Kabar Buruk..

Tiba-tiba Kang Mus bilang “Kabar buruk!” pada dirinya sendiri, sembari senyum-senyum menyesal.

Menceritakan hari bahagianya Kang Mus, H-2 nikah beliau masih kerja, aku terus terang penasaran bagaimana dia kelihatan santai dan tidak dag dig dug.. terus ngafalin teks bersejarahnya kapan?. Sering kan dia cerita betapa beratnya biaya.. wkwkwk, dan saya terkadang menimpali semua keresahannya itu dengan bercanda’an.

“Tapi biayanya ditanggung sama-sama kan Mas?”

“Iya sih, kami bagi dua. Nyesel banget kenapa pas Ibuk menyuruhku buat nabung jauh-jauh hari. Halaah.. apa’an? Belom ketemu jodohnya.. pikirku dulu. Tapi malah.. ya ginilah..”

“Mau pake bahasa arab ya Mas? Hahahah”

“Qobiltu.. blablabla..” dia nyebutin nama Mba Lani dengan sedikit menerawang, kemudian langsung halah mbuh neh lali aku.. yang penting sah!

Aku masih bener-bener ketawa gara-gara ini orang,

“Terus abis sah langsung teriak yes gitu ya? Hahahah”

“Aku bilang ke dia soal nanti kalau kami sudah sah, kamu itu sudah jadi hak milikku ya…, dianya malah bilang anjaay..”

Properti perusahaan po? Edan..

Hahahaha, mungkin menikah adalah semacam fairy-tales bagi sebagian besar orang. Tapi bagiku pribadi rasanya aneh, dengan segala prosesi itu? Tolong diwakilkan.. Hahahaha, aku tidak menitik-bebankan menikah-nya, ini lebih ke kepengen sama orang yang buat kita nyaman, aman, bebas.

Jadi.. waktu itu H-2 dia tiba-tiba bergumam “Kabar buruk..”, apa sih? Saya parno dong.. apakah tim audit akan datang hari ini? Apakah ada masalah besar yang harus ditanggung semua orang? Ada apaaa???. Berusaha menuntut jawabannya Kang Mus.. tapi dengan senyum jahil dia bilang “Istriku datang bulan Sa..”

Aku ngakak tidak ketulungan dibuatnya, kalau gak salah cutinya beliau itu cuman 10 harian doang. Mba bro periodenya selalu 8 hari, Kang Mus seharian menggumamkan “Kabar buruk, kabar buruk..” sampai sore pulang kerja pun tetep masih nggrundel kabar buruk..

Mas Khasan sampai geli sendiri, yang lainnya juga sama merasa lucu sekali. Kami semua tentunya merasa lucu dong.. betapa kelimpungannya Kakang yang satu ini, Mba Ana meyakinkan Kang Mus.. gapapa Mas.. malahan nanti kamu langsung bisa punya anak karena istrimu pasca datang bulan itu sedang subur-suburnya. Tetep aja Kang Mus masih kabar buruk, hahaahahaha…

Sayangnya hari H saya gak bisa datang, maaaf Maaas… ada perlu akutuh.., ‘kan dirimu juga pernah bilang “Nyumbang gak Sa? Gak usah banyak-banyak… satu truk pasir aja gapapa..”

Aku “Batu bata aja ya.. tak lemparkan ke pelaminan. Hahahah”

Ngasih berapa? 50 ribuu dong… aku kan baik hati dan tidak sombong~ #plakk, kau kan bukan teman so sweet yang aku akan memberi dalam bentuk barang. Justru karena sayangku ke Kangmas.. ku kasih duit aja buat nambal-nambal. Ngapusi ah.. menurutku duitnya dia ada banyak.. aku saja.. eeei.. per bulan  3 juta rasanya aja kurang,

Dia suka ngeluh capek abis magrib nyebar undangan sampai kemana-mana. Kurang tidur, terkuras energinya. Kelihatan ngantuk dan lemesnya.

