D r a m a t i s. . .

Rabu, 26 Juni 2019

Mungkin mereka berdua sering membully dan melontarkan kata-kata yang tidak ku suka, tapi kejujuran mereka terkadang membuatku terpukul entah mengapa. Saya tidak suka kalau Mas Khasan dan Kang Mus sudah mulai membahas soal hubungan asmara-ku.. yang bahkan tidak pernah ada itu.. apakah aku akan berakhir menjadi tidak tertarik untuk menikah dengan siapapun.. semua gaun, dan bunga-bunga itu hanyalah dongeng hampa.

Soal Kang Mus yang mempertanyakan laki-laki macam apa yang membuatmu begini?, bagaimana aku tidak pernah ingin membahasnya terlalu jauh karena cara pandang kami akan sesuatu itu sungguh berbeda, dan Kang Mus takkan bisa mengerti. Kang Mus adalah tipe yang rela melakukan apa saja demi yang dia cintai, meski terkadang dia suka tidak peka dan salah paham akan alasan dan tindakan orang lain. Seolah apapun yang dia percaya dan pikirkan adalah yang paling benar dibanding orang lain.

Tapi.. satu hari aku sadar ketika Mas Khasan bilang “Jangan sibuk terus, sana keluar kencan atau gimana…, jangan jadi anak yang minggat dari rumah, pulang…”

Dengan nada yang benar-benar serius, biasanya dia adalah orang yang paling sering membercandakan apa saja. Tapi kalau sudah berdua saja, biasanya akan bicara yang dengan intonasi serius.

Dia adalah sejenis orang yang ketika sedang minum obat,

“Minum obat dulu ndes!” menatapku geli sembari minum obatnya.

“Loro opo? Jantung?” Aku be like kurang-ajar padanya, hahah

“*^**&^!!” Langsung marah-marah tapi sembari ketawa. Saya gak bisa bayangin perasaannya karena sudah dua kali kehilangan calon anaknya, dibalik semua tawanya itu. Sumpah.. ini orang aneh banget, dia pernah blak-blak an.. bukan pernah sih… sering sekali

Aku: Cantikan mana sama istrimu Mas?

Dia: Cantikan dia ketimbang istriku..

Aku: -_-…

Kalau aku istrimu tentu aku akan kesal setengah mati, meski ngegombal setidaknya bilanglah.. Iya Ris, istriku memang bukan perempuan paling cantik sedunia, tapi aku sangat mencintainya dan telah mengisi semua hariku, dia adalah orang yang menerima aku apa adanya dan sudah menjadi seluruh duniaku. -_-?

Hari setelah kehilangan bakal anak keduanya, matanya benar-benar sembab merah dan kelihatann lesu. Aku lemes, dia menyapa

“Kenapa lemes gitu?”

“Ngantuk Mas,”

“Tidur..”

“Iya iya, nanti ku tetesin minyak kayu putih ke mata biar melek”

“Cah edan..”

“Yowes ta, ojo nangis ngunu toh Mas..” Melipir pergi, tentu dia mengerti maksudku sebenarnya, meski tidak mau terlalu serius ngikutan sedih.

.

.

.

Salah satu Pakdhe-ku pernah nasehatin “Kamu jangan terlalu dramatis menanggapi segalanya, segalanya dibawa drama..” soal aku yang gampang nangis.., cuman bisa diem dengernya.

Jadi ini adalah sesuatu yang dianggap orang lain salah? Soal kelemahan-ku ini?.

Langit mula-mula hanya biru, matahari masih terik meski surya sudah berada di ufuk. Seketika semuanya berubah menjadi jingga kemerahan, malam jatuh dan bintang-bintang mulai bermunculan. Hawa dingin datang, jaketnya yang sudah cukup tebal entah mengapa masih kurang membuatnya merasa hangat, yang warnanya dia pilih sore-sore bersama temannya yang brengsek itu. Teringat akan seseorang, jaketnya yang sudah nampak lusuh itu membuatnya aku  ingin membelikannya jaket baru yang lebih hangat. Tapi tidak bisa, takut orang itu akan tersinggung, padahal ia hanya ingin melihat orang itu baik-baik saja.

Sambil berjalan ia memikirkan perkataan banyak orang yang jika ia rangkum akan membentuk suatu kalimat “Kamu rebut semua itu untuk dirimu sendiri..”, masih tidak mengerti.. Apa salahku?

Lalu pikiran lainnya ikut membantu Sebanyak apapun cinta yang ku dapat, aku tetaplah rusak di dalam.

Mungkin karena itulah dia bisa berbuat baik ke semua orang yang bahkan kebaikannya tidak banyak dihargai. Karena begitulah hati, yang berlubang di dalam sana tapi menambalnya di luar sini.

Setelah sejauh mungkin, biasanya dia akan merasa demam dan jika kau sentuh dahinya pasti akan panas. Akhir-akhir ini dia sampai hendak tertawa sambil menangis karena ulah orang itu lagi, ia pikir kalau tidak menceritakan semua kecemburuannya pasti tidak akan dihilangkan rekam jejaknya.. padahal sudah ia lihat semuanya, bukan satu atau dua orang yang berbeda. Mungkin lusinan. Kau pikir..?Ah sudahlah..

Ia bahkan masih ingat ketika kau pernah menulis “Seperti aku, yang tidak berani menyatakan perasaan-ku,” ya.. dia tahu bahwa dia bukan orang yang dimaksudkan dalam tulisan tersebut, karena tulisan itu ada jauh sebelum kalian saling mengenal. Dia juga tahu, dia pastilah bukan pertama kalinya seseorang yang membuatnya jatuh cinta.. dia paham pasti ada orang lain, ia tidak sedang mempermasalahkan itu. Ia hanya tidak mengerti kenapa memilihnya diantara semua yang ada? Sekarang, seterusnya? Kau yakin?

Dia hanya merasa.. Tidak ada yang perlu kita bicarakan, segala sesuatu yang ku benci ada di dirimu dan mungkin semua hal yang tidak kau sukai pun ada diriku, bahkan kita dua orang yang sangat berbeda. apa cinta itu sebenarnya dua orang yang saling menyakiti begini?

1:22 WIB

Advertisements