Some People Just Need A High-Five!

Mau nulis apa nih? Aku bingung.. wkwkw, rencananya akan sering posting. Sering sering.. jadi gini.. cerita soal orang lain saja yah.. kehidupan-ku sungguh amat membosankan.. jadi mari kita lewatkan saja dulu,

Perceraian dan perselingkuhan. Saya gak mau menyalahkan nasehat beliau soal “Nanti Risa cari yang mapan ya, apa-apa sekarang butuh uang..” Ya aku sadar uang memang bukan segalanya tapi realistis saja segalanya terkadang butuh uang. Tapi bukan itu yang ku kejar. dan dia tentu punya alasan kenapa bisa mengatakan hal tersebut.

Semula kami ya biasa aja, dia meragukan apakah kami akan cocok sebagai teman. Tapi lama-lama ini beneran yang ngebanyol apa saja, saya enggak suka yang kepo banget dan terus bertanya.. ya kalau dia cerita tentu saya nanggapinnya dengan pertanyaan yang relevan juga, walau malah berakhir tanpa akhir.. lanjut terus. Sedekat apa kami? Sampai yang beliau bisa cerita soal alasannya cerai, kesalahan yang ia akui,

Mba Er ku tersayang, seorang ibu tunggal yang selalu mengeluhkan kangen dengan anaknya.  Tapi sekarang kami jarang ketemu sih.. sibuk, wanita karir, yang cuek dan lebih suka diluaran beraktifitas ketimbang di rumah.

Mereka menikah karena perjodohan, semula baik-baik saja. Ya gimana ya.. namanya juga dipaksa untuk bersama, kenalan, bareng-bareng terus.. mau gak mau kan terbersit rasa rasa, lha wong kita natap wajah orang yang gak kita kenal sama sekali.. face to face langsung, tatap dalam-dalam matanya kita bisa jatuh cinta kog.. meski paling bertahan banternya 3 bulan doang.

Adem ayem, Mba Er fokus berbisnis dan mengurusi anaknya. Suami kerja sewajarnya, pokoknya adem sekali.

“Deknen kuwi gemati banget Dek, kabeh-kabeh gawean omah ditandangi dewe. Aku kesel bahkan dipijeti.. padahal kan seng kerjo wonge. Memang sih.. agak kurang ajar.” Ei, tau tak mba.. sebenarnya dalam islam urusan masak dan bersih-bersih rumah itu bukan kewajibannya istri. Tapi karena kita orang Indonesia.. terdoktrin-lah dari kecil bahwa itu adalah tugas dan tanggung-jawab istri. Wkwkwk, gak salah kog mba.. cuman ini lebih ke proses sayang-menyayangi itu doang sih.

“Mosok to Mba?”

“Iyoo, lha kan pernah to.. kancane mertamu namah, cerito soal sawah. Otomatis wonge ki tersinggung karena durung iso tuku sawah kanggo celengan. Bengine rak sepatu ditendang, tak jarke.. gang sediluk ditoto dewe karo nggrundel… iki mau lahpo aku nendang ngene Dek? Kangelan noto..”

“Hahahaha lucu..”

Mungkin pikirku karena Mba Er ini jarak umurnya dengan suami adalah cukup jauh, 7 tahun. Wajarlah merasa manja begitu. Kalau seumuran ku rasa akan lebih banyak debatnya.

Usaha jual menjual elektronik Mba Er ahlinya, tapi karena banyak yang nge-bon akhirnya gulung tikar. Mba Er ada keinginan untuk membangunnya lagi kalau uangnya sudah cukup banyak.

Jadi kenapa mereka bisa cerai? Suaminya kerja di luar kota, Mba Er capek di rumah ngurusin anaknya yang sudah memasuki usia sekolah, Si Mas-nya agak manja-manja minta video call kangen-lah.. atau semacam hubungan pacaran yang lagi apa sayang? Terus dijawab lagi mikirin kamu.. *hoek..

Mba Er mengakui, sangat mengakui bahwa dia salah.. karena terlalu cuek menanggapinya. “Ih apa’an sih.. udah nikah udah tua gini masa’ kayak anak abg?”

