[Sinopsis] Grand Prince: Drawing Love – Eps 1

Tiga orang berjalan tergopoh di hamparan salju, mereka adalah Pangeran Hw, pelayannya, dan Roo Si Gae. Mereka ketika berjalan menyusuri hutan menemukan seekor kelinci untuk dimakan.

Sementara itu di istana, Raja sedang tergolek lemah karena sakit. Dijagai Ibu Ratu, permaisuri, dan putera mahkota yang masih kecil. Ibu Ratu tidak ingin rumor tentang sakitnya Raja tersebar keluar. Siapapun itu pasti akan dihukum jika berani menyebarkannya.

“Tapi ia sudah bertahan selama beberapa tahun” Kata permaisuri.

“Raja harus siuman, Putera Mahkota masih kecil..”

Di luar, seorang Dayang diperintahkan ke istana lain.

Pangeran Eun Sung tidak diizinkan masuk karena tidak membawa identitasnya, si petugas bersikeras bahwa Pangeran Eun Sung bahkan diberikan upacara pemakannya. Maka dari itu dia tidak percaya bahwa ini adalah Pangeran.

“Dia orang yang sangat penting, mohon segera panggilkan pelayan..” Kata pelayannya Hwi. Namun Hwi menahannya untuk tidak berbicara terlalu jauh.

“Yang Mulia..”

Hwi menggeleng,

“Kita harus memanggil Kepala Kasim, begitu mereka mengenali anda pasti akan diizinkan masuk..”

Hwi terus berjalan hendak pergi, sayangnya para petugas malah menghadangnya. Sehingga terjadilah pergumulan di depan pintu gerbang istana. Disaat pertarungan sengit tersebut Hwi melihat seorang dayang diam-diam menyelinap keluar. Ketiganya memutuskan untuk mengikutinya.

Dayang tersebut menuju kediaman Pangeran Lee Kang, memberikan surat yang berisikan bahwa Raja sakit dan Ratu tidak diketahui keberadaannya. Nyonya Na Gyeom memberikan imbalan pada dayang tersebut.

“Kerja bagus, hati-hati di jalan..”

Di luar kediaman tersebut Seong Ja Hyeon ditemani Keut Dan menuju ke dalam. Keduanya nampak gelisah.

Si dayang tadi yang baru saja mau menghitung jumlah imbalannya, namun diculik oleh rombongannya Pangeran Hwi,

Na Gyeom “Kita berada di tingkat yang sama. Setengah dari orang-orang ada

di pihak raja dan pihak ibunya, dan setengah lainnya ada di pihak kita.”

“Apa yang akan Anda lakukan? Penyakit Raja sangat parah. Ibu raja tidak bertemu

denganmu atau negarawan.” Kata Kakaknya Na Gyeom bingung..

“Jika Anda kehilangan kesempatan ini sebelum dia meninggal… Sebelum peristiwa buruk terjadi, kita harus mendapatkan gomyeong (wasita raja.) Sementara Putra Mahkota Eun Sung tidak ada di sini,”

Ketiganya pikir bisa mendapatkan tahta disaat Hwi tidak ada di istana.

”Jika Anda mendapatkan gomyeong,…tahta akan menjadi milik Anda, Yang Mulia.” Na Gyeom optimis suaminya mampu memanfaatkan kesempatan sakitnya Raja ini.

“Aku akan pergi ke istana.” Lee Kang tampak resah.

“Oraboe-nim, hubungi Menteri Keuangan dan menteri pengadilan lainnya untuk masuk istana.” Na Gyeom menyuruh kakaknya.

“Baik.”

“Anda harus ganti pakaian.” Na Gyeom melihat Lee Kang.

Disaat yang bersamaan Ja Hyeon datang bertamu,

“Anggota keluarga kerajaan Weol Yeong telah menawariku untuk menikah dengan Anda. Aku meminta Anda untuk menyerah. Aku sudah mendengarnya dari Pangeran. Jadi, tolong selesaikan masalah ini.” Kata Ja Hyeon dengan mata berapi-api.

“Bukankah kau menginginkan pengantin pria lain?”

“Apa maksud Anda?”

“Kau menolak menjadi wanitaku selama tiga tahun. Aku memberimu pilihan yang berbeda dengan kemurahan hati.”

“Apa Anda memintaku untuk menjadi wanita yang haus akan harta?

“Hwi, tidak akan kembali. Anak itu sudah meninggal. Kau harus menerimanya.”

