Sporadis

Percaya tidak? Itu tulisan tanganku, benar-benar hanya ditulis dengan jari di editorial hape.. seperti latin tapi tidak menyambung semua. Kalau temen-temen suka membercandai kalau tulisan tanganku seperti orangtua, hahah..

Merasa kacau karena merindukan kamu lebih dari biasanya, entahlah.. apakah yang di sana juga? Apa? Tidak terdengar apapun.. dasar tukang bubur!

Seharusnya kita sudah sirna,

Semestinya telah mati rasa,

Tapi entah kenapa perasaan ini terus memperbaharui dengan sendirinya, macam rumput teki kau ini.. dimusnahkan sedemikian rupa tetap tumbuh kembali.

Aku merasa seperti sedang berhalusinasi berkepanjangan, maka aku akan hancur sehancurnya jika ternyata ini hanyalah imajinasiku semata. Bahkan aku merasa kesal pada seorang gadis yang mepet-mepet berfoto didekatmu.. apa ini bocah tidak punya harga diri? Kenapa menempel seperti permen karet begitu? Dan apa kau tidak berusaha mengusirnya? -_-, dan aku jengkel setengah mati.. ah sudahlah, kau suka? Menikmati ketenaran tersebut? Aku tak perlu ikut-ikutan memuja dan mencintaimu kan? Kau punya banyak wanita.. -_-, kau tidak membutuhkan aku..

Mungkin ini juga yang membuatku tidak mau memiliki hubungan apapun, bukan aku tidak suka jatuh cinta.. tapi perasaan kehilangan – dilambungkan setinggi-tingginya – kemudian dijatuhkan kembali – saya tidak kuat membayangkannya.

3 KALI BERTEMU TANPA SENGAJA BERARTI JODOH?

Hahahaha.. sekian waktu lalu, saya pulang.. tapi apa yang lucu? Tanpa sengaja papasan dengan Mas Ipul, sekali.. dia sedang berangkat kerja. Pernah cerita sih.. dia membutuhkan waktu 1,5 jam untuk sampai kota kita. Paling cepet pulang jam 17.00, hanya saja saya benar-benar tidak menyangka bisa sedekat itu kembali.. yang pertama benar-benar di sebelahku, memang nugasnya di sana.. tapi gajinya ngikut ibukota.

Dia masih sama.. ya begitulah, masih tinggi, masih tampang playboy, mosok aku seneng cah nakal sih? #plakk, ketika saya pulang di hari berikutnya saya menjumpainya lagi. Kalau tepat 3 kali haruskah aku mengaminkan 3 kali bertemu tanpa sengaja adalah jodoh? Hahahaaha.. norak,

Dan aku merasa tratapan karena ini..

Segala sesuatunya bisa ku tolerir terkecuali kau tidak menjadikan aku yang utama dan satu-satunya, whuuu.. karena aku cemburuan orangnya.. tidak mau apa yang menjadi milikku dibagi-bagi dengan yang lain. Dan terkadang Mas Ipul adalah semacam satu untuk semua~

Teringat pula ketika dia begitu kerennya memakai kaos berwarna hitam, namun aku merasa kontradiksi ketika melihat punggung kaos tersebut bersablon besar-besaran huruf “N”, apa sih..? Rasanya aku seperti sedang melakukan sesuatu dan diingatkan untuk berhenti. Hmm..

Mas Mas Gak Peka, Sama Over Peka.. Pilih Mana? Aku Pilih Doraemon..

Teringat suatu hari berangkat kerja, jalan kaki. Di pertigaan tiba-tiba ada pengendara motor berhenti di sebelahku, ku pikir dia mau lewat duluan.. tapi sesaat aku berjalan kembali, kog membuntuti, mungkin aku sedikit melamun maka tidak menyadari Mas yang ngajak mondok itu lalu bilang “Bareng gak?”

Aku dimodusi iki.. ha ha ha.., tapi wes telat.. yaaaa udahlah~

Kalau itu Kang Mus, biasanya lebih ke beliau memonyongkan bibirnya dan aku balas membentaknya “Opo?”, angkot lewat dan dia bakal nyuruh naik angkot “Kono numpak angkot mben ndang tekan..”

“Moh, diblablaske tekan Ungaran ngko aku..” -_-

Lalu dia mendahuluiku, jahat kaleee ini orang.. hahahahaha, tapi kalau dia sudah bilang “Aku gak betah gak cerito mbi kuwe..” XD, heuh… dan saya tidak suka, bagaimana dia bingung ketika istrinya marah padanya pas mereka liburan ke Jogja, “Aku heran Sa, dia nangis di trotoar dan memisahkan diri, gak takut nyasar apa gimana? Aku bingung..”

