongnya. Tidak seperti aku yang mudah mendendam dan terkadang justru tertawa melihat orang menangis?

Tidak bisakah kau tolong dirimu sendiri yang menyedihkan itu? Harus menghitungi tiap detik rindu? Pernahkah kau membayangkan dirimu mati karena perasaanmu sendiri?

Seorang teman yang sepertinya sengaja ku beri tau perasaanku, mengirimkan pesan. Aku tidak bisa membayangkan betapa hebohnya semua manusia yang mengenal kalian jika pada akhirnya punya ending bersama. Parah kau ini.. bisa bisanya menyembunyikannya selama ini.

Jangan… jangan dibayangkan, aku pun tidak tau apakah dia akan tetap bertahan dengan lukanya atau memilih dipeluk bahagia oleh cinta baru. Harapanku masih sama, jikalau itu terjadi biarkan Tuhan hapus perasaanku saja.. dengan begitu aku bisa mengenangnya tanpa merasa harus menghukum diri sendiri lagi.

Menghukum diri sendiri? Kenapa?

Karena mengenal cinta membuatku merasa bahagia sekaligus sekarat. Semesta, sampaikan pada sosok manusia acak acakan itu.. aku suka mengingat bagaimana kami pernah semanis itu saling, aku senang membayangkan hari hariku ketika masih bisa melihatnya seterang dan sejelas dulu, apa-apa yang melewatkanku dan betapa cepatnya waktu berlalu. Tapi jika dia muncul di hadapanku sekarang? Tidak.. aku lebih suka begini, maaf.. ada seseorang lain yang sedang mengganggu pikiranku beberapa tahun ini..

Dan mungkin aku lebih mengganggu pikirannya berjuta kali.

Yang pertama memang bukan yang terbaik, namun selalu dihati. Sungguh brengsek kalimat itu bukan? Karena benar adanya.. hahah

Hei Bi..

Selama ini semenjak mengenal kamu, anggap saja karena kau nyaris mengetahui semua sifat burukku dan brengseknya aku dan anehnya kau tidak ada niatan untuk mundur sejengkal pun, justru terlihat menunggu dan membiarkan aku berbuat sesukaku. Selama ini.. sungguh membuatku penasaran setengah mati, tiap melihatmu tertawa dan tersenyum setampan itu..

Ingin sekali ku tanyakan..

“Apa yang sedang kau sembunyikan dalam hatimu?”

“Kau itu sedang menangis atau tertawa?”

Kenapa terlihat menyedihkan dimataku? Meski bagi orang-orang terlihat baik-baik saja..