Who Cares About Ceremony? We Just Need Photographer.

Aku: “Omongane, kog kayak novel sih? Gak realistis banget.. aku o, seneng moco novel tapi gak segitune. Masih memandang kehidupan realitis kog…”
apa yang dibicarakan perempuan ketika ngumpul? Bukan bukan.. bukan perempuan saja, ini kami. Maksudnya aku, Emi, Ti’ah..

Tanggal 27 Libur… haha..,

Kang Mus “libur Sa? Perasaan kemarin udah deh..”

Aku: -_-,

(kemarin itu kapan? Tanggal 18 Mas, itu aku ada jadwal makanya gak pulang..)

Terakhir di rumah adalah tanggal 13 ya, sepertinya.. malah ketemu Rabu lagi. Ku kira bakalan Senin atau kapan. Kalau sebelumnya saya menghabiskan banyak waktu untuk tidur dan menulis blog. Sekarang main aja.. padahal ada bikin proposal, hahahahaha sial bet dah..

Padahal mau ngelanjutin part 2 the smile has left your eyes.. kosek lah.. males

Laki-laki, Uang, Cinta, Rumah Tangga, Orang-Orang Rese’

Wait wait wait.. intro, sebenernya aku masih sedikit risih, dengan Mas Mas yang ngajak mondok kemaren. Kog aku kalau disuruh memilih antara dia sama Imam, aku lebih memilih Imam.. kenapa ya? Jijik wae..

“Hati-hati..” katanya

Dalam hati aku mengumpat, aku ra duwe ati Mas.. rasah sok sweet, jijik ngerti gak.. aku tidak butuh perhatianmu. Kenapa aku bisa ingat dan sedikit perhatian padamu sekali dua kali? Karena basa basi busuk? Ngerti gak? Daripada aku diemin kayak gak dianggap? Nah loh..

Kau cuma tau sisi luarku, tidak mengenal semuanya. Jadi tolong jangan jatuh cinta atau berharap lebih padaku, karena aku tidak akan pernah menyukaimu dengan alasan apapun.

Maksudnya kadang-kadang ada sejenis laki-laki yang gak tau diri, sudah jelas bahwa si perempuan suka dengan laki-laki lain tapi main nekat begitu. Saya selalu dalam mode, bagaimana cara menolak tanpa bilang langsung? Wes dicueki kog ya tidak sadar-sadar juga? Aku saja dengan orang yang benar-benar ku cintai bisa jahat dan teganan, apalagi dengannya? Heuh… sopo? Kuwe ki sopo? Mbuk sadar..

Padahal akan jadi sangat sederhana kalau aku bisa bilang “Maaf Mas, aku sudah ada suaminya..”. Kelar, masalah selesai.. aku tenang, kalau kedepannya ada dorongan untuk resign.. sejujurnya karena aku tidak betah dengan ya taulah.. tapi aku butuh uang, hiks..

Jadi kalau semakin membuatku tidak nyaman, akan aku blokir nomornya. Sesimple itu, okay..

.

.

.

Kenapa aku tidak mau ta’aruf? Alasannya adalah karena aku mau memandang segala sesuatunya dengan realistis, mungkin kalau aku adalah anaknya Kiayi atau Habib dan calonnya juga sama. Itu baru masuk akal, tapi kalau aku? Gak bisa.. akan jadi sangat aneh, mending kenal lama dulu. Meski tanpa harus pacaran main-main.

Emi hampir menikah dalam waktu dekat, tapi dia gak suka sama calonnya. Karena Emi itu masih sangat suka dengan Mas Danu, orang Kudus. Lagian orang tuanya belum ngasih izin buat nikah. Fans-mu kebanyakan Em..

Jadi gini ceritanya, saya ngajakin Emi main kemana gitu. Mampirlah ke tempat kerjanya Ti’ah, niatnya mau mampir.. tapi malah keterusan dan melupakan tujuan awal. Di gudang belakang kami ngobrol lama sekali. Sambil ngemil dan nggibah massal..

Masalahnya gini, aku menyadari satu hal di tengah pembicaraan kami yang apa saja bisa dibahas. Kog aku jegang sih? Kalem e kayak ngene kog jegang? Dicoret soko KK gak iki? HHHHHHHHHHH,

Eh tunggu, cuma ada kami bertiga sih.