Dengan soknya aku menjelaskan, ya mbuk kejar kek Mas.. butuh dirayu, memang memisahkan diri.. tapi aslinya dalem hati dia ingin dikejar, tanya maunya apa.. dan dirayu biar marahnya reda.

kalau dibandingkan dengan Bapak kita.. Bapak Pimpinan.. Kang Mus lebih mengayomi, cuman kan memang pengalamannya jauh dari Pimpinan. Mereka ini kadang selisih paham, diam-diam dia suka agak mencela, suatu hari dia pernah bilang begini “Konyol kan Sa? yang bikin dia dia sendiri, malah semrawut.., aku ra mudeng maksude..”. Gak gak gak.. kadang-kadang diantara semua atasan itu saling seolah menyalahkan satu sama lain, dan aku yang menyaksikannya agak sedikit gimana gitu. Lucu ketika Pak Irwan ketawa ngakak pas lihat kelakuan Mas Rizky yang membuat salad ala kadarnya “Nduk, aku ngingetine wae gilo..” atau ketika lihat berita di IG “Jakune Lucinta Luna karo wekku gedhe deknen to..” Hahahahahaha somplak,

lucu ketika Mas Rizky tanpa sengaja nemu sendal hotel “Sa, iki mau wekke sopo?”

Lucu ketika Kang Mus melihat cewek cakep dan langsung “Seng neng omah kalah Sa. Ra ono apa-apane..”. Pak Irwan yang banyak diamnya tapi seperti menalangi semuanya, Mas Rizky yang kelewat bertanggung jawab atas semuanya alias gila kerja, Kang Mus yang kompeten tapi alay, dan Pak Nasih yang santai tapi kerja.. meski kadang ngeluh “Iki piye karepe Bapakmu.. ruwet..”, Pak Wibowo yang cah kerjo.. everything must be SOP, ketika itulah aku merindukan Pak Ali dan Pak Sur, Bu Niken, Bu Puji, dan HRD kita yang galak tapi bisa lucu.. Pak Rifa’i XD, lha stand-up comedy an dia yang menang kog… padahal kalau sama anak-anak baru dia paling tandes judes kayak macan. Dan aku pernah nangis karena Pak Rifa’i yang pedes kayak samyang.

Kang Mus agak-agak mirip karakternya dengan Mas Yogi, ya konyol, ya baik, Mas Yogi itu adalah Abang yang pernah ku bilang kalau aku berada dalam satu frame acara dengannya pasti akan dibanding-bandingkan.. dan Mba Vita, tidak ada masalah dengannya, dia ini punya kebiasaan memaksakan mencium tangannya ketika salim. Aku salim kan.. tangannya belum ku cium tapi dia udah mendorongkannya ke jidat duluan, tapi sejak tahun berapa dia sudah berhenti memberiku uang lagi, Maaaas.. butuh duuuiit~ ngerte’ke aku sitiklah.. :D. Kalau Mas Alwan sekalem-kalemnya, mirip-mirip Afgan menurutku.. dan keduanya ini sama-sama kepincut orang Jawa Timur.

Dan untuk Pakdhe, satu Pakdhe yang riweuh banget menurutku.. sampai aku sebesar ini hobi sekali mencium pipiku. Dua deng.. dua orang.. masalahnya aku sudah besar, tidak punya pacar tapi harus kepikiran kumis dan jenggot mereka tadi -_-, masalahnya lagi aku nyaris tewas karena hampir deket di bibir. Ya Allaaaaaah.. cukur!!!

Anak-Anak Nakal..

Tapi sepertinya anak-anak kecil yang sering ku jumpai ini sore-sore dikala santai, memang hobinya ngegame saja, meski sering ku ingatkan “Mending buat jajan.. daripada ngegame terus..”

Walau jawabannya suka aneh-aneh

“Wes tau Mbak..”

“Enak ngegame..”

“Malah ditukokno Bapakku kog…”

Atau ketika ku tanya “Kalian ini kelas berapa?”

“Kelas 6, “

“Kog kecil mungil”

“Memang kog Mbak, Cah saiki do cilik-cilik.. maennya otak..”

Aku langsung memolototinya “Cah edan..”

Atau ketika sudah mulai kurang ajar

“Mba, kuwe ndak neg malam mingguan mojok mbi pacarmu?”

