[Sinopsis] Grand Prince: Drawing Love – Eps 2

“Yeon… Bagaimana kabarmu? Aku penasaran apakah kau masih anak-anak atau sudah dewasa? Baru-baru ini, aku bahkan tidak bisa membayangkan wajahmu dengan jelas lagi.”

Anak panah melesat mengenai bunga di kolam.

“Kurasa suatu hari kau benar-benar akan memanahku.”

“Apa yang kau pikirkan begitu dalam? Kau bahkan tidak sadar akan kedatanganku. Apa kau melempar bunga ke kolam seperti anak perempuan? Kenapa? Apa ada sesuatu yang bisa dilihat?”

“Simpan anak panahmu. Jangan sia-siakan kerja keras si pembuat panah.”

“Ayo pergi berburu bersama hari ini.”

“Aku tidak suka berburu. Aku akan berada dalam masalah jika melewatkan pelajaranku…

“Kau bisa menggunakan paman sebagai alasanmu. Ibu dan Ayah tidak akan mengatakan apa-apa.”

Semua puteri bangsawan datang dengan anggunnya kecuali Ja Hyeon, ia malah tertidur selama perjalanan. Kalau tidak dibangunkan Keut Dan pasti sudah pulas.

Ja Hyeon terjatuh karena menginjak roknya sendiri, ia dimarahi karena seharusnya bekerja keras. Coba contoh Nona Na Gyeom, sudah bertunangan tapi masih berusaha dengan baik. Ja Hyeon mengelak ia seharusnya tidak disini.. kelas ini hanya untuk mereka yang akan menikah dengan keluarga kerajaan, sedangkan ia tidak tertarik untuk menikah.

Seol Hwa menyindiri Ja Hyeon, kalau tidak tertarik menikah lalu kenapa rajin sekali berangkatnya? Ja Hyeon beralasan ini karena dia takut dihukum keluarganya.

Akhirnya Ja Hyeon memilih kabur dari kelas, yang penting sudah absen hadir. Ja Hyeon mengajak Kkeut Dan pergi,

Ja Hyeon pergi untuk membeli tinta biru pesanannya, namun si penjual menyembunyikannya. Mereka berdebat sebentar kemudian saling tarik menarik, tintanya jatuh mengenai rok Ja Hyeon. Si penjual  bilang harganya 100 nyang,

Hwi juga menyaksikan pertengkaran mereka, kemudian mendekat dan menarik rok Ja Hyeon. Kemudian mengambilnya sedikit, menjilat tinta tersebut.

“Apa ini diimpor?” Tanya Hwi, si penjual sudah sesumbar Hwi adalah pemilik tinta mahal tersebut.

Hwi kemudian menyuruh Ja Hyeon memperhatikan lidahnya apakah berwarna hitam?

Meski sedikit bingung ia membenarkan warnanya memang hitam. Si penjual kembali sombong kalau itu adalah produk terbaik, tapi Hwi bilang harganya tidak sampai 100 nyang, ini barang palsu dan harganya hanya 1 nyang. Jangan menipu pelanggan bodoh! Mau dibawa ke biro polisi?

Si penjual memohon-mohon dan meminta maaf. Mereka kemudian pergi.

Ja Hyeon berterima kasih karena sudah menolongnya tadi, Hwi malah memarahi Ja Hyeon kenapa tidak mengerti tinta padahal dia adalah pelukis?

“Bagaimana kau tahu aku ini pelukis?”

“Aroma Shim jung cheong dari tanganmu..” Hwi beralasan ia hanya kebetulan melihat Ja Hyeon dibodohi, jadi tidak merasa harus mendapatkan ucapan terimakasih atau permintaan maaf.

Kemudian Ja Hyeon kesal mengungkit sikap Hwi tadi yang mengangkat roknya, harusnya Hwi meminta maaf.. masih untung Ja Hyeon tidak menamparnya.

“Karena aku menolak permintaan maafmu, lakukan hal yang sama untukku. Mari berpura-pura tidak terjadi apa-apa hari ini.” Kata Hwi lalu hendak pergi,

“Tidak hanya kasar, tapi juga tidak tahu malu!”

Dan terpenting lagi kenapa Hwi bicara tidak formal pada Ja Hyeon, memangnya ia dianggap remeh karena seorang wanita?. Dan mereka mulai berbicara nonformal satu sama lain. Ja Hyeon tetap marah, ia merasa harus memberikan pelajaran pada Hwi.

Hwi bilang dia adalah Lee dari keluarga Gwangwangbang, jangan lupakan wajah dan namaku. Kalau ada pertanyaan apapun itu silakan ajukan saja..

