DIVORCE – 0

[ Kenapa aku nulis ini? Kepentok tembok apa aku? Kog? Ah mbuh..

Ternyata sudah hampir 2 tahun lalu.. gimana kalau bikin mereka cerai aja, seru kali ya.. hahahaha.. inspiring dari mana dapet karakter pasangan aneh gini gw Ya Tuhan.. *heuh..

Yo mari bikin mereka cerai, Yak.. sip. ]

DIVORCE – 0

       Lelaki itu duduk termangu di kursi belakang, tangannya terus mengusap layar tabletnya ke kanan, hanya membaca headline berita politik dan sosial. Tama menyetir dengan tidak nyaman, sesekali melihat pantulan bayangan Kakaknya dari kaca di atasnya. Masih sama, Amar melamun dan sesekali memperhatikan jalanan. Sudah sebulan semenjak Kakaknya bercerai, bahkan diantara keduanya tidak ada yang menceritakan apakah alasan keduanya bercerai.

“Mas gak mau mampir ke rest area dulu?” Tanya Tama hati-hati. Amar balas menatap Tama dengan senyum kepura-pura’an sengaja dibuat tegar.

“Gak usah Tam, nanti makan banyak waktu, kita bisa telat. Kamu mau istirahat sebentar? Kalau kamu capek aku ikut aja terserah kamu Tam..”

Mendengar ucapan kakaknya membuat Tama diam-diam menghela napas. Tidak ada yang berani bertanya, tidak mau menyakiti meski semua orang penasaran sekali alasan perceraian mereka apa.

Sebulan lalu..

 “Aku mau cerai..”

Mendengar itu nyaris Amar menjatuhkan sendok di tangannya. Tapi ia hanya meremasnya, berusaha sabar. Masih sangat sulit baginya untuk memahami Sabina sampai sekarang.

“Bi, aku tahu kamu suka bercanda.. tapi ini keterlaluan Sayang.. gak lucu sama sekali.”

Amar tersenyum dan berharap istrinya tadi hanya sedang berusaha membuatnya terkena serangan jantung. Meski tak memungkiri dia merasakan kali ini bukan sekadar guyonan tapi ia bersikap tidak pernah terjadi apa-apa. Sabina hanya menunduk memperhatikan bulir-bulir nasi di piringnya.

“Aku butuh waktu untuk sendiri..”

“Tapi gimana dengan aku?”

“Satu atau tiga bulan. Lalu kita rujuk..”

“Aku mohon jangan begini Bi, kalau aku ada salah apa tolong bilang.., aku tidak mau lagi melalui satu hari pun tanpa kamu Sayang..”

“Kamu bisa, aku yakin kamu bisa..”

.

.

.

Advertisements