Sekali lagi aku menatapnya geram “Tak culek kuwe ngko..”

Dan mereka cengengesan..

Dasar bocah..

Kayaknya seumuran kalian gw mainnya kelereng, karet, sama kartu, dakon, gak akan pulang kalau gak dicari.

Advertisements

Kita Ini Butuh Apa? Butuh Like, Love? Atau Jempol?

Ctrl J, Times New Roman, 12..

Pukul 0.05.. dan masih terjaga..

Jadi mau apa saya? Besok harus bangun pagi.. iya pagi, sekelam apapun senja selalu ada pagi yang menopangnya *halah..

Sepertinya saya pernah bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuannya kita hidup ini?

Secara literatur tentu dengan sok-nya kita akan menjawab tentu tujuannya kita hidup untuk Tuhan kita, tapi pernah tidak kita berpikir setiap yang kita lakukan selalu berharap timbal balik. Jika bukan pada manusia tentu berharap pada yang menciptakan kita. Tidak pernah ada hal yang kita lakukan dengan tulus murni ikhlas tanpa berharap apapun, setidaknya kita pasti berharap akan sesuatu yang disebut pahala itu.

Dan kau mencintai orang yang kau sayang tentu berharap dia membalas cintamu atau setidaknya dia terlihat bahagia maka kau akan ikut-ikutan bahagia.

Kenapa kita ibadah? Bohong kalau tidak berharap surga-Nya. Itu adalah reward terbesar yang ingin manusia capai.

Sebenarnya saya agak ragu mau menuliskan postingan aneh ini, masalahnya saya sedang merasa kacau.

A: Tidak

Gama: Kacau

Hmm… seharusnya saya tidak usah kacau, punya agama.. ya kan? But I’m still human, hahah

Nah.. pertanyaan terbesarnya adalah

“APA SEBENARNYA YANG KITA BUTUHKAN DALAM HIDUP INI?”

Saya pribadi terlalu sering menjawab, kita butuh bahagia, ketenangan, kedamaian.

Ternyata jawaban-ku itu salah. Yang kita butuhkan adalah “Dihargai..” dan proses pengharga’an ini bisa menjawab semua lika-liku hidup ini.

  1. Kenapa terjadi perselingkuhan?
  2. Kenapa kita sok kepengen liburan ketika gabut dan capek?
  3. Kenapa kita bangga dan bahagia ketika punya banyak follower?

Dll, jawabannya akan sama.. kita butuh sekali akan penghargaan diri sendiri. Ketika seseorang berselingkuh itu menurutku bukan karena tidak cinta pada pasangannya, tapi lebih ke pasangannya sudah tidak memberikan penghargaan pada dirinya. Inilah kenapa ada etika dilarang chatting dengan lawan jenis di atas jam 19.00 – menjelang subuh? Dan 6 pagian jika hanya haha hihi basa basi busuk?

Itu adalah waktu-waktu otak di gelombang tenang, tidak sedang hardwork sekali. Logika sedikit turun, kemasukan hal-hal sejenis. Membuat yang bersangkutan kepikiran “Kog aku kepikiran si Joko terus sih? Apa dia jodohku?”

Bukan Mba! Bukan.. itu hanya kebiasaan, merasa kog nyaman padahal hanya semu. Percayalah.. dia bukan jodohmu.

Kenapa kita cenderung punya nafsu makan tinggi atau rendah ketika stres? Kenapa merasa butuh vitamin sea? Butuh lihat laut? Yang katanya butuh refresing?

Tapi sebenarnya apakah kamu benar-benar bisa melepaskan beban di pundakmu hanya sekadar memandang hamparan hutan atau laut tak terbatas? Hai sayangku.. itu cuma menjeda segala bebanmu.. tidak benar-benar membuat sembuh, itu hanya sekadar tombol pause.. bukan delete,  yang perlu kita lakukan adalah jujur pada diri sendiri.. aku kenapa? Ada apa denganku? Sebaiknya aku harus bagaimana? Bicara pada diri sendiri apa yang sebenarnya mengganggumu dan berdialoglah..

Lalu jawab sendiri,

Kenapa kita hobi sekali posting sesuatu dan merasa senang melihat jumlah like yang ada? Kita butuh yang namanya penghargaan atas diri.

Lantas siapa yang akan menghargaimu?