Ya membicarakan apa saja, kami masih memandang segala sesuatunya normal. Sudah tidak mikir cowok itu dipandang dari mukanya, yang penting secara pribadi enak buat dilihat.. kaya? Kami sepemikiran, mahasiswa yang ganteng dan kelihatan mewah itu sudah dicoret dari wishlist.. alasannya?

“Kamu tuh apa-apa masih orangtua, tajir begitu karena uang mereka. Setelah lulus mau ngajakin nikah? Ogah..”

Jadi keingetan sama Mb Er, beliau ini adalah orang yang selalu mewejangi. Pokoknya Risa cari suami yang duitnya banyak, atau paling tidak yang ngertilah caranya memutar uang dan setia. Saya gak ngerti sama beliau, sampai deket sekali dan beliau menceritakan pengalaman pernikahannya. Dalam hati waktu itu, Mba.. aku belum pernah nikah Mba.. plis jangan cerita yang aneh-aneh, karena bikin baper..

Skip

Dari semua gibahan kami, yang paling bikin kami ketawa adalah soal Yanti.. kalau aku sih no.. ^^

Menurut Emi dia ini mulai kelihatan begitu munafik, masa’ pakaiannya serba panjang dan nyaris pakai burkak tapi pacarannya sudah kayak prewedding. Emi itu beberapa waktu lalu nulis jurnal ilmiah di wa story.. (catatan kegajelasan karena jengkel dan marah akan Yanti) hahah. Lalu si Yanti komentar, mereka saling mendebat,

“Aku jauh dari orangtua, anak terakhir.. tanggungan untuk membahagiakan mereka. Daripada aku kayak perempuan hijaber lainnya yang deket sama banyak laki-laki. Mendingan kelihatan satu orang, apa-apa bareng, makan bareng, duduk di kelas jejeran,”

Emi: Bukannya anak bungsu malah dimanja ya?. Jangan-jangan mereka tidurnya juga bareng..

Ti’ah: Iya juga ya, kali aja karena kesepian.

Aku: Omongane.. hahaahaha, bener juga..

“Aku sadar jadi omongan orang, tapi daripada munafik di belakang..”

Emi: Jangan bilang di sana dia kalau ngomong Akhi, Ukhti, Ana, Anta,

Aku: Mesti ngomonge kadang diselipi Jazakumullah.. Hahahha

Jam setengah 2 kelar, lalu saya pulang.

Frame foto yang itu dari siapa? Dari Ping.. hadiah ulang tahunku tapi baru datang kemarin tanggal 26. Mungkin menurut Pupuj gak ada gunanya, malah mubazir.. mending dikasih sesuatu yang bisa digunakan, lagian ultahmu sudah kelewat lama Januari kemarin. Aku tidak berharap banyak sih, ku kira Ping melupakan hari ulang tahunku, mengingat dia orangnya sangat sibuk. Toh umurku sudah tidak muda lagi,

Ping: Maaf telat ngasih ucapan..

Aku: Gapapa, udah tua juga. Gak usah ulang tahun ulang tahunan segala..

Ping: Ciee udah tua,

Aku adalah orang yang kalau menerima ucapan selamat ulang tahun kog malah merasa biasa saja ya?. Seperti yang pernah ku ceritakan jauh sebelumnya bahwa aku tidak pernah merayakan ulang tahun seperti tiup lilin atau potong kue, bukan karena apa.. tidak suka saja, entah mengapa ulang tahun malah membuatku sedih. Mungkin akan jadi beda rasanya, kalau ulang tahun tapi hadiahnya dilamar..

Tapi sepertinya hanya mimpi..

Who Cares About Ceremony? We Just Need Photographer.

Hmm, barangkali kita memang tidak pernah menganggap serius tentang arti hidup sejatinya seperti apa.. tujuan dilahirkannya seonggok daging yang bisa berpikir ini sebenernya untuk apa, tapi kita memang terlalu sibuk selalu ingin disorot dan kelihatan Wah di depan muka umum..  Orang-orang terlalu sibuk mencari cahaya tanpa sadar bahwa kegelapan malam membuat bintang terlihat terang melebihi terik matahari kala pagi.