“Orang yang dengan kejam mendorong saudaranya…, adalah Anda, Pangeran.” Ja Hyeon tidak mempercayainya.

“Dia pergi dengan keinginannya sendiri. Dia memiliki rasa tanggung jawab sebagai pangeran bangsa ini.”

“Apa Anda ingin… menghancurkan hidupku?”

“Weol Yeong adalah sepupuku. Menikah dengan seseorang dari keluarga kerajaan berarti hidupmu akan hancur? Gadis-gadis lain pasti akan terkejut mendengarnya.”

“Aku tidak ingin menikah! Aku tidak ingin menjadi mempelai wanita siapa pun.”

“Kau benar-benar tidak menyukai Weol Yeong?”

Ja Hyeon mendengus mendengarnya, tapi Pangeran Kang malah menawarkan diri bagaimana kalau Ja Hyeon menikah saja dengannya. Ja Hyeon marah, ia beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Rasanya ia telah membuang-buang waktu dengan datang kemari, ia sungguh merasa bodoh karena masih mempercayai bahwa Lee Kang masih memiliki sedikit nurani.

“Hati-hati di jalan ketika malam hari, karena kau akan segera menjadi pengantin..”

Na Gyeom segera menampar Ja Hyeon setibanya di luar. Keut Dan kesal, apa yang anda lakukan Asshi? (Nona)

Na Gyeom mendorong Keut Dan, kemudian memarahi Ja Hyeon yang bertingkah seenaknya sendiri, harusnya Ja Hyeon berterima kasih karena kalau bukan karena ia dan suaminya pasti Ja Hyeon sudah menjadi perawan tua, Ja Hyeon menyayangkan sikap Na Gyem.. apa tidak ingat bagaimana kita bersahabat dulu?

Tapi bagi Na Gyeon menurutnya persahabatan mereka berakhir semenjak Ja Hyeon merayu semua pangeran. Ja Hyeon bertanya apa ini karena Na Gyeom tidak percaya diri?

“Jika kau tidak mau menikah kenapa tidak bunuh diri saja?, cinta yang luar biasa yang kau miliki itu, jika kau meninggal karenanya, kau pasti akan dipuji karena memiliki cinta dan pengabdian luar biasa pada satu orang..” Ujar Na Gyeom dengan sarkas menyinggung soal hubungan Ja Hyeon dengan Pangeran Hwi.

Keut Dan meminta majikannya tidak usah mendengar kata-kata pedas tadi, kita pulang saja.

“Semoga kau bahagia! Menikahlah, memiliki anak laki-laki, dan hidup bahagia! Kenyataan bahwa kau seperti gadis lain di luar sana, bahwa kau menyedihkan dan materialistis! Tunjukkan pada seluruh dunia!” Na Gyeom kesal sekali.

Roo Si Gae disuruh menyamar sebagai dayang yang mereka culik tadi, Hwi menyuruhnya untuk memberikan pesan ke Ibunda Ratu. Hwi mengiris sedikit jarinya dan menuliskan pesan namanya ke selembar kain.

Roo Si Gae masuk ke istana tanpa dicurigai sedikitpun, karena tingkahnya mencurigakan akhirnya dia   hendak ditangkap. Namun ia berhasil menunjukkan tulisan darah Hwi.

Ratu yang semula tanpa tenaga menangis haru, puteranya telah kembali. Ia merasa seperti mendapatkan kekuatan.

Ja Hyeon memandangi lukisan bunga Hwi di sapu tangannya, kemudian ia simpan.

Lee Kang beserta para menteri yang mendukungnya menuju ke istana.

~… Grand Prince: Drawing Love..~

Hwi diizinkan masuk ke istana, ia langsung menyembah Ibu Ratu. Semuanya menangis melihat Hwi.

“Anakmu yang tidak ini telah kembali memberikan salam..” Hwi menangis,

Ibu Ratu kemudian memeluknya, ia menyayangkan dimana wajah ceria Hwi selama ini. Baginda Raja tengah sekarat sekarang. Sepertinya langit mengasihani Ibu, sehingga mengirimkanmu kembali..

Sedangkan itu tengah terjadi perdebatan, Kasim mengatakan siapapun dilarang menemui Raja. Namun Lee Kang dengan rombongan bersikeras masuk untuk memberikan obat, apa kau berani melawan adik baginda Raja?.

Si Kasim ketakutan, namun ia terjebak dalam dilema.