Dia itu sering bercerita soal istrinya yang gak doyan makan ijo-ijo’an… (neg diriku doyan sembarang Mas.. tapi ojo maksa-maksa neg aku pas ra doyan mangan.. nafsu makan-ku tergantung situasi mood perasaanku XD ). Istrinya yang irinan.. mantanmu kamu ajak ke sini.. ke situ… istri juga pengen.. kalo gak keturutan pasti ngambek (Aku mbuk kon namah terus betaaaah, bahagiaa malah.. hahahahah.. sampai kudu dipaksa ayo keluar!  ), iri… iri euy.. dapetin laki-laki sepengertian Kang Mus.. mari abaikan sisi tidak peka dan sok kepengen semua pendapatnya dibenarkan yang lain nol. Diluar itu Kang Mus ini suami-able sekali.. hiks..

Bagaimana dia suka kepo. ”Kenapa Sa? Kog senyum sendiri?”

“Kamu lihatin apa?”

“Cari apa?”

“Kog bisa gini tadi gimana?”

“Kog sepertinya suntuk sekali kenapa ya?”

Wes ah.. malah bafering dewe..

Lucunya adalah Kang Mus selalu khawatir kalau nanti anak-anaknya bakal digalakin istrinya, yang nangis langsung ditinggal atau mau jajan apa langsung dimarah-marahin.

Hari H bahagia.. aku tidak mau berharap apa-apa, yang penting kerja keras penata rias jangan sampai rusak karena air-mata-ku, aku yakin 100% aku akan menangis. Jadi ya gitulah.. ribet.

Hari bahagia untuk sekarang yaaaa.. gajian.. gak munafik kog zheyeeeng~

Advertisements

D r a m a t i s. . .

Rabu, 26 Juni 2019

Mungkin mereka berdua sering membully dan melontarkan kata-kata yang tidak ku suka, tapi kejujuran mereka terkadang membuatku terpukul entah mengapa. Saya tidak suka kalau Mas Khasan dan Kang Mus sudah mulai membahas soal hubungan asmara-ku.. yang bahkan tidak pernah ada itu.. apakah aku akan berakhir menjadi tidak tertarik untuk menikah dengan siapapun.. semua gaun, dan bunga-bunga itu hanyalah dongeng hampa.

Soal Kang Mus yang mempertanyakan laki-laki macam apa yang membuatmu begini?, bagaimana aku tidak pernah ingin membahasnya terlalu jauh karena cara pandang kami akan sesuatu itu sungguh berbeda, dan Kang Mus takkan bisa mengerti. Kang Mus adalah tipe yang rela melakukan apa saja demi yang dia cintai, meski terkadang dia suka tidak peka dan salah paham akan alasan dan tindakan orang lain. Seolah apapun yang dia percaya dan pikirkan adalah yang paling benar dibanding orang lain.

Tapi.. satu hari aku sadar ketika Mas Khasan bilang “Jangan sibuk terus, sana keluar kencan atau gimana…, jangan jadi anak yang minggat dari rumah, pulang…”

Dengan nada yang benar-benar serius, biasanya dia adalah orang yang paling sering membercandakan apa saja. Tapi kalau sudah berdua saja, biasanya akan bicara yang dengan intonasi serius.

Dia adalah sejenis orang yang ketika sedang minum obat,

“Minum obat dulu ndes!” menatapku geli sembari minum obatnya.

“Loro opo? Jantung?” Aku be like kurang-ajar padanya, hahah

“*^**&^!!” Langsung marah-marah tapi sembari ketawa. Saya gak bisa bayangin perasaannya karena sudah dua kali kehilangan calon anaknya, dibalik semua tawanya itu. Sumpah.. ini orang aneh banget, dia pernah blak-blak an.. bukan pernah sih… sering sekali

Aku: Cantikan mana sama istrimu Mas?

Dia: Cantikan dia ketimbang istriku..