Advertisements

The Smile Has Left Your Eyes  Eps 1 – Part 1

Psikiater Yang Jung Mo tengah diwawancarai, diperlihatkan foto masa mudanya. Ketika usianya 27 28 tahun ia bertemu dengan seorang anak kecil berumur 8 tahun yang entah mengapa secara ajaib mengubah kehidupannya. Tatapan anak tersebut begitu misterius, semula ia mengikutinya karena penasaran. Namun ia menyadari bahwa inilah takdirnya, pengembaraannya selama ini adalah untuk menemukan anak tersebut.

Disaat yang bersamaan di suatu apartemen terjadi investigasi. Ditemukan wanita meninggal ketika malam hujan, namun belum diketahui apakah itu merupakan bunuh diri atau pembunuhan.

Yoo Jin Guk mendatangi lokasi penyelidikan, Ketua Tim dan beberapa anggota melihatnya. Namun hanya Uhm Cho Rong yang menyapanya, kenapa berada di sini dan bukannya pulang? Bukankah waktu kerjanya Manajer Yoo sudah selesai.

Jin Guk bertanya apa yang sedang terjadi. Cho Rong menjelaskan bahwa mahasiswi berusia 22 tahun ditemukan bunuh diri. Cho Rong sempat bertemu dengannya sekali, dan dia sangat cantik. Tapi Jin Guk mempertanyakan apakah benar ini kasus bunuh diri?

Yoo Jin Kang di tempat kerjanya, rekannya memuji undangan Seung Ah sangat mewah.. apa ini karena Seung Ah anaknya orang kaya?. Jin Kang berkilah, tidak kog.. keluarga mereka tidak sekaya itu. Sebelum pergi menghadiri undangan Jin Kang dipaksa bosnya untuk memakai pakaian yang telah ia siapkan, dan jangan lupa untuk membawa portofolionya.

Nasib perusahaan kita tergantung pada Jin Kang nantinya, ia harap Jin Kang bisa  menjalin kerja sama dengan Jang Woo Sang (Tunangannya Baek Seung Ah). Dan hari ini adalah pesta ulang tahun yang disiapkan Jang Woo Sang untuk Seung Ah.

 Di perjalanan menuju tempat pesta, Jin Guk berusaha keras untuk tidak mau ambil pusing akan insiden kecelakaan di depannya. Tidak mau tahu, dia sedang tidak bertugas..

 Tapi pada akhirnya ia turun tangan juga. Tak lama kemudian setelah mengatur semuanya, ia menerima panggilan dari Jin Kang. Diharapkan untuk segera ke tempat pesta dan jangan terlambat.

Sesampainya di tempat undangan, Jin Kang tersenyum bangga melihat banner bertajuk pameran yang dibuatkan untuk Seung Ah. Anehnya ia melihat Baek Seung Ah tengah menundukkan kepalanya di setiran mobil.

“Seung Ah..”

“Oh, Eonie..”

“Apa kau sakit?”

Seung Ah keluar dari mobilnya masih dengan lesu. Ia bilang ia merasa ingin mati saja. Terkejut Jin Kang mendengarnya. Namun Seung Ah segera menutupinya menjadi, aku hanya bercanda.. apa Eonni terkejut?

Jin Kang segera memukulnya, membuat takut saja. Mereka kemudian masuk ke gedung. Selang beberapa saat kemudian Kang Moo Yeon dan Na Hee Jun datang, mereka adalah orang yang akan menyajikan bir di acara tersebut.

Hee Jun terkesima melihat mobil mewah Baek Seung Ah dan memuji-mujinya. Sayangnya Moo Yeon nampak tidak tertarik menanggapinya. Ketika mereka berdua membawa barang bawa’an ke dalam, terdengar dua karyawati bergosip perihal Baek Seung Ah yang tidak mendatangi acaranya sendiri tapi masih mau dianggap seniman? Apa karena dia orang kaya makanya bertingkah semena-menanya sendiri? Lihat, mobil baru Baek Seung Ah itu merupakan hadiah hari valentine.

Seung Ah mendengarkan perincian acara kedepannya. Ia mendengarkannya dengan malas, Seung Ah marah ketika mendengar nanti ada sesi bincang-bincang dengan wartawan, kenapa seolah memutuskan sendiri tanpa bertanya kepada Seung Ah?. Yang menjelaskan bilang ini perintah langsung dari Jang Woo Sang.

Segera Seung Ah menelfon Woo Sang

“Oppa, dimana kau?”

