Divorce – 03

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, Kahfi dan Faizal membicarakan apa saja, Sabina hanya sesekali tertawa dan menanggapinya. Ia memesan hidangan daging berbagai macam olahan, sejak lama ia memang suka daging sapi. Mungkin itu juga yang membuat Kahfi kadang memanggilnya Sapi. Meski sesekali ia merindukan masa dimana jam seperti ini ia hanya akan di rumah, menonton film bersama, atau sekadar bermain catur dengan Amar. Ia sering memikirkan bagaimana rumah besar tersebut dibiarkan kosong tanpa dirinya, tersentuh hatinya mendengar tanpa kamu didalamnya ini bukan rumah, ia sesekali tersenyum sendiri mengingat bagaimana Amar memaksa menyebut rumah tersebut sebagai rumah kita, padahal Sabina mati-matian tidak mau ada kita. Lelaki tersebut kini tinggal sendirian di sana, ia tau pasti lelaki tersebut sedang sangat kacau dengan sikapnya yang aneh dan alasan bercerai yang tidak masuk akal. Mungkin Faizal menjadi seperti ini karena Amar sering menghubunginya, Kahfi pasti juga tak jauh-jauh. Namun Ia membiarkannya saja. Jika Amar sungguh penasaran kenapa, ia tak ingin menyakiti Amar sehingga memilih untuk bertindak kejam seperti ini.

Sementara itu Amar masih tenang di tempatnya, so close.. yet so far.. tiba-tiba Amar teringat idiom tersebut, mereka hanya berjarak satu dua meja, tetapi rasanya sangat jauh. Ia sangat paham Sabina seperti apa, pasti ada sesuatu yang membuat Sabina ingin pergi darinya, sesuatu yang tidak dia pahami itu apa. Dari cerita Kahfi dan Faizal wanita tersebut masih sangat sama mencintainya.. tapi kenapa?

Di tengah gurauan Faizal soal dia yang saat SMA selalu sengaja mendatangi para polisi yang sedang melakukan operasi kendara’an serta kelengkapan surat-surat pengendara, hanya untuk memamerkan bahwa dia punya SIM. Kemudian mengajak beberapa polisi untuk berfoto untuk kemudian dia posting di BBM atau Facebook, di masanya sekolah belum seterkenal sekarang Instagram dan sejenisnya.

Saat memperhatikan beberapa gelas dan bekas makanan mereka, Sabina menyadari sesuatu. Ia lupa bahwa adiknya tidak suka kopi, karena lambungnya tidak terlalu bisa tahan dengan kafein. Ia memandangi cangkir tersebut sekilas kemudian tersenyum membentuk garis, kecut. Terlihat jelas, ternyata satu pesanan adalah kopi dari ampas yang menempel di dinding dinding cangkir dan satunya hanya coklat panas karena terlihat coklat membentuk garis sampai mana tadi air panas dituangkan. Amar di sini tadi.., bisa jadi masih di sini..

Gumam Sabina dalam hati. Jika saja ia mau membuang gengsinya, ia akan memanggilnya dan memeluknya dan menepuk-nepuk kepalanya, bertanya apakah makan selalu tepat waktu? Tidurmu nyenyak semalam? Apa yang mengganggu pikiranmu? Bagaimana keadaan kantor? Aku juga merindukanmu.

Sabina menggelengkan kepalanya cepat, tidak. Tidak boleh, dia harus terus seperti ini. Jadi sangat menyebalkan bagi siapapun. Sabina kemudian mengenakan tasnya dan beranjak dari tempatnya duduk. Menatap gelas tadi tajam,

“Mau kenama Bi?” Tanya Kahfi bingung, Sabina hanya mengendikkan bahunya acuh tak acuh. Beralih ke Faizal.

“Feelingku gak enak, aku pulang duluan ya..”

Faizal nyaris cegukan karena takut pada kakaknya, kalau sudah marah kakaknya akan menjadi sangat menyebalkan. Bukan cuman ponselnya

“Faizal.. Sejak kapan kamu suka kopi?” terbelalak mata Faizal mendengarnya, gawat! Sabina tau Amar tadi di sini.. Kahfi tidak bisa banyak berkomentar, sohibnya ini memang bukan perempuan yang diberi bunga maka akan memberikan hatinya begitu mudahnya..

“Bilang ke dia, jangan begini lagi.., aku nggak suka.”

