Divorce – 01

Di ruangan keluarga, TV yang dinyalakan dan Faizal yang asyik menonton sinetron azab. Duduk di karpet dengan Sabina tak jauh darinya sedang memasang wajah serius sembari melihat ponselnya. Sudah semingguan ini Sabina tinggal kembali ke rumah utama, Faizal masih tidak mengerti kenapa kakaknya bercerai dengan Amar. Padahal kisah cinta mereka sudah cukup membuatnya pusing. Ia juga masih dalam masa berkabung karena gadis tuna rungu yang ia jatuh cintai beberapa waktu lalu meninggal karena gagal ginjal. Kesibukan Faizal masih sama, ngeband dan ikut membantu Ikram atau si kembar. Dan ditambah lagi menjadi mata-matanya Amar.

“Kalau benci kenapa masih suka stalking sosial medianya? Munafik deh ini orang satu ini.. ckckck” Faizal melirik kakaknya.

Sabina langsung melemparkan ponsel adiknya, dengan sigap Faizal menangkapnya. Hati-hati karena ini bisa menjadi ponsel kedua yang dirusak kakaknya.

Tanpa sepatah kata kakaknya menuju ke balkon. Faizal hanya bisa mendengus melihat kelakuan aneh Sabina.

“Kalau masih sayang kenapa cerai?! Ini yang gila siapa sih? Sama-sama gengsian jadi orang!” Faizal meneriakinya tapi tetap tidak ada respon apapun dari kakaknya, malah asyik memotret pemandangan awan dan langit sore. Kahfi segera menimpuk kepala Faizal dengan bantal, sebab pria awal dua puluhan ini entah kenapa tidak bisa peka pada kakaknya sendiri. Faizal mengusap-usap kepalanya sembari mengernyit sebal pada Kahfi. Barangkali Sabina sedang ingin sendiri, dia tidak mau diganggu. Membiarkannya begini mungkin cara yang terbaik agar tidak dimusuhi.

“Faizaal! Kamu diem dulu nak.. Abang mau kerja ini.. okay?”

Kemudian Faizal beranjak dari karpet lalu duduk di seberang meja tempat Kahfi sedang merampungkan tulisannya. Faizal merasa aneh pada Kahfi, kenapa seolah tidak khawatir dengan apa yang Amar dan Sabina alami sekarang. Cerai.. semudah itukah hubungan mereka?

“Bang, seriusan deh.. kayaknya Abang ini tau ada yang gak beres sama kakak dan Mas Amar. Tapi apa? Kenapa? Mereka kan saling cinta.. sudah sebulan lho, yakin? Gak mau bagi-bagi rahasia sama aku?”

Kahfi hanya melirik sekilas pada adik sahabatnya ini. Melanjutkan menulis lagi. Sedang dapat ide bagus, tokoh utama yang senang memelihara keong semisal.

“Bukan urusan anak kecil.” Masih fokus menulis.

“Tapi Mas Amar nanyain kakak terus, aku kan gak enak.. tinggal serumah tapi gak tau apa-apa.. cuman bisa jawab, kakak baik.. abis balik kerja langsung ketemuan sama Bang Kahfi, atau kakak lagi ada acara sama temen-temennya, kakak libur di rumah cuman tidur seharian, gak enak aku tuh.. sumpah! Kasihan sama Mas..” Faizal menoleh ke Sabina, kalau-kalau Kakaknya setidaknya melihat ke arahnya ketika nama Amar disebut.

“Zal, gak semua hal perlu kamu ketahui ya sayang~”

Faizal merinding dipanggil sayang, dengan Kang Arip saja dia alergi apalagi Kahfi. Yang ternyata keduanya menaksir satu orang yang sama. Sungguh perseteruan yang hebat! Di kepala Faizal terbayang keduanya beradu romantis atau paling parah di ring tinju. Faizal segera menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran bodohnya itu.

“Tapi.. aku juga harus tau..”

“Faizal…, kamu cukup jadi adek yang nurut saja. Kalau semisal kakakmu pinjem hape buat stalking Amar ya kasih aja. Kalau dia banting toh kamu gak akan rugi, dibelikan lagi kan? Spesifikasi terbaru malahan..”

“Iya sih, tapi.. huf, ya udahlah..” Namun Faizal masih meragukan Kahfi.

