Kim Ji Young: Born 1982 || Muak Di-Dikte Bagaimana Seharusnya Menjadi Perempuan.

Kadang kadang sekilas Jung Yu Mi ini mirip KIm Tae Hee..

Sepuluh menit pertama saya nangis. Hampir keseluruhan film ini bikin saya nangis. Sudah saya duga saya bakalan banyak menangis menonton ini, merasakan bagaimana sakit getirnya kita sebagai perempuan.

Film ini mendapat banyak respon negatif dari negara asalnya sendiri, ya jelas dong.. negara-negara di asia itu kebanyakan masih/selalu akan menjunjung tinggi budaya patriarki. Alias apa-apa semua serba harus laki-laki yang diutamakan.

Feminisme, tidak perlu dijelaskan lagi kan ini maksudnya apa kan? Secara awam kita mengenal itu adalah keinginan untuk dianggap setara dengan lawan jenis, kalau bisa dalam segi apapun itu. Kasarannya kayak gini “Aku tidak butuh laki-laki”.

Pemikiran tersebut bisa dibilang sudah agak kurang waras sih, wkwkk. Sebagai seseorang yang sering dibilang pro feminisme saya merasa.. tersinggung, hahaha.. bagaimana individu ini bisa hidup sendiri tanpa lawan jenis? Hanya saja selama saya bisa mengatasinya sendiri kenapa harus minta tolong orang lain? Apalagi lawan jenis?

Saya tertarik nonton film ini karena di episode awal Lee Dong Wook kepengen Bicara.. wkwk, Talkshow-nya dia.. mengundang Gong Yoo alias Dokkaebi/siluman Goblin menjadi narasumber perdana. Karena mereka menjadi sahabat akrab pasca drama Goblin. Gong Yoo khawatir filmnya tidak akan diterima dengan baik mengingat isunya cukup bahaya untuk warga masyarakat korea sendiri, terlebih masih kuat banget patriarki mereka. Tapi anehnya setelah dirilis film tersebut banyak yang nonton juga. Diangkat dari sebuah buku yang cukup kontroversi.

 

…..

PEREMPUAN ITU HARUS:

  1. Di rumah mengurus suami dan anak.

Tokoh utama kita semula adalah seorang anak yang dididik untuk selalu kuat oleh ibunya, berani mengejar mimpi dan keinginannya. Meski sang ayah selalu meremehkannya dan lebih mementingkan si bungsu yang merupakan satu-satunya anak lelaki di rumah.

Setelah menikah dia harus terpaksa meninggalkan pekerjaannya karena ya.. tuntutan mertua juga, kalau ibunya sendiri di film ini yang beneran ga mau terlalu mengagungkan anak lelakinya.

Jadi kesehariannya Kim Ji Young adalah mengurus rumah, mengurus anaknya yang masih balita dan butuh ditemani terus oleh ibunya.

Ada saatnya dia jalan-jalan ke taman ngopi sembari mengasuh anaknya, Ji Young merasa tertekan dan kesal ketika ada yang ngobrol “Enak ya, ngopi-ngopi kayak gitu pakai uangnya suami.”. Ji Young yang tidak sengaja dengar langsung pergi, seolah bilang kalau omongan mereka gak bener.. dia justru tertekan menjalani rutinitas yang sama tanpa hobi atau kegiatan lain.

 

  1. Setelah menikah harus langsung punya anak.

Awalnya Ji Young nolak punya anak duluan, tapi karena suaminya merayunya dengan dalih desakan dari ibunya. Ji Young akhirnya punya Ah Young. Dae Hyun ini sudah merayu, aku janji akan berubah.. nanti tidak akan banyak kumpul-kumpul maen sama temen-temennya, pulang kerja langsung pulang dan membantu Ji Young mengurus anak mereka.

Padahal Ji Young sudah nolak dan kelihatannya terbayang kedepannya akan banyak yang harus dia korbankan jika punya anak nanti.

Kebukti memang, Dae Hyun tidak banyak membantunya. Ya masih bantu tapi sekadarnya saja.  Tapi cukup salut dengan karakternya Dae Hyun yang tau istrinya sejenis terganggu kejiwaa’nnya pasca punya anak, berkali-kali meminta Ji Young pergi ke psikiater untuk periksa. Tapi setelah sampai si JI Young memikirkan biaya yang mahal dan tidak jadi periksa.

Menurutku Ji Young agak tertekan karena sebelumnya dia adalah wanita karir, sudah agak kecewa kenapa tidak naik jabatan padahal kinerjanya bagus. Tapi atasannya pikir Ji Young tidak akan bisa bertahan lama jika naik jabatan, sedangkan perusahaan menginginkan anggota tim solid yang bisa bertahan lama. Bukan karena Ji Young tidak cakap, tapi karena dia adalah perempuan.