Tak lama kemudian terdengar suara tangis pecah, Ratu keluar menemui anak keduanya. Lee Kang berpura-pura khawatir, bertanya apa yang sedang terjadi? Disaat itulah Kang heboh bertanya kenapa Ibu Ratu tidak memanggilkan kasim terdekatnya Raja sehingga kita semua bisa tahu apa wasiat terakhirnya?.

“Jangan khawatir..” Terdengar suara Hwi, dengan lesu berjalan keluar, ia mengatakan bahwa wasiat terakhir mendiang kakat tertuanya sekaligus Raja telah ia terima. Putera Mahkota akan tetap menerima titah sebagai Raja penerusnya, namun karena ia masih terlalu kecil maka Ibu Suri akan bertindak sebagai wali memimpin Joseon.

Semua orang terkejut melihat Hwi masih hidup.

Hwi mendekati kakaknya dan memeluknya, “Aku kembali Hyung-nim.. aku tidak mati.. aku masih hidup.”

Kepala kasim mengibaskan jubah raja di atas “Tolong kembali pada kami, Raja!”

“Tolong kembali pada kami, Raja!”

“Tolong kembali pada kami, Raja!” serunya berulang kali.

Ja Hyeon memotong rambutnya sendiri.

Keduanya dipakaikan baju berkabung.

“Kau punya banyak bekas luka.”

“Karena sering berperang.”

“Syukurlah kau masih hidup dan kembali.”

“Aku tidak bisa mati karena ada seseorang yang menungguku.” Kata Hwi

“Karena kau telah kembali pada saat meninggalnya Raja…, aku tidak bisa bahagia karena raja meninggal dunia. Pasti sulit bagimu. Kau bahkan tidak bisa bertemu wanita itu. Sebaiknya jangan menemui wanita yang akan menikah. Maksudku, Nona Ja Hyeon. Tapi karena kalian berteman, pasti dia akan senang jika kalian bertemu..”

“Ja Hyeon Nangja?” Mendengar kabar tersebut Hwi langsung syok, ia meninggalkan istana menuju rumah Ja Hyeon dengan kudanya.

Ia langsung menerabas masuk tanpa izin, ia bertemu Kepala Sekertaris Kerajaan yang merupakan ayahnya Ja Hyeon, ayah Ja Hyeon bertanya ada keributan apa ini pagi pagi?

Hwi mengatakan dirinya adalah Pangeran Eun Sung, Raja telah wafat. Ayahnya Ja Hyeon tidak percaya jika Hwi masih hidup, ia pikir Hwi di depannya adalah hantu.

Namun segera ia menyembah meraung berteriak setelah tahu Raja telah meninggal “Yang Mulia…”

Hwi meminta Ja Hyeon diberitahu kalau dirinya masih hidup, namun ayahnya bilang tidak perlu karena Ja Hyeon akan segera menikah.

Sang Ibu menemui Ja Hyeon, ia terkejut sekali melihat Ja Hyeon dan rambutnya. Ja Hyeon bilang ia akan ke kuil di pegunungan dan menjadi biarawati budha.

“Dengarkan aku! Pangeran kembali, ia masih hidup. Dia datang menemuimu..”

Ja Hyeon kaget mendengarnya.

Hwi berteriak memanggili Ja Hyeon, Ja Hyeon keluar. Tanpa pikir panjang dan bahkan tanpa alas kaki ia berlari menuju Hwi yang selama ini ia rindukan. Begitupun dengan Hwi, berlari kecil mendekati Ja Hyeon.

.

.

.

Flash back..

Hwi kecil tengah menulis ditemani kasim kecilnya, ada hewan yang bermain di tulisan Hwi sehingga kasim berusaha menyingkirkannya dengan kasar, namun Hwi menahannya. Ia memindahkan binatang tersebut dengan kertas lain lalu melepaskannya.

Lee Kang kecil tumbuh dan besar di luar istana, ia memaksa ingin ke istana karena merindukan Raja dan Ratu, sayangnya dayang menahannya. Hari ini tidak boleh karena Ratu yang memerintahkannya, Lee Kang terus memaksa.

Seorang dayang mengabarkan ke Ratu bahwa Lee Kang di luar membuat keributan dengan memaksa masuk, Ratu tetap melarangnya.

Kang tetap ingin masuk hari ini.

Hwi keluar menemui kakaknya, ia kemudian mengajak Kang masuk ke istana meski mendengar perintah larangan. Ia menyambut hangat kakaknya, dan memarahi dayang serta penjaga.

