Divorce – 06 End

Sore itu Faizal mengajak Amar bertemu di rumahnya, mereka duduk duduk di teras depan. Lelaki tinggi tersebut bahkan tadinya tidak sempat duduk. Adik iparnya yang terlihat awut-awutan dengan celana pendek dan kaos oblong, rambutnya sudah mulai memanjang karena malas memotongnya, dengan sendal seadanya menyerahkan selembar kertas pada Amar. Membuat Amar kebingungan tetapi Faizal tidak menjelaskan apa-apa. Hanya tersenyum geli sendiri.

“Mas harus baca, itu yang bikin buat Kakak uring-uringan takut gak jelas. Yah.. intinya o’onlah..”

“Sekarang aku jadi ngerti istilah kenapa orang-orang dalam cinta terkadang menjadi lupa tentang apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Ya Allah Bi.. Bi.. o’onnya ga ketulungan, hahah!” Amar menarik rambutnya ke belakang, setengah pusing setengah lega.

“Kalau gak sabar, Kakak masih di kantornya sih. Kayaknya lembur hari ini, sekalian jelasin deh.., sok atuh.. aku pengen lihat kalian mesra kayak dulu lagi..”

Amar mengangguk pelan, mengerti. Kemudian berpamitan dengan Faizal, untuk pergi ke tempat kerjanya Sabina.
.

.

.

Kebetulan lift kosong, masih dengan pikiran yang sama bahwa ini sungguh konyol. Ternyata Sabina sangat mecintainya sehingga pikirannya menjadi tidak rasional begini. Amar tau dan tidak meragukannya, hanya saja saat ini entah mengapa ia merasa sangat bersyukur. Sesekali Amar tersenyum sendiri. Sesampainya di lantai tempat bekerja istrinya ia bergegas menuju ke mejanya. Masih geli sebenarnya, tapi ia berusaha memasang muka kesal dan marah.

Amar melangkahkan kaki menuju Sabina yang sibuk membolak-balik naskah. Kemudian ia menggebrak meja dengan satu telapak tangannya, berharap dalam hati Bi-nya ini tidak sadar kalau dirinya sedang berakting marah, membuat seisi ruangan menoleh pada keduanya. Sabina sendiri hanya menatap Amar dengan sebal. Mengernyitkan kedua alisnya, sedikit tertarik dengan kertas apa yang ada dipegang pria ini.

“Heh! Dasar o’on! Hasil lab kamu itu salah! Yang ngerjain laporannya itu Koass lagi magang, dia kebetulan disuruh perbantuan setelah semalaman jaga dan gak tidur, dia kelupa’an salah naruh nama kamu di hasil lab orang lain, kamu gak kenapa-napa Bi. Pokoknya kita harus rujuk!”

Amar menunjuk-nunjuk kertas di atas meja, mengisyaratkan untuk dibaca. Sabina membacanya dengan teliti. Kemudian menghela napas lega. Disaat yang bersama’an Attar ikut masuk ke ruangan dan diam-diam mengintruksikan 10 karyawannya keluar meninggalkan ruangan. Semuanya sama-sama sepakat tidak mau meninggalkan ruangan, membuat bosnya kesal tapi tidak mungkin berteriak mengganggu Sabina dan Amar. Mereka ingin menonton pertengkaran keduanya.

Karena Sabina tidak segera memberikan jawaban, Amar jadi tidak sabaran.

“Jadi kita gimana?”

Sabina meletakkan kertas ke bagian kanan meja, sikapnya berubah menjadi ceria kembali. Menopangkan kedua telapak tangannya ke dagu dan tersenyum manis sekali.

“Aku cantik nggak?”

Amar menyeringai dibuatnya.

“Cantik..”

Karena nampaknya Sabina terlihat tidak puas dengan jawabannya, segera ia tambahi.

“Cantik kog Bi, cantik banget…, apalagi kalau gak pakai baju.”