Atasannya juga mengingatkan, lihat.. dirinya memang tampak bersinar di pekerjaan.. tapi sebenarnya ia merasa sudah gagal menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya, karena diasuh oleh nenek mereka. Ada yang harus dikorbankan untuk tampak bersinar seperti ini.

Satu satunya adegan dimana Ji Young terlihat sangat bahagia. Setelah dia diterima bekerja kembali, tapi Dae Hyun antara bingung apakah harus senang karena Ji Young bahagia atau sedih karena sebenarnya Ji Young harus lebih peduli pada kondisi kejiwa’annya. Tapi Dae Hyun bingung bagaimana harus jujur mengatakannya pada Ji Young

 

  1. Tidak boleh punya pekerjaan tetap yang memakan waktu normal pekerja.

Dae Hyun sebenernya sayang banget pada Ji Young dan selalu mengkhawatirkannya, pas acara masak masak di rumah mertua si Ji Young beneran yang gak tahan. Dia membentak ibu mertuanya. “Kalau ibu ingin Ji Young istirahat maka biarkan dia pulang!”

Dae Hyun langsung membawanya ke rumah ibunya Ji Young sendiri biar lebih tenang. Terkadang Ji Young seperti punya kepribadian ganda kalau sudah kelewat tertekan begini, dia berubah menjadi sosok neneknya sewaktu kecil yang ia sayang/ibunya sendiri.

Ketika Ji Young minta izin untuk kerja paruh waktu di toko roti pun dilarang Dae Hyun. Dae Hyun tau istrinya lagi depresi, jadi gak pengen Ji Young kecapean. Tapi yang ditangkap Ji Young malah Dae Hyun melarangnya melakukan apa yang Ji Young senangi.

Tapi saya jengkel banget ketika Ji Young dimarah-marahin mertuanya ketiak ketahuan balik kerja ke perusahaan. “Masa depan anakku itu cerah! Kenapa membuatnya cuti?!”

Padahal Dae Hyun sendiri yang berinisiatif untuk cuti karena belum mendapatkan pengasuh untuk Ah Young.

Ji Young mungkin berencana untuk tetap ada kegiatan, Ah Young biarkan diasuh oleh pengasuh yang mereka bayar. Tapi respon mertuanya yang jahat banget.

 

  1. Harus siap sedia di rumah mertua membantu memasak atau acara sejenis.

Saya paling benci adegan ini, mertuanya itu nyebelin banget.. jam 3 atau 4 pagi sengaja kayak membanting panci biar Ji Young bangun dan membantunya. Padahal Ji Young itu kebangun, baru yang beneran melek karena kaget tapi langsung merasa tidak enak lanjut ke dapur dan bertanya ibu sedang apa?

Mertuanya itu sok sok an, kamu ga istirahat? Biar aku saja. Ji Young segan dong. Tapi malah dikasih kerjaan banyak banget.

Padahal Dae Hyun sudah mengingatkan ibunya buat beli saja di luar, daripada repot-repot begini.

Dasar emak-emak ya.. pelit banget.

Saya juga marah banget pas adegan kenapa anak mertuanya yang lain dateng disambut disuruh makan-makan dan membuat Ji Young kecapean bener-bener melayanin semua orang. Tapi yang dapat pujian adalah ibu mertuanya. Kampret kan?

Saya jujur juga tidak suka momen hari besar di rumah, maksudnya ibukku seolah menjadi korban.. masak dari fajar sampai pagi. Gila sih.. capek banget jadi perempuan dan ibu,

Inilah ada nasehat kenapa kita harus cari mertua yang baik daripada suami yang baik. Hih.. ngeri..  hahahah

 

  1. Harus meninggalkan Pekerjaannya Setelah Menikah.

Kalau tidak salah si Ji Young ini meninggalkan kerjaannya disaat sedang bagus-bagusnya. Jadi ada scene dia kelihatan iri banget melihat perempuan berangkat bekerja atau orang-orang yang sibuk dengan rutinitas mereka. Sedangkan dia berkutat di rumah mengurus anaknya.

Memang ga serta merta cuman di rumah dan tidak melakukan perkerjaan seperti sebelumnya dianggap hina. Tapi lebih ke.. beberapa perempuan merasa agak tertekan jika harus melakukan itu saja. Ini si Dae Hyun sudah sering mencoba menghibur Ji Young, pas liburan ngajak jalan kemana gitu.. piknik, tapi Ji Young nolak.. harus ke rumah ibu mertua, ga enak.

Pernah Dae Hyun juga menyarankan untuk ke gym sesekali. Ji Young nolak terus, uangnya sayang dihamburkan.