Sang Suami akhirnya berselingkuh, kita tau alasan selingkuh terbesar adalah.. karena pasangan tidak bisa memberikan apa yang kita harapkan. Maka dari itulah mencari pelarian lain. Selingkuhnya orang dewasa itu gimana sih? Ya pastinya gak mungkin cuman jalan dan makan bareng, lebih dari itu.

Singkat cerita apapun yang sudah dihancurkan tidak akan mungkin disatukan kembali, Mba Er tidak mau memberikan kesempatan apapun. Baginya, sekali berani selingkuh.. tidak menutup kemungkinan akan terjadi lagi di lain hari. Memang dia maafkan, tapi dia gak mau sama-sama lagi.

Apa yang membuatku salut? Sesakit hati apapun dia dengan sang suami, ia tidak mau membuat Vaness membenci ayahnya atau menjadi pribadi yang membenci laki-laki atau tidak bisa percaya dengan laki-laki. Padahal wanita mana yang di titik ini bisa gak benci banget sama laki-laki? Wow..

Yang bener aja.. Ya Rabbi… aku kenapa selalu dipertemukan dengan orang-orang yang pernah kecewa, dikecewakan begitu parah oleh kaum adam begini? Yang kecewanya bukan karena putus yang.. udahan yuk, bubar.. nyambung lagi kek gak jelas gitu.  

Maksudnya apakah aku disuruh untuk mempelajari apa yang mereka alami tanpa harus merasakannya sendiri? Ee buseet.. ini salah satu hal yang membuatku takut komitmen loh.

Ini pun juga terjadi dengan Tia, demi apa dia namai anaknya dengan nama “Airin”? Irene bacanya Airin, karena dia takut kebaca tulisannya kayak namaku,, wkwkwk, makanya dikasih nama Airin. .

Sedangkan Irene itu anggota Red Velvet yang paling cantik tapi judes dan seperti anti-pati pada laki-laki, lihat Suho sama anggota EXO lainnya aja tampangnya judes kayak bilang “Ini apa’an sih EXO? Sok kegantengan benget.. jijik gw, mati aja kenapa?” mukanya kayak gitu..

Tia memang gak tertarik untuk menikah lagi, tapi bukankah itu tadi sudah menunjukkan betapa ia trauma dan sakit hatinya?

Aku pernah bilang ke dia, “Kamu cinta kan? Tapi benci banget.. tapi hati kecilmu bilang kamu sangat cinta..”

“Za, kog kamu ngerti perasaanku? Padahal kamu gak ngalamin?”

Ya mungkin aku merasakan hal yang sama, tapi dalam lingkup yang lebih kecil. Yang tidak ada sebab akibat dan jejak, seperti kamu. Kalau sang suami yang minggat ini masih suka WA, maka aku benar-benar jadi orang yang.. tiba-tiba tengah malam Tia ngechat dan ngasih screen-shoot percakapan mereka, sebenarnya dalam hati aku merasa dia masih teramat sayang.. tapi kelakuan suaminya ini sungguh b*jingan.., tapi aku bahkan bisa senyum-senyum sendiri karena masih ada cinta di sana, perempuan kalau sudah merasa sangat cinta memang pasti akan ngasih segalanya ke prianya.. aku tidak mau menyalahkan kenapa bisa sampai ada Airin diluar hubungan yang sah.. ini masalah kontrol kemanusiawiannya.. seperti kata Novel Bicara cinta “Cinta itu anugerah, merasakannya adalah fitrah, menjaganya adalah ibadah, karena cinta itu anugerah yang luar biasa.. aku memilih memuliakan cinta, menjauhkannya dari cara-cara nista dan meletakkannya sesuai aturan Sang Pencipta” betewe kog aku sampai hapal gini ya? Hahahaha. Iya fitrah, tapi bagaimana kita menyikapi cinta itu memang butuh kesabaran dan pikiran yang jernih. Meski terkadang otak jadi nol persen karena cinta.

,dan sayangnya di kasus ini prianya yang gak tau diri, sudah menyia-nyiakan perempuan secantik dan sebaik Tia. Ngajakin balik, hidih.. pas lahiran aja gak mau nemenin, giliran bayinya udah gede ngaku-ngaku kangen. Gada otak..

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s