Kemudian Hwi pergi. Ja Hyeon masih kesal, itulah kenapa dia tidak mau menikah! Pria Joseon itu semuanya saja!

Kkeut Dan sama kesalnya, padahal tuan muda tadi tampan tapi kenapa kasar sekali.

Hwi dalam perjalanan pun ikut-ikutan kesal, kenapa niat baiknya malah dianggap buruk? Sedangkan Gi Teuk pikir Nona tadi ada benarnya juga, melihat bagaimana Hwi asal mengangkat roknya. Hwi menatapnya tajam, kesal.

Seol Hwa dan Na Gyeom berbicara, Seol Hwa mempertanyakan kenapa Na Gyeom kenapa memilih ingin menikah dengan pangeran? Bukannya menjadi istrinya Raja saja?. Seol Hwa memang punya keinginan berbeda, ia hanya ingin menikahi pria tampan. Tapi sepertinya Na Gyeom punya impian lain dengan menikahi pangeran Kang,

Na Gyeom beralasan ini soal masa depan, ia bisa melihat potensi tersembunyi di diri Kang.

Di istana para menteri meributkan Raja yang tidak segera memiliki anak laki-laki sebagai pewaris tahta, terlebih tidak ada yang menempati posisi Ratu sekarang. Negeri ini membutuhkan seorang Putera Mahkota demi kestabilan.

Raja mengatakan untuk jangan berdebat, ini masih masa berkabung dan ia akan mendiskusikan posisi Ratu dengan Ibu Suri. Ia harap para menteri mengerti.

Pemaisuri Hyo akan segera kembali ke istana dan melahirkan anaknya, namun berita ini sementara akan dirahasiakan.

Hwi kembali ke istana, Ibu Suri memarahinya karena melewatkan pelajaran. Hwi bilang ia hanya keluar mencari tinta. Ibu Suri murka, seharusnya tugas tersebut bisa dilimpahkan ke orang lain, tidak perlu Hwi keluar sendiri. Gi Teuk dipukuli karena kesalahannya Hwi, Hwi merasa tidak adil.

Kang dan pamannya memasak babi hasil buruan mereka di dekat kuil sembari membahas tahta. Jelas membuat kepala biksu marah-marah, namun Kang dan pamannya justru tertawa-tawa.

Hwi kembali dimarahi, Hwi bilang ia memang sengaja membolos. Mendiang Raja juga tak menginginkan Hwi begitu.

“Jika aku belajar dengan giat, aku akan dicurigai sebagai orang yang licik… tapi jika tidak, aku akan menjadi lelucon. Apa sebenarnya yang harus dilakukan seorang pangeran? Saat Yang Mulia masih menjadi Putera Mahkota… Aku dipukul karena aku ingin mencoba jubah merah naga yang indah. Aku hanya anak kecil, apa yang bisa aku ketahui? Alasan apa lagi yang bisa aku miliki? Semua orang dewasa ini… mereka selalu menafsirkan sesuatu. Hanya karena Yang Mulia lemah karena penyakitnya… banyak tekanan yang dilimpahkan pada Pangeran.. Anda pasti sudah tahu semua ini.”

Para biksu diberikan uang, Pangeran Kang bilang ini untuk perbaikan kuil. Dan sengaja ia beri agar mereka tutup mulut.

Hwi harus meninggalkan istana ketika sudah menikah nanti. Hwi khawatir karena sekarang tidak ada Ratu, pasti banyak tekanan yang meliputi Baginda Raja. Ibu Suri mengatakan sebenarnya ada seorang Permaisuri di luar istana yang tengah mengandung, ia akan kembali dan melahirkan di istana. Namun kabar ini harus dirahasiakan sementara waktu. Ibu Suri masih merasa tidak tenang.

Pernikahan Raja akan ditunda, jadi akan dilaksanakan pernikahannya Kang terlebih dahulu.

Hwi memiliki permintaan, ia hendak memilih siapa yang akan dia nikahi sendiri. Namun Ibu Suri mengingatkan bahwa pernikahan seorang anggota kerajaan bukanlah sesuatu yang bisa diatur sendiri.

Hwi memohon sekali ini saja, karena ia tidak tertarik akan tahta dan politik di istana. Setidaknya ia ingin menemukan seseorang yang dia cintai untuk dinikahi.

Mendengar perminataan anaknya membuat Ibu Suri sedikit luluh.

Ja Hyeon kembali ke rumah, heran ibu bersama teman-temannya sedang main kartu. Ia mengingatkan semuanya kalau ayahnya segera pulang. Para Nyonya pulang tergesa dan bersisihan dengan  ayahnya Ja Hyeon.

