It’s So Strange That Autumn Is So Beautiful ; yet everything is dying

Saya mau tidur jam 00.00, tapi sebelumnya mari kosongkan pikiran terlebih dahulu, setelah keseringan tidur jam 1 pagi dan bangun jam 4 buat mati’in alarm, tidur lagi *hahahaha.

Ini soal Kang Mus, tak henti-hentinya ini orang membuatku syok.  Kalau semisal dia masih single, saya gak mau juga sama ini orang.. cerewetnya itu lho *hahahaha, ngalahin Ibu Ibu rempong. Dia itu paling sering dibicarakan orang-orang dibelakang, apalagi soal bucinnya dia sama sang istri.

Ada satu cerita yang benar-benar membuatku pengen menertawakannya langsung di depan yang punya cerita. Soal buang helm mantan pacar, hampir semua orang menyayangkan kenapa gak dijual aja? Kenapa dibuang? Setunduk itukah Kang Mus sama si Mbanya? Hahahaha.. dibuang pemirsa, helm itu berapa sih? 100k ke atas pasti kan? Lumayan jadi duit. Hanya  gegara itu punyanya mantan, sang istri menyuruhnya membuang helm tersebut. Kang Mus buang? Iya buang jauh-jauh..

Semula saya dengernya konyol banget, tapi kalau aku? Tak pikir-pikir lagi, pasti juga begitu deh rasa-rasanya.. buang gak Mas, atau kamu yang ku buang dari hidupku?

Selorohan-Selorohan Kang Mus yang tak pernah ku jawab/tanggapin dengan serius:

  • “Jangan-jangan kamu kalau sama pacarmu manja-manja begini juga ya Sa?”, dalem hati.. gak ada pacar Mas, kau pikir aku punya saja sudah dirundung habis-habisan.. apalagi gak? Dibantai..
  • “Kayaknya pacarmu tipe-tipe mirip kayak kamu, gak suka banyak ngomong begitu..”
  • “Memangnya kamu pernah nganggep aku? Dasarnya kamu keji orangnya, bisa tega’an..” Padahal cuma gegara lupa, sekian hari lalu ketemu Kang Mus atau enggak, aku lupa dan bilang gak ketemu. Tapi dia langsung bilang begitu.
  • “Bisa-bisanya ditinggal jauh begini? Gak takut dia ada yang lain?”
  • Ati-ati Sa, semuanya kalah dengan yang selalu ada..” Halaah, orang terakhir yang membuatku nyaris terjebak dengan kata-kata tersebut sekarang hanya ku anggap teman. Seharusnya perasaan ini tidak selemah itu hingga terlena dengan mudahnya..
  • “Pasti kamu kalau sendirian di kamar, hujan mendung angin ribut begini akan kerubutan selimut, dengerin lagu dan nangis. Kalau lagunya berhenti nanti nangisnya juga berhenti..”
  • “Jangan bilang kalau kamu disakitin pacarmu pasti juga begini? Kog tegel banget mbi aku Mas? Heuheuheu..” Aku -_-
  • “Pulpen sudah, semua sudah.. jodoh sudah.. ups! Jangan tersinggung gitu dong Sa~” Rese lo Mus!

K U A L A T, suka anak kecil, Sedih-Sedih..

Dia itu mau ngisi hapenya, sedangkan stop kontak gak begitu jauh dari kaki gw, kebetulan aku ada di sekitar sana. Gak sengajalah tangannya nyenggol kaki gw, reflek gw keplak kepalanya pake kertas *HAHAHAHA. Sumpah reflek, dia agak syok.. tapi untungnya Kang Mus bukan tipikal orang yang sumbunya pendek alias gampang marah, dan yang lainnya komentar “Heh! Wong tuo kuwi!” dengan nada geli, mungkin dipikirnya aku berani-beraninya sama Kang Mus.. Kakang tercinta yang liciknya bukan main.

dalem hati “O’ow.. sepertinya aku akan kena apes..”