Aku: -_-…

Kalau aku istrimu tentu aku akan kesal setengah mati, meski ngegombal setidaknya bilanglah.. Iya Ris, istriku memang bukan perempuan paling cantik sedunia, tapi aku sangat mencintainya dan telah mengisi semua hariku, dia adalah orang yang menerima aku apa adanya dan sudah menjadi seluruh duniaku. -_-?

Hari setelah kehilangan bakal anak keduanya, matanya benar-benar sembab merah dan kelihatann lesu. Aku lemes, dia menyapa

“Kenapa lemes gitu?”

“Ngantuk Mas,”

“Tidur..”

“Iya iya, nanti ku tetesin minyak kayu putih ke mata biar melek”

“Cah edan..”

“Yowes ta, ojo nangis ngunu toh Mas..” Melipir pergi, tentu dia mengerti maksudku sebenarnya, meski tidak mau terlalu serius ngikutan sedih.

.

.

.

Salah satu Pakdhe-ku pernah nasehatin “Kamu jangan terlalu dramatis menanggapi segalanya, segalanya dibawa drama..” soal aku yang gampang nangis.., cuman bisa diem dengernya.

Jadi ini adalah sesuatu yang dianggap orang lain salah? Soal kelemahan-ku ini?.

Langit mula-mula hanya biru, matahari masih terik meski surya sudah berada di ufuk. Seketika semuanya berubah menjadi jingga kemerahan, malam jatuh dan bintang-bintang mulai bermunculan. Hawa dingin datang, jaketnya yang sudah cukup tebal entah mengapa masih kurang membuatnya merasa hangat, yang warnanya dia pilih sore-sore bersama temannya yang brengsek itu. Teringat akan seseorang, jaketnya yang sudah nampak lusuh itu membuatnya aku  ingin membelikannya jaket baru yang lebih hangat. Tapi tidak bisa, takut orang itu akan tersinggung, padahal ia hanya ingin melihat orang itu baik-baik saja.

Sambil berjalan ia memikirkan perkataan banyak orang yang jika ia rangkum akan membentuk suatu kalimat “Kamu rebut semua itu untuk dirimu sendiri..”, masih tidak mengerti.. Apa salahku?

Lalu pikiran lainnya ikut membantu Sebanyak apapun cinta yang ku dapat, aku tetaplah rusak di dalam.

Mungkin karena itulah dia bisa berbuat baik ke semua orang yang bahkan kebaikannya tidak banyak dihargai. Karena begitulah hati, yang berlubang di dalam sana tapi menambalnya di luar sini.

Setelah sejauh mungkin, biasanya dia akan merasa demam dan jika kau sentuh dahinya pasti akan panas. Akhir-akhir ini dia sampai hendak tertawa sambil menangis karena ulah orang itu lagi, ia pikir kalau tidak menceritakan semua kecemburuannya pasti tidak akan dihilangkan rekam jejaknya.. padahal sudah ia lihat semuanya, bukan satu atau dua orang yang berbeda. Mungkin lusinan. Kau pikir..?Ah sudahlah..

Ia bahkan masih ingat ketika kau pernah menulis “Seperti aku, yang tidak berani menyatakan perasaan-ku,” ya.. dia tahu bahwa dia bukan orang yang dimaksudkan dalam tulisan tersebut, karena tulisan itu ada jauh sebelum kalian saling mengenal. Dia juga tahu, dia pastilah bukan pertama kalinya seseorang yang membuatnya jatuh cinta.. dia paham pasti ada orang lain, ia tidak sedang mempermasalahkan itu. Ia hanya tidak mengerti kenapa memilihnya diantara semua yang ada? Sekarang, seterusnya? Kau yakin?

Dia hanya merasa.. Tidak ada yang perlu kita bicarakan, segala sesuatu yang ku benci ada di dirimu dan mungkin semua hal yang tidak kau sukai pun ada diriku, bahkan kita dua orang yang sangat berbeda. apa cinta itu sebenarnya dua orang yang saling menyakiti begini?

1:22 WIB