Disaat yang bersamaan Jin Kang menerima panggilan dari bosnya, mengingatkan untuk bersikap manis pada Woo Sang supaya bisa bekerjasama. Dengan setengah hati Jin Kang mengganti pakaiannya di mobil Seung Ah.

Entah sengaja atau tidak, Moo Yeon melihat Jin Kang dari luar dan mendekatinya. Tanpa sadar ketika membuka pintu mobil.. Jin Kang mengenai Moo Yeon. Ia meminta maaf, namun kembali lagi setelah tahu Moo Yeon yang menyediakan bir di acara hari ini. Jin Kang bertanya minuman apa saja yang disajikan. Moo Yeon menjawab semuanya.

Tanpa basa-basi Moo Yeon mencela Jin Kang. Menurutnya mobil ini pasti bukan milik Jin Kang, ia tidak secantik itu sehingga memiliki mobil tersebut. Mendengarnya membuat Jin Kang tersinggung.

Lalu keduanya berpisah.

“Kau pasti baru membelinya.” Sindir Moo Yeon

“Apaan sih?” Jin Kang bingung

“Apa yang ku beli?”

Lalu Jin Kang melihat kakaknya baru datang dan mulai menggerutu

“Kau bilang kau tadi terbang.

“Aku sedang berlari.”

“Siapa ini? Apa ini Yoo Jin Kang yang kukenal?” Kata kakaknya sambil mencabut label harga di rok baru Jin Kang.

“Jangan mengatakan apa-apa. Jangan berani komen. Aku tahu. Aigoo. Itu Yoo Jin Kang yang aku kenal. Ini nih!

Jin Kang kemudian baru menyadari sesuatu, kenapa pria tadi menyebutnya baru beli sesuatu. Ternyata karena Jin Kang kelupaan belum melepas label harga di roknya

“Tunggu. Ini… Oh, itu… sebabnya… Ah memalukan.”

 “Ah aku yang lebih malu. Kau mau bilang ke semua orang kalau kamu beli baju baru. Aku membeli baju baru.”

Jin Guk memberikan rangkaian bunga yang ia bawa pada Seung Ah. Dan ia mulai memuji-muji hari ini luar biasa, Seung Ah berbakat dan hebat membuat semua karya seni di sini. Jin Kang bilang bahkan Woo Sang akan membuatkan pesta kembang api untuk ultahnya Seung Ah. Jin Guk senang mendengarnya, ia mulai mengejek adiknya sendiri yang bahkan tidak pernah kedengaran berkencan dengan seseorang. Jin Guk melihat Woo Sang dari kejauhan, lihatlah betapa tampannya Woo Sang dilihat langsung. Seung Ah entah mengapa yang mulai beradu pandang dengan Woo Sang menjadi sedikit tersulut emosinya. Ia mengajak Woo Sang pergi dari keramaian untuk bicara.

Seung Ah membanting bunganya,

“Ada apa Baek Seung Ah-Sshi..?”

“Batalkan, bincang-bincang senimannya.”

“Kenapa?”

“Berapa lama aku harus dibodohi… Profesor Hong juga datang. Bagaimana aku bisa melakukan itu saat dia akan datang?”

“Kenapa tidak? Harusnya kau bisa buat lebih banyak.”

“Oppa. Setidaknya, mari hilangkan apa yang Profesor Hong buat. “White Shadow” dan “The Sound of Cherry Blossom”. Hanya menatapnya membuatku tercekik. Ini tidak benar. Bagaimana kau bisa menunjukkan sesuatu yang tidak kau buat?”

“Kau yang ingin pameran tunggal. Tapi… kau tidak cukup baik. Kau juga setuju kan?”

“Aku tidak menyangka ini terlalu mewah.”

“Menurutmu, siapa yang menyarankan itu? Hong Ji Won. Wanita itu.”

“Apa?”

“Dia ingin menjualnya, jadi aku beli. Apa masalahnya? Sekarang itu milikmu.”

Braak! Terdengar suara kunci diletakkan ke atas meja dengan sengaja, Kim Moo Yeon bekerja seolah-olah tidak mendengar apapun yang keduanya bicarakan. Melihat Kim Moo Yeon.. Woo Sang segera bertindak, ia menyuap Moo Yeon untuk tutup mulut.

Ia memberikan Moo Yeon cek 1.000 dollar. Kemudian Woo Sang menerima panggilan, ia pamit pergi tanpa menghiraukan Seung Ah yang masih marah.

