Divorce – 02

Faizal sibuk dengan ponselnya, membalasi pesan dari para fans. Membiarkan Kahfi dan Amar berbincang sendiri.

“Bang.. gua dapet komentar beginian masa’ dari WA story, baca’in ya.. Faizal! Ganteng banget itu yang pakai kaca mata, kenalin dong…”

Kahfi mengangkat sebelah alisnya, tidak terkejut jika mendengar respon sejenisnya.

“Jawab aja udah sold out. Apa kasih aja link ke seminar bulan depan di Bandung.. lumayan bisa ketemu langsung sama penulis terkenal.” Faizal merasa jijik dengan kepercaya’an dirinya Kahfi.

Faizal mengernyitkan dahinya, mau sesantai apapun Kahfi profit tetaplah hal yang utama. Amar hanya tersenyum mendengarnya. Namun Faizal berubah bingung segera setelah pesan dari kakaknya muncul.

“O ow…, Bapak Bapak.. mohon perhatiannya sebentar.”

Kahfi dan Amar yang semenjak tadi berdebat kecil kemudian fokus pada Faizal. Merasa diinterupsi.

“Siaga satu! Bos besar mau kemari!”

Faizal menunjukkan pesan dari ponselnya, Zal, kamu maen sama Kahfi gak ngajak-ngajak.. aku ke sana sekarang! Aku dari supermarket sebelahnya..

Mereka bertiga langsung panik. Jika Sabina mengetahui Amar bersama mereka pasti Sabina langsung beranjak pergi meninggalkan resto tersebut bahkan sebelum benar-benar masuk ke dalam ruangan. Tapi Langsung kabur begitu saja tidak akan membuat Amar aman juga, nanti Kahfi dan Faizal tidak akan diajak bicara Sabina seterusnya, dan mereka tidak akan bisa memecahkan apa masalahnya.

Faizal melongokkan kepalanya ke luar jendela, ia lihat Sabina berjalan dengan di kanan kiri tangannya membawa kantong belanja’an yang besar. Terlihat cukup kewalahan. Ditengah kepanikan yang melanda tersebut Kahfi menyarankan Amar mengenakan topi Faizal dan duduk membelakangi mereka di meja lain. Faizal segera berjalan cepat ketika Sabina sudah masuk ruangan, ia hampiri dan berusaha membawakan belanja’annya.

“Kenapa belanja banyak banget sih?” Faizal meraih paksa belanja’an dari Sabina. Meski heran, Sabina tidak mencurigai ada yang aneh.

“Tumben kalian maen tanpa ngajak aku?”

“Ini, si Abang dadakan ngidam latte buatan sini.. sama penyetan ayamnya, kangen. Kan kakak tau aku bakalan ditraktirin, diajak ya oke ajalah.. hahah”

Ia bahkan tidak menyadari Amar ada di sana juga karena Faizal langsung  menggiringnya untuk duduk bersebelahan dengan Kahfi, dengan begitu ia takkan sempat memperhatikan punggung Amar.

Kahfi langsung menyodorkan menu makanan, Sabina sibuk memilih kudapan. Faizal duduk di bekas tempat duduknya Amar. Ia berusaha menengahkan gelas Amar tadi,

“Kopinya tumben enak banget ya Bang? Aku sampai pesan dua.. uhukk.”

Sabina untungnya tidak curiga, hanya menganggap adiknya rakus seperti biasanya.

Sementara itu Amar sibuk membolak-balik menu dan memperhatikan tulisan di sana, pelayan menghampiri untuk mengambil kertas pesanannya.

“Saya ulangi ya. Kopi Espresso dua gelas.” Pelayan tersebut mengernyitkan dahi bingung, aneh kenapa ada orang mau-maunya memesan kopi sepahit itu dua sekaligus?. Daripada memikirkannya terlalu dalam ia lebih memilih berpikiran pria bertopi ini adalah pecinta kopi sejati, sehingga pesanannya adalah biangnya kopi. Amar hanya tersenyum sembari mengangguk ringan.

Kahfi sendiri nyaris meledakkan tawanya mendengar suara pelayan barusan. Amar memesan kopi paling pahit, sesuai dengan perasa’an dan situasinya sekarang ini yang sungguh pahit. Namun Kahfi menutupi mulutnya agar tidak terlalu terlihat oleh Sabina, kemudian terbatuk-batuk ringan. Sabina bahkan terlihat tidak peduli.

“Kamu belanjanya kenapa banyak banget Neng? Mau gak keluar rumah berapa minggu?” Tanya Kahfi, sengaja ingin membuat Amar cemburu.

“Apel sama jeruknya bagus, gak tahan kepengen beli banyak..”

Amar yang tak jauh dan bisa mendengar pembicara’an mereka tentunya menjadi panas hatinya. Harusnya ia yang berada di sana, duduk di sebelah Sabina-nya. Mengobrol ringan semacam itu seperti dulu, melihatnya tersenyum dan bercanda dengannya. Rasanya sungguh ingin menarik kerah kaos Kahfi dan sedikit meninju rahangnya.

“Kakak ngeblock WA nya Mas Amar? Setidaknya kalau uninstall semua akun sosial media Kakak, kenapa WA ikutan diblock sih?”

Sabina mengangkat wajahnya dari menu dan menatap Faizal tajam.

“Jangan sebut sebut nama itu lagi. Sekali lagi kamu bilang begitu aku pergi sekarang..”

“Tapi Kakak masih sayang ‘kan?”

“Faizaal…”

Kahfi menjentikkan jemarinya agar keduanya tidak semakin parah.

“Bi, aku gak ngerti.. setidaknya kasih tau kami apa alasannya agar kami diam dan tidak banyak bertanya lagi soal dia..”

“Dia selingkuh..”

“Gak mungkin!” Faizal kaget mendengarnya.

“Enggak gitu, kalian harap aku bakalan ngomong apa? Dia beneran selingkuh?”

Nyaris jantungan keduanya mendengarnya. Amar yang diam-diam menguping pun juga tidak percaya, tidak sehari pun ia bisa memikirkan yang lainnya. Kalau pun harus menduakan pasti ia hanya akan menduakannya dengan pekerja’annya.

Sementara itu Amar hanya bisa memandangi istrinya.. ah, bukan.. bukan lagi istrinya, kekasihnya.. hanya dari ponsel, karena tanpa Sabina sadari sebenarnya adiknya yang jahil itu sedang melakukan panggilan video dengan Amar, ia letakkan ponselnya di meja, seolah ia mainkan atau pura-pura ia gunakan untuk bercermin. Amar mendengarkan dengan earphone tanpa kabel yang ada di saku jaketnya tadi. Masih sama, perempuan itu masih sangat ia cintai dan pembawa’annya menenangkan anggun seperti biasanya. Dengan kerudung hitam tersebut, sayangnya kini tidak bisa ia lihat rambutnya dulu terurai panjang, terlebih tidak bisa ia peluk lagi, tiba-tiba kepalanya terasa pening dan jantungnya terasa sakit entah mengapa.