“Dasar mesum!” Sabina segera mengambil beberapa tumpukan kertas dan memukul kepala Amar. Membuat Amar tertawa sembari mengusap-usap pelipisnya. Senang istrinya yang jahil sudah kembali.

“Kalau cantik kenapa foto-foto mesra kayak gini Mas? Wah.. mana cakep-cakep semua ceweknya, hmm.. gitu ya kelakuanmu di luar?! Jahat banget ini.. sumpah, katanya istrinya cantik banget kayak gini masih berani ganjen..”

Dan entah sejak kapan Sabina sudah menggeser foto-foto di ponselnya dia angkat di kiri dekat wajahnya, senyumnya cerah sekali ketika menunjukkan ke Amar. Amar gemas sekali hingga ingin memeluk dan menciumnya tapi tidak bisa.

“Ya Allah Bi, itu kan cuman foto.. lagian mereka yang nempel duluan, itu kan acara perusahaan dan wajar kalau kumpul sama orang banyak. Mana peduli aku sama mereka, cuman kamu yang pengen kupeluk tiap malam Dek.. Demi Allah sayang.., mendingan kita pulang sekarang nyari penghulu dan langsung rujuk. Balik ke rumah kita, kangen-kangenan..”

“Ya setidaknya nolak kek! Sebel tau gak?! Aku udah ngerusakin hapenya Faizal sekitar 5 kali dalam sebulan! Emangnya duit itu metik dari pohon?!”

“Oh, jadi kakak ngerusak hapeku karena cemburu? Gila sih.. hahahaa” Faizal yang sedari tadi diam saja, bahkan keberadaannya tidak disadari Sabina.

“Aku ganti nanti.. sudah ya, pulang.. kita baikan. Kangen sama kamu, sehari tanpa kamu itu rasanya kayak di neraka.., dikali 30 hari. Kamu gak lihat aku tambah kurus begini karena siapa?”

“Kayak ada manis-manisnya gitu.. rujuk aja atuh! Rujuk!”

“Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk!”

“Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk!”

“Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk! Rujuk!”

Seisi ruangan riuh menyuruh mereka rujuk.

Sabina tersenyum dan mengangguk pada Amar, senyum di wajah Amar menjadi makin lebar karena saking bahagianya. Seisi ruangan kembali bersyukur karena pasangan ini.

“Nikah itu rumit ternyata ya Bi?”

“Setuju..”

“Lebih rumit lagi situasiku sekarang, pengen meluk kamu tapi gak bisa..”

“Hahahaha!”

“Kalian bisa pergi dari kantorku enggak? Jijik lama-lama lihatnya.” Attar marah-marah.

Nonton Pelakornya Nanti Saja Kalau Pengen, Memorist Dulu~

Mereka yang bego’ kenapa saya malu? Hahahaha, tolong bedakan dunia nyata dan peran di dramanya. Membuatku tidak tertarik sama sekali untuk menontonnya, dramanya tentang perselingkuhan dan intriknya agak gimana gitu.. maka akan saya kesampingkan saja dulu. Dan saya ga begitu tau dengan para pemainnya. Han So Hee lumayan mirip sama Su Bin, pacarnya Lee Kwang Soo… udah putus belom gw gatau.. tapi lucu lihat mereka berpartner menyelesaikan game di Running Man, pas Su Bin main permainan tinju yang diukur seberapa kuat pukulannya itu lho.. keliatan keren dan  poinnya cukup tinggi untuk ukuran perempuan, kalau Kwang Soo bikin dia jengkel dipukul kayak gitu kali ya.. hahahah,

Sepertinya tidak akan saya tonton, no no no no.. kog sampai sekarang saya belum berani melanjutkan Itaewon Class sih, wkwkwk. Rasanya kayak lihat pacar selingkuh, hahahaha… bangke.. santai santai, Park Seo Jun nanti ada projek sama IU, nanti pasti digosipin lagi.. ah enggaklah… kalau sama IU ga mungkin,