Anak dan ibu ini berdebat, Ibu mempermasalahkan Ja Hyeon yang pulang dalam keadaan acak-acakan dan sepertinya membolos dari kelas. Ja Hyeon mengingatkan kalau sebentar lagi ayah akan pulang.

Ja Hyeon menutupi ibunya, Kkeut Dan juga. Namun ketahuan karena Ja Hyeon mengkhawatirkan roknya yang kotor. Akhirnya ayah menemukan bukti kalau istrinya berjudi tadi. Ayah langsung memarahi ibu yang malah berjudi, bukannya mendidik Ja Hyeon dengan benar. Memangnya apa sudah cukup hanya dengan mengirimkan Ja Hyeon ke kelas pra-pernikahan?.

Ibu mengelak ini kan hanya taruhan kecil dengan makanan, lagipula ia tidak menjual rumah atau melakukan kegiatan gila yang melebihi batas. Nanti kalau sudah waktunya Ja Hyeon menikah pasti akan menikah juga.

Kang memberikan hasil buruannya ke Raja, yang sebenarnya adalah hasil yang dia beli. Ia menghadiahkannya ke Raja dengan alasan kesehatannya yang semakin menurun.

Hwi cemburu karena ia tidak diberikan satupun hasil buruan kakaknya, Kang juga memberikan salep luka untuk Hwi. Ia dengar Hwi tadi dipukuli karena membolos pelajaran.

Hwi pikir ia tak membutuhkan itu, namun ia akan tetap menerimanya.

“Bukankah Hyung takut?”

“Takut apa?”

“Menikah dengan seseorang yang belum pernah kau temui.”

Apa bedanya, siapa yang aku nikahi? Mendiang Raja menjodohkanku dengan keluarga yang tak berkuasa. Niat tulusnya… Itu hanya sesuatu yang harus kuterima. Siapa yang akan adikku nikahi?”

“Kukatakan pada Ibu kalau aku ingin memilih pasanganku sendiri.”

“Jadi ada wanita yang kau pikirkan? Katakan padaku, siapa wanita itu? Atau apa dia seorang selir di dalam istana?”

“Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada wanita yang menarik perhatianku. Jika aku tidak menemukannya, aku akan melajang saja. Bahkan jika keluar dari istana, semua gadis-gadis itu tidak… “ Hwi bergidik memikirkan Ja Hyeon yang ditemuinya tadi.

“Oh, jadi kau pernah bertemu seseorang yang membuatmu berpikir begitu!”

“Bukan begitu..”

“Kau tidak bisa berbohong pada kakakmu ini, coba katakan..”

“Sudah kubilang bukan begitu..”

Permaisuri akan dibawa ke istana, akan lebih baik melahirkan anaknya di istana. Demi keselamatan ibu dan bayi, ini harus tetap dirahasiakan.

Para menteri mengusulkan agar adik Raja yang meneruskan tahta, ini beredar karena Raja sudah kehilangan Ratunya dan tidak memiliki anak laki-laki.

Ini sangat berbahaya karena Pangeran Yang terus mempengaruhi Kang, tidak seperti adiknya. Kang itu ambisius dan serakah akan tahta.

Hwi memberikan salep dari kakaknya untuk Gi Teuk. Gi Teuk nampak terharu karenanya.

Di ruangannya, Hwi memandangi tinta biru sambil memikirkan kejadian tadi. Penasaran sebenarnya apa yang ingin Ja Hyeon lukis dengan tinta biru ini hingga rela tarik menarik dan menunggu berbulan-bulan?

Kemudian Hwi melukis bunga dengan tinta biru tersebut,

Di rumahnya, Ja Hyeon melukis bunga yang sama dengan susah payah.. ditemani Kkeut Dan. Ja Hyeon melukis sampai tinta mengotori pakaian dan wajahnya. Kkeut Dan menyindir Nonanya ini mau pamer ke semua orang apa bagaimana? Perasaan kalau pelukis lainnya masih tampak bersih ketika melukis..

Ja Hyeon pikir mereka itu cuma pamer, kalau yang namanya seni sungguhan pasti akan berantakan seperti dia sekarang. Kkeut Dan itu pandai segala hal tapi tidak tahu apa-apa soal seni.. ckckck

Kkeut Dan pikir seni itu tidak ada gunanya, lebih baik ia pergunakan waktunya untuk memetik lebih banyak sayuran liar atau jamur.

Ja Hyeon kesal dengan hasil lukisannya, ia meremasnya dan membuangnya. Kkeut Dan menyayangkan, harusnya diberikan saja kepadanya.. jangan dibuang begitu saja!.