Apakah kau akan menjawab

“Kekasihku, Keluarga-ku, Sahabat-sahabatku”

Jadi ada berapa orang didekatmu disaat susah? Tidak banyak bukan? Dan sebenarnya orang terdekat kita adalah orang yang paling sering menyakiti, tapi kita berharap untuk mereka hargai.. mereka sendiripun individu yang haus akan penghargaan diri sendiri. Hidup saling menuntut begitu apa tidak capek?

Menurut hematku, kita dilarang untuk mengharapkan orang menghargai dirimu sebesar apa yang kau mau. Cukup sewajarnya saja, dan tolong ingat-ingat kamu adalah berharga.

Sekian tahun lalu saya pernah bilang begini ke seorang temen, KD nama bekennya dia.

“Setiap kita itu istimewa lho..” Aku

KD menatapku bingung “Atas dasar apa kamu bisa bilang begitu?” Saya kalau tidak salah menjelaskan, tentu saja berharga,, kita dilahirkan dalam keadaan berbeda dan memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing.

Mungkin KD menggunakan parameter, jago mata pelajaran apa, terkenal tidaknya, cantik gantengnya.

Dan aku mencoba menjelaskannya sekarang, tentu saja kita semua istimewa. Mengingat kata istimewa tentu akan mengacu pada sesuatu yang paling beda dan berharga diantara sekian bentukan.

Tapi saya pikir tentu kita istimewa, setiap dari kita dijaga baik-baik dan diharapkan kehadirannya ketika dalam kandungan, ketika masih kecil dan belum bisa apa-apa pasti dijaga dengan protektif. Mau senakal apapun dirimu pasti kamu adalah anak paling baik dan lucu menggemaskan bagi ibu dan ayahmu, mereka tidak pernah menuntutmu harus jadi apa.. kalaupun menuntut pun demi kebaikan dirimu sendiri. Dan orangtua sampai kapanpun akan memperlakukan anaknya seperti anak-anak, itu adalah manifestasi dari perasaan sayangnya.

Jadi kita ini tidak butuh like apalagi love, kita hanya butuh jiwa yang besar untuk mengapresiasi diri sendiri. Jangan gantungkan bahagia dan semangatmu pada orang lain, tapi soal jodoh memang adalah masalah lain.

Tentu kita tau bahwa tujuan pernikahan seharusnya bukan bahagia, pahami diri sendiri terlebih dahulu. Kita tidak boleh menikah dengan orang yang tidak kita cintai, tidak boleh juga menikah demi bahagia, jangan berharap orang menghargaimu sebesar keinginanmu.. sewajarnya saja.

Saya tidak tahu nama saya itu apakah seribet itu untuk disebut? Saya tidak marah dipanggil apa saja, saya tidak marah bahkan jika ada anak kecil memanggil namaku langsung, saya juga tidak pernah memaksakan orang harus memanggilku “Risa”, meski saya akan sangat menghargaimu jika bersedia memanggil nama utamaku tersebut. Kurang kece apa coba aku jadi orang? Hahaha.. karena saya menghargai diri sendiri, tidak terlalu mau ambil pusing dengan penilaian orang. Dengan begitu saya tidak mudah naik darah.

Jadi saya ingin hidup seperti apa? Bukan lurus yang kelewat lurus searah seperti lintasan jalan bebas hambatan, tidak juga yang terlalu berkelak-kelok. Sesekali lurus dan terkadang berkelak-kelok tidak masalah. Saya tidak mau menjadi orang yang sepenuhnya baik dan apa-apa dipandang secara positif, ada kalanya saya berhak berpikir kemungkinan terburuk dan risikonya, ada saatnya harus kalem menyikapi masalah dan ada saatnya murka seperti hulk.

Kepada siapapun yang tidak sengaja membaca tulisan, saya mau bilang.. terima kasih sudah meluangkan waktunya, apapun yang menimpa kamu hari ini dan segala sesuatu yang membuat pundak serta hatimu berat akan segera diringankan, kalau ada orang yang merendahkan kamu, hei.. aku bersamamu.. katakanlah dalam hati.. setidaknya aku mengupayakan semua dengan tangan ku sendiri.. aku merasa bangga pada diriku sendiri.

Bahagiamu ada di dirimu sendiri, berhentilah berharap terlalu banyak pada manusia yang lemah.  Kau tidak membutuhkan like, love, atau jempol, kau hanya butuh setidaknya satu orang yang bersedia mendengarkanmu.

Kamu hebat, kamu kuat, boleh menjeda jika lelah.. tapi jangan berhenti ya.. let me hug you.. ❤

0:48