Kang memberikan salam, Ibu Ratu tampak agak marah karenanya. Namun Kang beralasan ia merindukan ayah dan ibunya, maka berani melanggar perintah.

Ibu Ratu bertanya ke Hwi apakah sudah menyiapkan kamar kakaknya? Hwi bilang ia akan segera kerjakan, akan dia dekorasi dengan bahan terbaik. Melihat keakraban Hwi dengan Ibu Ratu membuat Kang sedikit cemburu. Ia bertanya apa ada hukum di istana yang menempatkan adik laki-laki di atas kakak laki-laki? Kenapa Hwi tidak ikut duduk disampingnya malah duduk memperhatikannya?

Hwi langsung meminta maaf dan pindah duduk. Ibu Ratu rasa Kang marah padanya dan melampiaskannya ke Hwi, jangan marah ke adikmu.

Sebelum kau menjadi anakku kau adalah pangeran negeri ini. Alasan kenapa aku membesarkan dirimu diluar istana agar kau mengerti.

Hwi kemudian membacakan puisi hadiah untuk kakaknya.

Satu bulan bersinar

Satu bulan bersinar di dua tempat di dua tempat,

Dua orang

Dua orang terpisah ribuan mil.

terpisah ribuan mil,

Bersedia mengikuti.

Bersedia mengikuti bayangan bulan ini, bayangan bulan ini.

Malam demi malam cahaya menyinari.

Malam demi malam cahaya menyinari para pria pemberani.

 

Puisi tersebut mengungkapkan kerinduannya pada sang kakak, Ibu Ratu amat terkesan dibuatnya. Ia mengumpamakan perasaan Hwi juga sama seperti hatinya pada Kang. Sambil menunggu dan terus menunggu, Ibu merindukanmu..

Hwi sedih karena tidak bisa memberikan pesta penyambutan semestinya untuk Kang, kalau saja Kang datang di hari yang lebih baik. Kang dengan sombongnya berkata ia belum memasuki istana sesungguhnya, ia baru kembali, namun ia pasti akan menempati tempat dimana ia seharusnya berada. Ia bahkan risih ketika Hwi merangkulnya,

Di luar Yeon Hee, dayang muda membersihkan sepatu Hwi. Hwi marah mendapatinya begitu, karena tahu tangan Yeon Hee sedang sakit, Hwi dengan keras menyuruh Yeon Hee jangan sakit, jangan sedih. Mendengar perintah tersebut nyaris semuanya tersenyum akan kebaikan Hwi. Namun tidak dengan Kang, ia kesal sekali.

Kang berlatih panahan, kemudian Pamannya datang. Pamannya merupakan Kakak ayahnya, Pangeran yang. Beliau mulai mendoktrin pemikiran Kang, alasan kenapa Kang dibesarkan diluar istana karena keberadaannya bisa mengganggu tahta Putera Mahkota, dalam sejarah Joseon putera pertama memang tidak pernah menjadi raja, seperti halnya dirinya tidak menjadi Raja. Kang penasaran kenapa Hwi di istana,

Menurut Pangeran Yang ini karena Hwi itu anak bungsu, ia lebih terkenal sebagai orang jenius dalam sastra dan lukis. Hwi jenius secara linguistik, hebat dalam melukis dan pandai menulis puisi. Pangeran Yang pikir jika Kang dibesarkan dengan cara yang sama tentu bisa lebih hebat ketimbang Hwi.

Hwi, Kang dan para dayang serta kasim kecil bermain petak umpet. Semuanya bergegas bersembunyi, Yeon Hee berjaga dan tidak sengaja menemukan Kang. Ia pikir Kang adalah Hwi, ia meminta maaf.

Kang tersinggung, ia pikir Yeon Hee hanya ingin menemukan Hwi dan menganggap Kang tidak pandai bersembunyi. Yeon Hee memuji Hwi yang pintar bersembunyi,

Mendengarnya membuat Kang makin kesal, Hwi yang pandai apa saja. Ia menyuruh Yeon Hee ke istananya dan mengabdi padanya saja. Yeon Hee tidak mau, ia sudah menjadi pelayan Pangeran Hwi sejak kecil. Ia akan beritahu Kepala Kasim untuk memberikan dayang muda pada Pangeran Kang.

Di tengah perdebatan tersebut ternyata tidak hanya mereka berdua yang tahu. Puncak kemarahan Kang adalah mendorong Yeon Hee yang jelas-jelas tidak mau menjadi pelayannya. Ia membiarkan Yeon Hee kesulitan berenang hingga meninggal.

