Divorce – 04

“Plat mobilnya Mas mu apa?” Sambil kelihatan berpikir. Faizal melebarkan kedua matanya terkejut, oh masih cinta.. masih mau mengakui Mas Amar sebagai bagian dari keluarga.. aneh!

“Aku gak hafal angkanya berapa, tapi tiga huruf di belakang adalah namanya Kakak, SBN. Heran deh ya.. kenapa enggak ISBN sekalian? International Standard Book Number… hahaha, pokoknya itu SBN namanya Kakak, diubah dengan segala keribetannya, ngurus dokumen a sampai z dan biaya pajaknya yang tidak sedikit demi Kakakku tersayaaang.. lalalala dipsi po~”

“Bukan begitu, itu orang bikin masalah..” Sabina mengambil tasnya, membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan Faizal yang tidak dibiarkan bertanya ada apa? Mau kemana? Bingung.

Tapi matanya terus mengekor Kakaknya terlihat menuju ke mobil Amar,

“Mau ngapain itu?! Rujuk?” Faizal sudah panik hendak menghubungi Kahfi. Untuk mengabarkan berita besar tersebut.

Cuaca mulai terik setelah sekitar setengah jam lalu mendung. Sabina berlari kecil menuju mobil Amar, entah apa yang pria itu akan pikirkan ia tidak peduli. Tapi jika dibiarkan begini maka antrean mobilnya akan semakin banyak dan menyusahkan banyak orang. Semenjak tadi suara klakson bahkan saling bersahutan, orang-orang yang kesal karena tidak kunjung bisa melajukan kendara’an mereka. Pasti dia lupa kartu e-toll miliknya yang entah dimana, selalu terjadi dan bahkan saat mereka dulu, Sabina akan kesal melihat kecerobohan suaminya tersebut. Untung saja dia memiliki e-money yang sering dia gunakan untuk berbelanja.

Sabina mengetuk jendela kaca di sebelah kiri kursi pengemudi, mengkode Amar untuk membuka kuncian pintu mobilnya. Amar sendiri terkejut bukan main karena sosok yang menjadi wallpaper ponselnya muncul begitu saja entah dari mana. Tanpa permisi Sabina langsung masuk ke mobil dan duduk di sebelahnya, memberikannya kartu toll, menatapnya tidak sabaran untuk segera membayar biaya masuk ke toll dengan menunjuk petugas toll dengan dagunya.

Baru setelahnya keributan kecil teratasi. Namun Amar masih mencoba mencerna situasinya sekarang, dia tengah menuju ke luar kota untuk menghadiri acara pembuka’an distro milik Kahfi, kagum bagaimana Kahfi bisa mengelola semuanya dan melakukan apa saja tanpa pernah terlihat lelah dan selalu ceria, ia memaksakan diri untuk datang meski tau pasti jika dia lihat Sabina di sana, akan dihindari lagi. Hari itu Jum’at sore, mungkin ia akan menginap semalam untuk acara besok.

Masalahnya sekarang kenapa mantan istrinya ada di sini? Di mobilnya? Mari lihat.. apakah ia akan minta diturunkan di rest area dan berdalih Faizal akan menjemputnya di sana? Ataukah ia akan ikut dengannya sampai ke Kahfi? Selama sepuluh menit mereka hanya saling diam.

“Plat mobilnya kenapa belum diganti?” Pecah Sabina

“Masih sampai sekitar 3 tahunan.. sayang kalau diganti begitu saja, lagian makan biaya lagi, kenapa juga harus diganti? Lagian kita masih bisa rujuk? Jangan bilang kamu nggak mau balikan sama aku?”

“Turunin di rest area pertama, nanti Faizal jemput aku di sana.” Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan dia malah minta diturunkan. Amar langsung menghubungi Faizal yang kelihatannya tak jauh dari mereka sekarang. Diangkat dalam deringan pertama, otomatis tersambung ke audio mobilnya. Sengaja diatur demikian agar Sabina mendengarnya juga.

“Faizal, ini kamu mau ke Kahfi juga kan?”

“Iya Mas, Kakak ngamuk di sana nggak? Kalian mau rujuk? Selamat yaaaa… yeyeyeye lalalala~. Aku tutup, kita ketemu di sana aja!”

“Kayaknya adikmu enggak ada niatan jemput kamu. Ini toll dan kamu nggak bisa kemana-mana karena bahaya. Tidak ada kenalan dan bisa dipercaya, mendingan kamu ikut aku dan bernostalgia? Malam-malam yang panjang semisal?” Amar tersenyum dan mengangkat sebelah alisnya untuk mengejek mantan istrinya ini. Menggodanya.

“Tapi aku juga tidak percaya kamu..”

“Jadi, kenapa kamu masuk ke mobilku sekarang? Minta rujuk beb?”

Sabina hanya memutar matanya kesal, rujuk kepalamu?!