Saya suka kalau Yoo Seung Ho main di drama yang agak mikir begini, kurang suka kalau dia main di romance romance.. pantes tapi saya yang tidak suka. Terakhir dramanya dia yang ku tonton sepertinya Memoir sama Park Min Young, dia punya kekuatan untuk mengingat semua detail kecil, terekam seperti film di kepalanya. Kali ini Yoo Seung Ho punya kekuatan bisa membaca memori orang yang ia sentuh, membaca ingatan orang hanya dengan sentuhan. Kelihatannya keren, sayangnya dia jadi tau rasa sakit orang lain dan tau bengisnya si penjahat. Sayangnya ingatannya akan mengendap cukup lama, hidup dengan rasa sakitnya orang-orang. Orang-orang di kepolisian menyebutnya gampang panas dan mudah menyerang para penjahatnya, sering mendapatkan peringatan dari para petinggi.

Namanya Dong Baek, karena saat kecil dia ditemukan terlantar di stasiun Dong Baek. Tidak ada yang tau masa kecilnya seperti apa, datanya dilindungi oleh negara karena dia diteliti berkat kemampuan anehnya. Dianggap sebagai aset negara. Yang ia ingat saat kecil hanya.. ibunya meninggal dibunuh penjahat palu cakar. Kemudian tinggal di panti asuhan, karena dia tampan tentunya fansnya banyak. Ia tidak menyadari kekuatannya sangat berguna, sampai dia kenal dengan Cho Won sewaktu SMA, Cho Won sekaligus cinta pertamanya menyuruhnya untuk latihan mengendalikan kekuatannya dengan bekerja sambilan di toserba. Cho Won meninggal tertabrak salah satu kandidat partai di daerahnya,

Dong Baek marah karena merasa tidak adil, kemudian mengungkapkan kekuatannya ke polisi dan seluruh negeri menjadi geger karena keanehan tersebut. Dia dijadikan objek penelitian, kemampuannya menarik perhatian beberapa instansi termasuk BIN. Meski bisa menjalani hidup enak dengan sokongan dana dari berbagai lembaga, ia memilih menjadi polisi, beberapa menyayangkan keputusannya kenapa tidak menikmati kekuatannya saja? Menjadi polisi tidak akan banyak menghasilkan uang.

Balik lagi ke tadi, alasannya menjadi polisi barangkali ingin mengungkap siapa pembunuh ibunya dulu. Karena bisa merasakan emosi korban, ia sering bertindak gegabah dan melupakan prosedur kerjanya.

Han Sun Mi (Lee Se Young)

Terakhir lihat Lee Se Young sewaktu dia menjadi dokter, lawan mainnya Ji Sung. Saya ngerasa dia agak mirip dengan Nam Ji Hyun ya.. tapi sekilas doang, lebih flawless Lee Se Young sih..

Disini dia menjadi Kombes, Inspektur di usianya yang sangat muda, masih sekitar 30 tahunan tapi sudah mencapai posisi tersebut. Karena ceritanya dia ini jenius, ketika kecil saja dia sudah mengikuti olimpiade kelas dunia. Ayahnya meninggal dibunuh pembunuh palu cakar, dia tidak menjerit atau menutup matanya saat menyaksikan adegan pembunuhan tersebut melalui lubang kunci pintu karena ia ingin mengingat rasa sakit dan bengisnya pembunuh.

Sempat dijadikan subjek penelitian dokter juga, sebagai anak yang mengalami trauma menyaksikan adegan pembunuhan dan sempat tidak mau bicara. Tapi masa remajanya dia habiskan dengan mempelajari psikologi di luar negeri dan balik balik ke korea dia memberikan data hasil profilernya tentang si pelaku pada polisi. Tapi karena meskipun dia sudah master, kayaknya dia udah master pas itu.. masih 17 tahun dia ditolak mentah-mentah.. anak kecil tau apaaa??, Sun Mi mencurigai seorang wartawan senior.