Setelah diberitahu akhirnya Hwi berlari menuju tempat kejadian, ia menyayangkan kenapa Kang tidak menolongnya. Hwi terjun ke air menyelamatkan Yeon Hee, ia menangis dan menyalahkan Kang yang setidaknya bisa memanggil orang.

Kang beralasan Yeon jatuh sendiri karena kegirangan menemukan Kang tadi.

Hwi masih menangis mengatakan ia tahu dari Gi Teuk tadi,

“Gi Teuk bilang apa? Apa lihat aku mendorongnya?”

Yeon Hee meninggal dan semua anak menangis, yang paling terpukul adalah Hwi. Ia menatap Kang dengan benci.

Pangeran Yang menyambut Kang, Kang langsung menghambur ke pelukannya dan menangis karena ketakutan. Bagaimana kalau ia diusir karena telah mendorong Yeon Hee, ia takut akan dihukum. Apa yang harus aku lakukan?

“Jangan khawatir, siapa yang akan berani menghukum seorang Pangeran?”

Hwi bertanya sekali lagi pada Gi Teuk, apakah benar Kang mendorong Yeon Hee?. Gi Teuk dengan takut-takut membenarkan. Tapi memang tidak ada orang lain, ia terlalu jauh sehingga tidak mendengar percakapan mereka. Tapi kedengarannya Kang ingin Yeon Hee menjadi pelayannya, tapi Yeon Hee tidak mau.

Hwi hendak berganti baju dan menemui kakaknya, ia menyuruh Gi Teuk mengambilkan bajunya. Namun Gi Teuk tak kunjung kembali karena anak itu diculik dua kasim dewasa.

Akhirnya Hwi datang sendiri menemui Pamannya. Pamannya mengancam Hwi untuk bungkam jika ingin menyelamatkan Gi Teuk. Pendam dan lupakan saja.

“Seseorang meninggal..”

Tapi menurut Paman kalaupun diketahui siapa pelakunya, menurutmu siapa yang paling besar terkena dampaknya? Gi Teuk salah satunya.

Gi Teuk dikurung di ruangan jerami.

Hwi hendak menemui Ibunda Ratu, namun mengingat perkataan Pamannya membuat ia mengurungkan diri. Demi menyelamatkan Gi Teuk juga.

Kang pikir puisi Hwi tidak mencerminkan perasaan ibunya. Aku merindukan istana yang tak pernah ku ingat, aku menangis dan membasahi bantalku setiap malam.

Paman memberikan anak busur dan anak panah yang menurutnya bagus untuk Kang dan cukup bagus untuk Kang gunakan di dunia nyata.

Kang khawatir jika ayah dan ibunya mencaritahu kejadian sebelumnya, namun Pangeran Yang memastikan Hwi akan tutup mulut. Yang perlu keponakannya lakukan adalah menjadi kuat dan  memiliki kekuasaan, karena kekuasaan akan menutupi segala kesalahan.

Hwi melemparkan satu bunga ke kolam, mengingat-ingat Yeon semasa hidup. Bagaimana tangan Yeon Hee terluka karena mencoba mengambilkannya buah, selalu ingin memberikan segalanya pada Hwi meski tidak punya apa-apa, tatapannya selalu mengikuti Hwi. Kemanapun ia pergi ia merasakan kehadiran Yeon Hee,

Hei menyesal seharusnya tidak pernah memarahi Yeon Hee, ia harap bisa mengatakannya lebih lembut.

Mulai sekarang ia harap Gi Teuk harus selalu disisinya, ia meminta Gi Teuk melupakan kejadian ini. Apapun yang kakanya lakukan, ia sadar ia masih muda sehingga tidak bisa melindungi Yeon Hee, maka dari itu ia ingin melindungi Gi Teuk mulai sekarang. Tumbuh bersama menjadi lebih kuat.

Hwi sampai dewasa masih suka melemparkan bunga ke kolam dan mengenang Yeon. Ia penasaran bagaimana jika Yeon dewasa, ia tidak bisa membayangkannya.

Disaat itu juga Kang melesatkan anak panahnya dan mengenai bunga di kolam, ia mendekati Hwi yang nampak terkejut.

Advertisements

2 thoughts on “[Sinopsis] Grand Prince: Drawing Love – Eps 1

Don't be shy. Leave a reply ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s