Divorce – 05

“Kamu mau kita rujuk kapan?” Tanya Amar sembari fokus menyetir. Mantan istrinya sibuk dengan ponselnya sendiri, entah mendengarkan atau tidak. Atau lebih tepatnya ada keinginan untuk menjawab atau tidak?

“Kapan-kapan..”

“Ya Allah Bi, kamu pikir pernikahan itu main-main? Yang kalau kamu bosen terus minta cerai tapi kalau suasana hatimu membaik minta rujuk? Aku masih bisa mafhum kalau kamu Faizal yang baru 23 tahun dan emosinya tidak stabil, kamu 28 tahun.. bilang sesuatu biar aku ngerti salahku ada dimana?”

“Enggak, siapa juga yang main-main?” Terdengar tidak peduli.

Ponsel Amar terdengar berdering, muncul nama yang juga terlihat orang Sabina. Ia hanya meliriknya sekilas,

“Dinda SDM. Angkat dong, kelihatannya penting.. atau ya dibuat-buat untuk penting.”

“Kalau kamu enggak suka, reject aja. Tanganku gak bebas.. jalannya lagi padat, sandinya hpku tau kan?”

Sabina langsung mengambil ponsel dari dashboard, langsung terbuka ketika didekatkan ke wajahnya. Ingin tersenyum namun ia tahan, Amar ini terobsesi padanya atau bagaimana?. Masalahnya bukan Dinda yang mengusik pikirannya sekarang, tapi wallpaper ponselnya masih sama semenjak mereka belum bercerai. Dirinya sendiri yang sibuk mengkoreksi pekerja’annya Kahfi, diambil diam-diam entah dari sudut mana. Dasar bego’..

Sebelum sempat di-reject panggilannya, panggilannya sudah terhenti.

“Buka pesan WA dariku yang semuanya jadi centang satu karena kamu blokir,”

Sabina melihatnya, sepertinya pria ini terus menerus mengirimkan pesan walau tau tidak akan pernah dibaca. Sabina membaca semuanya dengan cepat. Bersyukur nomornya dia blokir, kalau tidak pasti diwaktu saat ia menerima pesan tersebut dia justru akan menjadi goyah.

Kemudian dia kembalikan ke tempatnya tanpa berkomentar sama sekali. Ia memilih memejamkan matanya untuk tidur. Kalau mereka masih pasangan, pasti ia mengajak Amar mengobrol agar tidak bosan saat menyetir. Amar membiarkannya. Ia mengambilkan selimut yang ada. Dan menyelimutinya. Seketika matanya terbuka.

“Enggak usah sok perhatian ya? Katanya tangannya tadi sibuk?”

“Siapa juga?” Amar langsung mengatur suhu AC menjadi angka 16. Sabina menatapnya tajam,

“Nggak usah protes Buk, mobilnya siapa? Terserah yang punya dong.. biarin dingin kayak perasaannya seseorang.”

“Kalau aku bilang di pipi kirimu ada nyamuknya kamu percaya enggak? Aku dengan senang hati akan mengusirnya Pak..” Terdengar ingin menampar mantan suaminya. Amar hanya tertawa mendengarnya. Ia meliriknya sebentar dan ternyata kembali memejamkan matanya untuk tidur.

“Enggak usah mikir yang enggak-enggak, iya tau… aku cantik. Kamu enggak akan berani macam-macam sama aku karena kita bukan apa-apa lagi..” Katanya tanpa membuka matanya. Amar tersenyum simpul dibuatnya.

“Kenapa kamu ingin cerai?” Entah sudah berapa kali ia bertanya dan tidak pernah ada jawaban.

“Kalau ku kasih tau, bukan aku yang minta cerai.. tapi kamu yang bakal menceraikan aku..”

“Kata siapa? Aku tidak pernah memikirkan ingin cerai sama kamu. Aku mengiyakan kita pisah karena kamu inginnya begitu, dengan syarat barangkali kita masih ada kemungkinan rujuk..”

“Kamu enggak akan sepercaya diri ini kalau tau..” Masih enggan memberikan alasannya apa.

“Rumahnya jadi sepi kayak kuburan karena kamu pergi..”

“Kamu mayatnya gitu?” Masih dingin.

“dan kamu yang bunuh aku..”

“Harusnya kamu bilang makasih Sab, aku akan jawab sama-sama Mas, gak usah sungkan..”

Amar tertawa, masih mencoba berhati-hati, banyak truk bermuatan besar di depannya.

“Sejak kapan Sabina enggak brengsek begini? Hahah! Setidaknya makasih sudah mau masuk ke mobil kita tanpa ku minta. Ditinggal cuman gegara bekas cangkir kopiku itu sungguh gak masuk akal.., mau kamu nolak aku bagaimanapun caranya.. kamu pasti jadi milikku lagi, siap-siap dengan semua bahagia yang bahkan kamu gak bisa bayangkan..”

“Oh iya? Aku terkejut.. huhu. Semoga berhasil! Fighting!” Itu nadanya sungguh  mengejek Amar,

***

      Faizal sampai di distro Kahfi malam harinya, ia segera mencari dimana Abangnya tersebut. Kahfi tengah di lantai dua, duduk di sofa dan memegangi kepalanya karena kelelahan. Faizal mengetuk dua kali pintunya dan masuk begitu saja.