Sabina pergi begitu saja, dia tau Amar ada di sana dan tidak mencoba untuk bicara dengannya.

“Buahnya gimana Kak?!”

Tanpa menoleh ke belakang Sabina mengangkat tangannya tidak peduli, tau seperti ini maka Faizal harus membawa belanjaan sebanyak ini pulang nantinya.

Amar tersenyum getir selama beberapa detik, sudah dia duga. Sabina cepat membaca situasi, tidak bisa dibodohi. Ia melepaskan topinya dan menuju meja Kahfi dan Faizal.

“Yow Bro! Semenjak menjadi sahabatnya aku selalu penasaran lelaki macam apa yang bisa meluluhkannya, pasti bukan orang biasa. Dan ternyata itu kamu Mar.., tapi setelah dengan semua ini aku sangat penasaran..”

Amar duduk di kursi Sabina tadi, memandangi pesanan mantan istrinya. Daging sapi, daging sapi, dan sapi ada dimana-mana, ia tersenyum sembari menarik napasnya agak berat.

“Penasaran tentang apa?”

“Kenapa kamu jatuh cinta pada orang gila semacam itu? Hahaha.. Dia jago memanipulasi orang dan membuat orang yang benar jadi kelihatan salah.”

“Entahlah. Aku sudah sangat tergila-gila.. mau bagaimana lagi? Kalau boleh jujur bahkan aku tidak suka saat kalian bercanda bersama, padahal tau tidak mungkin ada cinta diantara kalian.. meski kalian ku dengar pernah sepakat untuk menikah saat tidak mendapatkan cinta masing-masing..”

Faizal terbatuk-batuk mendengarnya, sebuah fakta baru yang tidak pernah dia ketahui selama ini. Ia menerima topi yang dipakai Amar tadi.

“Masaa’? Mereka menikah? Abang sama kakak? Anaknya pasti buku.. editor sama penulis, hahahaha.. gak sanggup bayanginnya Bang.. kalian gak cocok sama sekali..”

“Siapa juga yang mau sama dia? Sinting aku lama-lama kalau diposisinya Amar sekarang.., aku aja capek kadang diteror disuruh cepet nyelesai’in beberapa bab, kalau jelek kurang mengena dia corat coret dan lemparkan asal, ngeri pokoknya! Hih..” Kahfi bergidik ngeri sendiri mengingat hari-harinya tak tenang karena Sabina. Mencintai perempuan sinting itu? Lebih baik bunuh diri..

Amar menyisir anak rambut di dahinya dengan jemari, menariknya ke belakang. Merasa pusing juga sebenarnya, tersenyum, namun sisi hatinya mengatakan jangan pernah menyerah, ayo Amar kuat! Ini tidak akan lebih rumit saat Sabina amnesia dan membencinya, menyusulnya ke luar negeri. Butuh waktu yang panjang dan sangat melelahkan.. ia sendirian, kini ada Faizal dan Kahfi yang mendukungnya.

Melihat Amar yang tampak putus asa, Kahfi ingin menenangkannya. Ia menepuk-nepuk pundak Amar, simpati.

“Dari apa yang ku pelajari dan sering ku katakan dalam coaching kelas ku, semakin seorang perempuan mendorongmu untuk pergi dan menjauh.. artinya dia ingin dikejar lebih kuat lagi, digenggam tangannya lebih lagi, jangan nyerah.. atau dia sedang mengetes kesungguhan dan kesetia’an kamu..”

“Tapi Baaang.. Mas Amar itu kesetiaan dan cintanya tidak boleh diragukan lagi.. gimana sih? Abal abal nih orang.. ckckck, ngaku ngaku.. ”

Kahfi segera mengangkat gelasnya untuk menyiram Faizal, namun ia letakkan lagi. Faizal menutupi wajahnya sambil cengengesan.

“Itu kan teorinya, sebentar sebentar sebentar.. kondisinya sekarang ini kan agak aneh yaa.. pokoknya apapun yang terjadi kita harus cari tau alasannya kenapa minta cerai? Sabina cinta lhoo.. cinta banget malahan, dia masih memantau Amar.”

Faizal manggut-manggut dibuatnya.

“Aku kadang-kadang kepengen jadi pelihara’annya kakak aja, capek lama-lama jadi adeknya.. makan ati terus.. ahaahaha.”