Sebagai dasar pembela’an “Ya abisnya pegang-pegang kaki,”

“Ini nyenggol Sa.. kesenggol, nyenggol~ kalau megang itu gini..” Langsung dipegang beneran. Kampret ini orang..

Beneran, aku lupa membawa charger laptop sedangkan laptop sedang penting-pentingnya. Hahahaha, jajan gw ilang, kehujanan, agak demam + pusing,

Ya habisnya Kang Mus suka mulai duluan sih, suka banget jahilnya gak ketulungan. Suka ngejek aku yang pendek menurutnya, banyak yang lebih pendek dariku Kang.. dan lebih banyak lagi yang tinggi melebihi gw!. Sering sekali ngagetin sampai jantungan.

Dia itu kalau sudah mulai menyombongkan diri biasanya akan bilang “Siapa dulu, Mus…” Kadang-kadang kedengaran seperti MPUS… opo opo? Pus meong.. hhhhhh

*** Dia ini suka banget sama anak kecil, sama anak-anak bisa sabar dan gak bosen. Aku lihatnya ya biasa aja, soalnya aku rak iso neg kayak ngunuwi mbi cah cilik. Wait.. pernah kan aku naik bus,, tempatnya beneran penuh dan ada ibu-ibu bawa anaknya.. beliau nitipin buat ku pangku bentaran. Si ibu entah ngurus apa, nah setelah pindahan.. ini bocah dipangku Mas-Mas yang duduk sebelah si Ibu. Lucunya di bagian mana? Ketika anak itu tekluk tekluk mengantuk, si Masnya nunduk dengan amat sangat perhatian lihatin si bocah.. lalu dengan pelan ia dengan telapak tangannya menyandarkan kepala anak perempuan kecil itu ke dadanya. Aku seketika memalingkan muka karena gak kuat lihatnya… pengen Jejeritan *Kyaaaaaaaa… imut banget adegan barusan.. Ya Allah Ya Rabb.. 😀

                Secinta apa dia sama istrinya, cinta banget menurutku. Ekspresinya benar-benar berubah kalau sudah membicarakan istrinya. Bener-bener tulus, bukan yang sok dibikin berwibawa atau sok kuat. Saya yakin dia.. orang sekonyol dan seceria ini ada sesuatunya. Ternyata bener.. ada satu fakta yang membuatku terkejut.. ketika kami tanpa sengaja membicarakan pedagang asongan di pinggir-pinggir jalan atau yang keliling begitu. Dia tetiba inget ayahnya, ternyata sudah lama pisah dengan ibunya semenjak Kang Mus SMA. Sekarang Kang Mus 26 tahunan..

Ini pertama kalinya saya lihat Kang Mus berkaca-kaca nampak sedih dan mau nangis. Dia sudah lama tidak ketemu bapaknya,

“Aku jadi inget Bapakku Sa, enggak tahu sekarang dimana dan keadaannya bagaimana? Rasanya kepengen ngerawat beliau dan nyarikan uang buat beliau. Suatu saat nanti aku pasti akan nemuin beliau sama istriku..”

Ini yang bener-bener aku tidak menyangka dia yang tadinya begitu ceria tiba-tiba berubah menjadi sesendu itu. Tapi karena setelahnya Kang Mus fokus ke hapenya lagi, seolah berusaha mengenyahkan suasana gundah gulana hatinya sendiri *jiah..

Dan aku tidak berniat lanjut bertanya untuk menginterogasi atau berusaha membuatnya berbicara lebih jauh lagi. Karena menurutku begini, kalau lawan bicaraku sudah tidak mau cerita atau tidak melanjutkan ceritanya. Saya juga tidak akan mendorongnya terlalu jauh juga, privasi mereka.

Saya tidak suka orang mencampuri urusanku, maka aku pun tak mau mencampuri urusan orang lain. Saling pengertian sajalah.

Advertisements