Sebelum Seung Ah pergi Moo Yeon bertanya tidakkah Seung Ah akan membawa kembali bunganya tadi?. Seung Ah mengambilnya lagi dan hendak pergi.

Moo Yeon menahan Seung Ah dengan kata-katanya. Jangan lakukan bincang-bincang seni kalau kau tak mau melakukannya.

Seung Ah menuntut Moo Yeon untuk menepati janjinya, ia tadi menerima cek dari Woo Sang. Ah janji? Aku takkan menepatinya, Moo Yeon langsung menyobak cek tersebut.

Seung Ah geram bertanya apa yang Moo Yeon inginkan? Apa lantas aku terlihat gampangan setelah kau tahu semua masalahku?

“Sedikit…” Jawab Moo Yeon.

“Kau pikir kamu siapa… Kau tidak perlu mengatakannya. Sekarang aku sudah merasa sedih. Aku sudah merasa cukup menyedihkan.”

Kata Seung Ah berapi-api. Namun Moo Yeon hanya mendengarkan tanpa menanggapinya lebih lanjut. Ia membawa barangnya dan hendak pergi. Baiklah, aku mengerti.. seorang Baek Seung Ah tidak mau melakukan bincang-bincang seni.

Seung Ah duduk sendirian sambil melamun, ia memikirkan kata-kata Moo Yeon. Entah bagaimana Moo Yeon mengerti perasaannya, mengenai Baek Seung Ah yang seperti dipaksa untuk tampil dan mengakui semua karya seni itu buatannya. Kalau Seung Ah tidak mau ia hanya harus tidak menghadirinya.

Seung Ah tetap menghadirinya, ia berjalan dan sudah ditunggu banyak orang. Sayangnya karya seni yang diidamkan saat itu sengaja disenggol Moo Yeon hingga pecah terberai. Dan membuat semua mata tertuju padanya. Moo Yeon hanya meminta maaf, ia tidak sengaja menyenggolnya.

Moo Yeon dibawa pihak keamanan untuk diperiksa. Jin Guk dan Jin Kang juga salah satu diantara semua hadirin yang menatap Moo Yeon dengan aneh.

Disaat itu pula Cho Rong memberitahu bahwa kasus mereka sebelumnya bukanlah bunuh diri, namun pembunuhan.

************** The Smile Has Left Your Eyes****************


Jin Kang dan Jin Guk memesan minuman, Jin Kang merasa aneh ketika Moo Yeon memberikan minuman yang diinginkan Jin Kang sebelumnya. Ia masih merasa kesal karena olokan Moo Yeon yang menyebutnya tidak cantik.

“Apa aku kelihatan jelek?”

“Ya! Kau memang jelek!” Kata Jin Guk bercanda. Memangnya siap ayang bilang kau jelek? Jin Kang menunjuk pada Moo Yeon. Jin Kang kesal dan menyenggol kakaknya, tapi Jin Guk merasa ia seperti tidak asing dengan Moo Yeon,. Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?

Jin Kang rasa mereka tidak pernah bertemu. Jin Kang tidak perduli dengan portofolio perusahaan yang diwejangkan untuk diberikan ke Woo Sang.

Sementara itu Seung Ah justru terpesona dengan Moo Yeon. Ia memperhatikannya dan mengikutinya sampai di luar. Woo Sang tak sengaja melihat Seung Ah berjalan sendirian. Ia mengikutinya.

Sepertinya Moo Yeon memang sengaja membuat Baek Seung Ah penasaran dan membuntutinya. Disaat ia menemukan Moo Yeon ia hati-hati bertanya, apa tadi itu sengaja?

Moo Yeon acuh tak acuh bertanya, sayangnya mahal dan jadi sia-sia. Namun bagi Seung Ah itu tidak, ia malah sangat tertolong.

“Kenapa kau melakukannya?”

“Karena kau cantik, sangat cantik..”

“Seung Ah! Baek Seung Ah!”

Woo Sang dari atas memanggil-manggil Seung Ah.  Seung Ah hendak pergi tapi ditarik Moo Yeon mendekat dengannya untuk bersembunyi.

Pesta kembang api dimulai. Woo Sang sibuk mencari Seung Ah, Seung Ah bersembunyi dengan Moo Yeon. Ia bahkan mematikan ponselnya saat Woo Sang memanggilnya.