“Abang pasti tau sesuatu kan? Ayolah.. kita kenal sudah lama, dan karena ini menyangkut kehidupannya kakakku aku jadi harus tahu!”

Kahfi menghentikan sejenak kegiatannya, mendengus sebal kemudian menopangkan dagu pada kedua tangannya.

“Apa yang ingin kamu ketahui? Besok ikut aku ke resto biasa yang sering kita sambangi kalau weekend.”

“Okeh! Siapa takut!” Faizal bersemangat.

***

Petang itu, keduanya sudah tampak rapi khas anak muda yang suka nongkrong di Sabtu Malam. Kahfi membenarkan letak kacamatanya dan mencari angle yang terbaik untuk selfie dengan Faizal. Faizal tidak mengerti,

“Mari kita memancing keributan, dududududu~”

“Maksudnya?”

“Memancing pangerannya ke sini, apapun yang menyangkut si Sapi pasti Amar langsung datang. Kamu gak inget bagaimana dia jauh-jauh ke Singapura, ke Macau, Taiwan nyari’in kakakmu yang sinting itu?”

“Ckckckck romantis memang..”

Keduanya berpose ceria, Kahfi sengaja meletakkan lokasi alamat sekarang dan caption “Mau bahas-bahas soal Sapi? Yuh ikut!”, menurutnya Amar pasti tahu maksud undangan tersebut dan langsung datang. Amar tentunya tau kalau Kahfi adakalanya memanggil Bi dengan Sapi karena sifatnya yang kadang menurut-nurut susah diatur itu.

“Kita tunggu saja, dalam 30 sampai 1 jam kedepan Amar pasti akan datang kemari”

“Kenapa gak langsung WA aja sih? Amar, ada waktu luang gak? Sini.. kita bahas soal Sabina.. mungkin aku bisa bantu. Kan enak kalau gitu Bang..”

“Alalalah.. basi, aku kan penulis.. nyentrik dikitlah caranya..”

Benar saja Amar datang dan langsung mengedarkan padangannya mencari Kahfi dan Faizal. Faizal terkejut, ternyata yang seperti ini saja bisa membuat Amar datang. Dalam hati Faizal mengatai Amar ini bucin sekali pada kakaknya.

Faizal mengangkat tangan agar Amar langsung menuju ke mejanya. Menyodorinya menu untuk memesan makanan.

Amar duduk berhadapan dengan Faizal dan Kahfi, yang satu adalah adik dari kekasihnya dan satunya sahabat.. meski terkadang Amar pun tidak rela jika Sabina dekat-dekat dengan Kahfi. Bagaimanapun juga dia ini lelaki dan tidak merasa suka jika ada pria lain disini Sabina. Mereka berbasa basi sebentar, tentang cuaca, kemacetan ibukota, serta kasus politik atau isu terhangat yang sedang terjadi. Sampai dimana Kahfi membuka pembicaraan utama mereka, tentang Sabina dan Amar.

“Nah, ini sekaligus buat Faizal yang over negatif mikirnya. Aku bahkan tidak tau kenapa Sabina seperti itu. Setahuku cuman.. kalau dia minta diantarkan ke supermarket atau mall aku siap, diajakin ke toko buku aku ada, Kaf.. ke kafe ini yuk, Kaf.. ada butik baru nih.. temenin ya?, Kaf..  Kaf.. dan Kaf Kaf lainnya, tapi kalau dia kepergok melamun dan aku tanya.. Kenapa Bi? Mikir apa? Jawabannya selalu sama.. gapapa, gapapa Kaf..”

“Lantas?” Tanya Amar.

“Aku sendiri pun juga jengkel, jadi kamu apakan dia sampai minta cerai?” Tuduh Kahfi, Amar menjadi agak tersinggung dibuatnya.

“Maksudnya gimana? Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya bahagia, dia minta pin debit card punyaku pasti ku kasih dengan sukarela. Aku nggak merasa kurang dalam hal apapun untuknya..”

Faizal melongo dibuatnya, Kahfi hanya bisa tersenyum geli.

“Pantes cocok, sama-sama gak waras..” celetuk Faizal.

