Baper-Baper Story

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tapi saya masih memikirkan kemungkinan, bisakah izin libur dua hari ketika dia nikahan?
Bisa gak ya? Dalam sebulan saja ketemu Ibuk bisa dihitung jari. Bulan ini cuma 3 kali doang..
Ah entah, masih lama.
.
.
Kenapa dia merasa kepengen saya temenin? Karena dia anak tunggal dan baginya saya adalah soulmate dia ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚, sejak dulu kami selalu nempel satu sama lain. Kalau Muiz itu pikirannya belum sepenuhnya dewasa, gengsiannya gede sekali. Kalau Pupuj kelewat dewasa dan mandiri. Minggu lalu saja Muiz main ke tempat saya dengan nangis-nangis.
“Mau pulang naik apa?” Tanyaku..
“Bus trans aja deh Za..”
“Tapi halte dari sini agak jauh. Jalan 10 menitan mungkin..”
Karena betapa beratnya hidupnya, berat versinya dia. Luntang-luntung seperti musafir. Tidur di masjid sembarang, atau masjid deket kosannya dia yang menurutnya Bapak Ibu kosnya aneh. Tak jarang dia ngeluh pengen main, soalnya saya sering janjikan dia mau belikan makanan enak kalau main. Main, saya jajanin dan dia curhat segalanya. Pas mau pulang..
Saya kasihan lihat kakinya lecet karena kemana-mana banyakan jalan kakinya.
“Yawes.. nih 3.000 buat naik angkot sampai halte. Ketimbang jalan.”
Salaman, pisah dan dadah dadah.. bye..
Kalau si Pupuj ini dewasa banget menurutku. Cuma itu tadi, bagaimana dia berusaha untuk hijrahnya memang luar biasa. Dia hapus semua foto di IG dia yang menampakkan wajahnya, mulai meninggalkan pakaian yang menurutnya tidak syar’i.
Yang saya tidak mengerti adalah bagaimana dia tidak menangis jika disinggung soal mendiang ibunya. Sudah biasa katanya. Tapi saya lihat, barangkali di luaran memang tidak kenapa-napa, tapi siapa yang tahu isi hatinya?.
Ada sebuah penelitian mengungkapkan, biasanya anak-anak yang ditinggalkan salah satu orangtuanya semenjak kecil. Meninggal dunia, jadi penyayang sekali dengan binatang. Peliharaan entah itu kucing atau anjing. Itu menunjukkan dia kepengen mencurahkan kasih sayang yang tidak pernah diterimanya, lucu juga.. tidak pernah merasa disayangi sebegitu besarnya tapi jatuhnya menjadi penyayang sebegitu besarnya pada sesuatu yang lemah (hewan peliharaan). Benar memang, untuk mengisi kekosongan diri sendiri kita harus mengisi kekosongan lain untuk menambalnya.
Dia sayang sekali pada kucing, seperti aku. Bukan yang cuma “aduh aduh.. kucing lucu..” lihat gambar atau video kucing langsung muji-muji lucu. Tapi ini sayang yang beneran sayang, dimana memperlakukan kucing seperti anak sendiri. I feel you pokoknya..
.
.
Kadang-kadang saya merasa, kenapa sih aku harus baik dan perhatian ke orang lain?. Kenapa mereka bergantung padaku? Disaat aku sendiri juga butuh tempat untuk berpegang. Tapi ya sudahlah..
Sampai saya pernah mimpi aneh, didatengin Nyai-Nyai cantik pakai pakaian jawa. Care sekali padaku dan bertanya “Kamu kenapa kelihatan sedih? Seperti ada beban yang mengganggu kamu?”
Sambil nangis aku jawab “Nyai, capek jadi perhatian dan baik ke orang-orang. Tapi apa yang ku dapat? Mereka tidak tahu diri..”
Terus kebangun. Saya tahu, tahu sekali.. kalau mau berbaik-baik tidak perlu namanya berharap pamrihnya apa. Kalau si orangnya tidak bisa bales baik. Tuhan pasti ganti kog, pasti akan mempermudah jalanku di manapun itu. Ya kudu kuat hati saja, sabar.. ikhlas.
.
.
.
Bagaimana saya sering bicara dengan Kang Mus. Mimpi beli laptop baru harus sedikit tertunda.. kalau perhitungan kali ini pas, mungkin baru bulan depan bisa kebelinya. Malah kadang kalau ada yang datang padaku, maksa minjem duit buat makan. Saya malah jadi jengkel.. “Mau makan apa? Aku bayarin aja. Asal jangan hutang..”
Karena apa? Saya tidak mau di kemudian hari malah sebal padanya karena susah ditagihin hutangnya. Mending jajanin dia, jatuhnya malah jadi sedekah.
“Duitku abis dipinjem orang-orang.., gak dipinjemin kasihan.. dipinjemin gak ada pegangan.. belum gajian.”
Kang Mus ini adalah salah satu jenis orang yang kelewat positif mikirnya. Sering banget gw diginikan. Maksude kan aku tipe yang susah dinasehatin, mau dibilang keras kepala atau sejenisnya gapapa deh.. emang kenyataannya kayak gitu. Tidak ada yang bisa merubah pikiranku, kecuali aku menginginkannya untuk berubah. Bahkan oleh Ibuku sendiri, tidak semudah itu merubah mindsetku. Kadang apa-apa itu lebih sering banyak mikir kemungkinan terburuknya dulu.. makanya Kang Mus seperti berusaha menetralkan pikiranku.
“Huss.. jangan mikir gitu Sa..”
“Sa, harus positif mandangnya.”
Meski sering bikin baper juga. Saya mengerti, itu adalah caranya membuat saya betah. Ada momen saya mau ambil sesuatu dan kedahuluan dia.
“Hmm, ini nanti kalau tanganmu kepegang aku gimana Sa?”
“Nanti aku keplak, hahah..”
“Jangan gitu dong, harusnya kalau kepegang kita nanti lihat-lihatan. Terus.. ngapain ya?”
Gw ketawa geli dengernya..
“Apa-apa’an? Kayak film India aja..”
“Perutku sakit, mules sejak tadi. Padahal cuma sarapan pecel. Enaknya diapa’in ya Sa?”
“Diobatin. Gak pernah periksa ke dokter atau gimana kek?”
“Males, diminumin jus biasanya agak mendingan”
Pernah sih, dia dateng-dateng bawa jus. Karena aku terdengar ingin jus itu. Dia nawarin, nih..
^#*$#*#&&# tidak, no no no.. itu bekasmu. Kau tak tahu.. penyakit nular lewat begituan? ๐Ÿ˜‚ Siapa tau Kang Mus punya hepatitis? ๐Ÿ˜‚
Lanjut ceritanya..
“Kog aneh ya? Makan apa dikit kog sakit? Harusnya kamu makan bubur sun aja..” ngeledek..
“Apa Sa? Sun? Age toh.. ndang..”
Nyorongin pipi kirinya sambil ditunjuk-tunjuk, minta dicium. Aku cuma ketawa sambil ngeliriknya.
“Bubur sun, bayi.. buat bayi. Bukan sun yang lainnya..”
“Oh, gak bilang..” pura-pura bego’.
Ini benar-benar bikin gombyang saja Kang Mus ini. Ada istrinya, ada istrinya.. rapalku dalam hati seperti mantra. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚
.
.
Bagaimana lucu sekali tiap ada yang menggodaku Kang Mus selalu bilang..
“Jangan ngarep atau godain Risa, udah ada calon suaminya..”
๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚
Terima kasih.. neomu neomu khamsahaeyo..

Advertisements