Karena dia tidak dipercaya, dia ambil studi administrasi apa gitu.. sampai di titik dia muak karena tidak dianggap ada oleh pihak detektifnya. Dia kepengen masuk ke kepolisian dan mencari pelakunya sendiri. Dengan logikanya, Sun Mi ini tidak cukup percaya dengan kemampuannya Dong Baek, terlebih Dong Baek orangnya terlihat gegabah dan ceroboh, gampang tersulut emosinya.

Tapi karena mereka mengejar pelaku yang sama, akhirnya mereka kerja-sama, tapi masih Sun Min sekaligus memperhatikan Dong Baek apakah ada kemungkinan sebagai pelaku. Karena Dong Baek terkadang bisa pingsan berhari-hari dan tidur sembari berjalan, alibinya terkadang kabur.

Bingung gw.. dibikin muter-muter sama ini drama, ku pikir satu case akan selesai selesai, tapi saling berkaitan. Ku pikir pelakunya si pastor/pendeta itu yang membunuhi para gadis-gadis yang dulunya anak asuh yayasannya, psikopat yang membenarkan hasratnya membunuh dengan alasan membasmi iblis atau apalah itu.. tetiba mati dibunuh, bahkan jemaatnya ga inget sama sekali kejadian pembunuhannya. Si pelaku diduga memiliki kekuatan supranatural bisa menghapus ingatan orang, kenapa tidak? Dong Baek saja bisa membaca ingatan.. mungkin ada kekuatan aneh lainnya.

Dikejar lagi, ketemunya si Jin Jae Gu, dukun cenayang gitulah.. meski susah ditangkap akhirnya mengakui kalau pembunuhan 20 tahun yang lalu memang dia yang membunuhnya. Alibinya akhir-akhir diragukan karena 20 tahun lalu membunuhi, kemudian kabur ke luar negeri, anehnya setelah dia kembali justru pembunuhan terjadi lagi.

Tapi Jin Jae Gu bilang bukan dia pelakunya, dia memang tidak ingat siapa partner jahatnya. Karena ingatannya dihapus, tapi feel takut selalu menghantuinya.

Ternyataaaaa….

Jadi ceritanya gini, pada 20 tahun yang lalu terjadi pesta narkoba dan miras oleh sekelompok pemuda nanggung, mahasiswa tanggung. Mereka dibawah pengaruh alkohol memukuli dan menyiksa salah seorang pemuda, tetapi ada satu orang yang memang membunuh pemuda tersebut. Sekaligus memperkosa gadis sampai meninggal, ayahnya ternyata adalah kepala Damkar, balas dendam dong.. dia memanipulasi orang-orang dan Jin Jae Gu dijadikan partner sebagai eksekutor/algojo. Karena mereka punya musuh sama, Jin Jae Gu ibunya dibunuh oleh ibunya si pemuda pembunuh tadi. Relate kaan.. aku syok pas ngerti.. wkwkwk,

Nah.. 20 tahun yang lalu di sebuah gudang mereka saling membunuh entah dasar apa, ada si pelaku utama si penghapus menyaksikan pembunuhan masal tersebut. Dan Dong Baek entah kenapa juga ada di sana,

Ada satu ruangan yang isinya Jin Jae Gu dan Lee Shin Woong (Atasannya Sun Mi dan Dong Baek). Lee Shin Woong pikir Dong Baek adalah pelakunya, karena setelah keluar ruangan dia lihat Dong Baek yang tatapannya datar menakutkan padanya dan menyaksikan saling bunuh para pemuda tadi, dipikirnya Dong Baek sekarang adalah pembunuh karena memang jahat aja gitu..

Ya pokoknya gitulah… pusing gw, hahahaha.. sudah eps 14, sebentar lagi tamat.. huhu.. pengen lihat si Bapak Kepala Damkar menjelaskan perasaannya bagaimana, endingnya gimana ya?