“Sombong kalee Amar ini yak? Pengen nabok rasanya., lama-lama ngeselin juga mirip Sabina kamu ya.. hahahaha!” Ketiganya tertawa mengingat Sabina.

“Aku serius sekarang, kamu sudah memenuhi kebutuhan emosi dia?”

“Kenapa Abang tiba-tiba nanya’in itu?”

“Hei, aku ini juga Coach kelas cinta tau, lupa apa gimana ini bocah? Seminar aing ada dimana-mana bocah!” Memelototi Faizal.

Amar pernah dengar sekilas dari Sabina dulu dan dipikirnya itu hanya bercanda, tapi tidak menyangka kalau Kahfi benar-benar menjalani profesi sejenis itu.

“Semisal?” Tanya Amar penasaran.

“Kamu juga ngerti kan Mar, angka itu cuman bilangan. Tapi tidak menunjukkan sebenarnya. Nah.. kiasan itu juga cocok buat rumah tangga seumur jagung. Semisal gini, kamu sudah merasa mencukupi dia secara materi, sudah memberikan apa saja. Tapi saraf otak perempuan untuk masalah cinta itu beda sama kita laki-laki, mereka butuh pujian, butuh diajak bercanda, diajak bicara, didengarkan keluh kesah dan ceritanya tanpa disela atau diberi solusi, kamu harus rajin-rajin bilang sayang dan aku cinta kamu setiap harinya, membangun keterikatan emosi.”

“Aku sudah melakukan semuanya.., percayalah. Tanya dia kalau tidak percaya..”

“Tapi kenapa dia minta cerai?” Faizal heran.

Amar hanya mengendikkan bahu pun sama bingungnya. Tapi setelah dengar mereka masih ada kemungkinan rujuk membuatnya sedikit lega.

“Mungkin ada masalah diluar konteks cinta-cinta’an kalian..”

Ketiganya sama-sama tidak bisa menemukan jawabannya apa.

DIVORCE – 0

Posting asli Maret 2019 karena mau saya lanjutkan, maka dirubah tanggalnya! Wkwkwk

DIVORCE – 0

       Lelaki itu duduk termangu di kursi belakang, tangannya terus mengusap layar tabletnya ke kanan, hanya membaca headline berita politik dan sosial. Tama menyetir dengan tidak nyaman, sesekali melihat pantulan bayangan Kakaknya dari kaca di atasnya. Masih sama, Amar melamun dan sesekali memperhatikan jalanan. Sudah sebulan semenjak Kakaknya bercerai, bahkan diantara keduanya tidak ada yang menceritakan apakah alasan keduanya bercerai.

“Mas gak mau mampir ke rest area dulu?” Tanya Tama hati-hati. Amar balas menatap Tama dengan senyum kepura-pura’an sengaja dibuat tegar.

“Gak usah Tam, nanti makan banyak waktu, kita bisa telat. Kamu mau istirahat sebentar? Kalau kamu capek aku ikut aja terserah kamu Tam..”

Mendengar ucapan kakaknya membuat Tama diam-diam menghela napas. Tidak ada yang berani bertanya, tidak mau menyakiti meski semua orang penasaran sekali alasan perceraian mereka apa.

Sebulan lalu..

 “Aku mau cerai..”

Mendengar itu nyaris Amar menjatuhkan sendok di tangannya. Tapi ia hanya meremasnya, berusaha sabar. Masih sangat sulit baginya untuk memahami Sabina sampai sekarang.

“Bi, aku tahu kamu suka bercanda.. tapi ini keterlaluan Sayang.. gak lucu sama sekali.”

Amar tersenyum dan berharap istrinya tadi hanya sedang berusaha membuatnya terkena serangan jantung. Meski tak memungkiri dia merasakan kali ini bukan sekadar guyonan tapi ia bersikap tidak pernah terjadi apa-apa. Sabina hanya menunduk memperhatikan bulir-bulir nasi di piringnya.

“Aku butuh waktu untuk sendiri..”

“Tapi gimana dengan aku?”

“Satu atau tiga bulan. Lalu kita rujuk..”

“Aku mohon jangan begini Bi, kalau aku ada salah apa tolong bilang.., aku tidak mau lagi melalui satu hari pun tanpa kamu Sayang..”

“Kamu bisa, aku yakin kamu bisa..”

.

.

.