“Bang!”

“Eh, udah sampai aja.. mana mereka?”

“Enggak tau, paling langsung ke rumahnya Abang. Soalnya tadi ku bilang ke Mas Amar kalau aku mau jemput Abang duluan baru ke rumah..”

Kahfi kemudian beranjak dari duduknya, merangkul Faizal dan menuju ke parkiran. Pukul 20:33, biasanya ia betah untuk begadang semalaman. Sayangnya kondisi tubuhnya sedang tidak fit.

Faizal menyetir, ia terkadang bertanya ke Kahfi lewat jalan yang mana. Sudah lama tidak ke kota ini.

“Menurutmu mereka berantem sepanjang jalan atau Sabina memilih untuk tidur mengabaikan Amar?”

Faizal manggut-manggut,

“Ya jelas, berantem duluan. Terus Kakak tidur, mengabaikan sang mantan..”

“Aneh dua duanya. Ngomong-ngomong sudah ku transfer ke rekening kamu Zal, sekalipun kamu bilang gratisan aja gapapa. Mungkin kamu sudah ninggalin beberapa jadwal demi ke luar kota begini..”

Kahfi melepas kaca matanya, mengelap bagian yang berembun dengan sapu tangan di sakunya. Ia sebenarnya minus, namun ia jarang mengenakan kaca mata karena membuatnya terlihat seperti kutu buku. Kadang kadang menggunakan lensa kontak.

“Santai aja Bang..”

“Uang jajanku dari Kakak masih banyak, hahahah.. meski nyebelin, Kakak dukung pilihan karirku ini. Meski yah.. belum bisa dibilang apa-apa. Masih level selebgram doang.., atau suatu hari kalau memungkinkan aku menemukan hal lain yang menarik.”

“Sip..”

Memakan waktu lima belas menit untuk sampai ke rumah Kahfi, Kahfi yang mengantuk otomatis tertawa melihat Sabina duduk di kursi teras bagian kanan dan jaraknya sangat jauh dari Amar.

“Mereka ini social distancing atau kenapa? Hahahaha,”

“Orang gila Bang.. biasa, mantan suami dianggap kuman..”

Kahfi segera menyambangi Amar dan Sabina, menyalami Amar dan berterimakasih sudah mau jauh-jauh kemari. Meski barangkali Amar hanya ingin bertemu Sabina, maka dari itu menyetujui kemari.

“Perjalanan lancar bro? Itu si Nyonya enggak nyusahin kan?”

“Alhamdulillah..”

Kahfi merogoh saku jaketnya, ia mengambil kunci dan lemparkan ke Sabina.

“Bi, tangkap!”

Reflek Sabina menangkapnya, itu bukan kunci rumah, melainkan kunci kamarnya di rumah ini. Ia akan tidur di ruangan lantai dua, kamar mandi dalam, beberapa barang-barang Sabina yang tertinggal. Di lantai yang sama adalah ruangan kerja Linka dan Feli karyawannya Kahfi, mungkin mereka sudah tertidur di ruangannya, di hari kerja biasanya rumah ini akan lebih ramai, namun karena persiapan pembuka’an mereka pasti masih di distro atau pulang ke rumah masing-masing, mereka tinggal di sini, rumah ini adalah kantor juga, pembantu dan tukang kebun tinggal di lantai satu. Tidak menyangka Amar akan kemari, Kahfi pasti sudah menyiapkan kamar di lantai bawah.

Amar kelihatan bingung, kelihatannya Sabina sering kemari. Terkadang Amar penasaran pada Kahfi, pria bermata agak sayu ini sudah lama mengenal Sabina dan selalu bersama dengannya. Apakah tidak pernah sedikit pun punya perasa’an lebih padanya? Amar tau kalau Kahfi sudah sejak lama menyukai temannya Sabina yang namanya Shafa, seorang aktivis sosial yang mengurusi anak-anak berkebutuhan khusus. Salah satu anak asuhannya sempat ditaksir Faizal, namun beberapa waktu lalu dikabarkan meninggal karena komplikasi.

Pernah bertanya namun jawabannya hanya formal, ia tidak suka Sabina yang bertingkah seenaknya sendiri terkadang. Sabina itu editor bukunya, sering menyuruhnya mengulang beberapa bab karena kurang menarik, pun memarahinya jika telat dari deadline. Mereka kadang mendiskusikan bagaimana baiknya si tokoh dan sikapnya disaat tertentu. Kahfi sering diganggu Sabina, terlebih setelah bercerai ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Kahfi.

Kahfi bilang lebih baik bunuh diri ketimbang bersama Sabina, untuk menjadi teman mereka cocok tapi untuk menjadi pasangan mereka bahkan tidak punya perasa’an apapun. Amar segera mengenyahkan pikirannya.

“Istirahat dulu Bro, Sabi enggak akan kemana-mana. Kamu masih juara di hatinya, lagi jual mahal aja dia..” Menepuk-nepuk pundak Amar dan mengajaknya masuk ke rumah.


Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s