“Aku ingin menggambar sesuatu yang hidup..” Ja Hyeon sambil tiduran

“Itu hidup! Tidak mati!” Tunjuk Kkeut Dan pada bunga tadi.

Ingin sesuatu yang besar, beruang, harimau atau sejenisnya. Ja Hyeon menceritakan soal ujian masuk sekolah melukis. Aroma sepatu kuda yang membentang di atas bunga.

Semua orang yang melukis bunga dan kuda gagal dalam ujian. Melukis gerombolan kupu-kupu terbang bersama… angin dengan tinta hitam.

Ja Hyeon pikir jika ingin lebih imajinatif ia harus mencoba melukis apa saja.

Kkeut Dan menyarankan Ja Hyeon ke pertandingan gyeokgu saja, akan ada banyak kuda Ja Hyeon bisa mengamati kuda-kuda terbaik di sana. Saking senangnya Ja Hyeon bahkan mencium Kkeut Dan di bibir.

Kkeut Dan kesal, ia memilih dicium pria saja.

Di pertandingan, Hwi berlatih dengan kudanya. Deuk Sik tidak menyangka Hwi pandai berkuda, ia pikir hanya pintar menulis puisi dan melukis. Tapi ia memuji Kang yang tentunya lebih hebat dalam bela diri melebihi Hwi.

 Ja Hyeon dilarang keluar dari rumah karena ia dikeluarkan dari pelajaran pranikah. Namun ia tak hilang akal, memaksa meminjam pakaian Kkeut Dan. Ia akan menyamar.

Tim Merah dipimpin oleh Kang dan biru dipimpin oleh Hwi. Pertandingan berjalan sportif, keberadaan Hwi menceriakan suasana. Ibu Suri dan Raja sesekali tersenyum melihat Hwi, beberapa rakyat yang menyaksikan pun sama. Mungkin Kang merasa sedikit cemburu.

Sedangkan itu Ja Hyeon mengamati kuda-kudanya, namun ia malah ketahuan kakaknya. Akhirnya mereka kejar-kejaran.

Lalu di tengah pertandingan Hwi terjatuh, ia menyadari kalau kudanya disabotase sejak tadi.

Hwi memilih meninggalkan pertandingan, sesaat setelahnya Ibu Suri dan Raja juga meninggalkan pertandingan,

Ja Hyeon masih kejar-kejaran dengan Deuk Sih kakaknya, sampai Ja Hyeon asal memasuki ruangan. Yang rupanya merupakan ruangan milik Hwi.

Hwi yakin kudanya pasti ditikam seseorang sebelum dia bermain tadi, namun ia memilih tidak mau memperpanjang masalah. Anggap saja kuda ini terluka selama pertandingan.

Gi Teuk mengingatkan, pasti ada yang sengaja ingin mencelakai Pangeran. Hwi bisa terluka jauh lebih parah kalau tidak ketahuan tadi. Namun Hwi meminta Gi Teuk jangan terlalu khawatir, lanjutkan saja menonton pertandingannya.

Hwi menuju ruangannya, Ja Hyeon takut dan bersembunyi.

Hwi memang nampak tenang di luar, namun di ruangannya ia langsung membanting  pakaiannya dan apa saja di sana dengan kesal.

Gi Teuk kembali menyaksikan pertandingan, ia memikirkan sesuatu. Kakaknya Ja Hyeon juga kembali namun tidak masuk ke arena, bagaimana Ja Hyeon berani menyamar menjadi pelayan dan datang kemari.

Pertandingan menjadi tidak begitu berarti tanpa Hwi.

Seol Hwa dan Na Gyeom mengobrolkan seharusnya Pangeran EunSeong bisa memenangkan tim biru.. sayang sekali keluar dari pertandingan. Juga tentang Ja Hyeon yang tidak kelihatan padahal kakaknya tampil, pasti karena dia dihukum tidak boleh keluar karena membolos kemarin.

Luka di lengan Hwi nampak parah, ia membasuhnya. Ja Hyeon mengintip karena penasaran. Tapi ia malah mendapati Hwi tanpa baju.

Hwi seperti mendengar sesuatu, lalu ia menemukan lukisan yang entah milik siapa. Ia mulai curiga kelita mendapati kaki-kaki dibalik tirai. Hwi mengambil pedangnya dan menebas tirai.

Keduanya sama-sama terkejut.

“Shim Jung Cheong?” Kata Hwi

“Lee dari Gwangwangbang?” Gantian Ja Hyeon

Advertisements

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s