“Karena kamu ceroboh seperti biasanya, itu nyusahin banyak orang. Dan itu menyebalkan sekali..”

“Tapi kamu di sini sekarang bersamaku belum tentu kamu akan aman, kalau aku culik kamu bawa ke hotel? Siapa yang tau? Justru untung di aku, keluarga kita nggak akan protes.. mereka akan senang senang saja dan menyuruh kita rujuk.”

“Kamu enggak akan berani seperti itu.” Tampak tidak terpengaruh sama sekali.

***

           Faizal menghubungi Kahfi yang disibukkan dengan pengaturan dekor serta tempat duduk, panggung. Faizal dia suruh untuk bernyanyi di pembuka’annya nanti. Distronya akan berfokus dengan brand lokal, sepatu, tas, kaos, jaket, hoody, dan pernak pernik anak muda lainnya. Memiliki dua lantai, letaknya strategis dan sangat luas. Rencananya dia akan sesekali mengadakan event untuk menarik perhatian pembeli dan meningkatkan penjualannya. Urusan manajemen akan dia serahkan ke tim yang sudah dia percaya, dalam beberapa selama sebulan akan dia cek pemasukan dan pengeluarannya. Melelahkan harus dituntut menyelesaikan buku terbarunya, disibukkan dengan seminarnya, mengontrol beberapa bisnis lainnya. Namun karena ia suka, ia merasa tidak keberatan dengan semuanya.

“Bang, mereka kayaknya mau rujuk..”

“Enggak mungkin secepat itu, kan katamu tadi antrean masuk toll lumayan macet karena Amar kan? Ya palingan Sabi cuman jengkel aja Amar yang teledor dan mau gak mau  harus bantu.. atau ya mungkin akal-akalannya Kakakmu biar bisa deket Amar lagi, hahah..”

“Kan bisa nyuruh aku ya Bang.. ini sejenis kangen tapi gak mau kelihatan bego’ ya?”
“Persis.., akan lebih menarik kalau sebulan kemudian Sabina hamil. Dengan begitu dia gak akan bisa lepas dari Amar lagi..” Faizal sudah membayangkan Sabina dan Amar pasti perang dingin di perjalanan mereka, ia tadi sengaja menyalip mobil Amar.

“Bang Bang.. aku tau Abang penulis, tapi tolong berkhayal yang sewajarnya saja.. kakakku tidak mungkin setidak bermoral begitu. Meski kedengarannya bagus juga.. lagian mereka yang punya masalah, kenapa kita yang ikutan diseret?”

“Entah ya…, ngomong-ngomong kamu mau nyanyi apa? Anggota band pengiringnya nanya’in, mereka mau latihan sambil nyoba set-nya.”

“Tau lagu ini enggak Bang? Ku terpikat pada tuturmu.. aku tersihir olehmu.., terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia…, ku harap kau tau bahwa ku.. terinspirasi hatimu, ku tak harus memilkimu.. tapi bolehkah ku slalu di dekatmu... Kalau Abang mau ehem.. Mbak Shafa pakai ini aku bersedia menyanyikannya sebagai pengiring, gratis!, hahahaha…”

Terdengar tarikan berat napas Kahfi, Faizal juga merasakan kebingungan Kahfi.

“Berat Zal, semenjak Sepupu kamu berubah menjadi straight aku merasa enggak ada apa-apanya, akan ada waktunya nanti… aku menghormati keputusan Shafa apapun itu..”

Faizal sebenarnya tidak mempersiapkan lagu apapun, dia hanya akan memikirkannya nanti malam, berlatih sedikit dan percaya diri. Namun entah kenapa dia langsung merasa ingin menyanyikan lagu tersebut, barangkali karena masih bingung atas tindakannya Kakaknya tadi.

“Abang enggak boleh nyerah! Yang duluan memperjuangkan Shafa kan Abang.. Kang Arip bisa dipaksa mundurlah.., kalau Abang enggak mau baku hantam dengan beliau, weheh.. beliau.. kayak tua amat?, aku yang akan membuatnya begitu.. santai Bang, jangan pesimis..”

Kahfi terdengar terkekeh di ujung sana, senang Faizal membuatnya tertawa.

“Kamu apa kabar? Jangan mainin cewek mulu? Pacarmu banyak Zal, iya untungnya yang kamu pacarin semodelan agak hedon, kalau yang cinta beneran gimana? Kamu nyakitin orang..”

“Ah enggaklah, aku 23 tahun dan masih sebebas-bebasnya jadi manusia. Yak benar, Abang bener.. bahwa aku memang sedang main-main. Mungkin seumuran Abang baru aku mau serius.. sementara forever young.. forever youuung.. hahah… Pikiran diri Abang sendiri sebelum mengkhawatirkan adik kecilmu ini.. babay~”

Faizal kemudian menyetel radio, hanya sekadar mengisi rasa bosan.