Anak mereka masih balita, susu formula, pempers, biaya kalau kalau sakit.

 

  1. Wanita adalah Objek. Jika Terjadi Pelecehan Seksual, Maka Kesalahan Sepenuhnya ada di perempuan.

Saya gak suka ketika Ji Young SMP atau SMA dia dibuntuti anak laki-laki sebayanya tapi sesampainya di rumah dia malah dimarahi ayahnya. Makanya, kamu itu kalau pakai rok jangan pendek-pendek! Orang kan jadi mau bertindak macam-macam!

Padahal roknya biasa aja. Ga lebih pendek dari idol kpop lagi pentas.

Maksudku kenapa harus disalahkan? Padahal dia jadi korban, kalau saja tidak ditolongin ibu-ibu yang duduk di deketnya pasti sudah terjadi apa-apa.

Disaat Ji Young diberi tau Dae Hyun kalau dirinya sakit, Ji Young menyesal.. ia merasa bersalah karena membuat Dae Hyun kesulitan, pasti takut selama ini pada Ji Young.

Memang tidak semua perempuan bisa sedepresi ini ketika tiba-tiba harus menjadi ibu rumah tangga. Semacam syok berat, tiba-tiba harus menjalani hidup seperti itu. Syukurnya Ji Young punya suami yang cukup peka kalau dirinya ini sakit. Beberapa kali Dae Hyun memeluk Ji Young sebelum berangkat kerja, kayak berusaha menenangkan tapi Ji Young bingung sendiri “Oppa kenapa? Tiba-tiba..”

JI Young sendiri tidak sadar kalau dirinya sakit dan butuh ditolong. Dae Hyun bahkan pergi ke psikiater untuk menanyakan kondisi istrinya, tapi psikiater butuh ketemu Ji Young langsung. Dae Hyun juga marah ketika ngobrol dengan teman sekantornya soal istri mereka yang kelihatan gila setelah menikah dan punya anak.

Capeknya kita adalah bagaimana dituntut menjadi menantu sempurna, beban banget. Pokoknya apapun yang Ji Young lakukan seolah dianggap kurang dan selalu kurang, tidak diapresi dan yaudah.. itu tugasmu kog. Film ini seolah bilang banyak perempuan menjadi korban, harus melepaskan apa yang dia sukai.. melepaskan impian mereka. Ibunya Ji Young pernah mengalami yang namanya harus rela bekerja demi membuat kakaknya yang laki-laki tetap bisa sekolah, pernah punya cita-cita ingin jadi guru tapi ga mungkin, Ji Young kecil sedih.. ibu sekarang bisa lanjut kalau ingin jadi guru. Tapi ibunya dengan sabar legowo bilang… sekarang Eomma adalah ibunya Ji Young, harus merawat Ji Young. Ji Young kecil sedih, jadi karena aku ibu tidak bisa menjadi guru?

Sama nenek-nenek mereka juga sudah terdidik, pokoknya puncaknya perempuan itu cuman ketemu pria yang baik dan menikah. Masa’ anak kecil sudah didikte, nenek gak akan marah-marah dan mengomeli kalian lagi kalau kalian menikah nanti.

Kakaknya Ji Young mungkin sengaja dibuat menjadi karakter yang kuat, dia meski lebih tua dari Ji Young tapi belum menikah. Dia bilang “Dengan segala kemampuan-ku sekarang, aku bisa hidup sendiri” pas disinggung bibi bibi mereka, sengaja cerita si A udah ada anak banyak, si B ini itu..

.

.

“Aku merasa apa yang aku lakukan selama ini cukup membuatku bahagia. Hanya terkadang datang perasaan semacam terperangkap…” – Kim Ji Young

Saya merasa terharu sekali tiap adegan Ji Young baru berapa detik bisa beristirahat, sekadar duduk di luar menatap langit atau tengah malam terbangun dan menatap kosong ke luar jendela. Tapi tiba-tiba Ah Young nangis, sedih lihatnya..

Namun kebanyakan orang menganggap film ini cukup terlalu gemblang menyebut sebagai lelaki adalah sosok penindas bagi perempuan dan keberadaannya sebagai suatu ancaman atau pembatas gerak perempuan.

Hmm, ya udahlah.. tapi menurutku pribadi ini cuman sudut pandang tentang perempuan yang alam bawah sadarnya kaget dengan rutinitas menikah. Hanya soal masalahnya Kim Ji Young, tidak perlu terlalu banyak menggeneralisir.

Meski saya yakin pasti akan ada banyak laki-laki akan tersinggung jika menonton film ini.

“Aku tidak seperti itu!”

Hahah,, luchuu..